Berbagi Cinta dan Nafsu Part 4

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20

Berbagi Cinta dan Nafsu Part 4

Start Berbagi Cinta dan Nafsu Part 4 | Berbagi Cinta dan Nafsu Part 4 Start

4. Kenapa Begini

Yang namanya menjalin asmara, selalu saja ada hal-hal yang bisa menjadi masalah.Ketika dua kepala bersatu, bukan hal yang mudah untuk tetap sejalan. Dalam perjalanannya pasti ada kerikil-kerikil yang mengganjal.

—————————————————————

Sudah sebulan aku dan Wulan tidak berkomunikasi. Perkaranya sepele, aku tidak bisa mengantarkannya ke kampus karena bimbingan. Sebenarnya salahku juga, aku sudah berjanji dengannya. Tapi pada hari H aku terpaksa batalkan karena ada masalah di kantor yang harus kuurus. Sudah berapa kali aku telepon dan kirim pesan, tidak ada yang direspon oleh Wulan.

Aku tahu, dia ingin aku datang dan meminta maaf. Tapi egoku mengalahkan segalanya. Aku biarkan saja, sampai dia menyadari posisi masing-masing. Toh aku mengingkari janji dengannya untuk urusan kerja, demi masa depanku, masa depan dia, masa depan kita bersama.

Haruskah tidak ada toleransi untuk itu?

Pikiranku seperti itu, mencoba mencari pembenaran.

Hari ini hari sabtu, aku pulang kerja lebih awal. Sampai dirumah aku rebahan di sofa sambil menonton tv..

“drrttt…. drttt….drtt..”

Hp ku bergetar.

Aku cek kupikir dari Wulan, ternyata dari Pak Slamet. Pak Slamet adalah orang kepercayaanku. Dia dan istrinya bekerja mengurus usaha kos ku. Istrinya juga yang datang setiap hari ke rumah membantuku mengurus rumah. Keduanys berasal dari Wonosari, disini mereka aku tempatkan di salah satu rumah yang jadi satu dengan salah satu rumah kosku.

“Mas Adi, ini mbk Ata ga perpanjang kos. Tapi besok lusa akan ada yang menempati kamarnya.”

kubaca pesan dari pak Slamet dan kubalas ” Baik pak, bapak urus ya. Kalo sudah bayar sewa baru kita ketemu. Tolong bantu siapkan dan bersihkan ruangnya.”

“Baik mas Adi”.-Pak Slamet membalas lagi.

Aku letakkan HP Ku, kupikir tadi Wulan yang berkirim pesan.

Bosan menonton, aku ambil ponselku. Kubuka istagramku, iseng aku dapat info ada lomba pemotretan besok minggu di candi Boko.

“Ah ikut ah.. seru ini pasti” batinku

Sejak setahun ini, aku memang gemar ikut lomba photografi. Sekedar hobi, sekedar pelampiasan penat kerja. Jangan bayangkan jepretan photoku layaknya profesional. Dari puluhan lomba yang kuikuti semuanya nihil tanpa hasil. Boro-boru juara, masuk nominasi saja blm pernah:).

——————————————————-

Minggu pagi aku memacu SUV ku ke candi Boko. Lumayan sepi jalanan Jogja di minggu pagi. Kaum muda yang menjadi penghuni mayoritas kota ini masih banyak yg terlelap setelah td malah menghabisan waktu malam minggu.

Hanya butuh, setengah jam sampailah aku di lokasi.

Pukul 7 pagi, sesi foto dimulai. Jam 10 selesai. Skip…..jam 1 siang pengumuman hasilnya ga usah diceritakan. hehee

Selesai acara, aku duduk di cafe yang ada di area wisata candi Boko. Aku pesan minum, menghisap Marlbor* Putihku sambil melihat Keindahan Jogja dari ketinggian.

Teduh….Tenang…Damai.

“Permisi mas, boleh pinjam charger hpnya? Maaf hp ku mati, mau kupakai buat order taxi online buat pulang” lamunanku buyar ketika sesosok cantik mengajakku bicara. Aku tahu wanita ini, dia salah satu model yang ikut dalam sesi pemotretan tadi.

“Ohhwh boleh silahkan…ini mbak” kusodorkan charger hapeku.

“Cas disini aja gapapa mbak” aku menambahi ketika aku lihat mukanya seperti kebingungan mencari stopkontak listrik.

“Boleh duduk disini mas?”

“Boleh, silahkan…silahkan.”

“Maaf ya mas merepotkan, aku ga bs pulang kalo hp mati, ga bs order taxi”

“Gapapa, emang mau balik kmn?”

“Ke daerah Babarsar mas.”

” Oh ke situ, oiya namamu siapa?” ujarku sambil menyodorkan tanganku untuk berjabat tangan.

“Sari…”

“Adi… ” balasku.

“Sari sering ikut jadi model photo ya” ujarku memulai obrolan.

” Kalo libur aja mas, Sari kuliah di jogja mas. Ini hanya sambilan” katanya sambil tersenyum.

Manis banget senyumnya.

“Asli kamu mana Sari? oiya km tadi mau pulang ke babarsari kan? bareng aku aja. Lagian itu hape mu ga nyala-nyala. Hitung2 irit uang taxi”

“Aku asli Jakarta mas. Jangan mas, Sari naik taxi saja. Ntar merepotkan mas lagi. Mas tinggal dmn memang?”

“Ah gapapa… ga merepotkan. Biar ada teman ngobrol dijalan. Aku tinggal di kaliurang, searahkan dengan kosmu.”

“Boleh deh, kalo mas maksa..”

“Hahahaaaa..” kita pun tertawa bersama.

Suasana menjadi cair.

Singkat cerita, Sari pun pulang dengan mobilku. Sepanjang jalan kami saling bercerita dan bercanda.

Rupanya Sari lagi break dengan pacarnya sebulan lalu, gara2 ada masalah. Aku pun menceritakan permasalahanku dengan Wulan juga.

” Kok bisa sama ya, jangan2 kita jodoh” ujarku

“Mas bisa aja, dasar cowok….”

” hahaaaaa..hahaaa..haa”

Kamipun tertawa bersama. Tidak terasa sampailah di depan kos Sari, sebelum turun aku sempatkan bertukar kontak dengannya.

“Mas, makasih ya sudah dianterin” kata Sari sambil membuka pintu.

“Sama2 Sari, sampai jumpa” balasku.

Sari hanya tersenyum, sambil melambaikan tangan.

“Manis juga ni cewe, apalagi senyumannya.” batinku.

Aku pun segera memacu mobilku, meluncur pulang ke rumah.

—————————————————————

Sabtu sore berikutnya

Drtttttt.. drtttttt…. drttt

Kuraih hpku, ada pesan masuk.

“Wulan…!!” batinku.

Bukan, bukan dr Wulan.

Pesan dari Sari…. kubaca:

” Sore mas Adi, mas kalo ga merepotkan boleh ga aku minta foto2 ku yang ada di kamera mas?”

“Boleh Sari..boleh. Kebetulan aku lagi luang, sudah kupindah di harddisk ku. Aku anterin ya” balasku

“Jangan mas, aku ambil aja”

” Gapapa, aku jg lg pengen jalan, dirumah suntuk”

” Yaudah deh mas, boleh silahkan”

Setelah mandi dan berdandan, meluncurlah aku ke kos Sari. Sesampainya di kos Sari, dan sedikit basa basi Sari segera ku kasih disk berisi file photo nya.

“Lama ya mas, 3jam estimasi mindah file nya” ujar Sari

“Iya, Ri…. kan besar-besar filenya”

“Bosen mas?”

” Sedikit… heheheee. Jalan- jalan yuk, makan atau nonton. Masa anak muda malming cm dikos..heheee” aku mencoba mengajak Sari keluar. Bosrn juga hampir sejam di kamar kos nungguin dia pindah file.

“Hahaaa… boleh. Mau kmn mas?”

“Makan yuk, aku pengen masakan Bali. Habis itu terserah mau kmna… dari pada dikos lama2 jadi gapura ini” kataku sambil bercanda.

“Boleh mas, aku sering makan masakan Bali di Bimakr*da … makan disitu mau mas?”

‘Lhoh kok sama, tempat itu langgananku” balasku.

‘Nah kok sama lagi, jangan – jangan kita jodoh…hahahaaaa” kali ini Sari membalas candaanku tempo hari.

“Mudah- mudahan” balasku.

” Hahaaaa. hahaaaa” kitapun tertawa terbahak bersama.

Singkat kata kita sudah ditempat makan. Selesai makan Sari bertanya:

” Habis inu kmn mas?”

” Hmm…. kmn ya? ngopi yuk di bukit bintang.”

” Seru kayaknya, boleh mas…”

“Gassss….”

Sampailah kita di bukit bintang. Aku memesan tempat di warung kopi, tepat dibibir jurang, sehingga dapat menikmati indahnya kerlip kota jogja dimalam hari.

Tempat ini memang salah satu spot favorit anak muda jogja.

“Sayang ya mas, ditempat yang seromantis ini kita tidak ditemani pasangan kita masing-masing” Sari Membuka Obrolan.

” Iya juga ya, tapi kan kamu ada aku dan aku ada kamu. Paling ga malam ini ada teman untuk kita ngobrol” ujarku

“Iya mas, bener juga. makasih ya mas udah ajak aku jalan. Aku tadi bosen sekali di kos, lagi suntuk, kalut dan galau.

“Iya aku tau, tadi aku datang lihat matamu sembab”

” Mas tahu ya Sari habis nangis? Mas malah peka ya sama hal- hal kecil kaya gitu. Pacar Sari mana pernah….”

“Hush, ga boleh jelekin pasangan kita. Kan kita yang milih2 sendiri”

” Sari lagi bingung mas, Sari bosen pacar Sari sering kasar mas. Ini juga lagi break gara- ribut sepele, Sari kena tampar. Ini bukan yang pertama mas, sering”

“Oiya, kenapa tetap kamu lanjutkan hubunganmu?”

“Entah mas, Aku bosan. Tapi sayang, aku sudah sama dia 4 tahun. Selama ini Sari sabar berharap dia berubah, tapi kayanya ga ada perubahan” Sari menunduk, memejamkan matanya. Nampak kesedihan di mukanya.

“Kamu sabar ya Sari…”

Ku beranikan diri menggenggam tangan nya.

Sari terdiam…..

Tak ada obrolan antara kita.

“Sar, balik yuk dah malam. Itu km dah ngantuk” ujarku yang dari tadi melihat Sari menguap.

“Iya mas, ayo… Aku ngantuk. heheee”

Kamipun segera meluncur ke kota Jogja. Sepanjang jalan dia tertidur lelap sekali.

Sampai dikosnya, kubangunkan dia.

“Mas, makasih ya sudah menemani Sari malam ini. Hati- hati ya mas. Selamat malam” ujarnya.

“Sama2, Sari. Selamat malam. Jangan sedih ya… selamat istirahat”….

Ku raih kepala Sari, ku kecup keningnya. Entah kenapa aku seberani ini . Suasana dan semesta mendukung.

Sari menatapku , tersenyum…. kemudian turun dari mobil.

Kupandang dia sampai masuk ke gerbang kosnya..

Aku pun meluncur pulang.

Masih terbayang aku dengan aksiku mencium kening Sari.

“Kenapa begini?”

“Apakah aku jatuh cinta? Senyum Sari cantik sekali….Manis.

Lantas bagaimana dengan Wulan?

“Ahhhh…. Haruskah aku mengejar Sari ?’

“Haruskah aku meninggalkan Wulan?”

” Jangan bodoh, belum tentu Sari mau. Lagi pula Sari masih punya cowok, blm putus !”

“Yakin kamu meninggalkan Wulan, yang bertahun – tahun bersamamu?

Entahlah….

Sepanjang jalan pikiranku berkecamuk.

Pusing memikirkannya.

“Ah biarlah semua mengalir” batinku..

Sampai dirumah, kurebahkan badanku di kamarku. Kulihat Fotoku dengan Wulan di meja.

“Terlalu mahal, meninggalkanmu Wulan sayang ….”

Akupun tanpa sadar terlelap kecapaian.

BERSAMBUNG

END – Berbagi Cinta dan Nafsu Part 4 | Berbagi Cinta dan Nafsu Part 4 – END

(Berbagi Cinta dan Nafsu Part 3)Sebelumnya |Bersambung(Berbagi Cinta dan Nafsu Part 5)