Berbagi Cinta dan Nafsu Part 8

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20

Berbagi Cinta dan Nafsu Part 8

Start Berbagi Cinta dan Nafsu Part 8 | Berbagi Cinta dan Nafsu Part 8 Start

8. Selalu membuatku bahagia

“Siang mas” Pintu ruanganku terbuka. Vivi, asistenku di kantor masuk dengan membawa setumpuk kertas.

” Yaa siang Vi, ada apa?” Balasku.

“Ini mas, kontrakan untuk mess karyawan yang di jalan Godean sudah mau habis akhir bulan ini, ini ada penawaran dari pemilik kontrakannya mas. Harga bisa diskon 2 juta per Tahun, tapi minimal sewa harus 3 tahun” ujar Vivi.

“Ohh yaudah gapapa, Sekalian aja Vi ambil 5 tahun, syukur-syukur bisa ditambah diskonnya. Kamu bantu nego ya. Soalnya itu sekalian yg dibelakangnya mau tak jadiin gudang. Kamu tolong urus ya Vi, ini bentar lagi saya harus ketemu orang. Besok jg, jadi tolong kamu yg ketemu pemiliknya ya.” balasku.

“Ok, siap mas Adi” kata Vivi sambil berjalan keluar.

“Makasih Vi”

Vivi adalah salah satu asistenku di kantor. Orangnya pintar dan cekatan. Usianya 2 tahun diatasku. Selain itu dia orang yang jujur dan loyal sehingga aku selalu percaya banyak hal dalam urusan kerja ke dia. Hanya dia yang berani memanggilku “Mas” dikantor ini. Aku sih tidak mempermasalahkan, toh bagiku kinerja yang menjadi utama. Vivi sebenarnya lumayan manis, namun sebagai atasan aku harus menjaga sikap. Vivi sudah menikah, namun belum punya anak. Suaminya Alfred, teman kuliahku, dia kerja di bandung dan 2 minggu sekali balik ke rumahnya di jogja.

————————————————————–

Jam 3 sore.

Sudah 1 jam aku duduk di excel*o Galeri* Mall menunggu klien yang akan bertemu untuk urusan kerja. Sampai kemudian kuterima telepon darinya dan memberi kabar jika pesawatnya dari Surabaya di cancel. Meeting dibatalkan dan ditunda besok pagi.

Aku pun segera memacu mobilku pulang ke rumah. Rasanya jengkel sekali dengan sikap kerja orang-orang yang tidak profesional.

Kulemperkan tas kerjaku di ranjang, kunyalakan musik dikamarku sesaat setelah tiba dirumah. Aku cek hp ku, ada pesan dari Sari

“Selamat kerja mas, semangat. Jangan lupa makan. love u….”

” Makasih sayang, love u too…” balasku.

Sari berfikir aku masih kerja di kantor.

Hubunganku dengan Sari sudah berjalan 2 minggu. Hari-hariku kini bersama Sari. Sari menggantikan posisi Wulan yang seperti menghilang tanpa kabar. Sudah 3 bulan lebih aku dan Wulan tidak berkomunikasi. Sebenarnya aku merindukannya, namun terlalu gengsi aku untuk menemuinya. Lagipula, selalu ada Sari yang menggantikannya. Termasuk urusan sex tentunya.

“Ting…tong” bel pagar rumahku berbunyi sesaat setelah aku merebahkan badan di kasur.

“Bu Slamet” pikirku. Ya memang tadi pagi aku minta tolong bu Slamet belanja kebutuhan rumah tangga, aku pikir dia mengantarkannya sore ini.

Dengan malas-malas kubuka pintu rumah. Pandanganku menuju pagar, nampak sesosok orang berdiri di luar pagar. Bayangannya nampak membentuk siluet di balik kanopi warna biru yang kupakai sebagai penutup pagar. Aku berjalan ke depan, dan kudorong pagar.

“Wulan…” ucapku.

Kulihat Wulan berdiri di luar pagar. ” Ayo masuk…” lanjutku.

Aku gandeng tangannya ke dalam rumah. Aku kembali menutup pagar dan pintu rumah ku. Aku persilahkan Wulan duduk di kursi ruang tamu, senyumnya manis kulihat ke arahku. Aku duduk disebelahnya.

” Kamu dari mana?” ucapku.

” Dari kos Adi” Wulan menjawab.

” Bukan, kamu kemana saja? Aku selalu susah menghubungimu. Separah apa kesalahanku hingga kamu tidak memberikan kabarmu 3 bulan ini?” cecarku.

” Iya Adi, maaf…… Maka dari itu aku kesini untuk menjelaskan. Aku tidak kemana-mana, aku sedang sibuk dan stres Adi. Tesis ku ditolak terus. Aku minta maaf, aku telah bersifat ke kanak-kanakan kemarin. Aku yang salah, aku harusnya bisa memaklumi kesibukanmu.Aku tau kamu kerja untuk berjuang, demi masa depan kita. Maafkan aku yang masih manja dan selalu merepotkanmu. Selama tanpamu juga aku belajar betapa berartinya kamu dalam hidupku, Di…” Wulan berbicara panjang lebar.

“Terus?” tanyaku.

“Aku kesini untuk minta maaf, terus ya kita lanjutin hubungan kita. Maafkan aku ya sayang” Wulan tersenyum. Mukanya nampak memelas.

Luluh juga hatiku, aku peluk dia.

” Maafin aku ya sayang, aku janji ga akan mengulangi hal2 kekanak-kanakan seperti kemarin….. Love u…” Wulan berbisik di kupingku.

“Love u too, sayang…”balasku lagi.

Kupeluk Wulan erat, masih kurasakan cinta darinya. Masih kurasakan apa

yang diucapkan benar-benar tulus.

Wulan masih seperti biasa, tetap menjadi wanita yang tangguh dan tulus walaupun kadang muncul sikap manjanya.

Aku ajak ngobrol dengan Wulan diruang tengah. Kupeluk dan kucium di keningnya. Kami melepaskan kerinduan kami.

“Aku benar-benar merindukan Wulan” batinku.

Wulan duduk dipangkuanku sambil tersenyum manja. Kucium belahan dadanyanya..

“Pengen ya sayang?” ucapnya.

Aku memandangi mukanya, aku tersenyum dan mengangguk.

“Aduh kasian, udah ga keluar tiga bulan jangan-jangan sudah jadi akik di dalam…” Wulan menggodaku manja.

“Laku dong dijual” balasku.

” Hahaaa..hahahaha..haaha”

Kami tertawa bebarengan.

“Ah Wulan betapa polosnya dirimu. Seandainya saja kamu tau yang sudah terjadi….” batinku

Kucumbu Wulan dengan penuh gairah. Wulan membalas dengan lumatan bibirnya.

“smoch…smooch…smochhh”

Bibir kita berpagutan liar. Kuremas toket Wulan yang masih tertutup baju. Kualihkan ciumanku ke lehernya.

“Ahhhhh….Adi,..ahhh” Wulan merintih.

Aku lanjutkan seranganku, kutelusupkan tanganku ke balik bajunya, kuremas toket Wulan dari balik BH.

” Ahhhhhhh….ahhh..sssttt…oh” Wulan mengerang lirih.

Aku jilati leher Wulan. Wulan membalas dengan menarik kaosku, hingga kini aku telanjang dada. Kupegang tangan kiri Wulan, kuarahkan ke kontolku. Wulan meremas kontolku dari balik celana.

” Buka yuk sayang” ujarku.

Kami berdiri dan melepas baju yang masih menempel ditubuh kami masing-masing. Kami berdua sama-sama telanjang bulat. Kutarik Wulan ke dalam lamarku, kurebahkan dia di tempat tidurku.

Kuremas toket Wulan yang membusung dan nampak menggemaskan. Aku hisap putingnya, dan kupilin puting yang satunya. Rintihan Wulan semakin kencang.

“Ahhhh….ahhhh…Adi”

Aku jilati badan Wulan dari dada, perut dan mendarat di memeknya. Wulan memang pintar merawat area vitalnya. Memek Wulan yang bersih, harum dan tanpa bulu kuserang dengan bibirku. Aku jilati sekujur memeknya, kuhisap cairan yang membasahi memek Wulan. Wulan menggelinjang kenikmatan. Kuhisap butiran kecil di ujung atas memek Wulan..

” Auowwww….Ahhhhhh!!” Wulan menjerit.

Kulanjutkan hisapanku di bibir memeknya, kususupkan lidahku masuk ke dinding memeknya. Aku putar- putar lidah ku. Badan Wulan tiba-tiba mengejang, diremasnya rambut kepalaku. Hisapan dan jilatanku di memeknya semakin liar.

“Ahhhh…Adi….aku ..agghh..oh sampai” Wulan mendapat orgasme pertamanya.

Aku berdiri di samping ranjang, kutarik kepala Wulan ke arah kontolku. Wulan tau yang aku inginkan. Dia pegang patang kontolku, diciumnya kepala kontolku. Wulan menjilat kepala kontolku. Nikmat mengguyur seluruh tubuhku. Wulan memasukan kepala kontolku ke mulutnya, dia hisap dalam-dalam.

” Ahhhh……ohhh Wulan” erangku.

Wulan melanjutkanya dengan mengocok kontolku denga bibirnya. Kuraih rambutnya, kutarik kepalanya dan kumaju mundurkan.

“Ohhh…ohhh…ohhwhh” Aku mengerang. Nikmat dan geli kurasakan pada badan kontolku. Aku Tekan kepala Wulan hingga kontolku habis amblas di dalam mulutnya. Wulan melepaskan kontolku. Kali ini dia jilat biji ku dengan lembut. Nikmat dan geli yang luar biasa kembali aku rasakan.

Aku tarik badan Wulan ke pinggir ranjang, dia masih telentang. Aku berdiri menghadap memeknya. Kuusapkan kontol ku di atas bibir memeknya.

“Ahhhhhh..ihh.” Wulan merintih.

Kuarahkan batang kontolku, pelan kudorong kontolku. Kubenamkan ke memek Wulan. “BLESS”

” AAAHH….” Wulan menjerit.

Kupegang kedua Kaki Wulan, kusandarkan ke pundakku. Aku genjot memek Wulan dengan tempo yang tinggi.

Kubenamkan kontolku dalam-dalam, kutarik lagi dan kubenamkan lagi hingga seterusnya.

” Ahhhhh adiiii…..ahhhhh…aku keluar lagi sayang” Wulan kembali menjerit. Dia mendapatkan orgasmenya yang kedua. Aku tak peduli, genjotanku semakin kencang. Sesekali kuremas toketnya.

Wulan nampak lemas setelah orgasme. Aku belum puas tapi, aku belum keluar.

Kutarik badannya, Wulan paham dia segera membalikkan tubuhnya dan menunggingkan pantatnya di tepi ranjang. Kaki Wulan terjulur ke lantai, badannya masih tengkurap dikasur.

” Aergggg….ahhh” Wulan merintih ketika kucium tengkuknya.

Kuarahkan kontolku ke memeknya.

” BLESS…SSS”

Aku menyodokkan kontolku kd memek Wulan dari belakang.

“Ooooohh…..” erangku merasakan sensasi jepitan memek Wulan.

Aku mulai genjot memek Wulan dengan pelan.

“Ahhhh…..Ahhhh sayang…..ohhhh Adi. Ah……..arghhhhh…owh….Ahhh”

Wulan mulai merintih lagi ketika kontolku ku pompakan ke memeknya dari belakang .

” Clepp…clepp..cleppp..”

Bunyi kontolku yang beradu dengan memeknya, serta pahaku yang beradu dengan pantatnya.

Kupercepat genjotanku sambil kuremas-remas pantat Wulan.Belum ada tanda2 spermaku akan keluar.

10 menit kemudian, kulepaskan kontolku. Aku rebah di kasur, Wulan duduk diatasku. Kami berciuman bibir kita beradu.

“Smochhh..smochh..”

Wulan menarik kontolku dan di arahkan ke memeknya. ” BLESSSS”

Batang kontolku membelah memeknya. Wulan kemdian memompa pantatnya.

” Ohh..ahhh….ahhhh…ahhhhh…owhhh…ah…awhh…ouwhhh…”

Mulut kita saling merintih menikmati kelamin kami yang sedang beradu.

10 menit kemudian, kurasakan batang kontolku gemetar. Kutarik badan Wulan, Kupeluk tubuhnya. Aku hisap bibir Wulan.

” Aku mau sampai sayang..ohhw” kataku.

” Ahhhhh…ahhh…Aku juga sayang…ohhh..ahh ” balas Wulan sambil ikut memelukku. Kupercepat pompaan kontolku di memeknya hingg akhirnya….

“Ahhhhhhhh…..ahhhhhhh….”

” Ouhhh..ouhh….ahhhh”

” Crot…croooooot….crott…crooot..croot”

Kutumpahkan spermaku kerahim Wulan. Kurasakan juga kontolku diguyur cairan kenikmatan Wulan. Badan kami masih berpelukan. Kudiamkan batang kontolku tetap didalam memeknya.

Indah sekali. Benar-benar nikmat.

Peluh membasahi sekujur tubuh kami. Ac dikamarku terasa seperti tidak berfungsi.

15 menit kemudian, aku rebahkan Wulan disampingku. Kuusap rambutnya, kuhapus peluh di mukanya. Aku cium keningnya lama.

Wulan tersenyum.

“Love u…” ucapnya lirih.

Aku balas dengan kembali mencium keningnya. Kupeluk Wulan erat.

“Makasih ya adi, hanya kamu yang bisa selalu membuatku bahagia” Wulan kembali berbisik. Aku hanya terdiam, kubalas dengan kecupan mesra di bibirnya. Aku per-erat pelukanku ke tubuh Wulan.

———————————————————————-

BERSAMBUNG

END – Berbagi Cinta dan Nafsu Part 8 | Berbagi Cinta dan Nafsu Part 8 – END

(Berbagi Cinta dan Nafsu Part 7)Sebelumnya |Bersambung(Berbagi Cinta dan Nafsu Part 9)