Aku Dan Pilihan Part 4

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Tamat

Cerita Sex Aku Dan Pilihan Part 4 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Terbaru – Cerita Sex Bersambung – Cerita Dewasa Bersambung

Cerita sebelumnya : Aku Dan Pilihan Part 3

Beberapa hari terlewati dengan indahnya seperti biasa.

Malam itu aku dikejutkan oleh Winda ingin pulang ke Wonosobo. Winda mendapatkan kabar buruk yaitu kakeknya meninggalkan dunia ini untuk selama-lamanya. Beliau memang sudah sangat sepuh usianya. Hampir 100 tahun usianya. Winda sedang bersiap-siap karena sebentar lagi ia berangkat menuju stasiun.

“zaaa kamu juga siap-siap atuh. Motornya dipanasin” Suara Winda dari seberang telefon.

“siap tuan putri”

Aku mengeluarkan motorku dan memanaskannya.

Tak lama setelah itu, aku melihat Winda keluar dari kosannya dan membawa satu tas gendong.

“rencana berapa hari win pulangnya?” Winda naik ke motorku.

“gatau nih za. Sampe minggu sekalian apa ya?”

“wedeh lama dong yaaa”

“4 hari za heheh. Gapapa yaa?” Aku mulai menjalankan motorku.

“Yaah bakal kangen deh aku” Aku hanya mendengar dia cekikikan.

Jalanan sudah mulai sepi karena hari sudah mulai larut. Kereta Winda berangkat pukul 10 malam dan ia memintaku mengantarnya pukul 9 malam. Biar tidak buru-buru katanya.

Selama perjalanan kami, tiap melewati lampu merah, banyak sekali pengamen dengan gaya yang nyentrik. Aku baru tau kehidupan malam di kota ini. Bukan hanya laki-laki normal yang menjadi pengamen, laki-laki yang berdandan seperti perempuanpun juga banyak.

Ada satu yang sempat menggoda ku saat aku berhenti di sebuah lampu merah. Dia menggodaku dengan suara yang sangat aku takuti. Winda hanya cekikan saja di belakang. Aku kesal.

“dia naksir kamu za hihihih” Komentarnya saat lampu lalu lintas berubah warna menjadi hijau.

“merinding win” Kataku singkat.

Sesampai di stasiun. Aku meletakkan motorku di tempat parkir dan mengantar Winda masuk ke dalam stasiun menunggu di ruang tunggu. Masih ada waktu 30 menit lagi sebelum kereta yang akan Winda naikki berangkat.

“win, aku mau minta izin” Kami duduk di salah satu kursi ruang tunggu.

“izin apa?”

“aku mau ketemu sama Hani. Gaenak kalo gini terus. Apalagi kamu sama dia juga kyk gitu. Kalo aku doang yang diperlakukan seperti itu sih aku gamasalah. Tapi kamu juga sama sepertiku win”

Ia hanya menghela nafas.

“ya gitu deh za. Aku juga mau bilang itu dari kemarin, tapi gadapet momennya. Rasanya sedih kalo inget Hani jadi berubah gitu”

“kesannya kaya aku jadi perusak pertemanan kalian”

“hussshhh jangan bilang kyk gitu za”

“tapi keliatannya gitu win”

Kami sama-sama diam tak bergeming.

“tapi jangan macem-macem yaa za selama aku gaada” Tiba-tiba Winda buka suara.

“maksudnya?” Aku mencoba menebak arah perkataan Winda.

“yaa kan dulu juga kalian udah pernah melakukan suatu hal”

“ooohh. Engga lah win. Aku kan udah punya kamu” Aku mencubit pipi Winda.

“awas lohh yaa. Aku potong nanti kalo kamu macem-macem”

“waduh” Aku memegangi selangkanganku.

Kami berdua tertawa

Tanpa terasa kereta Winda datang. Ia segera bersiap-siap dan aku membantunya mengangkut barang bawaannya. Aku mengantar Winda hingga ia mendapatkan kursinya dan tak lama setelah itu aku pamit untuk turun dan tidak lupa aku mencium keningnya dan ia tersenyum tersipu.

Aku segera turun dari kereta dan menunggu kereta persis di samping kursi Winda. Kami saling bertatapan hingga akhirnya kereta berangkat dan aku dan Winda melambaikan tangan.

Aku segera berbalik dan keluar dari stasiun dan menuju tempat parkir. Sesaat setelah aku mengeluarkan motorku dari tempat parkir. Aku melihat seorang wanita di pinggir jalan dengan raut wajah kesal karena sepertinya telefonnya tidak kunjung berbalas oleh nomer lawan bicaranya

Aku tidak menduga akan secepat ini bertemu dengan wanita ini. Aku sempat ragu untuk segera menghampirinya, namun kesempatan seperti ini belum tentu datang dua kali. Aku lalu mengendarai motorku dan berhenti persis di depannya.

“han, mau bareng?” Aku memberanikan diri menyapanya.

Hani menghiraukanku dan beranjak pergi menjauhiku. Aku sedikit kesal oleh karenanya. Aku lalu memarkirkan motorku di tempat itu, kemudian aku berjalan menghampirinya.

“haaannn. Mau bareng apa enggaaaa”

Dia masih menghiraukanku.

“temen-temenmu gaakan ada yang jemput kesini. Kamu mau sampe kapan nelfonin mereka? Sampe bateraimu habis?” Aku mulai mengejeknya. “kalo kamu masih mau nungguin temenmu ya silahkan, tapi penawaran ini cuman sekali”

Ia akhirnya menengok ke arahku dengan raut wajah putus asa.

“YES” batinku.

Aku lalu menjambret barang bawaannya yang ia tenteng dengan tangan kirinya dan aku langsung beranjak menuju motorku. Aku melirik ke belakang dan melihatnya mengikutiku dengan langkah gontai. Nampak tidak percaya bahwa seseorang yang sangat ia hindari, malah menjadi penolongnya.

Aku sampai ke motorku dan meletakkan barang bawaanya di dashboard motorku.

“ayo naik cepetan udah malem. Nanti ketemu banci lagi” Aku sudah naik ke motorku.

Ia nampak masih ragu untuk segera naik ke motorku. Aku yang kesal karenanya, menarik tuas motorku dan maju beberapa meter.

“FAZAAA TUNGGU” Akhirnya ia bersuara.

Aku menghentikan motorku. “HAHAHA BERHASIL” batinku.

Ia lalu naik motorku dan aku menarik tuas motor dan motorpun melaju.

“kamu sih dari mana han? Kok malem-malem ada di stasiun” Aku membuka obrolan di tengah-tengah perjalanan.

“Abis dari Bogor za. Ngurus e-ktp. baru jadi kata ibuku”

“buset. Emang bikin kapan?”

“pas kelas 3 SMA. Ya emang gitu. Banyak juga kok yang telat jadinya. emang kamu udah jadi za?”

“udah. Dari dulu malah, gak lama setelah aku bikin udah jadi”

“curang” Ia menjawab singkat.

Suasana lengang seketika. Jalanan sudah sangat sepi, bahkan lampu lalu lintas sudah menunjukkan hanya satu warna yang menunjukkan harus hati-hati.

“kamu sendiri ngapain za ke stasiun malem-malem?” Ia berbalik bertanya.

“mmmm abis nganter Winda. Winda pulang ke Wonosobo. Kakeknya meninggal”

“innalillahi wa innailaihi rojiun. Kapan za?”

“tadi siang katanya”

“kenapa meninggalnya”

“ya emang udah umur han. Udah hampir 100 tahun kata Winda. Padahal katanya masih sehat-sehat aja pas paginya.”

Suasana lenggang kembali. Tanpa terasa kami sudah memasukki kawasan kampus dan tinggal beberapa km lagi sudah sampai ke kosan Hani

“zaaa aku pindah kos hehe, bukan disana lagi” Ujarnya saat kami melintasi tulisan fakultas kami yang berada di bagian depan kampus.

“ehh dimana han?”

Hani menjelaskan tempat kosnya sekarang dan beberapa saat kemudian kami sudah sampai di depan rumah kos Hani.

“makasih yaa zaa” Ia turun dari motorku. Ia tersenyum.

“yoo sama-sama” Aku turun dari motorku dan mengambil barang bawaannya yang ada di dashboard motorku.

“ehh ngapain zaa. Udah disini aja” Ujarnya saat aku berusaha masuk dan membawa barang bawaannya.

“udah gapapa han. Tanggung” Aku memaksa masuk dan menunggu pintu rumah dibuka.

Hani tersenyum dan membuka pintu dengan kuncinya. Ia kemudian masuk ke dalam rumah, kemudian membuka kamarnya dengan kunci yang lain. Kamarnya berada di bagian paling depan rumah itu. Aku mengikutinya dan masuk ke dalam kamarnya.

“ini taro mana han?”

“udah taro di situ aja zaa. Makasih sekali lagi” Ia mengambilkan minum untukku.

“kamu sekarang kurus ya za? Haha” Ia menyerahkan gelas kepadaku.

“kyk gini kurus han? Gimana kamu hahaha. Kamu dari dulu segitu-segitu aja, malah makin kurusan kayaknya”

“aku stress za” Ia menjawab singkat dan tatapannya berubah menjadi sedikit sendu.

*DEG*

“kenapa han?” Obrolan menjadi canggung seketika.

“gapapa zaa” Ia menggelengkan kepalanya. “kamu gimana sama Winda. Baik-baik kan kalian berdua?”

“iyaa baik han” Aku menyerahkan kembali gelasnya.

Kamar lengang seketika. Aku berusaha mencari topik obrolan agar tidak canggung lagi namun aku gagal dan berakhir dengan kebisuan kami berdua.

Aku meliriknya dan aku melihat tubuhnya bergetar sambil masih menggenggam gelas yang aku berikan.

“zaaa” suaranya parau.

“kenapa han?” Aku mendekati tubuhnya berusaha menenangkannya.

Dia diam dan tubuhnya kian bergetar.

*PRRRAAAANG*

Hani menjatuhkan gelas yang ada ditangannya dan kini kedua tangannya menutupi wajahnya dan yang aku tahu ia kini sedang menangis.

“yaampun hani” Hal pertama yang aku lakukan bukannya menenangkannya, malah mencari sapu untuk membersihkan pecahan belingnya.

Aku mendapati sapu di pojok ruangan dan langsung mengambilnya dan menyapunya ke bagian yang aman dari injakan orang. Aku kemudian beranjak menuju Hani dan kini aku berusaha menenangkannya.

Ia terus menangis tertahan karena tangannya menutup wajahnya. Aku mulai mengusap usap punggungnya. Aku sebenrnya ingin memeluknya namun bayangan Winda menahanku. Aku terus mengusap punggungnya hingga akhirnya ia buka suara.

“zaa, udah malem. Kamu gak pulang?” Suaranya serak-serak karena ia masih berusaha menahan tangisannya.

“ninggalin kamu kayak gini?”

Dia diam seketika.

“kamu ngapain lagi ngurusin aku…… KAMU DAH PUNYA WINDA SANA PERGI” tangisannya akhirnya pecah.

Ia mendorongku menuju pintu namun masih bisa kutahan dan akhirnya kedua tanganku menggenggam kedua tangannya.

“maaf han” Aku melihat matanya yang banjir dengan air matanya.

“UDAH BERAPA KALI DIBILANG. BUAT APA KAMU MINTA MAAF. EMANG KAMU SALAH APA? NANTI WINDA MARAH KALO TAU KAMU SAMA AKU” Ia mengerang sambil menangis.

Aku masih terus menghiraukannya. Aku tidak akan kembali sebelum Hani memaafkan aku. Aku masih terus memegang kedua tangannya sampai akhirnya ia melepasnya dan ia berbalik arah.

Ia menuju cermin yang ada diatas suatu meja dan masih terus menangis. Ia melepas jilbabnya memperlihatkan rambutnya yang panjang. Ia juga tidak ragu-ragu melepas pakaiannya dan menggatinya dengan kaos dan ia langsung beranjak tidur. Semua itu ia lakukan masih dengan kondisi menagis sesenggukan.

“SIALAN” batinku.

Aku berjalan menuju kasur dan berbisik ke telinganya “aku pulang dulu. Besok aku kesini lagi”. Ia menghiraukanku. Aku memutuskan untuk pulang menuju kosanku.

Sesampainya di kamarku. Aku mendapatkan pesan dari Winda yang berkata ia sudah sampai dan sudah bersama orang tuanya. Aku lalu membalas pesan itu dan meminta izin sekali lagi bahwa besok aku akan menemui Hani.

Tak butuh waktu lama, pesan itu dibalas dan ia memperbolehkan. Aku pun memutuskan untuk ke kamar mandi untuk buang air kecil. Beberapa saat kemudian setelah selesai buang kecil, saat aku membuka pintu kamar mandi, aku dikejutkan oleh sesosok wanita mungil yang merupakan kekasih dari salah satu teman kosku.

“loh Zakiyah, ngapain kamu malem-malem disini?”

“hehehehe” Ia langsung beranjak masuk ke dalam kamar mandi.

Aku lalu menuju kamar Tama dan mendapatinya rebahan dengan kondisi telanjang bulat dan penisnya yang sudah mengecil layu.

“WOE BOS, DAPET BERAPA RONDE NIH”

“wahahah, gila lu masuk ga ngetok-ngetok” Ia beranjak bangun dan memakai pakaiannya.

“halah kyk lu gapernah aja”

“hahaha sorry”

“ehh dapet berapa ronde sama Zakiyah?” Aku masuk ke kamarnya dan melihat sekitar kamarnya.

“kok lu tau ada Zakiyah?”

“ya iyalah, tadi gue keluar dari kamar mandi ada dia tiba tiba”

“dasar, udah gue bilangin padahal kalo ke kamar mandi liat-liat dulu. Untung elo za yang liat Zakiyah”

“hahahaha”

“gue baru kelar 1 ronde sih hahaha. Masih sempit za. Enak”

“emang lu sering sama dia”

“ya engga sih, cuman gatau kenapa, tadi dia tbtb minta hahaha. Yaudah gue jabanin lah. Udah lama juga gue. Gapapalah jarang-jarang asalkan puas gini mah”

“hahahah, sama bro. yaudah gue balik dulu deh. Oiya gue minta izin buat megang dada Zakiyah yah. Gue sange tiba-tiba haahahah”

“buset ngapain dah hahahaa. Yaudah. Anggap jadi bayaran Winda ya?”

“enak aja, itu lu masih utang sama gue”

“hahahahah, kapan lunasnya dah itu”

Aku kembali ke dari kamar Tama dan mendapati Zakiyah keluar dari kamar mandi.

“zak maaf yaaa” Aku meremas payudara Zakiyah dengan cukup keras.

“aaaaaahhhhhhhhhhh” Zakiyah mengerang. Ia tidak menduga bahwa aku berani melakukan itu. “apaaan sih zaaa, lepasssiiinnn aaahhhh” Aku masih terus meremas payudaranya.

“ssshhhh jangan berisik nanti yang lain pada keluar kamar. Abis kamu zak”

“aaaahhh yaudaaaahhh lepasinnn. Aku bilangin tama nihh aaahhh”

“yaudah bilangin aja sana hahahah” Aku melepas remasanku dan ia langsung menamparku dan bergerak menuju kamar Tama lagi.

Aku tertawa dan kemudian memutuskan untuk kembali ke kamarku dan merebahkan diri. Penisku tegang akibat permainan singkatku dengan payudara Zakiyah tadi. Aku akhirnya melakukan ritual yang sudah tidak aku lakukan semenjak aku berpacaran dengan Winda. “semoga aku masih ingat caranya” batinku (haha).

***

Keesokan harinya, aku terbangun seperti biasa karena mendengar HP-ku berbunyi karena di telfon oleh Winda.

“za, jadi ke Hani hari ini?” Suara dari seberang sana.

Mendengar hal itu aku langsung melek sempurna karena diingatkan. Aku menjawabnya kemudian sedikit berbincang dengan Winda hingga akhirnya ia menyuruhku untuk melakukan ibadah.

Selesai melaksanakan ibadah, aku langsung bergegas mandi yang sebelumnya kusempatkan mengirim pesan ke seseorang. Aku mandi dengan buru-buru kemudian aku keluar dari kamar mandi dan terlihatlah dua sejoli yang baru keluar dari kamarnya.

“woeeh pagi amat bos udah mandi. Padahal istrinya lagi jauh. Jangan-jangan mau ngapa-ngapain nih haaah” ucap lelaki itu.

“mandi wajib tam, biar sah sholat gue”

“****** lu hahahaha”

“pulang zak?”

“iyaa zaaa”

“keluar berapa ka………” kataku tertahan karena ditampar oleh wanita itu.

Aku tidak terima dan membalasnya dengan remasan ke dadanya membuat ia merintih kesakitan karena remasan yang cukup keras di dadanya. Lelaki itu hanya tertawa melihat kekasihnya di lecehkan oleh temannya sendiri.

Hingga akhirnya ia melerai karena sudah tidak tega melihat kekasihnya meringis kesakitan dan mereka berdua pergi dari kosan tersebut dan menuju rumah sang wanita.

Aku kembali menuju kamarku dan memakai pakaianku. Setelah beberapa saat, aku mengeluarkan motorku dan langsung menuju kosan seseorang.

***​

*TOKTOKTOK*

Aku mengetuk pintu sebuah rumah.

Tak berapa lama, pintu tersebut dibuka dan terlihatlah seorang wanita yang tidak aku kenal. Kaget dengan adanya seseorang lelaki yang pagi-pagi datang, ditambah pada saat itu dandanannya masih sangat kucel, ia berteriak dan langsung berlari ke dalam kamarnya. Aku menatapnya bingung oleh karenanya.

Aku lalu memutuskan untuk segera masuk ke dalam rumah dan langsung menuju ke depan sebuah pintu kamar yang semalam sudah pernah aku masuki.

Aku mengetuk pintu dengan perlahan dan tak lama setelah itu pintu dibuka oleh seorang wanita dengan rambut yang panjang yang aku tau baru selese mandi.

Ia tidak berkata apapun dan langsung kembali melakukan kegiatannya yang kemudian aku tau sedang merias kepalanya. Aku masuk ke dalam kamar tersebut dan duduk di pinggir kasur.

Aku masih terus memandangi wanita itu yang sedang merias kepalanya itu. Aku melihat dengan lihainya ia menggerakan tangannya saat memakaikan kepalanya jilbab.

“mau kemana kita za?”

“loh bukannya ada kelas pagi kamu?”

“loh kukira kamu mau ngajak aku bolos. Terus ngapain kamu kesini pagi-pagi”

Aku diam sesaat.

“kalo buat minta maaf……. Kan udah dibilang dari kapan tau, kamu ngapain minta maaf. emang kamu salah apa” Ia melotot kearahku.

“gak gitu haan”

“TERUS APA?”

Suasana lengang seketika.

“kamu tau za…. Aku kok yang salah. Aku gatau kalo kamu sama Winda udah se intense itu, dan dulu aku mengira kamu akan memilih Zahra karena kalian terlihat sangat dekat” Suaranya bergetar. “aku bodoh za, aku telat nyadar kalo… kalo ……………………” tangisannya pecah seketika. Hani menutup mukanya dengan tangannya sambil masih duduk di depan meja riasnya.

Aku hanya diam melihatnya menangis seperti itu. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Jika aku belum dimiliki oleh Winda, mungkin aku bisa dengan mudahnya mendekatinya lalu memeluknya, namun hari ini kondisinya lain. Kondisinya sangat berkebalikan dengan apa yang harus dan bisa aku lakukan.

Aku melihat keseluruhan kamar ini untuk mencari kertas tisu. Setelah aku menemukannya aku lalu mengambilnya dan memberikannya ke Hani.

“makasih zaa” Hani menerima tisu yang kuberikan dan ia mengusap matanya dengan tisu itu.

“maaf yaa haan”

Hani hanya menggeleng sambil terus mengusap matanya menggunakan tisu.

“han, udah yaa. baikan sama Winda. Aku gapapa deh kamu cuekin. Tapi aku gak tega kalo Winda juga kamu gituin. Apalagi dulu kalian udah kyk sejoli yang gabisa dipisahin. Atau harus aku putusin Winda biar kalian baikan lagi?”

Hani hanya melihatku lamat-lamat seakan tidak percaya apa yang aku katakan.

“kasian Winda, merasa bersalah terus” aku melanjutkan.

Hani hanya menggeleng lagi namun tangisannya sudah mulai reda.

“aku gamau kalo bukan Winda sendiri yang ngomong”

Aku tersenyum.

“dan kamu gaboleh ngasih tau apa-apa tentang ini. Kamu cuman boleh ngasih tau kalo aku cuman mau ketemu sama Winda. Sisanya gaboleh kasih tau apa-apa” Hani melanjutkan.

“okedeh han. Mungkin nanti kalo dia udah balik ke sini lagi”

Hani hanya mengangguk.

“oiya satu lagi. Jangan pernah bilang lagi kalo kamu mau mutusin Winda cuman gara-gara ini. Kamu harus perjuangin semuanya dan jangan sampe ada yang hilang dari hidupmu”

Aku meletakkan tanganku diatas kepala seperti saat hormat pada bendera saat upacara bendera.

Aku melihat jam dan mendapati jam sudah menunjukkan pukul 07:15.

“yaudah han, kamu mau kuliah kan sebentar lagi? Mau aku anterin ga?”

“kamu gaada kuliah apa za?”

“nanti siang han”

“ooohhh. Yaudah dehh tolong anterin aku yaa hehe”

“siap”

Hani bersiap-siap memasukkan buku-buku yang berserakan di kasurnya ke dalam tasnya. Aku berjalan menuju luar kamar dan lalu menuju motorku.

Tak lama kemudian, Hani muncul dari dalam kosannya dan langsung menaiki motorku. Aku lalu menjalankan motorku untuk menuju kampus.

“zaaa, aku izin untuk terakhir kali yaa”

“maksudnya?”

Hani langsung memelukku dari belakang. Kepalanya menempel sangat erat di punggungku.

“udah gak empuk kyk dulu ya, sekarang keras” Hani masih terus menenggelamkan wajahnya di punggungku.

“kirain apaan han minta izin segala”

“ya minta izin laah, kan kamu udah ada yang punyain”

Hani masih terus memelukku hingga sampai tempat parkir kampusku. Hani turun dari motorku dan tersenyum ke arahku dan ia langsung pergi menghilang dari pandanganku.

Aku memutuskan untuk turun juga dari motorku dan menuju dalam kampus, hanya untuk melihat-lihat mungkin ada suatu pengumuman. Namun hasilnya nihil. Aku tidak menemukan pengumuman baru apapun di mading kampus. Aku memutuskan kembali ke kosan dan melanjutkan tidurku (haha)

***

Aku dibangunkan karena merasakan sensasi geli menghampiri selangkanganku.

“HANI KAMU NGAPAINN HHHHAAAHHHH” Penisku menegang karena aku sudah terbangun.

Hani menghiraukanku dan masih terus mengulum penisku.

Aku menggerakkan tubuhku kebelakang dengan tujuan bisa lepas dari kuluman Hani, namun sepertinya Hani benar-benar tidak mau melepaskan kulumannya.

“haaniii aahhhhh udaahhhhh hahhh” Aku berupaya melepaskan diri.

Aku berhasil duduk dengan susah payah dan berhasil mendorong tubuh Hani.

“zaaa, pleasee sekali ini sajaa. Ini yang terakhir. Aku kangen” Hani membersihkan air liurnya yang ada di sekitar mulutnya menggunakan tangannya.

“gak gini haan. Yaudah ayo kita jalan-jalan. Aku gabisa kayak gini han”

“gamau. Aku maunya itu” Hani menunjuk penisku yang masih tegak.

“hadeuuhh. Gabisa haan. Aku gabisa khianati Winda”

“kan lagi gaada Windanya”

“hmmmm. Lagipula aku ada kuliah jam 1”

“dosennya gaada za. Tadi aku juga gaada kuliah grgr dosennya gaada. Kuliah Pak Handoko kan? Ayolah zaaa. Sekali ini ajaa dan terakhir kaliii. Abis itu udah engga deehh yaaa yaa yaaa?”

Saat ini aku dilanda kebingungan. Memang Winda sedang ada di luar kota dan jika aku melakukannya dengan Hanipun bakal tidak ada yang tau, namun aku masih merasa bersalah ke Winda jika mengingat kejadianku dengan Nayla tempo hari.

“yaudah. Tapi jangan disini. Aku gamau kalo di kosanku”

“yaaahhhh zaaa. Kalo di kosanku tuh rame dan kamarnya deket deketan. Bakal kedengeran nanti”

“ya terserah. Tapi aku gamau disini han. Hmmm disini udah jadi saksi bisu kebejatanku. Makanya aku gamau lagi disini. Apalagi sama selain Winda”

Hani terdiam sejenak sambil matanya masih memperhatikanku.

Aku beranjak mencari dimana celanaku dan setelah menemukannya aku memakainya kembali.

“yaudah yuk za. Ke kosanku” Hani berdiri dan mengambil tasnya yang tergeletak di lantai.

Hani membuka kunci kamarku dan segera keluar dari kamarku. Aku menyusulnya.

Aku mengeluarkan motorku dan menyalakan mesinnya. Hani dengan segera naik ke atas motor dan tuas gaspun ku tarik. Motor melaju ke kosan Hani.

Sepanjang perjalanan, kami hanya terdiam. Tidak mengeluarkan satu patah katapun. Pikiranku melayang entah kemana memikirkan perasaan Winda jika tahu apa yang diperbuat kekasihnya ini.

Maafkan aku sekali lagi ya Winda.

***

Sesampainya di kosan Hani, kulihat banyak sekali motor yang terparkir di halaman rumah itu.

“hadeuuh kan beneran rame kalo jam segini” Hani menggerutu sambil turun dari motorku.

Aku segera memakirkan motorku dengan rapi, mengikuti motor-motor pendahuluku.

Kulihat Hani langsung masuk ke dalam rumah itu dan aku menyusulnya setelah meletakkan motor dengan baik.

Benar saja. Saat aku masuk ke dalam rumah, sudah ada banyak sekali orang baik laki-laki ataupun perempuan berada di ruang tamu itu. Namun tidak ada satupun yang kukenal.

Aku menuju kamar sambil beberapa pasang mata memperhatikanku.

Jika diperhatikan, kumpulan orang orang itu jika kuduga sedang melakukan kumpul kebo. Posisi duduk mereka sangat tidak bermoral. Sepintas aku melihat beberapa perempuan duduk dipangku di atas paha laki laki.

Aku masuk ke dalam kamar Hani dan kulihat Hani sedang melepaskan jilbabnya kemudian berbaring di kasur.

“itu sih lagi kumpul-kumpul apa han?”

“biasa mereka zaa. Bentar lagi mereka ngentot di situ”

“seriusan?” Aku mendekati Hani yang tengah berbaring.

“iyaa zaa. Aku salah milih kosan. Kukira disini baik baik orang orangnya. Ternyata parah banget”

“emang kenapa sih kok kamu pindah kosan?”

“beberapa hari aku gabisa tidur grgr keingetan kamu pernah tidur disana dan kita tidur bareng. Masih inget kan za? Bener bener gabisa tidur padahal udah minum susu udah segala macem aku lakuin”

“yaampun. Maaf ya han”

“dibilangin. Kamu tuh minta maaf buat apa sih? Orang kamu gak salah apa apa kok”

“gak gitu han?”

“udahlaah zaa. Gausah bahas. Ini gimana kita disini hahaha”

“ya kamu mau ga kalo disini? Nanti gabisa tidur lagi hahaha”

“yeeuu. Enggak laah. Yang aku takutin tuh nanti kita diajak sama mereka”

“ehh buset? Semua yang disini gitu semua apa za?”

“dulunya pas aku pindah kesini tuh ada satu lagi cewek yang enggak ikutan kayak gituan. Trus dia liatlah hal itu. Ya jam segini juga. Terus dia kan kaget yaa. Yaudah awalnya dia diem diem aja dan engga balik ke kosan kalo jam jam segini. Terus dia kan risih jadi gabebas gitu. Yaudah lapor deh dia ke ketua RT. Ehh besoknya dia diperkosa rame rame sama mereka. Sadis banget. Aku yang liat aja ngilu rasanya”

“hah? Kamu liat?”

“iyaa soalnya waktu itu juga jam segini aku mau berangkat kuliah, dan pas banget aku keluar kamar, aku liat mereka lagi ketawa ketawa gitu. Dan aku ketauan kan sama salah satu dari mereka. Ehh aku disuruh liat.

Ini sebabnya kalo lapor lapor gitu katanya. Makanya tiap aku pulang kuliah dan liat mereka lagi kayak gitu ya aku diemin aja. Toh juga aku gadigangguin selama aku ga ganggu mereka”

“sadis banget yaa. Terus yang diperkosa gimana kabarnya?”

“bunuh diri za katanya. Aku juga gak paham juga sih”

“duh ngeri amat yaa. Kamu pindah gih dari sini. Ngapain ngekos ditempat yang gak bener kayak gini”

“iyaa zaa. Semester depan baru abis. Aku gaenak laah minta orang tuaku lagi kalo aku pindah kos. Alasannya apa coba”

“ya ini aja dijadiin alasan”

“gila aja. Yang ada nanti aku disuruh pindah ke kosan akhwat akhwat yang jam 8 malem gerbangnya udah dikunci hahah”

“lohh bukannya kamu….” ucapanku terpotong karena mendengar ketokan pintu.

“tuhkan zaa…. Buka pintunya sana”

Aku segera beranjak dan membuka pintu yang sebenernya tidak dikunci itu.

“woee bos. Lagi ngapain nihh?” ucap seorang laki laki saat aku membukakan pintu.

“ini lagi nemenin dia aja” Aku menunjuk Hani.

“nemenin apa nemenin niih haha. Mau gabung ga? Ada *dia menyebutkan merk merk alkohol* (ane gamau iklan haha). Bisa juga itu diajak mba nya hehe” ucapannya ngelantur.

“ehh sorry sorry sob gue gak minum minum haha. Sok atuh lanjutin aja kalian. Sorry gue gabisa gabung”

“itu mba nya gamau gabung mba? Mau sampe kapan mba gamau gabung hehehehe” ucapannya kian ngelantur. Kuduga itu efek alkohol yang diminumnya.

Kulihat Hani hanya menggeleng.

“yaudah sob, gue duluan yak. Jangan ngiri lo. Kalo pengen gabung dateng aja kesini lagi hehehe” Ia segera meninggalkan aku dan kembali ke kelompoknya”

Aku kembali ke kasur dan duduk di pinggirannya. Hani kembali berbaring.

“gilaa bau banget tuh orang”

“hahahaha. Iyaa emang. Gimana nih zaa?”

“yakamu laah gimana. Kan kamu yang ngajak aku”

“hhhmmm. Yaudah dehh daripada engga. Untung aja mereka ngajakinnya pas kita belum apa apa haha”

“emang kalo kita udah apa apa, mereka bakal ngapain?”

“mungkin masuk ke sini dan mainnya malah dikamarku hahaha. Kunci zaa kamarnya”

“mereka tuh kenapa mainnya di ruang tengah sih? Kenapa ga di kamar gitu?” Aku berjalan menuju pintu dan menguncinya.

“gatau zaa. Mungkin kamarnya sempit kali dan ga cukup haha. Abisan itu sepuluh lebih orang sihh. Gila emang” Hani sedang melepaskan pakainnya.

Melihat hal itu, aku juga melepaskan pakaianku dan penisku yang sudah setengah tegang keluar dari sangkarnya.

Aku melihat Hani sudah telanjang bulat dan terbaring di kasurnya. Aku menaiki kasurnya dan memposisikan diri berada diatasnya.

Mulutku langsung menuju dadanya yang kecil itu. Menghisap putingnya yang imut itu serta memutarkan lidahku di areolanya secara bergantian.

“zaaa eemmhh. Kangeenn nnnmmhhh”

Hani kian mengerang saat tak sengaja penisku bergesekan dengan bibir vaginanya.

“aku masukin sekarang ya han?” Aku menghentikan segala aktivitasku.

Hani mengangguk lemah dan matanya sayu.

Aku mengarahkan penisku menuju bibir vaginanya. Penisku sudah menempel dibibir vagina Hani, Hani mengerang kegelian.

Dengan sekali dorongan, penisku ambles seluruhnya membuat Hani gelagapan dan memelukku dengan erat.

Aku mendekap tubuhnya dan mencoba mengelus kepalanya dengan tujuan mengurangi rasa sakitnya.

Memang vagina Hani masih sangat sempit karena memang jarang sekali dimasuki oleh benda asing.

Setelah Hani merasa rileks dengan penis di dalam vaginanya, aku mulai memompa vagina perlahan sambil masih mendekapnya.

“aahhhh zaaa sakkiittt ahhhh mmmhhhh aahhh” Rintih Hani pelan.

“iyaa haan, emang sakit sabar yaa. Bentar lagi enak” aku berbisik.

Hani terus mendesah sambil mencakar kecil punggungku selagi aku memompa vaginanya.

Rintihan Hani berubah menjadi desahan desahan yang membuat aku semangat dalam memompa vaginanya. Aku mempercepat pompaanku dan aku kini sudah tidak mendekap tubuh Hani lagi. Sehingga, aku kini dapat melihat wajah Hani yang sayu dan menikmati persetubuhan ini.

“zaaa aahhh mmmhhh”

Aku memompa semakin cepat dan membuat tubuh Hani makin kelonjotan. Hani meraih apapun yang berada di sekitarnya untuk menahan rangsangan yang kuberikan.

“fazaa. Pelaaannn aahhhh mmmmhhh aahhhh pelaann hhhhmmmmhhhh” Hani menarik sprei kasurnya hingga terlepas.

Aku merasakan penisku disembur oleh cairan yang kurasakan hangat dan aku menghentikan segala aktivitasku.

“haahh haahh hhhaaaahhhh” perut Hani naik turun. “bentaarr zaaaa mmmmhhhh ahhhh”

Aku mencabut penisku dan membalikkan tubuh Hani.

“kalo udah siap bilang yaa hahah”

Hani masih terus mendengus menahan sisa sisa orgasmenya.

Beberapa saat kemudian Hani mengatakan bahwa ia sudah siap untuk bersenggama lagi.

Aku menaikkan bokong Hani membuat vaginanya membuka merekah. Aku memasukkan penisku ke vaginanya membuat tubuh Hani melengkung dan membuatnya pada posisi merangkak.

“aahhh fazaaa eemmmhhh aaahhh” Hani mendesah sesaat aku mulai memompa vaginanya lagi.

Aku terus memompa vagina Hani dari belakang. Tak lupa juga sesekali aku meremas payudaranya yang bergoyang seirama dengan sodokanku.

Aku terus memompa vagina Hani walaupun kurasakan ada yg menyemprot dari dalam vaginanya.

“fazaaa. Stoppphhhh aaaaahhhhhhh aaaahhhhh mmmhh aaahhhhh stoppphhhhhhh” Tangan Hani memukulku karena tidak tahan dengan rangsangan yang kuberikan.

Aku menghiraukannya dan masih terus memompanya. Tubuh Hani bergetar dan desahan Hani makin memenuhi ruangan ini. Mungkin saja orang-orang diluar dapat mendengar Hani.

Sebenarnya aku kasian dengan tubuh Hani yang berkali-kali bergetar karena aku tak kunjung menghentikan gerakanku, tapi dia yang memintanya melakukan ini. Ia meminta untuk yang terakhir kalinya denganku. Oleh sebabnya, aku ingin memberikan kenang kenangan yang sulit dilupakan.

“fazaaaa berhentiii aaahhhhh eeemmm hhhaaaahhhhh sebentaaarrrrhhhhhhh” Desah Hani semakin kencang.

“ampuunn zaaaa hhhhhhaahhhh. Udaaahhhhhhh pleaseeee hhhhmmmhhhhhhh” Suaranya bergetar tanda ia mulai menangis.

Aku masih menghiraukannya dan terus memompa vaginanya hingga akhirnya aku merasakan getaran dan menghentikam gerakanku.

Aku mencabut penisku lalu mengocoknya diatas punggung Hani yang ambruk sesaat setelah aku mencabut penisku.

Tak berapa lama aku mencapai klimaksku dan menyemprotkan spermaku diatas punggung Hani.

Aku melihat tubuh Hani masih gemetaran paska orgasmeku.

Aku beranjak dari kasur dan menuju sebuah lemari untuk mencari sebuah handuk.

Setelah mendapatkannya, aku menuju tubuh Hani yang kulihat masih gemetaran. Aku membasuh punggung Hani yang bersimbah keringat. Kemudian aku mencoba membalikkan tubuhnya lagi lalu membasuh dada, perut serta bagian bawah tubuh Hani.

Hani masih menutup matanya menahan sisa sisa persetubuhan kami.

Aku lalu mencari pakaianku yang cukup berserakan di lantai lalu memakainya. Aku juga mengambilkan Hani beberapa pakaian dari lemarinya.

Setelah kurasa tubuh Hani sudah tidak bergetar lagi, aku memakaikannya pakaian. Hani kulihat sudah terlelap saat aku memakaikannya pakaian. Karena aku juga mengantuk, aku rebahan di sebelahnya dan akupun juga pergi ke alam mimpi.

Bersambung​