Berubah? Part 13

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Tamat

“Woi, Ar, jus hari ini aku mau keluar jalan-jalan jadi jangan pada kangen ya?”Ucapku kepada Justi dan Arta yang sedang didalam kamarnya selepas kami belajar di pagi hari. Entah kenapa kami semua masih tetap belajar, karena mungkin ada hasil dari usaha kami. Justi setelah yudisium memiliki IP sama denganku 3,4.

“Yoooowwwwwwh….” teriak Justi dari dalam kamar

Kleeek…

“Iya sam, hati-hati…” ucap Arta yang menyempatkan keluar kamar sebentar sekedar memberi salam

Aku tepuk bahu sahabatku ini dan berjalan keluar kandang. Segera aku ke halte dekat dengan kompleks kami, dan ternyata sudah ada mobil Rash! Yang menunggu disana, aku masuk lewat pintu pengemudi karena Lisa sudah berpindah ke tempat duduk sampingnya. Dari ketiga sahabatku hanya aku dan Justi yang bisa menyetir mobil, Arta tidak bisa.

“Sayang, kita ke daerah bukit-bukit yuk… disana adem kelihatannya enak buat jalan-jalan” ucap Lisa, Lisa Apriliana, sembari mobil berjalan

“Bukit apaan tuuuuuh….” godaku

“Iiih sayang ngeres deh….” balasnya

“Lho kok ngeres?” candaku

“Iya, tanya sih tanya, tapi matanya lihatnya kesini” jawabnya

“Eh, kemana sih? Ku ndak lihat yo” jawabku

“Kesini” ucapnya sembari membusungkan dada dan diarahkan ke aku

“Weits, aduuuuh….” jawabku

“tuh kan bener? Hi hi hi…” tangannya mendorong bahuku, aku hanya tertawa terbahak-bahak ketika melihat tingkahnya

“Eh, jauh ndak?” tanyaku, mengenai bukit yang sedang kami tuju

“Lumayan, paling 1-2 jam itu kalau gak macet…” ucapnya

“1-2 jam? Wuiiiih… jauh bener, keluar kota ya?” ucapku sedikit menoleh ke arahnya dan dia mengangguk

“Perjalanan keluar kota? Apa bisa nanti malam aku sampai di kota ini lagi? Ah, masa bodohlah” bahtinku

Lisa, Embrot, iiih, bodinya suemoks, pake ‘s’. Hmmm… ngobrol pun mataku ndak bisa lari dari itu, itu, itu lho. Tapi berkali-kali Lisa malah memamerkannya didepanku, haduuuh, benar-benar sesuatu yang wow.

Waduh, jalannya makin lama makin sepi tapi kadang juga ya rame. Tak lirik sedikit, wajahnya lelah, terus dia bersandar, merosot, merosot dan tertidurlah ratu cantikku ini. Cantik sekali, balutan tang-top hijaunya dan celana panjang ketatnya berbentuk pensil. BH-nya juga terlihat, apalagi lipatan susunya. sial, gara-gara melihatnya kuda kecilku mulai mencari tempat yang nyaman untuk berdiri.

Walah, aku itu sebenarnya juga bingung ini mau kemana. Kata Lisa, aku harus menyetir mobil sampe ada sebuah gapura besar, tulisannya “BUKIT PEMANDANGAN INDAH”. Ditengah perjalanan aku lapar, yo jelas saja, wong disamping kanan kiriku warung makan semua. Ngiler, ngiler, bener-bene rngiler aku.

Wakhrinya setelah berjam-jam berjalan, ada gapura dengan tulisan yang aku cari. Mobil aku jalankan pelan, nah, tujuan sebelum tujuan utama telah aku tamui, warung makan dengan menu utama tahu gimbal. Aku memesan satu, ya satu karena si mbrot kesayanganku ini sedang tidur. Sepiring penuh dengan isi satu setengah porsi, aku melahapnya di jok pengemudi.

“Hmmm… gituuuu, makan-makan sendiri” ucap Mbak Lisa dari sampingku

“Lho sudah bangun to? Aku kira masih tidur ha ha ha” ucapku, setelah menelan makanan

“Dari tadi waktu kamu keluar dari mobil, aku juga sudah bangun, kamunya saja gak bangunin aku. Makan sendiri lag…” ucapnya terhenti ketika aku menyendok dan langsung aku dekatkan kemulutnya

“Eh, nyammmm…..” dia mengunyah, bibirnya tampak tersenyum walau dia sedang mengunyah

“Pedes?” ucapku, dia mengangguk. Aku ambilkan minnuman mineral, dan kuberikannya.

“Aaaahh… pedes kaya gitu, baru tahu kalau kamu suka sama makanan pedas” ucapnya

“Kok tahu?” ucapku

“Tuh, pedes kaya gitu kamu tetep saja nyantai makan” ucapnya

“Habis manis sih…” ucapku

“Pedes kok manis, kamu itu gimana sam?” ucap mbak Lisa

“Iya tahu gimbalnya pedes, tapi yang dilihatkan manis jadi betah walau sepedes apapun” ucapku, tangannya langsung memukul lenganku

“Gombal…” ucapnya, tangan kirinya memangku pipinya, wajahnya memandang keluar. Tampak sangat manis, manis sekali. Aku tersenyum bahagia ketika melihat wajahnya, dan segera keluar mengembalikan piring kotor. Dari luar kulihat dia tersenyum kepadaku. Segera aku masuk dan kembali mengemudi.

“Lurus terus, mpe ketemu penginapan Melati Indah” ucapnya

“Menginap?” tanyaku, dia mengangguk

“Kenapa?” ucapnya

“Waduh,… aku belum ngomong sama anak kandang, tapi ya nanti aku sms saja. kok pakai menginap?” tanyaku

“Malas aku pulang kerumah, sepi disana kan udah tahu kalau aku sudah pisah sama ortuku. Kamu sih disuruh main kerumah gak mau terus” ucapnya

“Ya, karena ndak enak sama tetangga” ucapku

“Tetangga adapun juga gak bakal protes, ya karena kamu gak mau main aku ajak jalan-jalan saja. gak tahu kenapa aku selalu pengen ketemu ma kamu akhir-akhir ini. lucu sih kamu… hi hi hi” candanya, aku tersenyum.

Memang aku lucu, kaya sikomo tapi dalam versi nyata, alias komodo. Eh, ya ndak juga sih, aku lebih cenderung mirip Hulk, tapi ya tampan aku dikitlah. Walah, ternyata Mbak Lisa kalau udah bercanda ngakaknya sampe ndak berhenti-henti, baru berhenti pas sudah mau sampai di penginapan. Pesan kamar, terus ke kamar.

“Kenapa?” tanyanya

“Bingung saja, kenapa harus satu kamar?” ucapku

“Ya gak papa kan. Ngirit hi hi hi…” ucapnya, haduh, dari belakang itu bokong serasa mau tumpah

“Aaaaaa….” teriaknya berlari setelah membuka pintu kamar, tanpa tedeng aling-aling, langsung melompat ke ranjang

Bagaimana ya kalau aku yang… ndak jadi, ndak jadi. Jawawannya cuma satu, jebol. Walah, kalau tak pandang-pandang kok ya tambah nggemesin ini cewek. Tubuhnya miring, kepalanya disangga dan menghadapku, yang duduk disalah satu kursi didalam kamar. Haduh, ndak konsen aku, ndak konsen, itu terlalu besar, terlalu mencolok mataku. Susunya, woi, susunya,… itu susu cewek apa melon sebenarnya?

“Keluar yuk jalan-jalan…” ucapnya, aku ngangguk-ngangguk,

Weleh, senyumnya, apalagi pas dia berdiri terus berjalan ke arahku, kaya kena gempa susunya. Ah, ratu kecilku ini, dengan lembut menarik seorang lelaki besar, kuat, tampan. Tapi yang kok kuat ya mbak Lisa ini? ah, bahaya ini, beratku it 120 Kg, tapi kok dia bisa narik aku segampang ini? waaaah, eh, hmmm… ternyata aku tahu, hatiku ikut tertarik.

Dalam mobil, menuju ke sebuah perbukitan, yang kata mbak Lisa, disana ada hamparan rumput yang hijau dan pemandangan yang indah. Setelah sampai, hawa disana panas namun dingin, penat namun bahagia, hlha jelas didekatku ada bidadari. Aduh, senyumnya, huft, rasanya ingin aku jilati

“Enak ya deket ma kamu?” ucapnya duduk dan menyandarkan punggungnya di lengan kananku

“Woooo jelas dong, Samo gitu… eh, tapi… kok bisa?” ucapku

“Bisa buat sandaran…” ucapnya

“lhadalah… mentang-mentang aku gemuk, bisa dijadiin kasur bantal sofa gitu yah?” ucapku

“Sandaran tubuh dan hati…” pelan tapi hatiku kaya meleleh, aku meliriknya tapi dia melihat ke arah lain

“Eh, lihat deh itu cantik ya awannya nutupi matahari. Jadi adem…” ucapnya

“Sama…” ucapku

“Kok sama?” ucapnya

“Matahari kan panas, awan dibawahnya agar yang dibawah terasa adem. Sama, sama kayak yang disampingku… ngademin hati terus…” ucapku, punggungnya semakin mundur mendorongku

“Gombal…” jawabnya

“Ya deh, besok gombalnya aku cuci biar bersih” ucapku

“Gak usah baunya enak hi hi hi…” jawabnya, wah jawabannya, membuat hatiku berbunga-bunga,

Seharian aku bersamanya hingga menjelang maghrib dan kembali pulang. Sebelumnya kami mampir untuk makan sejenak, dan menikmati makanan khas dari perbukitan ini. selepasnya aku kembali ke penginapan, menonton televisi 21 inch dengan layar yang tidak mencembung seperti di desa.

Gambarnya jernih tak ada semut-semut nakal didalamnya, benar-benar berbeda dengan yang didesa. Kami berdua duduk di sebuah karpet tipis, dan aku duduk bersandar pada ranjang tempat tidur dengan kaki kananku ku tekuk sedang kaki kiriku lurus. Mbak Lisa kemudian memeluk kakiku, dagunya bersandar pada ujung lututku.

“Mbak…” ucapku

“Hm…” gumamnya, dengan tetap melihat ke arah TV

“Sebenarnya kalau jalan bareng aku, ada yang marah ndak mbak?” tanyaku, memberanikan diri

“Marah kenapa?” dengan santai dan tetap melihat ke arah TV

“Ya, itu mbak, pacar atau… kan mbak sudah tahu trek rekot-ku mbak” ucapku

“Hi hi… kan aku juga sudah bilang kalau aku sudah gak ada yang punya” kepalanya sedikit menoleh kebelakang

“Kenapa harus aku?” ucapku

“Gak suka? Ya sudah, kita pulang” jawabnya

“Bu-Bukan begitu mbak, itu gini mbak…” mau ngomong yang penting saja susah sekali, dan ini benar-benar membuatku gugup

“Samoooo…” panggilnya lirih

“Aku nyaman, selalu terlindungi, ketika bersamamu…” jawabnya

“Anu mbak, itu, aku sedikit takut…” jawabku, dia bangkit, berbalik, punggungnya kini bersandar pada kakiku yang aku tekuk. Tangan kirinya meraih tangan kananku, tangan kanannya meraih tangan kiriku dan digenggamnya erat.

“Takut kenapa? yakin, gak bakal ada yang marah kok” ucapnya. Aku tersenyum

“Takut…”

“Takut, takut jatuh cinta sama mbak” jawabku tertunduk, baru kali ini selengekanku hilang, kebuasanku hilang

“Teruus?” ucapnya, dengan wajah mengejar wajahku

“eh.. i-itu, a-aku…” Aku gugup

“he’eeeeem..” aduh, benar-benar semakin membuatku gugup, padahal aku orange gede kaya gini, bisa gugup juga

“Hufftth….” hela nafasku, aku angkat wajahku dan kuberanikan memandangnya

“Terus, aku ingin mbak nunggu aku. 4-5 tahunan gitu mbak” aku gugup

“4-5 tahun lagi? Buat apa? Kamu itu aneh-aneh saja” jawabnya, ujung telunjuk kananya menyentuh ujung hidungku

“Lha aku kan dah bilang mbaaak, kalau aku jatuh cinta sama mbak. dan jujur pengen bareng mbak terus” jelasku, suasana sedikit cair

“Be-begini mbak, mungkin sekarang kan aku masih mahasiswa, ndak punya apa-apa. Tapi aku janji setelah lulus nanti aku mau cari kerja biar…” ucapku bibirku tertutup bibirnya

“Biar kamu bisa pergi sama cewek lain? Sekarang bareng sama aku terus nanti kalau sudah bosan dan dah punya kerja sama cewek yang lain” ucapnya dengan wajah dekat denganku

“Pikiran kamu ternyata lebih ngeres daripada ku ya yang…. Bukan gitu mbak, iiiih tambah manis deh… ya biar bisa menikahi mbak, itu pun kalau mau menunggu” aku semakin berani, keberanianku kembali, keberanian 120 Kg-ku.

“Nunggu sih gampang sam… aku juga gak nyangka kamu bisa ngomong gitu, kenal juga baru 6 bulan, sama janda lagi, bahasa kerennya jendes. Aku ini kan bekas lho, masih mau?”

“Aku bukan orang baik lho, buktinya suamiku ninggalin aku” jelasnya

“walah, kok malah bahas janda dan bekas? Aku itu mbak, pengen sama mbak gitu, udah itu thok (saja) mbak. karena aku nyaman, dan enak jalan sama mbak”

“Baik atau tidak, itu tergantung orang lain yang menilai bukan diri sendiri” jelasku, dan kalimat terakhir itu adalah kalimat Arta di masa yang telah lampau

“Beneran kamu mau sama aku???” ucapnya dan aku hanya mengangguk

“Kok gak jawab?” ucapnya

“Iya mbak aku mau, asal mbak mau nunggu aku mbak…” ucapku

“Ini masih 6 bulan kamu disini, dan butuh 3,5 tahun lagi untuk mencapai itu semua. Dan pastinya akan ada banyak hal yang akan kamu temui diluar sana. Kalau menunggu, aku jelas mau sayang. Dan yang jelas kamunya… masih mau tidak sama cewek lebih tua 5 tahun dari kamu, umurku jadi 28 lho, nantinya…” ucapnya

“Bodoh amat ama umur… bilang ya atau tidak kenapa?” ucapku semakin malas karena ucapanya mutar terus

“Iya Samo.. aku mau nungguin kamu, kamu?” ucapnya

“Sipz! Aku mau… janji ya?” ucapku

“He’em…” janji

Jari kelingking kami bersatu, smnyum dibibir kami mengembang. Entah bagaimana, bibirku dan bibirnya menyatu. Tangaku sudah mendekap seluruh tubuhnya terhalang oleh perutku yang membludak tapi aku masih bisa merasakan dada yang terbalut tank top hijau itu menyentuh dadaku. Dengan tubuh kecilnya itu dia mulai duduk diatas pangkuanku. Menarik kaosku hingga terlepas.

“Iih… sayang punya susu juga kaya aku ya?” ucapnya memanggilku sayang

“Masa?” ucapku

“Nih…” ucapnya sembari melepas tank-topnya dan memperlihatkan buah dada yang terbungkus bra itu

“Ndak kelihatan” ucapku tersenyum nakal

“Iiih… nakal deh, buka sendiri dong, masa dibukain” ucapnya, senyumku mengembang dan langsung menarik pengait di belakang punggungnya, kulepas dan kulempar

“Suka mas mmmmmmpppphhhh… pelan itu sensitifhhhhhh ughh….” desahnya ketika aku sudah terbuai dengan keindahan gunung kembar yang menggantung indah, sedikit melorot namun masih tetap menggairahkan

“Remas pelanhhhh erghhh sedothhhnya pelannn sayanghhhh…” desahnya

Aku terus menyusu pada susunya dan menyedotnya dengan kuat. Kedua tangannya mengelus kepalaku dengan lembut. Didorngnya kepalaku agar lepas bibirku dari susunya. mundur sejenak dan melepas semua yang terpakai dan yang menutupi bagian kakinya. Kemudian dia duduk lagi dipangkuanku dan langsung melumat bibirku.

“Suka sayang sssh… mmphhhh” ucapnya disela-sela ciuman kami, aku mengangguk

Tanganku mulai meremas susu indahnya, ciumannya bergeser kebawah menuju leherku yang tertimbun lemak. Semakin turun dan hingga ke bagian dadaku. Jilatannya memainkan putingku.

“Slurrp… sayang punyamu mirip punyaku ya besar hi hi hi” ucapnya, aku hanya mengelus kepalanya. Jelas saja mirip, dengan tubuh besarku pasti bagian dadaku dipenuhi dengan lemak.

Tubuhnya turun seiring dengan ciumannya. Hingga ditariknya celanaku dengan susah payah. Batang kemaluanku tegak dan berdiri, kalau dulu waktu aku pacaran dengan istri orang, batang kemaluanku adalah kesukaannya.

“mmmh, besar yang…” ucapnya, argh, entah kapan ini semua terjadi. Wedew, pemandagannya.

“Slurp… mmmhh…”

Jilatan pada ujung penis dan kemudian turun hingga pangkal, naik kembali dan langsung melahap batang penisku. Mulut indahnya maju mundur dengan lidah yang menyapu batang kemaluanku.

“Ughhh…. mmmmhhh… enak mbak…” ucapku, tiba-tiba dia melepas

“Kok mbak sih? Huh” ucapnya ngambek

“Mmm maaf, sayang…” ucapku kemudian dia tersenyum dan mulai melahap kembali

Kepalanya maju mundur, llidahnya menari disetiap sentimeter batangku. Hanya sebagian yang masuk dimulutnya. Aku tak tahan, aku pegang kepalanya dan mulai memaju mundurkan kepalanya. Tak ada penolakan, tapi sedotannya semakin kuat dan kencang.

“Ah sayang aku mau keluar….” racauku

“Mmmppph… mmppphh… ” jawabnya

Ketika aku menekan pelan kepalanya, pertanda aku akan keluar tampaknya dia lebih tahu daripada aku. Bibirnya semakin maju dan melahap batang kemaluanku, dan

Crooot… crooot.. crooot…

Pelan, bibirnya keluar tanpa ada celah antara bibir dan batang kemaluanku. Mundur dan duduk bersimpuh didepan selangkanganku. Ditelan secara perlahan, dan tersenyum manis. aku bangkit dari sandaranku dan kuangkat tubuhnya. Kuarahkan selangkangannya tepat di wajahku dan lidahku mulai bermain di vaginanya.

“Arghh… sayang Samoooo… mmmh… enak sayanghhh…. ah ku belum pernah sayanghhh….” ucapnya yang diawal tak ada penolakan

“Arghh…. enak lidah kamu enak banget sayanggghhh…” ucapnya

Jariku masuk dan mulai mengocok vaginanya, semakin lama kocokan semakin kuat dan…

“Arghhh ya terus… mmh… arghhh terussshhh…. sedikit lagi aku arghhhhhhhhhh…..” teriaknya, tubuhnya mengejang. Kakinya tidak kuat menahan tubuhnya dan ambruk, dan duduk kembali dipangkuanku dengan tubuh melekat dengan tubuhku.

“Ash ash ash… bener-bener hebat kamu sayang, baru pertama ada yang memperlakukanku seperti ini…” ucapnya dengan nafas tersengal, sedikit desahan manjanya

“Untukmu apapun yang kamu mau, sayang…” godaku dengan wajah nakalku

Selang beberapa saat, aku angkat tubuhnya. Bibir kami saling melumat, lalu kurebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Ku buka kedua paha putihnya itu, sedikit aku mainkan kepala penisku naik turun.

“Cepetan sayaaangghhh dah gak tahan nih…” ucapnya

“Mau sayang?” godaku, kurahkan batang kontolku

“Iya sayang mau” jawabnya, wajahnya sayu, nafasnya sudah sedikit tidak teratur

“Mau apa hayo?” godaku sekali lagi

“Kontol sayang, kontol sayang agghhh…. pelannnhhh… itu sudddddah lama gak ada yanghhh masukhhh” ucapnya, dan aku terus menggoyang pinggulku pelan

Sulit bagiku untuk membungkuk dan mencium bibirnya karena perut buncitku yang membuatku sedikit kesusahan. Tapi kedua tanganku tak tinggal diam, ku remas kedua susu besar bak pepaya itu. kumainkan putingnya, matanya terpejam dan hanya desahan yang aku dengar.

“Sssh… terusssshhh kerasa bangetthhh ssshhh aahhhhh besar aaaahhh lebih besar… erhhhh, penuh sekali sayanghhh ” ucapnya, aku semakin menggoyangnya lebih cepat

“Aku ingin kamu selalu yang beraddddahhhh didalammmhhhh ohhhhh sayang enak bangettthhh…” ucapnya

“Sama sayang vaginamu sempithhhh owhhhh yahh enak sayanggghhhh…” ucapku

“Terussshhh lebih kerassshhhh…. mmmmhhhh arghhh mentoooookkkkkhhhhh arghhhhh….” desahnya

Aku hanya berada pada posisi konvensional ini saja, goyanganku semakin kencang. Vaginanya tampak semakin sempit dan kurasakan menjepit batang kemaluanku.

“Argghhh sayangghhhh kontollllhhhh arghhh kontooooooollll yaaaaahhh teruuusssssshhh…. sedikit lagiiihihhhh”Ucapnya dengan mata terpejam, bibir terbuka sedikit

“Aku jugaaahhh sayanghhhh erghhhh….yaaaahhhh…. ” ucapku

“Barenghhhh….. mmmmhhh…. arghhh kerasssshhh lagiiiihh…” racaunya

Dan… kuhentakan keras hingga terasa sangat mentok didalam… tubuhnya melengking,

Crooot… croooot… crooot…

Langsung mengejang bersama, kurasakan air hangat mengalir di dalam vaginanya. Kedua tanganku tepat disamping kanan-kiri kepalanya. Wajahnya terpejam dan mengejang sesaat. Selang beberapa saat matanya terbuka dan melihatku dengan senyuman kepuasan.

Aku ambrukan badanku kesampingnya hingga batang kemaluanku lepas. Kupeluk tubuhnya dan kucium lembut pipinya. Dia menoleh ke arahku…

“Gak boleh yang lain, pokoknya hash hash… masuknya Cuma disini” ucapnya sembari memegang batang kemaluanku, aku mengangguk. kami berciuman lagi.

“Baru kali ini aku merasakan nikmat yang” ucapnya

“Aku juga, denganmu berbeda…” ucapku dan dia tersenyum

Aku memeluknya dan mencium keningnya, kami tertidur dalam ketelanjangan kami…

***

“Malam yang indah bersamamu…” ucapnya dengan manja Lisa duduk dipangkuanku

“Ndak nyesel kan?” ucapku, dia mengangguk

“Nyesel berarti?” ucapku dia mengagguk

“Nyesel ndak dari dulu ketemu kamunya hi hi hi muach…” ucapnya

“Yeeee… kalau ketemu dari dulu, eh… belum mudeng kali aku yang” ucapku

“Iiih… berarti mulai besok, harus nginep di rumahku, okay?” ucapnya, aku mengangguk

Setelah percakapan itu, aku menggandengnya pulang. Aku menoleh kebelakang dan kulihat wajanhya memerah serta menunduk. Tak lupa aku membawakan oleh-oleh untuk dua sahabatku. Di dalam mobil, dia bersandar dibahuku sesekali mengelus batang kemaluanku.

“Adeeek… ingat ya, ndak boleh masuk ke yang lain, awas kalau masuk ke yang lain” ucapnya

“Itu adeeeknya juga dikasih tahu, jangan mau dimasuki sama yang lain” ucapku

“Kalau ini, sudah kena segel sayang… kena segel ontol amo…” ucapnya

“Iiih kasih nama sendiri, lha terus itu namanya apa?” ucapku

“Emek isa… hi hi hi…” ucapnya

Kami bercanda, hingga dia tertidur di kursi. Aku terus memacu mobil ini hingga sampai didepan kos. Ketika aku keluar dari mobil, Lisa berpindah ke jok kemudi. Sebelum pintu ditutup, tangannya meraih leherku dan langsung melumat bibirku.

“Makasih sayang… penuhi janjimu sayang, aku akan menunggumu” ucapnya

“Pasti sayang…” jawabku

Bunyi klakson panjang dan kemudian dia menghilang. Kupandangi, mobil itu menghilang dan hilang sudah dari pandanganku. Aku tersenyum, lalu berjalan dengan hati riang gembira. Berjalan pulang menuju kandang dimana kedua sahabatku telah menunggu.

Bersambung