Anak Tetangga Part 6

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Tamat

Hari-hariku bersama Mita semakin berwarna. Kami pun juga semakin akrab seperti tak ada jarak lagi. Meskipun begitu Mita masih menjaga sikapnya denganku bila sedang keluar rumah atau saat bertemu dengan tetangga. Berbeda sekali kalau di rumah hanya ada kami berdua, dia akan manja sekali padaku. Kini aku bebaskan Mita melakukan apapun di dalam rumahku, itulah kenapa aku jadi sering melihat tubuh Mita yang telanjang berkeliaran di sampingku.

Kalau ditanyakan padaku, apakah tidak timbul syahwat saat melihat tubuh bugil seorang gadis cantik? Pastilah aku juga mengalaminya. Bagaimana mungkin birahiku tak bergejolak saat melihat tetek gadis cantik yang ranum dengan puting kecilnya yang merah muda? Uhh.. rasanya ingin sekali aku mengenyot dan menghisapnya.

Apalagi saat melihat celah memeknya yang masih ditumbuhi bulu-bulu halus, serta belahan kemaluannya yang rapat dan merah merekah, tentu saja aku ingin sekali mengentotnya saat itu juga, atau bila perlu aku akan memperkosanya.

Namun aku masih ingat kalau Mita itu dititipkan padaku, berarti orang tuanya memberi sebuah amanah padaku, sedangkan prinsipku dari dulu kalau akau diberi amanah pantang aku mengkhianatinya.

Beberapa hari setelah kejadian di halaman rumah Dewi, malam itu rasanya aku ingin kembali duduk bersantai di teras depan rumahku. Aku mulai merebus air karena rencana ingin kubuat segelas kopi susu yang enak lagi, namun situasi berkata lain.

Sempat berputar-putar di dapur mencari kaleng susu kental manis tapi ternyata tak ketemu juga. Akhirnya aku tanyakan ke Mita apa dia melihatnya, namun dia jawab susunya sudah habis. Akhirnya kuputuskan untuk membelinya di mini market dekat gerbang perumahanku.

“Om… aku ikut…” seru Mita saat melihatku mau jalan keluar.

“Ehh.. iya udah ayo..”

“Tunggu ya Om, aku ganti baju dulu”

Ya iyalah dia harus ganti baju dulu, gak mungkin kalau dia mau ke mini market hanya pake kemben saja. Sejenak aku menunggunya keluar rumah.

“Dah Om, yuk kita jalan…”

Kulihat malam itu Mita mengenakan cardigan panjang selutut berbahan katun dengan jilbab agak lebar warna cream. Cardigan yang dipakainya ada tali di pinggang, jadi bisa seperti handuk kimono yang ada di hotel-hotel itu. Sungguh cantik sekali dilihat, adem rasanya pikiran ini kalau dekat dengan gadis cantik berbusana seperti ini.

“Yuukk.. cepetan, udah malem nih..” ajakku.

Akhirnya kami berdua jalan kaki menuju sebuah minimarket yang ada di sebelah gerbang masuk perumahan. Jaraknya tak terlalu jauh dari rumahku, mungkin sekitar 200 meter, ya itung-itung cari angin malam-malam lah.

Setelah tiba, aku kemudian mengambil barang-barang yang diperlukan lalu membayarnya. Entah mengapa Mita tak mau ikutan masuk, katanya malas nanti kalau masuk dia bisa membeli banyak barang. Aku tanpa punya pikiran macam-macam langsung mempercayainya.

Kami berdua cepat-cepat kembali kerumah setelah kudapatkan beberapa barang yang habis di rumah. Setelah kami memasuki gang perumahanku, Mita maju dan jalan di depanku. Aku jalan seperti biasa sambil melihat kanan kiri siapa tahu ada tetanggaku yang masih di depan rumah. Namun di jam 10 malam tak ada satupun tetanggaku yang ada dan pintu rumah, semua sudah tertutp rapat.

“Udah sepi yah Om?”

“Iya lah.. yang tinggal di sini kan rata-rata pegawai, jadi bergitu datang dari kantor mereka sudah capek lalu tidur” jawabku

Mita lalu membuka tali cardigan panjangnya, mungkin dia gerah pikirku.

“Hihi..”

“Apa sih sayang, kok ketawa sendiri?”

“Eh Om, ternyata enak loh kalo malam gini jalan sambil bugil”

“Lhoh.. !?”

Mita lalu membalikkan badannya. Langsung saja aku bisa melihat ternyata dibalik cardigan panjangnya dia sudah tak memakai apa-apa lagi.

“Gilakk!! Nekat kamu yah…”

“Hihi.. enak loh Om..”

Saat keluar rumah tadi aku memang tak memperhatikan kalau dia tak memakai celana panjang atau rok atau apalah untuk menutupi kakinya. Buah dadanya masih tertutup jilbab yang dipakainya, namun perut dan belahan memeknya bagian depan masih bisa kulihat dengan jelas. Bahkan aku sekarang bisa melihat belahan mememeknya sudah bersih dari rambut kemaluan. Kupikir dia pasti sudah mencukurnya sore tadi.

“Ahh.. nekat banget anak ini… ntar kalo ada orang baru panik..”

“Hihih.. gapapa Om, itung-itung kasih hiburan buat yang lihat..” balasnya polos.

Akhirnya kami berdua tiba dengan selamat sampai di dalam rumah. Mita tak tahu kalau sepanjang perjalanan tadi jantungku berdegub kencang, karena berpikir antara ketahuan orang dan menahan nafsuku. Lama-lama aku gak kuat juga kalo setiap saat digoda terus sama cewek cantik yang satu ini.

Setelah kopi susu yang kubuat sudah jadi, akupun bergegas pergi ke teras depan rumah. Karena cuaca yang sedang panas akupun melapas seluruh pakaianku dan menyisakan celana pendek boxer seperti kemarin-kemarin. Kunikmati suasana santai di teras depan rumah malam itu sambil menyedot sebatang rokok bermerek gudang bumbu dapur.

“Sendirian aja Om?” suara Mita kembali terdengar dari arah pintu

“Enggak, kan sama kamu, cantik..”

“Ihh.. Om ngegombal lagi deh…”

“Hehehe… gak ah, rugi Om gombalin kamu.. sini gih..”

Mita kemudian duduk disampingku, masih seperti biasa dengan belitan kain pantai di tubuhnya. Bedanya kali ini tubuh bagian atasnya terbuka, jadi aku bisa melihat buah dadanya yang semakin hari semakin montok itu. Rambutnya yang panjang sebahu dia gulung dan disanggul kecil membuat leher jenjangnya yang kuning mulus terlihat mempesona.

“Om…”

“Napa?”

“Udah lama gak mijitin Mita lagi..”

“Ohh.. kamu pengen dipijitin? Disini mau gak?”

“Hihi.. mau dong Om.. malah sejuk..”

“yaudah, ambilin minyak zaitun aja di lemari dapur..”

Mita kemudian beranjak pergi dari sampingku menuju kedalam rumah. Sejenak kemudian dia kembali lagi dengan membawa botol kaca berisi minyat zaitun yang kemarin kubeli. Mita rupanya juga membawa matras warna hitam yang biasa dipakai istriku untuk senam yoga. Dengan cekatan dia mulai menata matras yang dibawanya lalu melepaskan kain yang dipakainya untuk menutupi permukaan matras.

“Kamu baring santai aja ya Ta..”

“Hemm, seperti biasanya Om.. hihi..” tanpa kuminta lagi Mita langsung tiduran telentang memamerkan kedua payudaranya dan pangkal pahanya.

Kubalurkan minyak ziatun pada permukaan payudaranya. Aku duduk di samping kiri tubuhnya untuk memudahkan aku memijat. Kedua mata Mita kulihat terpejam saat tanganku mulai mengurut dan meremas kedua bukit kembar di dadanya.

Kulihat dia sangat menikmati sekali perlakuanku pada tubuhnya itu. Tanganku masih dengan terampil mengurut kedua payudaranya hingga kelihatan agak kemerahan karena gesekan kulit kami.

“Uuhh.. enakkk banget Om.. rasanya jadi rileks…” ucap Mita sambil merentangkan kedua tangannya ke atas, sejajar dengan kepalanya.

“Masak sih sayang? Yaudah nikmatin aja…” kataku sambil menatap keteknya yang bersih tanpa bulu.

Kubalurkan minyak yang ada dalam botol ke permukaan dada Mita, lanjut ke perut, kedua tangan dan pahanya. Mungkin kalau ada lampu penerangan yang cukup, tubuhnya akan terlihat mengkilap saat ini. Mita hanya memejamkan matanya seakan menikmati setiap sentuhan tanganku di tubuhnya.

“Om..”

“Apa??

“Kok itunya gak diminyaki?” maksudnya adalah celah memeknya.

“Ohh.. yang itu enaknya gak dikasih minyak, tapi di giniin…” aku langsung menelungkupkan badanku lalu membenamkan wajahku dalam celah pangkal pahanya dan mulutku bertemu dengan liang vaginanya. Tanpa ragu lidahku langsung menari-nari menjilati celah memeknya yang terasa sangat basah.

“Aahhh.. diapain sih Om kok jadi enak? aahhh…” desah Mita yang pastinya merasa geli-geli enak.

Terus kujilati bibir memeknya dengan rakus, bahkan klitorisnya kuhisap dengan kuat, sampai tubuh Mita merasa merinding katanya. Kedua tanganku juga tak tinggal diam, kumainkan kedua puting susunya yang licin karena terkena minyak.

Suasana di sekitar teras rumahku semakin sepi dan dingin. Hanya suara anjing-anjing liar yang terdengar, padahal biasanya tukang nasi goreng atau satpam pasti berkeliling seputar kompleks perumahanku tiap malam. Serasa sepi malam ini dan kita nikmati berdua saja.

Tanganku masih terus berputar-putar di permukaan payudara Mita. Buah dada gadis itu masih licin dengan lapisan minyak yang tadi kuberikan. Kuremas-remas payudaranya dan ku tarik-tarik putingnya hingga Mita memejamkan mata menikmati rangsangan yang diterima tubuhnya.

“Ahhh… iya itu Om.. aduhhh.. mantab itu.. ahh..” suara desah Mita mulai terdengar. Suasana malam yang sepi itu membuat suaranya jadi mudah terdengar.

“Ssssttt……diam dulu..” aku kemudian menghentikan gerakan tanganku. Kuberikan Mita kode jari telunjuk menutup kedua bibirku.

“Ada apa sih Om??”

“Sebentar.. ada orang lewat…” bisikku pada telinga Mita.

Aku kemudian bergerak dalam senyap menuju pinggir pagar depan rumahku. Aku hanya ingin memastikan orang itu tak mencurigai apa yang tengah terjadi di depan rumahku.

Sejenak kuamati sosok orang yang lewat itu dengan hati-hati. Dari postur tubuh dan remang wajahnya aku tak asing lagi dengan orang itu, yang tak lain adalah Husin satpam penjaga perumahan. Namun kenapa selarut ini dia malah kesini? Bukannya dia harus jaga di pos depan?

Karena merasa curiga aku terus mengamati gerak-gerik Husin, si satpam penjaga perumahan itu. Langkah kakinya akhirnya melewati depan rumahku, kemudian dia meneruskan sedikit lalu dengan pelan menuju ke depan rumah Dewi.

Sesaat kemudian Dewi membuka pintu rumahnya, namun lebih dulu mematikan lampu teras, mungkin supaya tak ada yang bisa melihat. Dalam keremangan lampu ruang tamu rumahnya aku masih bisa melihat Dewi menemui satpam perumahan itu memakai kemeja putih lengan panjang tanpa memakai bawahan.

Anjrit..!! apakah dia ada selingkuh dengan mama muda tetangga depan rumahku itu? tak kuduga kalu seleranya Dewi itu ternyata satpam perumahan.

“Mita… kamu di sini aja, Om mau melihat ke rumah bu Dewi”

“Ehh.. ada apa sih Om?”

“Ntar aja Om cerita, kamu tunggu aja..”

Aku yang malam itu hanya memakai ceana pendek boxer pun mulai mengendap-endap menuju ke rumah Dewi, tetangga depan rumahku. Posisi rumahnya Dewi sama seperti rumahku, bersebelahan dengan ladang jagung. Namanya juga perumahan di pinggiran kota. Itulah kenapa aku langsung menuju samping kiri rumahnya yang belum diberi tembok.

Dari sisi kiri rumah Dewi aku bisa melihat isi kamar tidurnya. Jendela yang hordennya tak tertutup sepenuhnya membuatku bisa mengintip dengan jelas apa yang tengah terjadi di dalam kamar itu.

Begitu juga saat Dewi dan Husin masuk kedalam kamar, untung saja mereka tak mematikan lampunya. Kulhat satpam perumahan itu sudah bertelanjang dada dengan hanya memakai celana kolor saja. Duhh… ternyata memang mereka selingkuh beneran.

Rupanya Husin si satpam perumahan itu sudah tak sabar ingin segera melepas kerinduannya pada tubuh molek Dewi. Dia dengan beringas mulai menggerayangi dada dan pangkal paha wanita di depannya itu. Ibu muda yang cantik itu pun membalasnya dengan mencumbu bibir laki-laki selingkuhannya itu tak kalah panasnya.

Oiya, Dewi itu dulu pernah kerja jadi teller di sebuah bank, ketika anaknya lahir dia berhenti dari pekerjaannya.

Beberapa saat lamanya mereka saling bercumbu mesra, namun tangan Husin satpam perumahan itu mulai membuka kancing kemeja putih yang menutupi tubuh Dewi di malam itu. Aku yakin bukan kali ini saja mereka melakukannya. Ternyata Dewi hanya memakai celana dalam saja dibalik kemeja putih yang dipakainya.

Saat kemeja itu terlepas langsung terlihatlah kedua buah dada ibu muda itu. Payudara Dewi sungguh terlihat bulat dan montok, mungkin karena dia masih menyusui anaknya yang usianya belum ada setahun itu. Kalau lihat yang begituan rasanya jadi ingin punya anak lagi deh.. haha.

Dewi kini mengambil posisi jongkok di depan Husin yang masih berdiri. Dengan satu kali tarikan terjatuhlah celana kolor yang dipakai satpam perumahan itu. Bisa kulihat alasan Dewi selingkuh dengan Husin, mungkin saja ibu muda itu sangat menyukai batang penis Husin yang ukurannya lumayan panjang itu.

Dewi langsung menyelomoti batang penis Husin dengan penuh semangat. Batang kejantanan satpam perumahan itu dia kulum, dia sedot dan kocok-kocok penuh nafsu. Aku yakin pada titik ini Dewi sudah sangat horni, apalagi Husin yang terus meringis keenakan itu.

Setelah puas menjilati batang penis di hadapannya, Dewi kemudian berdiri dan mememberi kode pada Husin untuk berbaring di atas ranjang. Meskipun aku tak mendengar apa yang mereka bicarakan tapi aku mengerti kalau mama muda itu menginginkan posisi ‘women on top’. Rupanya posisi itu memang disenangi banyak wanita, lebih cepat nyampe kata mereka, hehe.

Sesaat kemudian kulihat si Husin sudah telentang di atas ranjang. Kulihat batang penisnya yang panjang itu tegak mengacung, seakan memberi semangat pada Dewi untuk segera menikmatinya.

Mama muda nan cantik yang sudah horni itu pun langsung membuka celana dalam yang masih menutupi celah kewanitaannya hingga terlepas dari tubuhnya. Kini mereka berdua sama-sama bugil. Pelan-pelan Dewi mengangkangi batang penis Husin, lalu mengarahkannya menuju liang senggamanya.

“Wuanjrriiiitttt…. !!!”

Teriakku saat kusadari seseorang tengah berada di sampingku. Tanpa kuketahui tiba-tiba Mita sudah ada di sebelah kiri posisiku. Muka dan badanku rasanya dingin karena kaget, mungkin wajahku jadi pucat.

“Om… lihat apasih?” bisiknya.

“Adduuhh.. kamu ngapain kemari sik!?”

“Iseng aja, daritadi Om gak balik aku jadi penasaran” bisiknya di telingaku.

“Iya gapapa sih, tapi kamu kesini kok ga pake baju apa-apa !?” akupun sampai bertanya-tanya berani banget Mita pergi menyusul diriku masih dalam kondisi telanjang bulat. Sepertinya dia mulai ada keinginan untuk eksib.

“Hihihi… gerah Om..”

Akupun kembali melihat adegan mesum yang tengah terjadi di dalam kamar Dewi. Kini dia sudah menggoyangkan tubuhnya di atas pinggul Husin yang telentang di bawahnya. Sungguh liar sekali permainan mama muda yang satu ini. Mungkin kalau lawannya tak kuat pasti akan muncrat duluan.

“Lohh… kok mereka??” tiba-tiba Mita mengeluarkan pertanyaan itu dengan suara agak keras.

“Ssshhhhtt…” buru-buru kudekap mulutnya supaya tak bicara lagi.

Mungkin suara Mita tadi terdengar oleh Dewi. Tiba-tiba dia menoleh ke arah jendela dan bertemu pandang denganku. Akupun langsung menyembunyikan diriku di balik tembok. Mungkin Dewi menyadari keberadaanku, mungkin juga tidak. Tapi kalaupun aku kepergok mereka gak apa-apa juga. Harusnya mereka yang merasa bersalah karena melakukan hubungan terlarang.

“Kita pulang…” kuberikan tanda pada Mita untuk kembali pulang kerumah. Aku takut yang empunya rumah akan teriak menuduh kami maling bila mengetahui keberadaan kami di sini.

Akhirnya aku dan Mita kembali ke rumah dengan aman. Aku kembali duduk di teras depan rumahku, disusul Mita yang duduk di atas matras.

“Seru ya Om ngintip orang lagi selingkuh? Hihi..” ujar Mita melihat ke arahku.

“Aishh.. kamu ini… “

“Sampe kebawa sampe ke sini”

“Eh, maksud kamu?”

“Ini…” tangan Mita kemudian mengelus permukaan celana pendek boxer yang kupakai. Saat itu memang batang penisku masih tegak mengeras, karena aku ikutan jadi horni juga.

“Ahh.. sudah, jangan dimainin..”

“gapapa.. dikit aja..”

Tangan Mita kemudian dengan lancangnya mulai menarik celana pendek yang kupakai turun melalui kedua kakiku. Sampai akhirnya kami berdua dalam kondisi tanpa busana. Mita tak menghentikan aksinya, dia kemudian meraih batang penisku yang sudah tegak mengacung itu lalu mengocoknya pelan-pelan.

“Om… “

“Apa sayang?”

“Pindah kedalam aja yukk…”

“Emang kenapa kalo disini?”

“Dingin Om.. hihihi…. udah malem”

Aku dan Mita akhirnya berjalan masuk kedalam rumah sama-sama telanjang bulat. Kutinggalkan matras dan kain kemben yang tadi dipakai Mita. Setelah masuk aku tutup pintu dan menguncinya. Kemudian Mita kulihat memberi kode supaya aku duduk di kursi ruang tamu, akupun mengikuti ajakannya.

“Sini Om.. kita lanjutiin yang tadi..” ucap Mita sambil menepuk kursi panjang. Aku lalu duduk dan Mita mulai mengangkangi pinggulku. Kutatap matanya dalam-dalam dan kulihat kalau dia benar-benar menginginkannya.

“Ahhh…. duuhh…” rintih Mita saat penisku kembali masuk kedalam liang vaginanya.

“tahan dikit ya sayang…”

“Iya Om… masih sedikit ngilu sih, Ahh..”

Kembali kupagut bibir tipisnya dengan mesra dan kumainkan lidahnya. Tanpa kuminta lagi Mita mulai menggoyangkan pinggulnya naik turun dan penisku mulai mengocok liang senggamanya.

Tanganku tak mau tinggal diam, kuremas-remas kedua payudaranya dengan lembut dan sesekali kupelintir putingnya. Akibat rangsangan yang kuberikan itu membuat Mita semakin terbakar dalam birahinya sendiri.

“Aahhh…. Ahh… Ahhh… terus Om.. uhhh.. enak banget sih… ahh..” racaunya .

Kulihat Mita sungguh terbakar birahi, goyangan tubuhnya semakin liar dan menggairahkan. Tubuhnya yang ramping dan berkulit kuning langsat itu nampak dibanjiri keringat karena bergoyang-goyang diatas pangkuanku.

“Ohh… aku pipis Om… aaahhhhh.. aduuuhhhh…“ tubuh Mita mengejang dan bergetar, namun tangannya memukul-mukul pundakku. Untuk kesekian kalinya Mita mengalami orgasme dari persetubuhannya denganku.

“Ahhh.. Om jahat… Om jahat…. bikin aku lemes, aduuhhhh…” ucapnya masih dengan memukul-mukul pundakku.

Kupeluk tubuh Mita dengan lembut sambil menunggu getaran orgasmenya mereda. Batang penisku yang masih tertancap di liang vaginanya terasa hangat karena tersiram cairan orgasmenya. Kudiamkan posisi ini beberapa menit sampai Mita kembali menegakkan badannya. Setelah itu ku gendong Mita masuk ke dalam kamarnya lalu kubaringkan di atas tempat tidur.

“Om.. makasih yah… udah mau selingkuh dengan Mita, hihi.. “

“Makasih apa? Justru Om yang minta maaf kemarin udah ngambil perawan kamu“

“Enggak pa-pa Om, aku gak menyesal kok, samasekali enggak…”

Kudekap tubuh Mita lalu kembali kupagut bibirnya dengan ciuman yang lembut nan mesra. Di bawah sana, batang penisku yang masih tegak sempurna kembali kumasukkan ke dalam liang vagina Mita. Kugenjot memek Mita dengan tempo yang cepat, karena aku ingin segera selesai dan supaya Mita cepat bisa istirahat.

Sekitar sepuluh menit lamanya kukocok memeknya dengan penisku. Kurasakan pangkal penisku sudah mulai gatal dan berdenyut-denyut menandakan beberapa saat lagi spermaku akan keluar. Kupercepat genjotan penisku pada liang senggama Mita.

“Aaaahhh.. aduh Om.. aku.. ahh.. pipis lagi… ooohhhhhh….. “ tubuh Mita kembali bergetar dan mengejang dengan hebat, seakan dia mengalami kesurupan.

“Hehhh…. iya sayang, Om juga mau nyampe nih… Ahhh..” karena sudah tak tahan lagi segera kucabut penisku dari dalam liang vaginanya lalu ku kocok dengan tanganku.

“Aahhh… Ahh… Ahhh…. mantab.. Ahh….” dan akhirnya keluarlah cairan putih kental.

Crottt… Crottt.. Crooott….

Semburan demi semburan spermaku di permukaan perut dan dada Mita. Kulihat memang lumayan banyak sampai menetes di kiri-kanan badannya.

“Iiihhhh… mantab Om.. banyak banget…” ujar Mita gembira.

“Hufffhh… hehe.. iya sayang…”

“Ternyata selingkuh itu nikmat ya Om? Makanya tante Dewi tadi rela selingkuh sama pak satpam perumahan, hehehe…”

“Ahhh… Iya.. kamu bener… uuuhhh..”

Aku masih saja mengurut batang penisku supaya tetesan maniku benar-benar tuntas keluarnya. Mita kulihat dengan santainya malah meratakan cairan putih kental itu di sekitar payudaranya sendiri, bahkan dia mengambil lelehan spermaku untuk diusapkan di wajahnya. Jadilah saat itu tubuhnya berbau sperma dan membuatku agak eneg.

“Aduhh, kamu ngapain sih Mita?”

“Biarin Om, lumayan bisa buat masker wajah, hihihi…”

“jadi bau gak enak deh…”

“Hihi.. biarin, wekk….”

“yaudah, istirahat aja yah.. besok masih kerja…”

“Ok Om… met istirahat…”

Aku kemudian keluar dari dalam kamar Mita dan menuju ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhku. Setelah itu akupun tidur, kulihat jam dinding sudah menunjukkan pukul 1 malam lewat.

Bersambung