Berbagi Cinta dan Nafsu Part 10

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20

Berbagi Cinta dan Nafsu Part 10

Start Berbagi Cinta dan Nafsu Part 10 | Berbagi Cinta dan Nafsu Part 10 Start

10. Bukan yang ideal

2 Hari kemudian.
————————————————————

Aku duduk dikursi gasebo, dihalaman belakang rumahku. Wulan duduk didepanku, terlihat dari garis mukanya memancarkan kesedihan.

“Sebentar ya aku bikin minum” ucapku.
Aku beranjak ke dapur, kubuat 3 cangkir teh dan kubawa di meja tempat kita duduk.
” Kok tiga yang, satunya siapa?” Wulan bertanya.
“Tunggu sebentar ya sayang” balasku

“Ting tong…” Bel rumahku berbunyi.
Aku berjalan ke depan, kubuka pintu rumah dan pagarku. Sesosok perempuan melangkah ke arahku.
“Ada apa mas Adi menyuruhku kesini?”
“Ayo masuk dulu, Sari” balasku.

Sari berjalan mengikutiku ke arah belakang rumah.
“Silahkan duduk Sar” ucapku.
Sari duduk di sebelah kursi yang diduduki Wulan.
” Wulan, ini Sari. Dan Sari ini Wulan” ucapku.
Mereka berdua bersalaman saling mengenalkan diri. Nampak raut kebingungan terpancar dari wajah keduanya.
“Silahkan diminum tehnya” lanjutku.

“Sari ini siapa di?” tanya Wulan.

Aku menarik nafas pelan. Hatiku bergetar, hingga kemudian lidahku yang kelu terucap;

“Sari, ini Wulan. Dia pacarku yang selama ini kuceritakan kepadamu”.

Sari mengangkat wajahnya, mukanya memerah.
“Aku undang kalian untuk datang bersama sore ini. Ada satu hal yang ingin aku sampaikan ke kalian. Ini mungkin akan membuat kalian kecewa dan marah denganku. Aku minta maaf, tapi ini harus kusampaikan.”

“Maksudnya Di? Ada apa ini?” Wulan memotongku.

“Tunggu Wulan” cecarku.
“Baiklah akan kusampaikan sekarang” lanjutku.
” Wulan, dengan berat dan menyesal aku sampaikan ke kamu. Aku telah berdosa padamu, aku telah berbohong dan menghianatimu. Selama kita break tiga bulan beberapa saat yang lalu, aku telah menghianatimu. Aku menjalin hubungan dengan Sari.”

” Kamu serius Di?”
Muka Wulan memerah, dipandanginya aku dengan sorot mata tajam.
Aku tarik nafas pelan dan melanjutkan;

“Aku minta maaf Wulan”
” Dan Sari, akupun meminta maaf padamu. Tiga bulan ini, hubunganku dengan Wulan membaik dan kami berhubungan lagi. Kami berpacaran lagi, maaf aku tidak menceritakan ke kamu.”

Sari tidak menjawab. Hanya terisak, air mata meleleh dari ujung matanya.
” Maafkan aku, selama ini aku menghianati kalian semua.”
“Dan Wulan, akibat dari hubunganku dengan Sari, saat ini Sari mengandung anakku.” aku terucap sambil menundukan kepala. Aku tak berani menatap mata Wulan. Dadaku bergemuruh.

Sari terkaget, tangannya nampak gemetar.

” Adiiiii….?!” jerit Wulan lirih.

“Iya Wulan… maafkan aku. Dan, Sari….. Maafkan aku. Saat ini juga Wulan sedang mengandung anakku”

Tangispun pecah dari kedua perempuan di depanku. Hati ku berantakan. Insting laki-lakiku tergerak untuk menenangkan mereka, tapi aku bingung siapa yg akan kupeluk.

“Adi….kamu tega Di!! Saat kita break kupakai waktu tersebut untuk istropeksi diri. Supaya aku bisa menjadi pendampingmu yang lebih baik. Aku tidak mengira kamu kaya gini. Semua kuberikan ke kamu Di, bukan ini yang kuharapkan darimu….!” Wulan menyahut lirih dan terisak. Tangannya gemetar mendengar ucapanku. Wulan nampak sangat kecewa.

“Aku tahu Wulan, aku salah. Aku telah menghianati ketulusanmu” balasku.

“Lantas, selanjutnya bagaimana?” tanya Wulan. ” Kamu harus tanggung jawab Di, aku ga mau tau. Ini anakmu Di!” Wulan melanjutkan.

Aku angkat mukaku, kupandangi wajah mereka berdua.
” Baik. Untuk kalian berdua, Wulan dan Sari. Aku sadar aku telah melakukan kesalahan. Sebagai seorang lelaki, kutegaskan pada kalian. Aku adalah bapak dari anak yang sedang kalian kandung. Aku bertanggung jawab dengan apa yang aku perbuat. Aku akan menikahi kalian berdua. Itu bentuk tanggung jawabku. Aku tahu, ini bukan pernikahan ideal yang kalian impikan. Aku tahu kalian wanita terpelajar yang punya impian untuk berkeluarga secara normal dan bahagia. Aku mohon maaf telah menghancurkan mimpi kalian. Sekali lagi aku mohon maaf. Tapi aku berjanji, aku akan berjuang demi kalian dan anak2 kita sekuat tenaga.”
“Ijinkan aku menikahi kalian berdua, aku ingin melihat dan merawat buah hatiku yg ada di perut kalian. Ijinkan aku berbagi. Ini bukan sekedar tentang cinta, Maaf aku membagi cinta tulus kalian berdua. Aku berjanji akan mencintai kalian dengan adil. Aku berjanji memberikan kasih dan cinta yang tulus untuk kalian. Ini bukan pilihan, aku harap kalian mengerti.” tegasku panjang lebar.

Kedua perempuan ini kembali terisak kencang. Aku berlutut di depan mereka berdua;
“Maafkan aku yang telah menghancurkan mimpi-mimpi kalian. Ijinkan aku untuk mencintaimu Sari, Wulan” ucapku sambil memandang muka mereka satu persatu.

“Adi… semenjak aku menerimamu menjadi pacarku. Aku berharap dan berdoa setiap hari untukmu. Aku berharap kamu menjadi pasanganku selamanya. Bahkan, aku rela melepaskan hal yang paling berharga pada diriku. Aku sadar konsekuensinya, apapun yang terjadi aku percaya kamu akan bertanggung jawab, aku selalu percaya kepadamu Di” Ucap Wulan. “Ya, seperti 2 hari lalu saat aku kabari kamu , bahwa aku hamil anakmu. Seperti yang kuduga, kamu pasti mau bertanggung jawab. Aku tahu kamu Adi, tapi entahlah kenapa kamu melakukan semua ini dibelakang, aku tak pernah membayangkan hal ini Di….” Wulan kembali terisak setelah menyelesaikan kalimatnya.
Aku terdiam. Aku beringsut mundur dan kembali ke tempat dudukku.

“Adi, kita sudah hampir 4 tahun bersama. Sudah banyak yang kita lewati Di. Entah sudah berapa mimpi yang kita bangun, dan berapa mimpi yang kita sama-sama janjikan. Kamu hancurkan semuanya! Kurang apa pengorbananku ke kamu Di?” Isak Wulan.

“Maafkan aku Wulan, aku…”
“Cukup” potong Sari.
“Mas Adi, mbak Wulan. Maaf mas kupotong, saat ini aku mengandung anak mas Adi. Aku mencintai mas Adi, hingga aku percaya menyerahkan diriku ke mas Adi. Aku sebenarnys berharap Mas Adi menikahiku dan menjadi bapak dari anakku ini. Itu yang ku mau mas, mbak. Tapi, aku sadar aku telah berperan menghancurkan impian mbak Wulan. Aku lah yang bersalah, membuka hati untuk mas Adi disaat aku belum yakin sepenuhnya apakah mas Adi sudah putus dengan mbak Wulan atau belum? Aku yang membuat pilihan beresiko. Cintaku untuk mas Adi telah membutakan segalanya. Dan, tanpa sepengetahuan mas Adi, aku sebenarnya tahu mas Adi kembali berhubungan dengan mbak Wulan tiga bulan terakir. Berkali-kali aku datang ke rumah mas Adi namun aku tidak masuk rumah, karena kulihat mbak Wulan disini. ” Sari menjelaskan panjang lebar.

“Sar…” ucapku kaget.
” Biar kulanjutkan dulu mas. Sari tau dan sadar posisi Sari. Sarilah yang menghancurkan hubungan mas dan mbak. Sari tau konsekuensinya, termasuk jika harus menjadi yang kedua sebenarnya Sari Ihklas. Tapi Mas Adi, mbak Wulan adalah hidup mas Adi. Mbak Wulan mencintai mas dengan tulus. Saat ini, disini,… aku tau betapa besar harapan mbak Wulan selama ini kpada mas Adi. Saat ini juga aku tahu banyak hal dan mimpi yang mbak Wulan harapkan dari mas Adi. Sari juga perempuan mas, Sari sadar diri. Sari tidak ingin menghancurkan hati dan mimpi mbak Wulan. Sari rela mas, jangan kecewakan cinta dan harapan mbak Wulan mas.” lanjut Sari.

“Maksudmu Sar?” tanyaku.

” Biar Sari yang mundur, mas nikahi mbak Wulan. Capai semua yang kalian impikan. Cintai mbak Wulan, mas. Biar Sari melanjutkan hidup Sari sendiri, Biarkan Sari membesarkan anak ini sendiri. Sari sanggup mas, rela..” Sari menangis sambil menutup bibir dengan tanganya.

“Jangan” potong Wulan. ” Justru karena kita sama-sama perempuan Sari, kita harus saling menghormati dan berkompromi dengan ego kita. Bisa saja Adi hanya menikahiku, tapi itu berarti Adi melepas tanggung jawab sebagai laki-laki atas semua yang diperbuat ke kamu. Aku tidak akan mau melihat hal itu. Ini memang berat, tapi seperti yang Adi bilang tidak ada pilihan. Aku tetap berharap mas Adi menikahiku. Tapi aku tdk mau punya suami pengecut. Suamiku harus seorang laki-laki yang bertanggung jawab. Aku melepas egoku Sari, dan kamu Adi. Nikahi aku, dan juga Sari .” Wulan menambahkan.

Aku terkaget mendengar kalimat Wulan, kutatap matanya. Tubuhku bergetar.

“Malaikat apa yang ada dihatimu Wulan?” batinku.

“Sekali lagi aku minta maaf, kpd kalian berdua. Dan Sari, aku menolak idemu. Aku tetap akan menikahimu, aku tidak akan melepas tanggung jawabku. Ini prinsipku!” balasku.

“Aku harap kalian bisa menerima, aku akan mencitai kalian tulus. Aku akan menjadi suami yang adil dan baik buat kalian berdua” tambahku.

Kedua perempuan ini terisak kencang.

“Tidak ada pilihaan lain Di. Aku masih tetap mencintaimu. Rasa cinta ini yang mengalahkan egoku dan memaafkanmu. Ini tidak akan menjadi pernikahan impian yang selama ini kuharapkan dari kamu, tapi aku mencintaimu Di. Dan ya ini…., salah satu pengorbanan cintaku padamu, aku menerimamu dengan segala hal yang ada. Termasuk menerima konsekuensi atas perbuatanmu seumur hidupku. Akupun menghormati Sari sebagai sesama perempuan. Baiklah Di, aku sanggup, tapi aku harap kamu melakukan apa yang sudah kau ucapkan. Jangan buat aku kecewa lagi” balas Wulan. Tangisan Wulan kembali pecah.

Air mataku tanpa sadar menetes haru. Sekeras dan sekuat apapun diriku, aku juga manusia yang mempunyai hati. Dan entah terbuat dari apa hati Wulan. Wanita ini begitu dewasa, tegar luar biasa.

” Kamu Sari?” tanyaku.

“Jika mbak Wulan mengijinkan , aku tentunya bersedia mas. Aku janji akan menjadi istri yang baik buat mas Adi. Dan aku akan menhormati mbak Wulan sebagai istri mas” jawab Wulan.

“Kita sama-sama harus bertanggung jawab atas apa yang telah kita lakukan Sar… sekalipun ini bukanlah hubungan yang ideal, aku rela berbagi Adi denganmu.” balas Wulan.

“Maafkan aku mbak Wulan….” Sari bangkit dari kursi, dia bersujud di kaki Wulan.

“Jangan Sar, …..” Wulan segera menarik tangan Sari supaya berdiri. Keduanya saling berpelukan.

Aku terdiam terduduk, lidahku kelu sulit terucap. Badanku gemetar, keringat dingin mengalir di sekujur tubuhku. Pikiranku berkecamuk.
Betapa beruntungnya aku mendapatkan wanita-wanita hebat ini. Aku telah membuat luka dihati mereka masing-masing. Aku menyadari itu. Wanita mana yang rela cintanya dibagi?
Tapi atas nama cinta jugalah keduanya rela saling membagi hatinya untukku.

“Aku akan mencintai kalian dengan tulus, menjadi suami yg baik dan adil” batinku.

——————————————————————

Bersambung

END – Berbagi Cinta dan Nafsu Part 10 | Berbagi Cinta dan Nafsu Part 10 – END

(Berbagi Cinta dan Nafsu Part 9)Sebelumnya |Bersambung(Berbagi Cinta dan Nafsu Part 11)