Aku Dan Pilihan Part 30

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Tamat

Satu minggu kemudian, datanglah saatnya jabatanku beserta kabinetku harus lengser dari jabatan. Aku tidak menyangka bahwa Jordi dan bahkan Toni datang ke acara musyawarah anggota kali ini. walaupun memang mereka masih berstatus anggota organisasi kami, tapi kejadian yang sudah dialami satu tahun kemarin menunjukan ketidak mungkinan mereka akan datang.

Namun faktanya mereka datang.

“gue mau buntutin Jordi za. Makanya gue ikut” ucap Toni saat aku menegurnya.

Semua orang diruangan sidang merasa aneh saat melihat Toni datang tidak terkecuali kelompok kami. apalagi Yanti yang menunjukkan pandangan marah kearah Toni. Tapi Toni cuek saja dengan para pandangan yang ditujukan ke arahnya. Kulihat sikap Jordi biasa saja dengan kedatangan Toni. Tidak menunjukkan tanda-tanda risih atau bagaimana.

“mas Jodi kemana mas?” ucapku menyapa Jordi.

“gamau ikut katanya. Males haha” ucapnya.

Aku pamit ke Jordi dan kembali ke tempat para pengurus duduk.

Sidang dimulai seperti layaknya tahun lalu yaitu pemilihan pimpinan sidang dan pemuda bernama Nando terpilih menjadi pimpinan sidang kali ini dibantu oleh Narto dan Wisti sebagai wakil dan sekretarisnya.

Sama seperti tahun lalu urutan agenda musyawarah dibuka oleh pemaparan LPJ dari masing-masing divisi yang dan pemaparan dibuka oleh aku selaku ketua umum. Pemaparan berjalan lancar karena memang semua program kerja yang sudah disusun berjalan dengan lancar selama satu tahun kepunguranku sehingga tidak ada kendala yang berarti.

Agenda dilanjutkan pemberbaharuan AD/ART dan GBHO agar semua anggota paham dengan landasan-landasan yang ada di organisasi ini. Hal ini dilakukan karena perlunya pembaharuan agar kegiatan dan roda organisasi terus berjalan seiring dengan perkembangan zaman.

Sidang terus dilanjutkan hingga akhirnya tiba saatnya pemilihan ketua umum periode selanjutnya dan selesailah tugasku sebagai ketua. Satu tahun penuh pikiran ini akhirnya berakhir juga (haha).

Sama seperti tahun lalu ada dua kandidat kuat yang akan menjadi ketua umum selanjutnya. Namun ada kejutan karena Galih-lah yang terpilih sebagai ketua umum periode selanjutnya. Andi yang digadang-gadang sebagai penerusku tidak bisa menutupi rasa bahagianya karena memang ia tidak bersedia menjadi penerusku dan diluar dugaan Galih menjawab semua pertanyaan yang ditujukan kepadanya dengan lugas dan lancar.

“baik terimakasih semua yang udah mempercayakan saya menjadi ketua umum untuk satu tahun kedepan. Semoga saya bisa memegang amanah yang sudah teman-teman berikan kepada saya dan saya minta bantuannya juga karena saya tidak mungkin bisa sendirian memimpin organisasi ini” pidato singkat dari Galih.

“oke selamat sekali lagi ya lih. Keren banget tadi haha” ucapku bersalaman dengannya.

“iya mas. mohon bimbingannya haha”

“SIP”

Nando lalu menutup sidang ini dengan ketukan palu yang cukup memekakan telinga dan selesailah tanggung jawabku sebagai ketua. Lega sekali rasanya.

Karena saat sidang ditutup, hari sudah larut malam dan memang rutinitas tiap tahun yang seperti itu maka kami semua memutuskan untuk menginap di area kampus.

***

Saat ini sudah tengah malam dan aku sedang membuang air yang sifatnya kecil di kamar mandi yang terletak di dekat para wanita tidur. Kudengar suara seperti dua orang sedang cek cok di luar ruangan dimana aku berada saat ini.. Setelah mendengar suara itu, aku buru-buru menyelesaikan hajatku dan segera mendekati sumber suara.

“gabisa di, dia udah tau maksud kita” ucap seseorang laki-laki yang sedang berada di tengah-tengah area kampusku.

“siapa!? Siapa yang bocorin!?” ucap seseorang lagi.

Toni dan Jordi sedang beradu argument sambil meninggikan suara dan melakukan gerakan-gerakan seperti menekankan apa yang mereka katakana. Aku terus mengamati mereka hingga akhirnya Jordi meninggalkan Toni dan melambaikan tangan seolah berkata “bodo amat”. Toni kulihat masih berada di tempatnya sambil memperhatikan Jordi berlalu. Sesaat kemudian Toni kulihat meinggalkan tempat itu.

“hei za. Ngapain kamu ngintip-ngintip?”

Tubuhku benar-benar tidak bisa bergerak karena mendengar seseorang berbicara di belakangku. Aku berusaha menoleh kearah suara dan benar saja orang itu sudah berada di belakangku dan dengan reflek aku mengayunkan tanganku kearahnya. Sayangnya pukulanku ditepis olehnya dan ia langsung melompat kebelakang.

“hei zaa. kenapa kamu?” ucapnya.

“maaf mas kaget aku haha” ucapku dengan nafas sedikit memburu karena terkejut.

“ooh iya sorry sorry. Lagian kamu ngapain ngintip-ngintip?”

“engga papa mas. aku takut mas haha”

“kenapa takut? Bukannya melerai haha”

“nah itu maksudnya mas. dulu kan aku babak belur. Aku masih takut nanti babak belur lagi haha”

“dasar kamu cemen haha”

Jordi berbalik arah dan sepertinya ia ingin kembali ke ruangan yang berisikan tempat para laki-laki tidur. Aku menoleh ke arah tubuh Toni dan dia masih mengeliat kesakitan di lantai. Aku heran, kukira pukulannya tidak sekeras itu sehingga ia masih kesakitan hingga saat ini.

*BRUGGGG*

Tubuhku terhempas kea rah depan dan tubuhku terkapar di lantai. Ada seseorang yang melayangkan tendangan tepat di punggungku sehingga tubuhku langsung terjatuh. Aku langsung berusaha bangun dan langsung melihat kea rah belakangku. Sesaat setelah aku melihat arah belakang, aku melihat sebuah kaki yang sudah bersiap menerjang dadaku.

Tubuhku sedikit melayang hingga akhirnya menabrak sebuah dinding. Untungnya aku sempat menggunakan tanganku untuk melindungi bagian tubuhku yang cukup vital itu sehingga kini tanganku hampir mati rasa karena tendangan barusan. Aku tidak bisa membayangkan jika tendangan itu berhasil mengenai dadaku.

Aku melihat orang itu sedang berpose menendang layaknya film kartun ‘tsubasa’. Sesaat kemudian, ia berdiri normal lagi dan berjalan mendekatiku.

Orang itu mendekatkan diri ke telingaku. “jangan pernah deketin pacar gue lagi. Lo udah ngerebut sesuatu yang berharga dan gue gamau lo ngerebut sisanya”.

Aku diam tidak bergeming setelah mendengar pesannya. Orang itu lalu berdiri tegak lagi dan mengatakan bahwa Zahra aman dan dirinya belum melakukan apapun ke Zahra. Tapi jika aku macam-macam maka Zahra akan dalam bahaya.

Orang itu lalu berbalik dan meninggalkanku terkapar.

“tunggu!!”

Orang itu berhenti dan memalingkan badannya ke arahku.

“mas reza. Kalian harus tanggung jawab!”

Orang itu hanya senyum saja. Senyumannya seolah menyeringai membuatku ngeri melihatnya seperti itu.

“sudah kubilang. Jika kau macam-macam maka Zahra akan bernasib buruk seperti teman-temanmu yang lain. Bahkan mungkin saja seperti pacarmu dahulu”

Kepalanya menengadah keatas sambil tertawa kecil. Aku semakin takut melihatnya.

“rina ya? Putri Oktarina? Hahahaha. salah satu anak kesayangan papahku”

*DEEGGG*

Mataku melotot saat nama pacarku ia sebut.

“kenapa kamu selalu beruntung sih za? Tapi kamu tenang… si Rina ini adalah anak buah seorang mucikari cabang daerah ini. saat ia masuk penjara, asset-aset nya sebagian besar sudah tidak bisa dihubungi dan salah satunya Rina. jadi kamu jangan khawatir bahwa pacarmu akan melonte lagi”

Ia masih saja tertawa sambil kepalanya menengadah ke atas.

“Mira, Nayla dan Kintan. Mereka bodoh sekali ya. Bisa-bisanya mereka percaya karangan ceritaku. Bisnis seperti itu sangat kompleks dan tidak sembarangan para atasan bisa menggunakan asset bawahannya

Dia terus tertawa sambil terus bercerita.

“gimana za rasanya?” kepalanya kini mengarah tepat kearahku.

Aku hanya bisa diam menebak kemana arah pertanyaannya.

“gimana rasanya pacarmu yang udah kamu sayangi mati?” ucapnya lagi.

Aku tidak tahan lagi dengan perkataannya. Aku berusaha bangkit dan kulihat dia memperhatikanku dengan pandangan mengejek sambil terus tertawa dan menantangku.

“bisa berdiri? Hebat juga.” ejeknya.

Tanganku mulai terasa nyeri namun bisa kutahan dan aku berhasil berdiri tegak. Aku mulai berjalan mendekatinya sambil memegangi tanganku yang terasa nyeri. Pandangannya semakin merendahkanku saat aku berjalan mendekat.

*BRRUGGG*

Tubuhku sekali lagi terhempas ke tembok yang berada di sampingku dan kali ini tendangannya tepat mengenai igaku sehingga pinggangku kini terasa nyeri sekali. Kulihat seseorang yang sedari tadi terbaring kesakitan, sudah berada di samping orang itu sambil tersenyum menyeringai.

“mudah sekali ya menjebakmu? Pantas saja pacarmu begitu gampang meninggalkanmu. Cukup dengan skenario perselingkuhan, bisa langsung berhasil” ucapnya sinis.

“aku dulu bodoh memang. Tidak langsung ke intinya, malah menyerang Yanti. Tindakan yang sangat bodoh. Hanya melibatkan orang yang tidak ada hubungannya” lanjutnya.

Aku masih memegangi pinggangku yang sangat terasa nyeri ini dan aku tidak begitu memperhatikan ucapannya karena sibuk menahan rasa sakit.

“ton. Sampaikan permintaan maafku ke yanti karena melibatkannya dengan urusan pribadiku. Beri dia surga dunia sebagai imbalannya”

“siap bos”

Sebuah kebetulan yang sangat tidak aku inginkan, Yanti keluar dari ruangan para wanita tertidur dan ia berjalan ke arah kamar mandi. Betapa terkejutnya ia saat melihat tiga orang lelaki dimana dua diantaranya sedang berdiri sambil memperhatikannya dan satunya lagi sedang terbaring lemas menempel di tembok.

Seketika itu juga Toni langsung bergegas menerjang tubuh Yanti setelah menerima instruksi dari Jordi. Betapa terkejutnya Yanti saat Toni berlari menuju dirinya dan tubuhnya kini sudah tertangkap oleh Toni.

Yanti berusaha melepaskan diri dan tubuhnya meronta-ronta dan namun mulutnya sudah di sekap oleh Toni. Erangan-erangan Yanti tertahan oleh mulut Toni dan rontaan tubuh Yanti bisa diredam oleh Toni. Toni berhasil membopong tubuh Yanti ke arah Jordi. Aku tidak bisa berbuat apa-apa karena tubuhku masih merasakan sakit yang teramat sangat.

“wah beneran surga dunia nih. lumayan nih malem ini haha” ucap Toni.

Kejadian tak diinginkan terjadi lagi. Kulihat tubuh Toni tepatnya pundaknya tempat tubuh Yanti berada, basah dan berbau sedikit pesing. Ternyata Yanti membuang air seninya saat ia sedang dibopong oleh Yanti. Terlalu ketakutan menurutku. Aku hanya senyum-senyum saja saat Toni menurunkan tubuh Yanti dan ia mengumpat ke arah Yanti yang masih terbaring ketakutan di lantai persis di depanku.

“telanjangin aja lah sekarang. bajunya buat gue. Kurang ajar” ucap Toni melepas pakaiannya karena terkena air seni Yanti.

Yanti tiba-tiba bangkit dan menendang bagian selangkangan Toni dan serangan itu berhasil membuat Toni bertekuk lutut dan Yanti langsung berlari menjauh.

Nasib buruk sekali lagi menimpa Yanti, kaus yang dikenakan oleh Yanti terlalu berkibar sehingga Jordi mampu menariknya sebelum ia pergi menjauh. Hal itu menyebabkan tubuh Yanti tertarik kembali ke arah tubuh Jordi.

“mau kemana kamu? hahaha”

Jordi dengan cepat meloloskan kaus Yanti yang memang ukurannya cukup longgar bagi tubuh Yanti sehingga tidak sulit untuk meloloskannya menyisakkan sebuah tanktop putih dan BH putih sebagai penutup tubuh Yanti.

“nih..” Jordi melemparkan kaus itu kearah Toni.

Yanti masih sibuk menutupi tubuh bagian atasnya menggunakan kedua tangannya sehingga tidak ada waktu untuk kabur lagi. Aku berusaha lagi untuk bangun dan dengan susah payah aku berdiri walaupun belum tegak sempurna. Melihat aku berdiri, Yanti langsung berlari ke belakangku.

“oohhh pahlawan nih ceritanya haha” Jordi merendahkanku sekali lagi.

Aku mengepalkan tanganku kemudian berusaha berjalan mendekatinya dengan kondisi pinggang yang masih terasa nyeri yang amat sangat saat aku menggerakan kakiku untuk maju. Aku mati-matian menahan rasa sakit itu.

Aku melayangkan sebuah pukulan tepat ke arah kepala Jordi namun karena terlalu lemah, ia berhasil menghindarinya. Aku melayangkan pukulan lagi kali ini menggunakan tanganku yang satunya namun masih saja berhasil ia hindari. Kali ini aku sama sekali sudah tidak bisa menahan rasa nyeri yang ada di pinggangku.

Tangan Jordi berhasil meraih leherku dan tubuhku ia angkat. Aku kesulitan untuk bernafas dan aku menggerakan seluruh tubuhku untuk bisa melepaskan diri dari Jordi. Kulihat tangan Jordi yang satunya lagi mengepal dan tiba-tiba diarahkan kepalaku. Rasa sakit yang teramat sangat menghampiri bagian kepalaku. Entah berapa pukulan berhasil Jordi daratkan dan ia menurunkan tubuhku namun tangannya masih di leherku.

“sekali lagi kalo lo ikut campur urusan gue, nyawa lo akan gue ambil”

*BRRUGGGHHHH*

Kesadaranku kian menghilang, dan pandanganku kian kabur. Satu-satunya hal yang jelas terlihat olehku adalah tubuh Yanti dibopong oleh salah satu dari mereka dan mereka meninggalkanku. Aku sudah tidak tahan lagi dan kesadaranku hilang. Pandanganku gelap.

***

Pagi harinya, aku terbangung dan kondisi di sekitarku sangat ramai. Aku tersadar kepalaku berada di sebuah paha dan saat aku memicingkan mataku untuk mendapat penglihatan yang jelas, aku akhirnya mengetahui bahwa aku berada di paha Virzha. Setelah melihatku membuka mata, Virzha langsung memerintahkan bahwa orang-orang di sekitarku untuk sedikit membuka ruang agar aku mudah mengambil nafas.

Aku yang masih belum sadar 100% masih terengah-engah dan aku melihat Anton membawakan satu gelas air mineral untukku. Aku bangkit duduk dan menerima gelas itu. Aku meneguk seluruh air yang ada di dalam gelas itu kemudian melihat ekspresi orang-orang di sekitarku. Aku merasa ada satu hal yang aku lupakan tapi aku tidak tau apa itu. Aku masih memandangi orang-orang di sekitarku dengan tatapan kosong.

“ohh bego!! Yanti vir, semalem dibawa jordi!” aku berusaha bangkit namun tenagaku belum cukup kuat untuk menopang tubuhku. Aku kembali terjatuh.

“iya za, dia udah ditemuin tadi sebelum lu bangun. Tenang aja. Nanti lu utang banyak cerita ke kita. Yanti shock banget tadi. dia sekarang lagi ditemenin sama Devi Zakiyah sama Mira” ucap Virzha menjulurkan tangannya membantuku berdiri. Aku hanya mengangguk.

Anton lalu kulihat memerintahkan untuk orang-orang yang ada di sekitar untuk membubarkan diri karena aku sudah sadar dan tidak ada hal yang dikhawatirkan.

“sekarang Jordi sama toni dimana vir?” tanyaku saat mereka membawaku ke sebuah ruangan.

Virzha hanya menggeleng dan raut wajahnya juga menunjukkan bahwa ia merasa sangat kesal. Ia lalu bercerita saat dirinya bersama Anton sedang mencari Yanti, Toni berada di depan pintu sebuah ruangan kelas dan mereka terlibat baku hantam.

Karena kalah jumlah Toni babak belur namun berhasil kabur dari kejaran Anton. Saat dirinya masuk ke dalam ruangan kelas itu, kepalanya dipukul oleh benda yang cukup keras hingga benda itu hancur. Dia langsung ambruk namun tidak sampai pingsan, Jordi lalu berhasil kabur dan Anton sekali lagi gagal menangkapnya.

Hal itu menjelaskan luka yang berada di dahinya. Anton melanjutkan bahwa ia meminta maaf karena gagal menangkap mereka berdua.

Sesampainya kami di depan sebuah ruangan kelas, Virzha lalu menjelaskan bahwa Toni tadi menjaga di depan ruangan ini. itu berarti Yanti ditemukan di ruangan ini. Menurutnya, Yanti tidak mau keluar dari ruangan ini dan saat Virzha dan Anton mendekatinya bahkan Yanti berteriak dengan kencangnya.

Akhirnya mereka memutuskan untuk memanggil Zakiyah dan kawan-kawan untuk menemuinya. Mudah-mudahan sudah tenang.

Kami membuka pintu ruangan itu dan mendapati Yanti sedang berada di pelukan Zakiyah dan Zakiyah yang melihat kami masuk menyuruh kami untuk diam dulu dan tidak ada pertanyaan apapun. Aku, Virzha, Anton duduk di sebuah kursi yang tak jauh dari para wanita di ruangan itu.

“za. Kamu hati-hati ya sama Jordi. Dia cowok brengsek yang bakal ngelakuin apa aja buat semua keinginannya tercapai” Yanti terbata-bata. Semua yang ada di ruangan itu terkejut mendengar pernyataan Yanti.

Yanti lalu menceritakan kejadian semalam. Kejadian saat Jordi menyetubuhi dirinya. Pompaan terhadap vaginanya benar-benar menyakitkan bagi Yanti. Ciuman-ciuman disekujur tubuhnya, gigitan-gigitan di bagian putting payudaranya benar-benar terasa menyakitkan bagi Yanti. Jordi tidaklah sendiri dalam menggarap Yanti malam tadi. Ada Toni yang juga menambah penyiksaan yang didera Yanti.

Yanti bercerita sambil mengeluarkan air matanya dan kami hanya bisa diam dan mendengarkannya saja. Zakiyah semakin mengeratkan pelukannya terhadap Yanti dan membuat Yanti menenggelamkan kepalanya di pelukan Zakiyah dalam tangis.

“za, lu utang cerita banyak hal” ucap Virzha sedikit keras. Virzha terlihat sedikit emosi saat mengucapkan hal itu sambil terus melihat Yanti yang masih di pelukan Zakiyah menangis.

Aku masih terdiam, pikiranku memilah milih dan merangkum semua cerita yang pernah aku dengar. Aku tidak mempedulikan sumbernya, semua aku rangkum. Lama aku berdiam diri namun isi kepalaku kalang kabut memikirkan cerita yang awalnya bahkan aku tak tahu dimana. Mereka semua memperhatikanku, melihatku sambil berharap.

Akhirnya aku menyimpulkan awal dari cerita ini adalah kejadianku bersama Zahra saat aku menjadi mahasiswa baru. Aku menceritakan semuanya yang aku lakukan kepada Zahra, bahkan menyerempet ke Hani hingga Kintan dan Nayla.

Semuanya aku ceritakan dan aku kaitkan dengan pandangan beberapa cerita yang masuk ke telingaku. Aku sudah merasa tidak perlu menutup-nutupi kebusukanku karena ini sudah terkait masalah orang banyak.

Mereka semua terkejut mendengar ceritaku terlebih saat di bagian Nayla dan Kintan. Biarlah mereka menilaiku seperti apa, yang jelas aku sudah menceritakan semua hal yang aku alami dan kemungkinan kejadian ini berawal.

Selesai aku bercerita yang di bagian akhirnya adalah kematian Winda, aku mengucapkan permintaan maaf kepada semua orang yang ada di ruangan itu. Mereka semua melihatku dengan pandangan ketidak percayaan atas semua yang telah aku perbuta.

Bahkan Virzha akhirnya memukul wajahku cukup keras hingga aku tersungkur dan mulutku sedikit mengeluarkan darah. Namun tak lama kemudian, ia membantuku untuk berdiri.

“itu karena lu udah nyeret Yanti ke masalahlu” ucap Virzha menarik tubuhku hingga bangkit.

Anton juga memukulku dengan keras dan sekali lagi aku tersungkur, dan beberapa saat kemudian dia membantuku untuk berdiri.

“itu karena lu cerita itu dari dulu, dari awal” ucap Anton yang menarik tanganku hingga aku bangkit.

Aku lalu membasuh mulutku yang mengeluarkan darah menggunakan tanganku. Rasa nyeri mendera di bagian pipiku karena bekas perkelahian semalam dan juga ditambah pukulan dari Anton dan Virzha. Aku lalu mendekati Yanti yang masih di pelukan Zakiyah dan aku sekali lagi meminta maaf kepadanya karena telah menyeretnya dalam masalahku.

“gapapa za, kamu kan juga gatau kalo kelakuanmu bakal berimbas banyak kayak gini. Gausah nyalahin diri sendiri kayak gitu” Yanti masih di pelukan Zakiyah.

Aku terdiam mendengar Yanti. Lama diam itu berada di ruangan ini.

“trus lu bakal ngapain za?” tanya Virzha.

“gatau vir, yang jelas gue bakal hajar dia sampe dia gabisa ngomong lagi. Sampe semua yang ada di tubuhnya gabisa dipake lagi. Sampe semua orang yang disekitarnya udah gatau lagi cara gimana balikin dia supaya balik jadi normal lagi” ucapku sambil menggenggam tanganku.

“ZA!” teriak Yanti. “inget pacar kamu! inget kalo ada orang yang sayang sama kamu!” lanjutnya.

“dia gabisa bikin aku lupa sama winda! Dan yang ngebuat winda hilang adalah Jordi!”

Mereka semua terkejut saat aku mengeluarkan bentakanku. Tidak pernah dalam rentang waktu aku bersama mereka aku mengeluarkan bentakanku.

Aku juga tidak kalah terkejutnya dengan mereka. Aku tidak sadar bahwa aku mengucapkan hal itu dengan keras dan lantangnya. Aku lalu tertunduk lesu dan sekali lagi meminta maaf kepada mereka.

Ruangan itu kembali diam. Diam yang sangat tidak nyaman. Diam karena satu sama lain tidak tahu apa yang harus dilakukan. Diam dalam pikiran yang masih terus berkecamuk.

Virzha dengan mengejutkan memelukku dengan erat kemudian disusul oleh Anton dan kemudian disusul sisanya.

Hangat.

Hangat sekali rasanya. Namun hatiku sudah kadung dingin.

Maafkan aku Rina. Maaf karena aku belum bisa jujur. Maaf karena aku belum bisa melupakan Winda. Maaf karena kamu bertemu denganku.

Bersambung​