Anak Tetangga Part 7

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Tamat

Keesokan paginya sekitar jam 05:30 pagi aku bangun dengan rasa letih di badanku, namun ada rasa lega di pikiranku. Entah kenapa persetubuhanku dengan Mita tadi malam meskipun tidak lama tapi bisa membuatku puas. Apakah karena rasa penasaranku yang terobati setelah sekian lama hanya menerima godaan dari tubuhnya yang seksi itu.

Aku yang sudah melingkarkan handuk menutupi tubuh bagian bawahku bersiap menuju kamar mandi. Mataku masih terasa lengket karena mengantuk. Setelah menghadap pintu kamar mandi ternyata Mita sudah ada di dalam karena kudengar gemericik air dari shower. Aku yang masih merasa mengantuk hanya bisa berdiri di depan pintu kamar mandi tanpa berbuat apa-apa.

Tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka dan muncullah Mita dari dalam kamar mandi.

“Ehhh… Om, udah nih gantian…” ujar Mita yang rambutnya tertutup gulungan handuk, namun tubuhnya malah tak tertutup apa-apa. Aku yang melihat Mita berjalan di depanku dengan kondisi seperti itu hanya bisa melihatnya dan tak bereaksi apa-apa.

“gak dingin yah sayang?” hanya itu yang kuucapkan.
“enggak Om… seger kok airnya…” balasnya.

Akupun langsung masuk kedalam kamar mandi tanpa mempedulikan Mita yang masuk ke dalam rumah.

***

Hari itu seperti hari lainnya. Aku berangkat kerja seperti biasa dan Mita juga berangkat kerja seperti biasanya. Namun saat pulang kerja ternyata aku mendapat tugas tambahan dari atasanku. Bosku itu menitipkan rumahnya padaku karena dia dan keluarganya akan berangkat ke Singapore selama 3 hari menghadiri wisuda anaknya yang pertama. Aku sengaja dipilih untuk menjaga rumahnya karena lokasi rumahku yang tak terlalu jauh dari rumahnya.

Pulang dari tempat kerja, selama perjalanan aku berpikir bagaimana menjelaskan pada istriku kalau aku besok akhir pekan tidak pulang kerumah. Apalagi aku sudah janji mengajak liburan keluargaku ke pantai. Setelah sampai dirumah dan mengandangkan motorku, kutelfon istriku untuk menjelaskan situasiku saat ini. Namun setelah menjelaskan posisiku disini panjang lebar akhirnya istriku bisa menerimanya, meski dengan embel-embel janji kalau hari minggu depannya harus berangkat beneran.

Beberapa saat lamanya aku diam merenung di ruang tamu sambil mendengarkan music slow rock kegemaranku. Memang berat rasanya harus mengalahkan keluarga demi tugas pekerjaan. Tiba-tiba kudengar suara pagar depan rumah dibuka. Mungkin Mita sudah pulang.

“Assalamualaikum.. “ ternyata Mita dan temannya yang bernama Riska itu muncul dari balik pintu depan. Riska dulu pernah numpang tidur di rumahku saat baru datang ke kota.

“Waalaikumsalam…” jawabku sambil tersenyum melihat dua bidadari cantik itu masuk ke dalam rumahku.

“Udah lama Om pulangnya…”

“Baru aja kok.. kamu kok tumben sama Riska?”

“Iya tadi ketemu di depan hotel, jadi aku ajak sekalian kesini..” ucap Mita sambil membuka jilbabnya dan duduk di depanku. Begitu juga dengan Riska, namun dia masih memakai jilbabnya sambil duduk mendengarkan obrolan kami.

“Mita, gini.. besok Om gak bisa pulang.. soalnya bosnya Om titip rumah.. gimana kalo kamu pulang sendiri naik bus aja? cari yang paling nyaman” kataku sambil menatap wajahnya.

“Gak ahh… kalo Om gak pulang aku juga gak pulang” balasnya sambil melihat layar Hp.

“Beneran nih? Tapi kamu telfon mama kamu dulu yah.. ijin dulu”

“Iya Om.. ntar malem aku telfon mama..” ucap Mita dengan wajah datar.

“Riska, jangan sungkan yah disini.. anggap rumah sendiri..” kataku untuk membuat Riska kembali nyaman setelah pembicaraanku dengan Mita tadi.

“Eh, iya Om.. makasih” balas Riska sambil tersenyum manis. Wajah teduhnya masih saja mengesankan bagiku.

“Ntar kamu nginep aja disini Ris..” tawarku.

“Ga tau Om… ga bawa baju ganti soalnya..”

“Udahh.. ga usah ganti baju gapapa.. malah biasanya juga ga pake” timpal Mita cuek, sedangkan Riska kulihat tersenyum malu mendengar celoteh sahabatnya itu.

“Eh.. ehh.. Mita ga boleh gitu dong.. tuhh, Riska jadi malu..” ucapku pada Mita yang kulihat masih men-scroll layar Hp-nya.

Setelah ngobrol sedikit dengan Mita dan temannya, akupun pergi ke belakang untuk mandi dan makan malam. Rencananya malam ini aku tidur di rumah bos yang lagi liburan ke Singapura.

Sekitar pukul 8 malam aku pamit ke Mita dan temannya. Kemudian aku pergi menuju rumah bos yang jaraknya sekitar 4 km dari rumahku. Sebuah rumah yang berada di salah satu blok perumahan mewah. Kunci rumah itu sudah kukantongi, kecuali kunci kamarnya Bos, aku tak berani membawanya.

***

Untuk beberapa saat aku sempatkan memeriksa kondisi rumah berlantai dua itu dan sedikit membersihkannya. Kemudian aku membuat segelas kopi susu dan mengeluarkan bungkusan gorengan yang tadi kubeli di pinggir jalan.

Aku coba naik ke lantai dua dan duduk di balkon belakang, nyaman dan pas sekali posisinya. Lampu yang menerangi balkon itu sengaja aku matikan, supaya lebih syahdu pikirku. Tibalah saatnya kita menarik sebuah kepulan kenikmatan dari cengkeh dan tembakau pilihan. Diolah dengan mesin canggih dan racikan sempurna… ^_^ hayo sapa tau iklan apa ini?

Beberapa saat lamanya aku menikmati kenyamanan rumah mewah itu sayup-sayup kudengar suara ribut-ribut dari rumah sebelah. Pada posisiku di balkon lantai dua itu aku bisa melihat halaman belakang rumah tetangga dengan jelas. Namun saat suara ribut-ribut itu kembali terdengar aku masih belum melihat orangnya. Sebenarnya bukan suara ribut orang bertengakar, tapi lebih kepada suara lenguhan dan jeritan keenakan dari seorang perempuan.

“Ahh… terus..” perempuan di sebelah rumah itu melenguh keras sekali seperti sudah kehilangan urat malunya. Mungkin di lingkungan perumahan ini tak ada lagi yang namanya kenyamanan bersama, yang ada hanyalah urusanku adalah privasiku.

Aku masih belum terlalu penasaran pada suara yang terdengar di halaman belakang rumah tetangga itu. Kunikmati saja kepulan asap tembakau dan cengkeh pilihan itu dengan duduk santai menatap langit yang berhias bintang di malam itu. Tiba-tiba seorang laki-laki berteriak dari arah belakang rumah tetangga.

“Hehhh Lontee…. kesini kau…!!” suara laki-laki itu terdengar jelas dari arah gazebo yang ada di halaman belakang rumah tetangga.

Pandangan mataku langsung menangkap sesosok laki-laki yang hanya memakai celana dalam saja berdiri di depan gazebo. Lampu yang ada di gazebo itupun membantuku melihat wajah laki-laki itu yang kutaksir masih berumur 24-25 tahunan.

Tak lama kemudian kulihat seorang perempuan muncul dari dalam rumah. Mataku hampir tak percaya saat melihat perempuan yang dia sebut lonte tadi keluar dari dalam rumah hanya memakai celana dalam juga. Tubuh bagian atasnya sudah dia biarkan tak tertutup apa-apa lagi.

Laki yang tengah berdiri di depa gazebo itu langsung sumringah melihat perempuan lontenya tadi berjalan mendekat dengan berlenggak-lenggok pinggulnya.

“Tuan belum puas?” ujar perempuan itu.

“Kurang banyak minum susunya, hahaha…” Jawab laki-laki itu sambil menerkam dan menghisap buah dada perempuan itu dengan ganas.

“Aaaah… aku siap bikin puas, asal….” Ucap perempuan itu dengan melenguh keenankan.

“Asal apa?” tanya laki-laki tadi dengan menatap wajah perempuannya.

“Susunya pake sosisss…..” perempuan tadi langsung menurunkan celana dalam pria di depannya itu dan menghisap batang penisnya dengan ganas.

Gila. aku tidak pernah menyangka mereka akan benar-benar main di luar rumah begini. Aku sempat berpikir, harusnya yang punya malu itu aku atau mereka yah?

“Kamu bener-bener lonte.. tak rugi aku bisa dapat kamu…” ucap laki-laki yang tengah di kulum batang penisnya itu. sambil menikmati kuluman dari mulut lontenya itu dia menyibakkan rambut perempuannya yang tergerai menutupi wajah.

“Tunggu!! sebentar… sepertinya aku kenal perempuan itu???” gumamku setelah rasa kagetku reda.

Akupun langsung mencari hpku lalu menelpon Mita yang ada di rumah. Kali ini aku harus bisa menyelamatkan perempuan itu. Jangan sampai dia diperbudak orang-orang biadab itu, pikirku.

“Apa Om?” jawab Mita di telefon.

“Teman kamu masih di rumah?”

“Siapa? Riska?”

“Iya..”

“Setelah Om berangkat tadi dia ikutan pergi dijemput temannya” jawab Mita.

“Ohh.. oke.. kamu sekarang siap-siap pergi kesini yah.. Om kasih titik lokasinya”

“Ada apa sih Om? Kok bahaya banget sih?”

“Udah kamu kesini dulu.. ntar Om jelasin disini”

Aku langsung menutup panggilan telefonku pada Mita. Kemudian aku mencari nama seseorang di kontak telfonku, lalu menekan tombol panggilan.

“hallo…” jawab orang yang kutelfon.

“Bang.. sibuk gak? Kalo ga sibuk bisa dong gua minta tolong”

“Bisaa, tumben lo minta tolong”

“Gini bang.. gua minta tolongin tarik barang..”

“Barang apaan?”

“Ciwi bang…”

“ehh.. lo kira gua mucikari apa?? Hhhh… yaudah… kasih alamatnya”

“Gua share lokasi ya bang.. gua di rumah nomor 72 tapi barangnya ada di 71 bang…”

“Oke dah.. lo tunggu aja barang lo kembali”

“Jangan lupa kasih kaget-kaget dikit ya bang..”

“Iye..iye.. “

Rencanaku sudah siap, tinggal tunggu eksekusinya. Kembali aku mengamati permainan di halaman belakang tetangga sebelah. Rupanya saat kualihkan perhatianku pada orang yang kutelfon tadi ternyata laki-lakinya jadi tambah satu lagi.

“Ahhh.. tuan-tuan ini nakalnya minta ampun.. ahhh…. hahaha..” teriak gadis itu sambil menggeliat-geliat saat buah dadanya jadi bahan kuluman mulut kedua laki-laki di sampingnya.

“Hemmpp.. emmmpphh…. emmphh….” dari mulut kedua laki-laki itu hanya terdengar dengus nafas mereka yang tengah menikmati puting payudara perempuan di depannya.

“Tanggung jawab ahhh… susu kalau dibuka harus dihabisin” perempuan itu kemudian mendekap kepala dua orang laki-laki di sampingnya untuk terus menghisap buah dadanya.

“Aaaah… yang kuat dong.. aah.. aah.. aah..”

“Hahaha… ada yang siap lembur dan kerja keras nih” kata salah satu laki-laki di sebelah kanan posisi perempuan itu. Dia berdiri di gazebo sambil memamerkan kontolnya yang sudah tegang.

“Ihh, bikin makin pengen aja” desah perempuan itu sambil menurunkan dirinya. Dia kemudian jongkok di depan dua laki-laki itu lalu menjilati kontol mereka bergantian.

Aku tak mengira aksi perempuan itu begitu nakal dan berani. Mungkin dia sudah pernah melakukan permainan itu sebelumnya, atau mungkin sudah biasa baginya. Aku selama ini rupanya telah tertipu pada perilaku santun dan wajah teduhnya.

“Aku suka yang udah keras kayak gini… mhmph…” dia mengulum batang penis kedua lelaki itu dengan rakus, membuat pemilik kontol sampai mengerang keenakan.

“udah.. udah.. kita naik kesitu..” kata salah satu laki-laki yang mengajak kedua orang lainnya pindah ke atas gazebo.

Perempuan binal itupun sudah mulai menungging, sedangkan di depannya masih tersaji batang penis laki-laki yang tegak mengacung. Tanpa dikomando lagi perempuan cantik itupun kembali menyepongi kontol di depannya.

“Uhhhmmmmm….” jerit tertahan dari perempuan tadi mengiringi lesakan batang penis laki-laki satunya yang mengambil posisi di belakangnya. Jadilah kini lobang depan dan lobang belakang milik perempuan cantik itupun terisi batang kemaluan laki-laki.

“Batang gue enak gak lontee???” kata lelaki yang mengentoti perempuan itu sambil memegang pantat si perempuan dan terus menyodokkan batangnya.

“Aaaaaah… sukaaaaaa banget..!!” perempuan cantik itupun menjerit girang sampai melepaskan kulumannya. Seperti tanpa diperintah, pinggulnya langsung bergoyang ganas. Setelah itu dia kembali menjilat-jilat rakus ke kontol di hadapannya.

“Haaahhh…. Enak banget nih lontee… memeknya sempit” ujar lelaki yang mengentoti perempuan itu.

“Aahhh… ooh.. iya enaaak…” perempuan itupun berhenti mengulum kontol di depannya. Dia justru menarik pemilik kontol di depannya itu untuk berbaring. Cewek seksi itu kemudian terlihat menarik pinggulnya ke depan, sepertinya dia coba melepaskan kontol di belakangnya.

Perempuan cantik itu kemudian menggeser tubuhnya kedepan, kemudian mengangkangi pinggang laki-laki di depannya yang kini sudah membaringkan diri.

“Aaaaaah.. aa.. hooh.. g-gede banget aaaah..” cewek seksi itu kembali meracau saat dia menaiki kontol besar milik laki-laki yang tadi di depannya. Dan bagai seorang cowgirl, dia menggerakkan pinggulnya dengan liar seakan sedang merodeo banteng ganas.

Ting Tung… Ting Tung.. !! bunyi bel rumah terdengar, akupun segera berlari menuju pintu depan untuk membukanya.

“Om.. ada apa sih?” aku langsung diberondong pertanyaan dari Mita yang sudah datang.

“Udah ah, masuk dulu…” aku kemudian menutup pintu rumah dan menguncinya.

Setelah Mita masuk kedalam rumah langsung ku ajak menuju ke balkon belakang lantai dua. Dia masih terus bertanya kenapa dia disuruh datang secepatnya, namun aku masih diam tak menjawabnya.

“Sini sayang.. coba kamu lihat di pojok rumah sebelah… di gazebo itu” tunjukku pada Mita untuk mengarahkan pandangannya.

“Eh.. lhoh.. itu kan orang lagi.. ah.. apasih.. ngeseks ya Om?” bisiknya mendekatiku.

“Bener.. tapi tunggu.. lihat terus yah siapa perempuannya..” balasku.

Di seberang sana kini terlihat si perempuan tadi terjepit diantara dua orang laki-laki. Aku tidak melihat terlalu jelas, tetapi perempuan tadi seperti menggeser posisi pinggulnya agak menungging sedikit.

Laki-laki satunya yang berada di belakangnya langsung menyodokkan penisnya dan cewek itupun menjerit. Dilihat dari posisi mereka aku yakin lobang memek dan lobang pantat perempuan itu pasti sama-sama tengah terisi batang penis.

“Aaah.. aduhh…haahhh.. penuh s-ssemua deeh” rintih perempuan itu. Suaranya lumayan keras sampai terdengar di telingaku.

“Lhoh Om.. kok itu… seperti..” ucap Mita mulai ragu.

“Tunggu… kamu perhatikan lagi…”

Kami berdua masih terus mengamati adegan panas yang terjadi di halaman belakang rumah sebelah. Mita menontonnya hampir tanpa berkedip, sepertinya dia tak percaya pada apa yang dilihatnya saat itu. Mungkin juga dia masih mencerna kejadian yang dihadapinya saat itu.

“H-haa.. harus kerja kerassss… aahhh… mantab… Mmphh…” rintihan perempuan itu kembali terdengar.

Cewek seksi itu mencium bibir laki-laki di depannya dan bergoyang penuh nafsu. Aku tidak pernah meyangkanya, selama ini kukira posisi seperti itu cuma ada di bokep. Tapi ini di hadapanku, cewek seksi itu sepertinya menerima kontol di memek dan pantatnya. Dia bahkan begitu binal sampai tangannya masih sempat memelintir puting susunya sendiri.

Dua orang laki-laki dia puaskan sekaligus. Gilaa!! Padahal kelihatannya perempuan itu santun dan pendiam, tapi ternyata…

Pergumulan itu berlanjut dengan begitu liar. Aku sadar setidaknya masing-masing laki-laki di situ sudah menyemburkan spermanya satu kali. Cewek cantik itupun sempat menjerit panjang saat orgasme, tapi itu tidak melemahkan semangatnya. Siluet tubuh perempuan itu bergerak penuh nafsu di balik kegelapan.

Dia bergantian mengulum, mengocok, dan menggoyang kedua kontol laki-laki itu. Di sela-sela itu dia juga tidak henti-hentinya menggoda mereka dengan gerakan, kata-kata, dan pujian betapa enaknya kontol mereka.

Satu orang laki-laki duduk beristirahat, sedangkan satu pria lainnya kembali mengambil giliran. Dalam waktu sekejap saja perempuan itupun sedang digenjot dalam posisi doggy oleh laki-laki yang mungkin beneran memperbudaknya itu.

“Hahh… teruss aahhh..” cewek cantik itupun menegakkan tubuhnya sedikit sambil berusaha menoleh ke belakang. Tangan kannannya sibuk memainkan selangkangannya. Sementara itu tangan kirinya meraih ke belakang untuk menarik kepala laki-laki yang sedang menggenjotnya.

Dia mencium ganas lelaki itu sambil terus bergoyang penuh nafsu. Tidak lama kemudian tubuh mereka berdua menggelinjang. Perempuan cantik itu terlihat seperti menahan jeritan keenakan, sebelum akhirnya ambruk ke depan.

Mereka beristirahat sejenak sementara aku dan Mita di sini ikut ngos-ngosan menonton mereka. Setelah istirahat sebentar mereka semua berjalan masuk ke dalam rumah sambil terus bercumbu dan menikmati montoknya tubuh perempuan itu.

“Sudah jelas kan Mita?” tanyaku sambil menata lagi detak jantungku.

“Iya Om… Mita tau..” balasnya tertunduk lesu.

“Bisa kamu cerita pada Om tentang cewe itu?”

“Iya.. dulunya dia memang terkenal gonta-ganti pacar, pas SMA dulu… dia juga belum memakai jilbab saat itu” ucap Mita pelan.

“Yaudah.. kita masuk aja dulu, mulai dingin nih di sini…” akupun lalu menggandeng Mita masuk kedalam rumah di lantai satu. Selain karena dingin aku perkirakan sebentar lagi pesananku bakalan datang.

“Kamu disini aja ya sayang.. ntar kalo ada yang datang biar Om yang tangani” ucapku pada Mita sambil memberikan segelas jus jeruk padanya. Dia duduk di ruang tengah sambil kunyalakan TV di depannya untuk mengalihkan kekalutan pikirannya.

“Om.. kita pulang aja yukk…” ucap Mita kemudian, matanya menatapku sayu.

“Yaudah kalo gitu.. Om kasih tau temen Om dulu yah..”

Aku langsung mengambil ponselku lalu menekan tombol panggilan. Semoga saja orang yang kumintai bantuan tadi belum sampai pada sasaran.

“Bang..”

“Ada apa lagi Ndra?” jawab orang yang ku telfon.

“Nyampe mana lu bang?”

“Ini lagi otewe..”

“Ada perubahan rencana bang.. gua tunggu di rumah aja yah, ntar barangnya tolong anter aja kesana”

“Oke deh.. tapi ada biaya kirimnya…”

“Haha.. siap bang.. asal beres aja”

Aku kemudian menutup panggilan telfonku dan bergegas menutup pintu rumah atasanku itu lalu mematikan lampu yang kurasa tak perlu. Kubersihkan sisa-sisa makanan yang kubawa beserta gelas yang kupakai buat minum tadi.

“Ayo sayang kita pulang aja” ajakku pada Mita. Dia lalu berdiri dan memakai kembali jaketnya.

“Om ga bawa helm satu lagi?”

“Ahh ga usah pake helm, ntar lewat jalan tikus aja” ucapku pada Mita yang sudah siap di depan pintu.

Aku dan Mita akhirnya pulang ke rumahku setelah memastikan semua pintu rumah atasanku itu benar-benar terkunci semuanya. Perjalanan kami yang melewati jalur-jalur perumahan membuat waktu tempuh jadi pendek, jadi hanya 15 menit saja aku dan Mita sudah sampai di rumah kembali.

Setelah sampai di rumah akupun memasukkan motor kedalam garasi. Mita juga langsung masuk ke dalam kamarnya, entah apa yang dia lakukan aku tak ingin tahu. Sekitar setengah jam kemudian sebuah mobil berhenti di depan rumahku. Aku langsung ke depan dan memmbuka pagar depan rumah.

Dari dalam mobil keluarlah seorang lelaki tegap dengan tampang yang garang. Meskipun begitu laki-laki itu sering membantuku bila aku ada masalah yang menyangkut keamanan. Namanya bang Beny, begitu orang mengenalnya.

“Gimana bang? Beres ?” tanyaku.

“ya beres dong Ndra… nih barang lo..” bang Beny membuka lebar pintu mobilnya, lalu anak buahnya membawa keluar sesosok gadis cantik. Mereka langsung masuk kedalam rumah.

“Lhah.. kok bungkusnya udah lepas gitu bang?”

“Hahaha.. iyalah.. gua tadi haus, jadi pengen minum susu…”

“Hahaha… trus susunya gimana bang?”

“Mantap… hahaha…” balas bang Beny sambil mengacungkan dua jempolnya.

“Iya deh bang… oiya nih ada sedikit buat beli rokok..” akupun mengeluarkan beberapa lembar uang kertas warna merah dari dalam saku.

“Apaan nih Ndra? Udah simpen aja buat bini lo sana… selama ini gua udah banyak lo bantu..”

“Udah deh bang terima aja…” paksaku.

“kagak.. kagak… gua udah punya duit Ndra.. macem lo kaya aja…”

Akhirnya setelah ngobrol sedikit bang Beny akhirnya pergi dari rumahku. Sekarang tinggal aku yang harus mengurusi perempuan yang diantarnya tadi. Setelah mengunci pagar aku lalu masuk ke dalam rumah.

***

Kubanting pantatku pada kursi di ruang tamu. Menghadap pada seorang gadis yang tubuhnya hanya tertutup bra dan celana dalam saja. Itupun bra yang dia pakai untuk menutupi kedua payudaranya tidak dikancingkan, hanya ditahan dengan tangannya saja.

“Hhhhhh… sekarang cerita sama Om.. kamu udah lama kayak gini Riska?” tanyaku sambil menatap kedua matanya dalam-dalam.

“Hiks.. hiks… huuu……” Riska mulai terdengar isak tangisnya.

“Udah… udah… kamu jangan pura-pura nangis gitu, sekarang jawab pertanyaanku?”

“Pura-pura gimana Om, aku kan malu , huhu..huuuu..” balasnya masih menahan tangis.

“Halahh.. malu apa?? kamu telanjang di depan laki-laki lain aja ga malu gitu…”

“Kok Om tau?”

“Ya tau lahh.. bahkan aku tadi melihat dengan mata kepala Om sendiri… “

Riska yang masih setengah telanjang di depanku itu hanya bisa menundukkan kepala. Dia tak berusaha menutupi tubuhnya yang hanya terbalut bra dan celana dalam itu, sepertinya dia masih syok pada kejadian yang dialaminya malam ini.

“Aku tak mengira kalo kamu jadi seperti ini Riska.. padahal Om menaruh rasa segan dengan perilakumu yang santun dan berpakaian tertutup.. sekarang rasa segan Om jadi runtuh semua, ternyata pakaian dan sopan-santunmu hanya kedok saja…”

“Tapi Om.. “ balas Riska namun terhenti.

“Sekarang Om tanya.. kamu tadi melayani dua laki-laki bejat itu dipaksa apa tidak?”

“Tidak.. “ jawab Riska lirih.

“Dibayar berapa kamu?”

“ti-tiga juta Om..” mendengar jawaban Riska ini aku hanya bisa menggelengkan kepala tak percaya.

“Ohhh.. jadi kamu sekarang ngelonte yahh Ris???” tiba-tiba Mita keluar dari dalam kamar dan bertanya dengan suara keras. Sepertinya dia mulai emosi juga pada temannya itu.

“Eh… Mita.. sudah-sudah !!” akupun langsung menarik tangannya dan menahan badannya duduk di sampingku.

“Kamu jadi cewek ****** banget sih Ris.. gak bisa makan kalo ga jual memek yah??” ucap Mita mulai kasar.

“Ehh.. sudah Mita… jaga bahasanya” kataku mengingatkannya.

“Biarin Om.. nih lonte harusnya dikasarin aja…” ucap Mita sambil berdiri lalu mendekati Riska. Tiba-tiba tangan Mita menarik bra yang dipakai oleh temannya itu sampai lepas.

“AHH.. jangan Mita.. jangan…” teriak Riska saat tangan Mita menarik celana dalam yang dipakainya. Ditariknya celana dalam itu sampai sobek dan terlepas dari tubuh Riska.

“Aku kecewa punya temen ****** macam kamu Ris…” ucap Mita menahan tangis. Kulihat kini matanya mulai berkaca-kaca.

Aku hanya bisa melihat tanpa berbuat apa-apa pada kelakuan Mita yang menelanjangi temannya itu. Aku sadar, pastinya dia kecewa dengan apa yang diperbuat oleh Riska.

“Mita duduk sini.. kita bicarakan baik-baik..” aku menarik tangan Mita yang tengah berdiri untuk kembali duduk di sampingku.

“Gini.. apapun pilihan yang diambil Riska itu kita serahkan saja padanya, sebagai teman kita hanya bisa mengingatkan, tapi kalau Riska berani mengambil keputusan seperti itu berarti dia sudah siap pada resikonya” kataku pada Mita yang masih berusaha menenangkan dirinya.

“Iya Om…” balas Mita yang kini duduk memeluk badanku. Sedangkan Riska masih tertunduk lesu di depan kami.

“Riska.. bukannya Om sama Mita ingin mencampuri kehidupan kamu, tapi sebisa mungkin pilihlah jalan kebaikan, masih banyak cara untuk dapat uang.. tapi kembali lagi kalau itu pilihan kamu ya sudah…” kataku lagi.

“Iya Om.. Riska makasih udah diperhatiin..” ucap Riska lirih.

“Aku, kamu dan Mita berasal dari kampung yang sama Ris.. apalagi Mita ini kan teman sekolah kamu, pastinya kami akan ikut kecewa kalau kamu berbuat bodoh seperti ini” tambahku.

“Nahh.. Om sudah tahu kan alasannya kenapa dulu pertama kali Riska tidur di sini..” kututupi mulut Mita dengan jariku, aku buru-buru menghentikan pembicaraan gadis cantik itu.

“Iya udah-udah.. besok saja dibahasnya.. sekarang kamu istirahat aja ya Ris.. Mita, kamu kasih pakaian buat Riska, masak disuruh bugil begitu…” kataku.

“Ahh malas.. biarin dia bugil gitu aja.. udah biasa palingan” balas Mita ketus.

“Ehh.. kok gitu sih anak cantik ini …”

“Iya dehh… Ris, ntar kamu tidur sendiri aja.. males banget sama kamu”

“Gapapa Mita… trus kamu?” tanya Riska balik

“Aku mau tidur sama Om Andra aja..”

***

Bersambung