Berubah? Part 22

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Tamat

Setelah aku mengantarkan tugas ke ruangan bu Anglin, aku berjalan menuju ke tempat parkir. Disana sudah ada Dini dan Dina yang menunggu, sesampainya disana Dini sediki jengkel karena aku terlalu lama ke ruang dosen. Namun, Dina, ah, dia lebih enak, tidak marah, malah sedikit menggodaku. Ya, ada juga alasan, dandanannya rusaklah karena menungguku tapi, dalam menyampaikannya tidak sejudes Dini.

Aku masuk, duduk di kursi belakang mobil, Dina yang masuk langsung memposisikan dirinya tidur di kursi depan sedangkan Dini mengemudikan mobil. Tak ada percakapan, aku duduk membungkuk memandang kedua kakiku.

Sesekali aku menengok keluar jendela mobil, sebuah jalan hidup yang tak aku mengerti. Pohon-pohon tampak berjalan menjauh kebelakang, sinar mentari juga tampak sedikit malas untuk menemaniku lagi. Sesampainya dikos, Dina langsung ambruk di tempat tidurnya, sedangkan Dini ke dapur mempersiapkan minuman untukku. Aku duduk dikarpet, terasa nyaman, ingin sekali rasanya tidur.

“Nih, minum dulu ar” ucap Dini menyerahkan minuman hangat kepadaku, aku mengangguk dan tersenyum kepadanya

“Na’, lu gak belajar?” ucap Dini yang duduk disampingku kepada Dina

“Ntar gue diajarin aja ya, ngantuk cayangku Dini” ucap Dina

“Dasar lu!” bentak dini dengan wajah galaknya, Dina membalas dengan juluran lidah dan langsung menutupi wajahnya dengan bantal

“Mulai aja ar, gue tadi gak mudeng yang ini” ucap Dini, membuka buku catatan

Aku menjelaskan semua kepada Dini, dalam benakku, mungkin aku akan menjadi dosen suatu saat nanti, akan aku usahakan. Kulirik Dini sangat antusias dengan penjelasanku, tapi Dina malah tidur dengan santainya ketika aku belajar bersama Dini. Kurang lebih 2 jam aku belajar bersama Dini, hingga tak terasa cahaya matahari sudah tidak lagi masuku ke dalam kamar ini, pertanda hari mulai gelap.

Dini kemudian menyudahi belajar bersama ini, dengan wajah sedikit jengkelnya dia melihat ke arah Dina yang masih tidur pulas. Dini mendekati Dina, berbagai macam cara telah dilakukan untuk membangunkan Dina. Tapi hasilnya nihil, Dina tetap memilih untuk bermimpi kembali.

Setelah pertempuran dengan Dina, dan aku hanya melihatnya saja, Dini menyerah. Dini kemudian membuatkan aku minuman hangat kembali. Diajaknya aku duduk didepan kamarnya, sebuah bangku panjang. Aku duduk di ujung bangku, ditariknya aku hingga dekat dengannya. Minumanku berada di kananku, sedang Dini kini berada dikiriku.

“Kontrkan lu itu, ada jam malamnya?” ucap Dini, aku menggeleng

“Enak disana ar?” ucap Dini

“E-enak din, nyaman, bareng sama sahabat-sahabatku” ucapku sedikit menunduk

“Hmm… ” Dini membungkukan tubuhnya, memandangku, mengejar wajahku

“Lu sering berkelahi ya?” ucap Dini tiba-tiba, membuatku terkejut

“En-endak, ndak pernah aku din” ucapku gugup, Dini kembal memandang kedepan, ke tempat parkir kosnya

“Dulu itu, aku punya temen kaya kamu, tapi sekali dihajar langsung teler” ucapnya langsung mengalihkan pandangannya ke arahku. Aku langsung menundukan wajahku.

“Dan elu, beda banget, sekalinya digebukin, malah bisa jalan santai, aneh tahu gak lu itu” ucap Dini, dan membuatku sangat terkejut.

“I-itu.. dulu, anu din, SMA per… pernah eh sering digebukin jadinya, su.. sudah biasa” ucapku tergagap-gagap

Tubuh Dini merapat ke tubuhku, kepalanya tiba-tiba bersandar di pundakku. Rasa gugupku benar-benar tak karuan. Kulirik, sekilas, padangan matanya tertuju kedepan, entah apa yang sebenarnya dia lihat. Aku benar-benar gugup, sedikit gerakan tubuhku mencoba menyingkirkan kepalanya yang bersandar di pundakku.

“Hm, kenapa?” ucapnya, bukan bersandar tapi kini dagunya tepat di pundakku. Aku menggelengkan kepala, tangan kanannya kini menjadi alas untuk dagunya dipundakku.

“Ar, jujur saja ya, gue bingung ama lu, ama sikap lu yang selalu berubah-ubah. Sebenernya lu itu siapa sih? Satu semester gue amati lu, sebenernya, lu itu orang biasa-biasa saja. tapi… kenapa ya, temen-temen satu kelas bisa respek ama lu” ucapnya, kepalanya bergeser mengejar wajahku yang menunduk

“Lu apain Desy ma Winda?” ucapnya, datar, tenang, tajam, membuatku semakin gugup

“A-aku ndak apa-apain me-mereka di-din,” aku semakin menunduk tatkala aku menjawab pertanyaan dari Dini

“Gue gak nyangka orang seperti lu bisa buat seorang seperti Desy, yang sangat dewasa dibanding kita semua, jengkel,” ucapnya, dagunya diangkat, bangkir dari tempat duduknya dan berdiri didepanku. Tubuhnya membungkuk, kedua tangannya bertumpu pada lututnya.

“Apapun itu, ada yang lu sembunyiin dari Desy, dan apapun itu, ada yang lu sembunyiin dari dalam diri lu,” ucapnya, meraih tangan kananku

“Dah yuk, aku antar pulang” ucapnya, aku berdiri dengan tangan kananku ditariknya

Aku berada di mobilnya, diam tak habis pikir dengan apa yang sebenarnya terjadi padaku. Jalan hidup yang benar-benar aneh, sebuah jalan hidup yang menaiki tangga satu persatu. Baju besi yang aku kenakan seakan seperti terlepas setiap kali aku menaik satu anak tangga. Lampu-lampu jalan menemaniku menyusuri jalan pulang bersama Dini yang tak berucap sedikitpun, hingga roda mobil berhenti didepan gang masuk komplekku.

“Jangan pernah bersembunyi, karena bersembunyi hanya akan membuatmu semakin takut menghadapi hidupmu” ucapnya, tepat ketika mobil berhenti. aku menunduk dan memandangnya senjenak, tersenyum.

“Kalau lu mau ngomong, ngomong aja kali” ucapnya dengan wajah juteknya, aku tetap tersenyum

“Te.. terima kasih sudah mengantarkan aku,” ucapku yang kemudian membuka pintu mobil.

Aku menunduk sedikit, dan menggoyang tanganku sebagai ucapan selama jalan. Acungan jempol kepadaku, dan mobilnya mulai berjalan menjauh. Kuambil sebatang dunhill, kusulut dan duduk dipinggir gang masuk. Kenapa aku merasa pernah bersamanya, perasaan yang aneh. Dini, Dina, sekilas ada sesuatu yang tersembunyi dibalik ingatanku yang tak pernah aku ingat. Ah, mana mungkin mereka berdua.

From : Dini Amarantha Mikaghaliya
Jangan pernah beresembunyi

To : Dini Amarantha Mikaghaliya
Aku tidak pernah bersembunyi,
Inilah diriku,

From : Dini Amarantha Mikaghaliya
Jangan bermain petak umpet
Bersembunyi untuk ditemukan

To : Dini Amarantha Mikaghaliya
Aku tidak mengerti, aku tahunya reaksi kimia he he

From : Dini Amarantha Mikaghaliya
Dasar, culun!

Selepas sebuah percakapan singkat dari hape jadulku, aku melangkah pulang. Semburan-semburan asap menemani langkahku hingga didepan kontrakan. Ah, mereka pulang, dua mobil terparkir di depan, aku kangen dengan mereka. segera aku melangkah masuk ke dalam kandang ternyamanku.

“Lho, kalian mau kemana?” ucapku heran, melihat mereka membawa tas besar keluar dari kamar mereka

“Eh, kamu ar, kita mau nginap” ucap Samo

“He?” aku heran

“Maaf ar, kayaknya kita bakal ketemu seminggu sekali, dua kali. aku akan menemani lisa di kontrakannya” ucap Samo

“A, aku juga ar. nginep di linda” ucap Justi

“Jadi, kalian pergi, aku sendiri gitu?” ucapku, mereka berdua mengangguk. Aku tersenyum kepada mereka.

“Ya sudah, ndak papa bro, santai saja” ucapku

“Jangan marah yo…” ucap Samo

“Hayah, koyo opo wae nesu karo kowe-kowe (kaya apa saya marah sama kamu-kamu)” ucapku, walau hatiku kecewa tapi kucoba untuk menutupinya

“Beneran yo, kita ini sekarang mau berangkat” ucap Samo

“Ha ha ha… iya, iya bro… santai kenapa, jangan lupa kalau pulang bawa makanan yo ha ha ha” ucapku tertawa terbahak

“Berangkat dulu yo ar” ucap Samo, Justi tampak lebih diam saat ini

“Ya sam”

“Woi, jus… ngopo (ngapa?)” lanjutku bertanya pada Justi

“Ndak popo ar, Cuma ndak enak saja sama kamu” ucap Justi

“Kasih kecap jus, enak ha ha ha” tawaku

Mereka melangkah pergi, aku antar mereka berjalan menuju luar rumah. Dua mobil sedan menghilang secara perlahan dari hadapanku, aku duduk termenung seorang diri sekarang. Ah, benar-benar aneh hidup ini, aneh sekali. Baru saja tahun kemarin mereka yang memaksa untuk selalu bersamaku, mencoba meredam emosiku, sekarang semua menjauh.

Satu demi satu menjauh, hilang entah kemana. Aku masuk ke dalam kontrakanku, sepi, tak ada suara tawa. Sebuah bayangan terlintas di depan mataku, bagaimana kami selalu bercanda setiap harinya. Mengolok-olok Justi, menggedor-gedor pintu mereka tatkala subuh menyapa. Ah, sepi… sepi sekali… aku lelah. Aku rebah di kasurku, kasur tanpa ranjang.

***

“Kenapaaa…” aku menangis

aaaaaaa”Jangan menangis, sekarang kakek dan nenek akan menemanimu”

“tapi…” aku masih saja menangis

aaaaaaa”Sudah, tersenyumlah, tak ada yang abadi di dunia ini… tersenyumlah”

“Kenapa? kenapa kek?” masih dalam tangisan aku bertanya

aaaaaaa”Karena memang semua mempunyai waktu, hidup, harus kamu nikmati”

“Kakeeeeek…” teriakku dengan tangisan yang sangat keras

***

“HAH!”

Sebuah bayangan masa lalu bercengkrama sejenak dalam tidurku, sebuah ingatan akan masa lalu. Aku keluar dari kamarku, kuraih hapeku, pukul setengah empat pagi. segelas kopi putih menemaniku pagi ini, sembari menunggu seubuh menyapa. Aku benar-benar bosan di kota ini, aku ingin pulang. Batinku terasa tertekan, kenapa aku harus dikota kalau pada akhirnya aku juga harus sendiri lagi. Mentari menyapaku, suasana pagi di hari kelima, aku memutuskan untuk tidak berangkat kuliah.

Tidak ada yang bisa dilakukan hari ini, bolos kuliah, membaca buku-buku catatan. Membolak-balik sesuatu yang sebenarnya sudah aku mengerti adalah sesuatu yang membosankan. Aku benar-benar ingin pulang, disana aku masih bisa… ah, tidak, sudah tidak ada lagi yang bisa aku lakukan disana. Tak ada yang aku punyai lagi, semua sudah hilang. Walau sudah tidak ada lagi yang bisa aku temui, tapi disana aku memiliki kenangan, pahit dan manis. Aku terus melamun, ditemani kopi dan rokokku, hingga sore hari, tak ada yang bisa aku kerjakan.

Tok… tok… tok…

Terdengar suara pintu diketuk, pintu kontrakanku. Aneh juga ketika mendengar ketukan pintu di kontrakanku, tak mungkinlah kalau warga sini. Biasanya mereka juga akan teriak dari luar, itu kebiasaan mereka.

Kleeeek…

“Kakaaaaaaaaaaaaaaaaaaaak…” teriak ana dan ani, langsung menyerbu masuk dan memelukku

“Eits… iya… iya… aduh… brugh…” ucapku terjatuh kebelakang karena berat tubuh kedua adikku ini

“Kakak kangeeeeeen…” ucap ana dan ani bersamaan, membuatku jatuh berbaring

“Sudah… sudah… ugh…” aku bangkit dan namun ana, ani masih saja memelukku

“Hei, kenapa kalian disini? kok tahu rumah kakak?” ucapku sembari mengelus kepala mereka

“Iiih, kan sudah ana bilang kalau ana sama ani kangen sama kakak. Tadi juga, mbak alma nyuruh kita jenguk kakak. Lagian nyari kontrakan kakak kan gampang banget, tinggal nanya-nanya aja, kompleknya kan kecil” ucap ana, melepas pelukannya

“He’em… disana bete kak, orang-orang pada sibuk” ucap ani, masih memelukku dan aku masil mengelus kepalanya

“Ouwh… hmmm…” gumamku

“Kok hmmm kak? Ada apa?” ucap ani

“Gak papa, pas banget kakak sendirian di kontrakan, tadi kakak juga bolos kuliah” ucapku

“Berarti kakak seneng dong kalau ana ma ani kesini” ucap ana, aku mengangguk dan tersenyum

“Kakak buatin minuman dulu ya?” ucapku hendak berdiri

“Kak, ini…” ucap ana, menunjuk ke ubun-ubun kepalanya

“Ani juga kak…” ucap ani melepas pelukannya

“Maksudnya?” ucapku sambil garuk-garuk kepala, jujur saja aku bingung

“Cium kakaaaaaaaaak…” ucap mereka bersamaan, tampak wajah mereka jengkel.

Ya, akhirnya aku menarik kepala mereka satu persatu dan mencium ubun-ubun mereka. setelahnya aku bangkit, melangkah menuju dapur kecil. Masih terasa sakit bagian pantatku ketika ana dan ani menubrukku tadi.

“Kak, aku susu ya…” ucap ani

“Aku jus saja kak, jus apa saja yang penting dibuatin kakak” ucap ana seketika setelah ana berbicara, aku berhenti melangkah, membalikan badanku, melihat mereka sejenak. Kutepuk jidatku didepan mereka.

“Hadeeeeeh… jangan disamain dong kontrakan kak Arta sama rumah mas raga” ucapku

“Ups… hi hi hi hi…” tawa mereka bersama

“Iya kakak, kan bercanda hi hi hi” ucap ani

Aneh-aneh saja permintaan mereka, kontrakan minimalis seperti ini saja mereka bisa-bisanya meminta minuman beraneka ragam. Aku buatkan mereka minuman teh hangat, untung gula masih ada. Aku duduk bersama mereka berdua, mereka menggantikan posisi Samo dan Justi. Suasana menjadi riuh dan sangat riuh, canda tawa kami bersama. ah, aku jadi kangen dengan Samo dan Justi, sedang apa mereka ya?

Wajah kedua adikku ini sangat cantik, yang satu berambut hitam legam dan yang satu berwarna coklat mungkin. Postur tubuh mereka, terlihat sangat dewasa kalau menurutku, tak tampak jika umur mereka masih berada dibawahku. Tapi walau tampak dewasa tetap saja mereka manjanya minta ampun kalau sudah ketemu sama kakak angkatnya ini, he he. Hingga malam menjelang, aku dan kedua adikku duduk di teras depan rumah, ditemani secangkir kopi putih dan dua gelas teh hangat.

“Kalian mau pulang jam berapa? Sudah jam setengah 8 malam lho…” tanyaku

“Kalau boleh sih nginep di tempat kakak” ucap Ana, mejatuhkan tubuhnya ke tubuhku, pertanda mencoba merayuku

“Eehh… jangan ndak boleh itu, ntar di grebek tetangga” ucapku

“Boleh aja, wong tadi ibu ainun juga ngebolehin kok” ucap ani, bu ainun?

“Lho kok kalian tahu bu ainun? Dari mana?” ucapku terkejut, memandang mereka

“Ana tanyanya kan sama bu ainun, waktu nyari rumah kakak. lha tadi bu ainun lagi jalan keluar gang, jadi ya langsung turun dari mobil, eh ternyata ibu RT disini. tapi…” ucap ana terhenti, memikirkan sesuatu

“Tapi apa?” aku jadi gugup karena perkataan ana yang terhenti itu

“Tapi kelihatannya masih muda banget ibu RT-nya, gak cocok deh kalau dipanggil ibu. tadi aja kalau gak memperkenalkan diri sebagai bu RT, ana panggil mbak hi hi hi… cantik banget” ucap ana,

“Ah, sial pasti ada ceramah lagi dari bu ainun, tapi kenapa dia memperbolehkan ana dan ani nginap?” bathinku

“Kakak!” bentak ani

“Eh, ada apa, ada apa?” aku terkejut

“Yeee… di ajak ngomong malah ngelamun” Ani langsung saja mencubit kedua pipiku

“Wew wew wew… He he he… ndak ngelamun ya,” ucapku, setelah tangan Ani melepaskan cubitannya

“Boleh nginep?” Ana dengan matanya memohon yang sangat manja

“Mau tidur dimana? Nanti kalian berdua pulang saja ya?” rayuku

“Huh… adiknya main gak boleh nginep, kakak jelek ah” Ani membalikan tubuhnya,

Setelah perdebatan panjang, akhirnya aku memperbolehkan ana dan ani menginap. Walau sebelumnya ana dan ani sudah mendapat izin dari Bu RT cantikku itu tetap saja aku harus meminya izin lagi. Belum sampai aku dirumah pak RT, aku bertemu dengan pak RT di jalan menuju rumahnya. Langsung aku meminta izin kepada pak RT untuk memperbolehkan kedua adik angkatku ini menginap, pak RT mengizinkan.

Malam semakin larut, ana dan ani belum juga mau tidur jika aku tidak tidur terlebih dahulu. Aku buatkan minuman hangat kembali, duduk bersama di teras kontrakan yang tidak seberapa besar ini. Dengan beralaskan tikar, aku duduk bersandar pada tembok sedangkan ani merebahkan kepalanya di pahaku yang selonjor lurus, ana bersandar pada bahuku.

“Kalian ini, gimana kakak mau ngrokok coba?” ucapku

“Gak usah ngrokok kenapa sih kak, jelek tau”Ucap ani

“Huh…” dengusku kesal

“Iiih kakak jangan marah, jelek tauk!” Ani selalu saja bisa membuatku tersenyum dengan gaya manjanya.

Hening sesaat, kami melihat ke arah langit luas. Langit yang tanpa batas, tanpa dinding dan tembok. Langit malam, penuh degan bintang, walau tak sepenuhnya ada bintang disana. Tiba-tiba terdengar isak tangis Ani.

“Kakak, Ani kangen ayah…” ucap ani, aku menariknya dari rebahannya, aku memeluknya

“Sudah, jangan nangis ya, ada kakak” ucapku pelan, satu tanganku meraih kepala ana

“Pak Pengu jahat kak hiks, jahaaaat hiks hiks hiks…” tangis ani, amarahku terbakar ketika mendengar tangisan ani. Menyesal rasanya saat itu, seharusnya aku membunuhnya, tapi benar apa kata mas raga, kita bukan pembunuh.

“Kakak jangan pergi-pergi ya kak, jangan jauh dari ana sama ani” ucap ana yang aku peluk dibahu kananku

“Iya, kakak kan selalu disini” ucapku,

Aku memeluk kepala mereka, dibahauku. Sesuatu yang benar-benar berlawanan dengan apa yang aku rasakan siang tadi. siang tadi rasa ingin pulang, rasa ingin pergi dari kota ini, ah, ternyata ini jalan hidup yang benar-benar membingungkanku. Kini aku tetap harus disini, untuk mereka berdua, ya kedua adik angkatku.

“Ibu dan ayah, meninggal waktu kecelakaan tapi…” Ana memulai cerita namun terhenti

“Eh… sudah ndak usah cerita, nanti tambah sedih lho” tenagku kepada ana

“Bukan begitu kak, tapi hanya jenazah ibu yang ditemukan, jenazah ayah tidak ada disitu” ucap Ana, aku terkejut

“Da, darimana kamu tahu itu?” ucapku, ana dan ani langsung duduk menghadapku

“Ada seorang polisi, teman ayah, dia mengatakan kepada kami, ada kemungkinan ayah masih hidup, tapi sampai sekarang ayah tidak pernah diketemukan” ucap ana, kembali air matanya mengalir

Ani tampak sekali tidak tahan dengan kesedihannya, dia memelukku dan terisak. Ana melanjutkan ceritanya, orang tua mereka, rekan bisnis dari Pengu. Pada saat kejadian, orang tua mereka diajak oleh pengu untuk bertemu dengan rekan bisnis dari daerah tengah.

Karena kedua orang tua mereka adalah pebisnis, maka mereka berangkat bersama. dengan menggunakan pesawat mereka menuju ibu kota di daerah tengah, setelahnya menggunakan mobil untuk menuju ke tempat tujuan. sebuah keanehan terjadi, mobil yang membawa mereka malah berjalan menuju kesebuah hutan, kemungkinan disana mereka dihabisi, mobil dibakar ketika supir sedang buang air kecil.

“Bagaimana kamu tahu detail semua itu?” ucapku, heran sembari memeluk ani

“Ibu, ibu selalu mengirim kabar, sampai dihutan itu. bahkan ketika supir itu keluar untuk buang air kecil juga, setelah itu tidak ada kabar lagi. Selang dua hari, kami mendapatk kabar kematian kedua orang tua kami. dan teman ayah mengatakan kepada kami, kalau jenazah ayah tidak diketemukan. Teman ayah bilang, ada seseorang yang menjahati kedua orang tua kami”

“Setelahnya, pak pengu datang menawari kami untuk bergabung dengan perusahaannya, tak tahunya itu adalah salah satu cara agar perusahaan ayah menjadi milik mereka. kemarin mas raga cerita juga, tapi sekarang perusahaan itu sudah atas nama ana dan ani lagi hiks”

“Mas anton, cerita ke mas raga, kalau semua itu memang rencana pengu. Pengu sekarang sudah ada dalam penjara, tapi kami tetap kangen sama ayah dan ibu kak” isak tangis ana, aku duduk sedikit tegak dan kuraih kepala ana untuk rebah dibahuku

“Sudah, ada kakak… kakak akan jaga kalian, maaf jika tidak bisa setiap hari bersama kalian ya?” ucapku

“He’em kak jaga ana dan ani kak”

“Sejak pertama lihat kakak, waktu datang bersama mas raga. Kami yakin kalau kakak orang baik, makanya waktu kakak melumpuhkan Pengu, kami berdua ingin kak Arta jadi kakak kami hiks” jelas ana dengan suara paraunya, sesekali masih terisak

“Iya kan sudah jadi kakak kalian, oia, tapi kok milih kakak?” ucapku sedikit heran, ana dan ani bangkit dan duduk menghadapku

“Karena cara kakak memandang kami, pandangan kakak tulus, sejak awal kami melihat kakak. Pokoknya kakak jangan tinggalin ana dan ani hiks hiks” ucap ana, kembali dalam pelukanku

“Iya kakak akan selalu bersama kalian, sebagai kakak kalian” ucapku mengelus kepala mereka berdua

“Janji kak?” ucap ani

“Iya kakak janji…” ucapku pelan

Selang beberapa saat, aku mengajak mereka tidur. Ku antar mereka tidur dan rebah di tempat tidurku, ani dipeluk oleh ana, aku sangat beruntung mempunyai adik seperti mereka. kuelus kepala mereka, dan kecupan selamat malam dikening mereka. kuselimuti tubuh mereka, kupeluk sejenak dan kutinggalkan mereka didalam kamar. Kini aku sendiri yang berada diteras ini, sendiri… ah, tidak aku tidak sendiri aku masih punya adik-adikku…

“Eh, wanita itu ya, wanita itu aku sudah melihatnya beberapa kali dan yang terakhir, ada di… aku harus mencari tahunya” bathinku, entah kenapa tiba-tiba aku teringat akan wanita itu.

Akhirnya aku masuk ke dalam rumah, di ruang kecil tempatku bercanda bersama sahabat-sahabatku. Aku rebah, dan akhirnya terlelap.

***

Seorang lelaki turun dari mobilnya dengan pintu yang telah dibuka oleh supir pribadinya. Langkah kakinya begitu cepat, baju putih dilapisi jas abu-abu. Wajahnya tampak begitu jengkel, tangannya menggenggam. Laki-laki dengan umur kepala empat ini masih memiliki sisa-sisa mudanya, walau berumur tapi tetap terlihat masih muda. Semua orang yang melihatnya langsung menepikan posisi mereka ke tembok.

“Pak…” ucap seorang sekretaris didepan pintu kantor, laki-laki itu melebarkan telapak tangannya ke arah peremapuan cantik. Tak ada kata-kata lanjutan dari sekretaris cantik itu.

Klek…

Pintu dibukannya dengan kasar, langkah kakinya menuju ke meja. Dibelakang meja, duduk seseorang yang membelakanginya.

BRAK!

Lelaki yang baru saja datang itu menggebrak meja.

“Dasar pengu ceroboh!” teriak seorang lelaki tersebut

“Sudahlah, kamu juga sedang diluar kota saat itu” ucap seorang yang duduk di kursi hitam nan empuk dikantornya. Memutar kursinya dan tersenyum.

“Hah! Bukannya dia sudah aku beri tahu untuk menunggu kita, padahal sedikit lagi bisa memancing Raga untuk keluar sendiri. Kita bisa habisi dia, dan bos pasti akan senang dengan hal ini” ucap lelaki yang baru masuk tersebut, dia berjalan dan memandang keluar jendela

“Masih banyak kesempatan, yang jelas, kita harus lebih waspada. Karena ada seorang anggota baru dari mereka yang menyelamatkan raga. Tampaknya lelaki tersebut masih sangat muda dan sangat labil, bagaimana kalau kita memanfaatkannya?” ucap lelaki yang duduk dikursi empuknya

“Bodoh! Memanfaatkanya? Mikir! Kalau dia sudah bersama dengan raga akan ada banyak anggota dari keluarga raga mengawasinya” ucap lelaki yang memandanga ke jendela luar

“Oh iya ya, benar juga apa katamu. Bodohnya aku ini, tapi kita bisa menghabisinya kan?” ucap lelaki yang duduk dikursi empuknya

“Bagaimana caranya?” ucap lelaki yang memandang keluar jendela

“Aku tidak tahu, belum ada informasi valid mengenai data diri pemuda tersebut. Menunggu…” ucapnya sembari memainkan bolpoin ditangannya

“Menunggu?” ucap lelaki yang memandang keluar jendela

“Menunggu untuk mencari waktu, mengalah untuk mencari celah. Celah itulah yang akan membuat mereka kalah” ucap lelaki yang duduk di kursi empuk, tenang dengan senyum mengembang

“He he… pintar juga kau” ucap lelaki yang memandang keluar jendela

Hening sesaat…

“Kamu masih ingat kejadian saat itu? Saat kita mencoba menghancurkan kehidupan salah satu pesaing kita?” ucap lelaki yang kini menekan jendela kaca itu

“Aku masih ingat, dan gagal…” ucap lelaki yang bermain bolpen di kursi empuknya

“Anak kecil itu…” ucap lelaki yang kini bersandar dijendela

“Sudahlah, itu hanya anak kecil, dan tak tahu apa-apa” ucap lelaki yang duduk di kursi empuknya

“Entah kenapa, aku selalu bermimpi tentang anak itu. padangannya selalu aku ingat,” ucap lelaki yang berada dekat dengan jendela kaca

“Kamu takut?” ucap lelaki dikursi

“Kamu?” ucap lelaki yang berada dekat dijendela

“Tidak tahu, aku lupa membunuh anak itu”

“Sudahlah, anak itu paling juga tidak bakal dia sampai dikota ini. kalaupun sampai, mau apa dia? Sebatang kara? Menyari kita ha ha ha jangan bercanda kamu”Ucap lelaki dikursi

“Benar apa katamu…” ucap lelaki yang berada dekat dijendela

“Kita sedang santai, bagaimana kalauk kita makan susi? Susi girl? Sebagai ucapan selamat datang atas kedatanganmu” ucap lelaki dikursi

“Hmmm… okay, tawaran yang tidak bisa ditolak” ucap lelaki yang berada dekat dijendela

Mereka berdua kemudian melangkah keluar dari kantor, sebuah kantor yang berada dalam perusahaan yang sedang berkembang namun tertekan oleh keberadaan raga dan kolega raga. Perusahaan yang sedang dalam misi melakukan praktik kudeta, dengan seorang bos diatas mereka.

Bersambung