Berubah? Part 20

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Tamat

Tepat pukul 21.00, aku keluar rumah. Kulepas sandal yang aku pakai dan kuletakan di kontrakan, secara naluriah, kalau ada sandal pasti ada orang daripada nanti kesulitan mending nyeker. Pos ronda sepi, jalanan sepi. Berangkaaaat… tepat didepan rumah bu RT, lampu depan rumahnya padam. Tiba-tiba terdengar suara klek, seperti orang membuka kunci pintu rumah. Keadaan sepi, aku buka pelan-pelan saja pintu gerbang yangmuat satu orang ini dan kubuka pintu, benar-benar kaya maling saja aku. Ketika aku sudah masuk ke dalam ruang tamu, gelap dan kututup pintu.

Heghh….

“Iiih datang juga, selingkuh yuk” ucap bu ainun, setelah dia memelukku

“Ndak jadi, aku pulang dulu” ucapku melepaskan pelukannya, dan menceoba membalikan tubuhku

“Ngambek, hi hi hi…” tawanya

Kalau dilihat lagi ke belakang, sebelumnya bu ainun alias bu RT-ku ini selalu kalem, tata lakunya juga membuat orang segan terhadapnya. Tapi setelah kejadian itu, dan aku kadang sms-an atau telpon-telponan, dia semakin terbuka. Kalau didepan banyak orang, dia lebih kalem tapi kalau dah ketemu di ruang tamu ini hufth… dah kaya anak kecil ketemu sama teman mainnya.

“Dah duduk dulu sana, aku buatkan teh” ucapnya

“Gimana caranya duduk bu?” ucapku sembari duduk, tangannya masih menggenggam pergelangan tanganku

“Tinggal duduk saja kok repot” ucapnya tanpa melepaskan pergelangan tanganku

“Iya, tapi jangan dipegangi terus to tanganku” ucapku

“Lengket sayang hi hi hi” ucapnya melepaskan genggaman tangannya

“Huh, air putih saja bu” ucapku dan duduk di kursi panjang ruang tamu

“Tumben? Apa mau kopi?” ucapnya ditempat gelap ini

“Ndak bu, ini bakalannya ketutup terus. Kalau mau rokok baru teh sama kopi, tapi kelihatannya tidak mungkin merokok” ucapku dengan kondisi ruang tamu tertutup rapat, dia mendekatiku sambil menunduk, wajahnya tepat di wajahku

“Apa ngobrol di belakang saja? tapi kalau bapak kamu itu datang kamu gak tahu” ucapnya

“Ndak jadi, disini saja bu” ucapku, dia kemudian tersenyum

Cup… kecupan di keningku, membuatku bengong melihatnya berbalik dan meninggalkan aku. Kerudung panjang hingga lengannya dan rok berumbai-rumbainya itu, tapi kelihatannya dia pakai kaos. Ruang tamu memang gelap tapi masih ada sedikit cahaya terusan dari ruang tengah. Sesaat setelah aku menunggu, bu ainun datang dari cahaya lampu tengah terlihat dia membawa gelas berisi air bening ditangan kananany dan tangan kirinya membawa bantal besar. Diletakannya bantal tersebut di ujung yang bersebrangan denganku, klek…gelas berisi air bening sudah dihadapanku.

“Well, do you want to tell me.. about your story?” ucapnya dengan menyilangkan kaki dan menyangga dagunya, melihat ke arahku

“Ups, i’m forget, minum dulu sayang” lanjutnya, aku meminum seteguk dan kuletakan kembali

“Seneng banget sih bu kelihatanya?” ucapku, menoleh kearahnya

“Jelas dong, yang tersayang lagi ngapel hi hi hi” godanya

“Kaya situ ndak punya suami saja, ibunya lagi mabuk pasti…” ucapku membuang muka

“Gitu ya sekarang! Ya udah pulang saja, huh” ucapnya, aku berbalik dan melihat dia malah membelakangiku

“Yeee… marah si ibu, ntar tambah tua lho” ucapku

“Bodoh, aku mau tidur…” ucapnya yang berdiri langsung hendak melangkah. Aku tarik tangaannya

“Maaf bu maaf, kan cuma bercanda…” ucapku,dia berbalik dan langsung menjatuhkan tubuhnya di arahku, duduk dipangkuanku

“Awas kalau bahas masalah suami lagi” ucapnya tersenyum dan merangkul leherku, hidungku dimainkan oleh jari telunjuknya

“Iya bu maaf, tapi bisa turun ndak bu, berat he he he” ucapku dengan wajah tersenyum

“Beneran berat?” ucap bu ainun

“Ndak juga sih bu, tapi kan ndak enak ngobrolnya” ucapku

“Hi hi hi…” tawanya dan turun duduk disebelahku

“Luwes dikit napa ar, jangan kaku gitu…” ucap bu ainun yang menyilangkan kakinya kembali dan menyangga dagunya

“Ya… anu bu itu, ibu tiba-tiba kalau ketemu mesti bawaannya gimana ya itu bu” aku malah kebingungan menerangkannya

“Gimana? Maksudnya?” ucapnya memandangku dengan senyum

“Itu ibu beda banget sama sebelum-sebelumnya, kan sebelumnya ibu itu kaleeem banget tapi sekarang kelihatannya kok malah, yaaa beda banget” ucapku memandangnya

“Yang luwes santai.. saaan taaai… okay?” ucapnya memandangku, aku menghela nafasku

“Kalem kan waktu gak sama kamu, kalau sama kamu gak bisa kalem akunya” ucapnya dengan senyum manisnya

Aku memandangnya, dan kami saling berpandangan. Walau remang, aku masih bisa melihat bola matanya yang indah. Bibirnya maju sebentar seperti bebek dan kemudian kembali tersenyum. Wajahnya terlihat sangat senang sekali, membuatku salah tingkah

“Luwes, be yourself, kamu gak dikampus sayang” ucapnya tangan kirinya mengelus pipi kananku

“Eh… iya bu…” ucapku, menghelas nafas panjang

“Cerita dong… tuh udah ngintip-ngintip yang ada diotak kamu pengen keluar” ucapnya tersenyum

“Hufthh… iya bu” ucapku memandangnya sejenak

Aku kemudian menceritakan ketika festival akhir tahun dimana aku membantu pak RT. Cerita yang tidak begitu detail, tapi ketik pada bagian pacar dari Winda aku menceritakannya dengan detail sekali. Bahkan bagian dimana ada seorang perempuan yang mengajak pacarnya makan pun aku ceritakan. Setelah pertemuan dengan pacar Winda, aku bingung harus bagaimana mengatakannya kepada Winda, karena Winda begitu baik kepadaku. Kalau aku mengatakannya bisa-bisa Winda malah membenciku.

Cerita berikutnya mengenai Desy, yang waktu itu mengajakku ke pantai dan saat dia meletakan sematpon miliknya terlihat foto pacarnya. Pacarnya itu yang ternyata adalah yang ku temui dei festival saat itu. akuyang tahu itu kemudian reflek, mungkin karena kasihan terhadap Desy, aku mengatakan kepada Desy tntang cinta dan kejujuran. Aku mengira Desy tidak akan menggubrisnya, walau menggubrisnya juga pasti ndak bakal mengejarku dengan berjuta pertanyaan. Tapi tadi pagi Desy…

“Kamu itu makanya kalau jadi cowok jangan suka sembunyi, cowok itu harus jujur” ucap bu ainun

“Eh… iya tapi…” ucapku

“Eh Desy itu yang mana?” ucapnya

“Yang nganter aku bu, kalau yang pertama nganter itu kan Winda, kedua Desy, terus Dini” ucapku

“Ouwh yang keibuan itu ya” ucapnya

“Iya mirip ibu” ucapku

“Eh, aku keibuan ya sayang… iih ngrayu nih” ucapnya

“Lha kan memang benar bu, ndak bohong aku bu” ucapku

“Nyatanya kamu bohong sama teman-teman kuliahmu” ucapnya

“Eh…” aku tertegun mendengar kata-kata bu ainun

“Bukan maksudku untuk menyuruhmu membuka kedokmu, tapi memang terlalu lama kamu berada dalam kedok culun kamu itu. Dan lagi kamu itu sembunyi tapi gak rapet, bener kan?” ucapnya

“Eh… itu anu bu” ucapku

“Kalau jadi orang culun dan pinter, ya sudah jadi culun saja jangan malah ketika ada sesuatu yang gak sreg sama kamu, eh… malah aslinya kamu keluar. Ya jelas dia mengejar kamu dengan pertanyaan, secara kamu selalu menjadi dua orang yang berbeda-beda dalam satu waktu. Gak Kon… sis… ten, ngerti kan maksudku?” ucapnya dengan wajah yang tersenyum

“A… aku kan anu bu…” ucapku gugup

“Huh! Iiighhhhhhh… gemessssssssss!” mencubitku dibagian pinggang

“Arghhhh…. sudah bu sudah…..”Ucapku menggenggam pergelangan tangannya

“Hufth… makanya yang konsisten, jiwa kamu yang terdalam itu gak mau sembunyi lama-lama ar” ucapnya memandangku dengan pandangan yang teduh

“He he he…” aku hanya tersenyum cengengesan

“Kamu tinggal jadi diri kamu, tunjukan kepada mereka siapa kamu dan jalani hidup kamu apa adanya. beres kan? Jadi diri kamu, kalau kamu terus-terus ganti rupa yang ada hanya kebingugan dan kegelisahan di hati kamu. Sudah gini saja, mulai besok kamu jadi diri kamu sendiri saja, datangi si Desy, terus Winda… katakan semuanya. Kalau mereka marah ya sudah, mereka kan yang bakal nyesel sendiri ketika tahu kebenaran yang ada” ucapnya lembut, aku menunduk sebentar kemudian memandangnya kembali

“Kenapa kamu harus sembunyi? Cobalah, jangan terlalu sembunyi ada hal yang lain yang harus kamu selesaikan. Apa yang kamu takutkan akan masa lalumu sayang? Seburuk-buruknya masa lalu adalah bagian dari masa depan. Masa lalu mu itu sudah berlalu… kamu terlalu…” ucapnya, pandanganku menjadi berair, teringat kembali yang telah berlalu.

Ketakutan akan sebuah kenyataan yang tidak ingin terulang lagi, bayangan-bayangan itu kembali lagi, seakan suara dari bu ainun menjadi redup oleh teriakan-teriakan dari masa laluku. Suasana tampak semakin gelap, gambaran yang telah berlalu muncul kembali. Seakan menertawakan kebodohanku di masa itu. Keegoisan, kesombongan, keangkuhan dan sebuah ganjaran dari semua itu. pandangan gelap, semakin berair, akhirnya mengalir di pipiku.

“Eh… sayang maaf… sudah, sudah kamu gak perlu…” ucapnya kemudian duduk bergeser mendekatiku

“Arghh…. benar kata-katanya, aku memang yang bodoh terlalu sering bersembunyi… aku hanya takut… takut ke…hiks… arghhh… mungkin aku harus pulang sekarang bu, mau ngrokok” ucapku tersenyum sebentar lalu berdiri

Tangan kirinya langsung menahan bahu kananku, bergerak ke pipi kananku dan mengarahkan pandanganku ke arahnya. Senyumnya menghiasi bibirnya, ditariknya pelan kepalaku hingga sebuah ciuman mendarat di bibirku. Tubuhku layu, hingga tangan kanannya bergerak di punggugku dan menarik bahu kananku dari belakang. Kepalaku jatuh di bahu kanannya. Tangan lembut mengelus kepalaku, serta kecupan-kecupan dikeningku membuatku semakin tak bisa menahan tangisku. Aku benamkan wajahku di bahunya.

“Sudaaah, tenanglah, maafkan aku sayang jika terlalu menekanmu… maafkan aku… aku tidak pernah tahu tentang masa lalumu, aku tidak mengira akan begini jadinya… maafkan…” ucapnya

“Ibu ndak salah, aku yang salah…” ucapku terisak

“Sudah tenangkan dirimu, tidurlah…” ucapnya lembut, tangannya tak henti-hentinya mengelus kepalaku

Aku menangis, kedua tanganku bergerak memeluk pinggangnya. Tubuhku semakin rapat dengannya, entah lelah atau mengantuk. Tangisku semakin reda, namun hatiku semaki kacau. Tubuhku ditariknya hingga rebah dibantal besar itu dengan bu ainun yang memelukku. kini kepalaku tepat di dadanya.

“Tidurlah, sayang, tidurlah… agar lelahmu hilang…” lembut dari bibirnya, pelukannya semakin erat. Elusan tangannya berada dikepalaku.

Aku menunduk, teringat akan semuanya kejadian yang telah lalu. Hingga rasa lelah karena tangis membuatku tertidur dalam pelukannya. Dalam pelukan seorang wanita yang seharusnya tidak aku peluk. Seorang wanita yang sudah memiliki seorang pemilik. Aku memeluknya hingga aku tak sadarkan diriku.

***

“Eh… dia sudah tertidur…” bathinku, ketika melihat nafasnya mulai teratur dan tenang

Kulihat wajahnya lelah berada dalam dekapan dadaku. Kelihatannya dia sangat nyaman sekali dalam pelukannku, tanganku tak pernah berhenti mengelus kepalanya. Ternyata dia memang seperti anak kecil ketika tertidur.

Tak ada yang seindah dan senyaman ini sebelumnya. Kehangatan dari tubuhnya membuatku sangat hanyut dalam perasaanku. Ku kecup kepalanya berkali-kali, entah perasaan apa yang berada dalam diriku saat ini, hingga aku tak bisa menahannya. Kupeluk semakin erat kepalany dan masuk kedalam dadaku. Hangat, hembusan nafasnya, membuatku merasakana tampat nyaman. Mataku sudah tak bisa lagi terbuka, kesendirianku dirumah dan kehadirannya.Mmmmhh… ssssttt….. mmmmmhhh… aku beringsut kebawah menyejajarkan kepalaku dengan kepalanya, ku kecup keningnya dan aku menyusulnya ke dalam dunia mimpi.

***

Egh, aku terbangun terlebih dahulu. Sedikit membalikan tubuhku terlihat samar jam didinding menunjukan pukul 2 malam. Kembali aku mengahadap ke Arta, kupeluk tubuhnya agar lebih dekat lagi. Kurasakan kehangatan dari tubuhnya, aku semakin beringsut kebawah dan memasukan kepalaku di dadanya, sejenak aku mencium dada yang terbungkus kaos ini.

Ainun, ainun, ada apa kamu ini sebenarnya? Kenapa kamu malah seakan jatuh dalam perasaan yang tidak seharusnya kamu miliki terhadap laki-laki muda ini? Dia seumuran dengan adik kamu ainun, sangat muda. Apakah mungkin aku sama dengan para gadis yang penasaran dengannya? Apakah aku juga merasakan penasaran dengannya juga? Ah, entahlah…

“Heghhh…. hoaaaam…. erghhh…. eghhh…” dia terbangung, aku langsung menyejajarkan wajahku dengan wajahnya, kini mataku tepat didepan matanya

“Egh… bbbhh… bu… ainun…. egh…” Arta terkejut

Dia terkejut dengan mata terbelalak ketika melihatku tepat dihadapannya. Keterkejutannya, membuat tubuhku bergeser kebelakang. Tangannya langsung memeluk punggungku dan aku kembali menempel pada tubuhnya. Lebar kursi terlalu sempit, walau cukup untuk kami berdua.

“Bu ainun itu bikin kaget saja”

“Nanti kalau jatuh bagaiman… mmppphhh” aku sudah tidak peduli lagi dengan statusku

Bibirnya tertutup, tangan kiriku menarik bagian belakang kepalanya. Bibirku terus mencoba untuk menerobos, samar aku bisa melihat pandangan matanya. Tangan kananya memegang pergelagan tangan kiriku, menariknya dan terlepas.

“Bu… sudah…” ucapnya pelan

“Kamu sayang kan sama aku?”

“Kenapa? katanya kamu mau menyayangiku, gak cinta gak papa ar” lanjutku, entah dari mana kata-kata ini meluncur.

“Bu, ingat bu… bu ainun kan sudah janji…” ucapnya, seperti janji kami berdua, saling mengingatkan

Tapi aku masa bodoh dengan janji itu. tangan kiriku kembali ke bagian belakang kepalanya, tangan kanannya menahan. Kami berpandangan satu sama lain, hatiku merasakan kekecewaan ketika tangannya menahan tangan kiriku. Aku tidak rela jika keiginanku terhenti, air mataku mulai keluar, isak tangisku mengalun pelan. Wajahnya sedikit terkejut, genggaman tangan kananya mulai melemah.

Dalam isak tangis pelanku, bibir kami berpagutan, tangan kananku medorong tubuhnya. Perlahan, tubuhku bergeser, tubuhnya naik ke atas dan aku tepat berada dibawahnya. Dia mengangkangiku, Satu kakinya tertekuk disebelah kananku, satu nya lurus menginjak lantai. Kedua kakiku rapat berada, sedikit tertekuk menyesuaikan panjang kursi.

“Mmmpphh… bu…” pelan suaranya

“Gak papa kan kalau cium dan peluk… apakah harus aku terus yang menenangkanmu? Adilkah?” ucapku mencoba menekan logika

“Tat-tapi…” ucapnya dengan kedua tangan berada disamping kepalaku

“Sama saja…”

“Kamu juga egois…” ucapku pelan

“Lebih baik kamu mmmpppphhh…..” ucapku terhenti,

Ingin aku menyuruhnya pulang namun, ah. Kedua tanganku memeluk tubuhnya, tangannya tertekuk, bibirnya melumat bibirku. Bibir kami mulai terbuka, lidahku menjulur terlebih dahulu ke dalam mulutnya. lidahnya begitu hangat, pasif di awal namun sangat aktif setelahnya. Tanganku berpindah kembali ke belakang kepalanya, menekan, agar bibirnya tetap menempel.

Perasaanku, nyaman, hangat tubuhnya, tubuhnya kini benar-benar rebah di atas tubuhku, menekan lembut. Terasa sedikit gesekan dibawah sana, tapi aku tidak mempedulikannya. Aku ingin, ingin memilikinya namun aku tak bisa. Hanya satu, ingin bersamanya melewati hari-harinya. Masa bodoh dengan lelakiku, dia yang datang untuk menentramkan aku.

“Bu.. mmmphh… bu….” disela-selanya,

Aku tidak menggubrisnya, aku ingin terus merasakan kehangatan bibirnya. Namun tiba-tiba, kedua tangannya menelusup di belakang kepalaku. Wajahnya bergeser dan terbenam di samping kepalaku. Pelukannya erat, tubuhnya benar-benar menekan tubuhku kebawah. Terasa sekali dia mengejang beberapa kali, nafasnya terengah-engah ketika terbenam. Aku memeluknya erat, walau terasa tubuhnya terasa berat. sedikit tersenyum aku dibuatnya, dasar…

“Kenapa?” pelan suaraku ditelinga kanannya

“Egh… hshhh hshhh hshhhh hshhh” hanya itu yang aku dengar

Aku semakin geli dibuatnya karena tak ada balasan darinya. Terasa sekali, ada yang mengeras di bawah sana. Walau tertutup celananya, aku masih bisa merasakannya. Aku mengelus lembut kepalanya.

“Aku buatkan minum ya?” ucapku mengalihkan pembicaraan, tapi dia masih tetap memelukku dengan erat. ini memang yang aku inginkan.

“Bu… aku pulang ya mmmppp…” ucapnya, sebentar dia mengangkat wajahnya kemudian membenamkannya lagi

“Lho… sudah, disini dulu belum subuh kok” ucapku

“Ta-tapi bu… mmmpppp” ucapnya, sekali lagi dia mengangkat wajahnya kemudian membenamnkannya lagi

“Gak boleh, pokoknya gak boleh…” paksaku, dia kembali memelukku dan tak berani memperlihatkan wajahnya dihadapanku

Aku tahu yang kamu rasakan, aku tahu apa yang baru saja kamu alami. Karena aku lebih tahu darimu sayang. Sedikit lagi saja kamu melanjutkannya, aku pasti akan menerimannya. Tapi dari sikapmu, aku tahu kamu tak akan melanjutkannya. Kamu berbeda sayang, sangat berbeda… kamu takut… aku tahu, aku juga. Kamu masih menghargaiku sayang, itulah kamu.

“Bu… mmmmppp…” ucapnya kembali

“Iyaaaa sayang…” lembut dari bibirku

“Buatkan teh hangat…” ucapnya

“Iyaaaa… tapi bener mau teh hangat? Atau masih mau meluk?” godaku

“Teh hangat mmmppp…” balasnya

Pelukannya semakin lemah, tubuhnya terangkat. Aku lepaskan pelukanku, langsung dia bangkit dan duduk di kursi samping. Bau ini, khas milik seorang lelaki. Kedua pahanya mengapit, dan menunduk. Aku bangkit perlahan, melihatnya sejenak dengan senyumanku. Aku berdiri didepannya, aku angkat dagunya. Sebuah kecupan aku berikan di bibirnya. Kutinggalkan dia sejenak…

“Bu, boleh pinjam kamar mandi?” ucapnya pelan

“Eh, iya boleh…” aku membalikan tubuhku, dan langsung dia berjalan kebelakang

“Lurus saja sayang, sampai dapur belok kiri…” ucapku, melihatnya melangkah tanpa memandangku, langkahnya begitu tergesa-gesa dan menarik kaosnya kedepan. Terlihat sekali dia menjaga agar kaosnya tidak mengenai celana bagian depannya

Aku geli sendiri melihatnya, tapi aku bahagia malam ini. bahagia karena membuat dia, mmm… puas, mungkin. Aku melangkah pelan tepat didapur, aku menengok ke arah kamar mandi. Masih terasa geli jika mendengar apa yang baru saja aku lihat tadi. segera aku membuat teh hangat, membuat teh saja aku malah kebingungan sendiri karena tidak bisa menahan geliku.

Kleeek…

“Bu, punya tas kresek?” ucapnya tiba-tiba, aku menoleh kebelakangku dan tersenyum

“Tas kresek? Apa itu?” ucapku, memang aku belum pernah mendengar istilah yang dia ucapkan. Kedua tangannya berada dibelakang, memegang sesuatu. Celana bagian depannya tampak basah.

“Anu bu itu tas plastik” ucapnya, menunduk, wajahnya sedikit memerah

“Ooohh… lha buat apa sayang?” godaku

“Ndak papa bu, boleh minta” ucapnya

“Iya boleh dong, buat sayangnya masa gak boleh” ucapku,

Aku lalu mengambilkan tas plastik yang biasa aku simpan setelah berbelanja. Aku melangkah mendekatinya, baunya masih sedikit terasa. Ku berikan dan dia langsung kembali ke kamar mandi. Aku tambah geli dengan lelaki ini, apa karena memang belum pengalaman jadinya dia tidak menginginkannya ya? tapi sekalipun ada kesempatan, dia juga tidak akan mengambil kesempatan itu, beda, dia sangat beda. Aku kembali membuat teh hangat, terdengar suara pintu kamar mandi terbuka.

“Di ruang tengah saja sayang, yang ter eghh…” bibirku berhenti bicara, aku terkejut ketika tubuhnya memelukku dari belakang dengan erat. Hanya bagian atas tubuhnya yang terasa di belakangku, sedang bagian bawahnya tampak menjauh. Kepalanya tepat di bahu kananku.

“Maaf bu, dan…”

“Terima kasih… cup…” pelan dan aku mendapatkan sebuah kecupan di pipi kananku

Aku langsung berbalik, dan dia melepas pelukannya, melangkah kembali ke depan. Aku melihatnya seakan tak percaya, hangat sekali kamu sayang, hangat. Segera aku selesaikan membuat teh hangat, ingin bersamanya hingga sebelum subuh nanti. Ketika aku kedepan tak kudapati di ruang tengah, terlihat sedikit cahaya masuk dari teras depan. Aroma rokok kesukaanny, Dunhill, kalau tidak salah baca waktu itu.

“Bau rokok itu gak enak kalau pas deket lho” ucapku sembari meletakan cangkir teh hangat didepannya

“Eh, biar ndak terjadi lagi” pelan, dia mencoba mengelak

“Kalau aku sih, gak papa, mau bau, mau enggak” belaku

“Buuuu…” ucapnya pelan, walau remang terlihat wajahnya yang memohon

“Iyaaaa….” jawabku, aku duduk dikursi dimana kami berpelukan, sedang dia berada di kursi yang dekat jendela. aku lipat kakiku, kusangga daguku melihatnya sejenak

Hening, aku lihat jam dinding menunjukan pukul 3 lebih. Ah, sebentar lagi dia akan pulang, berat rasanya. Dia tidak memandangku sama sekali, ketika pandanganku mencoba mengejar wajahnya, dia selalu menghindar. Lucu sekali ketika dia mencoba menghindari tatapan mataku.

“Sayang, rokoknya nanti lagi” pelang dari bibirku

“Eh, sebentar lagi bu, ini tinggal beberapa lagi” ucapnya, aku hanya mengangguk walau dia tidak melihat anggukanku

Sebatang rokoknya habis, tanpa di matikan diasbak dia langsung masukan lagi kebungkusnya. Diambilnya cangkir teh hangat, tampak lega sekali wajahnya ketika meminumnya. Aku menggeser dudukku ke ujung kursi, mendekati kursinya. Aku pegang pergelangan tangannya dan kutarik perlahan.

“Duduk sini, sebentar lagi kamu pulang” ucapku pelan

“Sini saja bu” ucapnya sedikit gugup

“Egois…” sebuah kata-kata yang aku tahu, pasti membuatnya merasa bersalah

“Eh,…” diam menunduk, tapi aku tidak peduli, kutarik perlahan dan aku menggeser tubuhku hingga ada tempat untuk dia duduk

Dia bangkit dan duduk disampingku, aku langsung memeluknya dari samping. Kurebahkan kepalaku di dadanya, pelan, tangan kirinya memeluk pinggangku. Mataku terpejam, kurasakan degup jantungnya cepat.

“Jika hampir subuh, beritahu aku. Aku malas untuk membuka mataku” ucapku

Tangan kananya, mengelus kepalaku yang bertutup kerudung ini. berhenti dipipi, dagu, perlahhan tangannya menuntun daguku untuk terangkat. Aku membuka mataku, mmmppphhh, bibirnya kini memaksaku untuk mengikutinya.

“Ingatkan aku jika hampir subuh” ucapnya pelan, aku tersenyum, namun hanya sesaat

Duduk berdampingan, bibir kami berpagutan. Lidah kami mulai menari, masing-masing bibir seakan tak ingin melepas lawannya. Tanganku beranjak memegang kepalanya. Tangan kirinya menarik pinggangku lebih dekat ke tubuhnya, tangan kanannya mengeluk pipiku. Aku, aku, ya, aku masih single, jomblo ketika bersamanya. Tak ada gerakan tangannya yang bertindak tidak senonoh. Tak ada, tak ada sama sekali, mata kami saling berpandangan. Lama… lama sekali… ah, aku jatuh dalam perasaanku sendiri.

“Sayang, sudah jam 4…” ucapku setelah lama sekali, lama sekali kami berciuman. Kurasakan nafasnya terengah-engah pelan.

“Bu, maafkan aku jika…” ucapnya yang langsung aku silangkan jariku di bibirnya

“Sssstttt, sudah sayang… semua terjadi karena kita saling menyayangi kan? Sayang kan?…” ucapku

“He’em… sayang” dia tersenyum

Tepat ketika dia beranjak pergi, didepan pintu yang belum terbuka. Aku kembali memeluknya, hangat tubuhnya tak bisa aku lupakan. Aku cium sejenak punggungnya, dan kupeluk lebih erat lagi.

“Apa jadinya kalau aku jatuh cinta sama bu ainun” ucapnya

“Ada tiga cewek cantik-cantik kok ya mikir yang udah bersuam sayang” balasku

“Bu ainun selalu begitu jawabnya” balasnya kepadaku

“Ini baru awal sayang, belum tahu apa yang terjadi esok, apakah kamu masih bisa mempertahankannya ketika kamu tahu aku bersama suamiku” jawabku, aku tahu aku berbohonng pada perasaanku. Tapi aku tak ingin dia terlalu larut dalam perasaannya.

“Selama aku disini, aku ingin menjalaninya bersama bu ainun” ucapnya

“Aku juga…” jawabku

Lepas sudah tubuhnya dari tubuhku, sebuah kecupan aku dapatkan di keningku. Tubuhnya lenyap dibalik pintu yang terbuka dan terutup lagi. Dari jendela aku dapat melihatnya melangkah pelan, mengendap-endap layaknya seorang maling. Setelah tubuhnya menghilang, aku kembali ke tempat tidurku. Memeluk guling yang dingin ini, ah, aku masih ingin memeluknya.

I don’t wanna miss a thing. Sms. Arta

From : Arta
Janji bu?

(eh, aku terkejut)

To : Arta
Janji sayang
Aku akan menjalaninya denganmu
Tapi ingat, jangan jatuh cinta sama cewek bersuami ini

From : Arta
Iya, bu…

Sejenak aku menunggu subuh untuk melewatinya. Ah, aku belum ingin tidur, ingin menikmati sisa waktu menjelang pagi. aku duduk dan menikmati teh hangat di teras depan rumahku. Masih menunggu mentari menyingsing, menunggu waktu untuk kembali beraktifitas. Hingga, mentari menyapaku dengan kehangatan, aku melangkah masuk. Terdiam langkahku, melihat kursi panjang itu. Hmm, aku benar-benar merasa nyaman saat itu, Arta.

Bersambung