Anak Tetangga Part 3

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Tamat

Setelah kejadian malam itu aku dan Mita masih seperti biasa. Seakan tak ada hal penting yang terjadi diantara kita. Rencananya hari ini Mita masuk kerja untuk pertama kalinya. Meskipun dia masih dalam status training, tapi toh sudah mulai dibayar. Pagi sekali Mita sudah berdandan, kulihat dia memakai kemeja lengan panjang warna cream dengan paduan rok panjang warna hitam. Tak lupa jilbab berwarna selaras dengan bajunya setia menutupi kepalanya.

Sore harinya aku pulang agak cepat karena ini weekend. Harusnya sore ini aku langsung pulang kampung menemui istriku seperti biasanya, tapi karena ada Mita yang ikut denganku jadinya kuputuskan untuk pulang besok pagi. Begitu aku membuka pintu rumahku langsung kutahu kalau Mita belum pulang karena kondisinya masih sepi.

Kulepas bajuku dan kubelitkan handuk sebatas pinggangku. Rencananya mau mandi tapi ada telfon dari istriku makanya aku kembali duduk di ruang tamu. Setelah istriku menutup telfonnya, gantian aku membalas chat dari temenku. Tiba-tiba Mita muncul dari balik pintu depan dan menjumpaiku yang tengah bertelanjang dada di ruang tamu. Wajahnya nampak kusut lagi, dengan pakaian yang agak kucel-kucel gimana gitu. Aku yakin dia mengalami hari yang berat di tempat kerjanya.

“Eh, baru pula ya sayang?” entah kenapa sekarang aku terbiasa panggil Mita dengan kata sayang, dia juga gak pernah protes.

“Iya Om.. huhh… nyebelin banget deh temen-temen Mita” balasnya sambil melempar tas ke depan pintu kamarnya. Diapun menghela nafas panjang setelah kerudung di kepalanya dia lepaskan.

“Ada apa sih? Temennya kenapa emang?” tanyaku sambil membaca chat di Hpku.

Mita kemudian duduk membanting tubuhnya di sebelahku. Bau tubuh Mita langsung menyeruak di hidungku, baunya asem-asem wangi gimana gitu. Aku masih membaca chat yang masuk di Hpku sambil sesekali melihat ke arah Mita.

“Pada pinter cari muka semua tuh Om.. padahal kan baru training, belum jadi karyawan beneran loh…” omelnya. Sambil tangannya mulai melepas kancing kemejanya sampi habis kemudian melepasnya. Nampaklah tubuh bagian atas mita kini hanya tertutup bra warna hitam saja.

Aku yang melihatnya sedikit panik, tapi aku tak mau membuat Mita merasa tidak nyaman.

“Ehh… itu tutup pintunya dulu napa..”

“Hihihi.. iya Om, Mita lupa” kemudian dia melangkah kedepan dan menutup pintu rumahku.

“Kamu kalo di rumah pasti kebiasaan gini ya sayang?” selidikku.

“Apa Om?”

“Langsung buka baju di ruang tamu…”

“ya enggak lah Om..”

“Trus kalo mau tidur?”

“kalo dirumah aku biasa tidur ga pake apa-apa”

“Lho emang kenapa gitu?”

“Ya kebiasaan aja, mulai dari kecil mama udah biasakan Mita tidur ga pake apa-apa”

Aku terdiam sesaat untuk mencerna perkataan Mita. Rupanya bener dugaanku, selama ini dia pasti tidurnya telanjang. Fiuhh.. jadi makin berdebar jantungku.

“Trus.. emangnya dirumah kamu semua begitu ya kalau tidur?” lanjut selidikku.

“Iya Om.. semuanya.. papa.. mama.. sama…”

“Ohhh…” mulutku ternganga mendengar ucapannya.

“Eh, trus kalau badan kamu kelihatan sama papa kamu gimana?”

“Yah gapapa Om… udah biasa kok papa liat Mita telanjang..”

“Hah?? Biasa gimana maksud kamu?”

“Ya gitu deh Om.. pokoknya kalau masih dalam rumah aja kami di bebasin mau pake apa aja terserah, ga pake apa-apa juga boleh.. hihihi..” ungkap Mita sambil terkekeh.

Entah kenapa pikiranku jadi membayangkan bu Anik, mamanya Mita sedang berjalan-jalan dalam keadaan bugil di depanku. Anjriitt… aneh banget sepertinya.

“Mita.. mandi dulu sono.. biar seger..” ucapku mengingatkannya.

“Bentar Om.. lagi mager nih..” kini dia senderan di tubuhku dan kepalanya diletakkan di pundak kiriku.

“Besok kita pulang yah Om?”

“Iya, kamu masuk kerja gak?”

“Enggak Om, senin baru masuk lagi..”

“Yaudah ntar siap-siap aja apa yang mau dibawa pulang”

Mita terdiam sebentar. Lalu mengambil Hp nya dan membuka chat yang masuk.

“Om.. Mita boleh nanya gak?”

“Iya boleh dong..”

“Umm, om kalo lihat aku bugil napsu gak?”

“Heh? Apaan sih kamu ini? Ya jelas tertarik lah, Om kan laki-laki normal”

“Ohh… kirain.. hihihi…” balasnya sambil terkekeh centil.

“Tapi Om masih ingat kalau kamu itu anak tetangga Om, makanya sebisa mungkin Om juga ikutan jaga diri kamu, bahkan Om sudah anggap kamu ini keluarga sendiri“

Mita tak membalas ucapanku. Dia kemudian menegakkan tubuhnya dan meletakkan Hp di atas meja. Tangannya lalu dengan terampil menggulung rambutnya yang terurai dan mengikatnya dengan gelang karet.

“Om.. boleh gak aku lepas rok disini, gerah banget deh…” ucap Mita yang membuatku tertegun tak percaya mendengar ucapannya.

“Boleh… kamu telanjang aja sekalian.. hahaha…” tawaku membalas pertanyaan lucu Mita.

“Beneran Om?”

“Iya beneran.. tapi kalo gerah itu ya mandi sana sayang.. “

“emang Om sudah mandi?”

“Belom..”

“Helehh.. sama gitu..”

“Hehehehe… males banget Ta, ga tau kenapa..”

Tanpa disangka-sangka Mita bener-bener melepas rok yang dipakainya. Aku diam saja tak berkomentar apapun. Setelah dia melepas rok hitam yang dipakainya kini terlihatlan celana dalam warna hitam yang menutupi kemaluannya. Berarti hari ini Mita memakai Bra dan celana dalam berwarna hitam semua. Moga aja dia gak sedang berduka.

“Eh..eh.. anak gadis kok ga punya malu gini sih!?”

“Haha, biarin.. harusnya Om yang malu.. ada gadis telanjang diliatin, wekkk….”

“Hadeuhh.. kamu bikin pusing aja…” balasku, yang pusing pala bawah maksudnya.

“Kalo pusing diobatin Om..”

“Hehhh… yaudah bawa sekalian ke mesin cuci sana dong sayang.. ngapain ditumpuk disitu !?”

“Biar sekalian aja Om, Hihihi…” balasnya sambil memungut rok panjang, kemeja dan kerudungnya kemudian dia bawa ke belakang.

Aku kira Mita langsung menuju kamar mandi setelah memasukkan baju kotornya, tapi ternyata dugaanku meleset. Dia kembali lagi muncul di depanku, namun kali ini dengan penampakan yang beda. Berani sekali anak ini telanjang bulat di depanku.

Ahh, tubuh itu.. betapa sempurnanya. Ngidam apa dulu mamanya hingga melahirkan anak sesempurna dia. Postur tubuh yang ideal, tidak terlalu kurus apalagi kegemukan. Bokongnya padat serta naik keatas, tidak turun atau tepos. Buah dadanya yang masih dalam fase pertumbuhan tidak bisa dibilang terlalu besar, tapi kelihatan kencang, membuat kedua gunung kembar itu seakan membusung menantang.

Batang penisku langsung bereaksi melihat pemandangan seorang gadis cantik bugil di depanku ini. Rasanya handuk yang melilit di pingganggku benar-benar semakin menyiksaku. Aku yang sebenarnya kelabakan mencoba menahan sekuat tenaga dan pura-pura tidak terjadi apa-apa, meski aku juga menikmatinya.

“Lhoh, kok gak cepet mandi malah keluyuran ga pake baju gituu…”

“Bentar Om..”

“Nunggu apa sih? Apa mau om pijitin lagi? Hehe…”

“Weehh… mau dong Om..”

Haduh, apa sih yang kupikirkan tadi? Ngapain aku malah nawarin dia dipijit segala? Bisa mampus aku nahan gejolak birahiku nanti.

“Yaudah duduk sini, om mau ambil minyaknya dulu..”

“Eh, ga usah Om.. ga usah pake minyak, ntar mau mandi kan..”
“Okelah kalo gitu… kamu kesini”

Entah kenapa aku malah menepuk pahaku saat menyuruhnya duduk. Anjriiittt… bisa berabe nih urusan. Apalagi Mita juga mau-mau aja menuruti ajakanku.

“Udah siap Om?”

“I.. iya.. udah..” jawabku terbata-bata saat kaki Mita mulai melangkah untuk duduk di atas pangkuanku.

“Mita gak berat kan Om?” tanya Mita lagi. Aku hanya menggelengkan kepala, tubuhnya yang lumayan langsing membuat beban di pangkuanku tak sampai menyulitkanku.

“Masih berat nahan nafsu buat ngentotin memek kamu yang berbulu tipis itu Mita” suara di otakku.

Dengan tenang Mita duduk di pangkuanku. Posisinya menghadap ke arahku hingga kami berdua saling berhadap-hadapan. Mukaku pas sekali di depan payudaranya yang mengkel itu. Ingin rasanya cepat-cepat aku remes lalu kuemut putingnya yang imut-imut dan berwarna merah muda itu. Tapi tenang, Everything is Under Contol, eh.. Control.

“Enak gak sayang?”

“Uhhh… enak banget Om, bener-bener bisa melepas stress di kepala… uuuh”

“Bilang yah kalo pijatan Om terlalu keras”

“Siap..” balasnya centil.

Tanganku dengan terampil memijat dan mengurut kedua payudara Mita bergantian. Sebenarnya agak susah juga kalau gak licin tanpa minyak, agak keset gimana gitu. Tapi aku lakukan saja pelan-pelan, sambil menikmati pemandangan susu gratis di depan wajahku.

“Berenti dulu Om..”

“eh, ada apa lagi sih sayang?”

“Gak enak Om, pantat Mita kegesek handuknya Om nih..”

Mita kemudian berdiri dari pangkuanku kemudian menarik handuk yang membelit pinggangku. Entah kenapa aku malah membiarkan perbuatannya itu tanpa sempat mengingat kalau di balik handuk itu aku sudah tak memakai apa-apa lagi.

“Eh.. eh.. jangan sayang…” ucapanku tak mampu menghentikan gerakan tangan Mita yang dengan paksa menarik handuk yang kupakai sampai terlepas.

“Nahh… gini kan bagus Om.. hihihi…”

Lama-lama kok berani banget anak ini yah? Trus sepertinya Mita ini melihat batang penisku yang sedang tegak mengacung seperti bukan sesuatu yang membahayakan. Mungkin dia belum tau kalau batang itu sudah menerobos lobang peranakannya bisa bengkak 9 bulan perut kamu Mita, Hahaha…

“Ayo dong Om mulai lagi ahh…”

“I.. ii.. ya..”

Jawabanku terbata-bata karena sekarang ini posisi celah vagina Mita tepat berada di depan batang penisku yang tegak mengacung. Kumulai lagi dengan tanganku meraba buah dadanya yang mengkal itu lalu memijitnya seperti tadi. Kuteruskan pola pijitanku bergantian kiri-kanan pada buah dada Mita lalu kulanjutkan dengan mengurut permukaannya dan berakhir di puting susunya.

“Uuhhh…. enak banget nih Om.. ahh..” desahan Mita mulai terdengar.

Sebenarnya tanpa kusadari juga pinggulnya sudah merapat kedepan dan bertemu dengan perutku. Otomatis ujung batang kejantananku bertemu dengan celah memeknya. Belum lagi dadanya yang terus mendekati wajahku semakin membuatku kesulitan untuk memijitnya.

“Ahhh… kok enak banget sih Om.. ahh.. ini… enak…” racaunya.

“Hemppphh.. “ akupun langsung mencaplok puting susunya dengan mulutku karena tanganku sudah kesulitan mengerjai payudaranya.

“Ihh.. kok di isep sih Om… aduuh… ngapain di isep Om?” rengeknya.

“Emmppphh.. slurrpp… emang gak boleh ya Ta?” balasku

“Ahhh.. jadi.. tambah enak banget Om.. aduhh… kurang ajar banget nih rasanya..”

Pinggulnya secara reflek mulai bergoyang maju mundur. Mungkin karena ujung penisku menggesek klitorisnya jadinya dia mencari posisi yang enak menurutnya. Kubiarkan saja dia meng-explore titik rangsangan pada celah vaginanya karena aku juga masih sibuk mengenyot puting susunya kiri-kanan bergantian.

“Ayo Om terus.. ahhh… Mita mau pipis lagi nihh…”

“Hemm… emphh…emphh…emphh…” kuhisap dan kujilati puting susu Mita sampai terlihat basah banget.

“Iya.. Iya… ini Om.. Ahhh… aku pipis.. aahhh… ahhh… ahhh…” tubuh Mita kembali bergetar karena gelombang orgasmenya.

Tangannya yang berada di pundakku kini merangkul leherku dengan erat. Sedangkan di bawah sana ujung kelaminku bertemu dengan celah vagina Mita yang kurasakan sangat basah. Mungkin hanya butuh satu kali hentakan saja penisku bisa langsung masuk kedalam memeknya.

Napas Mita masih tersengal-sengal dan tubuhnya masih bergetar halus. Kedua tangannya juga masih merangkul erat di pangkal leherku. Kupandangi wajahnya yang sayu namun tetap cantik, dia juga sama menatap mataku. Pelan-pelan wajahnya mendekat ke wajahku lalu bibir kami bertemu dan berciuman. Kupikir Mita baru pertama kali ciuman dengan laki-laki tapi ternyata perkiraanku salah. Lidahnya sudah bisa mencari lidahku, hingga akhirnya sekitar 5 menit kami saling mencumbu.

“Om hebat banget deh.. cuma dipegang aja bisa buat aku begetar hebat.. uhh”

“Hehe.. iya dong.. kan sudah level master gitu Ta..”

“Aduhh.. jadi lemes lagi nih Om..”

“Yaudah.. kamu mandi aja dulu sana.. biar seger lagi..”

“Trus, punya om apa gak mau dikeluarin?”

“Santai aja Ta.. besok pasti dikuras sama tante Ana.. hahaha…”

Akhirnya kubiarkan Mita mandi duluan, meskipun sebenarnya kalau kuajak mandi bareng juga dia pasti tak menolak. Tapi aku masih menghindari kehancuran yang lebih fatal, kalau diteruskan mungkin saja aku bisa menjebol perawannya Mita saat itu juga. Itulah yang ada dalam pikiranku.

***

Bersambung…