Anak Tetangga Part 8

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Tamat
Riska Side Story

“Kamu tunggu di sini sebentar, biar aku yang keluar dulu” Aku hanya menganggukkan kepala tanda mengerti maksud perintahnya.

“Besok malam kamu langsung ke sini saja, tunggu di parkiran, aku kasih kamu lebih” imbuhnya, lagi-lagi aku hanya mengangguk pelan.

Laki-laki setengah baya itupun kemudian pergi keluar kamar meninggalkanku sendiri. Kupakai hijabku lagi dan mematut busanaku di depan cermin. Rasanya tubuhku segar kembali setelah tadi mandi dan berganti pakaian. Semalam aku menginap di sini, di hotel ini bersama laki-laki yang pantas jadi ayahku itu.

Meskipun permainan ranjang laki-laki itu tak begitu memuaskan bagiku tapi uangnya bisa memenuhi kebutuhanku. Atau mungkin lebih tepatnya gaya hidupku. Ukuran penisnya pun kecil, tapi jumlah uangnya yang besar. Entahlah, aku hanya mengikuti arus kehidupan ini mengalir dan akan membawaku kemana.

Setelah selesai menata pakaian di tubuhku dan memasukkan barang-barangku kemudian aku ikut keluar dari kamar hotel itu. Akupun berjalan perlahan sambil mengamati sekitarku, jangan sampai aku bertemu dengan orang yang kukenali.

“Riska.. !!!” sebuah teriakan namaku mampu menghentikan langkah kakiku saat sudah keluar dari lobby hotel.

“Eh.. Mita… kok kamu di sini”

“Iya lah.. aku kan kerja di sini..”

Haduhh.. gawat ini, jangan sampai dia tahu kalau aku menginap di hotel ini dengan om-om. Besok harus ganti tempat nih.

“Kamu dari mana?” balas Mita bertanya.

“Eh, anu.. emm.. tadi bareng satu mobil sama bos, trus aku minta turun aja di sini” kataku beralasan sekadarnya.

“Ris.. kita kerumah sebentar yah, kamu gak perlu kemana-mana lagi kan?”

“Umm.. nanti malam aku ada janjian sama temen, tapi ayuk deh kita kerumah kamu” aku langsung menyetujui ajakan Mita, supaya dia tak curiga dan tak bertanya-tanya lagi.

Kami berdua akhirnya naik taksi online menuju ke rumah Om Andra, tempat Mita numpang tinggal di kota ini. Hanya sekitar 10 menit saja kami berdua sudah sampai.

“Assalamualaikum…” teriak Mita begitu masuk kedalam rumah.

“Waalaikuamsalam..” jawab Om Andra yang kulihat sedang duduk di kursi ruang tamu masih dalam pakaian kerjanya. Mungkin dia juga baru datang.

“Udah lama Om pulangnya?” tanya Mita yang kemudian duduk di samping Om Andra. Aku perhatikan mereka berdua pasti cocok kalau jadi suami istri, tapi sayangnya Om Andra sudah berumah tangga.

“Baru aja kok.. kamu kok tumben sama Riska?”

“Iya tadi ketemu di depan hotel, jadi aku ajak sekalian kesini..” ucap Mita sambil membuka jilbabnya.

Aku pun ikut duduk di kursi ruang tamu, tapi posisiku di depan mereka berdua.

“Mita, gini.. besok Om gak bisa pulang.. soalnya bosnya Om titip rumah.. gimana kalo kamu pulang sendiri naik bus aja? cari yang paling nyaman” kata Om Andra sambil menatap wajah Mita dalam-dalam.

“Gak ahh… kalo Om gak pulang aku juga gak pulang” balas temanku itu tapi sambil pura-pura sibuk melihat layar Hp. Aku tahu dia pasti kecewa dengan keadaan itu.

“Beneran nih? Tapi kamu telfon mama kamu dulu yah.. ijin dulu”

“Iya Om.. ntar malem aku telfon mama..” ucap Mita dengan wajah datar.

“Riska, jangan sungkan yah disini.. anggap rumah sendiri..” ucap Om Andra untuk membuatku kembali nyaman setelah pembicaraannya dengan Mita tadi.

“Eh, iya Om.. makasih” balasku.

“Ntar kamu nginep aja disini Ris..” tawar Om Andra kemudian.

“Ga tau Om… ga bawa baju ganti soalnya..” ucaku beralasan, padahal sebenarnya aku sudah ada janji malam ini.

“Udahh.. ga usah ganti baju gapapa.. malah biasanya juga ga pake” timpal Mita cuek, aku jadi malu sendiri mendengarnya. Gadis cantik yang satu ini masih saja suka ngomong apa adanya.

“Eh.. ehh.. Mita ga boleh gitu dong.. tuhh, Riska jadi malu..” ucap Om Andra pada Mita yang kulihat masih sibuk men-scroll layar Hp-nya. Aku yakin dia pasti sedang merajuk karena gak bisa pulang kampung.

Setelah sedikit ngobrol tentang kesibukan kami masing-masing, Om Andra kemudian pamit ke belakang untuk mandi. Sedangkan Mita masuk kedalam kamarnya untuk berganti pakaian.

***

Pukul 8 malam sebuah chat masuk dalam nomor ponselku. Setelah kulihat ternyata pengirimnya adalah orang yang janjian denganku malam ini. Akupun langsung membalas pesannya.

“Aku masih di rumah teman” tulisku.

“OK, aku jemput” balasnya.

Setelah itupun aku langsung menshare lokasi tempatku berada supaya orang yang janjian denganku tadi bisa menjemputku tanpa bingung lagi soal arah tujuan.

“Om berangkat dulu ya Ris, ada kerjaan tambahan nih..” Om Andra menghampiriku untuk berpamitan.

“Eh.. iya Om…” sambutku kemudian bersalaman dengannya.

Jujur saja saat kulihat Om Andra ini meskipun penampilannya sederhana tapi entah kenapa bisa menarik perhatian orang di sekitarnya. Wajahnya pun samasekali tak mengecewakan, meski gak bisa dibandingkan dengan anak-anak kuliahan.

Aku yakin Mita juga memendam rasa suka pada Om Andra ini. Apalagi beberapa saat ini aku bisa melihat gerak-gerik gadis cantik itu seperti memberi perhatian lebih pada Om Andra.

“Si Om udah berangkat yah?” tanya Mita yang tiba-tiba ada di sebelahku.

“Eh, iya.. barusan keluar tuh..” jawabku sambil kembali duduk di kursi ruang tamu.

“Makan yuk Ris…”

“Ah ga usah Mita.. bentar lagi temenku jemput ke sini, ada acara kantor” aku sengaja berbohong pada sahabatku itu.

Benar saja kataku, beberapa saat kemudian terdengar suara klakson mobil dari depan rumah mengisyaratkan orang yang menjemputku sedang menunggu.

“Nahh… itu dia temenku udah jemput.. aku berangkat dulu ya Mita”

“Hemm.. iya deh Ris.. hati-hati yah..” ucapnya yang kemudian cipika-cipiki denganku.

Akupun keluar dari dalam rumah dan langsung masuk kedalam mobil yang terparkir di pinggir jalan itu. Kulihat dua orang pria sudah duduk di kursi depan. Begitu aku menutup pintu, mobil langsung jalan meninggalkan kompleks perumahan itu.

“Temennya kok ga ikut sekalian?” tanya seorang pria yang sedang memegang setir mobil. Namanya Gery, pria muda yang sering memanggilku untuk jadi partner dalam menuntaskan birahinya.

“Ihh.. sembarangan aja, ntar suaminya marah lho..” ucapku berbohong lagi.

“Kirain bisa, haha… eh kenalin dulu ini temenku, namanya Fajar”

“Fajar..” pria ganteng itu mengulurkan tanganya dan langsung kusambut juga dengan tanganku.

“Riska..” ucapku sambil tersenyum.

“Uangnya udah aku transfer lho.. coba kamu cek dulu..” ucap pria yang tengah memegang stir mobil itu.

“Iya udah masuk nih..” kataku setelah membaca sms notif banking dari Hpku.

Sambil ngobrol dengan dua orang pria itu aku melepaskan hijab yang menutupi kepalaku. Rambutku yang lurus dan panjangnya sebahu langsung terurai keluar. Kemudian setelahnya akupun melepas sweater warna cream yang menutupi tubuhku. Praktis tubuhku sekarang bagian atas tertutupi oleh tanktop warna putih dengan bawahan celana jeans biru gelap.

“Beib.. nih minum.. biar semangat..” kata Gery yang memberi kode pada Fajar untuk mengoper sebuah botol padaku.

“Paan nih? Alkohol?” tanyaku curiga.

“Weitt… bukan… trust me.. minum aja, biar kamu tambah semangat”

Tanpa aku tunda langsung saja kubuka tutup botol itu lalu kutelan habis isinya. Rasanya sedikit sepet, asem dan ada manisnya. Kemudian balik lagi kami ngobrol bertiga di dalam mobil itu.

Tak terasa kami sudah sampai di rumah Gery. Rumah berlantai dua itu kulihat lumayan besar dan namun tak terlalu mewah. Setelah Fajar membantu membuka pagar, mobil langsung dimasukkan ke dalam garasi dan kamipun keluar membawa barang masing-masing.

Aku sudah beberapa kali ke rumah si Gery ini. Biasanya kami hanya berdua saja, baru kali ini dia membawa temannya. Apakah kali ini kita akan main bertiga?

Setelah kuletakkan tas kecil yang kubawa, aku duduk di kursi ruangan tengah. Detak jantungku rasanya semakin cepat dan tubuhku mulai terasa panas.

“Kenapa beib? Ada yang salah?” tanya Gery yang lewat di depanku.

“enggak, rumah kamu kok jadi panas gini ya sekarang”

“Panas yah? Nih minum biar seger dikit” ucap Gery sambil menuangkan minuman dalam gelas kecil. Aku yakin kali ini adalah minuman beralkohol.

“Iya deh.. makasih” sambutku menerima gelas kecil darinya lalu kuminum dengan satu kali tenggak. Rasanya manis tapi ada pahit-pahitnya.

“Nah.. abis ini pasti kamu lebih semangat lagi, hehe…” ucapnya sambil ngeloyor pergi ke belakang.

Habis minum tadi memang rasanya tubuhku agak segar dikit, badanku juga jadi agak ringan seperti tanpa beban. Namun tiba-tiba badanku mulai keluar banyak keringat dan rasa panas yang tadi kurasakan kini kembali lagi. Aduh.. aku pasti dikerjain sama Gery nih.

“Eh, napa Ris? Kamu sakit yah?” tanya Fajar yang datang dari belakang dan melihat wajahku bercucuran keringat.

“Enggak.. enggak.. cuma panas aja rasanya..” balasku.

“Ohh.. kalo panas buka aja bajunya” balasnya enteng, dia kemudian duduk di depanku dan mulai menyalakan rokoknya.

“yahh.. ntar aku jadi telanjang dong, hihi..”

“Gapapa… ntar juga kamu ditelanjangin sama kita-kita” tiba-tiba Gery muncul dari pintu tengah.

“Tapi kan itu…”

“Sudah.. sini aku bantuin beib” ucap Gery kemudian mendekatiku lalu menarik tanktop yang kupakai sampai lepas dari badanku.

“Nah.. udah enakan kan?”

“Ahh.. maunya kamu aja nih..” balasku.

“Hehehe.. iya donk.. nih aku bantuin lagi..” Gery lalu jongkok di depanku lalu membuka kancing celana jeans yang kupakai. Secepatnya dia tarik celana yang tadinya kupakai itu menuruni kedua kakiku dan lepas seluruhnya.

“Tambah enak kak beib?” tanya Gery usil.

“Hihii.. iya deh beib.. makasih, tapi masak cuma aku aja yang buka-bukaan?” balasku. Kini aku hanya memakai bra dan celana dalam saja dihadapan dua pria mesum itu.

“Oke.. kita temenin kamu.. ayo Bro, buka aja” tukas Gery pada temannya kemudian.

Dua orang laki-laki di depanku itu kemudian mulai melepas baju mereka semua sampai hanya menyisakan sebuah celana dalam saja. Dari tonjolan yang terlihat dari balik celana dalam itu aku yakin mereka sudah mulai horni melihat tubuhku.

“Nahh..udah kan beib.. masih kerasa panas gak?” ucap Gery.

“Udah mendingan sih, tapi masih kerasa panas…” jawabku sambil mengipaskan sebuah potongan kertas pada tubuhku.

“Gini aja.. kita kebelakang aja yukk…”

Kami bertiga kemudian bergerak ke teras bagian belakang rumah. Letaknya di luar dapur tapi belum menginjak halaman, ada kursi santai di situ.

“Beib.. aku lepasin ini juga yah!?” tangan Gery kemudian memegang pengait tali bra yang kupakai dan melepasnya. Di sudah tak kerepotan lagi melepasnya karena memang sudah pengalaman.

“Hemmpphh.. eemphhh.. slurrppp” Gery langsung menyeruput puting susu kecilku. Dia sangat bersemangat sekali menikmati titik keluarnya susu itu.

“Aahh.. aduh…aduhhh… pelan aja beib…” rintihku karena Gery kadang menyedotnya terlalu kuat.

“Bro.. nihh cobain susu lonte punya gua nih..” ucap Gery mempersilahkan temannya mulai mencicipi imutnya puting susuku.

“Aahhh…. terus….” aku mendesah saat mulut Fajar mulai menjilati kedua puting susuku. Jilatannya sungguh halus namun menghanyutkan. Aku jadi bergidik antara geli dan enak.

Disaat Fajar menikmati puting susuku, kulihat Gery malah kembali minum minuman beralkohol itu dari dalam botolnya. Dia sesekali melihat perlakuan Fajar padaku dengan tatapan penuh birahi, aku yakin dia sudah mulai dalam pengaruh alkohol.

“Gua ke gazebo sana duluan.. ntar kalian kesitu aja.. gua pengen malam ini maen di luar” kata Gery yang kemudian berjalan keluar dari teras belakang menuju gazebo halaman belakang.

Fajar masih terus memainkan payudaraku dalam posisi berdiri. Aku jadi suka sama perlakuannya yang halus dan tidak terburu-buru itu. Bahkan kami sempat beberapa kali berciuman lalu saling memagut bibir dan lidah dengan panas.

Selain wajahnya yang lumayan ganteng, Fajar juga kulihat punya bentuk tubuh yang bagus. Belum lagi ukuran batang penisnya yang kurasakan begitu besar saat beberapa kali menyenggol tubuhku.

“Hehhh Lontee…. kesini kau…!!” suara Gery terdengar dari arah gazebo, aku yakin dia memanggilku.

Fajar kemudian melepaskan hisapan mulutnya dari puting susuku. Dia kemudian duduk, gantian menikmati minuman dalam botol yang tadi juga diminum Gery. Aku langsung memenuhi panggilan pria yang membayarku itu dengan sedikit memamerkan lekuk tubuhku. Kudekati Gery sambill berjalan bak seorang model berjalan di atas catwalk.

“Tuan belum puas?” ujarku bergaya manja sambil mengelus pangkal pahanya yang masih tertutupi celana dalam.

“Kurang banyak minum susunya…” Jawab Gery yang kemudian menerkam dan menghisap buah dadaku dengan ganas.

“Aaaahhh… aku siap bikin puas, asal….” Ucapku sambil melenguh keenankan.

“Asal apa?” tanya dia sambil menatap wajahku.

“Susunya pake sosisss…..” aku langsung menurunkan celana dalam Gery dan jongkok di depanya lalu kuhisap batang penisnya dengan ganas.

“Kamu bener-bener lonte.. tak rugi aku bisa menguasaimu…” ucap Gery yang tengah ku kulum batang penisnya itu. Sambil menikmati kuluman mulutku pada batang penisnya, dia menyibakkan rambutku yang tergerai menutupi wajah.

“Sluuurrppp… Sluurrppp… aahhh..” kukeluarkan semua kemampuanku menyepong kemaluan Gery yang malam itu membayarku. Aku harus memberinya service yang mantab supaya dia tetap memakai tubuhku.

Mungkin kalau aku ditanya apakah aku menikmati saat orang memakai tubuhku untuk memuaskan birahinya aku akan jawab dengan yakin, iya aku menikmatinya. Meski aku jadi lonte bayaran, tapi aku juga menikmati setiap persetubuhan yang kulakukan. Aku jadi ketagihan saat-saat sebuah batang penis menusuk vaginaku. Pokoknya aku sangat menikmati saat laki-laki menyetubuhiku.

“Bro.. sini ikutan cepet..” Gery memanggil temannya dengan kode tangannya. Fajar kemudian jalan mendekati kami berdua.

Gery kemudian menarik tanganku ke atas, dia bermaksud menyuruhku untuk kembali berdiri. Setelah itu dia memberi kode pada Fajar untuk menyerangku bersamaan.

“Ahhh.. tuan-tuan ini nakalnya minta ampun.. ahhh…. hahaha..” teriakku sambil menggeliat-geliat saat buah dadaku jadi bahan kuluman mulut kedua laki-laki di samping kanan-kiriku.

“Hemmpp.. emmmpphh…. emmphh….” dari mulut kedua laki-laki itu hanya terdengar dengus nafas mereka yang tengah menikmati puting payudaraku.

“Tanggung jawab ahhh… susu kalau dibuka harus dihabisin” tanganku kemudian mendekap kepala dua orang laki-laki di samping kanan-kiriku untuk terus menghisap puting susuku.

“Aaaah… yang kuat dong.. aah.. aah.. aah..”

“Hahaha… ada yang siap lembur dan kerja keras nih” kata Gery. Dia kemudian berdiri di sampingku sambil memamerkan kontolnya yang sudah tegang. Fajar juga sama, dia langsung menurunkan celana dalamnya dan telanjang bulat di sampingku. Ukuran kontolnya memaksaku untuk berdecak kagum.

“Ihh, bikin makin pengen aja” desahku, kemudian aku jongkok di depan dua laki-laki itu lalu menjilati kontol mereka bergantian.

“Aahhh… aahhh.. hemm… pintar banget lonte satu ini” ucap Gery mulai keenakan saat tanganku yang halus ini mengocok penisnya.

“Iya bener broo.. pinter banget ngisepnya..” tambah Fajar yang kontolnya sedang kukocok dengan mulutku.

“Aku suka yang udah keras kayak gini… mhmph…mphh…” aku terus mengulum batang penis kedua lelaki itu dengan rakus, membuat pemilik kontol di sampingku sampai mengerang keenakan.

“Udah..udah.. kita naik kesitu..” kata Gery yang mengajak kedua orang lainnya pindah ke atas gazebo. Aku pikir dia pasti sudah gak sabar segera ngentot memekku.

Sebelum ikut naik ke atas gazebo kulepas dulu celana dalam yang masih menutupi celah vaginaku. Rasanya agak lengket saat kulepas kain penutup liang memekku itu. Cairan yang sedari tadi meleleh keluar dari celah vaginaku membuat celana dalamku sampai basah.

Setelah kuletakkan celana dalamku di tempat yang kurasa aman, aku langsung masuk ke dalam gazebo. Aku segera memposisiskan diriku menungging, menyiapkan memekku buat kontol siapapun yang akan memasukinya. Pada kondisi seperti ini aku sudah memasrahkan seluruh tubuhku untuk mereka nikmati.

Fajar kini berada di depanku setengah berdiri dengan bertumpu pada kedua lututnya. Sepertinya dia memberi kesempatan pada Gery untuk menikmati memekku duluan. Batang penisnya yang tegak mengacung dengan sempurna itu langsung kumasukkan dalam mulutku.

“Uhhhmmmmm….” jerit tertahan yang keluar dari mulutku mengiringi lesakan batang penis Gery yang mengambil posisi di belakangku. Jadilah kini lobang depan dan lobang belakang milikku terisi oleh batang kemaluan laki-laki.

“Batang gue enak gak lontee???” kata Gery yang sedang mengentotiku. Kurasakan kedua tangannya menahan bongkahan pantatku saat dia menyodokkan batangnya dengan keras.

“Aaaaaah… sukaaaaaa banget..!!” aku menjerit girang sampai melepaskan kulumanku pada penis Fajar. Kubalas lesakan batang kejantanan Gery dengan goyangan memutar pinggulku. Setelah itu aku kembali menjilati dengan rakus kontol Fajar yang ada di hadapanku.

“Haaahhh…. Enak banget nih lontee… memeknya sempit” teriak Gery mulai meracau karena rasa nikmat sudah mulai menyerangnya.

“Aahhh… ooh.. iya enaaak…beibb.. aahh…” rintihku merasakan tusukan demi tusukan penis Gery dalam celah vaginaku.

“Beib.. ahh.. kamu gantian sama Fajar dulu… ntar aku mau lobang satunya” aku mengerti arah pembicaraan Gery. Belum ada sepuluh menit dia menggenjot memekku tapi sudah minta gantian.

Aku kemudian menghentikan kuluman mulutku pada batang kontol di depanku. Kutarik paha Fajar dan kuberi kode padanya untuk berbaring. Dia mengerti apa yang kumau, Fajar langsung berbaring di depanku membuat batang penis besarnya itu tegak mengacung menggodaku. Aku kemudian merangkak ke depan hingga akhirnya penis Gery lepas dari cengkraman memekku.

Posisi tubuhku menghadap ke wajah Fajar yang sudah dalam posisi berbaring. Kulihat sebuah senyuman mesum nampak dari wajah gantengnya. Kubalas dengan senyuman manis juga, sambil kukangkangkan kedua kakinya melewati pinggulnya. Perlahan-lahan mulai kuturunkan pinggulku hingga akhrinya ujung penisnya bersentuhan dengan celah vaginaku.

“Aaaaaah.. aa.. hooh.. g-gede banget aaaah..” aku kembali meracau saat kontol besar milik Fajar amblas masuk ke dalam liang vaginaku. Dan bagai seorang cowgirl, aku langsung menggerakkan pinggulku dengan liar, seakan sedang merodeo seekor banteng ganas.

Kini tubuhku naik-turun di atas tubuh Fajar yang berbaring di bawahku. Rasanya batang penisnya yang besar itu mengaduk-aduk isi liang vaginaku, bahkan sampai menyentuh mulut rahimku. Sungguh aku jadi semakin horni dibuatnya.

Tiba-tiba tangan Gery kurasakan seperti mendorong punggungku ke depan. Aku langsung mengikuti kemauannya untuk memiringkan tubuhku ke depan.

“Ahhh… eeemmmhhh.. aahhh… aahhh” racauku semakin keras saat dalam posisi badanku miring ke depan mulut Fajar langsung menyambar puting susuku dan memainkannya.

Kini aku memutar pinggulku dengan tempo lambat, membuat penis Fajar semakin terasa mengaduk-aduk isi liang senggamaku. Kurasakan usapan demi usapan sebuah telapak tangan pada lobang pantatku, aku yakin Gery tengah menyiapkan lobang pengeluaranku itu untuk menerima tusukan batang penisnya. Sebagai lonte yang baik aku hanya pasrah pada keinginannya.

“Ahhhhkkkkk…. pelan Ger.. aakkkhhh…. pelan…” jeritku saat penis Gery mulai memaksa masuk ke dalam lobang pantatku. Memang bukan pertama kalinya aku di anal oleh laki-laki, tapi rasanya tetap saja masih perih dan agak ngilu.

Badanku semakin miring ke depan sampai bibirku bisa bertemu dengan bibir Fajar. Kami pun langsung terlibat dalam ciuman yang ganas, saling memagut bibir dan menghisap lidah, seakan kami tengah menyerap sari-sari ludah kami masing-masing.

“Aaah.. aduhh…haahhh.. penuh s-ssemua deeh” rintihku begitu penis Gery masuk sepenuhnya ke dalam lobang pantatku.

“Ntar aku tambahin uangnya buat kamu deh…” ucap Gery yang kurasakan mulai meggerakkan pinggulnya.

“Makasih be-beib… h-haa.. harus kerja kerassss… aahhh… mantab… Mmphh…” rintihanku kembali terdengar.

Dalam posisi sandwich seperti itu aku jadi terjepit diantara dua laki-laki. Mereka dengan beringas menusukkan penis mereka kedalam lobang pantatku dan lobang memekku.

“Haaaahhh…… teruussssss…..aaaaahhh…” aku berteriak-teriak menikmati betapa enaknya tusukan penis mereka.

Gery dan Fajar bergantian menusuk kedua lobangku. Saat penis Gery menyodok masuk, penis Fajar di tarik. Saat penis Fajar masuk, Gery menarik penisnya. Begitu seterusnya sampai aku kelojotan dibuatnya. Gara-gara perlakuan mereka itu gelombang orgasmeku datang semakin cepat.

“Haaaaahhhh… aduhh.. aaahhh.. aahhh….” tubuhku bergetar dari ujung rambut sampai ujung jari kaki. Beberapa saat lamanya akupun mengejang dengan hebat seakan tubuhku sedang kesetrum. Namun begitu kedua laki-laki itu masih terus menggenjot memekku dan lobang pantatku tanpa memperdulikan keadanku.

Persetubuhan kami terus berlanjut. Kami berganti-ganti posisi beberapa kali, bahkan kami mencoba semua posisi yang kami ketahui. Aku sadar setidaknya Gery dan Fajar sudah menyemburkan spermanya satu kali. Sedangkan aku telah berkali-kali mengalami orgasme sampai membuat tubuhku penuh dengan keringat bercampur cairan orgasmeku. Tapi entah kenapa meski berkali-kali orgasme namun tenagaku masih terus menyala. Akupun masih terus bergantian mengulum, mengocok, dan menggoyang kedua kontol laki-laki itu.

“Bro.. gua istirahat duluan.. lo habisin aja tuh perempuan..” ujar Gery yang kini tengah duduk bersandar pada dinding gazebo.

Aku yang masih dalam posisi menungging langsung menerima hujaman batang penis milik Fajar. Ukurannya membuatku masih merasakan enak. Tak seperti Gery, permainan Fajar memang halus dan nikmat. Tenaganya juga lebih oke daripada Gery.

“Hahh… teruss aahhh..” aku terus merintih dalam kenikmatan. Sesaat kemudian akupun menegakkan tubuh sedikit sambil berusaha menoleh ke belakang. Tangan kananku kugunakan untuk memainkan klitorisku. Sementara itu tangan kiriku mencoba meraih ke belakang untuk menarik kepala laki-laki yang sedang menggenjotku.

Kucium dengan ganas lelaki itu sambil terus bergoyang penuh nafsu. Tidak lama kemudian aku mulai merasakan puncak kenikmatanku datang kemabali. Begitu juga dengan Fajar, kurasakan batang penisny mulai berdenyut-denyut tanda sebentar lagi spermanya akan kembali menyembur keluar.

“Ohh.. terus.. ahhh.. terus.. aku mau.. ahh… kel.. luar.. ahhh..”

“Aku juga Ris.. ahh.. memek kamu memang enak banget.. legit!!” ujar Fajar memujiku.

Beberapa saat kemudian tubuh kami berdua menggelinjang dan bergetar hebat. Kurasakan hangatnya semburan demi semburan sperma Fajar dalam liang vaginaku. Sensasinya sungguh membuatku larut dalam nikmatnya persetubuhan.

“Aaahhkkkk…!!” tubuhku yang menggelinjang hebat membuat jeritanku seperti tertahan. Akhirnya akupun ambruk ke depan karena sudah tak kuat lagi menahan berat tubuhku sendiri.

***

Setelah beberapa menit kami istirahat di dalam gazebo akhirnya kami bertiga beranjak masuk ke dalam rumah. Selain kami haus dan ingin minum, kondisi udara di luar juga sudah mulai dingin. Aku berjalan duluan dari mereka berdua, masih dalam kondisi telanjang bulat. Tak lupa kupungut celana dalam milikku yang tadi kuletakkan di dekat gaszebo.

Kami bertiga kembali menenggak minuman beralkohol yang di bawa Fajar. Sebenarnya untuk urusan satu ini aku tak berani minum berlebihan, makanya aku sengaja mengambil minuman bersoda saja dari dalam kulkas.

Saat di tengah kami menikmati minuman di atas meja tiba-tiba suara bel pintu depan membuat kami sedikit kaget.

“Siapa tuh beib?” tanyaku pada Gery.

“Iya tuh.. lu pesen apan emangnya?” Fajar ikutan bertanya.

Kami bertiga yang masih telanjang bulat tidak berusaha menutupi tubuh kami, karena kami yakin rumah Gery aman.

“Iya deh.. coba gua bukain dulu…” ucap Gery sambil melingkarkan selembar handuk pada pinggangnya lalu jalan kedepan.

Setahuku Gery itu orang tuanya punya rumah sendiri, malah jauh lebih mewah daripada rumah ini. Adiknya juga lagi kuliah di luar negeri. Sedangkan keluarga dekatnya berada di kota lain.

“Riskaa….. Riskaa… kamu kesini.. ada yang cariin kamu…” teriak Gery dari depan. Tapi getaran suaranya sepertinya tak biasa, macam dia sedang ketakutan.

Akupun langsung memakai kembali bra dan celana dalamku tanpa memakai pakaian lainnya. Aku rasa mungkin dia hanya bercanda atau iseng saja memanggilku.

“Siapa kalian ??” teriakku saat kulihat tiga orang laki-laki berbadan tegap sudah masuk ke dalam rumah.

“Pegang dia !!” ucap seorang diantara mereka. Aku yang sadar akan di tangkap oleh seorang pria berbadan tegap itu langsung saja teriak dan coba melawan.

“Bajingan kalian…!!” tiba-tiba Fajar yang muncul dari ruang tengah berlari hendak meninju orang yang memegangku. Sayangnya sebuah pukulan pada ulu hatinya tiba lebih dulu.

“Akkk…. hegggghh…” Fajar yang masih telanjang bulat itu kini terkapar di atas lantai sambil memegangi perutnya. Sepertinya dia kesulitan bernafas, tapi tak ada yang peduli pada keadaannya.

“Kalian ini anak orang kaya tapi ******… hahahaa” ujar salah satu pria berwajah garang yang kuyakini adalah pimpinannya.

“Mau apa kalian? Lepaskan… aku kasih uang berapa pun yang kalian mau..” ucap Gery yang mulai ketakutan.

“Hahaha.. uang? Cihh… kami sudah punya.. tapi kalo cewe itu.. kami mau..” jawab pimpinan preman itu.

“Baik… baik.. bawa saja dia… apa gunanya lonte? aku masih bisa cari lainnya” jawab Gery. Kata-katanya itu begitu menusuk perasaanku. Meskipun aku memang lonte, tapi masih punya hati dan rasa juga.

“Bughhh…!!” sebuah pukulan telak mengenai ulu hati Gery juga. Dia pun sama seperti Fajar tadi, terkapar di lantai sambil mengerang kesakitan memegangi perutnya.

“Nona manis… mana barangmu?” tanya pimpinan preman itu, akupun langsung menunjuk pada tas kecil yang kubawa tadi.

“Oke.. bawa dia sekarang..” perintahnya lagi.

Aku langsung dipaksa mengikuti mereka keluar dari rumah Gery dan masuk kedalam sebuah mobil warna hitam yang terparkir tepat di depan rumah. Sial… mereka bahkan tak memberiku waktu buat memakai pakaianku dulu. Akhirnya malam itu aku mengikuti kemana mereka pergi hanya memakai bra dan celana dalam saja.

“Den, sekarang lo ikutin aja titik yang udah gua kasih tau..” ujar pimpinan preman itu saat mobil yang membawa kami mulai keluar dari jalan depan rumah Gery.

“nona manis siapa nama lo?” dia ganti bertanya padaku dengan tatapan mata yang mampu meng-intimidasiku. Posisi kami berdua dalam mobil memang sama-sama duduk di kursi baris tengah.

“Ri-Riska Om..” jawabku gugup.

“Jangan takut gitu dong, Om orang baik kok.. hehe..” balasnya terkekeh tak jelas.

“i-iya.. Om..”

“Sini.. duduk di pangkuan Om… ayo sini…” ujarnya lagi sambil menepuk pahanya sendiri. Aku tahu apa maksudnya, dia pasti menginginkan tubuhku juga.

Aku dengan ragu mulai bergerak menuju pangkuannya. Saat aku sudah mengangkangi pahanya dia memberi sentuhan pada lenganku memberi tanda supaya kami saling berhadapan. Daripada kenapa-kenapa akupun mengikuti saja kemauannya.

“Tubuh lo memang seksi banget.. Hemm… sayangnya malam ini gua udah janji..” ujarnya sambil kedua tangannya melepas bra yang kupakai.

“Ahhhh….” jeritku kemudian, saat mulutnya yang bau rokok itu mulai mengulum puting susuku.

“Tetek lo mantab, ukurannya pas, ujungnya juga masih merah pucat…hemm.. barang bagus nih…” katanya lagi. Kini selain diemut, buah dadaku mulai di remas-remas dan putingku di pilin-pilin dengan tangannya.

“Aahhh… eemmmhhhh..” desahku lagi, aku mulai terhanyut dalam permainannya. Meski orang itu berwajah garang dan tangan kasar, tapi perlakuannya halus. Aku jadi suka banget.

“Boss… udah mau nyampe nih…” ucap orang di depan. Preman yang mengerjai payudaraku itupun melepaskan kulumannya dan memindahkan tubuhku ke tempat ku duduk semula.

“Mana hp lo cantik?” aku mengambil tas yang tergeletak di lantai mobil, lalu mengeluarkan handphone keluaran terbaru itu dari dalamnya.

“Nih Om..” kusodorkan Hp itu pada pimpinan preman yang duduk di sebelahku.

“Wahh… Hp lo juga pasti mahal nih…” kemudian tangannya mengetik sesuatu pada layar smarphone milikku.

“Cantik… nomer telfon kamu udah gua simpan.. gua juga udah tambahin nope gua di kontak lo.. ntar kalo ada proyek kakap gua cari lo aja ye…” ujarnya sambil tersenyum padaku.

“Wahh… siap deh Om.. ntar aku kasih bonus buat Om..” balasku tersenyum juga.

“Oiya.. kenalin nama gua Beny.. gua yakin kita pasti bakal ketemu lagi, haha..”

Tiba-tiba saja pemandangan di luar mobil sepertinya aku kenal. Aku melihat di luar sana jajaran perumahan yang familiar buatku. Begitu mobil masuk ke dalam sebuah gang, aku mendadak gugup dan bingung setengah mati. Rupanya mereka memang membawaku ke rumah Om Andra.

“Kamu tunggu di sini..” orang yang duduk di sebelahku tadi turun dari mobil lalu masuk ke dalam rumah Om Andra. Aku yakin mereka saling kenal.

Aku semakin bingung, bahkan payudaraku yang tadinya dimainin sama Om Beny tak sempat aku tutupi. Pikiranku jadi kalut, kini tiba saatnya bagi Mita dan Om Andra mengetahui siapa sebenarnya aku.

“Ayo bawa barangmu, kita sudah sampai tujuan..” seorang preman berbadan tegap menarik tanganku untuk keluar dari dalam mobil. Aku yang masih bingung pun spontan mengambil tas dan menutupi kedua payudaraku dengan bra yang tadinya kupakai.

Setelah mengantarkan aku ke rumah Om Andra ketiga preman tadi pun pergi. Kini tinggallah aku sendiri duduk di ruang tamu berhadapan dengan pemilik rumah.

“Hhhhhh… sekarang cerita sama Om.. kamu udah lama kayak gini Riska?”

***

End Of Riska Side story.