Berubah? Part 19

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Tamat

Aku bangun tepat jam setengah lima pagi, udara masih terasa dingin. Rasa malas tampaknya senang sekali untuk menarikku kembali ke tempat tidur. Namun aku paksakan tubuhkku untuk bangkit dan melangkah keluar kamar.

Lho lho lho… cuk! Lha kok dapuranmu wes ning kontrakan? (lha kok kalian sudah di kontrakan?) ucapku terkejut ketika membuka pintu sambil mengucek mata, ke dua sahabatku sudah ada di kontrakan.

Subuh-subuh kok malah maki-maki orang, ndak boleh ar ndak boleh… nanti di marahi tetangga lho ucap Samo yang membaca sebuah buku.

Halah hoaaaaamm… lha kalian kan ngilang seminggu to ndes?! ucapku sedikit keras, sembari meregangkan tubuhku

Ya ngilang lah cling cling… ha ha ha canda Si gendut, samo. Emang dasar tidak pernah serius ini anak.

Ngilang? memang kita bisa hilang sam? ucap Justi, menutup bukunya sejenak menganggapi ucapan Samo.

Dah kamu diam saja ndak usah ngomong, bisa sampai kiamat kamu ndak bakal mudeng! ucap Samo sembari memukulkan bukunya di kepala Justi. Aku tahan tertawaku, melihat tingkah kedua sahabatku ini.

Kakekane, kalian itu kapan datangnya? ucapku melangkah dan jongkok didepan mereka, mengambil camilan.

Ada racunnya itu ar ucap Samo.

Mbok ben (biarin) ucapku memakan camilan kue bandung.

Ha ha ha ha…. tawa Samo.

Kamu ndak ketawa jus? ucapku memandang Justi, dia menggeleng.

Ngomong to jus. Jangan kaya ketek ketulup (monyet ke tembak) ucapku.

Ah tai asu! Aku ndak mudeng yang kalian omongkan! ucapnya.

Makanya otak dipakai jangan ditinggal di tempik! ucap Samo mendorong kepala Justi.

Celeng! Tak bawa yo otakku! ucap Justi membalas Samo.

Daaaaah, kalian itu datangnya kapan? Aku kok ndak denger kalao kalian datang? ucapku.

Barusan jam 3 tadi ucap Samo, sembari mengambil kue bandung.

Naik apa? ucapku.

Lihat sendiri brooo… jangan iri lhoooo…. ucap Samo, aku memandangnya datar. Berdiri dan kemudian menyibak korden. Kampret! Ada dua mobil parkir di depan rumah.

Lha itu mobil siapa? ucapku.

Mobilnya cintaku ar ucap Justi.

Lumayanlah nanti aku nebeng ke kampus ucapku membalikan badan dan melangkah menuju kamar mandi

Oke broo… makanya, burung itu dicariakan sangkar ucap Samo, malas menghadapi ocehan Samo aku berhenti sejenak dan memandang mereka berdua. Mereka memandangku.

Mati sam… bar iki ceramah subuh sam (setelah ini ceramah subuh sam) ucap Justi

Blaik jus… ucap Samo

He he he… pikiran kalian pada ngeres, ndak jadi…

Oia kemarin siang kalian dicari ma Laras ucapku sembari melangkah

HEH?! SIAPA AR teriak mereka bersama

Laras, Lha Raimu Asu (Lha wajahmu anjing)… ha ha hah tawaku berjalan cepat menuju kamar mandi. Terdengar jeritan anjing melolong dari ruang tamu kecilku, ya Samo dan Justi ha ha ha.

***

Eh Arta sayang, dah lama gak ketemu lu ar, jadi kangeeeeeen… ucap Dina yang menghampiri tempat dudukku dan duduk disebelahku

Eh… n-na… ucapku

Iiih Arta tambah ganteng… ucap Dina, sambil mencubit pipiku dan aku memudurkan kepalaku

Naaaaa udah deh, jomblo ya jomblo tapi jangan ganggu Arta kasihan tuh Arta… ucap Desy

Desy cemburu nih yeee… balas Dina

Ngenes lu des hi hi hi ucap Winda

Lebih ngenes mana coba? Punya cowok tapi gak dimanja-manja… dingiiiiin banget rasanya goda Dina ke Winda

DINAAAAAAAAA! teriak Winda

Hei, bu anglin datang…! teriak andrew yang masuk ke kelas dengan sedikit berlari

Perkuliahan dimulai, aku jadi ingat waktu sekolah di SMA ada seorang guru muda nan cantik dan jelita. Yang selalu tersenyum kepada mahasiswanya tapi kalau sudah marah wah bahayanya ndak ketulungan. Wajah bu anglin memang manis dan cantik, seperti bu RT hampir mirip sih tapi kelihatannya putihan bu anglin. Kuliah hari ini cukup menarik dengan mata kuliah baru yang diampu oleh bu Anglin.

Teman-teman kuliahku, jika aku lihat seperti Desy, Dini, Dina dan Winda tampak semakin klop. Andrew dan helena juga semakin mesra, Burhan masih mencoba pendekatan dengan Salma seperti terakhir aku mendengar percakapan mereka. Irfan dan Johan, aku tidak tahu mereka dengan siapa, tapi yang jelas ada yang mereka dekati.

Semester dua ini, aku lebih sibuk. Banyak tugas mandiri yang aku dapatkan dari dosen, tapi kenapa yang lain selalu santai saja ketika mendapat tugas. Huh, walau akhirnya aku tahu mereka hanya mencatat kembali apa yang sudah aku kerjakan.

Ndak papalah paling tidak otak mereka sudah termanjakan oleh kerja kerasku, semoga saja tidak ada yang bisa melampui nilai akademisku. Hanya satu orang, burhan, dia selalu mengerjakannya sendiri dan Salma tidak pernah meminjam pekerejaanku, mungkin ke burhan.

Dikontrakan aku lebih sering sendiri, entah mengapa aku merasa sekarang ini aku jauh dengan dua orang sahabatku. Sahabat yang selama ini menemaniku, asam basa kehidupan aku lalui bersama mereka. Ya… wajarlah kalau semisal mereka memulai hidup barunya. Aku tidak bisa melarang mereka. Bu RT, masih samalah, semakin mesra tapi tetap harus hati-hati. Tidak bisa setiap hari aku bermanja-manja dengan bu ainun, jaga jarak! Jatuh cinta beneran bisa koprol aku-nya.

Hei ar, besok habis kuliah lu ke kos gue yah? Bareng ma aku, aku ajari lagi ucap Dini

Eh anu… iya… ucapku seketika melihat wajahnya yang galak

Ya udah aku tinggal dulu ya… ucap Dini yang sudah ditunggu Dina didepan ruang kelas, mungkin ke kantin.

Bosen juga rasanya dikelas, akhirnya aku keluar dari kelas dan duduk dibawah pohon rindang. Memabaca sebuah buku yang aku pinjam dari perpus, buku pelajaran tapinya. Sial, tampaknya aku harus ketemu sama bu RT. Semua halaman buku yang aku baca ini yang keluar cuma wajahnya, apa otakku sudah dalam kondisi kritis ya?

Plak…

Sebuah tamparan di pundakku

Auch… teriakku dan aku menoleh

Jangan melamu ar ucap Desy, wajahnya sedikit lelah. Dia kemudian duduk di samping kananku

Nd-ndak melamun kok des, lagi baca buku sambil nunggu mata kuliah berikutnya ucapku kembali membaca buku

Desy mendekatakn tubuhnya dan ikut membaca…

Hmmm… gak ada bacaan lain apa ar? novel gitu, komik… kuliah mulu yang kamu pikirin ucap Desy

He he he… tawaku, aku menggaruk-garukkan kepala memandangnya. Dia memandangku yang ada disampingnya dengan kaki dilipat dan dagunya yang disangga.

Hei ar, aku mau tanya ucapnya, langsung aku membungkuk dan kembali memandang buku

Ergggggggggghhhh! desi mencubitku keras dipinggangku

Aaaduh aduh aduh… sakit des sakiiiiit teriakku kesakita

Lha kamu itu, sini mau tanya situ malah baca buku lagi, liat ke aku kek atau gimana! ucap Desy

I iya, iya… ucapku

Ma-mau tanya apa? Uuughhh… ucapku sambil mengelus-elus pinggangku

Jawab jujur ya… awas kalau bohong! ucapnya serius memandangku, aku mengangguk. Mati aku!

Aku mau tanya, kenapa saat kamu liat itu foto pacarku… ucap Desy berhenti sejenak

Artaaaaaa…. teriak Winda, yang datang berlari dari arah depanku

Eh eh eh aku bingung sebenarnya tapi paling tidak ada sang penyelmatku, Winda

Ar… tolongin gue ngerjain soal ini yah ucap Winda yang langsung duduk disamping kiriku

Kamu itu wind, ganggu saja ucap Desy dengan wajah sedikit jengkel

Iiih Desy jeles ya? udah lah des bentar kok ini, kelarnya juga cepet, Arta gitu loooh… ucap Winda

De-des, aku ngerjain soalnya Winda dulu ya ucapku

Ya sonoh! ucap Desy judes

Iih Desy, bentaran napa…

Eh des, gimana dah berubah? lanjut Winda bertanya ke Desy, yang jelas tidak aku mengerti

Belum sama aja wind, bingung aku jadinya ucap Winda

Sama aja sih ma gue… malah tambah parah sekarang. Hmmm… apa memang harus gitu dulu ya des? ucap Winda

Gaklah, aku gak mau… kondisinya aja dingin, kalau kondisi hangat gak masalah ucap Desy

Lha makanya dingin itu, aku mikirnya gitu des… sapa tahu jadi hangat ucap Winda

Iya kalau jadi hangat, kalau cuma buat angetin doang? Gimana? ucap Desy

Eh… bener juga ya… ucap Winda

Percakapan antara Winda dan Desy, aku tidak paham tapi jika didengarkan lebih detail lagi, aku masih bisa menangkap kemana arah pembicaraan mereka. Cukup mendengarkan mereka saja, walau soal yang diberikan Winda sudah selesai, aku tetap diam menunggu mereka selesai bercakap-cakap.

Iiih Arta nguping deh… ucap Winda yang menggoyang-goyang tubuhku

Eh anuwww anuwww… windddddd…. ucapku Winda kemudian berhenti menggoyang tubuhku

Hufth… lha lha kan aku ditengah kalian ya je jelas dengar to ya… belaku dengan wajah gugup

Iya Artaaaa…

Eh, des lu kok tumben-tumbenan ngedeketin Arta mau cari yang lain yaaaa hi hi hi goda Winda terhadap Desy

Gak! Hmmm… aku jadi kelupaan mau tanya ma Arta…

Ar, kamu jawab jujur kenapa waktu kamu liat foto pacarku, tiba-tiba kamu mendadak menjadi aneh waktu di pantai? ucap Desy dengan pandangan tajam, padahal sebelumnya dia selalu memandangku dengan tatapan keibuannya

I.. i… itu aku Cuma… aku benar-benar gugup

Hah?! Desy pacaran sama Arta dipantai? ucap Winda

Ssst… wind, kamu itu ganggu terus, dah biar dia jelasin dulu bentak Desy ke Winda, sekejap Winda langsung terdiam

A-anu… itu des, cuma aku kaget saja karena waktu liat fo-foto pacar kamu mirip sama masnya temenku de-des… ucapku yang benar-benar gugup

Beneran?! Gak ada yang lain? ucap Desy mendesakku, aku mengagguk-angguk terus

Oke kalau gitu…

Yuk wind makan… ucap Desy yang menarik tangan Winda

Oia ar, keluarga itu kan harus saling sayang kan? ucap Desy ke arahku dan aku hanya bisa mengangguk

Terima kasiiiiih AR-TA! ucap Desy, wajahnya sedikit gemas, jengkel bahkan mungkin bisa dibilang marah. Desy kemudian menarik tangan Winda kembali

Iiih, Desy jutek… jelek tau! ucap Winda. Aku berdiri dan menyerahkan tugas ke Winda yang sudah berjalan mennjauhiku

Akh, kenapa aku ini, tadi adalah kesempatan mengatakan kepada Desy perihal pacarnya. Tapi kalau saja tadi aku keceplosan bisa jadi malahaku yang ketahuan, siapa aku sebenarnya. Tatapan mata Desy sudah berubah kepadaku, tak lagi tatapan seorang wanita yang memiliki sifat keibuan. Ketika menarik tangan Winda saja, dia melirikku tajam dan membuatku sedikit sadar bahwa dia tahu aku bohong. Tapi kalau tahu aku bohong kenapa dia tidak melanjutkan pertanyaannya.

Eh… apakah itu karena… bathinku, ya keluarga harus saling menyayangi. Kalau sayang pasti jujur dan dia tahu aku tidak jujur atas pertanyaannya.

Ketika kuliah telah dimulai pun, wajah Desy tersenyum hanya ketika bercanda dengan teman-teman yang lain. Pernah tatapanku melihat kearahnya dan dia melirik kearahku, tapi lirikannya benar-benar lirikan ketidak sukaan. Haaaash, sudahlah… sabar Arta, kamu disini berperan sebagai orang lain agar kamu bisa meredam emosi kamu.

Sepulang kuliah…

Cemet! Lagi-lagi mereka tidak pulang ke kontrakan, sepi sekali disini. haaaash… membosankan gerutuku ketika sampai diruang tamu kecil ini

Aku minum air galon bergelas-gelas, pusing mikirin mereka terus. Nanti jatuh-jatuhnya pasti Arta tulungi aku ar (ar tolong aku ar). hasyah! Cempe londo kucrit! Dapuran nek do gek butuh wae do teko, celeng! (hasyah! Anak kambing bule kucrit! Mereka kalau lagi butuh saja pada datang, babi hutan!). Sudahlah, aku yakin semua akan baik-baik saja.

Tititit tititit. Sms. Bu ainun

From : Bu Ainun RT
Jangan bermuram durja seperti itu sayang 🙂

To : Bu Ainun RT
Kok Ibu tahu?

From : Bu Ainun RT
Ntar malem sini ya sayang 🙂
Nolak, awas!

To : bu Ainun RT
Iya bu iya…

From : Bu Ainun RT
Sayangnya mana? Hi hi hi

To : Bu Ainun RT
Iya bu ainunku sayang

Tak ada balasan, nanti malam aku main ke tempat bu ainun. Terakhir kali kesana, ah, bibirnya masih terasa disini, di bibirku. Heh?! Lha bukannya aku sudah gosok gigi, kenapa masih terasa? Aku dipelet?! Tidaaaaaak! Terlalu berlebihan ar, terlalu berlebihan. Ini bukan grafik parabola eh salah, tidak boleh di hiperbolakan, karena bola sudah ada di lapangan. Ah, ngomong apa aku ini, semakin lama semakin ndak waras aku dikota ini.

To : Samo Hung
Kalian kemana to?
From : Samo Hung
Asu! (Anjing)
Jek kenthu, rak sah ganggu (lagi kenthu, tidak usah ganggu)
Dasar jomblo sawangen (dasar jomblo penuh jaring laba-laba)

To : Samo Hung
Tadi ada temen kamu namanya Rapta

From : Samo Hung
Heh? Beneran?
Tumben dia nyari?

To : Samo Hung
Rapta, Raimu Pak Tai! (Wajahmu kena tinja)

From : Samo Hung
Asu!
Temanku beneran ada yang namanya Rapta ndul!

To : Samo Hung
Maaf nomor yang anda hubungi sedang sibuk
Silahkan coba sesaat lagi

From : Samo Hung
Celeng ndas asu
(Babi hutan kepala anjing)

Benar-benar membosankan. Aku kembali rebah diatas kasur kapukku. Kasur yang lumayan empuk untuk bisa aku nikmati setiap harinya. Kuraih Hapeku lagi untuk mengirimkan pesan ke Justi, namun aku urungkan kembali takut otaknya sedang tidak berjalan.

———————​
Dina sudah pergi sejak tadi bersama Alam, sedangkan aku berada di kos. Menunggu kedatangan Alex, yang katanya mau datang ke kos. Suara ketukan pintu, aku langsung menuju ke arah pintu kamar kosku.

Hai din ucap alex yang berada didepan pintu kamar kosku ketika aku membukannya

Eh, lu lex, gue kira lu datengnya ntar jam 9an ucapku santai ketika waktu menunjukan pukul 8 malam

He he he… ya namanya juga kangen ma lu din rayunya

Gombal deh lu, dah duduk dulu. Mau minum apa lex? ucapku nawarin alex duduk di bangku panjang didepan kamarku

Apa ajalah yang penting lu yang buat din ucapnya

Air cucian mau? ucapku

Kejem banget din, teh anget ja din ucap alex yang tertawa cengengesan

Ya dah tunggu ya… ucapku

Aku buatkan teh hangat, Dina tak ada dikos. Kalau sudah keluyuran susah dibilangi Dina itu, bener-bener butuh orang yang tegas buat kasih tahu dia. Hmm… alex, bener baik gak ya dia? Aku kok jadi sedikit ragu ma dia, coba dulu deh.

Kleeek…

Ni lex, diminum dulu mumpung masih anget ucapku meletakan teh hangat di tengah antara aku dan alex

Sruuuptt… enaknya, manis banget kaya yang ngebuat ucap alex

Hombal lu lex ucapku sedikit tersenyum ke arahnya

Kalo mau senyum, senyum aja kali din, tambah manis tahu gak? rayu alex

Gombal mulu mulut lu lex, btw ada apa ni malem-malem dateng? ucapku

Nih… kasih coklat ke aku

Katanya kamu suka coklat ya? ucap alex

Sok tahu lu, tapi makasih ya ucapku menerima. Huh pasti Dina…

Hening sesaat, aku membuka coklat yang dia berikan. Daripada gak ada yang dibicarakan mending makan coklat gratis.

Din… ucapnya pelan

Hm.. jawabku

Mmm… anu itu, lu habis eh… lagi nge erghhh… ucapnya gugup

Ngomong apa sih lu? Gak jelas tahu gak? Nyamm… ucapku sambil makan coklat

Giniii kalo gue main kesini ada yang marah gak? ucapnya

Tuh bu kos marah hi hi hi… ucapku

Ah, din lu itu diajak serius malah bercanda ucapnya

Ya elu juga, ngomong gak jelas hi hi hi ucapku sedikit tertawa

Iyaa iyaa.. mau nanya lu dah punya pacar apa belum? Jelas gak? ucapnya, agak terkejut sih walau sebenarnya udah aku prediksi ke situ

Udah gak punya emang napa? ucapku, memandangnya santai

Ya mungkin ja gue bisa masuk jadi pacar lu din ucapnya memandangku serius

Hi hi hi… tawaku

Kok malah ketawa din ucapnya

Nothing… but just try it if you can ucapku

Oke, give me a chance ucapnya

Well, alright… but, butuh waktu yang sangaaaat lama, karena aku bukan cewek gampangan jawabku dan tiba-tiba

Bbrrrrrrmmm….

sebuah mobil sedan putih masuk ke ruang lapang kosanku tepat disebelah mobil Dina. Pintu terbuka dan seorang laki-laki, alam, langsung berjalan ke arah salah satu
Pintu mobil. Dan ketika pintu dibuka, Dina langsung ambruk sambil muntah-muntah. Aku berdiri dan langsung aku datangi Dina. Dari tangan alam, aku memapah tubuh Dina. Bau alkohol yang sangat menyengat dari mulut.

Tepat ketika didepan pintu kamar, aku suruh alam nunggu diluar. Pintu kamar aku tutup dengan kakiku walau tidak tertutup sempurna. Kurebahkan tubuh Dina, bibirnya terus mengigau dengan tawa tak berujung.

Na sadar lu, dasar lu! Huh! ucapku sembari mempukpuk pipinya

Ayo tambah lagi ha ha ha… eh elu din, ayo din minum diiiin hug… ha ha ha ucapnya yang ngelantur kemana-mana disertai cegukan

Aku tinggalkan Dina sementara untuk menemui alam dan alex. Langkah kakiku menuju pintu kamar kosku, tepat ketika berdiri di belakang pintu. Terdengar percakapan pelan mereka berdua…

Gila lu apain? bisik alex kepada Alam

Gue racun dia he he he… gampang ngedapetin cewek kaya Dina, he he he ucap alam pelan

Buseeet, kayaknya yang gue deketin susah nih… apa perlu gue racun? tanya Alex, dengan suara pelan

Udaaah… ntar dapet sendiri, kalau udah dapet jangan lupa langsung di hajar saja. ini paling bentar lagi gue dapet he he he ucap alam

Anjing lu, dah kita lanjutin ntar saja dikos ucap alex

Sial, mereka ternyata cuma mau mainin aku dan Dina. Tenang din, gak boleh emosi. Aku ulangi langkahku dari dalam kamar sembari memanggil mereka. Kubuka pintu dan aku berterima kasih pada alam yang mengantarkan Dina. Ya, paling tidak begitu kan. Selepasnya aku meminta alex untuk melanjutkan mainnya besok. Mereka pamit, kulihat mereka pergi dan aku kembali masuk ke dalam kamar.

Dinaaaaaa… Dina, huh! Aku bisa saja marah sama Dina. Tapi mau bagaimana lagi, sejak kecil aku selalu bersama dia, gak tega aku memarahinya. Aku dekati Dina yang sudah tertidur dengan nafas teratur. Bibirnya sangat bau alkohol, tapi anehnya kok tubuhnya juga bau ya? apa tumpah ketika minum? Waktu keluar dari mobil saja dia muntah tapi gak kena bajunya. Penasaran aku buka kaos Dina, aku buka bra-nya. Ih! Bekas gigitan kecil disekitar puting susu Dina sebelah kanan.

Gue harus bikin Dina menjauhi alam dan aku juga harus jauh dari alex! bathinku

Aku lepas pakaian Dina, dan aku pakaikan kaos serta celana ganti. Gak akan aku biarkan seorang lelaki manapun rusak hidup kamu na. Kamu keluargaku dan kamu adalah sahabat terdekatku sejak kita kecil. Kututupi tubuhnya dengan selimut, dan aku rebah disampingnya untuk menyusulnya tidur. Ah, benar-benar membingungkan, aku bingung caranya agar bisa jagain Dina. Dina orangnya memang gampang bergaul dan kadang lepas kendali. Semua orang gampang banget suka sama dia, aku takut kalau dia dimanfaatin sama orang-orang yang gak bertanggung jawab.

Na, lu harus terus sama gue, biar gue bisa awasin lu bathinku, kupeluk dia. Sahabatku semenjak kecil ini.

Bersambung