Berbagi Cinta dan Nafsu Part 16

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20

Berbagi Cinta dan Nafsu Part 16

Start Berbagi Cinta dan Nafsu Part 16 | Berbagi Cinta dan Nafsu Part 16 Start

16. Tidak Ingin Lepas

Wanita adalah mahkluk yg sukar ditebak dan susah dipahami. Namun, wanita tetaplah manusia juga yang mempunyai kelemahan. Berikan cinta, dan dia akan memberikan segalanya karena itu adalah sisi lemahnya.
—————————————————————-

“Argggghhhh…..””
“Ohhhhh… massss… enakk…ohhh”
“Arghhh… arhhhhh…..ahhhhh…. sssttt…. sttt…owh….ahhhh… ahh”
Wanita yang terlentang di depanku merintih – rintih ke enakan. Sudah hampir 2 jam kami beradu kelamin. Suara erangan dan rintihan nikmat memenuhi ruangan ini.

Kuhujamkan dan kupompa kontolku dalam-dalam ke memeknya.
Tanganku meremas- remas payudaranya yang bulat menggoda. Peluh membanjiri tubuh kami.
Raut mukanya yang eksotis dan sendu benar benar membuat nafsu liarku menggelora.
” Ahhh… aku mau keluar masss… ahhhhh.. ooohhhhhh…. ahhhhhh”
“Ahhhh… aku juga sayang.. ohhhhh… aku juga mau keluar, keluarin di dalem yaa”
” Owh…ahhh… iya mas… stttt…. owhh… keluarin dalam mas Adi… ahhh.. keluarin semua mas… ahhhh.. mas… shhahhhhh
ahjhhh… please mas… ohhhh.. aaaahh””

“Terima ini sayang… ohhhhhh.. erghhhh”
“Crooott…crooott…. crooot.. crot!”

Tubuh Vivi bergetar hebat, menyambut orgasmenya. Aku pun ambruk diatas tubuhnya setelah spermaku menyemprot habis di dalam memeknya.

Kukecup keningnya. Vivi memejamkan matanya, namun senyum nakal tersungging di bibirnya.
Aku pun beranjak sesaat kemudian ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Siang ini sengaja kami menyewa hotel untuk mengadu nafsu birahi kami.

Kulihat tubuh Vivi masih terlentang di atas ranjang tanpa sehelai benang pun ketika aku keluar dari kamar mandi. Kedua kakinya yang mengangkang memperlihatkan belahan memeknya yang merekah merah setelah kuhajar tadi.
Kudekati mukanya dan kucium bibir nya..

” Smoch… smocchhh… smochhh smoch”
Bibir kami berpagutan.

” Makasih ya mas… ”
“Makasih mas selalu bahagiain Vivi”
” Maksudnya?”
“Hanya dengan kamu mas, aku merasa dihormati sekaligus dimanja sebagai seorang perempuan”
” Aduhhh… janganlah bilang begitu. Kamu punya suami Vi, dia pasti memberikan lebih dari aku. Aku hanya urusan ranjang kan yg bisa kuberikan.”
” Justru itu mas, dalam hubungan sex itu salah satu kesempatan dimana wanita merasa dihargai oleh lelaki” UjarUjar Vivi.
” Ah sudahlahh… bicara apa sih kita ini”
” Yah intinya aku merasa senang selalu terpenuhi dan bahagia dengan mu mas. Dan yang lebih bikin bahagia mas, Aku sekarang hamil.. heheeee . Udah 6 minggu”
” Oiya, serius?? tapi bisa jadikan itu anak suamimu..”
” Entahlah mas, mungkin dia dan mungkin jg anakmu. Entah kenapa, tapi aku yakin ini anakmu mas. Dan aku juga berharap semoga ini anakmu” Ujar Vivi sambil tersenyum. ” Lagian mas, usia kandunganku 6 minggu, dan 6 minggu yang lalu itu tepat pas kita ada rapat dan nginap di Semarang 2 hari mas. Waktu itu kan suamiku udah di bandung 2 minggu sebelumnya. Dan dia baru dateng lagi 3 minggu yg lalu” Vivi menambahkan.

“Lantas kalo itu emang anakku bagaimana?”
” Ya ga tau, seneng aja rasanya mas. Dan mas tenang aja, aku ga nuntut apapun kok. Aku lebih dari bahagia sekarang, aku bisa hamil juga ternyata… heheee”
” Yaudah, kalo itu memang anakku jaga baik2 yaa…” kupeluk Vivi erat-erat.
“Suami mu dah tau kamu hamil?” tanyaku.
” Udah mas 3 hari yg lalu, tapi dia ga tau berapa minggunya. Aku cm bilang lagi hamil.”
” Terus? ga curiga kan dia?” tanyaku lagi.
” Engga sih mas. Senang dia, Cuma satu hal yang bikin aku sedih.”
“Kenapi Vi?”
” Aku disuruh resign kerja mas, dan ikut dia ke Bandung.”
” Kenapa harus gitu?” tanyaku sedikit berat dan kecewa, karena kalo Vivi pindah susah bagiku ada kesempatan menidurinya.

” Jadi dia sekarang di promosikan mas, naik jabatan. Dia minta aku untuk tidak kerja lagi. Dia berfikir hasil kerjannya sudah cukup untuk hidup kami berdua. Dan karena aku hamil, dia pengen aku fokus jaga kehamilan dan tinggal bersama supaya dia bisa jagain aku juga” Vivi menjelaskan.
” Yaudah gpp sayang, kalo emang dia minta kaya gitu turuti saja. Baguslah kalo karirnya maju.” Jawabku sok bijak.
” Kok gitu mas mukanya, sedih yaa” ujar Vivi sambil memandang mukaku.
” Sedih ada, kalo kamu dah di Bandung kan ga bisa asyik-lagi.. heheee. Lebih dari itu, aku mesti cari karyawan yg gantiin kamu dan pasti susah dapet yang kaya kamu”
” Maksudnya yg bisa diajak bobo? heheee”
” Ya semuanya. Kerjanya bagus, diajak bobo juga enak… hahaaa”
” Hahahahaa…hahaaaa” kami terbahak bersama.

” Tapi mas, kalo mas mau aku berani kok bilang ini anak mas ke suamiku. Biar aku dicerai sekalian gapapa, asal mas mau nikahi aku. Aku berani mas…”
” Husssh… ga gak.” Ujarku. ” Jangan kaya gitu, kasian suamimu. Aku ga mau ah”
” Vivi serius mas, kalo mas mau aku berani” ujarnya lagi.
” Vivi, jangan! Bukan aku ga mau, tapi aku ga pengen rumah tanggamu hancur. Ikutlah saran suamimu. Kapan pun ada kesempatan, kita masih bisa bertemu. Pasti ada kok, percayalah. Ikuti ya kata suamimu, turuti dia. Aku akan selalu ada buat kamu, percayalah. Selagi ada kesempatan kita akan bertemu” ujarku.
Jujur aku kaget dengan ucapannya, jelas aku menolak. Cukup aku meniduri istri temanku ini, aku tidak berharap memilikinya. Lagipula akan menyakitkan bagi istri- istriku kalo aku menikah lagi.

” For the last time, mas ga mau aku ceraikan suamiku? Jadi istri siripun aku rela mas. Bahkan kalo engga Mas ga harus nikahin aku gapapa deh, yang penting aku bisa nyenengin mas kapanpun.”
” No Vivi. Kalo kamu masih menghormati aku jangan menawarkan hal-hal gila kaya gitu lagi.” tegasku
Vivi menghela nafas, dipeluknya tubuhku yang terbaring di ranjang.

” Tapi mas ga akan melupakan Vivi kan?”
” Engga Vivi, aku ga akan melupakanmu, apalagi yang diperutmu itu anakku. Selagi ada kesempatan, aku luangkan waktu untukmu sayang.”
” Mas, Vivi sayang sama mas Adi. Maaf ya mas….”
Aku diam tidak menjawabnya. Kupeluk dia semakin erat. Kucium kepalanya dengan lembut.

Susah jika menghadapi wanita yang jatuh cinta……..
…………

Aku terbangun dari tidurku.
2 jam sudah aku tertidur.
Kulihat Vivi masih terpejam, terbaring nyenyak di dadaku. Aku beringsut berdiri dan mengambil minuman.
“Sudah bangun?” tanyaku saat kulihat matanya terbuka.
“Jam berapa mas?” tanyanya.
” Jam 5 sore” ku berikan botol minuman dingin ke Vivi.
” Makasih” Vivi meneguknya setengah.

” Jadi kapan kamu mau resign?” tanyaku.
” Kalo boleh minggu ini mas” ujar Vivi sambil berdiri mengambil celana dalam dan memakainya.
” Yaaa, boleh deh kalo kamu mau minggu ini. Tapi selesaikan smp akhir minggu ya, biar kerjaan paling ga di minggu ini beres.” jawabku. Aku sebenarnya sedikit berat, namun kupikir cepat atau lambat Vivi akan tetap pergi.
” Makasih ya mas Adi” Vivi duduk di pinggir ranjang, hanya bercelana dalam. Toketnya yang indah nampak menggantung.
Aku yg masih bugil mendekat. Kutarik dia supaya berdiri, lantas kupeluk tubuh Vivi.

” Nanti, aku bakalan kangen kamu mas”
” Aku juga Vivi”
” Mas, malam ini boleh ga Vivi minta mas untuk nginap disini. Vivi pengen untuk yg terakir menghabiskan malam sama kamu mas.”
” Boleh Vivi, buat kamu malam ini aku untukmu” jawabku.
” Love u mas Adi…”
Aku kembali tidak membalas ucapannya. Kucium bibirnya…

“Smoch…. smochh… smochhh.. smoch..”
Kami kembali berpagutan liar, bibir kami beradu dengan panas.
Kontolku yang sudah tegang menempel di diperut Vivi. Kuremas- remas toketnya yang menggemaskan. Cumbuanku ke tubuh Vivi semakin liar. Telinga, leher dan berakir di Toketnya. Lidahku menari- nari menikmati setian inci tubuh mulus Vivi.

” Arhhhhhh… ohhh…. ahhhh… ahhhhb… ahhhh…. sssstttt….. ah… owhhhh… sssst….ahhhh owhhhh…. sssttt”

Mulut Vivi berdesis dan merintih setiap kali lidahku menjilat bagian tubuhnya.
Beberapa saat kemudian Vivi berjongkok di lututku. Diraihnya kontolku yang telah tegang berurat. Dikecupnya lembut kepala kontolku. Vivi melanjutkannya dengan menjilati buah pelir ku. Rasa geli dan nikmat kurasa sampai ubun-ubun.
Vivi kemudian menjilati batang kontolku sampai rata, hingga kemudian dimasukkannya kontolku ke mulutnya sampai mentok. Kutarik dan kutekan kepalanya mengikuti irama hisapan Vivi.
10 menit kemudian rasa geli yang tinggi menyelimuti batang kontolku.

Kutarik naik tubuh Vivi, kuputar tubuhnya dan kutunggingkan tubuh tubuhnya. Pantatnya yang bulat kuremas-remas. Tubuh vivi telungkup di ranjang, namun kakinya masih menginjak lantai.
Kuarahkan kontolku dan…

” Bleeeessssss…!!”
Kutusukkan kepala kontolku.

” Aaaaaahhhhhh…..”
Vivi merintih panjang.
Kubenamkan kontolku lebih dalam ke memeknya.
” Ahhhh… mas.. ohhh….”
Kupompa kontolku di memek Vivi, makin lama makin kencang ku genjot.
Badanku kucondongkan ke depan. Kuraih payudaranya dari belakang dan kuremas- remas dengan gemas. Sementara dibawah sana, kontolku masih sibuk mengaduk memeknya. Pahaku pun beradu dengan pantat bulatnya sehingga menimbulkan suara yg menggairahkan.

“AHHHH. masss…. ohhhh… aahhhh… ahhhh…. ssssssstt…. ahhhh….. ohh…. aaaaahhhhhhhhh….. ssssstt.. ahhhhb….. ohhhh…. ssttt… Auhhhh.. arghhhh…”

Vivi mengerang dan merintih menahan geli memeknya yg tersodok kontolku. Genjotanku semakin cepat..

” Ahhhh Vivi sayang. ooohhh enak sekali memekmu sayang… ohhhhg.. ahhhh….agghh… ” aku pun merintih keenakan.

” Terus mass… ohhhh.. mass enak mass… ahhhh.. kerasin mas… ahhhh..
Mas Adi… ahhh kamu hebat mass. . ahhhhh……. ohhhh… ssst.. ” Vivi melolong kenikmatan.

10 menit kemudian, kucabut kontolko.
Kubalik tubuh Vivi hingga dia telentang. Kutarik kedua kakinya ke pundakku. Kuarahkan kontolku dan…

” BLESSS…!!”
” Ahhhhhhhhh.. ohhwwwhh.”
Vivi menjerit menerima kontolku di memeknya.
Ku genjot memek Vivi yang legit tersebut. Kucondongkan tubuhku, kupeluk tubuh Vivi erat. Toketnya yg bulat menempel ketat di dadaku. Kucium bibirnya, sesekali kucumbu wajah, telinga dan lehernya.

” Ahhhhh… mas enak baget…. ahhhhh….”
“Enak sayang? ohhhh…. ahhhh”
“Ohhw… sssttt… enak mas Adi sayang”

Kupompa semakin kencang memek Vivi dengan kontolku. Pelukanku di tubuhnya aku pererat. Tubuh kita benar benar menyatu.

” Ahhhg…ergghhhh… arggg” erangku. Kupompakan kontolku semakin cepat dan liar.
” Ahhhhh… Aaaaaajhhh.. Owhhhh… mas .. Puasin aku mas… ohhhh… aku sayang kamu mas…. ahhhh… ahh mas….ohhhhh… aaahhh puasin aku mas”
Vivi merintih dan meracau disela cumbuanku.

” Ahhh… aku puasin kamu sayang.. aku puasin… ahhhgh” Balasku.
“Owhh… Kencengin mas… ahhhg… ohhh kencengin…. semprotkan di memekku mas… ahhhh.. semprotin mas yang dalem…. ahhhh aku hamil sama kamu mas…. ahhhh mas…. haaahggg.. ohhhh…. Bikin kamu puas mas… ahhgh tubuhku punya mu mas Adi sayang… ahhhghhh… ohhhwwwwhhh….ahh”

Vivi semakin meracau.
Kurasakan barang kontolku geli di dalam memeknya, kepalanya berkedut, sepertinya akan segera klimaks.
Kupercepat sodokanku, kupererat pelukanku ke tubuh Vivi.

” Ahhhh sayang.. aku mau keluar… ahhhh…. ohhhhhj… ” erangku
” Ahhhh… ssstt… aku juga mas.. ah keluarin mas… aaahh semprotin di dalem… ahhhh… ohhhhh.. ahh” balas Vivi

” Ahhhh massss…. ohhh” Badan Vivi melengkung dan bergetar hebat.

” Arrrggggggghhhhhhh…. ” erangku.
” CROOOTTT.. CROT…. CRROOOT… CROOT…. CROOOOOT… CROOOT”
Lendir maniku kusemburkan habis ke rahim Vivi. Tubuhnya nampak menggelinjang menikmati orgasme dan semprotan hangat lendirku.

Tubuh kami masih menyatu. Masih kupeluk Vivi dengan erat, kontolku masih di memenya. Kuhisap bibirnya dalam-dalam.
Peluh membanjiri tubuh kami, melengkapi guyuran nikmat yang kami rasakan. Puncak birahi yang nikmat dan menggairahkan. Kami masih berdekapan erat lama… seperti tidak ingin saling melepaskan.

Sex yang indah dan eksotis.
Dengan si cantik Vivi, istri sahabatku, asistenku sekaligus selingkuhanku yang kini hamil karena benihku.

Malam ini aku bermalam di hotel bersama Vivi. Tak lupa ku telepon istri- istriku dan bilang aku kerja ke luar kota.

Malam itu aku dan Vivi bertempur habis- habisan. Lendir dan keringat kami beradu dengan indah malam ini.

Bersambung

END – Berbagi Cinta dan Nafsu Part 16 | Berbagi Cinta dan Nafsu Part 16 – END

(Berbagi Cinta dan Nafsu Part 15)Sebelumnya |Bersambung(Berbagi Cinta dan Nafsu Part 17)