Black Circle Part 40

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Tamat
Vonis Dan Sebuah Kebenaran​

“Dengan ini majelis hakim memutuskan bahwa terdakwa Haristama Nagoya dijatuhi hukuman penjara selama 10 tahun.”

Tok… Tok… Tok…

Suara riuh di ruang persidangan langsung terdengar saat vonis itu dijatuhkan. Hampir semua yang hadir disitu merasa kecewa dengan keputusan itu. Mereka merasa Haris tidak layak dihukum seberat itu. Tapi bagaimanapun juga vonis telah dijatuhkan kepada Haris yang duduk di kursi pesakitan. Setelah menjalani beberapa kali sidang selama 2 bulan ini, akhirnya keputusan hukuman Haris keluar juga. Hukuman ini jauh lebih ringan daripada tuntutan jaksa yang menuntut Haris 20 tahun penjara.

Hakim memiliki beberapa pertimbangan atas pemberian hukuman itu, diantaranya bahwa Haris melakukan perbuatannya sama sekali tidak direncanakan. Haris dinilai bertindak seperti itu sebagai reaksi spontan atas apa yang dia lihat, apa yang terjadi pada Rani dan Anin, serta Viona dan Mira.

Faktor lain yang jadi pertimbangan hakim adalah selama proses persidangan Haris mengakui semua tuduhan yang dialamatkan kepadanya, selain itu dia selalu bersikap baik dan kooperatif yang menjadikan sidang berjalan dengan lancar. Selama berada di dalam penjara Haris juga bersikap baik, tidak pernah membuat ulah atau keonaran.

Dan satu faktor yang menjadi poin penting dan utama sebagai pertimbangan hakim adalah karena orang-orang yang dibunuh oleh Haris adalah orang-orang yang selama ini menjadi target kepolisian. Jadi bisa dikatakan, dengan tewasnya Titus dan anak buahnya, Haris bisa dianggap membantu kepolisian menumpas bandar dan jaringan narkoba itu.

Namun meskipun begitu, bagi hakim, membunuh tetaplah membunuh. Apalagi dengan korban sebanyak itu, dan dengan cara sekeji itu. Karenanya meskipun dinilai banyak sisi baiknya, Haris tetaplah harus mendapatkan hukuman dari apa yang telah dia lakukan.

Setelah keputusan dijatuhkan, pengacara Haris menghampirinya. Mereka berdiskusi sebentar dan Haris setuju untuk melakukan banding. Terlebih dukungan orang-orang yang hadir di persidangan itu, yang kebanyakan adalah keluarga dan teman-teman Haris, membuatnya yakin kalau hukumannya bisa dipotong lagi.

Begitu sidang ditutup beberapa orang langsung datang untuk memeluk Haris. Dia tampak begitu tegar meski baru saja dijatuhi hukuman yang cukup berat. Kedua orang tuanya berlinang air mata memeluknya. Begitu juga dengan teman-temannya. Sayangnya, hari ini Anin masih tidak bisa datang ke persidangan karena masih terbaring lemah di rumahnya.

Sejak peristiwa itu, Anin memang sempat dirawat intensif selama hampir sebulan di rumah sakit. Dia mengalami keguguran akibat apa yang dilakukan Titus kepadanya. Selain itu, dia juga masih merasakan trauma yang luar biasa. Hanya Haris seorang yang mampur membuatnya tersenyum, tapi itupun hanya terjadi sekali saat Haris mendapatkan ijin khusus untuk keluar dari penjara selama sehari untuk mengunjungi istrinya.

Selain itu, satu lagi kabar duka harus diterima Haris saat dia berada di dalam penjara. 3 hari setelah peristiwa itu, Rani dikabarkan meninggal dunia. Haris tentu saja terkejut dengan kabar itu, karena malam itu saat meninggalkan TKP dia masih melihat Rani dalam keadaan baik-baik saja. Meskipun saat berjalan dia dipapah oleh 2 orang polwan, tapi saat itu mereka semua memastikan kalau Rani tidak mengalami luka atau apapun yang serius. Kondisinya bahkan yang paling baik jika dibandingkan dengan Anin, Mira ataupun Viona. Sehingga kabar meninggalnya Rani begitu membuatnya terkejut.

Dan yang lebih membuatnya terpukul lagi adalah setelah mengetahui sebab dari kematian Rani. Dia meninggal karena keracunan, dan setelah ditelusuri lebih lanjut, racun yang sama dengan yang menyebabkan kematian Rani juga ditemukan di pedang yang dipakai oleh Haris saat itu. Racun itu sebenarnya tidak akan sampai membunuh Rani jika segera diobati, masalahnya adalah tidak seorangpun menyadari kalau Rani terkena racun itu sehingga dia tak sempat mendapat pertolongan yang memadai dan harus meninggal di rumah sakit.

Haris mengutuk dirinya sendiri, karena merasa dialah yang menjadi penyebab meninggalnya Rani. Dia sempat depresi, bahkan sempat berniat bunuh diri. Tapi kemudian semua orang meyakinkan bahwa itu bukan salahnya. Kedua orang tuanya sendiri sampai berkali-kali datang ke penjara untuk meyakinkan hal itu. Bahkan Anin yang dalam kondisi lemahpun sampai menghubungi Haris meminta agar Haris tak menyalahkan dirinya sendiri, dan memintanya untuk tetap tabah demi dirinya.

Hampir seminggu lamanya Haris ditempatkan di sel khusus dengan didampingi beberapa psikiater selama 24 jam agar dia tak melakukan tindakan-tindakan nekat. Sampai akhirnya Haris bisa merelakan kepergian Rani, meskipun dia masih menyimpan rasa bersalah di dalam dirinya.

Sementara itu Viona dan Mira setelah peristiwa itu juga sempat dirawat dengan intensif di rumah sakit. Namun beberapa hari kemudian Viona dipindah setelah dijemput oleh orang tuanya. Mira sendiri menghabiskan waktu selama 2 minggu di rumah sakit, kemudian dia bersaksi dalam sidang Haris dan memberikan kesaksian yang semuanya meringankan Haris. Setelah itu, Haris tak lagi mendengar kabar Viona dan Mira. Tapi paling tidak dia bisa lega, karena kedua wanita itu selamat.

Kembali ke ruang sidang, setelah mendapat pelukan dan dukungan dari keluarga dan teman-temannya Harispun dibawa masuk ke mobil tahanan untuk selanjutnya dibawa ke LP. Dia dikawal oleh dua orang polisi muda bersenjata lengkap. Sejak awal persidangan, memang selalu kedua orang itu yang mengawal Haris, sehingga mereka sekarang jadi cukup dekat karena sering ngobrol.

“Mas Haris gimana selanjutnya? Mau ngajuin banding?” tanya salah satu dari mereka setelah berada di dalam mobil tahanan.

“Iya, tadi pengacara saya bilang gitu, saya sih nurut aja.”

“Saya juga setuju mas kalau mas Haris ngajuin banding. Rasanya kalau buat saya hukuman itu terlalu berat. Apalagi yang mas Haris bunuh itu kan bandit-bandit yang selama ini meresahkan dan memang sedang kami cari-cari mas. Buat saya, harusnya sih mas Haris nggak perlu dipenjara malah.”

“Hehe, ya mau gimana lagi. Jumlah korbannya banyak sih, dan saya juga waktu itu nggak sadar bisa sampai sekeji itu membunuh mereka.”

“Jujur ya mas, apa yang mas Haris lakuin itu memang keji. Tapi kalau saya di posisi mas Haris waktu itu, mungkin saya juga akan melakukan hal yang sama, apalagi dengan melihat kondisi istri dan adik mas Haris waktu itu. Eh, maaf mas bukan bermaksud mengingatkan.”

“Iya nggak papa. Memang itu yang membuat saya waktu itu lepas kendali. Mau gimana lagi, udah terjadi semua. Saya coba buat ikhlasin aja pak.”

Mereka bertiga diam sejenak. Kedua polisi itu merasa tak enak karena keceplosan membahas peristiwa itu, sedangkan Haris kembali terbayang kejadian di malam terkutuk itu.

Memang jumlah korban dan kekejaman Haris menjadi satu-satunya faktor yang memberatkan di persidangan. Dia membunuh hampir 20 orang dengan sangat kejam hingga rumah tempat kejadian perkara itu dibanjiri oleh darah. Tapi sebenarnya hal ini tak terlalu dibahas di pengadilan baik oleh jaksa penuntut maupun hakim. Bahkan selama proses persidangan, tidak ada satupun saksi yang memberatkan Haris, semua malah membelanya.

Tapi karena sudah melakukan tidak kejahatan yang cukup berat, Harispun sadar hukumannya pasti berat juga. Apalagi di jaman seperti sekarang ini, beritanya cepat menyebar. Hampir semua media menyiarkannya. Tapi ternyata respon dari masyarakat malah sedikit sekali yang menyalahkan Haris. Mereka justru salut dengan apa yang dilakukan oleh Haris. Meskipun tetap menjadi sebuah tindak kejahatan, tapi karena korbannya adalah para bandar narkoba itulah yang mendapat apresiasi dari masyarakat.

***

Sementara itu di waktu yang bersamaan, jauh dari tempat Haris berada, 3 orang sedang berkumpul di sebuah rumah. Mereka baru saja menonton siaran langsung persidangan yang telah memvonis Haris dengan hukuman 10 tahun penjara. Seorang perempuan muda, seorang pria muda, dan seorang pria paruh baya ada disitu.

“Pah, kok vonisnya 10 tahun sih? Kata papa bisa bebas tanpa hukuman sedikitpun? Kan dia ngelakuin itu spontan pa,” protes perempuan muda itu.

“Iya, emang papa suruh gitu, sekalian papa mau liat dulu gimana tanggapan soal hukuman itu,” jawab si pria paruh baya dengan santainya.

“Maksudnya? Tanggapan dari siapa? Dari masyarakat? Itu aja yang dateng ke sidang udah jelas-jelas pada nggak terima lho sama hukuman 10 tahunnya Haris.”

“Ya salah satunya dari masyarakat, tapi papa juga mau tau gimana tanggapan dari temen-temennya si Titus.”

“Temennya yang mana lagi sih? Bukan udah sama kita semua?”

“Harusnya sih gitu, tapi kita juga belum tau pasti kan?”

“Tapi ya masak harus ngorbanin Haris sih pa? 10 tahun itu lama lho.”

“Iya papa tau. Tapi kamu tenang aja, semua udah papa atur, pengacara itu udah papa suruh buat ngurusin semua, yang jelas, nggak sampai setahun dari sekarang, Haris bakalan bebas.”

“Ya udah, tapi diusahain lho pa, kan kasian si Anin lho kalau Haris dipenjara, 10 tahun lagi.”

“Haha, kasian si Aninnya atau kamunya yang bakal kangen yank?” celetuk di pemuda yang sedari tadi duduk di samping perempuan muda itu.

“Haha enggak kok yank. Entar kalau aku kangen sama Haris, kamunya cemburu lagi. Soalnya kamu sendiri kan udah nggak bisa kangen-kangenan sama mbak Viona lagi, haha.”

“Haha sialan.”

Mereka bertiga tertawa bersamaan.

“Terus, kamu jadi mau berangkat sore nanti Ndi?” tanya si pria paruh baya pada sang pemuda.

“Jadi om, udah diurus semuanya kok,” jawab pemuda itu. “Tapi, emang harus ya om saya sampai harus keluar negeri segala?”

“Ya iyalah yank, jangan sampai ada orang disini yang nyadar kalau kamu masih ada, kamu kan statusnya udah mati yank, haha,” sahut perempuan muda di sampingnya.

“Halah yank, palingan kamu pengen cepet-cepet aku keluar negeri biar bisa nemuin Haris kan? Hayoo ngaku aja? Haha.”

“Yee enggak kali yank. Tapi, ya nggak tau juga sih, siapa tau entar beneran kangen, haha.”

“Tuh kan, haha.”

“Tapi bener tuh Ndi kata Lidya, kamu kan statusnya udah mati, dimutilasi lagi, bisa heboh dong kalau ada yang liat kamu masih hidup, dikira setan penasaran entar,” sahut si pria paruh baya.

“Haha om Doni bisa aja sih. Tapi, skenario kalian bener-bener kejam ya? Kalau emang aku aku mau dibikin mati, ya mati aja, masak pake mutilasi segala?”

Ya, ketiga orang yang sedang berkumpul di rumah itu adalah Andi, Lidya dan papanya, pak Doni.

“Ya harus gitu dong Ndi, biar kesannya bener-bener dapet gitu, kalau si Titus itu beneran kejam. Kalau cuma mati doang, kurang ada gregetnya, haha,” jawab pak Doni.

“Haha. Tapi bener juga sih om, kalau nggak kayak gitu orang bisa curiga kalau mayat itu bukan aku, tapi justru anak buahnya Titus.”

“Nah itu kamu ngerti, haha.”

Kembali ketiga orang itu tertawa dengan lebarnya.

“Eh, tapi aku beneran salut deh sama ide-idenya Lidya om, rencananya bener-bener sempurna, nggak ada celahnya, sampai Titus sendiri aja nggak sadar kalau dia masuk dalam permainan ini,” ucap Andi.

“Ya itu sih begonya Titus aja, mau-maunya disuruh tinggal disana karena alasan disini udah nggak aman lagi buat dia. Dengan tinggal disana, dia kan jadi nggak tau kalau anak buah dan jaringannya disini udah kita kuasai semuanya. Tapi emang sih, rencana-rencana Lidya emang brilian, tiap detailnya nggak ada yang terlewat,” jawab pak Doni.

Lidya yang sedang dibicarakan pun hanya tersenyum kecil.

“Eh, tapi aku masih penasaran deh yank, kok bisa-bisanya sih kamu milih Haris jadi pion kita?” tanya Andi.

“Ya karena dia yang paling memungkinkan. Dia masih saudaraan sama Aldo, jadi kalau terlibat dengan hal ini, nggak akan terasa aneh kan. Kalau kita ambil dari keluarganya mbak Viona, aku udah cek, nggak ada yang bisa kita andalkan,” jawab Lidya.

“Terus, darimana kamu tau kalau Haris bisa diandalkan?” tanya Andi lagi.

“Ya buktinya kamu udah tau sendiri kan yank? Kamu udah liat gimana Haris membantai Titus dan anak buahnya?”

“Iya sih, tapi, kok Haris bisa sampai kayak gitu sih? Yang aku tau kan, dia itu anak baik-baik, dan nggak pernah buat masalah sebelumnya. Bahkan, berantem aja nggak pernah. Kok tiba-tiba bisa jadi kayak gitu?”

“Karena Haris punya kecenderungan untuk jadi psikopat yank,” jawab Lidya.

“Darimana kamu tau?”

“Semua orang itu punya 2 sisi di dalam dirinya, baik dan buruk. Orang seperti Haris, yang selama ini hidupnya baik-baik aja, tenang-tenang aja, sisi buruknya akan terkubur dalam-dalam. Tapi jika ada sesuatu yang memicu, sisi buruk itu bisa keluar begitu aja, dan akan jadi lebih buruk daripada orang lain, bahkan untuk orang-orang yang udah terlihat kejam sekalipun.”

“Duh, aku masih belum ngerti yank.”

“Jadi gini, yang kita tau, Haris nggak pernah berantem kan?”

“Iya.”

“Nggak pernah ribut atau tawuran kan?”

“Iya.”

“Keluarganya juga baik-baik aja kan?”

“Iya.”

“Nah, karena itulah selama ini yang ada di Haris itu adalah ketenangan. Hidupnya penuh kasih sayang dari keluarganya. Itu kemudian membuatnya jadi sangat mencintai keluarganya. Dia juga akan menjadi sosok laki-laki yang sangat mencintai pasangannya, sehingga akan melakukan apapun untuk melindungi pasangannya itu.”

“Ooh jadi itu alasan kamu kenapa dekat sama Haris waktu itu?”

“Iya, aku cuma pengen ngetes aja, seperti apa dia kalau lagi jatuh cinta.”

“Lha emang kemarin udah sampai jatuh cinta?” tanya Andi.

“Belum, tapi belum jatuh cinta aja udah kayak gitu, gimana kalau udah cinta mati? Nah, buktinya begitu dia tau nasib Anin dan Rani, sisi psikopatnya keluar kan?”

“Iya juga ya. Eh, tapi, kasian si Rani ya, dia akhirnya harus mati gara-gara kena racun itu.”

“Hhh, iya yank. Itu satu-satunya yang meleset dari rencana kita, dan itu yang bener-bener bikin aku nyesel. Coba aja waktu itu kamu atau Bagas nyadar kalau Rani kena pedang itu, pasti dia masih bisa disembuhin.”

Kini mereka terdiam. Pak Doni tampak tak begitu peduli, tapi lain halnya dengan Andi dan Lidya. Terutama Lidya, dia benar-benar menyesal karena rencananya memakan korban yaitu Rani. Padahal dari seluruh rencana yang dia susun, seharusnya tidak sampai menimbulkan korban. Kalaupun ada, mungkin Mira adalah yang akan dia korbankan. Tapi kenyataannya, malah Rani yang harus kehilangan nyawanya.

Lidya kemudian mengingat-ingat lagi semua rencananya ini dari awal. Semua bermula dari pertemuannya dengan Viona di kampus beberapa tahun silam. Sebenarnya saat itu baik Lidya ataupun pak Doni belum memiliki rencana semacam ini. Pak Doni, sebenarnya memang sudah lama berkecimpung di dunia gelap yang tidak diketahui siapapun, kecuali oleh keluarganya sendiri.

Dari pertemuannya dengan Viona itu, Lidya mendapatkan cerita tentang masa lalu Viona yang ternyata ada hubungannya dengan Titus. Viona yang tahu Lidya memiliki kakak yang seorang polisi, berharap dari ceritanya itu bisa membuatnya terlepas dari cengkraman Titus. Lidyapun menceritakan semua itu kepada pak Doni dan juga Jordi, kakaknya. Dari situlah mereka mulai menyusun semua rencana ini. Pak Doni rupanya tergiur untuk mengambil alih jaringan yang dimiliki oleh Titus.

Sejak saat itu, Lidya dan Jordi ditugaskan pak Doni untuk mencari-cari cara bagaimana agar bisa menguasai jaringan milik Titus itu. Akhirnya dengan segala cara mereka berhasil memenjarakan Titus. Namun ternyata masih ada yang terlewat dari pengamatan mereka, yaitu ternyata Titus memiliki back up yang sangat kuat, yang mereka adalah perwira-perwira tinggi kepolisian, sehingga masa tahanan Titus tidak berlangsung terlalu lama. Hal itu menyebabkan mereka sempat kebingungan setelah Titus keluar dari penjara.

Tapi peruntungan mereka mulai berubah ketika Viona cerita kepada Lidya sedang didekati oleh seorang pria bernama Aldo. Lidya kemudian meminta kepada Jordi untuk menyelidiki tentang Aldo. Akhirnya mereka tahu bahwa Aldo sebenarnya adalah orang suruhan dari Titus, bahkan bisa dibilang, Aldo adalah salah satu orang kepercayaan Titus. Selain itu, Jordi juga mulai menyelidiki keluarga dari Aldo.

Dari penyelidikan itu mereka tahu kalau ternyata keluarga Aldo tidak begitu harmonis dengan keluarga besarnya. Namun meskipun begitu, ada 1 orang yang cukup dekat dengan Aldo, yang tak lain adalah Haris. Aldo beberapa kali menemui Haris saat dia berkunjung ke kota tempat Haris kuliah, bahkan beberapa kali menginap di kostannya. Tapi Jordi akhirnya tahu kalau kedekatan Aldo dan Haris itu hanya dibuat-buat, karena Aldo punya tujuan lain, yaitu membalas dendam atas terusirnya ayahnya dari keluarga besar karena ribut dengan kakeknya. Dimulai dari situlah Lidya kemudian menyusun semua rencana ini.

Langkah pertama adalah menyelidiki Haris. Dia ingin lebih dulu mengetahui kepribadian pemuda itu. Bahkan dia pernah sampai cuti dari kuliah untuk kemudian menyamar menjadi mahasiswi di kampus Haris untuk melihat sendiri bagaimana sosok Haris, sedangkan untuk urusan anak buah Titus di Jakarta, semua diserahkan kepada Jordi dan teman baiknya yang juga pacar dari Lidya, Andi.

Satu hal yang makin memudahkan rencana Lidya adalah fakta bahwa pacar Haris yang saat itu sudah bekerja di Jakarta, yaitu Mira, ternyata didekati oleh anak kandung Titus, bahkan sampai dihamili. Semua kebetulan yang membuat Lidya makin senang karena rencananya akan makin mudah terlaksana. Kematian anak Titus waktu itupun bukan murni kecelakaan, tapi sabotase dari Lidya. Karena akan menjadikan Haris sebagai pionnya, terlebih dahulu dia membantu Haris melenyapkan orang yang sudah merebut Mira, meskipun Haris masih belum mengetahuinya.

Setelah itu, langkah selanjutnya adalah menarik Haris ke perusahaan tempat pak Doni bekerja. Tapi tentu saja Lidya tidak bisa melakukannya begitu saja, pasti akan aneh jika kemudian dia mengirimkan undangan tes masuk kepada Haris. Untuk itulah dia menggunakan Bagas. Bagas sendiri sebenarnya adalah salah satu anak buah pak Doni yang mengurusi jaringannya di kota itu. Keberadaan Bagas tak sampai terendus karena jaringannya memang masih baru dan belum begitu besar.

Akhirnya dengan muslihat dari Bagas, Haris yang sebenarnya saat itu sudah hampir masuk ke perusahaan lain, jadinya mendaftar di perusahaan tempat pak Doni bekerja. Karena memang sudah direncanakan sedemikian rupa, Haris mampu dengan mudah melewati semua tahapan tes di perusahaan itu dan akhirnya diterima kerja. Sedangkan Bagas tetap tinggal dikota itu untuk nantinya ditugasi melindungi dan mengawasi Haris, serta memantau jaringan Titus yang ada di kota itu.

Rencana berjalan semakin lancar karena Haris akhirnya tinggal bersama Aldo dan Viona yang saat itu sudah menikah. Hingga kemudian Aldo tertangkap dan kemudian di penjara lalu dipindah ke panti rehab, semua itu adalah rencana Lidya. Termasuk bagaimana Aldo dengan mudahnya kabur dari panti rehab itu, semua sudah masuk dalam skenario Lidya. Saat itu, anak buah Titus, yang sudah membelot ke pihak pak Doni ditugasi untuk mengeluarkan Aldo dari panti rehab.

Semua rencana masih berjalan lancar saat Haris kemudian dipindahkan ke Jogja. Beruntung saat itu Haris menunjukkan kinerja yang sangat bagus, sehingga pemindahannya dan pengangkatannya yang lebih cepat dari waktu yang seharusnya, tidak menimbulkan kecurigaan dari orang lain. Apalagi kemudian pak Doni menugaskan Viona ke Jogja dengan alasan mendampingi presentasi akhir Haris, sebenarnya tujuan utama mereka adalah untuk melihat apakah Titus akan menemui Viona saat itu, karena salah satu anak buah yang membelot memberi informasi kepada Titus soal itu. Ternyata benar, Titus menemui Viona.

Dari situ, Haris yang sudah percaya pada Andi kemudian menghubunginya, menceritakan tentang kemunculan Titus. Andi sendiri sebenarnya sudah tahu dari Bagas, bahkan dia juga tahu saat Haris menghubunginya, ada anak buah Titus yang tak lain adalah Gavin sedang membuntuti Haris. Lidya tersenyum, karena semua benar-benar masuk dalam skenarionya.

Semua pergerakan Gavin terpantau oleh Lidya dan pak Doni, termasuk saat mulai mendekati Rani. Begitupun dengan Haris, yang saat itu bertemu dengan Anin. Kehadiran Anin memang tidak masuk dalam rencana Lidya, tapi setelah mengetahui bahwa Anin adalah anak tunggal Aziz yang merupakan musuh lama Titus, Lidya makin senang meskipun harus sedikit merubah rencananya.

Lalu kemunculan Aldo dihadapan Viona, hilangnya Viona, dan juga kematian Andi yang tragis, semua sudah direncanakan. Sebenarnya saat itu bukan Andi yang dibunuh, tapi justru salah satu anak buah Titus yang seharusnya ditugaskan untuk membunuh Andi. Sayangnya, orang itu tidak tahu kalau satu orang yang dia ajak untuk membunuh Andi, sudah membelot dan menjadi anak buah Andi. Karena itulah, orang itu kemudian yang dibunuh namun seolah-olah Andilah yang mati. Berita kematian itu juga sempat menyebar di media, tapi dengan koneksi pak Doni, dia bisa membungkam semua pihak, bahkan menghapus semua berita itu.

Kabar tewasnya Andi sampai ke telinga Titus yang senang karena rencananya untuk kembali mendapatkan Viona berhasil. Dia tak menyadari, bahwa dirinya justru masuk ke dalam rencana Lidya. Selama Titus berada di Jogja, pak Doni juga melakukan banyak sekali manuver dengan mendekati orang-orang penting yang selama ini menjadi back up dari Titus. Dengan kemampuan negosiasinya, pak Doni berhasil membuat mereka beralih kepadanya.

Satu hal yang tak masuk dalam skenario Lidya adalah saat Titus tiba-tiba menghadiri pernikahan Haris dan Anin. Bagas yang saat itu berada disana sempat panik dan segera memberi tahu Lidya tentang hal itu. Dia takut Titus akan melakukan hal-hal nekat lainnya, tapi ternyata tidak karena dia hanya memancing Aziz saja.

Keesokan harinya Aziz sempat meminta ijin untuk mencari dan menangkap Titus, tapi ditolak dengan alasan tidak ada bukti atau laporan bahwa Titus mengedarkan narkoba lagi disana. Padahal sebenarnya, alasan penolakan itu adalah agar Aziz tidak menganggu semua rencana yang sudah dibuat oleh Lidya.

Karena mendapat penolakan, akhirnya Aziz menyuruh anak buahnya untuk melindungi Haris dan Anin. Dengan adanya hal itu Lidya bisa jadi lebih tenang karena Titus tidak akan berani macam-macam kepada Haris dan Anin. Sedangkan untuk Rani, Lidya membiarkannya saja semakin jatuh ke pelukan Gavin karena itu memang masuk dari bagian rencananya.

Lalu bagaimana saat dengan mudahnya Gavin membawa Anin dan Rani ke markas Titus? Karena saat itu, anak buah yang diperintahkan Aziz dilumpuhkan oleh Andi, sehingga Gavin bisa membawa Anin dan Rani tanpa halangan sedikitpun.

Dua minggu sebelumnya, Andi memang sudah berada di kota itu. Tujuannya bukan untuk Haris, tapi Mira. Dia beberapa hari mematai-matai Mira untuk mengetahui aktivitas wanita itu. Kemudian Andi menyamar dan menemui Mira saat Mira sedang berada di sebuah minimarket. Waktu itu dia mengaku bernama Bobby, seorang anggota intelejen kepolisian yang sedang mencari Titus. Dia mengatakan kalau sudah mengetahui semua yang terjadi pada dirinya, dan berjanji untuk membantunya lepas dari Titus asal dia juga mau membantunya. Mira yang memang sudah sangat ingin lepas dari Titus, mau saja dengan tawaran Andi itu.

Semua sudah diatur oleh Andi, kapan Mira harus memberi tahu Haris, dimana itu adalah hari yang sama dengan rencana Gavin membawa Rani dan Anin kepada Titus. Karena Titus sudah memikirkan 2 orang korban barunya, apalagi sudah ada Viona disana, dia jadi tak terlalu memikirkan Mira dan tak begitu peduli mau kemana Mira perginya. Dengan semua rencana Andi itu, maka peringatan dari Mira memang terkesan seperti terlambat.

Haris yang mendapatkan peringatan dari Mira itu tentu panik, apalagi saat itu dia sudah mulai curiga kepada Gavin, dan dia tahu Gavin sedang berada di rumahnya. Saat itulah dia buru-buru pulang. Haris makin panik karena ternyata Anin dan Rani sudah tidak berada dirumahnya, dan mereka berdua tidak bisa dilacak keberadaannya karena handphone mereka sengaja ditinggal oleh Gavin di rumah itu.

Di saat yang bersamaan Bagas datang dan berpura-pura ingin mengunjungi Haris dan Anin, padahal itu semua sudah masuk dalam skenario mereka. Bagas juga lah yang tanpa disadari Haris mengarahkan ke alamat yang salah pada awalnya sehingga membuat Haris semakin panik dan tak sampai kepikiran untuk menghubungi mertuanya dan meminta bantuan.

Andi yang memantau pergerakan Haris lewat handphone Bagas, kemudian mengirimkan pesan kepada Haris dengan nomer barunya untuk memberi tahu dimana lokasi Anin dan Rani dibawa. Hingga akhirnya Haris sampai di tempat itu dan dengan kalap menghabisi Titus dan semua anak buahnya, termasuk Gavin dan Aldo.

Lalu bagaimana Haris bisa menghabisi hampir 20 orang yang berada di tempat itu dengan mudah? Bagaimana pula bisa tiba-tiba ada pedang disitu yang kemudian digunakan sebagai senjata oleh Haris? Andilah yang mengaturnya.

Sebelum pesta itu dimulai Andi menyamar menjadi anak buah Titus kemudian menyabotase seluruh pistol milik mereka. Ada yang dia ambil, ada yang kemudian dia sisakan tapi pelurunya kosong. Satu-satunya yang tidak bisa dia ambil atau kosongkan adalah pistol Titus yang berada di dalam kamar, karena Titus yak mengijinkan siapapun masuk ke dalam kamar itu. Karena hal itulah akhirnya Lidya menyuruh Andi untuk memberikan racun di pedang yang mereka siapkan. Keputusan yang akhirnya disesali oleh Lidya maupun Andi.

Racun itu memang tidak akan langsung membunuh orang yang terkena, hanya akan menyebabkan tubuh mereka jadi lemas. Tapi jika tak segera diobati, maka lama kelamaan racun itu akan membunuh mereka yang terkena. Sayangnya, malam itu baik Andi maupun Bagas sama sekali tak menyadari kalau Rani terkena sabetan pedang dari Haris. Apalagi saat Rani keluar dari rumah itu tubuhnya sudah tertutup dengan kain tebal. Luka yang ada di perut Rani juga sudah ditutup perban oleh polwan yang membantunya keluar. Luka itu sebenarnya hanya luka gores kecil yang sama sekali tidak dalam, tapi kahirnya ada racun yang masuk ke tubuh Rani. Karena tak ada yang tahu, maka Ranipun akhirnya tak tertolong.

Kedatangan Aziz dan anak buahnya yang terkesan terlambat itu juga sudah menjadi rencana dari Andi. Bagaslah yang menghubungi Aziz dan memberi tahukan apa yang terjadi. Selama Haris bertarung dengan anak buah Titus, sebenarnya Bagas juga sudah bersiap. Dia sebenarnya juga membawa senjata, jaga-jaga kalau Haris sendirian tak mampu mengatasi lawan-lawannya. Mereka sudah menghitung waktunya, jadi Aziz dan anak buahnya baru akan sampai di tempat itu saat Haris hanya tinggal menghadapi Titus.

“Ya udah om, Lid, aku mau cabut dulu ya,” ucap Andi membuyarkan lamunan Lidya.”

“Eh iya, udah mau berangkat sekarang yank?” tanya Lidya.

“Iya nih, soalnya pasti macet jalan ke bandara jam segini.”

“Ya udah kalau gitu. Ati-ati, entar kabarin, matanya dijaga, jangan nyari-nyari kesempatan lho ya disana!”

“Haha apaan sih yank. Kemarin aja boleh sama Viona, masak sekarang nggak bolah cari yang lain?”

“Ya enggaklah, kemarin kan aku juga sama Haris soalnya, hehe.”

“Haha dasar. Ya udah, entar aku kabarin lagi. Saya duluan om.”

“Iya, hati-hati.”

Setelah berpamitan, Andipun pergi meninggalkan rumah itu. Dia memang akan pergi keluar negeri dan tinggal disana untuk beberapa waktu, tentunya dengan identitas baru karena tak mungkin menggunakan identitas aslinya yang sudah ‘mati’. Selepas kepergian Andi, tinggal Lidya berdua dengan pak Doni.

“Pa, kapan papa mau bantuin Haris?”

“Bantuin gimana?”

“Ya bantuin dia keluar dari penjara gitu.”

“Kan tadi papa udah bilang, nggak akan sampai setahun lagi Haris sudah akan bebas.”

“Kelamaan ih pa, 2 bulan deh coba diusahain.”

“Haha ya entar papa usahain, tapi mungkin juga nggak bisa sesingkat itu. Mungkin bisa 4-6 bulan lah Lid.”

“Hmm, ya udah deh. Tapi, soal ijin khusus buat Haris, tetep jadi kan pa?”

“Iya. Papa udah ngomong sama orang-orang disana. Nanti seminggu sekali Haris boleh keluar dari penjara buat nemuin istrinya. Tapi, kok kayaknya kamu yang ngebet banget sih Lid pengen Haris cepet-cepet keluar? Jangan-jangan kamu jatuh cinta beneran ya sama Haris?”

“Haha enggak lah pa. Aku kasian aja sama Anin, apalagi dia kan keguguran gara-gara Titus. Gini-gini aku sama dia kan sama-sama perempuan pa. Udah gitu, gara-gara rencanaku, Rani harus mati lho.”

“Iya iya papa ngerti. Pokoknya sesuai janji papa dulu itu, kita nggak akan pernah ngebiarin mereka hidup kesusahan.”

“Makasih ya pak. Terus, Mira sama mbak Viona gimana?”

“Viona udah balik ke keluarganya. Sekarang dia dibawa ke Amrik, mungkin buat ngilangin traumanya. Entah bakal balik kesini lagi atau enggak. Kalau Mira, papa udah kasih kerjaan sama dia di Batam, di kantornya temen papa. Denger-denger sih, sekarang jadi simpenannya temen papa itu.”

“Ih apa nggak kasian pa?”

“Ya kasian nggak kasian. Tapi seengaknya dia bisa hidup normal lagi kan, dan nggak sampai harus jadi pelacur jalanan cuma buat bertahan hidup.”

“Iya juga sih. Ya udah, aku mau ke kamar dulu ya pa.”

“Iya.”

Lidya kemudian masuk ke kamarnya, dia kemudian berbaring di ranjangnya. Diambil handphonenya kemudian dia buka galeri foto. Sambil tersenyum dia lihat foto-foto di galeri itu, foto-fotonya dengan Haris dulu.

“Maafin aku Ris, udah bikin kamu masih dalam lingkaran hitam yang aku buat. Maaf udah bikin semuanya jadi kayak gini. Maaf juga, karena semua rencanaku, harus membuat kamu kehilangan Rani dan calon anakmu. Tapi percayalah, aku, papa, kak Jordi, mas Andi, dan juga Bagas, sama-sama merasakan kehilangan itu.”

“Setelah ini, aku dan papa akan berusaha semampu kami untuk secepatnya membebaskan kamu dari penjara. Kamu nggak akan menghabiskan waktumu terlalu lama disana. Ada Anin yang masih membutuhkan kamu. Kamu orang yang baik, aku yakin kamu bisa membahagiakannya. Aku tahu kalian semua orang yang baik, hanya saja kalian berada di tempat, waktu, kondisi, dan di tengah-tengah orang yang salah.”

“Aku juga minta maaf untuk semua kebohonganku selama ini, tentang perasaanku, dan semuanya. Aku memang merasa nyaman sama kamu, tapi soal sayang, itu semua hanya pura-pura Ris, semua hanya demi rencana dan tujuan kami saja. Setelah membebaskanmu, aku akan menghilang dari hidupmu. Dan satu lagi, terima kasih buat semuanya.”

Tangan Lidya bergerak. Satu persatu fotonya bersama Haris di galeri itu dia hapus, bersama dengan kenangan-kenangan yang pernah mereka jalani selama ini.

TAMAT​