Berbagi Cinta dan Nafsu Part 15

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20

Berbagi Cinta dan Nafsu Part 15

Start Berbagi Cinta dan Nafsu Part 15 | Berbagi Cinta dan Nafsu Part 15 Start

15. Seperti Biasa, Selalu Nikmat

Setia itu susah.
Kalo nafsu sudah menyerang, dan kita terjerumus ke dalamnya, lubang hitam siap menenggelamkan.
————————————————-

“Kriiiiingggg……”
Hpku berdering.
Kutengok jam 6 pagi.
“Haloooo…” jawabku.
“Halo mas…Pagi mas. Lagi apa?” suara Sari di seberang telepon.
” Pagii…. Lg sarapan sayang, bntr lagi berangkat ke lokasi hunting foto” ujarku berbohong.
“Oh yaudah mas…hati-hati yaa” ujarnya.
“Iya sayang.. mana Wulan?” Tanyaku.
“Lagi ke pasar mbak Wulannya mas, belanja sambil jalan-jalan sama Bu Slamet” jawab Sari.
“Kamu ga ikut?”
“Engga mas, dingin banget td mau ikut.”
“Yaudah sampai nanti ya sayang, sore dah smp rumah kok”
‘Iya mas…sampai nanti”

“Klik” kumatikan telepon.

Aku tentunya berbohong kepada Sari. Aku tidak ikut acara apapun, aku masih rebah di ranjang hotel. Tubuh mungil Beby yang juga telanjang juga masih tertidur diatas tubuhku. Dengkur kecil keluar dari bibirnya. Terlihat masih pulas tidurnya, sepertinya masih kecapekan setelah semalaman kugempur memeknya. Pagi ini terasa amat dingin. Kutarik selimut menutupi tubuh kami berdua. Kupeluk tubuhnya, dan akupun tertidur kembali.
————————————————————–

Jam 8 pagi, kami terbangun. Kamipun mengulangi pertempuran semalam. Pagi ini kembali kontolku menggenjot memek rapat Beby dan menyemprotkan spermaku ke dalam mulutnya. Kamipun mandi bersama setelahnya, saling membasuh dan menggosok layaknya pasangan kekasih.

Setelah sarapan, Aku duduk di sofa kamar hotel. Beby mendekat dan duduk di sebelahku.
” Mas, aku takut mas..” Beby membuka obrolan.
“Takut kenapa beb?” Tanyaku.
“Kita sudah kelewatan mas, aku merasa bersalah dengan istri-istrimu”
Kutatap mukanya yang polos, pelukanku jatuh ke pundaknya.
“Mereka kan ga tau Beb… Asal kita ga bilang ke siapa-siapa ga ada yang tau”
“Mas….”
“Iyaaa.. ada lagi?
“Mas, Aku mau bilang sesuatu boleh”
“Iya sayang…. kenapa?” kusandarkan kepalanya ke pundakku.
” Maaf mas Adi, kalo aku lancang. Aku cm mau bilang kalo aku suka sama mas. Maaf ya mas….” Beby menunduk. ” Maaf mas Adi…. Entah kenapa dr awal ketemu kamu, aku mengagumi mu mas. Makanya aku kepo ke pak Slamet tentang kamu , dan aku tau ternyata mas sudah berkeluarga…”
Aku terdiam mendengar penjelasannya.
“Mas…”
“Iyaaa…”
“Mas mau ga terima Aku?”
“Maksudnya Beb?? tanyaku pura-pura.
“Kalo mas mau, aku mau jadi pacarmu mas. Karena semua kriteria cowok yang aku idamkan ada di kamu mas. Beby rela kok walaupun mas sudah berkeluarga”

Aku terdiam kebingungan, jujur aku tak mengira Beby menyampaikan hal seperti ini. Kutarik badannya, Beby terduduk di pangkuanku. Kupeluk tubuh mungilnya. Kepalanya menyender di Pundakku.

“Beb, aku tau kamu baik dan cantik. Aku tentunya jg menyukaimu. Aku tentu mau jadi pacarmu, tapi kamu tau kan aku sudah berkeluarga. Sekalipun kita pacaran, aku juga harus berbagi. Aku punya istri, jadi ga setiap saat bisa ada untuk kamu. Tapi asal kamu mau terima keadaan kaya gitu, ya ayo kita jalani. Tapi yang paling penting kita harus hati-hati dan saling menjaga ya..”

“Iya mas Adi, Aku tau. Kira jalani dulu ya mas.”
“Baik Beby sayang” ku kecup pipinya.
” Makasih mas, love u…”
“Cup..” Beby mencium keningku.
“Love u tooo, Beby…”

DAMMMN!!
Beby masih dalam pelukanku, ketika aku baru seperti tersadar. Entah pikiran gila apa yang menyerangku. Aku berani membuat komitmen dengan Wanita lain! Entah aku tidak yakin apakah aku benar2 suka Beby atau hanya karena kasian dan tidak ingin membuatnya sedih sehingga aku berkata iya dengan perasaannya.
Aku menghianati istri-istriku.Aku merasa berdosa terhadap Wulan dan Sari.
Bingung…….
——————————————————————-

Sore hari.
Aku meluncur ke rumah setelah mengantar Beby ke kosnya, kos yang aku punya tentunya.
Mobilku kuparkir setelah aku sampai di rumah. Kulihat Wulan di depan pintu menyambutku. Perutnya mulai terlihat membuncit, tapi kecantikannya tidak berkurang sedikitpun.
“Haloo sayang…” ujarnya.
” Halooo…” kupeluk dia dan kucium.
Wulan memeluk pinggangku manja.
“Capek ya sayang? gimana acaranya? ” tanya nya.
“Enggak… gak terlalu capek. Acaranys seru sih, kaya biasa” jawabku. “Kamu sehat kan? udah makan?”tanyaku.
“Iya sehat. Udah td makan soto masakan bu slamet” ujarnya sambil menarikku berjalan masuk ke rumah.
“Waaa enak itu. Oiya mana Sari?” tanyaku.
” Sari pergi sama bu Slamet mas, ke Galer*a. Katanya beli benang sulam, dia minta diajarin bikin sulaman sama bu Slamet. Dia bilang suruh pamitin kalo mas dateng.” jawab Wulan.
“Ohhh… yaudah deh. Aku mandi dulu ya sayang. Lengket banget…”
“Iya mandi sana…acem. hahaa” canda Wulan.
“Yeee acem-acem gini tapi cinta kan?? ciee….heheee”
“Ihhhh genit..udah sana mandi. Tak siapin bajumu.”
”Siap ibu Periiii……Oiya bikinin kopi jg ya”
“Baweel….buruan mandi suami genit!”
” Siap…hahaaa”

————————————————————
Aku keluar kamar mandi dengan lilitan handuk di badan. Kulihat Wulan duduk di ranjang memandangiku.
“Ini kopinya sayang.” ujar Wulan.
“Kaosnya tak ambilin 2, kamu pilih mana yg nyaman” tambahnya.
“Ok…terimakasih. Sari belum datang ya?”
“Belum, mungkin sekalian belanja”

Aku sedang mengeringkan rambut ketika kulihat Wulan tersenyum memandangiku.
“Kenapa liat-liat, senyum-senyum lagi. Naksir ya…hehee?” tanyaku bercanda.
“Hahaaa…. Genit dasar. Gapapa, cuma ngeliatin kamu” jawabnya.
Kudekati Wulan, aku jongkok di depannya masih dengan handuk yg melilit.
“Eheeem… emang kenapa sayang?” tanyaku sambil tersenyum.
Wulan yang duduk diranjang menarik kepalaku dan memeluknya.
“Gapapa sayang, cuma bahagia aja aku akhirnya jadi istrimu, jadi ibu dari anak2mu nanti. Kamu tau ga sayang, Aku tuh dari dulu sejak kita jadian ga tau kenapa yakin banget kalo kamu bakal jadi suamiku, dan itu yang tak impikan setiap hari selama kita pacaran. Eh ternyata benar..heheee” Wulan menjelaskan.

Kuangkat mukaku, kupandangi mukanya. Terharu aku mendengar ucapannya.

“Iya sayang… Maaf ya sayang, tapi kini aku harus berbagi..”

“Stop ahh… udah Adi, ga usah bicara itu. Semua sudah terjadi. Kasian Sari kalo dengar. Ingat, kalo kamu sayang sama aku, kamu jg harus sayang dengan Sari… Aku bahagia kok sekarang. Ga usah minta maaf dan terus merasa bersalah kaya gitu yaa ” ujarnya.
Hatiku luluh, Wulan memang benar-benar malaikat bagiku.

“Bentar lagi kamu jadi Bapak, sayang..”ujarnya lagi.
“Iya sayang… makasih yaa. Jaga kesehatan yaa, biar besok lahir sehat. Cake kaya papanya” ujarku.
“Yaaah boleh.. asal ga nurun bandelnya”

” Hahahahaaaaaaaa….haaaaahaa”
Kami tertawa bersama.

Kuelus perut Wulan dari balik bajunya.
“Sehat ya nak, jangan nakal. Kasian mama. Ntar kalo km dah keluar papa ajak main bola…heheee” ucapku berbisik di perut Wulan. Kucium lagi perut Wulan.

Wulan menarik tanganku sambil berdiri. Kami berdiri berhadapan. Wajah kami saling berpandangan. Kucium bibirnya yang lembut. Wulan membalas, dan kamipun bercumbu mesra…

“Smochh….smochhh..smochh..smochh”

Kami hampir 10 menit beradu bibir.
Kurasakan birahiku naik. Kontolku yang terbungkus handuk membengkak tegang.
Wulan merasakan reaksi kontolku yang berhimpitan dengan tubuhnya dipelukanku.

“Dasar genit… gitu aja naik…heheee”
“Habis udah lama ga dipakai. Sensitif dia, liat wanita cantik suka iseng bangkit..hehee” aku membalas candaannya.
“Dasar…hahaaa”

Wulan meraih handukku dan menariknya. Aku pun telanjang, kontolku yang sudah membengkak nampak mengacung keras. Wulan meraih kontolku dengan tangannya. Dielusnya kontolku dengan lembut. Selang kemudian dikocoknya pelan. Tangan halus Wulan terasa di batang kontolku, rasa geli menjalar ke seluruh tubuhku. Kupeluk tubuhnya.

“Lagi pengen ya sayang?” tanyanya.
“Emang bisa yang?”
“Pelan tapi ya yang, hati-hati” ujarnya.
Aku mengangguk. Kurebahkan badannya di ranjang. Aku berdiri di samping ranjang, kusodorkan mukaku kepada Wulan. Kamipun kembali berpagutan mesra.

“Smoch…. smoch… smocccchh”
Kurebahkan badanku miring disampingnya. Kuremas toketnya yang masih terbungkus baju.
“Ahhhh….ssssttt” Wulan mengerang.

Kucumbui leher dan telinganya. Wulan menngelinjang kegelian. Lidahku bermain di tengkuknya, jilatan lidahku yang kasar membuat kulit leher Wulan yang halus bergidik nikmat.

“Ahhhh …masss…ohwhh..ahhh..ah”
” Sayang, aku buka yaa”tanyaku.
Tanpa menunggu persetujuannya, aku buka seluruh baju yang menempel ditubuhnya hingga telanjang bulat .

“Jelek ya sayang, gemukan aku sekarang ini” ucapnya berbisik
“Ssssssttt…apa sih. Engga kok, kamu hamil malah makin cantik.” ujarku.

Kucumbui dari samping tubuh telanjang Wulan. Kuremas-remas toketnya yang kini membesar karena hamil. Sesekali kupelintir putingnya yang juga membesar dan kadang kuhisap pelan.

“Aaaahhh….mass….oohhhhh.. Arghhhh…… Owhhh…ssssttt….Aaaahh.”

Wulan merintih-rintih kenikmatan.
Aku jilat tubuhnya dari bibir, leher, dada dan perut. Wulan mengeliat-liat menahan birahi. Rintihan, erangan dan desahan tidak putus dari mulutnya. Kuhisap pentilnya dengan lembut, sesekali kugigit pelan. Tanganku tak tinggal diam, ku usap bibir memek Wulan. Bulu tipis diatas memeknya kuusap memutar, membuat Wulan mengeram nikmat.

“Aoooo…. Ohhhh… mass… Ahhhhh…Ahh”

Puas mencumbui tubuh Wulan, aku berjongkon di depan selangkangannya. Kulihat memek Wulan memerah, sedikit nampak lebar mungkin karena hamil. Kusodorkon kepalaku maju ke arah memeknya. Ku kecup pelan…

“Awhhhh..ohh” Wulan seperti tersentak.
Kujilati memek Wulan dengan lembut, entah kenapa cairan vaginannya lebih enak ketika hamil. Kurasakan manis dan gurih.

“Aaaaahh..Ouwwwhh…mass…ahh enak mas….Ohh sssssttt…. Aaaa…Ohhhh”

Wulan meremas kepalaku yang tenggelam diselangkannya. Memeknya berkedut. Aku akhiri permainan lidahku di memek Wulan. Aku kembali berjongkok di antara selangkangannya, kuarahkan kontolku ke memeknya. Perlahan kudorong pelan menembus ke memeknya.
“Pelan ya sayang….ahhhhh…” kata Wulan.
Aku mengangguk. Kudorong pelan kontolku ke memeknya. Cairan memek Wulan membantuku melumasi batang kontol ku sehingga menjadi licin dan mudah masuk.

“BLEEEESSSSSS…”
“Ahhhhh…masssssssss…oh” Wulan berdesis nikmat. Kontolku amblas di memeknya. Kudiamkan sebentar. Kukocok dengan tempo pelan. Memeknya masih menggigit.

“Arghhhhh… Oghhh Sayangg….Aaaahhh…..Owhh..ssstttt…. mass…ohw.. ahhh enak mas…Aaahhhh”

Mulut kami beradu rintihan. Peluh membasahi tubuhku. Kulihat muka Wulan, matanya terpejam menahan nikmat. Sesekali dia remasi sendiri toketnya. Sekalipun tempoku sedang, kenikmatan yamg kuat tetap kami rasakan.

“Ahhhh…Ahhhh…OWHHH..sssstt..ahhh”

“Yang, ganti posisi yaa, dari belakang”
“Iyaaaa yang” jawab Wulan.
Wulan rebahan sambil memiringkan tubuhnya. Aku rebah miring juga dibelakangnya. Kuarahkan kontolku ke pantatnya . Kuremas -remas pantat Wulan yan bulat indah. Kontolku sudah siap, kugesekkan pelan dan kudorong….
“BLEEESSSSS…”
“Aohhh….Aawwwwwh” rintih Wulan.
Kugoyang kontolku pelan. Memang harus seperti ini bercinta dengan wanita hamil, harus sabar dan pelan supaya tidak membahayakan kandungan.

“Argh…Owhh… sssssssttt…. mas….ohhhh enak masss… Ahhhh…gggghhh…Owh…
Ahhh…ssstttt….Ahhh..Owh..Ah….Aaahhh”

Kami masih berpacu.
Kontolku masih mengaduk memek Wulan dengan tempo sedang. Walapun begitu kenikmatannya tidak berkurang.
Kurasakan kedutan memek Wulan semakin intens, dinding memeknya pun mengencang seperti memeras batang kontolku.

” Mau keluar ya yang?” tanyaku sambil mengecup keningnya.
” Ahhhhh….iya ..iyaa sayang…ahhhh ..ohhh….” jawab Wulan.
“Keluar bareng yaa yang…”
‘Eehhhh…Ahh. iya yang…Ahhh iyaaa…..ohhhh…sssttt…”

Tak begitu lama badan Wulan mengejang, kurasa cengkeraman memek Wulan semakin kuat. Kontolku jg sudah mau orgasme, kepala kontolku berkedut…

Kugenjot dengan pelan.
Kedua tanganku memeluk Wulan dari belakang sambil meremas toketnya.

“Ahhh sayang…aku keluar..ahhhh.. Ewww… sssttttt…Ahhhh….. Ooooh”

” Ohhh aku juga yang…ahhhhh..ohhhh….Owhhhh…ssst”

“Croooot…crot…crooooot…crooot… crot!!”

Badan kami berdua bergetar hebat. Desahan nafas Wulan nampak memvuru. Aku peluk badan Wulan dari belakang. Orgasme yang nikmat tentunya.

“I love you sayang..” Wulan berbisik manja.
“Love u tooo…” balasku.

Wulan memeluk tanganku yang masih memegang dadanya dengan erat. Tubuh kita masih terbaring menyamping. Kucium keningnya mesra. Kontolku masih terjepit di pantatnya. Sungguh sensasi sex yang nikmat dan yang memang selalu kudapat dari Wulan.

———————————————————-
BERSAMBUNG

END – Berbagi Cinta dan Nafsu Part 15 | Berbagi Cinta dan Nafsu Part 15 – END

(Berbagi Cinta dan Nafsu Part 14)Sebelumnya |Bersambung(Berbagi Cinta dan Nafsu Part 16)