Berbagi Cinta dan Nafsu Part 9

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20

Berbagi Cinta dan Nafsu Part 9

Start Berbagi Cinta dan Nafsu Part 9 | Berbagi Cinta dan Nafsu Part 9 Start

9. Bahagia atau sedih

3 bulan sudah aku menjalani hubungan yang membingungkan seperti ini. Aku tetap bersama Wulan dan juga Sari dalam waktu yg bersamaan. Hanya pintar-pintar mengatur waktu supaya masing-masing dari mereka tidak mengetahui borokku.
Yang lebih menyedihkan adalah, kedua wanita ini semakin menunjukkan sikap dan perilaku yang seolah menunjukkan betapa sayangnya mereka kepadaku.
Menyedihkan, disaat mereka berjuang mencintaiku, disaat yang sama aku menghianati masing-masing dari mereka.
Memilih salah satu, akan membuat salah satu sakit hati. Jujur, itu sangat berat. Kebaikan Wulan dan Sari tidak bisa dibandingkan. Tidak ada pilihan lain, aku mencintai keduanya. Terkesan maruk dan serakah, tp inilah kenyataannya. Orang bilang cinta sejati tidak bisa terbagi. Lantas apa namanya yg kualami saat ini? Aku mencintai keduanya tulus.

——————————————————————–
“Mas Adi dmn?” terdengar suara Sari di seberang telepon.
“Aku msh kerja, gmn Sari?” jawabku.
“Mas, Sari pengen ketemu. Ada yang mau kubicarakan dengan mas Adi” ujar Sari
“Boleh, sejam lagi aku pulang. Tunggu di kos kamu ya”

Sejam kemudian, aku meluncur ke kos Sari. Kuketok pintu kos.
Sari membuka pintu, muka nya nampak pucat.

“Sayang, kamu sakit?” tanyaku sambil menghampiri dan memeluknya.
Sari menggeleng.
“Mas Adi sayang ga sama Sari?” ujarnya.
“Sayanglah, knpa kamu tanya begitu?”
“Mas, ada yang telah terjadi dr apa yg sudah kita perbuat” Sari melanjutkan.
“Maksudnya?” aku masih belum mengerti.
“Sari…..Sari hamil mas.”

Sari terisak, dipeluknya tubuhku erat. Aku kaget mendengarnya. Pikirku melayang kemana-mana.
“Mas Adi, mas mau bertanggung jawab kan?” Sari mengucap pelan. Tangisnya belum berhenti.

“Sari tahu dari mana kalo hamil?” tanyaku.
“Sudah 2 bulan ini Sari tidak datang bulan mas. Kemarin Sari tespack, hasilnya positif. Masih belum yakin, tadi Sari ke dokter. Hasilnya Sari positif hamil 7 minggu” Sari menjelaskan.
”Mas Adi, Sari takut….” Sari kembali terisak.

Kutarik nafas dalam-dalam, kupeluk Sari. Kubelai rambut dia dengan lembut.

“Sari, apa yang terjadi karena perbuatanku. Aku bertanggung jawab. Jangan takut sayang, aku akan segera melamarmu” Suara ku keluar dengan berat. Namun satu hal yang wajib kuyakinkan, aku bertanggung jawab.
—–

Malam itu, aku tidur di kos Sari.
Tidak ada canda diantara kita, dan tentunya tidak ada sex.
Aku sibuk meyakinkan Sari, bahwa aku serius dan bersungguh-sungguh untuk bertanggung jawab.
Sari terlelap menjelang malam, mungkin karena terlalu lelah menangis. Dia tertidur di pelukanku. Dipelukan orang yang akan menjadi suaminya. Kupeluk Sari erat-erat.

“Bagaimanapun juga, anak yang diperutmu adalah anakku, aku akan memcintaimu, menjadi suami yang baik buat kamu Sari” batinku.
Kukecup kening Sari.
Aku belum bisa terlelap. Pikiranku kemana-mana. Bukan bertanggung jawab dan menikahi Sari yang menjadi beban utamaku. Tapi bagaimana aku menjelaskan ke Wulan dan bagaimana harus melepaskan Wulan.
Terbayang di kepalaku, wajah Wulan yang kecewa dan hatinya yang hancur karena perbuatannku. Tapi bagaimanapun juga itu harus aku sampaikan ke dia, aku tidak akan lari dari tanggung jawabku ke Sari.
Berat dan berkecamuk.
Menjelang pagi, aku baru terlelap.
————————————————————–

Hari ini harusnya libur tanggal merah. Tapi aku harus bekerja karena ada laporan yang harus kuserahkan ke vendor besok pagi. Aku meminta asistenku Vivi untuk ikut datang mengerjakan laporan.

“Mas Adi kenapa sih? lagi galau ya? dari tadi murung mulu” tanya Vivi yang melihat aku seperti orang bingung. Ya, apa yang disampaikan Sari semalam membuatku hari ini kacau karena pikiranku kemana-mana.
“Gapapa Vi” balasku pendek.
“Ayolah mas, cerita aja. Salah mulu ni mas daritadi koreksi kerjaan Vivi” ujarnya.
“Vivi dah ikut mas setahun lebih, baru kali ini lihat mas kaya gini. Pasti mas lagi ada masalah” Vivi menambahkan.
Vivi bergeser duduk di sebelahku. Saat ini aku sedang berada di ruang kerjaku, aku duduk di sofa kecil yang ada dalam ruangan kerjaku.
Vivi duduk disebelahku.
“Cerita saja mas sama Vivi, terkadang dengan cerita ke orang beban masalah kita bisa sedikit terasa ringan”

“Gapapa Vi, iya memang ada masalah. Tapi aku lagi gak pengen cerita” balasku.
” Yaudah mas, gini aja biar Vivi yang kerjain semua. Mas Adi balik aja deh kerumah gapapa, istirahat. Kalo ga sana pergi nonton, atau kemana cari hiburan” ucap Vivi.
“Hehee..jangan kasian kamu. Kerjaannya banyak. Lagian lagi ga minat cari hiburan” balasku.
” Yakin mas? kalo Vivi yang hibur saja gmn mas?”
“Maksudmu Vi?” jawabku kaget.
Vivi tidak berkata-kata membalas ucapanku. Namun tiba-tiba dia peluk tubuhku dan dikecupnya bibirku.

“Hey, Vi km ngapain?” balasku kaget dengan aksinya.
“Udahlah mas, ayo…” Vivi tersenyum sambil kembali melumat bibirku.
“Vivi, kamu gila…ah jangan” ujarku.

Vivi tidak bergeming justru semakin liar, kali ini dia malah menjilat lidahku.
Aku pun tanpa sadar membalas ciumannya.
“Ah bodo amat… dia yang mancing” batinku.
Aku pun membalas lumatan Vivi, kulanjutkan dengan melumat bibir dan telinganya. Vivi tersenyum, nampaknya bahagia aksinya kubalas. Tangan Kiri Vivi berpindah ke celanaku. Sejurus kemudian dia remas-remas kontolku yang masih terbungkus celana. Gairahku bangkit.
Aku benar-benar terangsang hebat. Aku pun menyerang Vivi dengan balasan yang lebih panas.
Vivi , asisten kantorku sekaligus istri teman ku saat ini sedang memacu nafsu denganku. Aku seperti lupa dan tidak peduli.
Kuremas-remas toket Vivi yang membusung dan masih terbungkus baju kerja.

” Ahhh mass Adii….Ahhhh…oh” rintih Vivi.
Kami pun saling serang dengan lidah dan cumbuan kami.
Nafsu kami berdua benar, benar memuncak ssmpai tanpa sadar kita telah sama-sama telanjang bulat. Tubuh kami berpelukan erat. Kurasakan toket Vivi yang bulat menempel di dadaku.

Vivi berjongkok dihadapanku.
” Ohhh Viiii….Ahhhh” jeritku ketika batang kontolku dijilat dan dikulum Vivi dengan kasar. Gila memang, Vivi nampak liar saat bercinta. Hal yang tidak kuduga sebelumnya.
Linu dan geli kurasakan pada kontolku yang sedang disedot Vivi dengan bibirnya yang sexy. Aku sudah tak tahan. Aku benar benar terangsang dengan aksinya. Nafsu liarku memuncak.
Kutarik tubuh Vivi, hingga dia telentang di sofa. Kuarahkan kontolku ke memeknya dan kudorong “BLESSZS”
Seluruh batang kontolku ambles kedalam memek Vivi.

” Ahhhh….ahhhhh..owhh…mas Adi..ajhrgrhhhh….ah” Vivi melolong kenikmatan.

Ku pacu cepat kontolku di memek Vivi.
“Mas…..enakkk….ahhhbhhh….owhhhhh…..mas…..ahhhhhhhh…..” Baru 5 menit Tubuh Vivi mengejang. Begitu cepat dia mendapatkan orgasme.

Aku lanjutkankan sodokanku. Aku tumpahkan segala bebanku ke tubuh Vivi. Fakta bahwa dia adalah istri sah sahabatku pun ku abaikan.

” Maaf Alfred, tubuh istrimu benar-benar nikmat dan menggoda” batinku.
“Arghhhh…..ohhhhh….ohhhh. ahhhhhh…..
aghhhh…owhhh..” kami saling bersautan merintih dan mengerang mengumbar nafsu. Tubuh indah Vivi dan bayangan Alfred suaminya semakin membuat nafsuku meninggi.
” Enak ga vi? Enak mana dibanding Alfred? ” tanyaku
“Ahhh mas… Enakan mas Adi,…ahh” jawab Vivi

” Apanya yang enak,….?” pancingku
“Ohhh…Kontol mas Adi lebih enak, mas Adi ganteng dan jantan…ohhhh…enak mas….ohhh Vivi suka. Ahhhh Suami Vivi lemah mas….ahhhh mas…ahh” Vivi meracau liar. Kalimat yang keluar dari mulut Vivi semakin membuat nafsuku makin naik. Tempo sodokan kontolku kupercepat. Memek Vivi nampak merah merekah dibelah batang kontolku.

Sudah 1 jam lebih kita memacu birahi. Rintihan dan erangan nilmat bersahut -sahutan keluar dari mulut kami. Sudah 3 kali Vivi menggelinjang mendapatkan orgasmenya. Peluh membanjiri tubuh kita berdua.Berbagai posisi telah kita lakukan. Satu hal yang luar biasa, Vivi sang asisten kerjaku sekaligus istri sah temanku yang kesehariannya kalem ternyata liar saat memacu birahi.

Ahhh…Aahhh.ahhhh…ohhhhhhh…oh” rintihan nikmat kita bersahut-sahutan.

“Mas…ohhh….Vivi dah mau sampai lagi…ahhhh” Ujar Vivi.
“Aku juga vi, Aku keluarin dmn?” tanyaku.
” Di dalem…ahhhh…di dalem aja, mas Adi sayang….Argh…oh” tubuh Vivi kembali mengejang. Kulanjutkan sodokanku.
Spermaku terasa mendesak di batang kontolku.
Kuhujam dalam-dalam kontolku didalam rahimnya, dan…

“Ahhhhh…..ahhhhhh….Ahhhhhhhh..Ouwhh…..ohhhh….!!”
“Mas Ahhhhh….aghhhh….”
” Owh….keluar Vi…ohhh!!”

“Croooot…crot…Crooottt….croooot…crot”
Sperma kental ku menyembur di dalam memek Vivi. Tubuh Vivi menggejang, matanya sayu memandangku. Tangannya meremas-remas toketnya sendiri. Vivi pun menggelinjang nikmat setelah memperoleh orgasmenya. Batang kontolku diguyur cairan kenikmatan Vivi didalam memeknya. Tubuh kami berdua melemas.
Kucabut kontolku dan kuarahkan ke mulutnya. Vivi liar menjilati batang penisku dari ujung sampai pangkal hingga bersih dari lelehan sperma.

Kusandarkan rubuhku di badan Vivi yang masih terlentang di sofa. Sambil kuremas-remas toketnya aku berkata:
” Maaf ya vi”
“Kenapa mas? Lagian aku yang memancing mas..” balasnya
“Ya gimanapun, kamu istri sahabatku. Aku merasa berdosa sama Alfred ” ujarku
” Udahlah mas, g usah bahas Alfred. Lagian dia yang bodo, punya istri tapi disia-siakan. Harusnya dia berterima kasih ke mas Adi, yang sudah bisa bikin istrinya puas” Vivi melanjutkan.
“Kenapa begitu Vi?” tanyaku.
Vivi beringsut bangkit, di duduk di pangkuanku.
“Mas, suami Vivi itu bodo, sibuk kerja mulu. Ini buktinya tanggal merah dia ga balik, malah ambil lembur. Lagian dia juga payah, kalo kita berhubungan mas maunya cm nusuk doang habis itu keluar udah. Itupun cuma bentar. Vivi ga pernah orgasme mas, ML sama suami. Baru ini sama mas Adi, Vivi merasa dihargai lagi jadi perempuan, Vivi bisa meraskan orgasme. Suami kaya gitu jadi pantaskan Vivi minta dipuaskan laki-laki lain. Dan ternyata orang yang bisa melakukan itu mas Adi..hehee” jelas Vivi panjang lebar.
“Kamu ga nyesel Vi” ujarku lagi.
” Engga mas….” ucap Vivi sambil tersenyum.
” Lah ini tadi aku semprotin dalam gapapa? ” Aku pun teringat tadi kontolku muntah sperma di memeknya.
“Mas Adi sayang, gapapa kali. Vivi dah 3 tahun nikah gak punya anak, mandul kayanya si Alfred itu mas. Malah seneng kalo bisa hamil dari mas Adi. Pasti anaknya ganteng kaya mas” ucap Vivi sambil terkekeh.
“Lagian kan aku ada suami, pasti dia kira anaknya kalo aku hamil..hehee” Vivi melanjutkan.
” Jadi kapan2 boleh minta lagi ni?” ucapku nakal.
” Kapanpun mas Adi mau tinggal bilang, terserah sampai kapan . Sampai Vivi bunting atau sampai mas Adi bosan Vivi siap..hehee” ucap Vivi sambil tertawa genit.
“Kalo ketahuan Alfred terus km dicerai? ” tanyaku.
“Tinggal iyain aja, Semyumin dan sekalian bilang habis kontolmu lemah sih mas. Jadinya memek istrimu di disodok kontol yang lebih jantan” ujarnya.

“Hahaaaaa…Dasar kamu, Istri nakal” kataku sambil mencubit pantatnya.
” Udah yok pake bajunya, kita lanjut kerja.” ujarku.

——————————————————————-
Sore jam 6 aku baru sampai rumah. Kerjaan yang menumpuk dan pertempuran dengan Vivi siang tadi benar benar menguras tenagaku.
Aku masuk gerbang rumah. Kuparkir mobilku. Ketika aku hendak menutup pagar, kulihat ssbuah taxi berhenti di depan rumahku. Sesosok dara cantik keluar dari dalam taxi.
Wulan.

“Halo sayang…baru balik” ucap Wulan sambil tersenyum manis.
“Baru juga masuk gerbang “kataku sambil membalas senyumnya.

Aku gandeng tangan Wulan masuk ke rumah. Tiba-tiba pikiranku teringat, ada sesuatu yg harus kusampaikan ke dia.

Kamipun ngobrol seperti biasa di ruang tengah. Hatiku bimbang, antara iya dan tidak untuk menjelaskan ke Wulan. Aku bersikap seperti tidak terjadi apa-apa. Setengah jam kemudian, aku mulai rilex dan kucoba menyampaikan ke Wulan..
“Sayang..” ujarku.
“Iya yang ” balas Wulan
“Aku…” Aku baru satu kata ketika tiba-tiba Wulan memotong.
” Adi…aku ke sini ada yang penting yang harus kusampaikan. Entah ini bahagia atau sedih buatmu. Tapi aku harus jujur denganmu di” terang Wulan.
“Apa sayang? ” tanyaku.
” Adi sayang… aku hamil. Aku hamil anakmu di….” Mata Wulan sayu menatapku tajam.
Aku terdiam, tidak menyangka dengan yang akan Wulan sampaikan.

kami sama- sama terdiam…..

———————————————————————

BERSAMBUNG

END – Berbagi Cinta dan Nafsu Part 9 | Berbagi Cinta dan Nafsu Part 9 – END

(Berbagi Cinta dan Nafsu Part 8)Sebelumnya |Bersambung(Berbagi Cinta dan Nafsu Part 10)