Black Circle Part 35

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Tamat
Ada Yang Tak Beres​

Hari ini Haris kembali disibukkan dengan pekerjaannya. Sebenarnya dia kadang ingin bersantai sejenak begitu melihat rekan-rekannya di kantor sempat bersenda gurau, membicarakan berita terbaru atau apapun yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan di kantor.

Tapi dia sadar, jika melakukan itu, yang ada pekerjaannya justru akan semakin menumpuk, dan bisa jadi dia akan pulang semakin malam.

Untuk saat ini Haris ingin bisa pulang secepat mungkin. Rasa rindunya kepada sang istri sedang besar-besarnya. Bukan karena jarang bertemu, karena toh setiap hari mereka masih tetap bertemu sebelum Haris berangkat kerja atau saat pulang kerja.

Tapi saat ini Haris ingin sebanyak mungkin waktu bersama istrinya. Kondisi istrinya yang sedang hamil 2 bulan membuatnya terus penasaran dengan apa yang terjadi pada istrinya.

Memang selama ini, dia selalu mendapatkan kabar dari Anin. Dan selama itu pula tidak pernah ada keluhan berarti dari Anin, termasuk yang pernah Haris takutan, yaitu jika istrinya merasa mual-mual parah seperti yang pernah dia dengar dari temannya.

Tapi sampai saat ini tidak pernah dia mendapatkan kabar itu. Sempat Haris berpikir apakah mungkin Anin hanya menyembunyikan darinya supaya dia bisa fokus kerja. Karena itulah dia sering juga menghubungi Rani menanyakan kondisi Anin. Dan jawaban dari Ranipun sama saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan dengan kondisi Anin.

Tapi hari ini Haris bekerja dengan perasaan sedikit berbeda, fokusnya tidak penuh. Bukan soal kondisi Anin karena dia yakin istrinya baik-baik saja, tapi apa yang disampaikan Anin semalam soal Gavin sedikit menganggu pikirannya.

Dia sangat paham kalau Anin tidak akan mungkin mengatakan hal seperti itu tanpa dasar yang jelas. Dan dia tahu, Anin selama ini memang jarang salah menilai orang, feelingnya cukup kuat.

Dia mengingat-ingat lagi setiap pertemuannya dengan Gavin. Sepertinya memang tidak ada yang mencurigakan dari Gavin. Jika Gavin memang sedang memainkan sebuah peran, harusnya dia bisa menyadari. Tapi selama ini Haris tidak melihat ada yang salah dengan Gavin.

Tapi karena ucapan istrinya semalam, sekarang Haris jadi makin penasaran dengan Gavin, dia tergelitik untuk mencari tahu tentang pria itu. Karena jika memang kecurigaan Anin terbukti, maka yang paling mungkin terkena dampaknya adalah Rani, adik kandungnya. Haris tentunya tak ingin Rani sampai kenapa-napa.

Tapi untuk saat ini, dia tidak bisa langsung mencari tahu tentang Gavin. Dia harus segera menyelesaikan pekerjaanya dulu. Nanti setelah beres, dia akan sedikit menyempatkan waktu sebelum pulang untuk mencari sedikit informasi tentang Gavin.

***

Sementara itu di kampus, Anin terlihat sedang terduduk lemas di kursinya. Baru saja dia kembali dari toilet. Tadi saat baru saja selesai mengajar, tiba-tiba dia merasa perutnya mual. Saat kemudian berlari ke toilet yang tak jauh dari ruangannya, dia muntah-muntah.

Memang tak banyak yang dimuntahkan karena sudah cukup lama jedanya dari terakhir dia makan tadi pagi, tapi hal itu membuat tubuhnya sekarang menjadi sangat lemas.

Saat ini Anin sedang ditemani oleh seorang dosen yang seruangan dengannya. Dia tadi sudah membuatkan Anin teh hangat. Dia juga sudah mengabari ibu Anin, yang berbeda ruangan, tapi saat ini ibu Anin masih mengajar.

“Gimana kondisinya sekarang Nin? Masih lemes?”

“Masih bu. Duh saya dari sejak tahu kalau hamil sampai kemarin udah seneng lho, nggak pake mual-mual, eh kok tiba-tiba sekarang jadi gini ya?”

“Haha, ya masih wajar sih. Emang orang beda-beda Nin, ada yang dari awal udah mual-mual, ada yang setelah beberapa minggu baru kayak gitu. Aku dulu juga, hampir sama kayak kamu gini.”

“Oh ya? Terus gimana bu?”

“Ya nggak gimana-gimana, dinikmati aja, kan itu salah satu prosesnya. Tapi mending nanti kamu ke dokter aja, minta vitamin biar mualnya nggak sampai bikin kamu lemes gini.”

“Iya deh bu, nanti sore saya ke dokter.”

Mereka hanya berdua saja di ruangan ini, karena satu orang dosen lagi yang juga seruangan sedang mengajar. Anin mendapat cukup banyak masukan dari temannya itu. Lumayan juga, karena memang dia belum terlalu paham. Apa yang dia tahu selama ini hanya dari bacaan saja, meskipun kadang ibunya juga memberi masukan.

Tok… Tok… Tok…

Tiba-tiba pintu ruangan diketuk, dan tak lama kemudian Rani masuk ke ruangan itu. Dia sebenarnya ingin mengumpulkan tugas kepada bu Fatma, dosen yang saat ini sedang bersama Anin di ruangan ini.

“Ada apa Rani?”

“Ini bu, mau ngumpulin tugas dari temen-temen.”

“Oh ya udah, kamu taruh di meja aja.”

“Baik bu. Loh, mbak Anin kenapa? Kok mukanya pucet gitu?” tanya Rani, saat menyadari wajah Anin memang agak terlihat pucat.

“Ini Ran, tadi tiba-tiba aku mual, terus muntah-muntah.”

“Ya ampun, kok gitu mbak?”

“Iya Ran, wajar namanya orang lagi hamil,” sahut bu Fatma.

“Ooh gitu. Hmm, apa mbak Anin pulang aja mbak? Masih ada jadwal ngajar nggak nanti?”

“Masih ada sih Ran, entar sejam lagi.”

“Tapi kayaknya bener yang dibilang Rani deh Nin, mending kamu pulang dulu aja, istirahat. Kamu kasih tugas aja ke anak-anak,” ucap bu Fatma memberikan saran.

“Duh gimana ya bu, saya nggak enak kalau nggak masuk,” jawab Anin masih terlihat ragu-ragu. Dia memang selama ini belum pernah absen mengajar, meskipun sebenarnya mahasiswanya juga sudah tahu kalau dia sedang hamil.

“Udah nggak papa, emang kondisi kamu kayak gini. Lagian kalau dipaksain ngajar, apa kamu yakin kamu kuat?”

Anin hanya menggelengkan kepala, karena memang saat ini tubuhnya terasa lemas sekali. Dia tak tahu kenapa, karena sejak positif hamil sampai sekarang, baru kali ini dia merasa seperti ini.

“Ya udah kalau gitu pulang aja, kalau perlu langsung ke dokter aja.”

“Entar deh bu, saya juga masih lemes ini, kayaknya nggak kuat bawa mobil sendiri.”

“Rani bisa anterin Anin?” tanya bu Fatma ke Rani.

“Duh, saya juga belum lancar nyetir mobil bu.”

“Atau panggilin Haris aja Nin?” usul bu Fatma.

“Duh jangan bu. Mas Haris ini lagi sibuk-sibuknya di kantor, saya nggak mau kerjaan dia sampai keganggu, entar yang ada malah makin numpuk dan lemburnya makin malem pulangnya.”

Rani sependapat juga dengan Anin. Dia sendiri juga tahu bagaimana beban kerja Haris akhir-akhir ini. Dia salut juga dengan Anin, yang meskipun kondisinya sekarang seperti itu, tapi masih berpikir tidak ingin mengganggu suaminya. Sikap yang ingin ditiru Rani dari kakak iparnya.

“Lha terus gimana?” tanya bu Fatma.

“Hmm, aku coba telpon mas Gavin aja ya mbak?” tanya Rani memberikan usul, setelah beberapa saat dia terdiam.

“Duh jangan Ran, dia kan juga pasti lagi sibuk kerja, jangan digangguin deh,” jawab Anin kembali menolak.

“Udah nggak papa mbak, aku coba dulu aja, kali aja kerjaannya bisa ditinggal. Bentar ya mbak aku telpon dia dulu,” tanpa menunggu jawaban dari Anin, Rani melangkah keluar ruangan untuk menelpon Gavin.

“Gavin siapa Nin?” tanya bu Fatma setelah Anin keluar dari ruangan.

“Pacarnya Rani bu.”

“Ooh. Orang sini?”

“Bukan bu, aslinya bukan dari sini, tapi dia kuliah dan sekarang kerja disini.”

“Kerja dimana?”

“Di.. hmm, mana ya, aduh saya lupa bu. Kayaknya perusahaan alat-alat musik gitu deh.”

“Ooh gitu.”

Tak lama setelah itu Rani kembali masuk ke ruangan.

“Mas Gavin bisa mbak, kebetulan lagi kosong kerjaan, bentar lagi dia kesini.”

“Beneran Ran? Entar jangan-jangan sebenarnya ada kerjaan lagi?”

“Enggak kok, dia bilang sih emang lagi free. Katanya daripada bengong di kantor, mending kesini jemput mbak Anin.”

“Ooh gitu. Duh aku jadi nggak enak Ran, malah ngerepotin orang lain gini.”

“Halah mbak, ngerepotin gimana sih, orang sama keluarga sendiri juga.”

Aninpun akhirnya terdiam. Tapi kemudian dia mencoba menghubungi dokter kandungan tempatnya biasa kontrol. Dia menanyakan bisakah periksa sekarang, karena ada yang perlu disampaikan. Kebetulan sekali dokter itu menyanggupinya.

Setelah menunggu sekitar setengah jam, akhirnya Gavin menelpon Rani, memberi tahu kalau dia sudah menunggu di depan kampus. Rani mengajak Anin untuk menemuinya. Sebelumnya Anin membuat tugas untuk diberikan kepada mahasiswanya, lalu menitipkan kepada bu Fatma. Aninpun tak lupa mengabari ibunya kalau dia pulang duluan.

Saat mereka keluar dari gedung, Gavin langsung menghampiri.

“Mbak Anin gimana kondisinya?”

“Ya gini Vin, lemes.”

“Ya udah kalau gitu aku anterin pulang yuk mbak.”

“Hmm, kamu kesini naik apa tadi?”

“Naik ojek kok mbak.”

“Oh gitu. Ya udah, ini kunci mobilku,” ucap Anin seraya menyerahkan kunci mobilnya kepada Gavin.

“Vin, ini beneran nggak papa kamu anterin aku? Nggak dicari sama bossmu?”

“Haha, tenang aja mbak, bossku orangnya santai kok. Aku udah ijin tadi, bilang mau nganterin kakak iparku, dan si boss oke oke aja.”

“Ooh ya udah kalau gitu, tapi maaf banget lho Vin udah ngerepotin.”

“Halah udah, jangan gitu. Ya udah mbak Anin sama Rani tunggu aja disini, aku ambil dulu mobilnya.”

Anin dan Rani mengangguk, sementara Gavin pergi ke parkiran mengambil mobil Anin. Tak lama kemudian mobil itu sudah menghampiri mereka. Anin duduk di belakang, sedangkan Rani duduk di depan, di samping Gavin.

“Kita langsung pulang mbak?”

“Enggak Vin, kita ke tempat dokter Hannah, aku mau periksa dulu.”

“Ooh, udah janjian?”

“Udah barusan.”

“Oke kalau gitu, alamatnya dimana mbak?”

Setelah Anin memberikan alamat dokter yang ingin dia tuju, mobilpun meluncur ke alamat itu. Di tempat dokter itu, Rani dan Gavin ikut masuk mengantarkan Anin. Disana dia menyampaikan keluhannya. Kemudian dokter Hannah memeriksa kondisi Anin sebentar, lalu menuliskan resep untuk ditebus di apotek.

“Nah Anin, ini saya kasih resep vitamin buat kamu, kamu tebus di apotek ya, kebetulan stok disini lagi habis.”

“Iya dok makasih.”

Setelah itu Anin, Rani dan Gavin meneruskan perjalanan pulang ke rumah. Tak lupa mereka mampir ke apotek terlebih dahulu. Gavin yang turun untuk menebus obat, sedangkan Anin dan Rani menunggu di dalam mobil. Setelah obat ditebus, merekapun pulang.

Sampai di rumah, Gavin memesankan makan siang untuk mereka bertiga. Anin sebenarnya tidak berselera untuk makan, tapi karena dia harus minum obat mau tak mau dia harus makan juga. Setelah memastikan kondisi Anin sudah lebih baik, Rani dan Gavin pamit untuk kembali ke tempat mereka masing-masing.

Rani memang masih ada jadwal praktikum siang ini, sedangkan Gavin kembali ke kantornya. Mereka memesan taksi online. Sebenarnya Anin menyuruh untuk membawa mobilnya saja, tapi Gavin menolak karena dia sendiri juga membawa mobil yang ditinggal di kantornya. Tapi dia berjanji nanti akan mengantarkan Rani pulang.

***

Hari masih sore, dan sebenarnya pekerjaan Haris sudah selesai. Tapi dia tidak langsung pulang karena memang tadi niatnya mau sedikit mencari informasi tentang Gavin. Tapi Haris masih bingung, mau mulai dari mana mencari informasinya.

Selama ini sebenarnya tiap kali bertemu, cukup banyak yang diceritakan oleh Gavin, tapi kini Haris baru menyadari kalau cerita-cerita Gavin itu sama sekali tidak memberinya petunjuk.

“Oh iya, dia kan cerita kalau dia kerja di perusahaan yang bergerak di bidang alat musik. Apa mending aku tanya Bagas aja ya, mungkin dia tau perusahaan itu, kan dia cukup banyak tau soal musik.”

Haris mendapat ide, kemudian mencoba menghubungi sahabatnya yang juga memiliki band lokal yang sempat tampil di acara resepsi pernikahannya.

“Halo Ris.”

“Halo Gas, lagi sibuk nggak?”

“Nggak kok, baru nyampe kost ini aku. Ada apa?”

“Ini aku mau nanya-nanya dikit, soal alat musik.”

“Wuih, sejak kapan kamu tertarik sama alat musik Ris? Setauku sama musik aja kamu kurang begitu hobi?”

“Haha nggak kok, bukan berarti aku mau beli alat musik.”

“Lha terus?”

“Gini Gas, kamu kan punya band, pasti ngerti dong soal alat-alat musik?”

“Iyalah pastinya, terutama gitar. Emang kenapa?”

“Nah, kamu biasa beli alat musik dimana?”

“Ooh tempat belinya? Sekarang sih nggak beli di toko Ris, kebetulan temenku ada kenalan, yaa kayak vendor alat musik gitu, jadi kita pesen disana.”

“Oh ya? Apa nama perusahaannya?”

“Waduh apa ya, bentar aku inget-inget dulu.”

“Garputala bukan Gas?”

“Hah, garputala? Apaan itu? Haha aku nggak ngerti.”

“Itu lho Gas, perusahaan yang bergerak di bidang alat musik juga. Katanya mereka produksi sendiri, dan disini ada bagian pemasarannya.”

“Lha kok malah kamu lebih tau Ris?”

“Enggak, soalnya ada kenalanku yang kerja disana.”

“Oh ya? Bagus-bagus nggak alatnya? Eh bentar, ini jangan-jangan kamu malah mau nawarin ya? Haha.”

“Haha bukan Gas. Aku cuma pengen nanya, kamu tau perusahaan itu nggak?”

“Nggak Ris, baru denger ini malah.”

“Atau mungkin temen-temen kamu Gas?”

“Entar deh aku coba tanyain sama temen-temenku, siapa tau mereka ada yang tau.”

“Oh ya udah, entar kabarin aja ya.”

“Oke siap. Tapi ada apaan sih Ris kok tiba-tiba nanya ginian?”

“Ooh enggak. Gini lho, kenalanku itu kemarin nawarin buat investasi disana. Yaa makanya aku mau cari info dulu soal perusahaannya, beneran apa enggak, aku nggak mau lah entar kena tipu,” jawab Haris mencoba memberikan alasan.

“Investasi? Kok aneh Ris?”

“Aneh gimana?”

“Itu perusahaan baru?”

“Katanya sih nggak baru-baru amat. Kenapa emang?”

“Hmm, mereka bilang produksi sendiri ya? Produksinya dimana?”

“Di Tangerang Gas. Yang disini cuma pemasaran aja.”

“Ooh gitu. Hmm mending hati-hati aja Ris. Kalau emang perusahaan itu udah sampai punya kantor pemasaran disini, harusnya udah lumayan gede dong. Masak iya mau nawarin investasi ke kamu. Maaf lho ini, bukannya menghina, emang kamu punya duit berapa sih buat diinvestasiin ke perusahaan gitu?”

“Hmm, iya juga sih Gas.”

“Kalau misalnya kamu udah jadi boss, atau kamu orang kaya raya, ya wajar aja kamu ditawarin buat investasi kayak gitu. Tapi ini kan kamu cuma pegawai biasa, ya meskipun posisimu udah tinggi sih sekarang. Jadi, menurutku itu mencurigakan Ris. Coba kamu cari info lebih banyak lagi di internet, beneran ada nggak tuh perusahaan.”

“Iya Gas, entar aku cari. Aku juga nggak mau sampai ketipu.”

“Iya, hati-hati aja Ris. Dan kalau perusahaan itu emang beneran ada, ya berarti kamu harus waspada sama kenalanmu itu, jangan-jangan dia cuma nyatut nama perusahaannya aja, padahal sebenarnya dia bukan karyawan situ.”

“Wah bener juga ya Gas. Sip sip, makasih banyak Gas. Tapi aku tetep tunggu info dari kami lho.”

“Siap. Entar begitu ada info langsung kukabarin. Yang jelas, kamu hati-hati aja.”

“Oke makasih Gas.”

“Sip, sama-sama.”

Haris menutup telponnya. Memang apa yang dia katakan kepada Bagas bukan hal yang sebenarnya, tapi hanya untuk ingin tahu saja, apakah Bagas yang anak musik mengenal perusahaan itu, tapi ternyata tidak.

Akhirnya tanpa berlama-lama, Haris langsung membuka browsernya untuk mencari info soal perusahaan yang pernah dibilang oleh Gavin. Dan dia akhirnya memang menemukan apa yang dicari. Ada sebuah perusahaan bernama PT Garputala, yang bergerak di bidang produksi dan pemasaran alat musik.

Kantor utamanya di Tangerang, sedangkan kantor pemasarannya ada di Jakarta, Surabaya dan Jogja. Saat dia buka profil perusahaan itu, tampilannya cukup sederhana, dan tidak terlalu banyak info yang dia dapatkan. Hanya seputar kapan berdirinya, siapa pendirinya, dan dimana saja lokasi kantor-kantornya.

Haris sebenarnya ingin mencari tahu tentang nama-nama karyawannya siapa saja, tapi tentu saja hal itu tidak bisa dia akses dari sana. Sebenarnya di laman perusahaan itu ada nomer costumer service yang bisa dihubungi, tapi kalau dia menghubungi nomer itu, dan ingin menanyakan perihal status karyawan bernama Gavin, alasan apa yang harus dia berikan?

Tentu saja perusahaan tidak akan begitu saja memberikan data karyawannya kepada pihak luar. Haris yang di kantor ini bekerja di bagian personalia paham betul hal itu. Data baru bisa diberikan, selain diminta oleh pihak kantor sendiri, juga jika diminta oleh pihak yang berwajib, dalam hal ini kepolisian.

Itupun tidak bisa sembarangan. Harus ada sebab yang kongkrit kenapa polisi minta data itu, misalnya karyawan yang dicari terlibat kasus kejahatan.

Nah sekarang Haris tidak punya alasan sampai sejauh itu untuk mencari informasi tentang Gavin di perusahaan itu lewat bagian personalia mereka. Kalaupun dia mencoba mengarang-ngarang cerita, dia juga tidak ada bukti. Malah bisa-bisa dia yang kena masalah jika perusahaan itu tahu dia berbohong dan malah balik menuntutnya.

Mencari informasi dengan cara seperti ini tampaknya membuat Haris menemui jalan buntu. Apalagi memang Gavin pernah cerita kalau perusahaan tempatnya bekerja itu masih skala kecil, tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan tempatnya bekerja ini.

Haris lalu mencari alamat kantor pemasaran perusahaan itu di kota ini. Dia dengan mudah mendapatkannya. Kemudian melalui aplikasi peta digital di handphonenya, dia mencari lokasi itu. Ternyata kantor yang dia cari itu berada di kompleks ruko yang berlokasi di sekitar ring road utara.

Setahu Haris memang ruko itu banyak disewa untuk berbagai keperluan, tapi dia tak pernah benar-benar memperhatikan siapa saja yang menyewa ruko itu, karena memang jarang lewat daerah itu juga.

Haris mencatat alamat itu di handphonenya, nanti jika lewat sana dia akan mencoba memastikan. Siapa tahu bisa sekalian mampir, untuk memastikan bahwa Gavin benar bekerja disana. Kalaupun Gavin sedang tidak ada, dia bisa menanyakannya ke orang-orang yang bekerja disini.

“Ya benar. Cara itu mungkin lebih efektif.”

Setelah puas mencari informasi yang dia perlukan, Haris merapikan mejanya kemudian beranjak keluar dari kantornya. Dia cukup senang karena hari ini bisa pulang cepat, tidak perlu lembur lagi sampai malam seperti hari-hari sebelumnya.

Dia ingin segera sampai rumah, kangen dengan istrinya, dan juga kangen dengan kebiasaan barunya, yaitu mengelus-elus perut istrinya yang mulai ada perubahan.

Sesampainya di rumah, hanya ada Rani di ruang tengah sedang sibuk dengan laptopnya. Sepertinya Rani sedang mengerjakan laporan atau mungkin tugas kampusnya.

“Mbak Anin mana Ran?”

“Lagi istirahat di kamar mas, tadi kayaknya abis minum obat deh.”

“Hah, minum obat? Emang dia kenapa Ran?”

“Lho emang mbak Anin nggak ngasih tau mas Haris?”

“Enggak. Ada apa emang?”

“Jadi tadi itu mbak Anin muntah-muntah di kampus mas.”

“Muntah-muntah? Kenapa? Dia sakit?”

“Mas Haris gimana tho? Mbak Anin kan lagi hamil, ya orang hamil kayak gitu kan biasa.”

“Oh iya ya, hehe. Soalnya kan sejak tau positif hamil sampai sekarang nggak pernah kayak gitu Ran.”

“Iya mas. Aku aja tadi juga kaget. Pas kebetulan aku ke ruangannya, mau ngumpulin tugas ke bu Fatma, mbak Anin keliatan lemes gitu, ternyata abis muntah-muntah.”

“Lha terus gimana?”

“Ya akhirnya aku anterin pulang. Tadi aku nelpon mas Gavin buat jemput, soalnya aku kan belum bisa bawa mobil.”

“Jadi Gavin anterin kalian?”

“Iya, sempet ke tempat dokter Hannah juga tadi, periksa. Terus dikasih resep, kami tebus di apotek terus pulang. Sampai rumah mbak Anin istirahat, aku sama mas Gavin cabut lagi, soalnya aku juga masih ada praktikum tadi sore mas.”

“Oh gitu. Ya uda bentar, aku lihat dulu kondisinya.”

“Iya mas.”

Haris bergegas masuk ke kamarnya. Dan terlihat Anin memang sedang tertidur. Haris menghampirinya, melihat wajah istrinya. Tidak terlalu pucat, mungkin karena sudah dikasih obat. Dia juga melihat obat yang ada di meja sebelah ranjang, memang sudah berkurang 2 dari stripnya, berarti tadi siang, dan tadi sebelum Haris pulang. Tak ingin menganggu istrinya, Haris kemudian keluar kamar lagi menemui Rani.

“Lagi ngerjain apa Ran?”

“Ini mas bikin tugas. Udah kelar sih, tadi udah dicicil di kampus.”

“Oh gitu. Oh iya Ran, mas mau nanya dong soal Gavin.”

“Nanya apaan mas?”

“Kalau kamu pas lagi sama dia, pernah nggak dia cerita-cerita gitu soal kantornya, soal kerjaannya gitu?”

“Hmm, nggak pernah sih mas kayaknya. Dan aku juga nggak pernah nanya sih. Emang kenapa mas?”

“Enggak. Kemarin itu kan aku ngobrol sama mas Bagas. Kamu inget kan mas Bagas ternyata punya band?”

“Iya, yang waktu tampil di nikahan mas Haris kan?”

“Iya Ran. Nah kemarin aku ngobrol sama dia. Waktu aku bilang soal kantornya Gavin, ternyata mas Bagas nggak tau, padahal kan kantornya Gavin itu jual-jual alat musik kan?”

“Iya mas. Hmm, yaa mungkin karena mas Bagas nggak pernah beli disana mas. Kayaknya mas Gavin kan pernah bilang kalau kantornya emang bukan kantor yang gede kan?”

“Iya itu dia, aku kemarin juga bilang sama Bagas gitu. Makanya bisa jadi dia emang belum tau.”

“Iya kali mas. Lagian selama ini juga seringan aku yang curhat sama dia soal kuliahku, hehe.”

Haris kembali gagal mengorek informasi dari adiknya, karena ternyata Gavin tak pernah membahas soal pekerjaannya dengan Rani. Tadinya dia berharap Gavin pernah cerita soal itu, sehingga bisa sedikit menambahkan informasi yang dia cari. Tapi tampaknya Haris memang harus mencarinya sendiri.

“Oh iya Ran. Katanya Gavin itu punya tato ya?”

“Iya mas. Tau dari mbak Anin ya?”

“Iya, kemarin mbak Anin cerita. Emang dia udah lama punya tato?”

“Udah mas, dari jaman kuliah dulu katanya. Dia bilang sih dulu dipaksa sama temen-temennya, karena nggak enak sama mereka akhirnya dia bikin. Tapi udah bilang sama aku sih, nanti kalau ada waktu dia mau hapus tato itu.”

“Oh gitu. Jadi dulu pacarmu itu nakal dong Ran?”

“Haha nggak tau mas. Iya kali, tapi yang penting sekarang kan udah enggak.”

“Iya Ran, semoga aja. Tapi kamu juga harus tetep ati-ati lho ya, jaga diri baik-baik.”

“Siap mas. Mas Haris tenang aja. Mbak Anin juga udah sering ngingetin aku kok.”

Haris tersenyum mendengar jawaban adiknya. Rani sendiri ikut tersenyum, tapi dalam hati dia merasa tak enak, karena memang dia sedang berbohong kepada kakaknya. Rani sudah gagal menjaga dirinya, dia telah menyerahkan hartanya yang paling berharga kepada Gavin.

Gavin memang sudah berjanji kepadanya kalau dia tidak akan pernah meninggalkannya, tapi tetap saja dia merasa takut. Karena itulah dia berusaha untuk menuruti apa yang diinginkan oleh Gavin, supaya pacarnya itu tidak sampai berpaling meninggalkannya.

Sementara itu dalam hatinya Haris malah makin penasaran. Pertama adalah soal pekerjaan Gavin, dia ingin benar-benar membuktikan kalau Gavin benar-benar bekerja di perusahaan itu. Tadinya dia tak pernah berpikiran kearah sana, sebelum semalam Anin cerita tentang apa yang dia rasakan kepada Gavin.

Yang kedua adalah soal tato yang dimiliki Gavin. Tapi cerita Rani, dia dipaksa oleh teman-temannya untuk membuat tato. Tapi ada hal yang sedikit mengganjal di pikiran Haris. Sepengetahuan Haris, Gavin berasal dari keluarga yang kaya, terlihat dari rumah yang dia tempati dan mobil yang dia punya.

Menurut pemikiran Haris, jika memang dulunya pernah nakal, seharusnya Gavinlah yang menjadi boss dan memaksa teman-temannya, bukan sebaliknya. Haris cukup paham dengan pergaulan seperti itu.

Meskipun kalau berkaca pada kasus Viona yang pernah Haris dengar, justru Viona yang dipaksa dan dimanfaatkan karena kekayaannya. Tapi Haris berpikir kalau Gavin tidak akan seperti, dia yakin Gavin tidak sepolos itu hingga dimanfaatkan oleh teman-temannya, seperti halnya Viona.

Semuanya memang masih abu-abu. Benar tidaknya Haris belum bisa memastikan. Tapi dia sekarang berpikiran kalau mungkin saja, kecurigaan dan feeling kurang enak yang dimiliki Anin kepada Gavin itu, bisa saja benar adanya. Dia sekarang tertantang untuk membuktikannya.

Meskipun belum tahu dengan cara seperti apa, tapi dia sudah berniat untuk melakukannya. Karena apapun yang dia temukan nantinya, ini juga akan berimbas kepada Rani, yang saat ini menjadi pacar Gavin.

Instingnya sebagai seorang kakak terpanggil untuk melindungi adiknya. Haris memang berharap semua kecurigaannya, dan juga feeling kurang baik dari Anin itu salah. Tapi jika ternyata benar, dia harus segera mengingatkan Rani, kalau perlu memaksa Rani untuk tidak berhubungan lagi dengan Gavin.

Bersambung​