Berbagi Cinta dan Nafsu Part 12

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20

Berbagi Cinta dan Nafsu Part 12

Start Berbagi Cinta dan Nafsu Part 12 | Berbagi Cinta dan Nafsu Part 12 Start

12. Sukar Dijelaskan

Ini adalah hari pertamaku kerja setelah libur 10 hari mengurus pernikahanku. Selama itu juga aku handle kerjaan by phone dan remote Vivi untuk menjalankan tugas. Perusahaanku bukan perusahaan besar, aku sendiri yang kelola jadi lebih flexibel aku mengatur waktu. Merintis usaha ini juga kulakukan dari nol. Percaya tidak, dulu aku memulai hanya dari pengepul plastik dan besi bekas, yang kemudian kukirim ke pabrik di Semarang dan Cikarang. Kemudiaan, karena harga besi lebih menguntungkan aku fokus di pengumpulan besi tua. Dari bangkai mobil, besi bekas konstruksi sampai limbah besi rumahan lainya. Dari situ aku dapat relasi berbagai macam bidang, sampai aku tahu sistem pengolahan besi tua dan cara memproduksinya menjadi barang siap pakai. Hingga akhirnya kini dapat berdiri sendiri pabrik pengolahan besiku. Dari situ kemudian aku jaminkan izin usahaku ke Bank sebagai modal membangun kos dan lap Futsal. Terkesan simple saat diceritakan. Tapi sebenarnya, aku harus berdarah-darah mejalaninya.

Kembali ke kantor…
“Pagi mas…” ucap Vivi tersenyum genit ketika membuka pintu ruangku. Semenjak kejadian sebulan yang lalu dengan Vivi memang dia berubah sedikit genit didepanku. Walaupun belum terulang lagi kejadian kaya gitu.
“Ya Vi….pagi. Ada apa?” jawabku.
“Selamat ya mas pernikahannya…ciee udah sah jadi suami orang sekarang..hahaa” ucapnya.
“Yee yang lain dah ngucapin, kamu telat. Dari mana aja kamu…? makasih ya” balasku.
“Maaf mas telat, mobil Vivi mogok tadi makanya naik taxi” ujarnya lagi. “Jadi yang dulu bikin mas galau tu ini yah? harus nikah sama 2 cewe? mantaaab hahaaa” cecar Vivi.
“Nah itu tau” Balasku singkat.
“Lagian sih mas rese, masa dua2 nya isi…hahaahaa. Mana Vivi pula yang harus repot-repot buat hibur…hahaa”
“Husss..enak aja. Kamunya aja yang gatel. Salah sendiri km yang godain, iman kuat imron yang enggak..hahaa” balasku
“Hahaaaa…Jadi mas, gimana skrng tinggal dirumah bertiga? bisa akur?” Cecar Vivi.
“Rahasialah…kalo akur sih akur. Ada jurusnya buat itu….kepo lu, mau tahu aja” ujarku sambil mengedipkan mata.
“Beruntung ya mas istri-istri mas”
“Maksudnya…??” ujarku heran.
” Gapapa, gak jadi..heheee. Udah ah kerja lagi.” Ujar Vivi.
“Jadi kapan bisa “olahraga” lagi?” ujarku menggodanya, sambil tanganku membuat gestur sedang meremas sesuatu.
“Tau ah..dasar buaya. Istri dah dua masih genit…hehee” jawab Vivi.
” Ohh gitu, jadi dah ga mau lagi?” godaku sambil tersenyum.
” Kapan-kapan…Vivi lagi ‘M’. By mas…hehee” jawab Vivi sambil keluar dan menutup pintu.
Aku tersenyum geli melihat tingkah Vivi.
—————————————————————-

Sore jam 5 aku baru smp rumah.
Sari menyambutku, dia sedang menyiram bunga didepan rumah.
“Capek mas? ” Tanya Sari
“Ga terlalu, capeknya dah hilang liat kamu” ucapku sambil tersenyum.
“Ganjen…”balas Sari sambil tersenyum.
Sari mencium tanganku, kucium keningnya.
“Mana Wulan?” tanyaku.
“Mbak Wulan didalam mas, td sih katanya bikin puding buat makan malam” jawab Sari.

Aku berjalan masuk, diikuti Sari.
“Pulang sayang…? tanya Wulan.
“Iya,…” jawabku. Kuhampiri dia, Wulan mencium tanganku dan kubalas mencium keningnya.

Aku duduk di depan tivi, kedua istriku duduk kanan-kiriku. Kami mengobrol dan bercanda. Sejak pulang dari Salatiga 3 malam yang lalu aku selalu tidur di depan TV. Sari dan Wulan tidur di kamar masing-masing. Entah kenapa rasanya canggung sekali hari-hariku. Walaupun keduanya sah istriku, tapi rasanya tidak sampai hati bermesraan dengan salah satunya karena takut membuat yang satunya cemburu. Bahkan, akupun sebisa mungkin ketika mencium dan memeluk salah satu dari mereka kuusahakan tanpa sepengetahuan yang lainnya. Canggung.

“Sayang, ntar tidur dikamar ya, jangan dikarpet depan TV terus ntar sakit” Wulan membuka obrolan.
“Iya ni mas Adi tidur didepan mulu” tambah Sari.
“Iya, iya… soalnya ketiduran. Biasa nonton TV, eh tau2 dah tidur” ucapku. “Jadi kalian masak apa buat makan malam?” tanyaku. Memang tadi pagi mereka berjanji akan membuat makan malam.
“Jadi kita berdua tadi ke Salon Adi, pumpung ada diskon. Ya gak Sar? Jadinya kita ga masak, yang masak bu Slamet. Cuma td aku bikin puding buat kamu..hehee” Ujar Wulan sambil tertawa.
“Iya mas…. maaf ya. heheee” Sari menambahkan.
“Aduhh dasar kalian….Sudah kuduga..hehee” Balasku. “Yaudah yuk makan kita” ujarku sambil berdiri.
Kamipun beranjak menuju meja makan untuk makan malam.
Memang bukan masakan mereka yang kusantap, walaupun begitu aku tetap lahap karena masakan bu Slamet memang enak. Tapi yang menjadi kebahagianku malam ini adalah melihat kedua istriku akur dan kompak.

—————————————————————-

Aku keluar dari dalam kamar mandi yg ada kamarku sehabis cuci muka. Kulihat Sari dan Wulan rebahan di kasur kamarku.
“Jadi kalian mau tidur disini” tanyaku.
“Iya mas…bolehkan?” balas Sari sambil tersenyum.
“Okelah aku tak tidur di kamar depan aja” ucapku.
“Lhah kok gitu? kita kan tidur sini tuh mau nemeni kamu. Gimana sih Di?” sergah Wulan.
“Iya ni mas Adi…” tambah Sari.

“Hehehee. Iya..iyaa ok .” Aku tersenyum, kemudian aku duduk di bibir ranjang.

” Sari, Wulan… jujur aku masih canggung. Itulah kenapa aku ga berani tidur dengan salah satu dari kalian. Aku takut ada dari kalian yang cemburu” ucapku.
Kedua perempuan ini tersenyum, berpandangan.

“Adii…. Aku ini istrimu, kita udah sah suami istri. Tentang Sari, diapun istrimu. Ketika aku menerima kondisi rumah tangga yang seperti ini, akupun tau konsekuensinya. Sari istrimu juga, jadi aku gak akan cemburu kalo kamu ngapain aja sm dia. Dan aku yakin Sari pun berpikiran yang sama. Ya ga Sar?” terang Wulan.
“Iya mas Adi… jujur aku juga canggung. Tapi benar apa yg dibilang mbak Wulan tadi. Jadi ya kita harus membiasakan” tambah Sari.

“Iya baiklah. Makasih yaa…” balasku. Kurentangkan tanganku, kupeluk kedua wanita yang ada didepanku. Ku berikan ciuman masing-masing kepada mereka. Ini pertama kali aku mencium bibir Wulan didepan Sari, begitupun sebaliknya.

“Ga usah grogi kali Di…” canda Wulan.
” Haeheheeee…” kami bertiga tertawa.

Kupandangi mata mereka bergantian. Mereka berdua tersenyum. Entah kenapa hatiku begitu bahagia malam ini. Kupeluk badan Sari yang posisinya lebih dekat denganku. Kepala Sari menyandar dibahuku, menghadap belakang. Wulan mendekatiku. Diciumnya bibirku, lidah kita pun beradu.
“Smochhh….smochhh…smoch”

Aku berciuman dengan Wulan yang berlutut di kasur. Aku sendiri berdiri di pinggir ranjang sambil memeluk Sari.
Lama kami berciuman..sesaat kemudian
Kualihkan ciuamku ke bibir Sari.
“Smochhh…smochh..smoch”
Sari membalasnya.
Wulan beringsut mendekat, gantian masuk ke pelukanku ditangan yang satunya. Wulan menjilati telingaku. Gairah ku naik.
Sari melepaskan ciuman. Ditariknya kaosku, hingga kini tubuh atasku terbuka. Dielusnya dadaku oleh Sari, matanya memandangku serta bibirnya tersenyum menggoda. Kudekap kedua perempuan ini, kuciumi mereka bergantian. Gairahku bangkit, cukup lama aku tidak berhubungan sex dengan wanita. Sejak dipusingkan urusan pernikahan dengan keduanya, pikiranku kalut sampai-sampai tidak memikirkan urusan ranjang.

Kami melanjutkan adegan mesra ini.
Aku semakin liar, kini ciumanku berpindah ke leher dan telinga mereka bergantian.
Aku duduk di bibir ranjang, kaki ku dilantai. Sari dan Wulan duduk di masing-masing pahaku. Sambil kuciumi, sesekali kuremas toket mereka yang masih ada di dalam baja tidur.

“Ahhhhh….ahhhh..oh…Ahhhhhh..Ah”

Kedua wanita cantik di pangkuanku ini merintih. Rintihan mereka membuat nafsuku terbakar. Kutarik gaun tidur Wulan kemudian Sari. Kali ini mereka hanya menngunakan CD dan BH.

Kududukan mereka berdua di ranjang, aku berlutut diantara keduanya dan aku jilati leher dan dada mereka bergantian. BH Wulan kutarik kaitnya. Kuhisap pentilnya yang menggoda, Wulan menggelinjang sampai badannya rebah diranjang. Kutindih tubuhnya, batang kontolku yang sudah tegang didalam celana menekan memek Wulan.

“Ahhh..Owhhhh…..sayang. Ahhhh…” Wulan merintih

Puas mencumbu toket Wulan, aku beralih ke Sari. Kutarik Sari mendekat, bibir kami beradu.

“Smochh..smochh..smoch.ahhh”

Kutarik kaitan beha Sari. Aku menyandar di ujung ranjangku. Aku duduk, kuselonjorkan kakiku. Sari mendekatkan toketnya yg bulat ke wajahku. Aku serbu toketnya dengan cumbuanku.

“AHhhhh…ouhh..ahhh…..aaaaahh…ahh..ssttttt….ah…sttt….Owh..oh”
Sari terangsang hebat menahan nikmat dan geli pada toketnya. Sesekali kuremas dengan gemas pantatnya dengan tanganku.
Wulan tak tinggal diam, sekali tarik dipelorotin lah celanaku. Kontol ku yang sudah tegang mengacung, diremasnya.

“Oohhh…ahhhh” aku terpekik saat kurasakan hangat dan nikmat di batang kontolku. Rupanya Wulan memasukkan kontolku ke mulutnya dan mengoralnya.

Aku mencumbu toket Sari yang terpampang dimukaku, sambil kuremasi gemas pantatnya yang bulat. Sedangkan dibawah sana Wulan, mengoral kontolku.

Keringat dan erangan nikmat dari kami bertiga memenuhi kamarku .
Kudorong Tubuh Sari, Aku berdiri di pinggir kasur. Kutarik Wulan mendekat, kami berciuman.
“Smoch..smochh..smochh” kujilat dan kuhisap lidah Wulan dengan liar. Sari menggeser badannya, dia dekatkan mukan nya ke kontolku yg menggantung di pinggir ranjang. Sari lumat kontolku dengan penuh nafsu.

“AHHHH…OWH” Aku mengerang menahan nikmat jilatan lidah Sari di batang kontolku.
Nafsuku semakin terbakar. Kutarik CD Wulan, kini dia telanjang bulat.

Aku kembali rebah, Aku tarik Wulan mendekat. Aku beri kode dengan lidahku, Wulan paham. Dia berjongkok di mukaku, kuhisap bibir memeknya yang sudah lengket dengan cairan nafsu. Kuhisap klitorisnya, bulu2 lembut di atas memek Wulan menambah nafsuku. Hisapanku semakin liar hingga akhirnya Wulan Orgasme…
” Owhhh…ahh Adi, aku nyampe..ahhhh……..Ahhh..Arghh.” Wulan meracau menahan gairah nikmat yang menyerangnya.
Kumajukan bibirku, kuhisap cairan memek Wulan yang deras mengalir deras.

Wulan tersungkur disebelahku, nafas nya berat setelah mencapai orgasmenya.

Aku bangun dr posisiku, kutarik kaki Sari ke bibir ranjang. Kupelorotkan CD nya, nampak memek Sari yang tanpa bulu dan berwarna pink dengan sedikit cairan dibelahanya. Aku berjongkok dilantai diantara kedua kakinya. Wajahku mendekat ke arah memeknya. Memek Sari yang merona membakar gairahku.

“Slurrrrp….” kujilat bibir Memek Sari.

“Aowhh…mas….ahhhhhh” Sari mendesah panjang. Kakinya menjepit muka ku. Kuteruskan hisapanku dengan penuh nafsu. Sesekali ku masukkan jari tengahku. Sari semakin liar merintih dan meracau.
“Ahhh…owh…ahhh…aaaaahhhh. Mas..”

10 menit kemudian, paha Sari semakin rapat menjepit kepalaku. Memeknya berkedut, Tangan Sari liar meremas rambut. Sejurus kemudian dia menggelinjang hebat…
“Ahhhhh….owhhhh….aaaaaaaah!!”

Sari orgasme.
Aku dekati muka Sari sambil tersenyum, kucium keningnya. Sari memeluk leherku dengan mesra.
Aku belum puas, kontol ku belum klimaks. Memek Sari terlihat masih menggemaskan bagiku. Aku berdiri ditepi ranjang, kurentangkan kaki nya. Kontolku yang tegak ku usap ke memeknya.
“Isshhhhhh….ah masss…ahhh” Sari berdesis. Gairah Sari bangkit lagi, mukanya nampak sayu menggairahkan. Aku yang sudah terangsang hebat segera mengarahkan kontolku tembus ke memeknya…
‘BLEESSSS…”
Kontolku masuk ke memek Sari seutuhnya.

“Ahhhh….hhh…” erang Sari.
Kupompa batang kontolku lembut di memeknya, perlahan kupercepat tempo sodokanku.

“Ahhhh…oh..Arghhh…ahhhh…Aaaah” Kami saling mendesah beradu nikmat.
“Enak Sayang? ” tanyaku
“He’eh…Ahhhh…enak mas..oowh” balas Sari sambil menggigit bibir bawahnya.
Wulan yang melihat adegan ini pun bangkit. Dia berlutut disebelah paha Sari. Badannya didekatkan ke tubuhku. Kurangkul dia dengan tanganku. Bibir kami beradu..
“Smochhh..smochhh..smochh”

“Ahhh..Ahhhh…ahhhh..” Didepanku Sari yang masih kugenjot merintih-rintih kenikmatan. Tangan kiriku tak tinggal diam, kuremas-remas toket Wulan yang menempel di dadaku.

Gairahku semakin naik. Sodokan kontolku di memek Sari semakin kencang. Sementara mulutku mencumbu bibir Wulan sambil meremasi payudaranya.
Tak lama kemudia badan Sari kembali bergetar hebat.
“Aouwhhhhhhh….mas…enak mas…ahhh aku mau sampai…ohhhhhhh'” Sari kembalu menggelinjang. Dia remas-remas sendiri toketnya. Kudiamkan kontolku di memeknya. Aku lepaskan pelukanku dari tubuh Wulan. Kudekati wajah Sari dan kukecup keningnya. Sari nampak sangat lemas, tubuhnya lunglai dan matanya terpejam meresapi kenikmatan yang baru dia dapat.

Aku beralih ke Wulan.
Bibirku ku serbukan ke bibirnya, kami kembali berpagutan liar sambil duduk di ranjang. Aku dorong Wulan, dia jatuh pelan telentang disebelah Sari.
Ku pegang kontolku yg masih berdiri tegang. Kuarahkan ke memeknya dan…
“BLESSSS….”
Kontolku menembus memek Wulan.

“Ahhhhh…pelan yang…ohhhh” jerit Wulan
“Sakit yang?” tanyaku
“Engga , lanjut aja yang..” kata Wulan
“Enak ga?” pancingku
“He’eh…ahhh” Wulan tersenyum, matanya sayu menatapku.
Kupompa kontolku pelan. Memek Wulan benar benar nikmat. Kurasakan dinding memeknya seperti meremas batang kontolku.

“AHHHH….OHHH…Ahhhhh..sayang enak …ahhh..oh..aaaahhhhhh”

Wulan merintih nikmat ketika pompaan kontolku semakin kupercepat.
Peluh mrmbanjiri tubuh kami.

“Owhhh…ahhhh…ahhh..ahhhh..ohhh..sssttt….ahhh….sssty…ohw..arghh….ah..ah….
Owhhhh….Ahh”

Mulut kami saling beradu mengerang melepaskan nikmat yang sungguh luar biasa.
“Adiii…ahhh…Aku dah mau nyampe..ahhhh..ah”
“Aku juga sayang..ohhh..stttt..ah” Balasku.

Aku rasakan jepitan memek Wulan di kontolku semakin kencang. Kepala kontolku juga berkedut seperti ada yang akan meledak. Genjotanku kupercepat, kusodok kontolku dalam-dalam.

“Ahhhh…Adiii..ahhhhhhhh..grrrrr..Ahhhh”
Wulan orgasme, badannya bergetar hebat.
Aku tusuk dalam-dalam kontolku, kusemburkan mani ku di rahimbya.

” Crooot..crooooot…crot…crooot…crooot!!”
“Argggggghhhhh…. owhhh…ah” erangku
Badanku ambruk diatas tubuh Wulan. Kontolku masih belum kucabut dari memeknya. Kedua kaki Wulan menjepit tubuhku, kedua tangannya merangkul kepala dan leherku masuk kepeluknya. Gairah yang tuntas dan orgasme yang sempurna seakan membuat dia enggan melepaskan pelukan. Mata Wulan terpejam.. nafasnya berat setelah bertempur cukup lama. Begitupun aku.

Sesaat kemudian aku ambrukkan badanku ke arah kanan Wulan. Aku kini rebah diantara kedua istriku. Mataku menerawang ke atas, ku elus masing-masing rambut dan kepala Istriku dengan kedua tanganku. Kudengar dengkur kecil dari bibir Sari. Rupanya dia telah tertidur.
Aku berdiri, kutarik selimut ke tubuhnya yang polos telanjang. Pandanganku berpaling ke Wulan. Dia nampak terpejam juga. Akupun menyelimutinya.

Kamar ku ada pintu yang tembus langsung ke teras belakang. Kupakai celana kolorku, kuambil rokok dan berjalan keluar di teras belakang.

Aku nyalakan rokokku, kuhisap pelan. Dalam diam aku merenung. Aku masih tidak percaya dengan apa yang barusan terjadi. Memang keduanya sah istriku, tapi ada dilema dihatiku. Sebagai laki-laki normal aku merasa bangga, bisa memperistri 2 wanita cantik sekaligus. Bahkan seperti yang barusan terjadi aku bisa meniduri mereka bersama-sama. Tapi aku jg manusia yang berhati, aku bisa merasakan bahwa sesungguhnya ada perasaan yang dikorbankan mereka untukku. Mereka mengorbankan hatinya, perasaannya bahkan harus meredam cemburu dalam hatinya demi aku. Aku tak berani bayangkan, sampai kapan mereka kuat dan rela mengorbankan perasaannya. Ada ketakutan menyelimutiku.

“Sayang ga dingin?” aku dikejutkan suara Wulan. Dia berjalan ke araku.
“Habis merokok, cari angin.Kamu blm tidur?” tanyaku.
Wulan hanya menggeleng dan duduk dipangkuanku. Aku memeluknya, Wulan menyandarkan kepalanya dibahuku. Kuusap-usap rambutny lembut.

“Aku sayang kamu Di” tiba-tiba Wulan berbisik lirih ditelingaku.
“Aku tau sayang. Aku juga mencintaimu. Maaf ya jika sekarang aku harus berbagi” balasku.
” Iya sayang, aku ihklas kok. Tulus”
“Apa yang membuatmu bs kuat dan ihklas sayang?” Aku penasaran.
Wulan mengangkat kepalanya, dipandanginya mukaku dipengangnya kedua pipiku.
” Susah jelasinnya Adi. Itulah Di, kalo perempuan sudah jatuh cinta…….” Wulan menghela nafas.
“Apapun akan dia lakukan dan jalani, sekalipun pahit. Asalkan dia tidak kehilangan orang yang dia pilih untuk dicintai. Seperti aku ke kamu Di” tambah Wulan.
“Maksudnya?” tanyaku memperjelas.
“Adi, aku sayang kamu, aku tulus mencintaimu sejak hari pertama menjadi pacarmu. Tidak ada alasan apapun kenapa aku mencintaimu, dan akan selamanya mencintaimu sesakit apa balasanmu” Wulan menjelaskan matanya sembab berair.

Hatiku luluh.

Ku dekap erat dia dalam pelukanku.
“Maafkan aku Sayang…” ucapku di telinganya. Wulan yang ada di pangkuanku memeluk erat tubuhku.

Kami berdua terdiam. Biarlah pelukan ini yang saling menjelaskan.
Urusan cinta memang kadang susah dijabarkan. Hati manusia memang misteri yang paling sukar dimengerti.

———–
Kudengar dengkur kecil Wulan ditelingaku. Aku berdiri, kubopong dia ke kamar. Kurebahkan disebelah Sari dan kutarik selimut untuknya.
Aku pandangi kedua wanita ini dari depan ranjangku.
Hatiku dan pikiranku berkecamuk dengan banyak pertanyaan dan kegundahan.
“Aku harus membahagiakan mereka ” batinku.

Kantuk mulai menyergapku. Aku rebahkan tubuhku diantara keduanya.

—————————————————————-

BERSAMBUNG

END – Berbagi Cinta dan Nafsu Part 12 | Berbagi Cinta dan Nafsu Part 12 – END

(Berbagi Cinta dan Nafsu Part 11)Sebelumnya |Bersambung(Berbagi Cinta dan Nafsu Part 13)