Aku Dan Pilihan Part 1

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Tamat

Cerita Sex Dewasa Aku Dan Pilihan Part 1 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru

Aku Dan Pilihan Part 1

PROLOG​

Hai semua perkenalkan namaku Faza. Aku berasal dari ibu kota Negara tercinta ini dan sekarang sedang menjalani proses studi di salah satu universitas yang berada di provinsi Jawa Tengah. cerita ini diambil latar dua tahun setelah aku menjadi kekasih Winda, perempuan yang aku kagumi karena kepolosan serta ketulusan hatinya.

Sudah dua tahun tanpa terasa aku berpacaran dengan Winda. Selama dua tahun itu aku seperti menemukan sosok pendamping impian. Karena Winda dengan telatennya membangunkan aku untuk bangun pagi dan melakukan ibadah, jika aku “bolos” sekali saja tidak melakukan ibadah pagi, sepanjang hari aku dihiraukannya.

Bahkan saat dikelaspun dia seperti tidak mengenaliku. Jika sudah seperti itu maka yang aku lakukan adalah malam-malam aku menuju kosannya yang tidak jauh dari kosanku, kemudian aku memberi hadiah berupa aksesoris-aksesoris untuk memperindah penampilannya dengan jilbabnya.

Biasanya jika memang barang tersebut adalah barang yang sangat ia inginkan maka dia akan langsung luluh, tetapi jika tidak ya percuma aku memberikannya hadiah dan aku harus pasrah menunggu dia kembali seperti semula. Dia juga yang telaten menemaniku lari pagi tiap hari jika tidak ada kelas pagi.

Hingga akhirnya penampilanku sudah tidak seperti babi lagi. Kini tubuhku sudah ideal. Ya tidak bisa dibilang ideal juga sih, namun lebih baik dibandingkan keaadanku 2 tahun lalu. Orang tuaku selalu bertanya mengapa anaknya kini jauh lebih “kurus” saat kuliah tiap kali aku pulang ke ibu kota saat liburan semester.

Hubunganku dengan Zahra baik-baik saja. Kini aku sudah tidak pernah bercinta dengannya lagi karena aku sudah memiliki Winda yang sangat aku sayangi. Walaupun Winda jarang memberiku “jatah” dan sekalinya dikasih mungkin hanya “nyusu” saja di kamar kosku, namun itu cukup untuk menahan hasrat bercintaku.

Aku dengar-dengar Zahra sedang didekati ketua umum di organisasiku yaitu Mas Jordi, namun dia selalu menampik hal itu lalu mengubah topik percakapan tiap kami membahas hal itu. Aku awalnya tidak mengerti kenapa Mas Jordi beralih dari Mba Nayla menuju Zahra, padahal jika diliat dari tampang dan tubuh, Mba Nayla menang dalam segala aspek (ya sebagai seorang yang pernah menikmati kedua tubuh itu makanya aku bisa menilai demikian haha).

Hubunganku dengan Hani?

Ya seperti yang diduga, dia bukan lagi menjadi seorang yang aku kenal dulu. Sikapnya terhadapku berubah total. Sikapnya sekarang dingin terhadapku. Aku pernah menyapanya setelah masa liburan saat aku sudah menjadi pacar Winda untuk sekedar meminta maaf.

“buat apa kamu minta maaf, emang kamu pernah ngelakuin salah ke aku?” ucapnya kala itu dan ia langsung pergi meninggalkan aku.

Aku masih ingat betul kejadian itu. sepertinya aku tidak akan melupakannya walaupun aku sudah memiliki istri kelak (haha). Aku sempat berdiskusi dengan Winda tentang sikap Hani terhadapku, namun Winda juga bercerita bahwa ia sudah tidak saling tegur sapa lagi dengannya. Sikapnya sama seperti terhadapku. Winda juga turut sedih, dan menyayangkan sikap Hani.

Aku mendapat cerita dari Devi bahwa dia sangat terpukul. Menurut penuturannya, Hani sangat tidak terima aku memilih Winda ketimbang dirinya. Devi yang tidak tahu apa-apa bahkan sampai bertanya kepadaku, apa yang aku lakukan terhadap dirinya.

Aku hanya memberi tahu bahwa memang dulu aku sangat dekat dengan dirinya, mungkin dia mengira aku mendekatinya hanya untuk mendekati Winda, aku berdalih demikian. Devi hanya manggut-manggut dan akhirnya aku diceramahi oleh dirinya kala itu.

Hubungan dua sejoli antara Dimas dan Tia masih berlanjut. Bahkan mereka kini sudah menyewa rumah kontrakan yang berisi hanya mereka berdua. Aku tidak mengerti kenapa pemilik rumah kontrakan tersebut memberikan izin kepada dua orang itu yang notabenenya belum jadi suami istri yang sah.

Aku dan Tama sering main ke kontrakannya dan ya rumah yang minimalis dan hanya berisi dua kamar satu kamar mandi, dapur dan halaman belakang yang bisa digunakan untuk menjemur pakaian.

“kalian nanti nikah dirumah ini aja” Ujarku becanda kepada Dimas dan Tia kala itu.

“gak ah za, dirumahku aja yang di Wonosobo. Kosong juga itu rumah” Ujar Tia dengan tampang sedikit serius.

Kemudian hubungan Tama dengan Zakiyah? sedikit rumit hubungan dua orang ini. Ternyata Zakiyah memiliki sifat “drama queen” yang cukup kental di dalam dirinya. Saat ada masalah di dalam hubungan mereka, Zakiyah tanpa ragu memposting hal tersebut di semua media sosialnya.

Hal itu sedikit membuat Tama risih karena merasa privasi hubungannya tidak ada lagi. Ia sering menggerutu jika sudah terjadi hal itu. Aku hanya bisa menyemangatinya (haha).

Aku belum tahu kabar lanjutan mengenai Yanti yang “dilecehkan” oleh kedua orang gila Mamat dan Toni. Mereka berdua sudah tidak terlihat paska dibawa oleh Mas Reza saat makrab tempo waktu.

Suatu hari saat kami sedang rapat di sekretariat organisasi kami, datanglah dua orang polisi dan sempat berbincang-bincang dengan Jordi kala itu. Aku tidak tau kelanjutan kasusnya seperti apa, namun yang aku tahu memang Mas Reza kecelakan bersama dua orang itu.

Sedangkan Mira?

Aku mendapat kabar bahwa ia sempat berpacaran dengan Mas Jodi namun sudah putus karena hal yang aku tidak tahu juga.

Sekarang masuk ke dua Wanita idaman para lelaki hidung belang yang ada dikampus yaitu Mba Nayla dan Mba Kintan. Aku tidak tahu kenapa, akhir-akhir ini mereka seperti sepasang kekasih. Kemana-mana bersama. Aku sekilas melihat ada yang berbeda dari Mba Kintan.

Wajahnya seperti sangat bahagia. Bentuk tubuhnya juga sekilas berubah menjadi lebih seksi walaupun masih terbalut pakaian-pakaian muslimah. Tapi tidak tahu kenapa, aku bisa merasakan perubahan pada Mba Kintan.

Aku tidak menemukan Wahyu di kampus dua tahun ke belakang. Aku mendapat kabar bahwa ia sudah dipindahkan oleh orang tuanya menuju luar negeri untuk bersekolah disana. Ya aku tidak peduli juga dengannya dengan pengalaman buruk selama aku mengenalnya kala itu.

Oiya aku mungkin belum menceritakan tentang keluargaku? Agan-agan bisa langsung skip bagian ini jika memang kurang membutuhkannya (haha).

Ibuku merupakan pengusaha kue online yang sudah cukup mempunyai nama. Beliau memulai bisnis ini setelah bangkit dari keterpurukan setelah kami ditipu oleh oknum yang tidak bertanggung jawab yang mengaku-ngaku sebagai pegawai bank dan secara kebetulan saat itu Bapak dan Ibuku menjadi “pemenang” di suatu undian.

Pada awalnya memang kami tidak percaya karena nilai tabungan mereka juga tidak banyak-banyak amat. Namun oknum tersebut mendatangi rumah kami dan berbicara dengan sangat meyakinkan. Sehingga mereka jatuh oleh tipu muslihatnya. Sedangkan kakakku Rani, ia harus rela tidak melanjutkan pendidikan karena hal itu juga.

Kejadian itu tepat sekali saat Rani lulus SMA 6 tahun lalu. Keluarga kami belum memiliki dana yang cukup untuk Rani berkuliah sehingga ia mau tidak mau harus mencari pekerjaan. Namun, sekarang Rani terlihat cukup nyaman di pekerjaannya. Sehingga ia sepertinya sudah melupakan keinginannya untuk berkuliah.

Oh iya. Aku juga sepertinya belum menceritakan masa laluku di cerita sebelumnya. Aku mulai dari kejadian keluargaku yang ditipu saja. Setelah kejadian itu memang keluargaku seperti goyah karena Ibu dan Bapakku saling menyalahkan.

Aku dan Rani awalnya merasa tidak nyaman karena hal ini. Akhirnya kami sering kabur-kaburan dari rumah. Beruntung bagi Rani karena memiliki teman-teman yang bersedia mendengarkan ceritanya, sedangkan aku. Aku saja di sekolah merasa kurang di hargai oleh teman-temanku. Hanya beberapa temanku saja yang masih menganggapku manusia, namun mereka juga tidak selalu ada saat aku membutuhkannya.

Aku mencari pelarian dengan melaksanakan hobiku saja. Suatu hari aku meminjam kamera temanku itu dan berkelana mencari gambar-gambar yang kurasa indah. Aku lalu men-unggah gambar-gambar itu di semua sosmedku. Awalnya memang tidak ada yang menanggapi gambar-gambar itu.

Akupun cuek dengan hal itu karena memang itu hanya sekedar hobi dan upayaku mencari pelarian akibat kondisiku di rumah maupun di lingkungan sekolah. Namun beberapa minggu aku selalu meng-unggah gambar-gambarku, aku mendapatkan sebuah pesan yang berisi tawaran untuk menjadi fotografer untuk suatu majalah.

Mereka memberi tahu bahwa satu gambar bisa dihargai 10-30 ribu. Aku sedikit tertarik dengan upahnya dan berpikiran “lumayan untuk nambah-nambah uang jajan”. Aku lalu mengiyakan dan aku bertemu dengan orang yang disebutkan dipesan itu.

Kami akhirnya sepakat dengan dan aku memulai mengambil foto untuk majalah itu. Harga gambar yang tadinya hanya 10-30 rb, semakin lama semakin naik karena hasil jepretanku dan aku juga mulai mempelajari aplikasi peng-edit gambar.

Aku akhirnya mendapatkan uang yang cukup untuk membeli kamera sendiri. Awalnya orang tuaku curiga karena ada paket datang ke rumah dan berisi kamera yang harganya cukup mahal. Akhirnya aku memberanikan diri untuk menceritakan semua hal dan aku mengeluarkan segala unek-unek ku.

Rani juga melakukan hal yang sama. Akhirnya orang tua kami sadar bahwa semua tindakan mereka selama ini tidak ada gunanya. Mereka memutuskan untuk berdamai dan mulai membuka bisnis kue kecil-kecilan dan terus berkembang sampai sekarang.

Aku masih menerima bullying di lingkungan sekolah setelah kejadian itu. Bahkan aku sering masuk ruangan BP karena membalas perbuatan mereka, namun yang membuatku kesal adalah mereka yang mem-bully ku malah tidak mendapatkan hukuman yang setimpal, sebaliknya aku yang merupakan korban, sering sekali dipanggil orang tuanya.

Orang tua ku memang tau betul anaknya tidak akan melakukan hal itu kalo memang bukan untuk membela diri, sehingga orang tuaku memang hanya “meng-iyakan” kata-kata dari guru BPku. Merekalah yang menyuruhku untuk kuliah di luar Jakarta agar tidak bertemu dengan orang-orang yang dengan mudahnya menjelek-jelekkan fisik orang.

***

*DRRRRTTTTT DRRRRRTTTT*

Aku terbangun karena getaran yang dihasilkan oleh HP-ku.

“FAZAAAAA BANGUN UDAH SIAAANG” suara di HP-ku saat aku mengangkat telepon yang masuk.

Ya seperti biasa, Winda membangunkan aku, padahal ini masih jam 5 pagi. Aku menghela napas sejenak, “iyaaa sayaang ini masih jam 5” ucapku dengan sangat lemah karena masih sangat mengantuk.

“jangan panggil aku sayang kalo kamu ga sholat subuh” ia langsung menutup teleponnya.

Ya sang ibu jenderal sudah memberi instruksi, maka aku harus cepat-cepat melaksanakannya. Aku lalu bangkit dari kasurku dan langsung keluar kamar munuju ruangan khusus untuk sholat.

Tidak beberapa lama setelah aku menyelesaikan ibadahku, seseorang masuk ke dalam kosku. Aku bisa langsung menebak siapa yang datang. Ya benar saja pacar kesayanganku yang memeriksa apakah aku bangun dan melaksanakan ibadah atau tidak. Hal ini berkali-kali dilakukan saat aku mengangkat telepon dengan sangat tidak meyakinkan.

“selamat pagi sayang, kamu ngapain kesini?”

“ngecek kamu” jawabnya singkat.

“hahaha makin sayang dehhh” ujarku sambil mendekatinya dan mengelus kepalanya.

“ihhh apaandehh, risih ahhh, dasar bau pasti belum mandi kan kamu” ujarnya menampik tanganku yang ada di kepalanya.

“emang kamu udah mandi?”

“udah laaah, aku mah rajin mandi gak kayak kamu”

“mana coba sini kucium. Aku gapercaya” aku mendekatinya dan aku memang menciumnya di bibirnya (hahahaha).

“apaaan sih kamu tuh suka banget nyari kesempatan” ujarnya tersipu setelah beberapa saat kami berciuman.

Dia lalu berjalan menuju kamarku. Aku lalu membereskan peralatan ibadahku dan meletakannya lagi di tempat semula, kemudian aku menyusul Winda ke kamarku.

Aku melihat Winda sedang merapikan kasurku. Jujur aku sangat bahagia memiliki dia sebagai kekasihku. Aku merasa menjadi laki-laki paling beruntung di seluruh jagat raya ini hanya dengan memiliki Winda yang ada di sisiku saat ini. Aku lalu sedikit membantunya membereskan sampah-sampah yang ada di meja samping laptopku.

Setelah selesai, ia lalu rebahan di kasurku sambil melihat ke langit-langit kamarku.

“kenapa win?” ujarku sambil menyusul rebahan di sampingnya.

“gapapa zaaa, aku seneng aja hehehe” Winda menoleh ke arahku.

“aku juga seneng” Aku ikutan menoleh ke arahnya. Tanganku kuarahkan mengelus kepala Winda. Dia tersenyum.

Aku lalu menggeser tubuhku dan bergerak menindih tubuh Winda.

“jangan nakal zaa, masih pagi” Winda melihatku lamat-lamat.

“karena masih pagi win hehe, lagipula aku udah lama gak dikasih sama kamu”

“hhhh dasar kamu yaaa”

Aku lalu melepas jilbab yang dikenakan oleh Winda, dan memperlihatkan rambutnya yang sepundak.

“loh potong rambut?”

“heheheh, abisan udah risih zaa, dan susah juga dikuncirnya pas pake kerudung”

“tetep cantik kok”

“emang”

Aku lalu menciumi leher putihnya dan kudengar dia mengerang manja.

“jangan dimasukkin ya zaa” ujarnya ditengah-tengah erangannya.

“sekali ya sayang, udah lama banget nihh”. Ujarku masih terus menciumi lehernya.

Ia tidak menjawab pernyataanku. Dia hanya sibuk mengerang karena jilatanku terhadap lehernya kian liar.

Jilatanku turun hingga ke dadanya yang masih terbungkus pakaian.

“Buka ya win” aku melihatnya dengan lamat-lamat.

Winda hanya mengangguk.

Melihat Winda setuju, aku langsung menarik kaos yang digunakan Winda keatas, melewati kepalanya, kemudian aku lemparkan ke samping tubuh kami.

“dasar, kebiasaan gapake BH” ujarku sambil langsung mencium puting payudaranya yang imut itu.

“hehehehe, enak tau zaaa, tidur gapake BH tuhh, aaahhh emmmmh” perkataannya tertahan karena desahan akibat rangsangan dari putingnya.

“gedean apa ya win?” Aku meremas payudaranya.

“masa sih zaaa? Ya mungkin karena kamu sering pegang-pegang kali” dia mengatakan hal itu dengan nada yang manja membuatku semakin bernafsu.

Aku lalu berdiri sejenak untuk melepas seluruh pakaianku, hal yang sama juga dilakukan oleh Winda yang beranjak duduk kemudian melepas celana training yang dipakainya sekaligus celana dalam yang digunakannya.

“katanya ga mau? Ahahaha” Aku telah selesai melepaskan seluruh pakaianku, dan langsung memeluk Winda.

“oohh gak jadi nihh” Winda kemudian mendorong tubuhku.

“ehhh jadi dong” aku mendorong tubuh Winda hingga rebahan.

“jangan langsung dimasukkin. Sakit” ujarnya.

“iyaaa tau kokk” aku langsung turun menuju vaginanya. “dicukur mulu perasaan -_-“ aku lalu menjilat vaginanya sambil lidahku mencari dimana letak klitorisnya.

“aahhhhhh shhhhh biar sssshhh bersih sshhhhhhh zaaaaaa aaahhhhhsss” ucapannya terpotong-potong karena desahannya.

“zaaaa, kamu naik dooong. Aku kangen sama itumu”

“aapaa wiin?” aku menghentikan aktivitasku.

“iiihhh jangan pura-pura ah”

“laaaah apasih, aku gamaksud kamu mau apa?” aku pura-pura tidak mengerti.

“iiihhh faza maaah, itumuuu” dia menunjuk bagian selangkanganku.

“itu apaaaaaa”

“nakal laaa kamu”

“dih apaa sih win hahaha”

Winda kemudian bangkit. Hal itu membuatku posisiku menjadi berdiri. Winda kemudian langsung menuju bagian selangkanganku dan dengan cekatannya dia menggenggam penisku kemudian ia masukkan penisku ke dalam mulutnya.

“aahhhh ahhhh ahhh enak wiin, ini ternyata maksud kamu”

Winda tidak menghiraukan perkataanku. Ia masih terus mengulum penisku.

Beberapa menit Winda masih mengulum penisku, aku sibuk bermain dengan rambutnya karena terkadang rambutnya jatuh menutupi wajahnya sehingga aku tidak bisa melihat ekspresi di wajahnya saat ia mengulum penisku.

“aaahhhsss wiiiinn udaaahhh, nanti aku keluar sssshhhhhhhhh”

Winda masih tidak menggubris perkataanku dan makin cepat memasukkan dan mengeluarkan penisku di mulutnya.

“aaaaahhhhhhsssssss” akupun mencapai orgasme duluan. Winda membiarkan penisku ada dimulutnya sambil menyemprotkan air maniku. Ia kemudian menelan semua mani ku lalu ia tersenyum. “ 1-0 ya zaa hihihihih”.

“sialan” batinku.

Penisku mengecil karena aku sudah mencapai orgasme.

Aku lalu mengangkat tubuh Winda kemudian merebahkannya di atas kasurku. Aku melanjutkan aktivitasku yang tadi tertunda karena Winda buru-buru meraih penisku. Aku jilati terus vaginanya bahkan lidahku masuk ke dalam lubang vaginanya. Tidak lupa juga tanganku bergerilya di atas dadanya memilin kedua puting payudaranya.

Beberapa menit aku melakukan itu. Desahan-desahan Winda makin tidak dapat ditahan. Ia bahkan mengunci kepalaku dengan kakiknya dan menarik rambutku saking gelinya. Aku makin bersemangat memberikan rangsangan di segala titik sensitif Winda.

Hingga akhirnya aku merasakan disembur oleh cairan yang keluar dari vaginanya. Banyak sekali. Seperti ia mengeluarkan air seni nya. Dan desahan paling spektakulerpun menggema memenuhi kamarku.

“1-1 sama loh winn hahah” Dia hanya tersenyum sambil terengah-engah paska orgasmenya. “btw banjir banget sih win? Pasti juga kamu diem-diem pengen juga kan? hahaha” ledekku.

Ia hanya tersenyum sambil tersipu malu. Aku merasa juniorku sudah tegak dengan sempurna lagi. Aku kemudian mengambil posisi. Aku meletakan penisku di bibir vaginanya. “siap ya win?”. Ia hanya mengangguk pelan.

Aku dorong pelan-pelan penisku membelah vaginanya. Ekspresi wajah yang sangat kurindukan dari Winda. Ia mencengkram sprei kasurku dan menoleh ke kanan-kiri. Akhirnya penisku sampai di batas dinding rahimnya.

“sakit win?” tanyaku karena melihat sedikit gelagat kesakitan di Winda.

“engga kok zaa, terusin ajaa”

Aku mulai memompa vagina Winda mulai dari kecepatan rendah. Aku kagum dengan vagina Winda. Masih seret. Aku merasakan sedikit sensasi bercinta pertama kali karena vagina Winda yang masih sempit ini. Kami berdua mengeluarkan desahan-desahan yang mungkin bisa saja didengar dari luar kamar ini. Kami berdua rindu dengan ini, dan kami tau itu.

Beberapa menit berlangsung aku mulai menaikkan kecepatan pompaanku.

“zaaaa aaaaahhhhss pelan-pelaaaann sssshhhh”

Aku kurang menghiraukan perkataannya. Aku kemudian menggenggam payudaranya yang kecil bergoyang naik-turun seirama dengan pompaanku. Aku meremasnya, menjilatinya sambil terus memompa vagina Winda.

Desahan Winda makin tidak karuan. Aku masih bermain-main dengan payudaranya sambil aku terus memompa vaginanya. Hingga akhirnya aku merasakan penisku seperti disembur oleh cairan hangat. Aku kemudian langsung menghentikan pompaanku dan Winda mendesah dengan sangat merdunya.

Winda sangat terengah-engah paska orgasmenya yang kedua. “gimana sih win, masa udah 1-2 aja hahaha” penisku masih bersarang di vaginanya.

“gimana win. Masih mau dilanjutin?” aku sedikit kasian dengannya karena terlihat sangat kelelahan.

Dia mengannguk pelan sambil terengah-engah.

Aku lalu menarik tubuh Winda sehingga kini tubuhnya lah yang berada di atasku. Winda yang lemas malah jatuh memelukku. Aku membalas memeluknya, dan kemudian menggerakan pinggulku memompa vagina Winda. Winda masih terus saja mengerang tidak karuan karena mendapat rangsangan tidak lama setelah ia mengalami orgasme.

Tidak lama setelahnya, aku merasakan penisku disembur lagi oleh cairan hangat. Aku kemudian menghentikan gerakanku.

“yaampuuun wiin hahaha, lagi kenapa kamu” aku berbisik.

“gapapa zaaa hmmmmmmmm , udah lama yaa ternyata. Aku…. Ini enak banget hhhhhmmmmmm zaaa hehehe”

“diterusin gak nihh? Kasian kamu udah lemes banget”

“iyaa zaa diterusin hhhhhmmmmmm, tapi istirahat bentar dulu hhhhhmmm kamu jangan ngapa-ngapain dulu hhmmmm”

“siap tuan putri”. Aku hanya berdiam diri sambil tubuh kami saling menempel satu sama lain. Winda masih menenggelamkan kepalanya di dadaku sambil mencari nafas karena kelelahan. Aku mengusap-usap punggungnya yang basah karena keringat.

Beberapa saat kemudian. “zaaaa hhhhhhh udah zaaaa, lanjutin”

Mendapat perintah dari sang ibu jenderal. Aku langsung menggerakkan pinggulku lagi. Kini temponya aku percepat karena aku kasian dengan Winda. Sehingga saat aku mencapai orgasme nanti, aku akan mengakhiri permaianan ini.

Winda masih terus mendesah layaknya artis-artis panas saat sedang di pompa vaginanya. Tapi dengan suara yang lebih merdu dan imut pastinya.

Aku kemudian menghentikan sejenak pompaanku dan aku memeluk Winda dan posisi kamu bertukar. Kini aku berada di atasnya lagi. Kemudian aku memompanya kembali dengan kecepatan yang tinggi.

Desahan Winda makin keras tidak tertahankan. Ia menyiasatinya dengan menutup mulutnya dengan tangannya agar suara yang dihasilkan akibat desahannya dapat dibendung. Aku masih terus memompa Winda dengan semangat 45 hingga akhirnya tubuhku merasakan getaran-getaran.

Tidak lama setelah itu aku mencabut penisku dari vagina Winda dan mengakhirinya dengan mengocok di atas perut Winda dan akhirnya aku mengeluarkan air maniku di atas perut Winda yang rata dan mulus itu.

“haaaaahhhhh hhhhhhaaaahhhhh. Makasih yaa wiiin” Aku ambruk di sebelah tubuh Winda.

Winda masih terengah-engah.

“zaaaaa tolong ambillin hhhhhhaaaahhh tissueee hhhmmmmm” dia berusaha bangkit dari tidurnya.

Aku bergegas bangkit dan meraih tissue yang kemudian aku usapkan diatas perut Winda. Kemudian aku juga mengambil handukku yang ada di lemari untuk membasuh seluruh tubuh Winda yang penuh dengan keringat.

“hhhhaaahhh hhhhaaaahh makasih yaa zaaaa. Iyaa ternyata aku juga kepengin hehehe”

“hahahaha yaa gapapa win, mending gini. Jarang-jarang tapi sekalinya langsung puas hehe. Makasih juga yaaa” aku lalu mencium bibirnya dengan lembut. Tidak ada hisapan di ciuman ini hanya saling menempelkan bibir dan merasakan kasih sayang masing-masing.

***

“oke kuliah siang hari ini dicukupkan. Untuk bahan kuis minggu depan adalah materi tadi. Saya harap kalian belajar dengan sungguh-sungguh apabila ingin lulus di mata kuliah saya. Ya saya akhiri terimakasih” Ujar seorang dosen yang kemudian merapikan peralatan mengajarnya dan langsung pergi meninggalkan ruang kelas.

Semua mahasiswa mengehela nafas. “mata kuliah gila” batinku. Sepertinya aku salah mengambil mata kuliah. Bagaimana mungkin semua hal tentang tubuh manusia dan hewan dipelajari dan harus dipahami.

Aku saja masih belum bisa menjelaskan kenapa jika bersin maka mata akan dengan sendirinya menutup, malah sekarang di suruh menjelaskan proses pembentukan bagian-bagian tubuh manusia. Aku masih menggerutu hingga akhirnya malaikatku menghampiriku.

“kenapa kamu za?” Winda duduk disebelahku.

“gapaham aku sama materi tadi haha”

“hahaha sama zaa, yaudahlah bodo amat. Harusnya mata kuliah ini masuk peminatan emang, bukan jadi mata kuliah yang wajib diambil oleh seluruh mahasiswa”.

“hhhhhhheeemmmm” Aku berdehem kemudian Winda mengelus kepalaku dan seraya berkata “makan yuk zaa? Aku laper lagi masa hehe”

“serius win hahaha, perasaan tadi pagi setelah kita ngelakuin itu, kita udah makan banyak deh”

“gatau zaaa, lapeeerrrr”

“yaudah yaudah. Yuk keluar cari makan”

Kami keluar dari ruang kelas yang memang hanya menyisakkan kami berdua. Kami menuju kantin.

“zaa kamu kapan berangkat ke Kebumen?” Winda membuka obrolan saat kami selesai memesan makanan.

“minggu depan, hari jumat pagi berangkat. Kenapa win?”

“jangan nakal-nakal kamu disana. Nanti aku suruh Zakiyah buat ngawasin kamu”

“yaampuun engga wiin hahah, kan disana juga nanti berbaur sama masyarakat, masa mau aneh-aneh”

“lagian ngapain sihh, taun kemarin kan udah. Masa kesana lagi”

“itu agenda wajib organisasi sayang haha. Itu buat saling mengakrabkan antar anggota juga. karena satu tim bener-bener terjun ke masyarakat dan gimana caranya biar orang-orang di desa itu ada perubahan dengan adanya kita disana. Kayak semacam KKN gitu laaah tapi lebih singkat waktunya”

“naah itu dia maksudku. Kan nanti kita juga bakal KKN, jadi buat apa coba organisasimu itu huhuhu”

“ya itung-itung pengalaman haha”

“hmmmmmm”

Makananpun datang.

Ditengah-tengah kami makan, kami didatangi oleh Zahra dan Mas Jordi.

“heeeiiii cieee kalian udah makin mesra aja nihh” Zahra tiba-tiba duduk di sebelah Winda dan Jordi duduk disebelahku.

“ngapain kamu zah, udah jadi apa sama Mas Jordi?” ucapku yang kemudian mendapat pukulan kecil dari Zahra.

“apaan sih orang gak sengaja tadi ketemu huhh”

“gapapa tau zahh, mas Jordi kan ganteng hahahaha” Winda menambahkan.

“ini lagi nambah-nambahin. Au aahh” Zahra pergi meninggalkan meja. Aku melihat dia mendatangi salah satu kios makanan di kantinku.

Jordi hanya tertawa saja melihat tingkah kami.

“gimana mas? ada yang saya bisa bantu” Aku bertanya dengan nada yang cukup lugas. Winda hanya memandangi kami lamat-lamat.

“gini zaaa, sorry banget. Gue besok gabisa dateng ke acara dan Jodi juga sama karena kita ada urusan keluarga di Bandung dan bener-bener gabisa kita tinggalin. Nah karena posisilu kan bawahannya Jodi di organisasi, jadi gue minta tolong lu sambutan buat ngebuka kegiatan besok”

“ahhh gila lu, mana bisa gue sambutan” aku sedikit tersedak karena pernyataan Jordi barusan.

“itung-itung latian zaa, soalnya lu kan calon penerus gue juga”

“gilaa. Kaga mau gue jadi peneruslu hahaha, bisa stress gue nanti”

“siapa lagi kalo bukan elo zaa hahaha, kenapa gue berani naro lu di bawahannya Jodi ya karena biar lu bisa belajar dari Jodi sama gue pas mimpin organisasi ini. ya emang susah, tapi mulai sekarang lu cari bener-bener temen lu yang bisa diajak kerja sama sama lu. Gue yakin banget di musyang (re:musyawarah anggota) nanti lu bakal jadi ketua umum selanjutnya”

“gak salah tuh, orang kayak gue jadi ketum. Bisa ancur organisisi ini hahaha”

“engga zaa gue yakin lu bisa. Makanya awalannya ini dulu nihh lu sambutan dulu di acara besok”

“kaga mau aahh, Virzha kan bisa. Dia juga bawahannya Jodi sama kayak gue”

“nanti lu nyesel kalo kerjaan ini gue kasih ke Virzha, percaya sama gue” Jordi terlihat mengeluarkan sesuatu dari kantongnya. “ini zaa, sambutan yang nanti bakal lu omongin. Tenang aja udah gue bikinin kok. Jadi lu tinggal hafalin dan bacain aja” Jordi menyerahkan secari kertas kepadaku.

Aku ragu mengambil kertas itu. Ya Virzha sebenrnya anaknya baik, namun selama bekerja sama denganku. Ia sering melakukan kecerobohan-kecerobohan yang fatal. Jika dia yang menerima amanat ini, maka bisa-bisa muka organisasi kami bisa tercoreng saat ia melakukan suatu kecerobohan.

Dan kemampuanku memimpin juga sebenrnya sudah teruji saat aku ditunjuk menjadi ketua panitia penerimaan anggota baru untuk angkatan dibawahku, jadi memang aku digadang-gadang jadi pemegang tongkat estafet ketum selanjutnya.

Namun ini perkara yang berbeda. Aku belum pernah sama sekali berbicara di khalayak umum. Aku pasti akan sangat gerogi jika memang aku menerima tawaran dari Jordi.

Lama sekali aku menimbang-nimbang menerima surat itu sambil sesekali memasukkan makanan ke dalam mulutku dan sesekali melirik Winda yang berada tepat di depanku, meminta pencerahan.

Aku dengan berat hati menerima kertas yang dijulurkan oleh Jordi.

“naaah gitu doong zaaa. Jadi mulai sekarang lu udah nyari nama-nama temenlu yang nanti bakalan jadi bawahan-bawahanlu”

“enak aja, gue nerima ini bukan berarti gue mau jadi ketum ya”

Jordi hanya tersenyum dan tak lama setelahnya Zahra datang membawa makanan untuk dua orang.

“jadi Faza mau yang?”

“yang?” aku terkejut dengan pernyataan Zahra.

“cieeeeeee uhuuy udah jadi” Winda tiba-tiba berseru.

Zahra dengan cepat langsung menutup mulutnya dengan tangannya. Sadar bahwa ia keceplosan.

“hahahahaha, mana yang tadi gak sengaja ketemu zah?” Ujarku kali ini.

Jordi hanya tertawa saja sedangkan Zahra duduk dengan ekspresi muka malu yang teramat sangat.

Kami lalu melanjutkan makan dan obrolan kami terfokus pada pasangan baru saja aku tau yaitu Zahra dan Jordi.

Setelah selesai makan, kami pamit ke Zahra dan Jordi yang nampaknya masih ingin berbincang-bincang di kantin sore itu.

Aku dan Winda kemudian berjalan menuju kosan masing-masing. Ya berjalan. Semenjak aku dan Winda berpacaran. Aku selalu berjalan kaki dan selalu bersama dengan Winda. Karena menurutnya jalan kaki lebih sehat dan lebih go-green.

Sepanjang perjalanan obrolan kami kemana-mana. Dari tentang masalah tadi aku ditunjuk mengisi sambutan, hingga permasalahan Hani yang menghindari kami berdua.

“zaa nanti malam aku nginep di kosanmu lagi yaa?”

“loh, ngapain?”

“gapapa zaa, pengen tidur sama kamu ajaa hehe. Boleh yaaa?”

“yaaudaah gapapa, emang kenapa sih di kosmu? gaenak?”

“dibilang gapapaa, aku cuman pengen sama kamu aja”

“yaudah-yaudah”

Kami berdua melewati kosanku dan seperti biasa aku mengantarkan Winda dulu sampai depan kosannya.

“nanti aku jam 8 an deh ya zaa hehe. Makasih yaaa. Sampai jumpa nanti malam hehe”

Aku mencium kening Winda. Hal yang rutin aku lakukan selama aku berpacaran dengan Winda.

{ Bersambung }