Aku Dan Pilihan Part 11

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Tamat

“aahhhh yuuu. Mmhhhh ammppuunnnnn mmhhhh”

Seorang wanita tengah dipompopa vaginanya oleh seorang mantan kekasihnya. Yang lebih parahnya lagi adalah orang itu memompa vagina wanita itu persis di depan kekasihnya yang tengah tak berdaya dan disekujur tubuhnya terdapat luka lebam dan di wajahnya berlumuran darah.

Sebelum itu. Beberapa menit yang lalu.

“yang, sudah siap semua kan?” ucap seorang wanita yang berada di bagian teras rumahnya.

“udah kok ini. tinggal nanti beli bensin di perjalanan” ucap seorang pria sambil mengangkat tasnya dan berjalan menuju kekasihnya.

Dimas dan Tia akan melakukan perjalanan menuju Wonosobo kampung halaman Tia. Mereka sedang bersiap-siap dan memeriksa semua barang bawaan yang akan dibawa sudah lengkap atau belum.

Dimas lalu menyalakan mesin motornya untuk memanaskannya mesinnya. Sedangkan Tia masuk ke dalam rumah untuk sekedar memastikan kembali barang-barang yang akan dibawa tidak tertinggal di dalam rumah.

*BRRUGGG*

Secara tiba-tiba punggung Dimas ditendang oleh seseorang dan Dimas jatuh tersungkur karena tidak siap menerima tendangan itu.

“SIALAN!” Dimas bangkit. “LU NGAPAIN LAGI DISINI?” lanjut Dimas saat melihat siapa yang barusan menendangnya.

“kembaliin pacar gue”

“pacar lo dari hongkong. Jelas-jelas kemarin lo diputusin”

Wahyu hanya terseyum menyeringai sambil mengepalkan tangannya. Wahyu langsung maju dengan cepat dan membuat kaget Dimas. Untungnya reflek Dimas masih bagus. Ia langsung menyilangkan tangannya di depan kepalanya sehingga pukulan Wahyu hanya mengenai tangan Dimas. Namun karena pukulan Wahyu cukup keras, Dimas terdorong beberapa cm ke belakang.

*nyut*nyut*nyut*

“SIAL” ucap Dimas membuka tangannya.

Tangannya langsung merah karena pukulan Wahyu tadi.

Dimas langsung menyapukan kakinya menuju kaki Wahyu dan berhasil mengenai kaki Wahyu. Wahyu sedikit tersungkur dan tanpa aba-aba Dimas langsung memukulkan tinjunya tepat mengenai pipi Wahyu dan membuatnya terjatuh beberapa cm ke belakang.

Di wajah Wahyu sudah terdapat bercak merah yang menandakan ada darah keluar dari mulutnya karena pukulan Dimas barusan.

Wahyu kemudian bangkit dan hanya tersenyum sambil tangannya membersihkan bercak merah di wajahnya.

“lumayan lumayan. Dibanding temen lo itu”

“siapaa…?”

“TAMA!!”

Wahyu langsung melesat dengan kencang kearah Dimas sambil menunjukkan tinjunya. Kali ini reflek Dimas sedikit terlambat dan ia terkena pukulan tepat hidungnya.

“AAHHHKKK” Dimas tersungkur sambil memegangi hidungnya.

Dari dalam rumah munculah seorang wanita yang sangat tidak diharapkan untuk muncul saat ini.

Wanita itu diam tidak bisa bergerak saat melihat seseorang yang tidak diduga dan tidak diharapkannya saat ini berada di depan matanya.

Wahyu menyeringai saat melihat wanita itu berada di depan matanya.

“TIA. LIHAT NIH PACAR KAMU GAADA APA-APA NYA DIBANDING AKU. KEMARIN AKU KALAH KARENA MEREKA MAINNYA KEROYOKKAN” teriak Wahyu sambil memegangi tubuh Dimas.

“Tia!! Lihat ini!”

Wahyu menggendong tubuh Dimas dan meletakkannya dipundaknya. Dimas yang masih kesakitan karena nampaknya hidungnya patah dan mengeluarkan banyak darah tidak bisa melakukan apa-apa saat tubuhnya digendong oleh Wahyu.

Wahyu lalu membanting tubuh Dimas ke lantai dan lututnya ia arahkan ke kepala Dimas. Gerakan itu membuat Dimas terpelanting lalu tubuh Dimas lemas terbaring di lantai. (gerakan Go to Sleep CM punk haha)

“AAHHAAKKKK” Rintih Dimas saat tubuhnya. Dimas mengeluarkan darah dari dalam mulutnya.

Tia hanya bisa melihat adegan itu sambil tertunduk lesu dan menutup mulutnya tidak percaya. Iapun langsung tersungkur.

Wahyu lalu jongkok persis di sebelah tubuh Dimas yang sudah tidak berdaya.

“gue pinjem pacarlu dulu yaa buat muasin junior gue. Udah lama ga masuk ke sangkar soalnya. Abis ini kalo udah puas gue gaakan macem-macem sama pacarlu lagi. Percaya deh sama gue” bisik Wahyu sambil memegangi kepala Dimas yang berlumuran darah.

Wahyu langsung beranjak menuju Tia yang masih belum bisa bergerak dan hanya melihat Wahyu berjalan kerahnya.

Wahyu sudah sampai persis di depan tubuh Tia yang tersungkur. Wahyu lalu memelorotkan celananya dan penisnya langsung mencuat persis di depan wajah Tia. Seperti sudah tidak ada harapan lagi bagi Tia untuk bisa kabur, ia hanya pasrah saja saat kepalanya dipegang oleh Wahyu dan diarahkannya ke penisnya. Mau tidak mau Tia memaju mundurkan kepalanya seraya mengulum penis Wahyu.

Wahyu hanya merintih keenakan sambil matanya merem melek saat Tia menservis penisnya menggunakan mulutnya.

“ooohhh maakiinn enaakk aahhh. Dimas ngajarinnya beneerrr aahhhh” desah Wahyu.

Beberapa menit kemudian, setelah merasa puas. Wahyu langsung melepaskan penisnya dari mulut Tia. Ia lalu menginstruksikan Tia untuk merangkak. Setelah Tia di posisi merangkak, Wahyu langsung melepas celana Tia sekaligus bersama celana dalamnya.

“aaahhh kangen aku dengan vagina ini” ucap Wahyu langsung menyergap vagina Tia dari belakang.

Tia hanya pasrah saja vaginanya dijilati oleh Wahyu sambil menahan desahan agar tidak keluar dari mulutnya. Beberapa menit berlalu, Wahyu masih bermain dengan vaginan Tia menggunakan lidahnya. Wahyu mulai memasukkan jarinya ke dalam vagina Tia membuat Tia sudah tidak bisa menahan desahnya lagi

“mmmhhhh” desah Tia pelan yang kemudian ia sadar langsung menutup mulutnya.

“tidak usah ditahan sayangku. Keluarkan saja” ucap Wahyu sambil menyodokkan jarinya ke dalam vagina Tia.

Tia yang semakin tidak kuat, akhirnya mengeluarkan desahannya saat lidah dan jari jari Wahyu masuk secara bersamaan ke dalam vaginanya.

“naah gitu dong sayang” ucap Wahyu menghentikan permainannya di vagina Tia.

Wahyu lalu mencengkram pantat Tia dan penisnya ia arahkan menuju lubang vagina Tia. Setelah pas, dengan sekali hentakan masuklah penis Wahyu ke dalam vagina Tia dari belakang.

“aahhhhhh” desah mereka berdua hampir bersamaan.

Balik ke masa sekarang.

Wahyu kian bersemangat dalam memompa vagina Tia dan juga karena desahan Tia yang sangat merdu bagi Wahyu. Tangan Wahyu melepas cengkramannya dari pantat Tia dan langsung menuju payudara yang masih terbungkus rapi oleh pakaian Tia.

Wahyu meremas-remas payudara Tia cukup kasar membuat Tia berkali-kali melenguh. Entah lenguhan kenikmatan atau lenguhan kesakitan.

Beberapa menit kemudian, Tia kian lemas karena dipompa dan ia sudah orgasme beberapa kali namun Wahyu tidak menghentikan pompaannya. Merasa bahwa ia akan mengeluarkan sperma, Wahyu makin semangat dalam memompa vagina Tia.

Wahyu lalu menarik penisnya dari dalam vagina Tia dan ia menyemprotkannya ke punggung Tia yang masih terbungkus pakaian.

“aahhh aahh enaaakkk” desah Wahyu sambil mengurut penisnya agar semua spermanya keluar.

Beberapa saat kemudian.

“ti, makasih yaa” ucap Wahyu sambil merapikan celananya. “aku mau pergi dulu ke Jakarta” Wahyu lalu mencium bibir Tia yang masih lemas menahan sisa sisa orgasmenya.

“ASTAGA!!”

Tama datang dari depan rumah dan mendapati sesosok tubuh terbaring lemas di sebelah motornya.

“yuppp. Aku pergi dulu ya sayang” ucap Wahyu mencolek dagu Tia.

Wahyu lalu beranjak menuju tubuh Dimas yang masih terkulai lemas meninggalkan Tia yang masih setengah telanjang.

“kukira kau terluka cukup parah tam haha” ucap Wahyu memasang kuda-kuda.

“PERGI KAU DARI SINI”

“tidak mau melawanku? Hahaha. CUPU”

Wahyu melesat dengan cepat sambil menendang. Untungnya Tama dengan cepat bisa menangkap kaki Wahyu dan langsung melempar tubuh itu menjauhi rumah Dimas. Tubuh Wahyu mendarat di antara rerumputan. Wahyu lalu bangkit dan menyeringai.

“okedehhh. Aku pergi dulu ya tam. udah ngabarin Faza kan? hahahah” Wahyu segera beranjak menjauh dari rumah itu.

“duh sorry dim gue telat. Gue juga baru bangun” ujar Tama memapah tubuh Dimas masuk ke dalam rumah.

Tia langsung membereskan pakaiannya dan ikut masuk ke dalam rumah menemani Dimas.

“tii, cepet ambil perban atau apa. Ini harus diberhentiin dulu darahnya. Abis itu kita bawa Dimas ke rumah sakit”

Tia yang masih shock hanya mengikuti perintah dari Tama.

“tiii. Maaf aku gabisa lindungin kamu…..” ujar Dimas terbata-bata.

Tia hanya menggeleng sambil menggenggam tangan Dimas. “aku yang minta maaf dim” ucapnya.

“yeeeee jangan drama duluu. Ini diberesin dulu” ucap Tama.

Tama lalu memapah tubuh Dimas saat pendarahan di hidungnya berhenti. Ia lalu mengantar Dimas ke sebuah rumah sakit terdekat yang masih terbuka malam hari ini.

***

Keesokan harinya.

“FAZAAAA. BANGGUUNNN”

Winda menggerak-gerakkan tubuhku karena aku masih terbaring lemas di atas kasur.

“Fazaaa ihhh. Sholat subuuhh”

Winda masih terus menggerak-gerakkan tubuhku hingga akhirnya tubuhku menggeliat dan mataku terbuka dengan perlahan.

“naahhh bangun. Ditungguin sama papahku zaa buat sholat subuh. Cepet bangun!!”

Mendengar ucapan Winda, mataku langsung terbuka lebar karena cukup terkejut. Tubuhku langsung kuhentakan dan bangkit dari kasur. Aku langsung berlari keluar kamar dan Winda hanya cekikikan melihat tingkahku.

Saat ini aku sedang berada di kediaman keluarga Winda untuk menghadiri undangan pernikahan Resti yaitu kakak perempuan dari Winda. Aku tidur di kamar tamu yang berada di bagian belakang rumah Winda. Aku pun baru tau jika ada sebuah kamar di bagian belakang rumah Winda. Sedangkan Zakiyah tidur bersama dengan Winda di kamarnya.

Setelah aku menunaikan ibadah bersama ayah Winda di masjid dekat rumah, aku memutuskan untuk pergi ke alam mimpi lagi karena suasana kota Wonosobo benar-benar sangat sejuk pagi ini. Suasana yang sangat mendukung seseorang untuk dapat cepat pergi ke alam mimpi masing-masing (haha).

Sebelum menutup mataku, aku membuka HP-ku barangkali ada berita yang terlewatkan olehku. Benar saja ada sebuah pesan dari Tama yang membuatku cukup terdiam. “sial kenapa di saat saat kayak gini dia balik sih” batinku. Aku hanya mengucapkan terimakasih kepada Tama lewat pesan dan aku langsung menutup mataku.

“zaaa. Lari yukkk” Ajak Winda saat aku mulai menutup mataku.

“aaaahhh males wiiin. Nanti deh jam 10 deeh”

“mana ada lari pagi jam 10 zaaa -_-. Ayooo laaah zaaa. Udah lama tau kita gak lari lagi. Mentang-mentang kamu udah kurus huuhh”

“ini dingin bangeeett wiiin. Enak buat tidur” Ujarku sambil menarik selimut dan membalikkan tubuhku.

“iiihhh dasaaarrr. Awas kalo kamu besok-besok minta macem-macem. Ga akan aku kasih!!” Winda bergegas pergi dari kamar tersebut.

Setelah Winda berkata seperti itu, aku langsung membuka mataku dan mencegah Winda pergi. Aku menarik tangan Winda sehingga menyebabkan tubuh Winda menabrak tubuhku, dan Winda berada di pangkuanku.

“aku cuman minta ditemenin lari aja kamu gamau. Giliran kalo kamu butuh apa-apa pasti aku kasih” Wajah Winda cemberut.

“uuuu tayang-tayang. Yaudah yuukkk. Aku ganti baju dulu” Aku mencium kening Winda.

Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka dan kelakuan kami terlihat oleh Zakiyah. Kami segera menghentikan kegiatan kami dan Winda langsung berdiri dan kami terjebak dalam kondisi canggung.

“yaaah. Aku ganggu ya win? Maaf deeehh. Aku di depan ya win” Zakiyah langsung pergi meninggalkan kami.

Aku dan Winda hanya bertatapan dalam beberapa saat dan kemudian kami tersenyum dan tertawa kecil. Aku berdiri dan mendekati tubuh Winda dan mencium bibirnya.

“zaa. Udahlah kamu tidur aja gapapa. Aku udah ditemenin Zakiyah hehe”

“beneran nihh? tapi kalo aku minta apa-apa dikasih yaa”

“iyaaa hahaha. Dasar kamu tuh yaaa. Untung aku sayang banget sama kamu. Kalo engga maah….” Ucapannya terpotong karena aku mencium bibirnya lagi.

Winda tersenyum manis sekali. Ia kemudian keluar dari kamar tersebut meninggalkan aku dan aku memutuskan untuk pergi ke alam mimpi. Ohh. Beruntungnya aku.

***

Saat ini suasana rumah Winda sangat ramai dan sesak karena para tetangga dan para sanak saudara Winda sedang “rewang-rewang” untuk mempersiapkan hari pernikahan Resti. Aku terbangun dari tidurku dan masih sangat bermalas-malasan di kasur. Aku mencoba meraih HP-ku dan melihat sosial mediaku.

“HEEIIII”

Seorang wanita mengangetkanku dan melompat kearah tubuhku.

“duuhhh Windaaaa. Kamu ngapain sih” Ujarku sambil mengangkat tubuh Winda.

“hahahah. Abisan kamu tidur terus. Keluarlaah. Ngobrol-ngobrol sama orang-orang. Bantuin rewang-rewang kan bisa”

“iyaa iyaa. Aku mandi dulu deh”

Aku bangkit dan menuju tasku untuk mengambil handukku. Winda hanya memperhatikanku sambil mesem-mesem sendiri.

“kenapa kamu senyum-senyum sendiri?”

“gapapa zaa. Ganteng kamu ahahaha”

“dihh. Kesambet apa kamu win?” Aku menuju Winda kemudian meletakkan tanganku di dahinya.

“kesambet setan cinta hahahah”

Winda segera menepis tanganku dan segera pergi keluar dari kamarku. Aku ditinggalkannya dengan keadaan heran.

Setelah menyelesaikan mandiku, aku segera keluar dari kamar tersebut dan langsung menuju teras rumah. Disana sudah ada bapak dari Winda sedang melihat para pekerja memasang tenda untuk para tamu undangan. Kami mengobrol panjang lebar.

Topic obrolan kami tidak tentu, terkadang tentang keadaan orang tuaku, kemudian dilanjut masa kecil Winda yang diceritakan oleh bapaknya itu sangat menjengkelkan karena ia merupakan anak bungsu. Kemudian dilanjut mengenai keberlanjutan hubungan aku dengan Winda.

Apakah aku serius dengan hubungan atau ini atau masih main-main seperti anak-anak SMA. Aku sedikit canggung saat ditanya hal itu oleh bapak Winda. Untungnya bapak Winda memaklumi dan mengizinkanku untuk berpikir lebih jauh lagi dan memikirkan segala pilihan dan keputusan.

Ia berharap, akulah yang jadi menantunya suatu saat nanti, namun jika memang bukan jalannya, maka ia juga legowo memiliki menantu yang lain.

Tanpa terasa kami mengobrol, suasana sudah semakin sore dan ia mengajakku untuk melaksanakan ibadah di masjid dekat rumahnya.

“zaa pergi yuk”

Winda menyambutku di teras saat aku selesai melaksanakan ibadah. Aku melihat bapak Winda hanya mesem-mesem dan langsung masuk ke dalam rumah.

“kemana? Aku gak tau daerah sini haha”

“aku tau tempat yang bagus kalo sore-sore”

“wuih, dimana tuh?”

“ada deeeh. Buruan sana ganti baju. Aku juga mau ganti baju dulu”

“yaudah-yaudah. Aku ganti baju dulu”

Aku masuk ke dalam rumah Winda dan segera menuju kamarku. Aku langsung mengambil kemeja dan celana panjangku dan jaket tentu saja. Aku lalu keluar dari kamar itu dan menuju teras.

“weeeh, rapi banget za?” Ujar Zakiyah saat aku melewatinya di ruang tengah.

Zakiyah tengah berbaring dan memasang ekspresi muka kelelahan.

“iyaa zak, mau pergi sama Winda”

“waaah parah aku gak diajak. Gini nih nasib pacar lagi jauh”

“hahahha. Sabar ya zak. Atau kamu mau ikut?”

“gamau jadi obat nyamuk ah. Mending disini aja”

“yaudah aku duluan yaa”

“okee have fun yaa”

Aku tersenyum dan langsung menuju teras dan disana sudah ada Winda dengan setelan sebuah jaket sweater merah muda dipadukan dengan celana panjang krem dirasa sangat cocok dengannya saat ini. Cantik.

“rapi banget sih zaa hahaha”

“kayak gini kok rapi. Kan cuman pake kemeja doang”

“iyaa gapapa kok. Ganteng kamu kalo pake kemeja kayak gitu”

“kamu tuh kesambet apa win? Tumben bilang aku ganteng hahaha”

“looh emang gaboleh bilang pacar sendiri ganteng?”

“yaa boleh sih. Cuman kamu kan jarang muji aku, yang ada dimarahin mulu”

“gapapalah, nyenengin pacar sekali-kali hahaha”

“hhhmmmm”

Winda hanya tertawa melihat ekspresi wajahku yang kubuat seolah-olah mengatakan “yaelah”. Winda lalu mengeluarkan sebuah sepeda motor dari garasinya.

“sekali-kali aku depan ya za?”

“udah berani kamu naik motor?”

“makanya ini dicoba haha”

“yaudah, kalo takut nyebrang atau apa, gantian nanti”

Winda hanya tersenyum dan aku menaikki motornya.

Sepanjang perjalanan, Winda mengendarai motor dengan sangat pelan dan masih terlihat kagok mengendarai motornya. Mungkin semenjak kejadian Winda ditabrak oleh orang yang tidak bertanggung jawab, ia sedikit takut berjalan di sebuah jalan besar dan harus ada orang yang menemaninya.

Selama ini, saat aku mengajaknya keluar untuk jalan-jalan, ia selalu mencengkram jaketku dan menenggelamkan kepalanya ke punggungku.

“wiin, kalo masih takut jangat dipaksain”

“gak papa kok zaa. Ini udah mau sampe”

Aku sedikit terkejut dengan perkataan Winda. Pemandangan di kanan dan kiri hanya bentangan kebun yang tingginya tidak lebih dari tinggi badanku. Aku terus memperhatikan Winda karena aku sedikit khawatir dengan kondisinya. Motor kami goyang jika ada sebuah kendaraan yang menyalip kami.

Winda kemudian memutar setir ke kiri dan kami masuk ke kawasan perkebunan. Jalan yang dilalui sedikit rusak dan membuat kami beberapa kali ingin jatuh. Aku menawari gantian mengemudikan motor, namun ditolak oleh Winda.

Setelah beberapa menit berlalu, kami akhirnya sampai di sebuah kebun dengan bentangan alam yang sangat indah. Pemandangan terasering yang sangat syahdu menghiasi pandangan kami.

“untung gak telat haha”

“apanya yang telat?”

“kalo jam-jam segini tuh lagi bagus-bagus nya zaa. Karena sinar matahari bakalan ketutup sama bukit itu. tapi, biasan cahayanya bakal bikin daun yang berwarna ijo ini kecampur sama warna jingga dari matahari yang makin turun”

Aku hanya mengangguk menanggapi Winda.

“zaa fotoin aku” Ujarnya sambil menyerahkan HP-nya.

“kenapa gak pake HP-ku aja deh ahahah”

“iya dua kali”

“-_-“

Winda berpose dengan sangat cantik dan imut di latar belakangi dengan pemandangan yang indah ini. Aku juga memutuskan untuk memotret beberapa kali menggunakan HP-ku dan aku berniat untuk menghasilkan uang lagi.

Kami kemudian menutup momen itu dengan selfie-selfie ria dan Winda terlihat sangat bahagia. Kami kemudian duduk memandangi tenggelamnya sang surya hari ini. Winda menyenderkan kepalanya di dadaku.

“zaa, jangan pernah tinggalin aku ya?”

Aku hanya terdiam dan tanganku aku letakkan di kepalanya dan kemudian mengelusnya.

“gak akan”

Setelah menikmati tenggelamnya sang surya, kami memutuskan untuk segera pulang karena sudah sangat gelap. Kali ini aku yang mengendarai motor karena kondisi jalan sudah sangat membahyakan jika Winda yang mengendarai.

***

Keesokan harinya.

Suasana di rumah Winda sangat ramai karena persiapaan untuk akad nikah untuk Resti dan kemudian dilanjutkan dengan acara resepsi pernikahan.

Aku melihat Mba Resti sangat cantik dan anggun kali ini. Dia menggunakan gaun yang tidak terlalu glamour namun cukup untuk mengeluarkan auranya. Resti dikawal oleh sanak saudaranya menuju masjid terdekat. Winda berjalan menempel kepadaku, merangkul tanganku.

Sesampainya di masjid, aku melihat calon suami Resti sangat gagah dengan pakaian adat jawa yang ia gunakan. Tubuhnya benar-benar tinggi untuk ukuran orang Indonesia saat ini.

Kami semua masuk ke dalam masjid dan kulihat Resti dan Andi menempatkan diri di depan sebuah meja dan diikuti oleh bapak Winda dan seorang yang kuketahui adalah seorang penghulu. Suasana menjadi hening saat penghulu mulai membacakan doa-doa dan mulai menjabat tangan calon suami Resti

“Saya nikahkan Andi Suabirin bin Bambang dengan Restiyani Awwalun binti Sulaiman dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar tunai” Ujar Penghulu itu.

“saya terima nikahnya Restiyani Awwalun dengan mas kawin seperangkat alat sholat di bayar tunai”

“SAH?”

“SAAAAH”

Upacara yang sangat khidmat dan membuatku sangat merinding saat mendengar Andi menggucapkan hal tersebut. Ekspresi kebahagiaan tergambarkan di semua wajah semua orang yang ada saat ini. Winda yang sebelumnya pergi memeluk kakaknya itu, kemudian menghampiriku dan memelukku dengan sangat erat. Pemandangan ini dilihat oleh orang-orang yang ada di sana dan aku sedikit malu karena kela

xkuan Winda. Bapak Winda kemudian menegur kami dan akhirnya Winda melepas pelukannya.

Acara dilanjutkan dengan resepsi pernikahan di kediaman Winda. Acara berlangsung dengan cukup santai dan kuperhatikan tamu-tamu yang berdatangan tidak terlalu banyak, berbeda dengan resepsi pernikahan yang pernah aku ikuti bersama orang tuaku. Saat itu, tamu yang datang sangatlah banyak dan hidangan yang disajikan juga sangat banyak.

“zaa makan nihh”

Winda membawakanku sebuah piring yang berisikan makanan yang ku ingat adalah makanan yang sama yang ia kirim lewat aplikasi chat tempo hari.

“masakan kamu nih?”

“iyaa hehehe. Mudah-mudahan kamu suka”

“kamu sih kapan masaknya?” Aku menerima piring itu.

“tadi pagi sebelum kamu bangun. Tidur mulu sihhh” Ia mulai menyuap piringnya sendiri.

“ehehehehe” aku mulai menyuap piring di hadapanku.

Aku makan makanan itu dengan lahap karena rasanya cukup lezat.

Beberapa jam berlalu. Winda dan Zakiyah aku lihat terus menerima tamu undangan dan aku ikut bantu-bantu jika ada yang dibutuhkan.

Hari itu berlalu sangat cepat. Sinar mentari sudah mulai pudar dan digantikan dengan gelap dan suasana cukup dingin. Aku merasa cukup kelelahan dan langsung menuju kamarku untuk beristirahat. Aku langsung menjatuhkan diri tanpa melepas pakaian yang sedari pagi aku pakai dan langsung terlelap menuju alam mimpiku.

***

Keesokan paginya, aku mulai membereskan segala barang-barangku yang berserakan di kamar itu karena sore nanti aku akan pulang ke ibu kota menemui keluargaku. Rencananya Winda juga akan ikut denganku untuk mengisi waktu liburan.

Pagi-pagi itu suasana masih sangat segar dengan suasana di dalam rumah yang terasa hangat karena ada sepasang suami istri baru yang meramaikan rumah. Pagi itu Mba Resti dan Winda memasak masakan yang kemarin ia hidangkan untukku, dan secara kebetulan masakan itu juga merupakan masakan favorit dari Mas Andi juga.

Sehingga kami menyantap masakan tersebut sangat lahap karena rasanya yang lezat. Aku melihat Winda tersenyum manis sekali melihat aku menyukai masakannya.

“zaa, abis ini lari yukk” Ujar Winda setelah selesai makan pagi. “sama Zakiyah juga yuk zak?”

“aku jadi laler nih ah. Gaenak banget”

“looh. Nak Zakiyah kenapa pacarnya gak diajak?” Ujar Ibu Winda seraya membersihkan meja makan.

“dia mau pulang bu. Ada urusan keluarga juga jadinya harus cepet-cepet pulang katanya”

“oalaah. Ibu mau tanya deh. Ini mereka berdua emang lengket banget ya?” Tanya ibu Winda kepada Zakiyah.

“iyaa bu. Lengket banget. Kayak perangko sama amplop”

Ibu Winda hanya tertawa menanggapi jawaban Zakiyah. Setelah itu ia pergi ke belakang untuk meletakkan piring-piring yang kotor dan dibantu oleh Resti dan Winda.

“parah kamu zak hahaha” Ujarku sambil menyikut pundaknya.

“lohh parah kenapa? Emang bener kan?”

“yaa iya cuman kan gaenak akunya. Apalagi Winda kan kayak akhwat gitu”

“engga zaaa hahaha. Dia tuh cuman pakaiannya kayak akhwat-akhwat gitu, katanya enak pake baju kayak gitu. Padahal maah ya biasa aja juga. Toh dari kemarin kalian lengket, sama orang tuanya gak diapa-apain kan? cuman kemarin aja itu pas Winda meluk kamu pas abis akad”

“iyaaa sihh”

Aku hanya terdiam dan termenung.

“santai aja zaa hahaha”

“iyaa ini santai kok”

“santai tapi kok mukanya kaku amat hahaah”

Aku sedikit mengembangkan senyum terpaksa itu untuk menanggapi Zakiyah. Tak lama kemudian, Winda muncul lagi dan kami bertiga memutuskan untuk lari mengitari komplek perumahan rumah Winda.

Siang itu, udara sekitar masih terasa sejuk dan sinar mentari seperti dihalang-halangi oleh awan gelap agar tidak bisa menyinari permukaan bumi. Aku sudah memasukkan semua barang-barangku ke dalam tas dan sudah siap untuk segera pergi dari sini.

Aku mengecek HP-ku dan mencari aplikasi pencari tiket kereta. Jam sudah menunjukkan pukul 12:43 tinggal dua jam lagi menuju pemberangkatan kereta terdekat. Aku segera bergegas keluar dari kamar dan mendapati Zakiyah dan Winda sudah siap untuk segera pergi.

“waah udah siap ternyata” Ujarku.

“ayo nak Faza. nanti ndak kebagian keretanya” Ujar Bapak Winda sambil mengangkat tas yang digunakan oleh Winda ke dalam mobil.

Kami diantar oleh kedua orang tua Winda menuju stasiun menggunakan mobil Winda. Perjalanan cukup memakan waktu karena terjadi kemacetan saat masuk kawasan stasiun.

Kami cukup tergesa-gesa saat turun dari mobil karena keberangkatan kereta terdekat adalah tinggal satu jam lagi. Aku langsung menuju loket dan Winda dan Zakiyah sibuk menurunkan barang bawaannya.

Beberapa menit kemudian, aku mendapatkan tiga tiket dan beruntungnya tempat duduknya tidak terpisah satu sama lain. Bapak Winda kemudian mengantarkan kami menuju peron dan ia tidak menunggu hingga kereta datang dikarenakan ada acara bersama teman-teman kantornya.

Kami bertiga menunggu kereta sambil mengobrol kesana kemari tidak jelas topic utamanya apa (haha)

Belasan menit kemudian, terdengar suara pemberitahuan bahwa kereta yang akan kami naiki akan segera masuk ke dalam stasiun. Kami menunggu kereta tersebut masih sambil mengobrol dan tak lama kemudian kereta pun datang dan kami menaikki kereta tersebut.

Tujuan kami sebenarnya berbeda. Zakiyah akan turun di stasiun tempat kami menimba ilmu karena memang tempat tinggal Zakiyah ada di sana sedangkan aku dan Winda akan melanjutkan perjalanan hingga ibu kota.

Setelah kami naik dan mendapatkan kursi, kereta berjalan dan kami akan menghabiskan waktu liburan semaksimal mungkin karena liburan ini mungkin liburan terakhir di masa kuliah karena semester-semester yang akan datang sudah akan menjalani KKN dan pastinya untuk mahasiswa tingkat akhir harus segera menyusun skripsi untuk dapat lulus dari perguruan tinggi ini.

Bersambung​