Anak Tetangga Part 2

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Tamat

Pukul 06:00 pagi alarm di Hp ku berbunyi membangunkan aku dari lelapnya tidur. Rasanya bener-bener malas mau berangkat kerja, tapi apa daya kewajibanku harus mampu mengalahkan kemalasanku. Akupun segera beranjak dari tempat tidur kemudian menuju ke belakang menuju kamar mandi. Sesampainya di dapur aku melihat Mita sedang makan sarapannya. Seperti kemarin dia hanya melilitkan handuk di tubuhnya. Entahlah, kalau dilihat sih bukan karena dia kurang pakaian, tapi aku yakin karena kebiasaan. Aku juga tak terlalu mempermasalahkannya.

“Eh, pagi Om..”

“iya pagi juga Ta… kamu udah mandi?”

“Udah dong Om…”

“Yaudah Om mau mandi dulu kalo gitu”

Akupun segera meninggalkannya menuju kamar mandi. Setelah buang hajat dan membersihkan seluruh tubuhku dalam guyuran air aku segera keluar dari kamar mandi. Kubelitkan handuk untuk menutupi pinggang kebawah tanpa ada daleman lagi melapisinya. Bukannya bermaksud apa-apa tapi begitulah aku sehari-harinya. Setelah aku sampai di dapur lagi, kulihat Mita masih duduk disana sambil menghadap piringnya yang sudah kosong.

“Jam berapa tadi mak Ijah nganterin makanan?”

“Barusan kok Om, sebelum Om bangun tadi” jawabnya enteng.

Kulihat ada paha ayam dan sayur kangkung di atas meja. Masih bertelanjang dada aku langsung mengambil piring dan segera makan pagi. Jadilah aku dan Mita pagi itu makan semeja masih dalam balutan handuk kami masing-masing. Tak ada rasa canggung diantara kami, dia kulihat enjoy saja dan akupun juga sama.

“Om, doain yah, ntar aku ada tes wawancara di Hotel Balero”

“Hemm… iya moga berhasil Ta.. eh jam berapa ntar kamu pergi?”

“Jam 10 pagi om jadwalnya”

“Ohh, yaudah ntar kamu jam setengah sepuluh berangkat aja, deket kok lokasinya”

“Iya Om..”

“Ntar kamu naik ojol aja kesananya, paling cuma kena 5000”

“Iya Om beres…”

Selesai sarapan aku segera siap-siap berangkat kerja. Jam sudah menunjukkan pukul 07:15 tandanya aku harus buru-buru berangkat, supaya sampai kantor tidak terlambat. Aku kasih Mita kunci pintu depan supaya nanti dia bisa meninggalkan rumah dalam kondisi terkunci semuanya. Tak lupa aku kasih dia uang saku secukupnya untuk sekedar bisa naik ojol sama beli makanan disana.

***

Pukul 17:30 aku sudah kembali kerumahku. Hari ini tidak melelahkan seperti hari-hari lainnya. Meskipun ada beberapa meeting tapi tidak sampai membutuhkan waktu yang panjang. Saat masuk kedalam rumah tak kulihat adanya Mita, tumben dia masih belum pulang, apa tes kerjanya sampai malam yah?

Setelah selesai mandi aku duduk-duduk di kursi ruang tamu. Aku masih bertelanjang dada dan hanya memakai celana pendek boxer tanpa celana dalam. Kuputar musik yang easy listening pada Home teather dengan volume rendah sambil membalas chat di Hp ku. Sejenak aku menikmati suasana yang rileks dan santai tiba-tiba Mita datang sambil mengucap salam. Kulihat dia masuk kedalam rumah dengan muka yang kusut, sepertinya dia capek banget.

Beberapa saat kemudian Mita keluar lagi dari dalam kamarnya hanya dengan belitan handuk di tubuhnya, dia langsung berjalan menuju belakang rumah. Sekitar sepuluh menit kemudian dia kembali dengan raut wajah yang lebih segar dibanding saat dia pulang.

“Mita, gimana tes kerjanya?”

“Lolos Om..” jawabnya sambil ikut duduk disampingku. Anak ini sepertinya sudah nyaman berada di dekatku, kalau masih canggung harusnya dia duduk di depanku.

“Syukur kalau kamu lolos… trus pulang-pulang kok kusut gitu?”

“Capek baget Om…”

“Yahh.. namanya orang kerja itu ya pasti capek Mita… semangat aja pokoknya”

“Ada minyak gosok gak Om?”

“Ada, tuh di lemari kamarnya Om…”

“Minta dong Om… pegel banget kaki sama pinggang Mita..”

Aku kemudian mengambil sebotol minyak urut yang ada kamarku lalu kembali mendekati Mita.

“Eh, mau nggak Om pijitin?”

“Hihihi.. ya mau dong Om..” balas Mita sambil terkekeh memamerkan deretan giginya yang rata dan putih bersih.

“Oke sekarang kita masuk ke kamar kamu aja “ ujarku

“Hloh.. kok di kamar Mita om?”

“Ntar kamu ketiduran disini… tapi gapapa asal mau Om gendong”

“Hihihi.. yaudah Om, kita ke kamar Mita aja”

Aku dan Mita lalu masuk kedalam kamar. Segera kusuruh Mita berbaring di atas tempat tidur dengan posisi tengkurap. Sambil ngobrol kumulai saja sapuan tanganku pada betis kirinya dan berikutnya betis bagian kanan. Aku tak menekan betisnya terlalu kuat supaya dia merasa nyaman dan tidak kesakitan.

Berikutnya aku pijat juga daerang pahanya kiri dan kanan. Aku masih menahan gerak tanganku agar tak terlalu ke daerah pangkal pahanya. Namun begitu aku masih sempat melihat belahan memek Mita yang masih rapat terhimpit pangkal pahanya.

“Enak gak Ta pijatan Om?”

“Hemmm.. enak banget Om, kakiku jadi enteng”

Aku ajak ngobrol Mita sambil tanganku masih memijat daerah pangkal pahanya. Sempat beberapa kali aku hampir menyenggol permukaan vaginanya, namun aku masih hati-hati supaya dia tak mengira aku sengaja mengerjainya. Setelah kupijit kakinya, sekarang aku gantian memijat pundaknya. Kubalurkan minyak urut secukupnya pada daerah kedua pundaknya kiri dan kanan. Ku usap-usap permukaan kulit Mita yang tadi kuberi minyak.

“Uhhh… tambah enak Om…”

“Masak sih?”

Aku terus memijat pundaknya dengan lembut sambil berusaha menurunkan ikatan handuknya perlahan-lahan. Kusenggol-senggol ikatan handuknya dengan jempol tanganku supaya agak turun sedikit.

“Kenapa Om?” tanya Mita yang menyadari aku mengalami gangguan.

“Ini Ta, handuknya tebel, jadi susah mau mijitnya, kamu ganti pake kaos dulu gih..”

“Ohh… umm.. gini aja Om, mending aku lepas aja handuknya, gapapa kan?”

“Eh.. ja.. jang.. anu.. em.. boleh.. boleh..” jawabku agak bingung juga pada kenekatannya.

“Asal Om gak pikiran macem-macem aja yah… Hihi…” ledeknya.

Aku termenung sebentar. Sebenarnya inilah ujian keimananku dan kesetiaanku pada istriku. Di depanku sekarang ada gadis belia yang tengah matang-matangnya. Bisa saja aku perkosa dia kalau birahiku sudah mengalahkan akal sehatku.

“Hahaha… enggak lah Ta, kamu ini udah aku anggap keluarga Om sendiri” ucapku. Mungkin bunyi kata-kataku itu lebih tepatnya untuk mensugesti otak mesumku.

Mita kemudian duduk dan melepas handuk yang menutupi tubuhnya. Seketika itu juga aku melihat tubuh Mita yang tumbuh dengan sempurna. Pesonanya sungguh membuat mata lelaki manapun akan tergoda. Tubuhnya langsing, dengan warna kulit kuning langsat dan lekuk pinggangnya yang mirip gitar.

Untung saja dia masih pada posisi membelakangiku, hingga aku hanya bisa melihat bongkahan pantatnya yang padat berisi itu. Setelah handuk yang dipakainya dia lepaskan lalu Mita kembali tengkurap di atas tempat tidur seperti awal tadi.

“Om mulai lagi yah Ta…”

“Lanjutkan Om…!!” balas Mita bersemangat.

Iya pasti dia merasa enak-enak saja kupijit, nih batang di balik celana sudah mulai menyiksaku karena berontak bangun dari tidurnya. Apalagi aku saat itu gak pake celana dalam, jadilah ada tonjolan yang jelas terlihat dibalik celana boxer yang kupakai. Namun begitu aku masih terus memijat area sekitar pinggang Mita yang seksi itu dengan telaten.

“Om..”

“Hemm.. napa lagi?”

“Sengaja yah tangan Om kena teteknya Mita?”

“Ohh.. itu buat memperlancar aliran darah di pangkal ketiak kamu, trus kan ada artikel yang bilang kalau payudara itu harus sering dipijit biar gak kena kanker tuh.. biar tetep kenceng juga lho Ta..” jawabku yang mendadak mirip terapis.

“Eh iya bener Om, mama juga pernah bilang gitu sih… tapi emang Om bisa cara mijitnya?”

“Lhah… ya bisa dong Mita sayang….” aduh kenapa pake sayang-sayang segala.

“Beneran?”

“Beneran… Om belajar dari yutub tuh…“ balasku meyakinkannya.

Tiba-tiba Mita bangun lalu duduk pada posisi yang masih membelakangiku. Aku juga masih setia di belakangnya menikmati pundak dan pinggangnya yang seksi itu.

“Kalau gitu Mita boleh dong dipijit teteknya sama Om… eh tapi Om ga boleh lihat yah!”

“Heh?? Tapi… ah yasudah… beres itu Ta”

Aneh juga anak satu ini, biasanya itu boleh dilihat tapi gak boleh dipegang, tapi yang ini malah boleh dipegang tapi gak boleh dilihat. Hayuk dah kalo gitu mah…

Dengan ragu aku mulai mendekatkan tanganku ke dada Mita. Tangan yang telah kulumuri dengan minyak urut itu mulai mendekati buah dada gadis cantik yang tengah duduk di depanku itu. Kedua tangan Mita diangkat untuk memudahkan tanganku menggapai payudaranya yang kenyal itu. Saat telapak taganku mendarat di payudaranya serasa detak jantungku bertambah cepat.

Deg… Deg.. Deg.. Deg….

Pelan-pelan mulai kuremas dan ku urut buah dada Mita dari celah ketiak menuju kedepan. Terus menerus kulakukan pijatan dan remasan itu sampai akhirnya Mita mulai terbuai dalam rangsangan nikmat di tubuhnya.

“Ahh… omm.. kok enak banget sih….”

“Udah pernah diurut cara begini apa belum Ta?”

“Uhhh.. belum Om… tapi kalo aku remes-remes sendiri udah sering..”

“Enakan mana remes sendiri apa Om yang remes?”

“Ahhh.. enakan… Om.. adduhh..”

Mita mungkin mulai larut dalam rangsangan tanganku pada buah dadanya. Buktinya sekarang dia menyandarkan kepalanya pada pundakku sebelah kiri, hingga kedua pipi kami bertemu. Aku terus meremas dan mengurut buah dadanya dengan tempo yang pelan. Rasanya ingin kunikmati sensasi ini lebih lama lagi.

“Ihh.. Om curang yah…”

“Emang kenapa Ta?”

“Kok Cuma Mita aja yang telanjang sih !?”

“Hehe.. iya gapapa, kan kamu yang sedang dipijitin”

“Gak.. gak adil.. pokoknya Om juga harus ikut bugil juga”

Aku bimbang, sebimbang-bimbangnya. Bagaimana mungkin aku akan menuruti kemauan anak gadis itu untuk menelanjangi diriku sendiri. Namun setelah kupertimbangkan lagi, mungkin supaya ada rasa adil diantara kami akhirnya aku menuruti kemauannya. Kupelorotkan celana pendek boxer yang kupakai lalu kulemparkan di sebelah ranjang. Batang penisku yang sedari tadi memang sudah tegang kini terbuka dengan bebas. Rasanya memang lega banget saat batang penisku lepas dari kurungan celana pendekku.

“Waahh… besar juga yah punya Om!!” seloroh Mita melihat batang penisku.

“Hehehe… enggak juga sih Ta”

“Ayo om kita lanjut lagi…”

Aku kemudin kembali duduk di atas tempat tidur dengan posisi kaki bersila. Tapi posisi itu di protes oleh Mita, katanya kakiku mengganjal pinggangnya. Kemudian aku selonjorkan kedua kakiku sambil kubuka agak lebar supaya Mita bisa berada di antaranya.

“Nahh.. enakan gini Om..”

“iya tapi masih ada yang ngeganjal lagi kan?” maksudku batang penisku mengganjal di pinggangnya.

“Udah gapapa Om, yukk lanjutin aja…”

Kembali aku remas-remas buah dada Mita yang posisinya masih seperti tadi. Kepalanya dia sandarkan pada pundakku. Pada posisi seperti ini bisa saja bibir kami bertemu dan saling mencumbu, tapi itu tidak akan terjadi, aku masih punya perhitungan kalau yang kita lakukan malam ini akan dia ceritakan pada istriku nanti.

“Auhhh… itunya juga di pijitin ya Om?” tanya Mita saat tanganku sengaja memijit dan memelintir puting susunya.

“Lhoh, ini kan bagian dari terapinya Ta ..” alasanku.

“Uuhh.. iya gapapa sih Om, jadi tambah enak nihh… ahh…”

“Kamu mau yang lebih enak lagi gak?”

“Ahh.. mau dong Om…”

“Kalau gitu kamu harus janji yah”

“janji apa sih Om?”

“Janji ga bakalan cerita kejadian ini pada siapapun, terutama tante Ana”

“Wahh.. itu gampang Om… iya Mita janji”

Eh iya, tante Ana itu maksudnya istriku, panggilannya Ana. Setelah Mita mengucapkan kata janji, tangan kiriku segera turun mencari celah vaginanya. Seperti dugaanku celah vagina Mita ini masih rapat dan sempit, tapi saat itu sudah basah banget.

“Kamu masih perawan ya Ta?”

“Iya dong Om….”

“Baiklah, akan Om jaga keperawananmu”

Selesai berkata demikian jari tangan kiriku mulai menggosok-gosok celah vagina Mita dan mulai memainkan klitorisnya. Usahaku tak menemui hambatan karena Mita dengan suka rela merenggangkan pahanya, lagian juga gerakan jariku semakin lincah karena rembesan cairan memeknya.

“Ahh… Ahhh… Mita diapain Om?”

“Udah tenang, nikmati aja..”

“Iya Om.. Ahh…kok enak banget sih.. Uhh…”

Memang baru pertama kali bagi Mita menerima rangsangan dari orang lain pada celah vaginanya. Tubuhnya bergerak naik turun, kadang juga meliuk-liuk seperti seorang penari. Semakin lama gerakan tubuhnya mengikuti kocokan jari tanganku pada klitorisnya. Namun yang jelas tak lama lagi pasti dia akan mencapai puncaknya.

“Aduh.. aduh.. Mita mau pipis Om, ahh… berenti dulu Om.. Ahh”

“Gapapa sayang, pipis aja disini”

“gak.. ntar basah kasurnya.. uuhh…”

“Udah gapapa pipis aja jangan ditahan… ntar om yang bersihkan “

Begitu aku selesai berkata, tubuh Mita tiba-tiba bergetar dan mengejang beberapa saat lamanya.

“Oohhh… Ohh.. Om… Ahh…Mita pipis.. uuhhh…”

Kudekap celah vagina Mita dengan telapak tanganku. Biasanya cewek paling suka saat orgasme ada sesuatu yang menahan vaginanya. Efeknya bisa membuat tubuhnya akan bergetar lebih lama dari biasanya.

“Aaaahhhh…. Omm… aku lemes Om… adduuuhhh….”

Aku tak berani berbuat lebih jauh lagi. Segera kubaringkan tubuh Mita yang masih kehilangan tenaga akibat orgasme yang menimpanya. Kutidurkan Mita dengan posisi telungkup, kuluruskan kaki kirinya dan kutekuk kaki kanannya.

“Ahhh… lemes deh.. makasih ya Om..”

“Iya sama-sama, kamu istirahat aja, udah malam nih, Om juga mau tidur”

Kukecup keningnya dengan rasa sayang lalu kuambil celana pendekku dan segera melangkah pergi keluar dari kamar Mita.

Bersambung