Berubah? Part 24

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Tamat

Ada apa sebenarnya ya denganku? Kenapa aku malah menjauhi Arta? Itu juga Winda kenapa malah ikut-ikutan, kan dia tidak tahu masalahnya. Disisi lain, dia itu selalu membantuku dalam memahami materi kuliah.

Nah, sekarang aku sendiri kan yang bingung, mau belajar sama siapa coba kalau sudah begini ini? Hanya karena sikap Arta yyang berubah drastis setelah melihat foto pacarku, aku menjauhinya. Tapi, aku mengira dia tahu sesuatu tentang pacarku.

Waktu malam itu aku meneleponnya, dia sangat berbeda. Apa efek karena bangun tidur ya, dia jadi sedikit berbeda cara bicaranya? Logat daerahnya masih kental sih, tapi setiap kata-kata yang keluar dari mulutnya berbeda, sangat berbeda dengan ketika dia menjelaskan materi kuliah. Tapi, kenapa aku marah kepadanya?

Beberapa hari ini aku merasa dibohongi oleh pacarku sendiri, jengkel, sedih, campur aduk jadi satu. Ditambah lagi pikiranku terus tertuju kepada keterkejutan Arta saat melihat foto pacarku. Dikampus, aku kira Arta akan menjawab kegelisahanku, tapi jawabannya telrihat sangat tidak logis. Aku tahu Arta menyembunyikan sesuatu.

Hm, Aku kok jadi bingung sendiri dengan diriku. Apa perlu aku minta maaf sama Arta ya? Eh, Tapi kan dia, bohong sama aku. Tapi kan, aku tidak tahu kalau dia bohong, hanya perasaanku saja bilang dia bohong, dan tidak ada bukti dia bohong. Tapi kan, kenapa malah banyak tapinya?!

Huh! Pokoknya aku marah sama kamu Ar, marah karena kamu bohong. Mau ada bukti atau tidak, yang jelas perasaanku mengatakan kamu bohong. Feeling-ku bilang kamu bohong Ar, pokoknya bohong. Arta bohong sama aku, arta bohong, pokoknya bohong. Eh, aneh juga ya aku, kenapa segitunya sama Arta? Aaah, Bodoh, Arta pembohong!

Aku berbaring lagi, melepas lelah malam ini. Selimut, entah kenapa hatiku serasa rindu dengan seseorang. Seseorang yang selalu menyelimutiku, dengan selimut yang aku pakai sekarang. Seseorang yang tak tahu kesalahannya, tak tahu kenapa aku marah kepadanya. Hati kecilku serasa berontak, berontak terhadap diriku sendiri. Berontak karena, hanya karena, aku, ingin sering diselimuti oleh lelaki itu.

“Dasar kamu Des, punya cowok tapi kangennya sama yang lain. Bodoh!” bathinku,

Mataku mulai terpejam, mulai berjalan di sebuah garis. Garis yang membawaku ke dunia mimpi, mimpi yang entah indah, atau buruk.

***

“Arta sayaaaang, ngapain kemarin gak berangkat?” ucap Dina, dia berjalan cepat dan langsung duduk disampingku memandangku dengan tatapan sedikit tajam

“Ba-bangun kesiangan na’…” ucapku, menunduk

“Ouwh… iiih, Arta sayang kalau nunduk bikin gemes deh, tambah ganteng hi hi hi”

“Oia, kan gak papa berangkat siang, masih ada kuliah yang kedua sayaaaaang” lanjutnya dengan senyuman manisnya

“Ma-males din, hehe… hehe…” ucapku

“Ouwh… aku kira nongkrong di nasi kucing terus…” ucap Dina

“Eh…” aku sedikti terkejut, aku langsung menundukan wajahku

“Lupain aja deh, gak mungkin lu sih, dia ganteng abis, gagah lagi hi hi hi… eh, maaf bukannya ngejek lho ar hi hi hi” masih dengan tawa khasnya Dina

Percakapan singkat sebelum perkuliahan dimulai, Dina kembali duduk disebelah Dini. ku perhatikan sejak awal, Dini memperhatikan aku ketika Dina mengajakku mengobrol. Desy, Winda, tak sedikitpun menoleh ke arahku. Ah, masa bodohlah, aku juga tidak ingin mengungkap jatidiriku.

***

Aku melalui semester dua ini dengan lancar, aku akhiri semester dua dengan nilai sempurna seperti ketika aku semester 1. Mungkin hanya Desy dan Winda yang menjadi masalahku hingga saat ini. Mereka sama sekali sudah tidak menyapaku lagi, berbicara denganku saja tidak. Ah, masa bodoh dengan mereka.

Kontrakan? Masih sama, waktu itu mereka berjanji untuk pulang seminggu sekali tapi nyatanya sejak kepergian mereka pulang ke kontrakan saja tidak pernah. Aku lebih sering bermain ke rumah mas raga ketika libur, berlatih menembak, menjenguk ana dan ani dan sedikit bercengkrama dengan keluarga mas raga. Aku kira hidupku akan menjurus ke sebuah perkelahian, atau sejenisnya tapi ternyata tidak. Semua baik-baik saja hingga sekarang, ya semua baik-baik saja.

Aku dan bu ainun, semakin lama, aku semakin jatuh dalam pelukan kasih sayangnya. Kejadian yang membuatku ke kamar mandi, memang tidak pernah terulang kembali. Semua bisa dikendalikan olehnya, menahan deru nafas, serta deru nafsuku. Aku merasa dia seperti seseorang yang selalu mengerti aku, dan aku, ah, tak tahulah dengan perasaanku.

Perkuliahan semester 3 dimulai, semua berjalan semua berjalan lancar, kecuali Desy dan Winda, masih sama. Beberapa teman ada yang menanyakan kepadaku, kenapa Desy dan Winda sekarang seakan menjauh dariku. Mereka selalu menghujamiku dengan pertanyaan-pertanyaan tentang Desy dan Winda. Aneh, hanya seorang yang culun sepertiku membuat mereka bertanya-tanya. Acuhkanlah aku, aku ini apa, ah, tapi kadang aku kangen sekali ngobrol dengan mereka berdua.

Suatu sore ketika aku pulang dari kuliahku, suasana sudah mulai sepi. Tenang, aku melangkah ke luar kelasku. Memang pada dasarnya aku selalu keluar terakhir ketika pulang, menikmati pulangku. Masuk ke gedung fakultas, langkahku terhenti dan sangat terkejut.

Seorang wanita, rambutnya panjang, turun dari tangga. Langkahnya santai namun cepat, kaos hitam sedikit ketat dengan lengan panjang, celana hitam formal ketat. Aku benar-benar tak bisa mengalihkan padanganku, langkah kakiku mengikutinya. Hingga dia masuk ke dalam mobil, aku terdiam sejenak. Mobil itu kemudian bergerak keluar dari FMIPA. Mataku, sedikit berair…

“Memang benar-benar mirip, mirip sekali…” bathinku

“Ah, tidak” ucapku pelan

Aku duduk termenung duduk ditangga depan gedung Fakultasku. Terlihat satpam yang masih berjaga dipos satpam, hatiku entah senang atau sedih atas apa yang aku lihat baru saja. semua tampak cepat dan bingung hanya bingung. Langkah kakiku, pelan tapi pasti aku telah berada dalam bis yang mengantarku pulang.

Dipersimpangan gang masuk aku bertemu dengan pak RT yang hendak pulang. senyum sapa diantara kami masih terlihat biasa. Ah, pertanda sebuah kegelapan dihadapanku, tak mungkin aku menemui bu ainun. Sedih, aku merasa sedih, curhat dengan siapa sekarang ini seharusnya? Semua mengetahui diriku ini sebagai seorang yang culun, sebagai seorang yang terutup, seorang yang tidak ada seorang pun tahu masa laluku. Samo, Justi, lupakanlah.

Perkuliahan yang normal dihari-hari berikutnya, tapi pikiranku selalu teruju pada wanita itu. Bayangan wajahnya, tapi, dari cara dia berjalan berbeda. Mungkin sebuah kontaminasi budaya kota. Sungguh malang nasibku, hiruk pikuk dikampus, keramaian lalu lintas mahasiswa, namun aku merasa sendiri didalamnya.

Ah, kenapa aku sekarang memikirkan wanita ya? Andrew sibuk dengan helena, burhan dengan Salma yang masih saja pdkt, entah kapan akan jadian. Irfan dan Johan, laju reaksi mereka kelihatannya lebih lambat. Ah, daripada memikirkan teman sekelasku yang sudah mapan, mending mikir cewek yang selama ini menyita perhatianku.

Pulang, tanpa teman, itu sudah menjadi kebiasaanku. Kali ini aku berjalan kaki, karena besok sudah libur. Memang jauh hanya ingin mencari suasana saja, walau tidak tahu kota besar ini paling tidak aku masih bisa menghubungi kedua adikku kalau kesasar, mas raga juga ada. Berjalan dengan santai melewati halte bis yang biasa aku hampiri untuk menanti bis. Melangkah, mengingat setiap jalan yang aku lalui.

“Eh, wanita itu lagi…” bathinku,

Aku segera berlari mengejar wanita yang selama ini membuatku penasaran. Lariku memangkas jarak antara kami berdua, tapi sayang wanita itu malah masuk kedalam mobilnya. Mobil berjalan, aku kebingungan, kulihat taksi yang sedang parkir dipinggir jalan. Segera aku mengetuk pintu depan taksi, pak supir membukakan pintu. Aku masuk, segera aku memberi intruksi kepada pak supir untuk mengikuti mobil tersebut.

Sedikit aku membuka tasku, dan membuka isi dompet. Ah, untung aku membawa seluruh uang sakuku. Disebuah tempat mobil itu berhenti, aku ikut berhenti, tak lama kemudian ada sebuah mobil mendekati mobil si wanita. Seorang lelaki keluar, aku membencinya, entah, laki-laki itu kelihatan tidak baik untuk si wanita.

Lelaki tersebut menghampiri mobil si wanita, mereka bercakap dan kemudian lelaki tersebut kembali ke mobilnya. Dua mobil melaju hingga di sebuah taman, dua mobil tersebut terparkir. Aku turun dan membayar taksi, kampret, 200rb melayang, tinggal 300rb.

Hari mulai gelap, aku memasuki taman mencari wanita tersebut. Si wanita dan Si lelaki duduk di bangku taman, dari kejauhan aku dapat melihat mereka. Siapa nama mereka aku tidak tahu, Gerak-gerik mereka tampaknya hendak melakukan sesuatu. Sesuatu yang tampaknya tidak baik, dan aku tidak bisa menerima itu. Aku terus berpikir dan berpikir bagaimana cara menghentikan tindakan mereka.

“Harus bisa” bathinku,

Aku melangkah maju, berjalan membungkuk dengan buku berada di pelukanku. Berjalan ke depan mereka yang sedang memadu kasih, sedikit aku meliriknya. Aku benar-benar tidak ingin sesuatu terjadi pada wanita ini. Tidak, tidak boleh terjadi sesuatu padanya.

“Hah?! Ka… kalian mau apa?!” teriakku, sebuah kepura-puraan sambil terjatuh, aku langsung melihat serta menunjuk-nunjuk ke arah mereka. Awalnya mereka berdua mengacuhkanku, tapi aku terus menerus berteriak-teriak, lelaki itu berdiri dan wajahnya tampak marah.

“Heh! Kita mau ngapain bukan urusan kamu! Apa-apaan kamu ini! Pergi! Ganggu saja!” tiba-tiba, si laki-laki membentakku, mungkin karena aku berteriak

“Ka-kalian mau apa? Ti-tidak boleh… tidak boleh nanti ke-kena grebek” ucapku dengan posisi duduk sambil menunjuk-nunjuk

“Kampret! dasar culun!” bentak sang lelaki, berjalan ke arahku

“Sudah sayang, biarin saja. namanya juga culun, gak tahu apa-apa paling dia” ucap si wanita tersebut menahan lelakinya, dengan menggegam pergelangan tangan si lelaki

“Ti-tidak boleh, a-aku laporkan nanti” kepalaku sedikit mennggeleng. aku kemudian berdiri, dengan gaya culunku

“Bajingan! jangan ikut campur urusan orang!” bentak lelaki tersebut dan melangkah kearahku. Kali ini, tangan si wanita dihempaskannya. Akhirnya dia terpancing, bagus, aku berhasil.

Dengan langkah penuh amarah, dia berjalan ke arahku. Sebuah pukulan mengarah ke kepalaku, aku menunduk dan menghindarinya. Sembari menunduk dan menghindari, aku melangkah ke depan melewati samping tubuhnya. Tepat ketika berada disampingnya, satu kakiku, menjegal kakinya hingga dia terjatuh.

“Ja-jangan ti-tidak boleh ber berkelahi” ucapku, memandang ke lelaki yang jatuh tersungkur

“Bajingan!” dia berteriak, kemudian bangkit

Tiga kali mencoba memukulku, dan aku menghindar dengan gaya ketakutan. Tiga kali pula dia terjatuh, wanita tersebut kemudian menghentikan lelakinya.

“Hah! Sudah, aku mau pulang saja!” teriak sang lelaki, merasa kesal, tak ada satu pukulan yang masuk ke target. Terlalu dini baginya untuk menghajarku, dari postur, cara dia bergerak, bukan seorang yang bisa berkelahi

Si lelaki pergi, si wanita sedikit berteriak agar si lelaki mau menunggunya. Langkah si lelaki itu terdiam sejenak, menunggu si wanita. Si wanita membalikan badan, melihat ke arahku, aku menunduk.

“Jangan pernah ikut urusan orang lagi” lembut aku dengar, anggukan kepalaku sebagai tanda setuju atas pernyataanya

Mereka menjauh dan menghilang dari hadapanku. Kini aku berdiri tegak, melepas kaca mata normalku. Kupandangi tempat ini sekali lagi, mencari tahu nama tempat ini. lampu-lampu taman mulai menyala seiring datangnya malam. Aku duduk, dibangku yang sama dengan sepasang kekasih tadi. Taman Cinta, sebuah coretan yang berada dibangku taman. Benarkah ini sebuah taman cinta? Benarkah ini sebuah taman untuk memadu kasih?

Aku, aku tidak akan membiarkan sejengkal tubuhmu disentuh oleh lelaki. Sebelum aku, ya, sebelum aku tahu siapa kamu sebenarnya. Mataku tajam menatap ke depan, berdiri, melangkah untuk pulang. ah, dimana ini? apa aku bisa sampai di kontrakanku? Berdiri mematung dipinggir jalan, bahkan tak tahu arah pulang.

Ciiiit… brrrrm….

Sebuah mobil berhenti didepanku, mobil sedan berwarna hitam. Pintu kaca perlahan turun, dan terbuka, wajah yang sudah tidak asing lagi bagiku, Linda.

“Ar…” seorang keluar dari pintu, berdiri dengan kedua tangan memangku dagunya

“Kowe to jus (kamu to jus)” ucapku, tersenyum biasa, entah perasaanku biasa saja ketika melihat sahabatku dari desa

“Mau kemana?” tanya Linda

“Pulang” aku tersenyum

“Aku antar yo” ucap Justi, fyuh, untung ada manusia satu ini

Aku masuk ke jok belakang, duduk tepat ditengah-tengah jok. Percakapan yang sangat biasa, tak ada rasa kangen kepada Justi, apalagi Samo. Biarlah mereka hidup dengan kehidupan mereka, karena aku tahu suatu saat nanti kalian akan kembali. Aku harap kembali dalam senyum, bukan tangisan.

“Makasih jus” ucapku, setelah keluar dari mobil, didepan gang masukku

“Yo’a brada” sebuah kata-kata yang membuatku heran, kata-kata gaul, mungkin

Tak kupersilahkan dia mampir, kenapa aku harus mempersilahkan dia mampir dirumahnya sendiri, tidak etis. Ah, mungkin memang pada dasarnya aku sedikit emosi dengannya. Mobil menjauh, aku kembali ke kontrakanku. Pos ronda yang ramai, pak RT terlihat disana. Entah, hati ini terasa benci jika ada dia di kompleks ini.

Hari berikutnya, kuambil semua uang dalam almariku. Sejenak tanganku terhenti, ketika melihat sebuah kaleng berbentuk kotak, kotak yang aku simpan dalam almariku selama ini. Aku mengambilnya, membukanya perlahan, dan ku pandang sejenak.

“Entah, benar dia atau tidak aku tidak tahu” bathinku, dengan pandangan ke dalam kotak itu

Dengan dandanan seperti biasa, aku kembali ke tempat itu. Tepat dikala petang mulai hadir, aku sudah berada di Taman Cinta. Duduk termenung, berharap akan datang keajaiban kembali. Ya, aku berharap bertemu dengan perempuan itu kembali.

Ada pepatah mengatakan, petir tidak menyambar dua kali pada tempat yang sama. Tapi, kali ini, aku berharap petir menyambar untuk kedua kalinya pada tempat yang sama. Bodoh bukan? Tapi itu hanya perumpamaan dan harapanku.

“Ah, dia datang lagi. Argh! Kenapa dengan si brengsek itu lagi” bathinku, aku memang tidak suka kehadiran lelaki itu lagi. Entah kenapa aku memang benar-benar tidak menyukainya ketika lelaki itu berada didekat si perempuan.

Kuperhatikan dari kejauhan, mereka duduk dibangku yang sepi pengunjung. Apa sebenarnya yang ingin mereka lakukan? Kalau bermesraan, tidak perlu ditempat seperti ini. Aku mendekati mereka, dengan gaya culunku. Pikiranku penuh dengan emosi, sebuah niat busuk yang ingin aku lakukan kepada mereka, agar mereka berpisah. Tapi, ah, bagaimana caranya? Tak ada rencana, biar kan semua berjalan sesuai alur waktu.

“Lho, mbak, mbaknya sama mas, masnya lagi” ucapku, sebuah kepura-puraan

“Elu lagi elu lagi, kampret! Mau lu itu apa sih?” bentak lelaki tersebut kepadaku, aku mundur dan menunduk

“Sudah, lebih baik kita pergi saja sayang” ucap si wanita

“Bu-bukan begitu, kemarin setelah sama masnya, mbaknya sama mas tapi bukan mas” ucapku, ah, sial kenapa aku malah mengucapkan kata-kata yang menyudutkan si wanita ini

“Heh!”

“Bener itu yang?” ucap lelaki tersebut kepada pasangan wanitanya,

Sebuah pertengakaran antar keduanya, membuatku diam dan mengamatinya. Sebuah kesalahan yang benar-benar membuatku bersalah. Kenapa bukan pria itu yang aku jadikan kambing hitam malah si wanita? Ah, sialan, posisi yang salah.

Mereka bertengkar, si pria menuduh si wanita berselingkuh, terjadi pertengkaran, tapi si wanita kemudian diam saja. kulihat pandangan mata yang tidak ingin kehilangan pria tersebut. Pria itu meninggalkan wanita yang kini diam dihadapanku, menatap kepergian pria itu. antara bahagia dan sedih…

PLAK…

Sebuah tamparan dari wanita itu, setelah ditinggalkan dan menuju kearahku. Keras memerahkan pipiku. Aku terdiam dan menunduk.

“Mau lu apa sih? Dasar sialan! Gara-gara lu hubunganku dengannya jadi berantakan, Dasar bajingan!” bentak si wanita yang tak tahu namanya, dua hingga tiga tamparan mendarat di pipiku. Aku hanya diam, didorongnya aku hingga terjatuh miring.

“Gue doain, mati lu cepet!” bentaknya, dan melangkah pergi setelah sebuah tendangan mendarat di punggungku

Aku memandangnya melangkah pergi meninggalkan aku, aku duduk, menyulut dunhillku. Senyuman antara senang dan sedih. Senang karena mereka bertengkar, sedih karena aku menempatkan posisi wanita itu di tempat yang salah. Berjalan, melewati taman, berteman dengan malam. Mencari taksi untuk pulang.

Di kontrakan…

“Aku harus tahu siapa kamu, sesulit apapun itu” bathinku, setelah sampai di kontrakan dan rebah di tempat tidurku

***

“Plis, jef, dengerin aku dulu” ucapku sembari menarik tangan jefri kekasihku

“Kamu dah selingkuh, lihat si culun itu yang ngomong, gak mungkin dia bohong!” bentak jefri kepadaku

“Mulai sekarang, kita putus!” bentaknya, meninggalkan aku, aku terus mengejarnya namun dia tetap pergi

Tiga hari setelah kejadian di taman cinta, dimana aku dan kekasihku bertengkar. Itu semua gara-gara ada seorang yang merusak hubunganku. Entah siapa dia, aku juga tidak pernah tahu. Aku mencoba menghubungi kekasihku, namun tidak pernah dia mau bertemu.

Akhirnya, dihari ketiga, setelah aku berusaha membujuknya untuk bertemu, jefri mau bertemu denganku. Aku dan Jefri bertemu di cafe, cafe dimana dulu aku dan jefri menjadi sepasang kekasih. Aku memang suka kepadanya, dia pintar, enerjik, tapi ada satu sisi dia mudah sekali emosi. Dan sekarang, di cafe yang sama, aku harus menelan pil pahit. Harapanku, Jefri mau memaafkan aku, tapi yang aku dapat Jefri memutuskanku.

Sekarang, aku sendirian di cafe ini setelah Jefri tak mau mendengarkan penjelasanku, ini gara-gara si brengsek culun itu. Aku harus tahu darimana asalnya. Gara-gara si brengsek, pertemuan yang aku harapkan ini, bukannya Jefri memaafkan aku tapi malah diputus. Aku pulang dengan tangis yang tak kunjung reda, di rumah yang dibelikan ayahku.

“CULUN BRENGSEEEEEEK! BAJINGAAAAAAN!” teriakku, setelah aku lempar tasku di sofa malasku, dan rebah di atasnya

“Tidak, aku harus tahu dimana culun itu. aku cewek cantik dan menawan, akan aku goda dia dan aku jerumuskan dia ke dalam penjara” ucapku, duduk dengan emosi yang tak tertahankan

“Culun, lu belum tahu berhadapan dengan siapa” bathinku, dengan senyum kejahatanku

***

Berhari-hari aku mencari si brengsek itu, tak aku temukan. Di taman, juga tidak ada, dimana dia sebenarnya. Darimana asalnya? Apakah dia makhluk astral yang berkeliaran dan menampakan diri hanya sewaktu-waktu saja? atau dia adalah jelmaan jin? Tapi dibandingkan dengan jin, gantengan jin mungkin.

You’ll be in my heart. Ringtone.

“Halo”

“Kamu dimana? Cepat ke kampus, bantu mama”

“Iya ma, sebentar”

Kalau bukan ayah yang menyuruhku memanggilnya mama, aku tidak akan memanggilnya mama. Sudah sore, malah disuruh ke kampus, mau apa? Pasti suruh bantu rekap nilai, iya sih aku itu belum kerja. Bukan berarti aku harus bantu-bantu dia kan? Huh! Mentang-mentang dosen paling berprestasi, sukanya suruh-suruh mulu.

“Ada apa ma?” tanyaku setelah sampai di ruangannya

“Bisa bantu mama buatkan analisa nilai? Mama pusing kalau buat analisa nilai” ucapnya

“Iya ma, mana?” tanyaku, sebuah lembar nilai dengan tulisan tangan rapi khas mamaku. Aku duduk berhadapadan dengan laptopnya, sedangkan mamaku duduk disebelahku.

Aku lulusan statistik, sebenarnya aku sudah disuruh bekerja di perusahaan ayahku. Namun aku menolaknya, masih ingin having fun dengan kehidupanku sekarang. Uang mengalir terus, ayahku pemilik salah satu perusahaan besar di ibu kota.

“Ini ma” ucapku, memperlihatkan hasil kerjaku di laptopnya

“Wah cepet sekali, mama kira bakal lama” ucapnya, senyumnya memang manis, tapi, sudahlah.

“Gampang kok ma, kan sudah aku buatkan formulanya di pengolah kata punya mama” ucapku,

“Iya iya, tapi mama males banget buat analisa nilai. Besok ada audit lagi” ucapnya

“Ya sudah ma, aku pulang dulu ya” ucapku, mamaku mengiyakannya.

Aku turun dari lantai dua ruang dosen, dari atas aku lihat sosok yang sudah tidak asing lagi. Cara dia berjalan, berjalan membungkuk. Dari belakang saja, aku sudah tahu kalau itu si culun. Ternyata dia kuliah disini, aku bisa memanfaatkan posisi mamaku disni. Eh, tapi dia jurusan apa ya? cepat aku turun…

“Hai… cowok…” ucapku lembut, harus aku lembuti dulu baru aku jebak

“Eh, m… mbak…” dia terkejut setelah aku menepuk bahunya, dan menoleh ke arahku. Gerakan lambat ala culun, mundur.

“Kuliah disini ya? jurusan apa?” tanyaku dengan wajah ceria,

“I-iya mbak, jurusan kimia” ucapnya, pas banget dengan posisiku mamaku

“Ouwh… nama kamu siapa? Kangen lho aku ma kamu, maaf ya kemarin udah nampar kamu” ucapku, mendekatinya dan berdiri disampingnya. Sebuah perasaan aneh muncul dari dalam diriku, aku tidak mempedulikannya, aku harus merayunya.

“Ar-Arta mbak. Ndak papa mbak, a-aku yang salah mbak. Aku minta maaf mbak…” gugup, hi hi, kena kamu

“Ouwh, iya udah aku maafin kok, eh, boleh dong aku minta kontak kamu, biar kita bisa sharing gitu. Kemarin itu ternyata malah cowokku yang selingkuh, ya aku seneng saja kamu udah buat aku dan dia pisah. Terus, aku nyesel udah tampar kamu kemarin, maaf ya…” ucapku, aku tersenyum kepadanya, dia tetap menunduk

“I-iya mbak” jawabnya

“Mm… iya, tapi kok gak kasih nomor kontak?” ucapku, membujuknya

“I-iya mbak” ucapnya, sembari mengeluarkan hapenya, yaelah, jadul banget kaya orangnya

“Ya sudah, met pulang ya, aku pulang dulu, kapan-kapan aku ajak jalan-jalan mau?” tawarku

“Eh, itu anu mbak…” dia mencoba menolak, eits, no no no

“Ayo dong, kita jalan-jalan kapan-kapan ya? pliss, sebagai ucapan terima kasihku ke kamu ya? mau ya?” bujukku sembari memegang lengannya dan menggoyang

Yupz, akhirnya dia mau juga. Aku dan si culun brengsek Arta ini kemudian berpisah. Sebuah langkah awal yang benar-benar membuatku tertawa terbahak-bahak. Di dalam mobil, aku sangat senang sekali. Sebentar lagi, aku jebloskan kamu ke dalam penjara sayangku. Untungnya dia tidak tahu namaku, hi hi hi.

“Aku harus atur siasat. malam minggu besok, akan aku ajak dia kepantai. Tempat itu sepi, tidak mungkin ada orang. akan aku jebak dia disana, ya, aku akan menjebaknya. Setelah itu, mendekamlah di balik jeruji penjara ha ha ha” tawa bathinku,

Malam minggu.

To : Brengsek culun Arta
Hai cowok, ntar ketemuan di pantai yuk
(dari cewek di kampus, yang mau berterima kasih kepadamu)

From : Brengsek culun Arta
iya mbak. Pantai mana mbak?

To : Brengsek culun Arta
Pantai Harum, jam 7 ya, aku tunggu

From : Brengsek culun Arta
iya mbak.

“Yes, mampus lu brengsek!” bathinku, aku tertawa girang

***

Hari sabtu, hari keenam, sore hari kontrakan sudah sangat ramai. Ternyata Samo dan Justi beserta pasangan mereka, mampir ke kontrakan, sekedar mampir dan membawakan aku camilan. Rindu? Kangen? Tidak sama sekali, biasa saja. tepat pukul lima di hapeku. Sebuah sms masuk, aku membalasanya. Ya, dari si wanita itu.

“Eh, kalian ada yang tahu pantai Harum?” ucapku disela-sela canda kami

“Wuiiiiiih… mau ngapain kamu ar?” ucap Samo

“Ya mau kesana, cari pasir” ucapku

“He? Cari pasir?” ucap Justi

“Ndak usah ngomong!” bentak kami berdua

“Iiih, kalian segitunya sama yayangku” ucap linda membelanya

Akhirnya, aku diberi tahu oleh mereka berempat. Segera aku bersiap dengan dandanan culunku, dengan cepat aku berdandan. Kubuka almari kamarku, memilih baju sembarang asal pantas dipakai. Setelah rapi, ketika hendak menutup almari, kotak itu menyita perhatianku.

Kuambil kotak, hatiku menangis jika mengingat ketika kotak ini diserahkan kepadaku. Perlahan aku berjongkok, kubuka kotak kaleng berbentuk segi empat dengan empat sudutnya yang tumpul. Sebuah kotak kecil dari anyaman bambu, dengan dua buah huruf, A.A.

“Jika memang benar, aku akan memberikan kotak ini kepadanya. Doakan aku” bathinku, mengambil kotak itu dan kumasukan ke saku baju yang aku pakai. Ku letakan kembali kotak kaleng ke almari.

Aku keluar dari kamar. tiba-tiba sebuah lemparan kue mendarat ditelinga kananku.

“Kampret, jadi kotor kan?” ucapku kepada Samo yang melempar kue ke telingaku

“Ha ha ha… lha kamu aneh owk ar, kita kesini mau main sama kamu, malah kamunya pergi” ucap Samo

“Lha gimana lagi, ini disuruh kesana, aku ya ndak bisa nolak” ucapku

“Iya iya…” ucap mereka berempat,

Aku pergi, menuju pantai harum dengan taksi. Pukul 7 kurang seperempat aku sampai disana. Tempat parkir luas, dengan sebuah jalan masuk di jaga oleh dua orang penjaga. Ada tiket masuk juga disini. aku masuk dengan jalan kaki, kini aku berada ditempat tujuan.

Sebuah pantai yang indah, tapi bukan pantai berpasir. Pagar pembatas berdiri tegak dari sepanjang pantai, jalanan paving, dengan bangku yang berjarak setiap beberapa meter. Sepi pengunjung, padahal malam minggu. Jangan-jangan alasan karena angker lagi, kaya ditebing waktu itu?

Aku berdiri mematung di memandang keindahan pantai. Sadar cara berdiriku, aku kembali membungkukan badanku. Menoleh ke kanan dan kekiriku. Selang beberapa saat, akhirnya yang ditunggu datang.

***

Hufth, kenapa juga harus macet. Jadi terlambat sama tikus brengsek itu. ah, dia ternyata datang juga, untungnya. Dasar ****** banget sih dia, ada tempat duduk kok gak dipakai. Hm, aku harus persiapkan diriku, pertama aku akan buat dia melayang terlebih dahulu. Kedua, aku hujamkan dia dan hi hi hi mampus kamu culun. Aku segera keluar dari mobilku dengan tas kecilku, berjalan menuju kearahnya yang berdiri. Dengan kemben dan celana ketatku, pasti akan lebih memudahkan aku menggodanya.

“Hai cowok, kok malah berdiri disini, duduk yuk” ucapku, mendekatinya, tepat ketika dia menoleh dan aku berada disampingny, perasaan aneh itu muncul kembali. Aku acuhkan perasaan itu

“Eh, mbak. Iya, maaf..” ucapnya, ini maaf terakhirnya setelah ini, setelah malam ini mampus kamu dipenjara

Aku dan dia duduk disebuah bangku, berjarak 5 meter dari pagar pembatas. Perasaan aneh itu terus menguat, sebenarnya perasaan apa ini. ah, masa bodoh, sekarang aku buai dia dulu saja.

“Datang jam berapa?” tanyaku, sok lembut kepadanya

“Ja- jam 7 kurang seperempat ta.. tadi mbak” ucapnya, kupandangi dia sejenak, kenapa aku malah merasakan sesuatu yang tidak aku mengerti, dan sesuatu itu semakin kuat

“Ouh, maaf ya, tadi jalanan macet” ucapku, pasang muka senyum

“I-iya, ndak papa mbak” jawabnya, dia masih menunduk.

Aku buat dia jatuh dalam jebakanku dulu. aku melihatnya dari sampingnya, aku mencari-cari sebuah cara agar dia mendekat ke arahku. Hm, telinganya kotor, pas banget.

“Telinga kamu kotor itu, aku bersihkan ya” ucapku, dudukku semakin mendekatinya. Tapi, perasaan aneh itu kembali muncul, dan aku selalu mengacuhkannya

“Nd-ndak usah mbak. I-ini tadi dilempar kue sama temanku” ucapnya, aku tetap mendekatinya

“Sudah, gak papa kok, kan aku mau berterima kasih sama kamu” ucapku,

Si Brengsek ini diam, menunduk, aku pegang lembut telingannya. Aku usap, kuambil tisu, kupuntir-puntir. Ku usap telingannya, menghilangan kotoran kue ditelingannya. Kutiup-tiup pelan agar kotoran yang baru saja aku usap hilang dan terjatuh dari telinganya. Diluar dugaanku, dia semakin menunduk. Matanya terpejam rapat, keluar suara terisak. Air matanya sedikit mengalir, aku malah bingung sendiri, ada apa dengan si brengsek ini

“Ka, kamu kenapa ar?” ucapku, sejenak hatiku luluh, tapi kembali lagi mengeras karena aku teringat akan rencanaku

“mb-mbak, aku pulang dulu…” ucapnya dalam isak tangisnya, dia berdiri hendak pergi,

Sedikit terkejut, entah apa yang dia rasakan, tiba-tiba saja dia ingin pulang.

“Tu-tunggu dulu, kamu mau kemana?” ucapku, berdiri dan memegang pergelangan tangannya saat dia hendak pergi

Si brengsek ini berhenti sejenak, dia berbalik menghadap ke arahku. Tubuhnya berdiri tegak, hilang semua keculunannya.

“Katakan padaku, ada apa?” ucapku, mencoba menelusuri. Ah, ada apa ini? kenapa ada perasaan aneh yang tiba-tiba saja muncul dan semakin hangat. Matanya tak memandangku, namun aku bisa melihat air matanya mengalir.

“Bilang dong Arta, ada ap…” ucapku terhenti, ketika tubuhnya memelukku

Perasaan aneh dan hangat, menjadi semakin kuat, semakin menghangatkan dinginnya angin laut ini. sejenak aku terbuai, kemudian aku tersadar. Aku lepaskan pelukannya, dan kudorong dia hingga terjatuh. Masih terdengar isak tangis yang semakin bertambah keras darinya.

Buggh…

srek…

Dia terjatuh, bersamaan dengan tubuhnya yang terjatuh, ada sesuatu yang ikut terjatuh.

“Elu itu memang brengsek ya! aku ini bukan cewek murahan, dasar bajingan kamu! bakal gue laporin lu kepolisi karena pelcehan se….” ucapanku terhenti, karena mataku sekilas melihat sebuah kotak yang terjatuh, kotak yang berada disamping Arta

“Eh, kotak itu…” bathinku’

Bersambung