Berubah? Part 23

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Tamat

Pagi menjelang, aku mempersiapkan makan pagi, sekedar mi instant untu kedua adikku. Canda dan tawa, kini aku bisa untuk tidak meraasakan kesepianku. Ya, aku mempunyai adik yang harus aku jaga, apapun yang terjadi.

Merekalah sekarang cahaya yang harus aku jaga untuk tetap bersinar dan tak boleh redup sedikitpun. Cahaya mereka, cahaya kehidupanku mulai sekarang, aku tidak ingin kehilangan lagi, tidak, tidak akan pernah sedikitpun.

Mereka bercerita tentang sekolah mereka yang dipindah ke ibu kota. Jadi kini mereka bisa lebih dekat denganku, disini juga mas raga mengurus mereka dengan baik. Mereka bercerita tentang sekolah barunya, bercerita tentang bagaimana mereka diterima di sekolahan barunya. Ah, benar-benar sesuatu yang berbeda, aku anak bontot harusnya manja tapi gara-gara ada mereka ndak jadi manja he he he.

Dah sore, pulang ya? ucapku kepada mereka berdua yang sedang bermalas-malasan di ruang tamu kecilku ini

Huum, bentar lagi ucap ana

Ini mas raga dah sms kak Arta, kalian disuruh pulang ucapku

Aaaaa… kan masih kangen ma kak Arta ucap ani, langsung melompat dan memelukku

Ha ha… besok-besok kakak main ke tempat kalian ucapku

Heem, jengukin adiknya lho ucap ana

Mereka akhirnya pulang, aku antar mereka sampai depan kontrakanku saja. Dengan mobil sedan hitam yang terparkir didepan kontrakanku sejak semalam, mereka pulang.

Kakak, ani sayang kakaaaaaaaaaaak… teriak ani ketika mobil mulai berjalan

Iya ani iya, ndak usah teriak-teriak dong, kan kakak disamping pintu mobil ucapku

Hi hi hi… tawa ani

Main ya kak? ucap ana, aku mengangguk, kini aku lihat mobil mereka mulai berjalan dan menghilang

Kini mereka sudah tak bersamaku lagi, adik-adikku. kini aku sendiri lagi, tidak, aku tidak sendiri. aku masih punya dua adik yang harus aku jaga. Apapun yang terjadi aku harus menjaga mereka, apapun yang terjadi. Im their big brother, and i will always protect them, i promise…

***

Aku cantik, manis dan termuah. Malam ini adalah malam minggu, dan aku berdandan untuk kencan bersama Alam. Aku lirik Dini, wajahnya selalu saja seperti itu. Musam, membuatku tertawa sendiri kalau dia musam seperti itu. Daripada ngurusi si Dini, ntar dandanku terbengkalai dong. Itu si Dini bukannya bantu malah asyik ngelihat temannya rempong, sambil tiduran di tempat tidur lagi.

Din, lu ikut gak? ajakku kepada Dini

Dah deh na, lu dikos aja ma gue napa? Ato jalan-jalan kek kemana, asal jangan ma si alam bujuk Dini, sedikit terlihat emosi di wajahnya

Iiih, Dini cemburu ya? kan sudah ada alex? dengan gaya menggoda didepan tempat tidur, tepat didepan Dini

Gak bakalan gue cemburu ama elu, ngapain juga cemburu sama si brengsek alam suaranya sedikit keras

Eh, lu kenapa sih din? Santai aja kale, gak usah marah tenangku, jengkel juga sama Dini, tapi susah marah sama si galak ini.

Marah? Jelas gue marah! Ngelihat sahabat gue dikerjain habis-habisan sama si alam bentakku dan berdiri mendekatinya

Dini! sudah! Kalau lu memang cemburu bilang saja, gak usah ngejelek-jelekin alam bentakku yang akhirnya keluar dari mulutku,

Emang kenyataanya seperti itu, dia brengsek! Dini kembali membentakku

Apa buktinya kalau dia brengsek! Elu aja yang cemburu! aku kembali membentak Dini, kin kami berhadapa-hadapan. Tanpa sadar, Dini menarik kemben yang aku pakai

Aaa, Dini apa-apan sih kamu? teriakku

Ini kemarin bau alkohol, lu mabuk, dia juga, tapi kenapa ada bau alkohol di payudara lu? ada bekas gigitan juga? Dan gue yakin lu sadar pada saat lu mandi! bentaknya

Eh, iih… Dini parno deh, buka-buka punyaku padahal kan udah punya sendiri, lebih gede lagi candku, memang seperti inilah, marah tapi bisa langsung bercanda lagi

DINA! bentaknya kembali

Eh… jangan marah din, ya gue gak tahu-lah, secara gue kan mabuk balasku santai sambil membenarkan pakaianku lagi

Erghhh.. pokoknya lu gak boleh pergi! bentak Dini, tiba-tiba dia memelukku

Sssstttt… tenang sayang, gue gak bakalan kenapa-kenapa kok? Lu emang sahabat gue yang paling ngerti gue, jadi keep calm aja ya tenangku, sambil memeluknya

Tapi kalau nanti lu kenapa-napa? terlihat kekhawatiran di wajah Dini

Iye iye… gue juga udah tahu kale bekas gigitan di payudara gue, tapi liat, gue masih V kan? ucapku melepas pelukannku dan menunjukan dua jari berbentuk V

Iiih… lu gak tahu apa? Lu mabuk aja gak tahu kalau lu dimainin, kalau lu nanti diperkosapun lu juga kagak bakalan tahu naaaa plis deh na… bujuk rayu Dini keluar, aku sangat bahagia memiliki sahaba yang baik seperti Dini

Tenang sayang tenang hi hi hi… candaku ke Dini

Daaah Dini sayang, Dina berangkat dulu ya… muach… aku mengecup pipinya, cantik sekali sahabatku ini

Dini, kamu memang sahabat terabaikku. Tapi tenang saja sayang, aku gak bakalan terjerumus untuk kedua kalinya. Kali ini aku hanya ingin memastikan saja, benar tidak dia yang melakukannya. aku belum bisa membedakan mana yang baik dan yang buruk din, yang aku tahu kehidupan malam bisa menenangkan diriku.

Kupacu mobilku menuju sebuah club malam di tengah kota. Disana alam sudah menunggu, di sebuah club malam yang selalu menjadi pelarianku karena masalah-masalah yang aku hadapi. Menurut Dini, itu bukan masalah besar, iya memang masalah yang aku hadapi bukan masalah yang besar. Hanya akunya saja yang gampang betean.

Di area parkir, aku disambut oleh Alam. Ganteng juga malam ini si Alam, terlilhat jelas dia sangat terlihat, hmmm, macho. Alam mendekatiku dan dengan gaya manisku aku mendekatinya. Dia menyambutku bak ratu, menemaniku masuk ke dalam klab malam ini.

Kami berdua masuk, tak ada teman yang aku kenal, hanya aku dan alam. Alam mengajakku menuju ke tempat dimana teman-temannya sudah menunggu, sebuah kursi bundar nan empuk dan juga minuman yang sudah sangat aku hafal baunya. Tiga orang lelaki dan tiga orang perempuan sudah menunggu disana.

Alaaaaam…

Wuih cantiknyaa… ucap seorang temannya

Makasiiiih, emang dari sononya cantik ucapku kegatelan

Aku duduk bersama dengan mereka, gelas piala, dengan cerry diatasnya. Alam mengambilkannya untukku, aku tersenyum dan menerimanya. Kami bercanda, tapi aku tak meminum sedikitpun minuman yang diberikan alam kepadaku. Aku masih ingat apa yang dikatakan oleh Dini.

Gimana kalau kita dance dulu? ucap seorang teman,

Silahkan, aku disini dulu deh, nikmati minuman ucapku seraya mengambil minuman yang telah disediakan

Oke deh kalau gitu, aku sama temen-temen dulu ya? ucap alam,

Sepeninggalan alam, ku perhatiakan mereka. Tepat ketika mereka mulai tidak memperhatikan aku, aku menuang ke belakang kursi, tak tahulah mengalir kemana yang jelas masih ada ruang sedikit untuk membuang. Kupegang gelas piala tersebut, aku rebahkan punggungku di sandaran, berpura-pura tidak sadarkan diri. Selang beberapa saat…

Alam! teriak seorang teman alam, dapat aku dengar jelas walau dentuman musik sangat keras

Ada apa? ucap alam, aku masih dalam posisi sama

Tuh lihat, dah teler tuh… hajar bro ucap temannya

Ha ha ha… emang dasar cewek ******, gampang banget dikibulin ha ha tawa kerasnya, sial dia mengatai aku ******

Sedikit membuka mata, alam mendekatiku, dia duduk disamping kananku. Dibelai lembut rambutku, jarinya turun, pelipis, pipi dan leher. Tangannya kemudian meremas lembut payudaraku. Jari-jarinya kemudian bermain-main di gundukan payudaraku, dengan lembut dia mencoba menarik kemben yang aku gunakan.

Ups… ucapku sembari memegang pergelangan tangan alam, alam tampak terkejut

Maaf ya sayang, ternyata benar apa yang dikatakan Dini ucapku, kuremas tangannya, kukembalikan tangannya di pahanya

Eh n-na.. ucapnya gugup

Sssst… dah ya, besok-besok jangan main ke kos lagi ku kecup keningnya sembari berdiri

Daaaah sayang, ini pertemuan terakhir kita ucapku tersenyum dan meninggalkan tempat itu

Na, sori,gue Cuma…. ucapnya memegang pergelangan tanganku

Sudaaaaah… gak papa, aku kan cewek ******, dah kamu sama cewek pinter saja ya sayang ucapkku lembut, sembari melepaskan genggamannya

Na itu anu… ucapnya, setelah lepas adri genggamannya, aku langsung berjalan meninggalkan alam

Langkahku cepat dan tak kuhiraukan panggilannya. Dentuman musik, seorang DJ mengalunkan musik yang sangat keras ditelinga. Seperti sebuah hipnotis kepada pengunjung yang tak tahu apa yang sebenarnya dia lakukan. Aku meninggalkan tempat ini, tapi bisakah aku meninggalkan tempat ini selamanya?

DINA?! teriak alam, tapi aku tidak menghiraukannya, aku masuk kedalam mobil dan dia memukul pintu mobilku, aku membukannya.

Ada apa alam sayang? ucapku tersenyum

Sori na, sori, gue cuma… ucapnya terhenti, ketika aku menyilangkan jariku di bibirku,

Dah ya sayang, cari cewek pinter ya sayang, daaaaaaah… ucapku menjalankan mobilku

Aku pulang, dengan alam masih terus berlari di samping pintu kemudiku. Masa bodoh dengannya, aku sudah tidak peduli lagi dengannya. Hingga mobil sedanku keluar area parkir dan kulihat alam, dari spion, telrihat memegang kepalanya.

Aku sih cuek saja dengan dia, masa bodoh pokoknya titik. Dini memang bener-bener sahabat terbaikku. Mobil berjalan dengan lambat menuju kosku, aku memilih jalan yang tidak biasanya aku lalui. Sekedar untuk melepas penat dan beban dipikiranku saat ini. Semuanya, ya semuanya, Dini selalu benar, itu bukan tempat pelarian untuk melepas stress.

Mobilku berjalan lambat, disebuah jalan yang dibatasi oleh median jalan. Jalanan sudah mulai sepi, hanya beberapa yang menjadi temanku. Dari median jalan, seorang lelaki berdiri hendak menyebrang, mungkin menunggu mobilku melewatinya.

Semakin dekat, kusorotkan lampu dengan maksud agar lelaki tersebut tidak menyebrang terlebih dahulu. Tapi ketika sorot lampu mengenainya, dia hanya menutup sinar lampu dengan tangan kirinya. Wajahnya tak asing bagiku, kubukan kaca pintu mobil… dan tepat ketika aku melewati lelaki tersebut, aku memandangnya…

Eh, Arta? bathinku

Mata kami sekejap berpandangan, aku sedikit terkejut. Walau tidak jelas, tapi aku masih bisa membedakannya. Postur tubuhnya sama dengan Arta tapi dia lebih tegak ketimbang Arta. Tatanan rambutnya juga beda, Arta menyisir rambutnya dengan belah pinggir, sedangkan lelaki ini menyisir rambutnya kebelakang. Matanya memandangku, seperti melihat sesuatu yang mengejutkannya. Ketika sudah terlewat, aku langsung mengerem mobilku. Kubuka pintu mobil, dan turun…

Eh, dimana lelaki tadi? kenapa bisa cepat sekali dia menghilang bathinku

Aku masih berdiri disamping pintu mobilku, memandang kesekitar. Aku melangkah menuju tempat lelaki itu berdiri tadi, tapi tak kutemukan sosok lelaki tersebut. aku yakin sekali tadi ada lelaki mirip Arta disini, tidak mungkin salah, tapi dia menghilang dengan begitu cepat. hiii, jangan-jangan dia hantu, tidak mungkinlah, waktu lampu aku sorot, ada bayangan tubuhnya di pohon-pohon yang tumbuh di median jalan.

Hei! Cowok yang tadi mau nyebrang dimana kamu?! teriakku, tapi tak ada jawaban,

Disini mbaaaaak? teriak seorang lelaki di warung tenda pinggiran,

Aku melengos saja dan meninggalkan tempat itu. Masuk lagi ke mobil, kurebahkan keningku di setir mobil. Sejenak aku menenangkan pikiranku, dan kembali menjalankan mobilku. Kulihat spion tengah dalam mobil, tak ada tanda-tanda orang berjalan dibelakang mobilku.

Benar-benar sesuatu yang aneh, dan baru kali ini aku mengalaminya. Jelas, sangat jelas tadi ada orang yang mirip arta di median jalan dan hendak menyebrang. Kalaupun aku sedikit terlambar keluar, seharusnya dia masih ada ditempat itu. Sekalipun tidak, dia pasti juga masih berjalan untuk menyebrang. Ah, aneh, aku melanjutkan perjalananku hingga kosku.

Kleeeek…

Diiiiiniiiiiii.. teriakku seketika masuk kedalam kamar, dia langsung melompat dari tempat tidur dan melihatku heran.

Lu sadar na? ucap Dini

Ya iyalah, gue udah tahu kali bakal dikerjain sama alam. Sebenernya sanksi juga waktu itu pas gue lagi mandi, tapi setelah lu tadi marah-marah, gue buat rencana gitu ucapku, merebahkan tubuhku. Dini duduk dengan menekuk kakinya, dia memandangku sambil mendengarkan ceritaku.

Baguslah kalau begitu, aku juga sudah gak mau lagi diapelin sama alex ucapnya

Hi hi hi… makasih Dini sayang, kamyuuuu emang sahabat terbaikkyu…. ucapku menggodanya, sambil bangkit dan memeluknya

Iiih, gue normal, masih suka laki ucapnya, biasa dia memang sedikit judes

Hi hi, gue juga kali… ucapku,

Din… ucapku pelan, saat kembali rebah di tempat tidur

Apa? balasnya

Buatin minum dong, plis capek nih, ntar aku ceritain sesuatu deh ucapku merayunya

Buat sendiri napa balasnya

Ayolah, cepetan sayang… ntar aku ceritain bagus, kalau gak mau buatin, aku perkosa kamu sayang… muach ucapku, mencoba mencium bibirnya, dia menghindar

Eh? Apa? Ceritain cepetaaaaan… ucap Dini, mnggoyang tubuhku

Bikinin minum… ucapku manja

Huh, iya, bentar… ucap Dini,

Selang beberapa saat setelah aku dibuatkan teh hangat olehnya. Kami berdua duduk di karpet lembut didepan tempat tidur, sambil meminumnya Dini terus saja memaksaku menceritakan cerita, yang sebenarnya aku sendiri tidak begitu yakin.

Aku melihatnya lagi, cuma mirip saja tapi kelihatanya sama dengan yang dulu ucapku, Dini yang semula tidak mengerti arah pembicaraanku, mengrenyitkan dahinya, setelah itu matanay terbuka lebar.

Aku menceritakan kepadanya kejadian yang baru saja aku alami. Seorang lelaki yang mirip dengan Arta, tapi lebih mirip dengan seseorang yang dulu. Dini tampak antusias, mendengarkan dan mencoba menganalisa ceritaku.

Ya, tapi sayangnya, itu orang pas gue turun dah gak ada lagi ucapku

Eh, setan? ucap Dini

Kagak mungkinlah, waktu lampu mobil gue sorot ke arahnya, ada bayangannya kok ucapku

Kemarin dia juga gak masuk kuliah, apa itu benar dia? ucap Dini

Gak tahu juga, tapi mirip banget, Cuma bedanya yang ini ganteng, gak culun. Gue aja mau jadi pacarnya, istri ketiganya gue juga mau hi hi hi ucapku sekenanya

Ih elu na… ucap Dini

Kami saling berpandangan, sejenak, mata Dini beralih ke atap kamar kos ini. seakan-akan mencoba mengingat kembali apa yang telah terjadi beberapa tahun yang lalu. Masih kunikmati teh hangat buatan Dini, sembari pikiranku melayang ke wajah lelaki yang baru saja aku lihat.

Na… ucap Dini pelan

Hmm… jawabku

Apa benar dia orangnya? ucap Dini, aku hanya menaikan bahuku

Feeling kamu? ucap Dini, aku menggelengkan kepalaku

Bukan, sama seperti dulu… jawabnya

Sudahlah, ntar juga ketemu sendiri, kita dah bahas ini dan sangat sering ucapku, dia mengangguk

Yuk tidur ajalah… ajaknya

***

Hash hash hash hash… aku terengah-engah, duduk selonjor di gang masuk komplekku

Ah, kenapa tadi bisa ada Dina? Apa dia mengenaliku ya? untungnya tadi pas dia berhenti aku bisa bersembunyi di belakang mobilnya dan dia tidak menyadari keberadaanku. Sempat aku jantungan ketika dia berjalan kebelakang tadi. untung juga, aku masih bisa melihat langkah kakinya dari bawah mobilnya, jadi bisa berpindah ke samping mobil. Aku hanya berharap dia tidak menyadarinya.

Hash… hash… hash… nafasku masih terus terengah-engah, pandanganku kebawah, sedikit menunduk

Srek… srek… srek…

Kayak orang habis dikejar setan saja? ucap seorang perempuan yang aku kenali, bu ainun

Hah! tubuhku sedikit melompat ketika tiba-tiba saja bu ainun menyapa

Ibu itu buat aku kaget saja, hah hah hah… hampir copot jantungku ucapku sembari mengelus dadaku

Kamunya sendiri, duduk kok dijalan ucap bu ainun

Tadi… hash hash tadi itu… hash hash… ucapku terengah-engah

Aku tunggu dirumah ya, dadah Arta… ucap bu ainun yang datang dan kemudian pergi sesuka hati

Tapi dari belakang aku melihat ke arah bu ainun, mengacungkan jari telunjuuk kanannya, kemudian menggoyang-goyangnya setelah itu mengepal. Itu pertanda aku harus kerumahnya, kalau tidak, mungkin bogem mentah yang aku dapat. Kulihat jam menunjukan pukul 10 malam, tapi bisa-bisanya bu ainun keluar malam.

Malam ini, kelihatannya sepi, aku melangkah perlahan menuju rumah bu ainun, eh pak RT. Tapi sial, bapak-bapak sedang pada ngumpul di pos ronda. Besok hari libur, eh tapi kenapa tadi bu ainun keluar ya? untuk menghindari kecurigaan, aku berkumpul dengan mereka.

Kami bercakapa-cakap, tapi ada sebuah percakapan menjurus ke pak RT yang sedang tidak ditempat. Aku acuh saja, nonton televisi di pos, secara aku paling muda diantara mereka. Dari pembicaraan mereka, pembicaraan yang penuh kode karena kehadiranku, aku bisa menelaahnya. Semua sudah aku ketahui, jadi mudah bagiku menerjemahka ucapan-ucapan mereka.

Satu persatu mereka pulang, pukul 12 malam, aku masih bersama pak sekretaris RT. Kulihat matanya mulai mengantuk, dan akhirnya dia pulang juga tepat pukul 1 malam. Kumatikan televisi dan lampu ronda, mengamati keadaan sekitar dimana mulai sepi. Mulai aku melangkah ke rumah pak RT, tak ada sms peringatan atau apapun dari bu ainun. Masa bodoh, aku terus berjalan ke rumahnya.

Kriiit… bunyi gerbang kecil, aku melangkah masuk. Lampu teras sudah padam sedari awal kedatanganku, ku ambil sandal. Menghela nafas panjang dan mngayun pelan daun pintu. Klek, kriit…

Lama banget sih? ucap bu ainun, terlihat remang wajahnya terkena sinar cahaya lampu dari ruang tengah

Eh, maaf bu lha tadi banyak orang ucapku, masuk dan menutup pintu

Minumnya jadi dingin ucapnya, walau tidak jelas wajahnya, tapi suaranya penuh kejengkelan

Iya maaf bu, kan takut kalau ketahuan ucapku, duduk di kursi yang berhadapan dengannya, tapi tangannya menarik tanganku. Aku beralih duduk disamping kanannya, sudah ada bantak disamping bu ainun, apa berarti aku harus tidur disini?

Huh, ya sudah tuh minum dulu ucapnya, benar-benar sekarang perangainya mirip dengan anak remaja. Dia duduk memangku dagunya dengan kedua kakinya dilipat, memandang kedepan terkadang melirikku.

Aku meminum teh dingin, tapi terasa hangat dikala tubuhnya langsung bersandar ke tubuhku. Kepalanya rebah di pundakku, tangan kanannya memeluk tangan kiriku. Kepalanya bersandar, kadang bergoyang, menggesek-gesek ke pundakku. Kadang pula dia tiba-tiba mencium pundakku.

Aku lebih kangen ketemu kamu daripada suamiku ucapnya pelan, ketika kepalanya erbah kembali ke pundakku

Uhuk… huk… uhuk… huk… ergh… ehem… aku meletakan gelasku kembali

Bu, jangan asal ngomong gitu to ucapku

Lha emang bener, gak papa kan? ucapnya tanpa melihatku sama sekali

Eh, itu anu, huuuuh… ibu beneran jatuh cinta sama aku? ucapku polos dan santai

Kalau iya? jawabnya tanpa melihat wajahku

Ya, jangan bu ucapku

Iya, iya ada tiga cewek tapi kelihatannya bakal jadi empat ucapnya

Empat? tanyaku heran

Lha tadi lari-lari habis ngapain? Gak mungkinlah kamu ngelihat setan? Kalau menurutku kamu habis lihat temen kamu entah cewek, entah cowok ucap bu ainun lembut di hiasi senyuman

Iya, aku cerita…

Aku menceritakan bagaimana aku tadi bisa terengah-engah. Bu Ainun mendengarkan dengan sangat antusias, dia kadag tersenyum ketika aku menceritakan cerita itu. Kadang pula senyumnya yang ditutupi dengan tangannya, membuatku sedikit grogi juga.

Hmmm… kamu itu jari telunjuknya mendorong pipiku, aku menjatuhkan tubuhku ke sandaran kursi di kananku

Itu tandanya ada apa-apa itu dihati si temen kamu ucap bu ainun tersenyum manis, dalam suasana remang ruang tamu

Ibu sok tahu… ucapku, kembali duduk santai

Ya tahu, gak mungkin kan dia menghentikan mobil hanya karena ingin melihat siapa tadi, kalau bukan kamu, gak mungkin dia menghentikan mobil ucap bu ainun, tapi memang ada benarnya apa yang diucapkan bu ainun.

Ana dan ani? lanjutnya, sebuah pertanyaan yang bagaimana aku harus menjawabnya

Adik angkat, mereka yang menginginkan aku menjadi kakak mereka bu, yakin suer bu? ucapku,

Hi hi hi iya iya… dilihat dari cara mereka minta ijin untuk menginap juga polos banget kok ucap bu ainun

Dan ibu lebih pantes dipanggil mbak kata mereka ucapku, dengan senyum yang mengembang. Dia menaikan bahunya sejenak, senyumnya benar-benar manis.

Ya sudah, kamu tidur dulu saja, nanti jam 3, aku bangunkan ya, sudah ngantuk ucap bu ainun bangkit dari tempat duduknya dan berjalan meninggalkanku

Eh, bu kok malah pergi? ucapku,

Lha terus? ucapnya, berbalik melihatku

Eh, gak papa bu, gak papa… he he he ucapku

Ya sudah… ucapnya berbalik dan berjalan meninggalkan aku

Sndiri lagi? Tidak! Aku bangkt dan menggenggam pergelangan tangan kanannya. Dengan lembut aku menariknya untuk duduk kembali. Tanpa ada perlawanan, dia menoleh ke arahku dan tersenyum.

Jangan pergi lagi bu, di kontrakan itu dah sepi. Samo dan Justi juga sudah pindah kos, mereka ikut pacar mereka ucapku, menunduk dengan nada seperti orang menggerutu

Iya… iya, lha kamunya gak minta suruh nemenin, ya aku ke kamar kan? ucapnya membalikan badannya ke arahku

Tanpa menjawab aku mendekatinya, seperti magnet, aku tertarik. Aku memeluknya, hingga dia terjatuh di bantal besar yang tersedia disampingnya. Kepalaku rebah di dadanya, lembut dan hangat. Jari-jarinya menyisir rambutku, satu lagi memainkan telingaku. Mataku terpejam dan mulai terasa kantuk.

Kamu itu ngangenin ya ar ucap bu ainun

Eh… aku sedikit terperanjat namun kembali lagi rebah di dadanya

Kalau sama kamu, rasanya tenang, nyaman, aman ar ucap bu ainun, masih menyisir rambutku, kadang kecupan lembut di ubun-ubun kepalaku

Selama masih disini tetaplah bersamaku, aku tidak peduli dengan kamu di masa lalu ataupun masa depan nanti. Sekarang, sering-seringlah bersamaku, aku juga tak mau sendirian ucapnya

Kadang kan ada pak RT bu ucapku pelan

Tanpamu sepi, denganmu tidak. Tanpanya sepi dan aku bahagia, denganya tetap saja sepi dan aku bersedih ucapnya, aku bangkit dan memandangnya. Kedua telapak tangannya memegang pipiku, sebuah kecupan aku dapatkan dibibir

Eh, tapi maaf jika tidak bisa selalu bersama ucapku, aku terbawa suasana kelembutan hatinya, dia membalasku dengan senyuman

Iya…sudah bobo lagi sini ucapnya, dihadapannya aku merasakan sifat manjaku keluar

Kepalaku langsung rebah di dadanya kembali, suasana menjadi tenang dan nyaman. Aku peluk tubuhnya lembut, tubuhnya kecil namun sangat lembut sekali. Hangat, lama aku tidak merasakan kehangatan seperti ini. lambat laun, mataku benar-benar tertutup dan tak mampu lagi terbuka. Aku larut dalam kantukku, dan hanyut dalam tidurku.

***

Eh,uugghhh… aku terbangun,

Aku sedikit tertegun melihat bu ainun yang masih terlelap dalam tidurnya. Kepalaku sediki terangkat ketika melihatnya, tanganku yang berada disamping badan bu ainun, mulai mengangkat tubuhku perlahan.

Wajahnya tenang, tampak kedamaian di wajahnya. Bibirnya, ah, entah kenapa pandanganku sekarang tertuju pada bibirnya. Ah, setan apa dalam pikiranku sekarang, kepalaku maju. Kurasakan nafas mengalir dari hidungnya, dadaku berdegup kencang.

Lebih maju, kepalaku miring, bibirku menyatu dengan bibirnya. Bekal pengalaman sebelumnya, dengan lembut bibirku melumat bibir bu ainun yang diam. Dadaku kuturunkan secara perlahan, bibirku terus melumatnya lembut.

Tiba-tiba saja, kedua tangan bu ainun memegang kepalaku, aku takut, kutarik kepalaku. Tangannya menahannya dan matanya terbuka, bibir kami masih berciuman. Kepalaku semakin maju tanpa harus menanti tangannya menarik kepalaku. Tangannya turun, memeluk tubuhku, kini tubuh kami bersatu.

Hmmm… suka ya? ucapnya pelan,

Eh, anu itu… eh… aku gugup

Jujur saja, kan cuma aku yang dengar… kata-katanya lembut, aku mengangguk dan kemudian menunduk

Sudah yaaaa… ntar malah buru-buru ke kamar mandi lagi ucapnya lembut, aku terkejut dan langsung duduk, kedua sikuku berada di pahaku. Dia bangkit secara perlahan dan menjatuhkan dagunya di pundakku

Maaf… kemarin anu bu itu… ucapku

Gak papa, kan aku yang minta, tapi nakal ya… ucapnya

Aduh, ternyata dia tahu… bathinku

Aku itu sudah menikah sayang, jadi tahu hi hi hi…

Sini, aku peluk lagi… ucapnya, membuka kedua tangannya, bak magnet, aku langsung masuk ke dalam pelukannya, kepalaku jatuh didadanya

Tuh, jam 3 bentar lagi pulang ya, sering-sering main kesini ya.. ucapnya lembut, aku mengangguk

Tangannya lembut, mengelus kepalaku. Suasana sepi di waktu menjelang pagi ini membuatku semakin terhanyut. Tubuhnya bergoyang ke depan dan ke belakang, mencoba menenangkan kegugupanku. Lama aku dalam posisi ini, aku merasa nyaman, nyaman sekali.

Minum teh sayang? ucapnya pelan, kepalaku menggeleng, wajahku ku benamkan di dadanya

Hi hi… dasar kamu kaya anak kecil saja sayang ucapnya, aku tidak menggubrisnya

Lama aku membenamkan wajahku di dadanya, benar-benar suasana yang berbeda. Dedek Arta, darimana aku menamainya tapi sekarang tertidur pulas.

Sayang, sudah jam 4, pulang dulu gih pelan tapi aku dapat mendengarnya, pundakku didorongnya hingga aku terduduk lagi

Jangan gitu, besok-besok kan masih bisa lagi ucapnya lembut, sembari memberi kecupan manis di bibirku, aku mengangguk dengan wajah malasku

Sebuah pelukan hangat tatkala aku hendak melangkah membuka pintu. Walau sejenak, tanpa ada kata-kata, hanya senyuman saja. aku memandang wajahnya diremang-remang ruang tamu ini. ah, mungkinkah aku jatuh cinta kepadanya. Aku tinggalkan rumah ini, menuju tempat nyamanku yang lain kontrakan. Menunggu subuh untuk kembali tidur…

Aku hanya ingin menari, dan terus menari
Hingga aku lupa cara berhenti menari
Aku hanya ingin menari, dan terus menari
Hingga kakiku terasa perih untuk menari
Dan aku tetap akan menari walau perih untuk menari
Karena aku tidak ingin hidupku berhenti ketika aku berhenti menari

Bersambung