Anak Tetangga Part 5

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Tamat

Keesokan harinya semuanya berjalan seperti biasa. Tak ada komentar yang aneh dari Riska dan tak ada yang bocor dari mulut Mita. Aku dan Mita pergi bekerja dan pulang sama-sama, karena kebetulan dia chat aku pulang jam berapa dan ternyata aku bisa sekalian menjemputnya pulang.

Riska rencananya sore ini sudah mau pindahan. Mita membantunya membereskan barang-barangnya. Sebenarnya barang bawaannya tidak banyak, hanya satu koper dan satu tas ransel, meski begitu ukurannya memang lumayan besar. Itulah kenapa aku menawarkan untuk mengantarnya pergi ke rumah kos-nya tapi Riska kembali menolak tawaranku.

“Enggak usah Om, makasih banget, ini aku udah pesan taksi online kok..”

“Beneran nih Ris, ga takut nanti diculik sama driver-nya.. hehehe..” candaku.

“Hehe..iya Om beneran, nih udah mau nyampe kesini mobilnya”

“Yaudah, ntar jangan lupa sering main-main kesini, menginap juga…”

“Eh, maunya..” celetuk Mita di sampingku.

Kemudian sebuah mobil berhenti di depan rumahku, aku yakin ini pasti taksi online yang dipesan Riska. Aku langsung membantunya menaikkan koper dan tas ranselnya kedalam bagasi mobil.

“Om.. Mita.. makasih banget yah… dadaaahh…” ucap Riska yang sudah duduk di dalam mobil

“Iyaa.. daaahh…” ucapku dan Mita berbarengan. Tanpa kusadari tangan mita merangkul lenganku dan mendekatkan tubuhnya padaku. Kami sudah seperti suami-istri yang melepas kepergian saudaranya yang datang dari jauh.

“Sayang… ntar ceritain yah..” bisikku pada Mita saat melambaikan tangan pada Riska.

“Cerita apa sih Om?”

“Riska kalu tidur ..”

“Hihihi.. penasaran yah?” balas Mita sambil tersenyum tapi masih melihat kedepan.

Kami kemudian masuk ke dalam rumah setelah mobil yang membawa Riska menghilang di belokan gang perumahan. Kututup pagar depan rumah dan ku gembok sekalian, karena aku tak ada acara keluar rumah lagi. Aku dan Mita belum sempat berganti pakaian kerja karena tadi buru-buru membantu Riska. Setelah ku tutup pintu dan menguncinya akupun duduk menyender pada kursi panjang di ruang tamu. Kuputar musik slow rock kesukaanku untuk membuat suasana sore itu lebih nyaman.

Tak sadar rupanya aku sudah tertidur di atas kursi panjang sore itu. Mataku terbuka dan kusadari saat itu baru jam 10 malam. Ruang tamu tempatku duduk sekarang sudah gelap dan diganti dengan lampu yang agak redup. Mungkin Mita tak tega membangunkanku yang tidur karena kecapekan.

Aku kemudian menuju dapur dan kulepaskan baju dan celana panjang yang kupakai sejak pagi tadi hingga menyisakan celana pendek boxer saja. Kumasukkan baju kotorku kedalam mesin cuci lalu aku segera membuat secangkir kopi susu.

Entah kenapa malam itu rasanya ingin sekali aku duduk bersantai di teras depan rumah sambil menikmati secangkir kopi susu, tak lupa sambil membawa sebungkus rokok yang belum habis kubeli dari kemaren. Meski hanya memakai celana pendek boxer saja tapi aku dengan santainya duduk di teras depan rumah karena pagar depan rumahku tertutup lembaran fiber berwarna hitam.

Samping kanan rumahku masih berupa ladang jagung, sedangkan samping kiri rumahku pemiliknya hanya datang seminggu sekali karena mereka punya rumah lain di tengah kota. Di depan rumahku adalah rumah Dewi, ibu muda beranak satu dengan suami yang kerja di luar pulau, kadang dua bulan sekali suaminya itu baru pulang. Lampu di terasku juga hanya berupa lampu LED 3 watt saja, hingga memberi kesan remang-remang kalau malam.

Sambil melamun aku menikmati kopi susu yang kubuat tadi, sesekali kuhisap dalam-dalam rokok di tanganku. Rasanya sungguh membuatku tenang dan nyaman. Namun lamunanku tak bertahan lama karena Mita tiba-tiba muncul dari balik pintu.

“Om…”

“hemmm…” jawabku masih duduk menyender di bangku teras.

“Sendirian aja Om?”

“Enggak…”

“Emang sama siapa?”

“Sama kamu…”

“Hehehehe…. “ tawa Mita mendengar ucapanku. Kemudian dia duduk di bangku sebelah kiri tempatku.

Kulihat dia hanya memakai kemben kain Bali saja, memang seperti itulah biasanya dia di rumah kalau malam mau tidur. Aku yakin di balik kembennya itu pasti Mita sudah tidak memakai apa-apa lagi. Entahlah, sekarang aku sudah tak aneh lagi melihat Mita seperti itu, mungkin karena sudah terbiasa saja.

“Kamu belum tidur sayang?”

“Belum Om, barusan telpon mama di rumah”

“Emang ada masalah apa?”

“Itu, papa kambuh lagi diabetesnya….” kini Mita agak tertunduk lesu.

“Ohh.. trus apa sudah dapat obat?”

“sudah.. tapi ya itu, papa orangnya kan ga bisa mengatur pola makannya”

Aku diam sejenak berusaha mencerna lebih dalam perasaan yang ada pada diri Mita. Mungkin saat ini dia merasa sedih, bingung dan kecewa jadi satu. Sesaat kemudian kuperhatikan Mita melepas kain kemben yang dipakainya lalu diselimutkan pada tubuhnya. Sekilas kulihat tubuhnya yang telanjang

“Kenapa? dingin yah?” tanyaku.

“Enggak Om, pengen aja, hihi..”

“Ohh.. yaudah..” balasku sambil memperhatiakan Mita yang menyelimuti tubuhnya dengan kain Bali yang tadi dipakainya sebagai kemben.

“Pernah kepikiran pengen telanjang di luar rumah gak?” bisikku pada Mita.

“Hihihi… pernah Om.. enak kali yah”

“Yaudah, kalo gitu lepasin aja..” sambungku sambil kembali duduk bersandar.

Mita tak membalas ucapanku, dia langsung melepas kain yang menyelimuti tubuhnya. Seketika itu terpampanglah tubuh telanjangnya di depanku. Tubuh telanjang gadis belia di depanku sontak membuat jantungku berdegub kencang menahan birahi. Aku mencoba terus duduk dengan tenang, seakan hal yang terjadi saat itu sudah biasa aku lihat.

“Wahh.. memang mantab Om.. hihi.. rasanya bebas dan lega..”

“Hehe.. baguslah kalo gitu, daripada kamu galau terus..”

“Tapi Om curang, masak aku aja yang disuruh telanjang, kok Om enggak” balas Mita.

“Hemm.. oke, om telanjang tapi ada syaratnya..”

“Aduh, pake syarat apa lagi sih?”

“Gini… om bakal telanjang di sini kalo kamu berani pergi ke depan rumah bu Dewi trus kencing di halaman rumahnya..”

Mita tampak terkejut dengan ucapanku, akupun sebenarnya sedikit menyesal kenapa pakai syarat yang bisa bikin repot. Bisa geger orang satu kompleks kalau ada yang melihat Mita telanjang di depan rumah tetangga.

“Oke!! deal…” jawab Mita mantab.

“Nah, tunggu sebentar Om ambil kunci dulu..”

Aku kemudian mengambil kuci pagar depan yang biasanya ada di atas kulkas. Setelah itu aku balik ke teras depan lalu pelan-pelan membuka pagar dengan lebar sebatas orang bisa lewat. Setelah membuka pagar aku masih berdiri sambil melihat ke arah Mita duduk.

“Silahkan tuan putri…” kataku sambil mengarahkan jempol tanganku.

“Yeee.. buka dulu dong Om..” balasnya tak mau kalah.

“Duhh… okelah …” akupun lalu melepas celana dalam boxerku dan menaruhnya di bangku tempat dudukku tadi. Kini Mita bisa melihat ketelanjanganku sekaligus batang penisku yang sudah dalam posisi tegak mengacung.

Mita kemudian berdiri, meninggalkan kain Bali bermotif batik tergeletak di tempat duduknya. Dia tersenyum padaku dengan begitu anggun dan cantiknya, rasanya jadi tak rela kalalu sampai Mita dilihat oleh orang lain. Sesaat Mita berhenti di belakang pagar yang tadi kubuka, kepalanya celingukan melihat kanan-kiri untuk memastikan tak ada orang lain di luar sana.

“Mita pamit ya Om, ntar kalo ilang cariin yah, hihi..” ucapnya genit.

“Apaan sih kamu ini?.. ah…” jawabku yang agak ragu namun horni.

Tanpa aba-aba lagi Mita langsung menyeberang jalan dengan santainya. Tubuh bugilnya tambah seksi sekali saat terkena cahaya dari lampu jalan. Aku yang melihatnya malah dibuat ketar-ketir, takut kalau sampai ada yang memergoki aksinya.

Mataku masih terus menatap ke arah Mita yang kini sudah sampai di halaman rumah Dewi. Rumahnya memang ada pagarnya tapi hanya tumpukan bata dan semen yang belum jadi sepenuhnya, karena itulah orang bisa bebas keluar masuk halamannya. Kuperhatikan Mita kini berada di depan pintu rumah Dewi, namun jaraknya masih sekitar 2 meteran. Mita kemudian jongkok dan mulai buang air kecil di sana. Sungguh nekat sekali anak itu, entah dapat keberanian dari mana hingga dia bisa melakukan itu semua.

Beberapa saat kemudian dia kembali berdiri, kupikir Mita sudah selesai dengan aksinya sesuai dengan tantanganku tadi. Namun rupanya dia mulai melakukan aksi lainnya. Dengan mengendap-endap dia berdiri tepat di depan pintu rumah Dewi sambil menghadap ke arahku.

Dia kulihat berjoget-joget penuh kemenangan. Jantungku semakin berdegub kencang, dalam benakku ada rasa takut, ada rasa khawatir sekaligus ada nafsu juga melihat tingkah lakunya itu. Batang penisku yang sudah tegang dari tadi kini semakin mengeras dan berkedut. Ingin rasanya aku saat itu mengocok sendiri penisku, namun aku masih bisa menahannya dengan fokus pada keselamatan Mita saat itu.

Aku melambaikan tangan memberi kode supaya Mita segera kembali. Untungnya dia menuruti permintaanku dengan berlari kecil kembali masuk kedalam halaman rumahku. Aku segera menutup pagar rumah dan sekaligus menguncinya lagi.

“Busett.. kamu emang mau bikin Om jantungan !!” hardikku namun tetap tersenyum.

“Hehehe.. gimana Om? Berani kan aku..” ucap Mita polos, sepolos tubuhnya.

“Iya.. iya.. Om percaya kamu emang pemberani.. huuuffft… “

“Hihihi… “ kekehnya saat mendapati aku yang merasa lega.

Akhirnya kami sudahi permainan di luar rumah malam itu dengan kemenangan Mita. Kami berdua masuk ke dalam rumah lalu kututup pintunya. Aku belum mau tidur karena ada ide untuk membalas kalakuan Mita yang tadi membuatku bingung, panik campur takut.

“Harusnya anak nakal ini dihukum…” tanganku langsung memegang kedua tangan Mita lalu mengarahkannya kebelakang.

“Eh.. Om… aduh.. iya.. ampun deh.. ampun…” rengeknya yang sempat kaget.

“Ga ada kata ampun.. tadi di luar kamu udah ngerjain Om, sekarang Om mau hukum kamu…”

Kupaksa tubuhnya jalan maju ke depan menuju kamarnya. Setelah sampai di dalam kamar kudorong Mita sampai jatuh tertelungkup di atas tempat tidur dengan kedua kaki terjuntai ke bawah.

“Ahh.. Om.. ampun deh.. jangan.. aaduhh..”

“Ampun apaan? nih biar kapok..”

Plak !! Plakk !! kutampar bulatan pantatnya dengan tanganku. Meski tak kutampar dengan kuat tapi suaranya terdengar keras.

“Tadi kan Om yang kasih ide gitu.. bukan salah Mita donk…” ucap Mita protes dengan nada imut.

“Ehh.. masih aja ngeyel?? Om tambah lagi hukumannya…”

Tubuh telanjang Mita yang tertelungkup dengan posisi menungging membuatku dapat melihat belahan vaginanya. Sekilas kulihat celah itu seperti basah terkena lelehan cairan bening. Aku kemudian jongkok di belakangnya hingga wajahku tepat berada di depan bongkahan pantatnya.

“Aahhhkkk.. aduhh.. Om ngapain?? Aaahh…” teriak Mita saat lidahku menjilati belahan memeknya yang basah itu. Rasanya manis dan sedikit asin.

“Diam aja sayang..” Plakk !! kutampar lagi pantatnya.

Kujilati dan ku sedot-sedot vagina Mita yang berair itu agak lama. Tubuhnya yang tertelungkup di atas ranjang semakin menggeliat-geliat seperti cacing kepanasan. Suara protes dari mulutnya kini juga sudah berganti dengan suara rintih keenakan.

“Oohh.. Mita.. mau.. ahh… inii… pipis.. aaaaahhhhhh…..” sebuah teriakan kecil mengiringi keluarnya cairan orgasme Mita dari celah memeknya. Aku tak ambil pusing, langsung kusedot cairan itu sampai habis. Rasanya lebih gurih dan lebih manis daripada punya istriku, mungkin karena dia belum pernah hamil pikirku.

Tubuh Mita menggelinjang dan bergetar sekitar beberapa menit lalu kembali diam, namun mulutnya masih mendesah-desah. Aku yang melihatnya telah mendapatkan orgasmenya langsung menghentikan jilatanku pada liang memeknya. Aku kemudian berdiri dan tanganku berusaha menekuk kaki kanan Mita ke atas lalu kusandarkan pada tepian tempat tidur.

“Aaahh.. sudah Om, mau diapain lagi?” ucap Mita lemah.

“Om bakal hukum kamu sampai kampok…”

“Haduhh.. udah dong Om..” protes Mita, namun dia tak melakukan apa-apa.

Kuposisikan batang penisku tepat pada belahan memek Mita yang masih basah. Kemudian kugoyangkan pinggulku seperti sedang bersetubuh, namun dengan penisku yang hanya menggesek belahan memeknya. Rasanya penisku seperti di pijitin dan di kocok, mungkin karena belahan memek Mita yang masih rapat jadi rasanya masih nikmat walau cuma digesek-gesek saja.

“Oohh.. terus Om.. ihh.. geliii… tapi nikmat…” desahnya lagi.

“Uuhh… masak sih sayang… enak dong ..”

“He’emm.. enak Om…”

“Kalo dimasukin dikit aja boleh gak?”

“Uhhh… iya deh, coba dulu Om, jangan semuanya tapi..“

“Hufffhh.. Oke sayang..”

Akupun langsung menghentikan gerakanku dan konsentrasi mengarahkan kepala penisku masuk kedalam liang vaginanya. Aku tak berani terlalu memaksakan ujung penisku masuk kedalam liang vaginanya, kupertahankan hanya kepalanya saja yang masuk.

“Pelan Oom…. aahhh…” rintih Mita setelah sebagian kepala penisku masuk liang vaginanya.

Aku mulai menggoyangkan pinggulku pelan dan terukur. Pastinya aku tak ingin sampai masuk terlalu dalam dan menjebol perawannya Mita.

“Uhhh.. memek kamu enak banget Mita.. rasanya kayak ngemut kontol Om nih…”

“Hihih… masak sih Om? Enak dong?” goda Mita.

“Pastinya enak banget .. ahh.. padahal cuma kepalanya doang… apalagi…”

“Ihhh..ngarep…” sewot Mita tahu arah pembicaraanku.

“Hehehe…”

Pinggulku masih terus bergoyang pelan seiring gerakan kepala penisku pada liang senggama Mita. Tak sadar tubuhnya ikut bergoyang seirama dengan sundulan kepala penisku pada liang vaginanya. Harusnya dia menjauhkan tubuhnya saat ujung penisku mengenai lapisan selaput daranya, namun yang terjadi saat itu tubuh Mita bergerak berlawanan dengan arah tusukan penisku. Aku juga tak terlalu mengontrol gerakan tubuhku karena konsentrasiku terbagi antara tangan dan pinggulku.

Tanpa kusadari juga ternyata lobang vagina Mita mulai melonggar hingga ujung penisku mulai bergerak secara leluasa. Semakin lama semakin dalam hingga akhirnya mendorong segel keperawanan Mita.

“Ayo Om… terus… ahhh… oohh..” ucap Mita pasrah pada perlakuanku.

“Ahh.. oke sayang.. uuhh..” balasku sambil mendesah.

Aku tak lagi mengontrol goyangan pinggulku hingga akhirnya ujung penisku mampu menjebol keperawanannnya. Kusadari hal itu saat batang penisku sudah masuk kedalam liang senggama Mita separuhnya. Sesaat pikiranku menyesali perbuatanku itu, namun rasa yang nikmat mampu membutakan segalanya.

“Aahh.. Mita…. sepertinya kamu gak perawan lagi…”

“Haahhh?? Aduhh.. kok bisa sih Om?? Aduuhh… huuu.. huuu…” Mita mulai menangis.

“Maafkan Om yah sayang..” ucapku menyesali apa yang telah terjadi tanpa sengaja itu.

Aku kemudian menghentikan gerakan pinggulku sambil kedua mataku mengamati wajah Mita yang sedang menangis. Aku yang melihatnya mulai timbul rasa kasihan dan rasa bersalah. Namun dalam situsi canggung seperti itu batang penisku masih terbenam dalam liang vagina Mita.

“Maafkan Om ya sayang…” ucapku sambil mulai mencabut batang penisku.

“Huuu…. Om jahat… Huuu… Mita benci sama Om… Tapi Bo’ong… Hihihihi..”

Mita langsung terkekeh melihat wajahku yang bingung dan sedikit takut. Setelah tiba-tiba dia tertawa tadi hatiku jadi lega, ternyata tangisannya hanya untuk mengerjaiku.

“Lanjut aja Om..”

“Gak sakit sayang?”

“Enggak tuh, beneran gak perih kok Om.. udah melar kali, hahaha..” balas Mita lalu tertawa renyah.

Aku mulai menggerakkan lagi batang penisku. Kulihat lendir berwarna merah darah menyelimuti batang penisku, aku pastikan malam itu perawan milik Mita telah hilang olehku. Malam itu benar-benar aku sudah bersetubuh dengan anak tetanggaku. Memang benar ternyata laki-laki punya dua kepala, atas dan bawah. Kalau kepala bawah sudah nikmat maka kepala atas sudah tak mampu lagi berpikir jernih.

Mita masih menungging di depanku. Belahan memeknya juga masih kukocok dengan batang penisku yang rasanya semakin tegang dan berkedut.

“Ahhh.. ahhh… kok enak banget.. ahh.. Omm..”

“Iya dong sayang.. namanya juga kenikmatan dunia..” balasku yang terus menggenjot vaginanya dari belakang.

“Tapi.. ahh.. mau pipis lagi.. ahh.. ini.. Om..”

“Gapapa.. keluarin aja Mita…”

Kupercepat goyangan pinggulku maju mundur. Celah kewanitaannya terasa memijit dan menjepit penisku dengan erat. Celah memek perawan memang beda banget.

“Ini.. ini… aahh… Mita…aahhh… Pipissss…. oohhhhh….”

Dalam waktu beberapa saat tubuh Mita bergetar dan mengejang di atas tempat tidur. Matanya seperti terbalik dan hanya nampak putihnya saja. Gadis cantik itu mengalami orgasme dengan bersetubuh untuk pertama kali dalam hidupnya.

Aku yang melihat Mita tersungkur lemas di atas tempat tidur tak tega lagi meneruskan genjotan penisku pada vaginanya. Kubalikkan tubuhnya hingga telentang lalu ku kocok penisku tepat di atas buah dadanya.

Crott.. Crott.. Croottt…..

“Hihihihii…..” Sebuah senyuman manis dan tawa centil dari gadis cantik itu menyambut semburan spermaku di dadanya.

“Makasih Mita sayang…” kucium bibirnya dengan mesra lalu kutinggalkan dia yang masih lemas itu berbaring di atas ranjangnya.

***

Bersambung