Berbagi Cinta dan Nafsu Part 13

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20

Berbagi Cinta dan Nafsu Part 13

Start Berbagi Cinta dan Nafsu Part 13 | Berbagi Cinta dan Nafsu Part 13 Start

13. Selama mereka tidak tahu

Hari ini hari Senin, tapi Aku memulangkan karyawan kantor lebih awal karena ada orang tua karyawan yang meninggal. Kami berencana untuk melayat di rumahnya di daerah Jl Wonosari. Jam 10 pagi kami berangkat dari kantor menuju kediaman rumah duka. Karyawan kantorku tidak banyak, hanya 11 orang dan itu sudah termasuk 3 orang Satpam. Beda dengan yang di pabrik, ada sekitar 20-25 karyawan dan mereka tetap bekerja full hari ini karena yang meninggal Orang tua karyawan kantor yang tentu tidak begitu dekat dengan mereka. Kantor dan pabrikku berada di tempat yang berbeda, kantorku di jalan Monjali sedangkn untuk pabrik berada di Ring road selatan Yogyakarta. Dan aku memang mengedepankan sisi humanis dalam merawat dan memperlakukan karyawan. Karena bagaimanapun aku dulu seperti mereka, dan tau bagaimana diposisi mereka. Hal-hal seperti ini aku anggap sangat penting, supaya karyawan merasa diperhatikan dan betah bekerja untuk kita. Toh libur setengah hari tdk membuat usahaku bangkrut, sisi pendekatan kemanusiaan lebih utama. Justru aku pikir ini bagian dari sedekah hati dan akan membukakan pintu berkat yang lain.
—————————————————————-
Setelah pulang melayat, Aku mengajak karyawanku makan bersama di salah satu resto ayam goreng di bawah jembatan layang Janti.
Mereka begitu menikmati traktiran makan yang ku berikan. Yah walaupun masih ada sisi sedih membayangkan teman kita yang sedang berduka.

Setelah makan bersama, kamipun pulang meninggalkan tempat makan. Mereka pun bubar masing2 berkendara dengan kendaraannya, kecuali Vivi dan seorang staf lainnya bernama Ibu Ari yang memang dari berangkat tadi ikut mobilku. Rumah ibu Ari tidak terlalu jauh dari tempat makan, sekitaran Babarsari sehingga aku pikir sekalian di kuantar balik kerumahnya.
Setelah menurunkan Ibu Ari di rumahnya, aku lanjut mengantarkan Vivi ke rumahnya di daerah Seturan.
Sampailah aku di depan rumahnya.

“Mampir dulu mas…” Kata Vivi.
“Ada Alfred ga? ga enak kalo mampir ga ada suamimu…” balasku basa-basi.
“Yee pake nanya, ini kan hari kerja. Dia ke Bandung td malem. Lagian sok-sokan pake gak enak segala… takut dicari istri ya? hahaa” ucap Vivi
“Yaudah okelah kalo dipaksa…hehee” candaku.
“Yee genit…. hahaaa sapa pula yang maksa. Mau mampir ga, kalo mampir aku bukain gerbang masukin aja mobilnya”
“Yaudah sana turun, bukain pagarnya” ucapku sambil tersenyum dan mengedipkan mata kearahnya. Vivi membalas dengan memeletkan lidahnya dan turun dari mobil.
“Kesempatan nih, sp tau diajak “olahraga” heheeee…” batinku sambil berfikir nakal.

Setelah memarkirkan mobil, aku pun turun dan masuk kerumah Vivi. Kutengok jam masih setengah 2 siang. Mampir sini dulu gapapalah, pasti istri-istriku pikir aku masih kerja.

“Kalo ga ada Alfred kamu sendirian Vi dirumah ini?” tanyaku.
“Engga sih mas, ada adiku yang kuliah disini. Cuma dia lagi KKN, jadinya sepi ni rumah” jawabnya. ” Oiya mau minum ga mas?” tanyanya balik.
“Ntar aja Vi, blm haus” jawabku.
“Aku ganti baju dulu mas” jawab Vivi sambil masuk ke arah kamarnya.

Kupandangi foto-foto yang ada di dinding rumah Vivi, nampak banyak terpasang foto Vivi dan Alfred suaminya, sekaligus sahabatku. Nampak pula Foto besar pernikahan mereka. Tampak romantis dan serasi.
“Ah andai saja kamu tahu Fred, istrimu yang cantik itu telah beradu keringat, lidah dan kelamin dengan ku..hehee” batinku.

“Kreek..” kudengar bunyi pintu terbuka.
Vivi keluar dari kamar, dia telah berganti pakaian dan kini hanya menggunakan daster rumahan berwarna hijau yang nampak anggun dan sexy.
“Sini aja mas, duduk disini bs sambil nonton TV ” ucapnya. Aku pun menurutinya, aku berdiri dari ruang tamu dan berjalan ke arahnya diruang tengah.
Vivi menyalakan TV dan duduk disebelahku.

“Sepi banget ya mas rumahku?” ucapnya.
“Iya nih, knp juga Alfred ga cari kerja di jogja aja?” ucapku.
“Itulah mas, dia kan dipindah sama kantornya ke Bandung. Mau ajak pindah aku juga tapi terlanjur beli rumah disini. Aku suruh dia keluar dan pindah ke Jogja, tapi katanya belum ada info kerjaan disini” Ucap Vivi.
“Yah yang sabar, namanya juga usaha ” kataku.
“Itu mungkin yang bikin kita susah punya anak, intensitas ketemu aja jarang” ucap Vivi, mukanya nampak murung. ” Mas Adi enak rumahnya rame, mana bntr lagi dah mau punya anak. Eh tapi ngomong-ngomong kok bisa akur gmana ceritanya mas? hehee…kepo dong mas” tambah Vivi.
“Hahaa…kamu ini ah. Ga ada resepnya, ya berusaha adil aja ” ucapku sok bijak. Jujur aku ga punya resepnya memang.

“Enak ya mereka bs ketemu sama suami tiap hari”
“Lha ya jangan gitu dong, suamimu kan pergi kerja” balasku.
“Iya sih mas, cuma kita kan masih muda. Harusnya lagi panas-panasnya, harus sering bersama biar bs punya anak. eh ini malah jauhan tinggalnya. Yang Vivi butuhkan kan ga cuma uang mas” tambahnya.
“Emang apa yang kamu butuhin lainya? ” tanyaku sambil tersenyum kearahnya.
“Ah tauk ah mas…hahhaa” Vivi tertawa.
“Yah sapa tau aku bisa kasih yakan? bantu kamu, siapa tau bisa” godaku ke Vivi.
“Mas tau kok yang aku butuhkan…” ucapnya sambil tersenyum menggoda.
“Banyak basa-basi ah kamu…” sambil kutarik tangannya agar mendekat.
Vivi tersenyum manja. Dia kalungkan kedua tangannya ke keherku sambil duduk di pangkuanku. Mata kita beradu, tak lama kemudia bibir kami berpagutan…

“Smochhh…smochh..smoch..smochhh”
“ssssttttt…ssstt…ah” Vivi mendesis ketika cumbuanku kualih kan ke leher dan telinganya. Pelukannya semakin erat.

“Ahhhh…Ouwhhh….Ahhh massss…ah” Vivi kembali merintih ketika tangan kiriku meremas toket. Aku tarik baju Vivi ke atas dan kulepaskan. Kini Vivi hanya menggunakan BH dan CD di pangkuanku. Aku ciumi leher jenjangnya, tanganku mengelus punggung dan pantat Vivi . Aku arah kan jilatanku ke leher dan dadanya.
Kulepas kaitan BH Vivi hingga kemudian toket bulatnya terpampang didepan mukaku. Kuarahkan lidah ku ke puting kirinya, lidahku menjilat lembut.

“Ohhwhhh….oooh…ahhhh…argggghhh”
Vivi menggelinjang menahan geli, badannya melengkung. Aku remas-remas toket Vivi yang satunya. Aku hisap-hisap toketnya bergantian, lidahku kumainkan dari ujung puting turun hingga ke ketiaknya.

“Aaaahh…mass….Oh…ssstttt..ahhhh….Owhhh….Ahhhh….ahh…sstttt…sttt..Ahh”
Vivi berdesis dan merintih menerima seranganku.

“Ahhh…ohhh..mas,,,stop dulu mass…ahh. Lanjut di kamar aja yuk mas…ahhhh…ohh” kata Vivi sambil menunjuk pintu kamarnya.
Tanpa bicara kugendong badanya, kearah kamar yang dia tunjuk.
Kurebahkan badan Vivi diranjang. Aku teruskan serangan lidshkuku ke leher, toket, kulanjutkan dengan mengecup pusarnya. Lidahku kumainkan di perut Vivi.

“Ahhhh…mas..Ohh…ennak”
Vivi berteriak ketika jilatanku bermain di atas memeknya yang masih terbungkus CD. Aku tarik turun CD nya, dan terpampanglah memek Vivi yang bermmwarna merah muda kontras dengan kulitnya yang putih. Aroma harum memek Vivi membuat gairahku semakin panas. Kudekatkan bibirku ke klitoris nya, aku jilat dan gigit pelan hingga Vivi kelojotan.
“Ahhh…mass..enak banget…ahhh..Vivi belum pernah diginiin” ucap Vivi.
Aku tersenyum, kubenamkam mukaku ke memeknya, aku pagut bibir memeknya. Hisapan dan jilatanku yang liar menyerang memek Vivi, ku sedot juga cairan yang meleleh di memeknya.
Sambil mengoral Vivi, kubuka kemejaku.
Vivi semakin terangsang, jepitan kakinya di kepalaku semakin kencang. Aku masukkan jari tengahku mengobel memeknya, lidahku kusapukan di klitorisnya 5 menit kemudian….

“AHHHH….sssstttt….Masss…Ahhh..aku keluar..owhhhhhhh…ahhhhh..Owhhh”
Badan Vivi bergetar, memeknya berkedut dan menyemprotkan cairan bening. Aku keluarkan jariku, kusedot dan kutelan cairan Vivi. Dia mendapat orgasme pertamanya.

Vivi tergeletak lemas di atas ranjang. Aku berdiri, kuturunkan celana dan CD ku. Kontolku yang sudah regang dari tadi mencuat gagah. Aku mendekat ke arah ranjang. Ku tarik pelan kepala Vivi ke arah kontolku, Vivi paham yang kumau. Dipegangnya batang kontolku, dikecupnya bagian kepala kontolku. Sambil dikocoknya pelan, dihisapnya kepala kontolku.
“Owwwhhh…Ahhhh…stssssst…ohh”
Aku merintih menahan geli ketika lidah Vivi menghisap kontolku. Rupanya Vivj sunggung jago memainkan kontol dengan mulutnys. Lidah Vivi terus memanjakan kontolku. Batang kontol, kepala kontol dan buah zakarku tuntas dia jilati. Terakir dia masukin kontolku penuh ke mulut nya kemudian dioralnya dengan tempo tinggi.

“Ohhhwww….”aku menjerit menahan nikmat.
Aku tarik kontolku, aku tidak mau keluar dulu. Aku masih harus menggempur memeknya.
“Udah Vi, kita lanjutin ” kataku sambil mendorongnya rebah lagi.
“Enak mas?” kata Vivi sambil tersenyum. Aku tidak berbicara, hanya mengganguk sambil tersenyum. Aku berdiri di pinggir ranjang, kedua kaki Vivi kuangkat ke bahu.
Kugesekkan kepala kontol ku ke memeknya..
“Ahhh..pelan mas, punya mas gede banget….ahhh lebih besar dari suamiku”
“Oiya …masa sih ? ” tanyaku usil.
“Iya mas..ahhhh…mas Adi punya lebih besar..lebih nikmat…ahhh…” erang Wulan.
Aku tertawa kecil, entah benar atau tidak ucapanya aku tak peduli. Aku fokus ke kontolku yang mau kupakai mengobrak-abrik memeknya. Kuarahkan kontolku ke celah memek nya dan…
“BLEEEESSSSSS…..”
“Ahhhhhh……sssttt….owh…ahh” Vivi merintih.
Kontolku masuk seutuhnya didalam memek Vivi. Kudiamkan bentar, kupandangi matanya. Vivi terpejam, bibir bawahnya dia gigit serta kedua tangannya meremasi toketnya sendiri. Benar-benar pemandangan yan eksotis. Nafsuku makin liar. Kugenjot pelan kontolku di memeknya, entah sekecil apa kontol si Alfred, yang jelas memek istrinya ini benar-benar masih rapet.

“Owhhh…ahhhhh…ahh..ahhh..sstt..masss…..Ahhhhhhh..owhhhhhh…..”
Vivi mengerang menahan nikmat genjotan kontolku. Aku peluk erat dua kaki Vivi di dadaku, sementara dibawah sana kontolku menyerang memeknya dengan tempo tinggi.

“Ohhh…ahhhhhh….ahhhhh…ssssst…Oh”
“Plaak…plakk..plak..plak…plakk…ohw”
“Ahrgghhh….ssssstttt..mas….Ohhh..ah”

Suara rintihan dan erangan kami berdua menyatu dengan suara kelamin dan kulit kami yang beradu.Keringat membasahi kedua tubuh kami.

Aku mulai bosan dengan gaya ini. kucabut kontolku dan kutunggingkan badan Vivi. Vivi menurut dan menungging di atas ranjang.. Kontolku kuarahkan ke memeknya dari belakang, kusodokkan pelan..
“BLWEESSSSS”
“Ahhh…oooooohhh….Ahrhgghh…”
Vivi melolong panjang, memeknya berkedut.
Aku pacu kontolku dengan posisi doggy. Aku lihat dari kaca rias di kamar Vivi, nampak pemandangan yang indah.Seorang wanita cantik dan sexy, menungging diatas ranjang pengantinya dengan kontol orang yang bukan suaminya menggenjot memeknya.

“Ohhhh..Vi…enak bgt memekmu…Ahhhhhhh…” bibirku meracau. Jepitan memek Vivi dikontolku benar-benar nikmat.
“Ahhhh…iya mas..ahhh..kontol mas juga enak…ahhh..lanjut mas…ohhhh…”balas Vivi

10menit kemudian, kami berganti gaya. Kucabut kontolku, kusandarkan badanku ke tembok yang menyatu dibagian ranjang. Vivi mendekat ke pangkuanku, dia arahkan kontolku ke memeknya dan..
“BLESSS…” Kontolku menembus memeknya.

“Aaahhhh…..” erang Vivi
Kugenjot naik -turun kontolku. Vivi merangkul kepalaku dan diarahkan ke toketnya. Aku berhenti menggenjot, kali ini Vivi yang aktif menaik-turunkan pantatnya di kontolku. Aku hisap dan remasi toket Vivi yang terpampang dimukaku.

“Ahhhhh….ohhhh…Ahhhh…ssssdttt…ssst….Vivi….oh mas Adi…ahhhh..enak…iya mas…ahhb enak…ohhh..Owhhhh…Arghhh…..”

Mulut kami saling merintih menahan nikmat. Aku raih mulut Vivi, kupagut liar, aku hisah lidahnya didalam mulut.

“Owhm….mass…ohhh aku nyampe lagi….ohhhhhh…Aaaaasarrrgh….ahhj”
Badan Vivi mengejang, dia peluk tubuhku erat. Aku rasakan kedutan memeknya di kontolku.

“srrrttt…srrrttttt.. srttttg…” kurasakan batang kontolku diguyur cairan nikmat dari memeknya.
“Ahhhhhhh…masss enak…” kubiarkan Vivi menikmati orgasmenya. Sementara dibawah sana, kontolku masih tegang didalam meneknya.
Kudiamkan beberapa saat, Tubuh Vivi melemas dipelukanku.

Ku rebahkan tubuh Vivi ke samping.
Kulihat mukanya tersenyum.
” Boleh aku lanjut?”tanyaku.
Vivi mengangguk.
Aku tindih badan Vivi, kuarahkan kontolku ke memeknya dan…
“BLESSSSSS…”

Kembali kontolku mengaduk memek Vivi, kali ini tempo sodokanku langsung tinggi.

“Ahhh….Ahhhh..owhhhh…phhhh..ohhhhh”

Kami saling merintih, kuciumi muka, leher dan toket Vivi. Kulihat Foto Vivi dan Alfred di meja samping ranjang.

“Sorry bro, tubuh istrimu benar-benar nikmat…” batinku.

Lidahku liar menjilat seluruh tubuh Vivi yang bisa kujangkau. Vivi nampak mulai mendapatkan gairahnya lagi. Dia usap-usap dada, muka dan punggunggu sambil sesekali membalas lumatanku.

“Ahhhh….Vivi, aku dah mau keluar. Keluarin dimana..?? ahhh oohh” ucapku sambil menggenjotnya.
“Ahhh..terserah mas Adi, didalam juga gapapa mas…Ahh… hamili Vivi mas….Ahhh..orgh… Vivi pengen hamil dari mas…ohhh ahhh mas..keluarin dalem…ahh Aah.. hamili Vivi mas..Oowh mas..ayo hamili Vivi mas..Ahh” Balas Vivi
Ucapan Vivi menambah nafsuku aku genjot semakin kencang kontolku.

“Ahhhh…terus mas..semprotin di dalem..ahh hamilin aku mas..ahhh” erang Vivi, matanya menatapku sayu.
“Aku juga mau keluar lagi masss…ahh..aduh enak mas.. semprotin mas… aku pengen punya anak dari kamu”

Kontolku semakin berkedut. Kubenamkan dalam-dalam kontolku di rahimnya dan kusemprotkan spermaku sampai tuntas..

“Ahhh..mas..Ahhhh….aku sampai..Owhhhhhhhh…Aku sayang mas Adi..Aku ingin hamil anakmu mas” erang Vivi

“Ohhhhh..ahhh kuhamili kamu Vii…”
“Crooooottt…croooooot…croot..crotttt”
Vivi orgasme berbarengan dengan semprotan maniku yang membanjiri memeknya.
“Ahhh mass…enak banget. Vivi belum pernah ML seenak ini”. ucap Vivi.
Aku cium keningnya, sejurus kemudian kami berpagutan. Luar biasa nikmat, badan Vivi benar-benar nikmat.
Kami berpelukan, masih kutindih badan Vivi. Kontolku masih didalam memeknya.

Aku tersadar, aku baru saja melepas birahi dengan istri temanku di ranjang pernikahannya. Aku merasa sedikit berdosa dengan temanku, Alfted.

“Kalo hamil bener gimana Vi” tanyaku.
“Gapapa mas, Aku malah bahagia bisa punya anak dari mas. Jujur aku suka sama mas, tapi Vivi tau ga mungkin bs jadi pendamping mas. Bisa punya anak dari mas sudah cukup membuatku bahagia” jelasnya.

“Gila… aku baru tau kalo Vivi diam-diam menyukaiku” aku membatin.
Aku tidak menjawab ucapannya, hanya membalas dengan mencium keningnya.

“Mas nyesel ya?” tanya Vivi lagi.
“Nyesel knp?”
“Mas menikmati ga tadi?”
“Iya sayang…” kukecup bibirnya.
“Jangan hiraukan ucapan Vivi tadi ya mas” Ucapnya lagi sambil mendorong badanku untuk geser ke samping.
Aku beringsut rebah disampingya. Aku mengangguk dan kucium pipinya.
Kutarik Vivi dalam pelukanku.

“Baru juga belum 2 bulan nikah, udah selingkuh aja…dasar suami nakal” canda Vivi sambil mencubit lenganku.
“Nah kamu juga, udah punya suami tp pengen dihamilin suami orang…dasar istri nakal” balasku.
“Haahaahaaahaahaa..haahaa” kami berdua tertawa bersama.
“Jam berapa Vi?”
“Jam 4 mas ..” jawab Vivi.
“Lama juga ya kita “olahraga” hehee…aku pulang dulu ya..” ucapku.
“Yee..dah dicari istri yaa..hehee” balas Vivi

Aku bangun, kucubit teteknya manja. Aku ambil bajuku dan kupakai. Vivi pun memunguti bajunya dan berjalan keluar kamar.

“Mas , lain kali nginap dong” ucap Vivi sambil menyerahkan segelas air mineral ke arahku Ketika aku keluar dari kamarnya.
“Boleh, lain waktu ya kalau ada kesempatan” jawabku.

Kuletakkan gelas dimeja dan kudekati Vivi, aku peluk dan kucium keningnya.
“Aku pulang dulu yaa…”
“Iya mas..hati-hati” balasnya. Vivi nampak berat melepasku.

—————————————————————
Aku merenung sepanjang jalan. Kalo sudah diselimuti nafsu, manusia bisa lupa segalanya.

Aku pun merasa kalah dengan nafsu. Aku yang mempunyai Sari dan Wulan telah tahkluk dengan nafsuku sendiri sehingga aku menghianati mereka dengan meniduri Vivi. Begitupun, seakan aku lupa bahwa dengan meniduri Vivi aku telah berkhianat dengan Alfred sahabatku.
Tapi, ajakan Vivi, permainan Vivi dan godaan tubuhnya yang sexy benar-benar meluluhkan akalku. Aku jamin tidak ada yg bisa menolah bercinta dengan wanita secantik Vivi kalo ada kesempaatan.

“Yah asal Istri-istriku dan Alfred tidak tahu, nikmati aja..” batinku mencari pembenaran.
———————————————————-‘

BERSAMBUNG

END – Berbagi Cinta dan Nafsu Part 13 | Berbagi Cinta dan Nafsu Part 13 – END

(Berbagi Cinta dan Nafsu Part 12)Sebelumnya |Bersambung(Berbagi Cinta dan Nafsu Part 14)