Black Circle Part 36

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Tamat
Manuver Tajam​

Sudah 2 minggu berlalu, Haris dan Anin sudah kembali dengan aktivitas mereka masing-masing. Haris yang sempat khawatir dengan kondisi istrinya sekarang sudah bisa tenang. Baru kemarin mereka kontrol lagi ke tempat dokter Hannah, dan dia mengatakan kalau kondisi Anin maupun janin di perutnya baik-baik saja.

Memang sekarang Anin jadi terlihat sering lemas dan gampang lelah, tapi dengan diberi vitamin oleh dokter Hannah dia sudah bisa beraktivitas dengan normal. Selama 2 minggu ini juga Haris memaksa Rani untuk belajar mengemudi mobil, dan sekarang dia sudah semakin lancar. Jadi kalau Anin sedang lemas maka Rani yang mengemudikan mobilnya.

Di kantornya, Haris kini juga sudah tak perlu lagi lembur sampai malam. Karyawan baru yang dijanjikan oleh kantor pusat ternyata datang lebih awal dari yang seharusnya. Memang Haris sering sekali menghubungi Eva ataupun Lidya, curhat betapa dia kesusahan tanpa adanya bantuan dan harus kerja sendiri. Akhirnya karyawan yang baru direkrut hanya menghabiskan 2 minggu training di kantor pusat, selanjutnya mereka dikirim kesini. Ada 2 orang langsung yang dikirim untuk membantu Haris.

Tapi meskipun sudah ada yang membantunya, tidak berarti Haris bisa langsung santai. Waktu training yang cuma 2 minggu di kantor pusat dirasa masih kurang, sehingga mau tak mau Haris harus meluangkan waktunya lebih banyak untuk mengajari mereka. Tapi paling tidak dia tidak harus pulang selarut biasanya.

Karena hal itulah sekarang Haris punya lebih banyak waktu untuk Anin. Dia memberikan perhatian yang begitu besar kepada istrinya. Dia seperti ingin menebus beberapa waktu lalu dimana dia terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Bukan karena dia yang mau, tapi memang tuntutan dari kantornya seperti itu.

Anin tentu saja senang dengan hal ini. Dia bisa lebih sering bermanja-manja kepada Haris. Anin sendiri tak tahu kenapa sekarang dia jadi semanja itu pada suaminya, mungkin karena pengaruh janin yang sedang dikandungnya.

Di lain hal, Rani meskipun juga senang kakaknya tak lagi lembur seperti sebelumnya, sekarang dia juga semakin bingung. Gavin mulai semakin sering protes karena mereka makin jarang bertemu untuk berduaan. Memang Gavin masih sering main ke rumah, dan masih suka membawakan makanan atau cemilan untuk Anin. Tapi sudah sulit sekali bagi mereka untuk hanya berdua saja.

Rani bingung karena dia semakin takut kalau Gavin akan benar-benar meninggalkannya. Akhir-akhir ini Gavin sering marah, ngambek karena tiap Rani diminta untuk datang ke rumahnya selalu saja ada halangannya. Dan halangan itu tak lain adalah Rani harus menemani Anin di rumah.

Rani tak tega meninggalkan kakak iparnya sendirian, meskipun sebenarnya Anin tak pernah minta untuk ditemani. Harispun tak pernah berpesan kepada Rani untuk selalu menemani Anin, yang penting saat Anin butuh bantuan, atau saat kondisi Anin sedang drop Rani ada disitu.

“Emang kondisinya Anin sekarang gimana yank? Udah nggak lemes kayak yang kemarin itu kan?” tanya Gavin. Saat ini dia dan Rani sedang makan siang bersama.

“Ya emang udah nggak sih yank, tapi gimana ya, aku takut aja kalau tau-tau dia ngedrop. Soalnya yang kemarin itu kan, sebenarnya mbak Anin baik-baik aja, eh tiba-tiba bisa muntah-muntah sampai lemes banget gitu. Aku takutnya entar kejadian kayak gitu lagi yank.”

“Yaa kan beda sayang. Sekarang kan Anin udah dikasih obat sama dokternya. Kalaupun dia lemes lagi kan tinggal diminum itu obatnya, dipake istirahat, beres kan?”

“Iya juga sih yank, tapi…”

“Atau sebenernya kamu udah nggak mau lagi ketemu sama aku?” potong Gavin.

“Eh enggak yank, kok kamu ngomongnya gitu sih?”

“Yaa habisnya, tiap kali diajak keluar, disuruh main ke rumah, pasti ada aja alasannya. Ya wajar kan aku curiga kalau sebenarnya kamu udah nggak mau ketemu aku lagi?”

“Lho ya nggak gitu yank. Buktinya ini kan kita ketemu, kalau aku nggak mau mana mungkin kita bisa makan siang bareng gini?”

“Halah, buktinya kamu kalau disuruh ke rumah udah nggak pernah bisa lagi. kenapa? Udah nggak mau lagi berduaan sama aku? Nggak kangen sama aku?”

“Bukan gitu sayang. Iya iya aku minta maaf. Entar deh diusahain biar bisa kesana lagi.”

“Kamu ngomong ini udah berapa kali yank? Dan nggak pernah bisa kan?”

Rani hanya terdiam. Dia memang sudah beberapa kali berjanji seperti itu kepada Gavin, dan sampai sekarang belum pernah bisa menepati sekalipun. Sebenarnya dia juga ingin pergi menemui Gavin. Meskipun dia merasa apa yang telah mereka lakukan itu salah, dan ada keinginan dari Rani untuk berhenti, tapi kadang ada saat-saat dimana dia sangat merindukan belaian Gavin. Ada saat-saat beberapa bagian tubuhnya ingin disentuh dengan mesra oleh Gavin.

“Kalau emang udah nggak mau lagi ngomong aja yank sekalian, jangan kayak gini,” ucap Gavin.

“Enggak sayang, bukan aku nggak mau lagi.”

“Jadi kamu masih mau kan?” tanya Gavin sambil tangannya turun membelai paha Rani yang tertutup celana jeans. Belaiannya perlahan bahkan mulai naik ke atas, ke arah selangkangan Rani.

“Yaank kamu ngapain sih?” Rani mencoba menepis tangan Gavin, tapi tak berhasil.

“Jadi kamu masih mau kan yank? Kangen kan aku giniin?” tiba-tiba jari Gavin sudah ada di daerah kemaluan Rani, yang masih tertutup rapat.

“Sayang jangan disini aahh..” protes Rani lirih, sambil matanya mengawasi sekitar, takut ada orang yang melihat mereka.

Gavin hanya tersenyum, tapi tangannya terus bergerak. Jarinya mulai menusuk-nusuk pelan bagian itu, dan membuat Rani sesekali meringis. Bukan kesakitan tapi dia merasa geli, dan juga was-was karena mereka masih berada di tempat umum.

“Iya yank iya. Tapi udahan dong, jangan disini.”

Akhirnya Gavin menarik tangannya. Ranipun lega, lebih lega lagi setelah melihat kondisi di sekitarnya, sepertinya tidak ada yang melihat apa yang barusan terjadi.

“Ya udah, kalau gitu besok kamu ke rumahku ya sayang. Aku nggak mau tau, pokoknya kamu harus datang. Kalau nggak, aku yang samperin ke rumahmu. Aku nggak peduli ada Anin disana.”

“Iya yank iya, besok aku ke rumahmu.”

Kembali Gavin tersenyum. Dalam hatinya dia tertawa lebar karena semakin yakin kalau Rani sudah benar-benar takut kehilangan dia, dan pasti akan menuruti apapun yang dia mau. Sebaliknya, Rani jadi makin bingung. Alasan apa yang harus dia bilang ke Anin agar bisa keluar ke rumah Gavin. Tentu saja dia tak ingin sampai Gavin yang datang ke rumahnya, karena dia tahu apa yang diinginkan Gavin, yaitu tubuhnya. Dia tentu tak mau mereka bersetubuh di rumahnya, apalagi saat ada Anin.

Tapi Rani berharap besok kondisi Anin baik-baik saja, tidak drop, dan bisa ditinggal. Karena mereka sudah cukup lama tidak berhubungan badan, Rani yakin kalau pacarnya itu tidak hanya akan memintanya sekali. Bisa jadi berulang kali dan itu akan membuat Rani pulang telat. Apalagi sekarang Haris sudah tidak lembur sampai malam lagi. Bisa gawat kalau seandainya dia pulang dalam keadaan lemas dan di rumah sudah ada Haris.

Banyak kemungkinan yang dipikirkan oleh Rani sekarang. Tapi dia tahu yang jelas dia besok harus bertemu dengan Gavin. Dia besok harus datang ke rumah Gavin, atau pacarnya itu akan berbuat hal gila.

***

Sore hari, pekerjaan Haris sudah selesai. Dia cukup puas karena kedua anak buahnya yang baru cukup cepat belajar. Apa saja yang sudah diberikan dan diajarkan oleh Haris mampu mereka tangkap dengan cepat. Sekarang Haris bisa lebih bisa bersantai, dan tinggal menunggu laporan dari kedua anak buahnya.

Dia juga baru saja menghubungi Anin untuk menanyakan kabarnya. Ternyata Anin sudah pulang dengan Rani. Kondisinya saat ini baik-baik saja. Haris jadi tak terlalu khawatir sekarang karena selain dari vitamin yang diberikan kepada Anin oleh dokter Hannah, ada Rani juga yang selalu ada bersamanya, sehingga kalau sewaktu-waktu kondisinya drop lagi ada orang yang bisa diandalkan.

Sambil menunggu laporan dari anak buahnya datang, Haris yang berada di ruang kerjanya sedang sibuk dengan laptopnya. Dia masih penasaran dengan Gavin. Apalagi kemarin Bagas sudah mengabari kalau ternyata teman-temannya yang anak band tidak satupun yang tahu tentang Garputala, perusahaan tempat Gavin bekerja.

Semakin besar kecurigaan Haris pada Gavin, tapi tetap saja dia dari tadi mencari informasi di internet tidak mendapatkan tambahan apapun, masih seperti yang kemarin dia dapatkan. Karena itulah akhirnya Haris lebih banyak membuka portal-portal berita, untuk mengupdate apa saja yang dia belum tahu.

Saat sedang asyik membaca-baca berita, tiba-tiba Haris teringat dengan kasus yang menimpa orang-orang dekatnya. Kasus kaburnya Aldo, menghilangnya Viona dan juga pembunuhan Andi. Dia sempat melupakan hal itu karena memfokuskan diri untuk pernikahannya dengan Anin, dan setelah itu sibuk dengan pekerjaan yang luar biasa banyaknya, juga dengan kehamilan Anin. Karena penasaran dengan perkembangan kasus-kasus itu, diapun mencoba mencarinya. Setelah beberapa saat mencari, sekarang dia jadi bingung sendiri.

“Kok beritanya nggak ada ya?” gumamnya.

Soal kaburnya Aldo dan menghilangnya Viona, sama sekali tidak ada yang bisa dia temukan dari internet. Sedangkan kabar pembunuhan Andi, dia hanya mendapatkan informasi tentang seorang polisi muda yang ditemukan meninggal di rumahnya, itupun karena sakit, bukan di bunuh. Padahal seingatnya, Lidya pernah mengatakan kalau berita tentang kematian Andi yang tragis itu sempat menjadi berita di TV, tapi saat ini dia mencarinya berita itu tidak ada sama sekali. Diapun bergegas menghubungi Lidya.

“Halo Ris,” terdengar suara Lidya dari ujung telpon.

“Halo Lid, lagi sibuk nggak?”

“Nggak sih, aku nggak kerja kok hari ini, lagi cuti.”

“Loh, cuti tho? Jadi ini di rumah?”

“Iya, tapi bentar lagi mau pergi.”

“Ooh, mau pergi kemana emang?”

“Mau ke Singapore sama mama.”

“Wah, mau liburan ya? Oleh-oleh dong Lid, hehe.”

“Haha, bukan. Ini mau nganterin mama berobat Ris.”

“Loh, berobat? Emang mama kamu sakit apa? Kok nggak pernah cerita?”

“Ada lah Ris, kena kanker gitu, tapi masih stadium awal kok. Ini taunya juga baru bulan kemarin, makanya aku belum cerita sama kamu.”

“Oh gitu. Ya moga-moga aja bisa cepet sembuh ya Lid.”

“Iya makasih. Oh iya, ada apa nih, tumben telpon? Bukan karena kangen kan? Hehe.”

“Haha, yaa kalau masih boleh sih, pengennya kangen Lid, haha.”

“Hush, nggak boleh gitu. Inget udah ada Anin lho sekarang. Denger-denger Anin kan juga udah hamil kan?”

“Hehe iya, tau dari mbak Eva ya?”

“Iya, hehe. Jadi, ada apaan Ris?”

“Hmm, gini Lid, aku mau nanya soal kasusnya mas Aldo, mbak Viona sama mas Andi.”

“Oh soal itu, kenapa emang Ris?”

“Itu perkembangannya gimana sih Lid? Barusan aku nyari infonya di internet, tapi kok nggak ada ya? Termasuk kasusnya mas Andi, kamu bilang dulu pernah masuk berita di TV, tapi ini kok nggak ada lagi beritanya?”

“Hmm, kalau soal itu, sebenernya aku nggak tau pasti Ris kenapa bisa kayak gitu. Cuma yang aku tau sih, kayaknya kasus itu sengaja nggak dimunculin di media, kayak ditutup-tutupin gitu.”

“Ditutup-tutupin? Kok bisa gitu Lid? Bukannya ini termasuk kasus besar ya?”

“Iya, justru itu Ris, makanya sengaja ditutup-tutupin.”

“Maksudnya gimana Lid? Aku kok belum paham ya?”

“Gini lho Ris, ketiga kasus itu kan kemungkinan besar saling berhubungan, dan mungkin polisi sengaja membuat kasus ini tertutup biar mereka bisa lebih fokus ngejar tersangkanya. Kalau misalnya diberitain di banyak media, para penjahat itu kan jadi bisa tau apa yang dilakuin sama polisi, jadi mereka bisa ambil langkah buat menghindar.”

“Oh gitu?”

“Iya Ris. Kan pernah ada kejadian kayak gitu, ada media yang beritain sebuah kasus, sampai langkah-langkah apa aja yang mau diambil polisi diberitain juga. Ternyata penjahatnya malah ngikutin berita itu, makanya jadi susah banget nangkepnya.”

“Iya juga sih ya, penjahat jaman sekarang kan udah makin pinter.”

“Ya makanya itu Ris.”

“Eh, tapi kamu ada denger-denger info nggak? Dari kakakmu atau siapa gitu, terutama soal mbak Viona?”

“Masih belum ada Ris. Apalagi kakakku bukan termasuk orang yang ditugasin buat ngungkap kasus itu. Mungkin di internal kepolisian sendiri, perkembangan kasusnya dirahasiakan.”

“Huuft, gitu yaa.. Gimana ya nasibnya mbak Viona? Aku jadi khawatir sama dia Lid.”

“Nggak cuma kamu Ris, kita semua juga khawatir. Meskipun dia udah lama ilangnya, dan sekarang udah digantiin mbak Eva, tapi orang-orang kantor kadang masih suka ngomongin dia, pada khawatir juga sama dia. Tapi ya kita berharap aja deh, semoga apapun yang terjadi sama mbak Viona, dia masih diberi keselamatan.”

“Iya Lid, semoga aja.”

“Oh iya Ris, maaf banget ya, tapi aku harus berangkat sekarang.”

“Oh iya iya, kalau gitu kapan-kapan disambung lagi deh. Kamu hati-hati ya, salam buat mama kamu.”

“Iya, makasih ya. Bye.”

“Bye.”

Haris menutup telpon, kemudian meletakkan handphonenya di meja. Dia kembali terdiam, termenung memikirkan kata-kata Lidya tadi. Mungkin memang benar yang dikatakan oleh Lidya. Kalau penyelidikan tentang kasus ini dipublikasi, bukan tidak mungkin para penjahat yang dicari malah lebih diuntungkan, karena mereka bisa memantau gerak dari para polisi. Kalau dirahasiakan, tidak diberitakan secara luas justru akan mempermudah kepolisian dalam mengungkap kasusnya.

‘Tapi kalau emang udah sempat diberitain di TV, masak nggak ada satupun orang yang penasaran ya? Gimana caranya ngilangin berita seperti itu, terutama pembunuhan mas Andi? Kalaupun dengan pengalihan isu, harusnya kan nggak hilang begitu aja. Lha ini, dicari dimanapun beritanya nggak ketemu.’

Haris jadi bingung sendiri. Kasus pembunuhan sadis yang menimpa Andi memang terlalu aneh jika menghilang begitu saja dari media. Apalagi jaman sekarang ini, banyak sekali berita online yang meskipun banyak berita baru yang muncul, arsip berita lama biasanya masih ada, apalagi berita seperti kasusnya Andi. Tapi berkali-kali Haris mencari, satupun tak bisa dia temukan. Terlalu aneh buatnya.

‘Kalau memang polisi yang menginginkan berita itu dihilangkan, berapa banyak orang yang harus dibungkam coba?’

Haris yang semakin bingung hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sepertinya terlihat sederhana, tapi makin dia pikirkan, makin dia coba untuk mencari tahu, malah makin pusing dia.

Apalagi dia juga jadi kepikiran dengan nasib Viona. Dia baru menyadari, sudah 5 bulan lebih sejak Lidya memberi tahunya soal menghilangnya Viona, dan sejak itu tak ada kabar sama sekali. Dia sama sekali tak bisa membayangkan apa yang terjadi pada Viona selama 5 bulan ini. Tapi jika benar Viona diculik oleh Titus ataupun anak buahnya, berarti sesuatu yang buruk pasti menimpanya. Apalagi setelah Viona menceritakan tentang bagaimana dulu Titus pernah memperlakukannya.

Namun saat sedang melamun, tiba-tiba Haris seperti menyadari sesuatu.

‘Eh tunggu dulu. Aku udah 2 kali ketemu Titus, dan semuanya di kota ini. Apa jangan-jangan Titus sekarang tinggal di kota ini ya? Kalau iya, apa mungkin mbak Viona juga ada di kota ini?’

Titus memang pernah 2 kali muncul di hadapannya. Pertama adalah saat dia bersama dengan Viona, kedua adalah saat pernikahannya. Haris mencoba mengira-ngira adanya kemungkinan Viona diculik dan dibawa ke kota ini.

‘Kayaknya itu bisa jadi sebuah petunjuk sih. Mas Andi juga udah sempat aku kasih tau kalau Titus ada di kota ini. Tapi sekarang mas Andi udah nggak ada, kalau mau ngasih tau, aku harus ngasih tau siapa coba? Lidya? Kalau sekarang kayaknya nggak mungkin, dia mau nganterin mamanya berobat.’

‘Oh iya, aku kan pernah bahas ini sama mertuaku, apa udah ada perkembangan ya? Beliau nggak pernah ngasih tau apa-apa lagi soal hal itu, apa sebaiknya aku tanya ke beliau aja? Bener, aku harus tanya, siapa tau udah ada perkembangan kasusnya.’

Haris merasa mendapat pencerahan. Dia kemudian mengirimkan pesan kepada Aziz, ayah mertuanya, membuat janji untuk bertemu sepulang kerja nanti. Dia juga tak lupa mengabari Anin, kalau dia akan pulang terlambat hari ini. Beruntung Anin tak menanyakan apa-apa, karena Haris pasti akan bingung mencari alasan. Bukan tidak mau berterus terang, tapi saat ini Anin sepertinya sudah melupakan soal itu. Apalagi sekarang Anin dalam kondisi hamil, dia tak ingin membuat istrinya itu jadi teringat dan kepikiran soal hal itu.

***

“Ris, udah lama?”

“Eh ayah, enggak kok, baru nyampai juga saya.”

“Ada apa sih? Kok ngajakin ketemu, tapi nggak mau di rumah, dan jangan sampai ibu sama Anin tau?”

“Duduk dulu yah.”

Haris sekarang sedang berada di sebuah kedai, tak jauh dari rumah Aziz. Dia memang sengaja ingin bertemu dengan ayah mertuanya itu, tapi tidak di rumah, karena memang hanya ingin membicarakan hal ini berdua saja. Kalau Anin ataupun ibu mertuanya tahu, dia takut mereka akan jadi kepikiran dengan hal ini. Dia tak ingin membuat mereka khawatir atau kepikiran, karena kehidupan mereka sekarang sudah berjalan dengan baik dan tenang.

“Gini lho yah, saya ingin tanya sesuatu sama ayah, dan ini emang menurut saya penting banget.”

“Emang sepenting apa? Sampai ibu dan Anin nggak boleh tau?”

“Tentang Titus yah.”

“Titus?” Aziz nampak terkejut, dia sama sekali tak mengira kalau Haris ingin membicarakan hal itu dengannya.

“Iya.”

“Kenapa dengan Titus?”

“Gini yah, saya kan pernah cerita soal mas Aldo, mbak Viona sama mas Andi, yang kemungkinan besar ada hubungannya sama Titus. Nah, 2 kali sama ketemu Titus kan di kota ini. Hmm, mungkin lebih tepatnya bukan ketemu, tapi dia nemuin saya, entah untuk tujuan apa.”

“Oke, lalu?”

“Saya tadi siang coba-coba cari berita soal pembunuhan mas Andi beberapa bulan lalu, karena kata temen saya pernah ada beritanya, tapi kok anehnya saya sama sekali nggak nemuin berita itu, satupun. Saya sempet telpon temen saya tadi, dan dia bilang kalau kemungkinan berita itu sengaja dihilangkan, biar polisi bisa lebih fokus menyelidiki, apa betul yah?”

Aziz terlihat menghela nafas setelah mendengar perkataan menantunya. Dia tak langsung menjawab. Dia mengambil gelas yang ada di hadapannya, meminumnya sedikit. Harispun terlihat sabar menanti jawaban dari mertuanya itu.

“Memang benar Ris, berita-berita itu sengaja dihilangkan, biar perkembangan kasusnya nggak bisa dipantau sama para penjahat itu. Dan, kasus itu sepertinya juga dirahasiakan di pihak internal kepolisian sendiri. Aku udah pernah nyoba tanya ke rekanku di mabes, tapi mereka bilang tidak tau apa-apa, karena ada tim khusus yang menangani.”

“Jadi ayah juga nggak tau perkembangannya sampai sekarang seperti apa?”

“Iya. Aku juga udah ngasih informasi kalau Titus ada disini dan sempat muncul di nikahan kamu. Aku juga sempat minta ijin agar bisa ikut membantu menyelidiki, tapi justru aku dapat larangan keras dari pusat.”

“Hah? Malah dilarang yah?”

“Benar. Ini sebenarnya aneh, tapi mau gimana lagi Ris, ini perintah. Jadi yang sekarang aku bisa lakuin adalah melindungi kalian, kamu dan Anin, sebisaku.”

“Sampai sekarang?”

“Iya. Meskipun aku akui, dalam sebulan terakhir ini tidak setiap hari anak buahku ngawasin kalian, karena toh selama ini nggak ada lagi yang gangguin kalian. Tapi tenang aja, bukan berarti kalian akan lepas sepenuhnya dari pengawasanku. Bagaimanapun juga kita nggak boleh lengah menghadapi orang seperti Titus. Dan kalau sampai dia berani menyentuh kalian, apapun akibatnya aku pasti akan bergerak.”

Haris hanya mengangguk. Dia lega karena masih berada dalam pengawasan ayah mertuanya. Tapi dia juga kecewa karena ternyata Aziz juga tidak tahu perkembangan kasus itu, bahkan dilarang untuk ikut campur.

“Yah, hmm, apa mungkin ada permainan dari oknum?”

“Maksudmu?”

“Gini, dulu mas Andi pernah bilang ke saya, kalau orang seperti Titus mungkin punya backingan orang dari kepolisian, yang posisinya mungkin sudah tinggi.”

“Hmm, kemungkinan itu bisa aja terjadi, tapi sampai sekarang itu hanya sebatas asumsi aja kan? Nggak ada yang bisa benar-benar membuktian.”

“Atau mungkin mas Andi udah tau hal itu, makanya dia harus dilenyapkan?”

“Seperti ku bilang tadi, semua kemungkinan bisa saja terjadi Ris. Dan kalau benar kondisinya seperti itu, maka ada baiknya memang kita jangan masuk terlalu dalam. Kalau bisa membongkarnya, bagus. Tapi kalau tidak, salah-salah kita bisa bernasib sama seperti Andi.”

Kembali Haris mengangguk. Sebagian dari dirinya bisa menerima perkataan Aziz, karena pertimbangan keselamatan pribadi dan keluarganya. Tapi di sisi lain, dia tak bisa menerima karena semua yang terjadi berkaitan dengan orang-orang yang dekat dengannya seperti Aldo dan Viona, atau paling tidak pernah dikenalnya seperti Andi.

Aziz memahami kekhawatiran Haris. Tapi sebenarnya dia jauh lebih khawatir ketimbang Haris, karena kata-kata yang diucapkan Titus kepadanya saat datang ke pernikahan Haris dan Anin. Aziz tak ingin mengatakan hal itu kepada Haris karena dia takut menantunya itu akan tambah khawatir terhadap keselamatan Anin. Karena itulah dia sendiri yang akhirnya menyuruh anak buahnya untuk mengawasi sekaligus melindungi Anin.

Sampai saat ini, laporan dari anak buahnya mengatakan kalau Anin aman-aman saja. Dia bisa menarik nafas lega. Tapi dia juga harus selalu waspada, karena bisa saja Titus muncul sewaktu-waktu tanpa diduga. Meskipun untuk saat ini, dia sangat berharap Titus sudah tidak berada di kota ini lagi. Dia berharap Titus sudah pergi, entah kemanapun itu, dan entah apapun yang dia lakukan. Dengan begitu keselamatan keluarganya akan lebih terjamin.

“Sudah Ris, kamu jangan terlalu memikirkan hal itu. Kita percayakan saja pada polisi yang ditugaskan untuk menyelidikinya. Yang penting sekarang adalah sampai saat ini nggak ada lagi yang gangguin keluarga kita, terutama kamu dan Anin.”

“Iya yah, saya rasa juga begitu.”

“Saat ini Anin yang perlu kamu perhatikan lebih. Meskipun anak buahku tetap mengawasi dan menjaganya, tapi bagaimanapun juga kamu adalah suaminya. Jaga dia, dan calon anak kalian.”

“Baik yah. Kebetulan juga saya udah nggak perlu lembur lagi kayak kemarin-kemarin, jadi punya lebih banyak waktu buat Anin.”

“Baguslah kalau kayak gitu. Ada lagi yang mau kamu bicarain?”

“Hmm, rasanya itu aja yah. Mungkin kalau ada apa-apa nanti saya hubungi ayah lagi.”

“Ya udah kalau gitu, kita pulang aja, istrimu pasti udah nungguin.”

“Baik yah.”

Haris dan Aziz melangkah keluar dari tempat itu. Sebenarnya masih ada satu hal lagi yang mengganggu pikiran Haris, yaitu soal Gavin. Tapi saat ini dia merasa belum bisa untuk menceritakan hal itu kepada Aziz, karena semua ini masih dalam batas kecurigaan saja, belum bisa benar-benar dia buktikan. Dia masih kepikiran kalau sampai meminta bantuan Aziz, lalu ternyata perkiraannya salah, betapa malunya dia. Belum lagi kalau Gavin tahu soal hal ini, bisa jadi dia marah dan malah meninggalkan Rani. Yang dia tahu, Rani sangat mencintai Gavin, kalau sampai Gavin meninggalkan Rani gara-gara dia, bisa-bisa Rani akan marah besar kepadanya.

***

Keesokan harinya, akhirnya Rani harus batal menepati janjinya kepada Gavin. Dia tidak jadi ke rumah Gavin karena kondisi Anin yang tiba-tiba drop. Seperti yang sebelumnya, Anin drop saat berada di kampus. Rani sempat menghubungi Haris, namun karena hari ini ada rapat penting Haris tidak bisa menjemput mereka. Akhirnya Rani kembali menghubungi Gavin, dan untungnya Gavin bisa.

Mereka sempat mampir ke tempat dokter Hannah, tapi ternyata dokter Hannah sedang tidak ada. Gavinpun mengusulkan untuk langsung ke apotek saja membeli obat dan vitamin seperti sebelumnya. Anin yang sudah sangat lemas setuju saja. Sesampainya di rumah, Anin langsung meminum obat yang tadi dibelikan oleh Gavin dari apotek. Saat Anin meminumnya, terlihat Gavin tersenyum. Obat itu bukanlah obat yang sama seperti sebelumnya, tapi obat yang sudah dipersiapkan Gavin dari rumah.

Gavin kemudian membantu Rani memapah Anin untuk dibawa ke kamarnya, untuk membiarkan Anin istirahat, setelah itu mereka kembali ke ruang tengah. Rani sempat menghubungi Haris lagi dan mengatakan kalau sekarang dia sudah di rumah, sudah memberi Anin obat juga dan sekarang Anin sedang istirahat. Haris yang mendengarnya cukup lega, dan kembali melanjutkan rapatnya.

“Yank, hmm, kayaknya hari ini kita tunda dulu ya. Aku harus jagain mbak Anin nih,” ucap Rani sedikit takut kalau pacarnya itu akan marah.

“Iya sayang, tenang aja. Aku paham kok,” jawab Gavin sambil tersenyum.

“Makasih ya sayang,” Rani bisa bernafas lega karena pacarnya bisa memaklumi.

“Iya. Tapi, ngomong-ngomong aku nggak dikasih minum ini?”

“Eh ya ampun. Duh maaf yank, abis aku panik sih. Kamu mau minum apa yank?”

“Apa aja deh yank, yang dingin ya?”

“Ya udah bentar aku buatin dulu ya.”

Rani kemudian ke dapur untuk membuatkan minuman dingin untuk mereka berdua. Setelah itu dia membawanya kembali ke ruang tengah. Saat ngobrol, Gavin menyuruh Rani untuk melihat lagi kondisi Anin. Rani yang sama sekali tak menaruh kecurigaan menuruti begitu saja perintah Gavin. Saat Rani masuk ke dalam kamar Anin, Gavin memberikan sesuatu ke minuman Rani.

“Gimana yank?” tanya Gavin saat Rani keluar dari kamar Anin.

“Udah pules yank tidurnya, efek obatnya mungkin ya?”

“Iya kali.”

Mereka berdua kemudian melanjutkan obrolan sambil menghabiskan minuman yang disediakan Rani. Rani tak sadar kalau minumannya sudah diberikan sesuatu oleh Gavin. Keduanya masih terus ngobrol, bercerita. Rani cukup senang karena perubahan sikap Gavin dari yang sebelumnya sering uring-uringan karena jarang bertemu, sekarang sudah kembali hangat lagi. Bahkan sekarang mereka duduk sambil Gavin memeluk pundak Rani.

Rani sendiri sebenarnya agak tak enak dengan hal itu, karena ada Anin di rumah ini meskipun dia sedang tidur di kamarnya. Mereka belum pernah berduaan sampai sedekat ini di rumah ini, beda cerita kalau di rumah Gavin, yang mereka sudah berkali-kali melakukan persetubuhan.

Rani sendiri merasa badannya mulai aneh. Dia merasa mulai gerah, duduknya jadi tak tenang. Keningnya juga mulai berkeringat, dan nafasnya mulai terasa berat. Gavin yang mengetahui perubahan pacarnya itu tersenyum. Kali ini rencananya akan memasuki tahap selanjutnya. Gavin mengeratkan pelukannya, mendekatkan mulutnya ke telinga Rani.

“Sayang, aku pengen nih,” ucap Gavin lirih sambil mengembus telinga Rani.

“Sshh yaank jangan. Jangan disini ada mbak Anin,” tolak Rani, tapi badannya sama sekali tak bergerak.

“Anin tidur yank, dia nggak akan tau kok. Ayolah, kamu kangen juga kan sama aku?”

“Iya sayang tapi jangan disini, kita cari tempat dulu aja. Aaahhh yaaaankk…”

Tiba-tiba Gavin meremas lembut payudara Rani, membuatnya kelepasan mendesah. Rani berusaha menyingkirkan tangan Gavin dari dadanya tapi tenaganya terlalu lemah. Apalagi kini dirinya dengan mudah dapat dirangsang oleh Gavin, dibantu oleh obat yang dimasukkan ke minumannya tadi.

“Eempphh aahh eeehhmmpp…”

Gavin langsung saja melumat bibir Rani yang langsung dibalas oleh Rani. Dari yang tadinya menolak, Rani sudah pasrah mengikuti kemauan Gavin. Tubuhnya terasa begitu sensitif sehingga sentuhan-sentuhan Gavin membuatnya lupa daratan. Apalagi sudah cukup lama juga sejak Gavin mencumbunya seperti ini, semakin mudahlah Rani takluk.

Rani semakin pasrah saat Gavin menelanjanginya, hingga kini di ruang tengah rumahnya tubuh polosnya tak tertutup apapun. Gavinpun dengan cepat menelanjangi dirinya sendiri. Setelah keduanya telanjang Gavin kembali mencumbui Rani, yang mendapat respon serupa dari Rani.

“Sshhh aahh yaaankk,, enaakk yaakk teruusss sedoott…”

Lenguhan dan desahan Rani kian terdengar saat Gavin mulai mencumbui dadanya. Putingnya sudah mengeras dua-duanya, menjadi mainan lidah dan jari Gavin. Tanpa ampun Gavin melumat bagian itu, meninggalkan beberapa bekas cupangan di dada Rani.

“Aaaahh sayaaaanngg…”

Tiba-tiba Rani memekik saat jari-jari Gavin mulai bermain di kemaluannya. Mulai dari menggesek-gesek klitorisnya sampai dimasukkan jarinya ke vagina Rani yang ternyata sudah basah. Gavin kemudian menggerakkan jarinya mengobok-obok vagina Rani. Gavin melumat bibir Rani untuk menahan desahan pacarnya itu agar tidak terlalu keras.

“Hhmmpp yaankk aaahh teruuss,, cepetiin sayaaangg.. hhmmpphh..”

Rani makin tak tahan dengan rangsangan yang diberikan oleh Gavin. Dia membalas ciuman Gavin dengan ganas. Bahkan tangannya sudah bergerak sendiri mencari penis Gavin. Begitu menemukan kejantatan Gavin yang sudah mengeras itu Rani langsung mengocoknya. Awalnya perlahan, tapi semakin lama semakin cepat dia kocok penis itu, seiring dengan jari Gavin yang bergerak makin cepat di dalam vaginanya.

“Yaaaannkk aaakkhh aakuuu keluuaaaarrr…”

Seeerrr,, Seeerrr,, Seeerrr,,

Rani memekik, tubuhnya langsung kelojotan saat dia berhasil dibuat orgasme oleh Gavin. Nafasnya terengah-engah menikmatinya, tapi jari Gavin belum juga berhenti. Dia terus mengocok vagina Rani, kini bahkan dia menambahkan lagi jarinya di dalam vagina Rani. Rani kembali dibuat mendesah tak karuan dengan dua jari Gavin berada di dalam vaginanya.

Rani yang sudah diberi perangsang, ditambah lagi sudah lama tidak dicumbu oleh Gavin begitu mudah birahinya dibangkitkan lagi. Nafasnya semakin memburu, desahannya semakin keras terdengar tanpa ditahan lagi dengan ciuman oleh Gavin. Beberapa saat lamanya Gavin mengocok vagina Rani hingga gadis itu kembali mendapatkan orgasmenya. Lenguhan panjang dan tubuh mengejang menandai gelombang kenikmatan yang menderanya.

Gavin membiarkan pacarnya itu istirahat sebentar. Rani merebahkan tubuhnya di sofa dengan mata terpejam. Nafasnya masih terengah-engah. Gavin tersenyum melihat gadis itu. Setelah membiarkan Rani istirahat dia menarik tubuh Rani, mengarahkan kepalanya ke penisnya. Rani tahu apa yang diinginkan oleh Gavin. Segera saja dia membuka mulutnya dan melumat penis Gavin.

Rani sudah benar-benar lupa segalanya. Dia lupa kalau sekarang ini mereka berada di rumah kakaknya. Dia lupa kalau disini ada kakak iparnya yang sedang tidur di kamarnya. Yang ada dipikiran Rani saat ini adalah menuntaskan nafsunya, juga melayani orang yang telah merenggut keperawanannya beberapa bulan silam itu.

Setelah beberapa saat mengulum penis itu, tubuh Rani ditarik oleh Gavin. Dia mengarahkan tubuh Rani agar mendudukinya. Rani tanggap. Tangannya meraih penis Gavin, lalu mengarahkan ke bibir vaginanya. Setelah itu perlahan dia menurunkan tubuhnya, membuat penis Gavin masuk perlahan-lahan ke dalam vaginanya.

“Aaaaaahhhh yaaaaankk…” lenguhan panjang kembali terdengar dari mulut Rani saat penis besar itu masuk semua ke vaginanya. Rani masih mendiamkan sejenak, begitu juga dengan Gavin. Setelah cukup lama akhirnya vagina sempit Rani kembali dimasuki oleh Gavin, dia masih ingin merasakan sensasinya sebelum menggerakkan tubuhnya.

Setelah beberapa saat Gavin mulai meminta Rani untuk bergerak. Dengan saling berhadapan tangan Gavin juga mulai kembali meremas kedua payudara Rani. Sesekali dia cium dan dia hisap puting susu Rani. Semua yang dilakukan oleh Gavin itu semakin membakar gairah Rani hingga dia semakin cepat bergerak naik turun.

Tubuh Rani sudah tak terkontrol lagi. desahannya juga makin jelas dan makin keras. Dia seolah tak peduli kalau Anin mendengarnya lalu terbangun. Dia hanya ingin menuntaskan birahinya. Birahi liar yang selama ini terkurung dalam dirinya.

“Yaaankkk aku mau keluar lagi yaank..”

“Keluarin sayang, keluarin semuanya.”

“Aaahh sayaaang, aku keluaaaaarr…”

Kembali tubuh Rani kelojotan di pangkuan Gavin. Dia kembali orgasme. Vaginanya makin becek, dan itu dirasakan oleh Gavin. Tanpa memberi waktu Rani untuk istirahat, Gavin menggenjot tubuh Rani dari bawah. Rani yang sudah 3 kali dibuat orgasme oleh Gavin kini badannya semakin lemas, dia hanya pasrah saja dengan apa yang dilakukan oleh Gavin.

Gerakan Gavin yang menggenjotnya dengan cepat dari bawah mau tak mau membuat Rani kembali merasa akan mendapatkan orgasme. Tubuhnya terasa begitu sensitif, terutama daerah dinding vaginanya. Setiap gesekan antara dinding vaginanya dengan penis Gavin membuat birahinya makin meletup tak tertahan.

Dan akhirnya kembali Gavin sukses membuatnya orgasme. Badan Rani makin lemas, dia sampai ambruk dalam pelukan Gavin. Sementara Gavin menghentikan genjotannya.

“Sayang, kita pindah ke kamar ya?” ucap Gavin lirih di telinga Rani.

Tak bisa menjawab karena saking lemasnya, Rani hanya mengangguk. Tanpa melepaskan penisnya dari vagina Rani, Gavin bergerak bangkit, berdiri sambil menggendong Rani. Reflek tangan Rani langsung memeluk pundah Gavin. Kakinya juga langsung dirangkulkan ke pinggang Gavin.

Posisi seperti ini ternyata memberikan sensasi aneh bagi Rani. Terasa begitu geli, penuh dan juga nikmat. Ditambah perasaannya yang takut jatuh meskipun dipegangi Gavin, membuat dinding vaginanya bergerak mengenjang, membuat remasan di penis Gavin makin terasa. Rani sampai menutup matanya, tanpa sadar dia menggerakkan pinggulnya perlahan.

Rani hanya sempat mendengar suara pintu dibuka, dan dia masih terus terpejam. Rani mengira Gavin membawanya masuk ke kamarnya sendiri, tapi tanpa diketahuinya, Gavin memasuki kamar yang 1 lagi. Kamar dimana Anin terlihat sedang tidur pulas di ranjangnya.

Rani masih tak sadar kalau dia berada di kamar yang salah. Bahkan saat tubuhnya dibaringkan di ranjang oleh Gavin dia masih terpejam. Saat Gavin kembali mulai menggenjotnya dia juga belum sadar kalau ada orang lain yang sedang terbaring pulas di sampingnya.

“Aaahh saayaaangg terusss aaahhh aaahhh oouugg yaaannkk.. yang kenceng yaankk,, aaahh aaahh teruussshh nikmaaatt…”

Rani terus meracau kenikmatan, desahannya begitu keras tanpa menyadari ada Anin berada di sampingnya. Kedua matanya masih terpejam, genjotan Gavin benar-benar terasa nikmat untuknya.

“Aaaahh yaaankk teruuuss yaaankkk dikitt lagii..” kembali Rani meracau tak jelas saking nikmatnya.

“Tahan bentar yaank, kita keluar bareng bareng..”

“Aaahh cepeet yaaank akhuu udah nggak tahaaannn.. yaaaaaankkk aku keluaaaarrrr…”

“Aku juga sayaaangg aaaaaahhhh…”

Keduanya mendesah bersamaan dengan keras. Tubuh Gavin menegang menyemburkan banyak sekali cairan sperma kentalnya. Diikuti oleh tubuh Rani yang juga menegang. Dia mendapatkan sensasi orgasme yang luar biasa, karena ditambah hangatnya sperma Gavin yang masuk ke dalam rahimnya.

Rani masih terengah-engah dengan mata yang masih terus terpejam sejak tadi. Dia masih belum menyadari kondisi di sekitarnya. Gavinpun masih terengah-engah, tapi dia hanya tersenyum saja, menanti seperti apa reaksi Rani jika mengetahui dimana dia berada sekarang.

Setelah beberapa saat, penis Gavin yang sudah mulai melemas ditarik keluar dari vagina Rani. Tampak mengalir cairan putih kental dari vagina Rani, keluar hingga membasahi kasur. Rani yang masih terpejam merasakan ranjang bergoyang, dia tahu Gavin turun dari ranjang itu. Perlahan dia membuka matanya. Namun dia heran karena terasa berbeda dari kamarnya. Saat itu dia juga baru bisa mencium ada aroma lain yang cukup dia kenali. Diapun menggerakkan kepalanya menoleh ke sebelah kiri, dan langsung terbelalak melihat siapa yang ada di sampingnya.

“Mbak Anin!!!”

Bersambung​