Berbagi Cinta dan Nafsu Part 6

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20

Berbagi Cinta dan Nafsu Part 6

Start Berbagi Cinta dan Nafsu Part 6 | Berbagi Cinta dan Nafsu Part 6 Start

6. Cukup, terimakasih

POV Sari

Aku terbaring lemah di ranjang kamar kosku. Aku masih tidak percaya dengan apa yang barusan terjadi. Aku menyerahkan keperawanan ku dengan mudah ke Mas Adi, laki-laki yang baru aku kenal beberapa minggu. Aku merasa heran dengan diriku sendiri. Begitu mudahnya aku merelakan kegadisanku. Sesuatu yang suci dan sakral, yang seharusnya kuserahkan kepada suamiku kelak. Selama ini aku berjuang menjaga kesucianku, bahkan 2 kali aku memutus pacarku yang dulu karena mereka menginginkan keperawananku, walaupun untuk alasan cinta sekalipun. Ivan, pacarku yang sekarangpun tahu akan prinsipku ini. Dia juga bisa menjaga semuanya dan tidak pernah mencoba mengajak atau merayuku untuk melakukannya. Aku hampir4 tahun berpacaran dengan Ivan, aku salut dia bisa menjagaku dan tidak menuntut sex serta keperawananku demi alasan cinta. Ivan sebenarnya laki2 yang setia, dan aku tahu dia mencintaiku, satu yang membuatku ragu dengan Ivan dia suka bersikap kasar. Tamparan adalah hal yang wajar kuterima jika kita sedang ada masalah dan berantem.

Saat ini statusku adalah pacar Ivan. Tapi entah kenapa hari ini dengan mudahnya kuserahkan mahkota ku ke Mas Adi. Mas Adi memang lebih segalanya dari pada Ivan, sudah mapan, mandiri serta lembut dalam memperlakukanku. Di mataku mas Adi pun nampak lebih gentle daripada Ivan. Pesona mas Adi telah mengalahkan akal sehatku. Tapi, kebimbangan pun menyelimutiku. Mas Adi masih punya pacar, dan aku tau dia sangat mencintainya. Sedangkan, Jika aku kembali ke Ivan aku akan kembali menderita dengan sikapnya. Belum lagi jika Ivan tahu aku sudah tidak perawan, bisa semakin jijik dia denganku.

Tanpa sadar aku meneteskan air mata. Kulihat mas Adi yg sedang memelukku. Aku merasakan kehangatan menjalar dalam tubuhku, disisi lain aku teringat Ivan. Aku tidak bisa membayangkan perasaan dia jika mengetahui apa yang telah terjadi.

“Tok…tok..tok…”

Bunyi ketokan pintu membuyarkan lamunanku. Kuambil bajuku yang berserakan, kupakai bajuku sambil kuikat rambutku. Kulihat mas Adi menarik selimut, menutupi setengah tubuhnya yang masih telanjang.

Aku berjalan ke arah pintu, dan kubuka….

Ivan….kamu…..kamu?”

Sesosok laki-laki berdiri dihadapanku, ditangannya tergenggam bunga dan kotak kado kecil yang mungkin akan diberikan padaku.

Ivan!! Ya, laki- laki ini Ivan, Pacarku!

Mata Ivan mencoba melihat ke dalam kamar, Aku tahu dia melihat mas Adi yg masih rebahan tanpa baju. Sesaat kemudian dia melihat ke arahku, melihat kondisiku yang masih berantakan dan baju yang kupakai sekenanya.

Muka Ivan memerah, dia menatapku tajam kemudian memalingkan muka dan berjalan meningganku.

” Ivan….van…ivan”

Aku berlari mengejarnya sampai keluar pagar kos. Kuraih tangan Ivan yang sedang berusaha membuka pintu mobilnya. Kutarik erat.

“Ivan… maafkan aku Ivan… Aku jelaskan jangan pergi dulu”

“Kenapa Sari, maaf buat apa? Kamu masih pacarku tapi kamu berduaan dengan laki-laki lain di dalam kamar. Gila kamu ya!”

“Maafin sari , Ivan…” Aku terisak

“Baik aku maafin kamu, asalkan kamu jujur apa yg telah kamu lakukan dengan laki- laki itu?” Ivan mendesakku.

“Iya, Ivan maaf…”

“Jawab yang jujur… apa yang kamu lakuin? kamu ML dengannya?” Ivan kembali bertanya.

Aku dengan berat mengangguk ” Maafin aku van, tampar aku… tampar aku untuk menebus salahku”

Ivan tersenyum, sejurus kemudia dia berkata ” Sari, sebagai laki- laki aku tau sering mrmbuatmu kecewa dengan sikap kasarku. Berminggu-minggu ini kita break. Disitu aku merenungkan, betapa berharganya kamu buat aku. Aku menyadari segala kesalahanku, aku berjanji dengan diriku sendiri untuk memperbaiki sikapku. Hari ini aku datang untuk menyampaikan semuanya ke kamu, untuk menjelaskan semua, meminta maaf dan supaya kita dapat memperbaiki hubungan. Tapi ternyata, kamu telah melakukan apa yang selama ini kamu jaga sebagai prinsipmu. Aku memaafkan mu dengan sepenuh hatiku, tapi aku juga minta maaf aku tidak akan pernah bisa menerimamu lagi. Hubungan kita berakhir disini. Aku memang membuat kamu kecewa dengan sikapku, tapi kamu telah membalasnya dengan cara yang lebih hebat. Terima kasih Sari”.

Kata2 Ivan membuatku menangis. “Ivan………” Aku mencoba menggoyahkan prinsipnya. Kulihat Ivan tersenyum, tapi aku tau dia sangat kecewa.

“Cukup ya Sari, setidaknya aku telah berjuang. Selamat tinggal” Ivan tampak tidak goyah. Dia masuk ke dalam mobil dan menjalankannya.

Aku menunduk dan menangis, kulihat mobil Ivan menghilang di persimpangan.

“Maafkan aku Ivan…” aku berkata lirih.

Aku masih menangis, hatiku kalut luar biasa. Aku berjalan pelan menuju kamarku. Kubuka pintu dan kulihat mas Adi telah memakai bajunya. Dia mendatangiku, dia peluk aku dengan erat. Aku menangis di bahunya, sulit untuk berkata-kata. Mas Adi mengusap rambutku pelan dan lembut.

Setengah sadar, kurasakan pelukannya…

Kami terdiam.

“Hubunganku dengan Ivan selesai. Aku harus kuat dengan kenyataan ini. Sekarang mas Adi lah harapanku. Semoga dia benar-benar tulus mencintaiku” aku berkata dalam hati.

Kupeluk mas Adi erat….

—————————————————————–

BERSAMBUNG

END – Berbagi Cinta dan Nafsu Part 6 | Berbagi Cinta dan Nafsu Part 6 – END

(Berbagi Cinta dan Nafsu Part 5)Sebelumnya |Bersambung(Berbagi Cinta dan Nafsu Part 7)