Black Circle Part 39

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Tamat
Sisi Lain Yang Tersembunyi​

“Mmaa.. mas Aldo???”

“Iya sayang, ini aku.”

“Mas Aldo ngapain disini? Tolongin aku sama mbak Anin mas,” pinta Rani dengan suara lirihnya.

“Iya, nanti aku tolongin. Sekarang kamu ikut aku dulu ya.”

Aldo langsung membawa Rani keluar dari kamar. Dia menuju ke kamar sebelah yang ditunjukkan Titus. Kamar itu hampir sama dengan kamar yang dipakai Titus, hanya ukurannya lebih kecil.

Sesampainya di kamar itu Aldo langsung membawa Rani ke kamar mandi. Rani sudah terlalu lelah untuk protes. Dia hanya diam saja waktu Aldo membersihkan vaginanya dari sperma Titus. Aldo juga menyiramkan air ke tubuh Rani, lalu membersihkannya. Setelah itu dia mengeringkan tubuh Rani, sebelum kemudian membawanya ke tempat tidur.

Tubuh Rani dibaringkan disana. Rani yang masih bingung dengan keberadaan Aldo hanya diam saja menatap kakak sepupunya itu. Dia masih belum paham kenapa Aldo bisa ada disini. Dia masih belum bisa mengerti situasinya. Dia baru sadar saat Aldo mulai melepaskan pakaiannya satu persatu. Rani yang tadinya lega karena berharap Aldo akan menolongnya, kini jadi takut setelah melihat Aldo telanjang. Dia takut Aldo berbuat hal yang sama seperti Titus, memperkosanya.

“Mas Aldo mau ngapain??”

“Ngapain? Kok masih tanya sayang? Ya mau ngentotin kamu lah,” jawab Aldo tersenyum.

Betapa kagetnya Rani mendengar ucapan Aldo. Dia tak menyangka kakak sepupunya akan berbuat seperti ini kepadanya. Bahkan sekarang Aldo sudah ada disampingnya, dengan penis tegak mengacung di depan mukanya.

“Ayo sayang, isepin kontolku. Kamu kan adik yang baik, harus bisa nyenengin kakaknya ya,” ucap Aldo kalem.

“Mas jangan mas. Rani ini adiknya mas Aldo, jangan kayak gini mas. Tolongin Rani mas.”

“Iya nanti aku tolongin, tapi kamu harus bisa nyenengin masmu ini dulu ya.”

“Mas jangan mas, Rani nggak mau.”

“Banyak omong kamu Ran. Buka mulutku, isep kontolku.”

Rupanya Aldo tak sabar juga. Dia memaksa Rani membuka mulutnya dan langsung memasukkan penisnya kedalam mulut Rani. Rani gelagapan, tapi tubuhnya yang sudah lemas membuatnya tak bisa melawan. Penis itupun sukses keluar masuk di dalam mulutnya. Air mata Rani yang tadi sudah berhenti, kini mengalir lagi. Betapa hancurnya hati Rani mendapati kenyataan bahwa kini dia akan dipaksa melayani Aldo, kakak sepupunya sendiri.

Setelah beberapa saat Aldo menarik penisnya dari mulut Rani. Dia kemudian memposisikan dirinya diantara kedua kaki Rani. Rani sudah tahu apa yang akan terjadi, tapi dia masih berharap Aldo berubah pikiran. Dia terus memelas pada kakak sepupunya itu.

“Mas Aldo jangan maass, hiks Rani mohon jangan..”

“Halah Ran, Gavin aja kamu kasih perawanmu, boss Titus udah kamu kasih juga memekmu. Sekarang giliranku lah.”

“Maass jangan mas, Rani mohooooouuhhhh..”

Rani tak sempat menyelesaikan kata-katanya saat Aldo langsung menghujamkan penisnya ke dalam vaginanya. Meskipun baru saja tadi disetubuhi oleh Titus, tapi setelah dibersihkan oleh Aldo tadi vaginanya sudah kering lagi. Makanya kembali Rani merasakan sedikit sakit dan ngilu di vaginanya.

“Aaahh lumayan juga memek kamu Ran. Coba tadi nggak dipake si boss duluan, pasti lebih legit. Tapi ini masih enak. Aaahh aaahh rasain kontolku Ran, puasin kakakmu ini.”

“Hiikss maass udaaahh aaahh sakiitt hiks..”

Rani masih terus merintih meminta Aldo berhenti. Tapi jelas semua itu sia-sia. Lelaki mana yang akan berhenti saat batang kejantanannya telah masuk ke dalam liang kenikmatan seperti saat ini?

Aldo ingin menikmati vagina Rani perlahan. Diapun memainkan tempo pelan diawal genjotannya ini. Dia terus melihat bagaimana ekspresi kesakitan dan putus asa Rani, bercampur dengan memelas minta untuknya berhenti. Bukannya membuat kasihan, justru ekspresi Rani ini terlihat sangat menyenangkan untuk Aldo. Sudah lama dia tidak menikmati pemandangan seperti itu, karena sejak menikah dengan Viona, dia tak lagi bebas menggauli gadis lugu yang dulu dengan mudahnya dia perdaya.

Sambil terus menggenjot Rani, Aldo mulai mencumbu bagian tubuh Rani yang lain. Dia sebenarnya tak terlalu suka dengan buah dada kecil macam milik Rani ini, tapi karena masih kenyal dan begitu menggoda, maka Aldo langsung menyerangnya. Dia ciumi, dia kulum puting susunya, dan sesekali dia gigit dengan gemas. Rani yang mendapat cumbuan seperti itu beberapa kali memekik saat gigitan Aldo dirasa terlalu keras.

Dan kembali, Aldo tidak peduli. Dia terus menggenjot adik sepupunya itu. Memang tidak terlalu seperti yang diharapkan Aldo. Dia berharap vagina Rani jauh lebih sempit, lebih menggigit. Tapi karena sebelumnya baru saja digarap oleh Titus, yang memang punya ukuran penis lebih besar, dia maklum. Tapi untuk saat ini, dia merasa cukup puas dengan vagina Rani.

***

Di kamar sebelah, Titus masih beristirahat setelah 2 ronde tadi menggarap Rani. Dia sebenarnya masih kuat kalau harus menggarap Anin saat ini juga, tapi dia lebih memilih untuk memulihkan tenaganya dulu agar bisa benar-benar menikmat Anin sepuasnya dan membuat wanita yang sedang hamil itu benar-benar takluk kepadanya. Lagipula sekarang Anin masih tertidur. Titus ingin menikmatinya dalam keadaan sadar.

Sambil duduk di sebuah kursi tak jauh dari ranjang tempatnya menggarap Rani tadi, dia terus mengamati Anin yang masih tertidur. Wajahnya terlihat damai, tak tahu sesuatu yang sangat buruk akan segera terjadi kepadanya. Titus jadi ingat dengan Aziz, ayah Anin. Meskipun tak pernah berurusan ataupun berhadapan langsung dengannya dulu, tapi dia begitu dendam kepada Aziz karena berawal dari aksinya lah akhirnya dia ditangkap dan dipenjara. Saat itu Aziz berhasil menggerebek anak buahnya yang ada di kota ini. Setelah tertangkap anak buahnya ada yang buka suara hingga muncullah nama Titus.

Sejak awal tertangkap Titus memang sudah mendapat info soal Aziz. Dia sudah lama ingin membuat perhitungan dengan Aziz. Saat itu ada beberapa orang yang menawari untuk membantunya menyingkirkan Aziz, tapi Titus menolak. Dia ingin membereskan Aziz dengan tangannya sendiri. Setelah dikeluarkan dari penjara, Titus langsung pindah ke kota ini untuk mencari Aziz. Cukup lama dia bersabar dan mencari informasi soal Aziz, sambil memikirkan tindakan apa yang akan dia ambil untuk membalas dendam.

Saat itu tidak ada pikirannya untuk membalas dengan cara seperti ini. Tapi kemudian rencananya berubah saat muncul sosok Haris. Awalnya Titus hanya ingin menyeret Haris ke lingkaran yang dia ciptakan tanpa melibatkan Aziz. Tapi ternyata, pada akhirnya Haris berhubungan dengan Anin. Dari situ Titus mulai merencanakan ini semua. Dia yang tadinya ingin langsung menyingkirkan Aziz, berubah pikiran dan berniat untuk menghancurkan keluarganya pelan-pelan lewat Anin.

Rencananya dimulai dari menyuruh Gavin mendekati Rani. Semua berjalan lancar hingga saat ini, dan akhirnya Rani dan juga Anin berhasil dibawa oleh Gavin kesini. Nantinya, dia akan meminta Haris datang kesini menemuinya seorang diri. Dengan adanya Rani dan Anin yang sudah berada di dalam genggamannya, dia akan memaksa Haris untuk menjadi anak buahnya. Tapi tentu saja tidak dilepas begitu saja. Dia sudah berencana menjadikan Haris pengedar narkoba, tapi nantinya akan dia jebak agar Haris tertangkap dan dipenjara.

Disisi lain, dia juga akan mencekoki Rani dan Anin dengan obat-obatan terlarang yang dia punya. Dia tak peduli dengan kondisi Anin yang saat ini sedang hamil, karena dia ingin melihat bagaimana kehancuran Aziz melihat anaknya menjadi pecandu narkoba dan menantunya menjadi pengedar. Sebagai seorang penegak hukum, pasti Aziz akan malu sekali. Tapi dia yakin Aziz tak akan berani macam-macam jika Anin sudah berada di dalam kuasanya. Dengan begitu, dia akan dengan leluasa menentukan apapun yang akan terjadi pada Aziz nantinya.

Titus tersenyum sendiri mengingat-ingat rencananya yang berjalan dengan sangat lancar hingga sekarang. Saat ini, tinggal memasuki tahap akhir saja dari rencananya itu. Tapi sayangnya dia tak tahu apa yang sebenarnya terjadi saat ini. Dia tak tahu kalau tadi Mira pergi untuk menemui Haris. Seharusnya Aldo bilang ke Titus, tapi karena terlalu senang melihat Rani Aldo jadi lupa untuk memberi tahunya. Aldo terlalu yakin meskipun Haris sudah tahu kalau Anin dan Rani diculik, dia tidak akan semudah itu menemukan mereka disini.

Titus bangkit dari duduknya dan berjalan santai menghampiri Anin. Dia masih belum memakai bajunya, karena toh nanti akan menyetubuhi istri Haris itu. Titus duduk di samping Anin dan menatap lekat wajahnya. Dia terkesima dengan kecantikan Anin. Selama ini dia memang kurang memperhatikan Anin meskipun sudah memiliki banyak rencana pada Aziz. Baru setelah melihat langsung saat datang ke pernikahan Anin dengan Haris itulah Titus jadi sering terbayang wajah Anin.

Dia membelai wajah Anin perlahan, terasa halus sekali. Wajahnya yang cantik terlihat begitu kalem dan manis, membuat Titus makin kagum padanya. Dilihatnya sekujur tubuh Anin yang masih tertutup rapat oleh pakaiannya. Perutnya sudah mulai membesar, tapi tubuhnya belum bisa dikatakan gendut. Mata Titus kemudian menuju ke dadanya yang membukit, lalu tangannya bergerak meremasnya perlahan. Masih terasa kencang.

Tangan Titus kemudian turun menuju ke pangkal paha Anin yang masih tertutup dan membelainya perlahan, melihat reaksi dari Anin yang ternyata belum bereaksi apa-apa. Titus tidak ingin terburu-buru, dia merasa waktunya masih sangat panjang untuk bisa menikmati Anin.

Tangannya kemudian bergerak naik lagi, lalu melepaskan kancing kemeja Anin satu persatu, setelah itu membuka kemejanya ke samping. Di baliknya, Anin masih memakai kaos dalam. Dia tarik ujung bawah kaos itu ke atas hingga melewati dadanya. Terlihat kini sepasang buah dada Anin yang masih tertutup bh warna krem, itupun tak lama karena bh itu kemudian disingkap ke atas hingga sepasang buah dada ranum itu terpampang jelas di depan Titus.

“Pas, sesuai seleraku, hehe.”

Titus langsung mendekatkan wajahnya ke dada Anin dan langsung menciuminya. Mulanya dengan lembut tapi lama kelamaan dia menciuminya dengan penuh nafsu. Tak cuma menciumi tapi juga beberapa kali menggigit dan menghisap putingnya. Tak lupa Titus meninggalkan banyak bekas merah di kedua buah dada Anin.

Titus mengangkat wajahnya, menapat wajah Anin. Wajahnya masih begitu tenang, tak sadar kalau sekarang dia sedang dicabuli oleh pria yang bukan suaminya. Bibit Titus mendarat di bibir tipis Anin. Karena memang masih tak sadarkan diri, tentu saja ciuman Titus tak mendapat respon apa-apa dari Anin. Tapi Titus tak peduli, dia terus menciumi bibir itu, sesekali melumat dan memaksa lidahnya untuk masuk ke bibir Anin.

Puas dengan dada dan bibir Anin, Titus kini menyasar ke bagian bawah. Ditariknya rok panjang Anin hingga ke pinggang. Pemandangan yang tersaji di depan matanya membuat penis Titus mulai menegang lagi. Celana dalam yang sewarna dengan bh Anin tak bertahan lama melindungi daerah intimnya karena langsung ditarik lepas oleh Titus. Kemudian dia buka kedua kaki Anin lebar-lebar.

Melihat bibir kewanitaan Anin yang masih sempit itu membuat Titus tak mampu menahan lebih lama untuk tak menjamahnya. Bibir Titus langsung menyambanginya dengan ciuman dan jilatan penuh nafsu. Meskipun masih dalam keadaan tak sadar, tapi tubuh Anin mulai bereaksi. Setelah 4 bulan lamanya tak mendapat sentuhan dari Haris, bagian tubuhnya ini begitu sensitif. Apalagi kewanitaan Anin tak pernah mendapat sentuhan lidah seperti ini dari Haris.

Cukup lama Titus memainkan mulut dan lidahnya di bibir vagina Anin hingga membuatnya cukup basah. Tapi Titus bersabar untuk melakukan penetrasi. Penisnya belum tegang maksimal, lagipula dia memang ingin menyetubuhi Anin dalam keadaan wanita itu sadar, bukan tertidur seperti ini.

Dia beranjak naik lagi, mendekatkan penisnya ke wajah Anin. Dengan tangannya dia berusaha membuka mulut Anin. Tanpa perlawanan karena Anin belum sadar, mulutnya pun akhirnya terbuka. Perlahan Titus memasukan ujung penisnya ke mulut Anin, terasa hangat. Pelan-pelan, Titus semakin dalam memasukkan penisnya. Jika dalam kondisi sadar, Anin pasti sudah mual-mual dengan hal ini, apalagi dia tak pernah melakukannya dengan Haris.

Titus menggoyang-goyangkan badannya menyetubuhi mulut Anin. Meskipun tidak mendapat reaksi apa-apa dari Anin tapi Titus cukup puas bisa mengeluar masukkan penisnya di mulut Anin.

Rupanya obat tidur yang diberikan kepada Anin mulai habis reaksinya. Terlihat dari tubuh Anin yang mulai bergerak sedikit demi sedikit, juga terdengar suara tak jelas dari mulutnya karena memang masih tersumpal penis Titus. Ditambah lagi dia merasakan sesuatu bergerak di dalam mulutnya, apalagi baunya cukup membuatnya mual karena Titus memang belum membersihkan penisnya yang tadi dipakai untuk menyetubuhi Rani cukup lama.

Perlahan mata Anin terbuka. Dia masih belum bisa melihat jelas, masih samar-samar. Tapi dia sudah mulai bisa mendengar sedikit ada suara tawa yang sepertinya pernah dia dengarkan. Lama-lama pandangan Anin semakin jelas, dan begitu dia menyadari apa yang sedang terjadi kepadanya, dia makin terbelakak dan langsung mencoba untuk meronta, meskipun dengan tenaga yang sangat lemah.

“Hmmmpphhh..”

Kedua tangan Anin langsung ditahan dengan mudah oleh satu tangan Titus. Satu lagi tangannya tetap memegangi kepala Anin sambil terus menggoyangkan penisnya di dalam mulut Anin. Anin terus berusaha meronta, tapi kondisinya benar-benar lemah. Perlahan air matanya mengalir membasahi pipinya.

“Udah bangun ya sayang? Baguslah, berarti kamu udah siap untuk menu utama, haha.”

***

Haris dan Bagas akhirnya tiba ditempat tujuan mereka, alamat kedua yang diberikan oleh Mira kepadanya. Bagas memarkirkan mobilnya di depan rumah itu dan dengan buru-buru mereka turun. Setelah mengawasi sejenak kondisi di sekitar, mereka masuk mendekati rumah itu. Ada beberapa mobil yang terpakir disana, menandakan cukup banyak orang yang ada di rumah ini. Merekapun mendengar suara yang cukup gaduh dari dalam rumah.

Haris dan Bagas makin mendekat untuk melihat apa yang terjadi. Untungnya tidak ada seorangpun yang berjaga diluar rumah sehingga mereka bisa mendekat tanpa kesulitan. Sampai di depan, pintu rumah tertutup rapat. Haris dan Bagas mencari celah yang bisa digunakan untuk mereka mengintip. Begitu mendapatkan celah itu, betapa terkejutnya mereka melihat apa yang terjadi di dalam, terutama Haris.

Belasan pria tanpa busana sedang mengeroyok dua orang wanita muda yang juga sama-sama telanjang bulat. Kedua wanita itu terlihat sudah begitu lemas, bahkan salah satunya mungkin sudah hilang kesadaran, sementara yang satunya terlihat masih sadar tapi hanya bisa pasrah dan terus menangis.

“Mbak Viona! Mira!” pekik Haris.

Haris hampir saja bergerak merangsek ke dalam kalau tidak segera ditahan oleh Bagas.

“Ris, tunggu dulu. Jangan nekat gitu!”

“Lepas Gas, aku harus masuk. Aku harus nolongin mereka. Bisa jadi Anin dan Rani juga sedang mengalami hal seperti itu.”

“Iya tapi jangan gila. Panggil polisi aja.”

“Nggak sempet Gas, bisa terlambat semua.”

“Iyaa. Tapi, duh paling nggak cari senjata apa kek, nggak bisa kita masuk pake tangan kosong gini, mereka banyak lho.”

Bagas terlihat kebingungan melihat ke sekitar, mencari apapun yang bisa mereka pakai sebagai senjata, sementara tangannya masih terus memegangi Haris agar temannya itu tidak nekat masuk begitu saja. Menghadapi orang sebanyak itu, yang mungkin saja menyimpan senjata, sama saja dengan mengantarkan nyawa.

“Itu Ris!”

Haris mengikuti arah yang ditunjuk oleh Bagas. Di salah satu kursi di teras, ada sebuah pedang yang cukup panjang, seperti yang sering dipakai samurai-samurai Jepang. Tanpa pikir panjang Haris segera mengambilnya. Entah siapapun pemilik pedang itu, dia bersyukur karena sang pemilik meninggalkan pedangnya begitu saja disitu. Dia juga berharap kalau pedang itu cukup tajam untuk bisa menebas leher orang-orang di dalam rumah itu.

“Duh cuma 1 doang lagi, gimana ini,” ucap Bagas yang masih terlihat kebingungan mencari senjata untuk dirinya sendiri.

“Kamu disini aja, cari bantuan, biar aku yang urus mereka semua.”

“Loh loh Ris, heh tunggu, hey jangan nekat.”

Tak sempat lagi Bagas mencegah, Haris langsung mendobrak pintu rumah itu dan merangsek masuk, membuat semua orang yang berada disana terkejut. Lebih kaget lagi saat mereka melihat Haris membawa pedang dan mengacungkannya ke mereka.

“Bajingan kalian! Cepat lepaskan mereka!!”

“Haha, ternyata kamu Ris? Mau ngapain kamu? Mau ikut gabung? Ayo sini gabung aja. Atau kamu mau lihat istri sama adikmu lagi digarap sama si boss, haha.”

Mendengar ucapan dari salah satu anak buah Titus itu semakin membuat darah Haris mendidih. Kemarahannya memuncak meskipun belum melihat bagaimana nasib istri dan adiknya.

“Bajingaaaan!!!”

Haris langsung maju menerjang orang terdekat darinya dengan menghunus pedang yang dia pegang.

Craaassshh…

“Aaarrrgghhhh…”

Tanpa ampun tangan orang itu langsung terputus. Darah segar mengalir deras dari tangan orang itu. Haris cukup kaget karena ternyata pedang itu benar-benar tajam, tapi dia juga lega dan berpikir bisa menghabisi mereka semua dengan pedang itu. Tanpa menunggu lama, dia langsung menebas leher orang yang tengah menahan sakit akibat tangannya putus itu. Kepala orang itupun langsung terpisah dari badanya. Darah segar mengucur deras dari batang leher yang terpotong itu.

Melihat apa yang baru saja dilakukan Haris membuat orang-orang lainnya panik.

“Serang anak itu, bunuh!!” pekik salah satu dari mereka.

Anak buah Titus yang panik berusaha untuk mencari senjata mereka, tapi tak satupun yang menemukannya, padahal seharusnya masing-masing dari mereka biasanya membawa pistol kemanapun mereka pergi. Melihat lawannya kebingungan Haris tak membuang waktu lagi. Dia kembali maju dan menyerang lawan-lawannya itu dengan membabi buta. Para anak buah Titus makin kocar-kacir apalagi saat mereka terkena sabetan pedang Haris.

Beberapa orang kemudian berusaha melawan dengan tangan kosong, tapi karena tenaga mereka sudah terkuras karena sudah dipakai untuk menyetubuhi Viona dan Mira, dengan mudah Haris mengalahkan mereka.

Craaaasshhh craaaaaaasshhh

“Aaarrggghhh aaaarrrggghhh…”

Haris tanpa ampun langsung menebaskan pedangnya ke orang-orang yang terdekat dengannya. Tanpa perlawanan, orang-orang itu kehilangan anggota tubuhnya, baik itu tangan maupun kepalanya, bahkan kemaluannya, yang langsung terisah dari badannya. Bau anyir semakin pekat tercium karena semakin banyaknya darah segar yang mengalir disitu. Emosi Haris tak tertahankan, darahnya makin mendidih, yang ada di dalam kepalanya kini hanyalah membunuh semua pria itu.

Beberapa orang lagi maju untuk mengeroyoknya, tapi dengan tenaga mereka yang lemah, dan sabetan pedang Haris yang membabi buta membuat orang-orang itu kelimpungan. Dari luka sayatan hingga tebasan yang membuat anggota badan mereka terputus, membuat mereka semua terkapar dilantai. Teriakan penuh rasa sakit semakin terdengar di ruangan itu, tapi tak lama karena Haris langsung membungkam mereka dengan menusukan pedangnya ke bagian vital pria-pria itu yang membuat mereka tewas seketika.

Melihat teman-temannya bergelimpangan kehilangan nyawa, 2 orang tersisa yang paling terakhir menyetubuhi Viona dan Mira semakin panik. Mereka jelas takut untuk langsung maju menyerang Haris, karena sudah bisa dipastikan nasibnya akan sama dengan teman-temannya itu. Sampai tiba-tiba salah satu dari mereka ingat pernah menyimpan sebuah pistol di salah satu laci meja disitu, dan diapun langsung mengambilnya.

“Haha cukup sampai disitu jagoan, pedangmu nggak akan ada artinya lawan pistol ini, haha,” ucap pria itu jumawa.

Haris sempat terhenti, dia ragu untuk menyerang. Tapi kemudian dia teringat nasib istri dan adiknya yang sampai sekarang dia belum jelas seperti apa, membuatnya nekat. Dia pikir, tak apalah terkena sekali atau 2 kali tembakan, dia merasa masih akan punya tenaga untuk menghabisi mereka berdua.

Haris bergerak maju. Pria yang memegang pistol itu cukup kaget dengan kenekatan Haris, dan dia tak punya pilihan lain selain menembak Haris.

Clek clek.

Hanya bunyi itu yang keluar dari pistol yang dipegangnya. Ternyata pistol itu kosong, tak ada pelurunya. Hal itu membuat pria itu menjadi panik, begitu juga dengan seorang temannya yang berdiri di sampingnya. Beda halnya dengan Haris yang tersenyum lega karena ternyata pistol itu kosong. Dengan cepat dia bergerak menyabetkan pedangnya pada kedua orang itu. Tapi kedua pria itu masih sempat menghindar.

Mereka ternyata masih punya sedikit tenaga, beda dengan teman-temannya yang dengan mudah dihabisi oleh Haris. Akhirnya mereka tak punya pilihan lain, mereka harus melawan Haris dengan tangan kosong, sedangkan Haris membawa pedang. Mereka bergerak di kedua sisi Haris, membuat Haris harus membagi konsentrasinya. Mereka bertiga sama-sama berhati-hati, mengatur strategi untuk bisa melumpuhkan lawannya.

Tapi Haris tahu dia tak punya banyak waktu untuk berpikir. Semakin lama dia berpikir semakin tak menentu nasib Anin dan Rani. Dia harus cepat mengambil tindakan, tidak boleh sampai terlambat.

Tiba-tiba saja orang yang berada di sisi kiri Haris menyerang. Dengan sigap Haris menghindar dan langsung menyerang balik pria itu, yang ternyata juga sudah memperkirakan arah serangan Haris sehingga dia juga bisa menghindar. Namun disaat yang bersamaan tiba-tiba orang yang satunya langsung menyerang Haris yang lengah. Tanpa bisa menghindar, punggung Haris terkena tendangan yang membuatnya limbung dan hampir terjatuh.

Melihat Haris lembung membuat pria pertama tadi langsung bergerak mendekat untuk memberikan serangan tambahan. Namun Haris dengan cerdik memasang ujung pedangnya yang tajam untuk melindungi dirinya dan justru membuat kaki pria yang hendak menendangnya itu terluka.

“Aaarrkkk brengseeeek..”

Pria itu mundur beberapa langkah dengan terpincang karena kaki kanannya terluka dan mengeluarkan darah. Haris langsung dengan sigap berdiri lagi memasang kuda-kuda. Kali ini dia yakin bisa lebih mudah menghadapi mereka karena salah satu sudah terluka. Haris langsung saja menyerang pria yang terluka itu, tapi pria itu bisa menghindar. Kembali karena Haris lengah, dari samping dia mendapat tendangan dari pria kedua.

Kali ini tendangan itu membuatnya benar-benar terjatuh dan hampir saja pedang itu terlepas dari tangannya. Pria kedua itu langsung berusaha menyerang Haris lagi, tapi Haris masih bisa menghindar dengan menggulingkan tubuhnya menjauhi pria itu. Haris berdiri lagi, kali ini dia tahu mana yang harus diserang terlebih dahulu. Pria kedua itu tampaknya memang bukan lawan yang bisa dianggap enteng. Dia harus benar-benar waspada kepadanya.

Sementara pria yang pertama yang sudah terluka kakinya itu sudah terduduk lemas sambil memegangi kakinya. Kini Haris hanya tinggal duel satu lawan satu dengan pria kedua, yang sebenarnya secara postur tubuh lebih besar daripada Haris. Tapi Haris tetap yakin karena dia sekarang memegang pedang, yang sudah berlumuran darah dari korban-korbannya.

Haris sebenarnya ingin memikirkan bagaimana cara agar bisa melumpuhkan pria itu, tapi kembali dia teringat bagaimana nasib Anin dan Rani, dan hal itu membuat pikirannya makin kalut. Sementara itu pria yang menjadi lawannya sepertinya tahu tentang hal itu, dia dengan santainya malah memancing emosi Haris.

“Kamu datang kesini sendirian ya? Bener-bener bodoh. Kalaupun kamu bisa membunuhku, di dalam masih ada boss Titus yang pasti dengan mudah menghabisimu dengan sekali tembak saja. Oh iya, mungkin sekarang istrimu yang sedang ditembak sama boss Titus, tapi ditembak memeknya, haha.”

“Bangsat! Diam kamu!”

“Haha, ngomong-ngomong, Viona dan Mira itu juga piaraannya boss Titus, tapi akhirnya kami dikasih jatah buat menikmati mereka. Aku jadi nggak sabar Ris, dikasih jatah juga buat bisa menikmati adik dan istrimu. Mungkin sebulan lagi, atau kalau boss Titus udah bosan atau dapet memek baru lagi, dia bakal ngasih mereka ke kami. Bisa kamu bayangin, istrimu itu bakal minta ampun ngerasain kontol-kontol kami? Haha.”

“Bajingaaaan!!!”

Haris sudah tak tahan lagi mendengarnya. Kemarahannya sudah memuncak, tak ada lagi yang dia pikirkan selain secepatnya menghabisi pria yang sedang dihadapinya itu. Diapun maju dan menyabetkan pedangnya membabi buta, tapi pria itu dengan sigap menghindar dan menjaga jarak aman. Bahkan terlihat mereka seperti sedang kejar-kejaran. Sambil terus berlari menghindar, pria itu terus memprovokasi Haris dengan kata-kata yang semakin memancing emosinya.

Sampai pada akhirnya nasib sial menghampiri pria itu. Mira yang masih menyimpan sedikit kesadaran dan tenaga, menggerakkan kakinya saat pria itu berlari tak jauh darinya, hingga membuat pria itu terjatuh.

“Anjiiing.. aaarrhhkk..”

Saat pria itu hendak bangkit, sebuah tebasan dari Haris mengenai punggungnya, hingga membuatnya terkapar di lantai. Haris sekali lagi mengulangi tebasannya, membuat sebuah luka yang memanjang dan menyilang di punggung pria itu. Sambil kesakitan, pria itu membalikkan badannya, melihat Haris yang sudah siap menghunus pedang ke tubuhnya.

“Haha, kamu baru bisa ngabisin aku karena dibantu sama lonte itu, haha. Bunuh aja aku Ris, tapi sebentar lagi kamu bakal liat adik dan istrimu jadi lonte barunya boss Titus, haha.”

Kembali pria itu menyulut kemarahan Haris. Dengan penuh emosi, Haris menyabetkan pedangnya ke arah kemaluan pria itu.

“Aaaarrkkkk…”

Sebuah teriakan panjang terdengar dari pria itu saat penis kebanggaannya terpisah dari tubuhnya, darahpun mengalir begitu derasnya. Haris mendekati pria yang menahan sakit itu. Tanpa ampun, dia tusukkan ujung pedangnya tepat di salah satu bola mata pria itu, lalu mengoyak-ngoyaknya. Mira yang masih sempat melihat itu langsung menutup matanya, tak tahan dengan apa yang dilakukan oleh Haris.

Buuugghh..

Haris terkejut lantaran dia mendapatkan serangan mendadak dari belakang. Rupanya saat sedang lengah, pria yang terluka kakinya tadi menghampiri dan menyerahnya. Tapi serangan dari pria itu sangat lemah, sehingga tak membuat Haris kesakitan. Haris langsung mencabut pedangnya, berbalik ke belakang. Pria itu terlihat sangat ketakutan melihat tatapan mata Haris yang sangat tajam, penuh dengan aura gelap.

Zleeeebb..

“Aaarrrkkk..”

Tanpa ampun, pedang Haris menusuk perut pria itu hingga tembus ke punggung. Tak hanya itu, Haris menggerakkan pedang itu, ke samping kanan dan kiri, ke atas dan bawah, membuat seisi perut pria itu hancur tak berbentuk. Tak lama kemudian, pria itupun ambruk. Matanya melotot, menandakan penderitaan luar biasa saat dia kehilangan nyawanya.

“Hariiiss..”

Haris menengok saat mendengar Mira bersuara. Diapun mendekati Mira.

“Cepet, selametin Anin dan Rani. Didalem masih ada Gavin dan Aldo, juga boss Titus, kamu hati-hati..” ucap Mira dengan lirih, karena memang sudah hampir kehabisan tenaga akibat diperkosa sedari tadi.

Haris hanya mengangguk, lalu meninggalkan Mira menuju ke ruang belakang. Ada beberapa ruangan yang harus dilewati sebelum sampai ke ruangan dimana Gavin sedang duduk santai disitu. Gavin tidak tahu apa yang terjadi di depan karena di tempatnya saat ini, dia sedang mendengarkan musik yang dia keraskan volumenya, karena tidak ingin terganggu dengan suara-suara dari ruang depan.

Tadi dia sempat mendengar suara teriakan para anak buahnya itu beberapa kali, tapi Gavin pikir mereka sedang berteriak karena melampiaskan kepuasannya menyetubuhi Viona dan Mira. Bau anyir darah juga tak tercium olehnya karena selain di ruangan ini sudah ada pengharum, kondisi Gavin juga sudah mulai agak mabuk.

Namun ketenangan Gavin berubah menjadi perasaan takut yang luar biasa, saat melihat tiba-tiba sesosok pria penuh emosi datang membawa pedang yang sudah berlumuran darah. Gavin terkejut melihat pria itu ternyata adalah Haris. Dan dia lebih terkejut lagi, karena seingatnya ada belasan orang yang ada di depan sedang berpesta dengan tubuh Viona dan Mira, tapi melihat pedang berlumur darah itu Gavin tahu kalau Haris sudah mengalahkan mereka semua. Gavin benar-benar tak menyangka Haris bisa melakukannya seorang diri.

“Haa.. Haris, ngapain lu kesini?” ucap Gavin dengan paniknya.

“Mana Anin dan Rani?”

Tak menjawab, Gavin bangkit dan menuju ke meja TV. Dia membuka-buka laci di meja itu, mencari sesuatu untuk menakuti Haris. Dia makin panik karena tak menemukan apa yang dia cari. Apalagi Haris mulai berjalan mendekat ke arahnya. Sampai akhirnya dia membuka laci terakhir dan menemukan sepucuk pistol, diapun langsung mengambilnya dan menodongkan ke Haris.

“Berhenti disitu Ris, atau gua bunuh lu!” ancam Gavin.

Tapi Haris tak menggubris kata-kata Gavin dan terus berjalan mendekatinya. Gavin yang gertakannya tak dihiraukan Haris kembali ketakutan. Diapun berjalan mundur. Dia ragu untuk menembakkan pistol itu, karena selama ini tak pernah sekalipun melakukannya. Meskipun sudah lama menjadi anak buah Titus, tapi dia tak pernah berurusan langsung dengan hal-hal semacam ini. Dia tak pernah mengotori tangannya untuk membunuh orang, semua dilakukan oleh anak buahnya, dia hanya mengawasi saja. Selama ini, Gavin hanya turun langsung jika itu berhubungan dengan wanita. Urusan meniduri wanita, dia yang maju paling depan.

“Ris!! Berhenti atau gua tembak lu!!”

Kembali ancaman Gavin tak membuat Haris berhenti. Gavin merasa tak punya pilihan lain lagi. Dia harus menarik pelatuk, atau malah Haris yang akan membunuhnya. Dia kuatkan tekadnya, kemudian dengan agak terpejam menarik pelatuk pistol itu.

Clek..

Tidak ada bunyi letusan. Pistol itu tidak ada pelurunya. Gavin terkejut, tak menyangka pistol itu kosong.

Clek.. Clek.. Clek..

Beberapa kali dia kembali mencoba tapi sama sekali tak ada hasil. Pistol ini benar-benar kosong, tidak ada pelurunya. Seketika nyali Gavin hilang. Tatapan membunuh Haris kepadanya membuatnya terindimidasi. Dia kembali bergerak mundur, tapi kemudian terhenti oleh dinding di belakangnya.

“Ris, pliiss, jangan bunuh gua Ris..”

Haris terus mendekati Gavin, seolah tak mendengar permintaan pria itu.

“Ris jangan Ris. Ampuni gua Ris. Gua punya istri..”

“Punya istri hah?? Tapi masih deketin, dan merawanin adikku???” ucapan Gavin tadi rupanya makin menyulut emosi Haris.

“Ampun Ris, gua disuruh sama boss Titus. Kalau gua nggak nurutin dia, istri gua yang bakal kena akibatnya Ris. Istri gua bakal dijadiin pelacur sama dia. Ampun Ris, maafin gua Ris..”

Haris semakin emosi mendengar ucapan Gavin. Di kepalanya sudah tidak ada lagi maaf untuk orang yang telah merenggut kesucian adik kandungnya. Dimata Haris, orang seperti Gavin tak layak mendapat pengampunan, hanya satu hal yang bisa menebus dosanya, kematian.

Craaaasssshhh…

“Aaaaarrrggghhh…”

Sebuah sabetan pedang Haris mendarat di paha kanan Gavin, membuatnya berteriak kesakitan dan langsung jatuh terduduk. Sabetan itu menimbulkan luka yang cukup dalam di pahanya, membuat darah segar mengalir dari luka itu.

Craaaasssshhh…

“Aaaaarrrggghhh… ampuuuun Riiiisss…”

Satu lagi sabetan mengenai paha kiri Gavin. Kembali darah mengucur dari luka yang cukup dalam itu. Gavin mencoba menghindar, tapi kakinya terlalu sakit untuk digerakkan.

Craaaasssshhh… Craaaasssshhh…

“Aaaaarrrggghhh… ampuuuuunnn”

Langsung saja dua sabetan mengenai kedua tangan Gavin, membuat kedua tangannya buntung sekarang. Darah segar kembali mengucur dari sana, membuat Gavin semakin histeris.

“Ini hukuman buat orang yang udah membuat adikku kehilangan kehormatannya!” ucap Haris dengan dingin.

Pedang yang dia pegang mengarah ke selangkangan Gavin. Melihat itu Gavin menggelengkan kepalanya, dan menatap Haris dengan eksperi wajah yang sangat ketakutan.

Craaaasssshhh… Craaaasssshhh… Craaaasssshhh… Craaaasssshhh…

Beberapa kali Haris mengayunkan pedangnya di selangkangan Gavin, membuat pria itu berteriak histeris kesakitan. Haris dengan ringannya mengayunkan pedang itu seperti mengiris buah tomat saja. Akibat perbuatannya itu tubuhnya pun terkena percikan darah Gavin.

Rasa sakit yang teramat sangat membuat Gavin kehilangan kesadaranya. Tak puas dengan itu Haris kembali mengoyak-ngoyak tubuh dan wajah Gavin hingga hancur tak berbentuk. Gavinpun meregang nyawa ditangan Haris.

Setelah itu Haris melihat ke sekitar. Dia mencari istri dan adiknya. Ada 2 kamar disitu, Haris langsung menuju ke salah satunya. Dengan keras dia dobrak pintu itu hingga terbuka, membuat orang yang berada di dalamnya terkejut.

Pemandangan yang tersaji dari dalam kamar itu begitu memilukan dan menyayat hati Haris. Rani adiknya, yang tubuhnya telanjang bulat tak tertutup apapun, terlihat sedang dipaksa menungging oleh Aldo, kakak sepupunya sendiri. Penis Aldo terlihat masih menancap di lubang Rani.

“Haa.. Haris??”

Aldo terkejut melihat Haris, apalagi tubuhnya berlumuran darah. Juga pedang yang dia pegang, penuh dengan darah yang mengucur dan menetes membasahi lantai.

“Dasar bajingan!! Adik sendiri kamu perlakukan seperti itu!! Binatang kamu Aldo!! Kubunuh kamu!!”

“Ris tunggu dulu Ris..”

Haris maju untuk menyerang Aldo, tapi Aldo masih sempat menghindar. Dia bahkan ikut menarik tubuh Rani untuk dia gunakan sebagai tameng dari serangan Haris. Haris sempat terkejut dengan tindakan Aldo yang sama sekali tidak dia duga itu. Dia terlanjur menyabetkan pedangnya, tapi berusaha untuk menariknya agar tak mengenai tubuh Rani.

“Aaaakkkhh..”

Rani menjerit saat perutnya tergores oleh pedang Haris.

“Raniiii…”

Aldo mengambil kesempatan itu untuk menghindar, dia coba berlari ke arah pintu untuk keluar dari kamar ini, tapi Haris langsung mengejarnya dan menyabetkan pedangnya hingga membuat luka menyilang yang cukup panjang dan dalam di punggung Aldo, sehingga dia terjatuh dan tak sempat sampai ke pintu itu.

“Bajingan kau Aldo, pengecut!!!”

Begitu Aldo membalikkan badannya Haris sudah berada di depannya. Tatapan Haris yang sangat tajam membuat Aldo benar-benar ketakutan. Tak pernah dia melihat Haris seperti itu, auranya benar-benar gelap, penuh hawa membunuh yang pekat. Tanpa banyak bicara lagi, Haris menyabetkan pedangnya ke arah penis Aldo yang masih agak tegang itu.

“Aaaaarrrggghhh…”

Aldo menjerit kesakitan saat batang kebanggaannya itu terpisah dari tubuhnya. Dari selangkangannya mengucur deras darah segar. Aldo memegangi daerah selangkangannya.

“Sekarang saatnya kamu mati Aldo!!!”

“Haris, jangan Ris.. jangaan aaaaaaarrrggghhh…”

Tanpa ampun Haris menusukkan ujung pedangnya di leher Aldo, lalu mengoyaknya ke samping kiri dan kanan, membuat kepada Aldo hampir terlepas dari tubuhnya. Mata Aldo melotot lebar saat dia meregang nyawa ditangan adik sepupunya sendiri.

Setelah membunuh Aldo Haris segera menghampiri Rani untuk melihat kondisinya, apalagi tadi perutnya sempat terkena sabetan pedangnya. Rani dalam keadaan telanjang bulat meringkuk memegangi perutnya sambil menangis.

“Ran, kamu nggak papa Ran?”

“Hiks, nggak mas, aku nggak papa, cepet selametin mbak Anin mas, dia sama Titus tadi.”

“Dimana dia Ran?”

“Di kamar sebelah mas.”

“Kamu, beneran nggak papa?”

“Iya mas, ini cuma luka gores,” ucap Rani sambil menunjukkan lukanya kepada Haris. Memang hanya sebuah luka gores yang tidak dalam.

“Ya udah, kamu tunggu disini, bentar lagi aku balik,” ucap Haris.

“Iya mas.”

Setelah memastikan Rani baik-baik saja, Haris kemudian menuju ke kamar sebelah, tempat dimana ada Anin disitu bersama dengan Titus. Melihat apa yang terjadi pada Rani tadi, Haris jadi terbayang apa yang sedang terjadi saat ini pada Anin. Darahnya mendidih membayangkan istrinya sedang diperkosa oleh Titus, seperti halnya Rani tadi diperkosa oleh Aldo.

Sampai di depan kamar yang satunya, sama seperti tadi Haris langsung mendobrak pintu kamar itu dengan keras. Dan kembali, pemandangan yang ada di dalam kamar benar-benar menyayat hatinya. Anin, istri yang sangat dia cintai, sedang berbaring tak berdaya dengan pakaian yang terbuka disana sini. Kedua tangannya dipegangi oleh Titus, membuatnya tak bisa bergerak untuk melawan. Sedangkan di bawah, tubuh Titus sempat terlihat bergerak maju mundur, sebelum terhenti saat pintu di dobrak oleh Haris.

Titus terkejut melihat Haris memegang pedang yang sudah berlumur darah, bahkan menetes di lantai. Dari situ dia sudah tahu, kalau semua anak buahnya telah dibantai Haris. Entah bagaimana caranya, atau dengan siapa saja Haris bisa mengalahkan anak buahnya, tapi yang jelas dia tahu kalau posisinya saat ini terancam. Tapi Titus tidak sepanik Aldo tadi. Dia masih bisa berpikir bagaimana untuk bisa menahan Haris.

“Jangan mendekat atau kubunuh istrimu!”

Langsung saja Titus mencekik Anin yang sedang dia perkosa, sambil kembali dia menggerakkan tubuhnya maju mundur perlahan. Haris sempat berhenti. Kalau dia diancam akan keselamatannya sendiri, dia tak peduli. Tapi ketika diancam dengan keselamatan istrinya, dia berpikir ulang. Dia berpikir bagaimana caranya menghabisi Titus tanpa membuat istrinya terluka, apalagi tadi tindakan spontannya sempat membuat Rani terluka.

Sementara itu, Tituspun juga sedang mengulur waktu. Dia juga sedang berpikir bagaimana caranya bisa lolos dari Haris. Dia berpikir, jika Haris sampai berbuat seperti itu, artinya dia sedang sendiri, tidak mungkin datang bersama dengan Aziz ataupun anak buahnya.

Karena jika ada Aziz, tak mungkin Haris akan dibiarkan membunuh para anak buahnya dengan pedang itu. Disini Titus masih bisa melihat peluangnya untuk meloloskan diri. Diapun meneruskan menyetubuhi Anin bukan untuk menuntaskan nafsunya, hanya untuk memancing emosi Haris agar ria itu tak bisa berpikir lebih banyak lagi.

“Hoorkk uhhukk, papaahh.. uhuuk tolooongg hukk uhuuk..”

Mendengar suara Anin yang susah payah meminta tolong dalam cekikan Titus, ditambah lagi melihat Titus yang masih terus memperkosa Anin, membuat emosi Haris kian meledak-ledak. Dia sudah akan bergerak namun kemudian terlihat Titus mengencangkan cekikannya di leher Anin, bahkan menyetubuhi Anin dengan lebih keras, membuat istrinya itu terlihat makin menderita.

“Diam disitu atau benar-benar kubunuh istrimu!” bentak Titus saat melihat Haris maju selangkah ke depan.

Tapi Haris sudah tak kuat lagi melihat Anin menderita. Dia berpikir, semakin lama Anin dicekik seperti itu dia akan kehabisan nafas dan bisa-bisa malah berakibat fatal. Dia harus segera bertindak. Mungkin Titus akan menyakiti istrinya, tapi jika dia berhasil menyerang Titus, Anin akan segera terlepas dari Titus dan tidak lebih menderita lagi.

Saat melihat ada momen yang tepat, Haris langsung berlari menuju ke arah Titus dengan pedang terhunus. Titus merasa ancamannya sudah tak lagi mempan, dia tahu Haris sedang bertaruh, dan dia sendiripun bertaruh akan nyawanya. Dia lalu mengambil tindakan lain, yang meskipun pada akhirnya nanti dia mati, tapi tindakannya akan membuat Haris menderita seumur hidupnya.

Buuuugghh.. Buuuugghh.. Buuuugghh..

Beberapa kali Titus memukul perut Anin yang sedang hamil itu dengan sangat keras, membuat wanita itu berteriak kesakitan dan langsung pingsan.

“Biadab kau Titus!! Kubunuh kau!!”

Emosi Haris benar-benar tak tertahankan. Apa yang dilakukan Titus membuat sesuatu yang ada di dalam dirinya, yang selama ini tak pernah dia rasakan muncul begitu saja. Sebuah kemarahan yang teramat sangat, yang membuat Haris benar-benar kehilangan kontrol atas dirinya sendiri. Diapun langsung menyerbu ke arah Titus yang sudah bergerak menghindar.

Titus berlari ke sebuah meja dan mengambil pistol yang ada disana. Saat dia berbalik, Haris sudah menghunus pedang ke arahnya. Tituspun menodongkan pistolnya ke arah Haris. Dia tahu, tak mungkin lagi mengancam Haris, karena akan percuma saja. Diapun dengan panik menarik pelatuk pistol itu.

Doooorrr…

Sebuah tembakan berhasil dilepaskan Titus. Tapi karena dalam keadaan panik, dia tak bisa membidik dengan tepat, meskipun dari jarak sedekat itu. Tembakannya memang mengenai perut Haris, tapi tidak sampai melukai organ vital yang bisa melumpuhkan Haris. Harispun seperti tak merasakan apa-apa meskipun terkena tembakan, dia terus berlari menghampiri Titus dan menyabetkan pedangnya.

Craaaaaassshh…

“Aaaaarrrggghhh…”

Tangan kanan Titus yang memegang pistol itupun putus, terpisah dari tubuhnya. Titus terjatuh, tapi kemudian bergerak merangkak ke arah pintu.

Craaaaaassshh…

“Aaaaarrrggghhh…”

Akhirnya sebuah sabetan mendarat di punggung Titus, meskipun luka yang ditimbulkan tak terlalu panjang, seperti Aldo tadi, tapi cukup untuk membuat Titus terkapar. Haris segera menghampiri Titus yang mencoba untuk bangkit lagi. Tapi kemudian Haris berhasil menangkapnya. Dia menjambak rambut Titus dari belakang.

“Haris, hentikan nak.”

Tiba-tiba terdengar suara memanggil Haris. Ternyata itu adalah Aziz. Dia baru saja datang bersama anak buahnya. Dia langsung menuju ke dalam waktu tahu di ruang depan telah bergelimpangan belasan mayat dengan kondisi sangat mengenaskan, sebagian sudah tak utuh lagi.

“Sudah nak, serahkan Titus pada polisi, biar kami yang mengurusnya.”

Kembali Aziz membujuk Haris untuk tak bertindak semakin jauh. Beberapa orang anak buahnya yang mengikuti Aziz dari belakang nampak hanya diam saja. Mereka ngeri juga melihat apa yang dilakukan oleh Haris. Tapi mereka yakin Haris tidak akan segila itu menyerang mereka, Haris hanya menyerang para penjahat itu.

Haris tampaknya tak ingin menuruti kata-kata mertuanya. Dia menarik kepala Titus ke belakang, lalu perlahan-lahan mengucapkan kata-kata perpisahan untuk Titus.

“Ini akibat dari semua perbuatanmu. Beristirahatlah dengan tenang, dan jadilah kerak abadi di neraka.”

Zleeeeebbb…

“Aaaaarrrggghhhh…”

Pedang yang dipegang Haris menusuk tubuh Titus dari belakang hingga tembus ke perutnya. Saat itu juga, Titus meregang nyawa ditangan Haris, di depan Aziz dan pada anggota polisi yang lainnya.

Bersambung​