Berubah? Part 21

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Tamat

Byurrr… byurrr…

Hangat sekali tadi tubuh bu ainun, sial kenapa juga aku bisa mengeluarkan spermaku? Hadeeeeh, aku malah bingung sendiri dengan perasaanku sama bu ainun. Ah, kalau aku punya pacar gimana perasaannya ya? haduh, apa memang aku ditakdirkan untuk bertemu dengan wanita-wanita yang berpasangan?

Winda ada pacarnya, Desy juga ada pacarnya, Dini dan Dina sedang di pedekate. Lha ini, malah bukan pacar, suami, bu ainun. Kembali aku melanjutkan mandiku. Setelah subuh terlewati, aku rebahkan tubuhku.

Jika aku benar-benar mencintainya bagaimana? Kalau aku punya pacar bagaimana perasaannya? Lho, ar, kok malah mikir bu ainun, kan bu ainun sudah punya pak rt. Santai sajalah Arta, eh, tapi kasihan kan. Haruskah aku menjauhinya, kalau dia marah, kan dia sekarang sedang jauh dari suaminya. Aduh Arta, kuliah belum selesai, malah banyak masalah seperti ini. sudah si pacar Winda, pacar Desy, bu ainun, wanita didalam mobil itu, dan yang paling berat, Keluarga, mas raga. Akankah aku bertahan didalam keluarga itu?

***

Samo dan Justi, aku tidak tahu keberadaan mereka. Tampak sekali ada jarak antara aku dan mereka. Mungkin diantara persahabatan pasti akan muncul sebuah tembok, aku harap tembok itu tak setinggi tembok berlin. Hampa benar semester genap ini, ya semester ke-2 di kuliahku. Di awal tahun ini, umurku bertambah menjadi 18 tahun. 18 tahun, ah, benar sudah bertambah lagi.

Melewati pintu gerbang gedung FMIPA, sapa ramah satpam dari pos. Kulihat Desy yang turun dari mobil, berdiri aku memandangnya berharap dia melihatku. Sejenak dia melihat ke arahku, namun senyum keibuannya sudah hilang padahal baru saja aku melihatnya tersenyum ketika keluar dari mobil. Langkah kakinya cepat, seakan menghindar dariku. Aku tahu aku telah berbohong, namun untuk bisa mengatakannya, aku takut dia marah kepadaku. Ah, masa bodoh, lebih baik kuliah.

Kuliah hari ini dimulai pagi hari, suasana tenang dalam menjalani kuliah. Satu mata kuliah selesai, semua tampak sekali bahagia. ah, mungkin karena dosen yang baru saja mengajar adalah dosen keturunan drakula. Killer, istilah yang benar-benar ditakuti oleh mahasiswa.

Ar, makan ucap andrew mengajakku makan

Eh, anu ndrew… ucapku terpotong

Aku lihat Desy berjalan di belakang andrew, melihatku sejenak, aku menunduk. Tanpa menunggu jawaban dariku, andrew mengiyakan kalau aku tidak ikut. Ah, Desy, kenapa malah marah sama aku ya? argh, ngantuk… nyamm… aku tumpuk kepalaku diatas tumpukan tanganku.

Oi, bangun Arta ganteeeeng… ucap Winda keras

Eh… iya anu siap… ucapku duduk tegak

Santai aja dong… Winda menekan bahuku, aku kembali bersandar

Lu apain Desy? ucapnya, aku memandangnya dengan pandangan rabun karena baru saja bangun dari tidur

A… aku ndak apa-apain wind aku terkejut ketika Winda bertanya

Boong lu, dari kemaren aja, waktu gue minta bantuan lu ngerjain soal, dia udah kelihatan bete. Jujur, lu apain? ucap Winda tegas memandnagku, aku menggeleng

Oke, gak apalah, Desy itu sahabat gue sejak kecil, gue gak suka kalau ada yang ngejahatin dia, apalagi bikin dia kesel, memandangku dengan tatapan tajam,

Beneran lu gak mau cerita ma gue? ucap Winda yang terlihat semakin jengkel dengan sikapku.

A.. aku ndak tahu apa-apa wind, beneran, ucapku, memandang kedua tanganku diatas meja yang menjadi satu dengan kursi.

Dan lu udah buat jengkel dua orang, fine!

Mulai sekarang lu idup sendiri aja di kampus, males gue ama lu ucap Winda yang kemudian langsung melengos pergi

Aku memandangnya pergi, melangkah keluar ruangan. Entah kapan dia datang, walau sebentar, sudah membuatku kehilangan dua orang, dua orang yang selama ini baik kepadaku. Hanya selangkah saja, membuka semua kedok dari masing-masing pacarnya, semua akan beres, menurut logikaku.

Perasaanku berkata lain, mereka akan tetap menjauhiku. Sekarang lebih baik aku mengikuti perasaanku saja, toh kalau aku bongkar, mereka sama-sama akan menjauhiku seperti sekarang. Tepatnya, mereka akan menjadi tahu diriku sebenarnya. Baiklah, aku salah, tak mau jujur dengan kalian tapi inilah aku. Maaf… aku tak bisa.

Aku termenung, beberapa teman kuliahku masuk dan mulai duduk di kursi masing-masing. Pandangan ketidak sukaan Winda, kejengkelan Desy, jatuh ke arahku. Sebuah keesalahan, menjadi dua orang yang berbeda, seperti kata bu ainun. Lebih baik menundukan wajah daripada menambah masalah, lebih baik diam, mungkin itu yang harus aku lakukan.

Mengikuti perkuliahan terakhir, dengan dosen bu anglin. Semua perhatian tertuju pada kelembutan dosen tersebut, semuanya, hanya aku yang malas. Detik demi detik, aku melaluinya dengan rasa enggan. Tugas individu diberikan, dikerjakan dikelas, segera aku mengerjakannya hingga perkuliahan usai. Bedanya, kali ini Desy dan Winda tampak sekali tak mau mendekatiku dalam mengerjakan tugas.

Baiklah, waktu habis, tugasnya dikumpulkan sekarang ucap bu anglin, sesekali dia bertepuk tangan, menandakan agar segera dikumpulkan. Semua mahasiswa maju, aku tidak perlu karena andrew meminjam pekerjaanku.

Andrew, kumpulkan ke meja saya ya, ibu ada urusan di kantor bapak deka, ucap bu anglin.

Yah, bu… jangan saya bu, yang lain dong, saya harus ke lab, tolak andrew

Ya sudah, Irfan, Johan, burhan? ucap bu anglin, mereka menolak

Arta bu, Arta ucap andrew

Mas Arta? Bisa? ucap bu anglin, aku mengangguk

Perkuliahan usai, bu anglin keluar dari ruangan. Mereka bergegas meninggalkan ruangan, aku masukan semua perlengkapa kuliahku ke dalam tas. Melangkah maju, memegang salah satu tanganku dan membungkuk. Kuambil tumpukan kertas, dan berjalan keluar.

Aku tunggu diparkiran ar, okay? ucap Dini.

Eh, i.. iya, din, aku kumpulkan tugas dulu ucapku, melangkah keluar

Segera aku ke lantai dua gedung depan, gedung dimana aku pertama kali masuk ke fakultas. Setelah aku berada dilantai dua, terdapat lorong panjang. Lorong yang menurutku, jika lampunya mati pasti akan terasa sangat gelap. Ada beberapa pintu dengan nama dosen tertera di setiap pintunya, ada juga ruang santai disana yang dikhususkan untuk Dosen atau para birokrat fakultas. Disini ruang Dosen semua Jurusan menjadi satu di lantai dua, hanya saja beda lokasi saja.

Hah, bu anglin, anglin, anglin bathinku, sembari membaca setiap pintu dengan rasa lelah karena membawa buku yang berat ditambah lagi naik tangga.

Akhirnya aku menemukannya, aku ketuk pintu tak ada jawaban. Aku langsung masuk ke dalam ruangan tersebut, kulihat sebuah nama yang tertera di meja. DR. Anglin Purnama, M.Si, ingin sekali aku memiliki tittel yang tertera di meja bu anglin. Ruangan yang begitu sepi, segera aku letakan tugas-tugas di meja bu anglin dari depan.

Srek… melihat sekilas bingkai foto yang membelakangiku, bingkai yang mengahadap ke kursi bu anglin. Penasaran, iseng-iseng aku melangkah ke kursi bu anglin. Aku sedikit terejut ketika melihat foto tersebut.

Keluarga Bahagia bathinku,

Aku tersenyum, melangkang kembali, menuju pintu keluar ruangan. Dipintu keluar, sebelum aku membukannya, helaan nafas panjang. Langkah kaki terasa, ah, aku tak tahu berat atau ringan. Aku keluar dari ruangan ini, aku menutup pintu.

Sudah mas Arta? ucap bu anglin dengan senyumannya, dari arah kanan ku, berhenti sejenak ketika tepat aku didepan pintu ruangannya.

Su… sudah bu, ucapku tertunduk

Sudah, sayang ayo pulang ucap seorang lelaki yang datang dari arah kiriku, arah dimana aku datang tadi. Aku tak tahu jika lelaki ini datang ke arahku.

Iya sayang, sudah kok ucapnya, tanpa rasa malu mengatakan hal itu didepanku

Aku mengangkat wajahku, menoleh kekiri, memandang lelaki tersebut. Mata kami bertemu, saling memandang, mataku menelusuri bola mata itu. hening sejenak, mataku seakan tak ingin lepas dari mata lelaki ini. Lelaki yang berdiri tegak, dengan bola mata yang menjurus ke arahku. Mata itu, kemudian menyipit, sebuah senyum mengembang.

Lho kok malah pada pandang-pandangan ucap bu anglin membuyarkan suasana

Eh, maaf… ucapku dan langsung menundukan kepalaku

Ya sudah, Arta. Ibu pulang dulu, ucap bu anglin dan aku hanya mengangguk

Ayo sayang… ucap bu anglin kepada lelaki tersebut, suaminya

Itu yang aku tahu dari foto yang berada di mejanya, foto yang baru saja aku lihat. Aku melirik ke arah bu anglin dan suaminya meninggalkan aku. Pandanganku kembali ke lantai, kulihat bayangan lampu yang mulai menyala. Aku tersenyum, menunggu sejenak hingga kedua manusia itu menghilang kemudian aku melangkah menuju tempat dimana aku sudah ditunggu oleh Dini.

***

Jeglek… jeglek….

sebuah pintu depan mobil tertutup, setelah dua orang masuk kedalam mobil.

Brrrrmmmmm…..

Kenapa? ucap seorang perempuan

Kok kenapa? maksudnya? ucap seorang lelaki yang mengemudi disebuah mobil sedan merah

Tidak apa-apa, hanya saja, ada kesempatan,

Kenapa tak memanfaatkannya ucap perempuan tersebut

Sudahlah, belum saatnya, lagipula, belum tentu jika tadi aku memanfaatkan kesempatan itu, semuanya berubah menjadi baik ucap lelaki tersebut menjalankan mobilnya keluar dari tempat parkir

Sampai kapan? ucap perempuan tersebut

Sudahlah, jangan dibahas lagi protes lelaki tersebut

Sampai sekarang pun, aku masih merasa bersalah. Apakah aku harus menunggu lagi? ucap perempuan tersebut, mobil tiba-tiba terhenti

Tenanglah, pasti akan ada waktunya. Cup… ucap lelaki tersebut dan mengecup kening perempuan disebelahnya

Selalu merayu ucap perempuan tersebut dengan nada manja

Kesempatan selalu ada, namun untuk saat ini, aku tidak bisa memanfaatkannya. Bukan kesempatan itu, tapi aku yang belum siap untuk saat ini. maafkan aku,… ucap lelaki tersebut kepada perempuan yang duduk disampingnya

Mereka berdua kemudian terdiam sejenak, sang lelaki mulai kembali menginjak pedal gasnya. Mobil melaju kerumah yang indah, elok, nan elite. Didalamnya seorang anak perempuan yang belum genap 3 tahun sudah menunggu mereka. Menanti permainan bersama kedua orang tuannya.

Bersambung