6 Teman Teman Part 8

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21

6 Teman Teman Part 8

Start 6 Teman Teman Part 8 | 6 Teman Teman Part 8 Start

Jakarta, 5 September 2010

Deru kendaraan roda empat dan bermotor mulai berisik meninggalkan pekarangan kampus. Senyum riang dan lega dari ratusan mahasiswa baru di Universitas Semprot sangat kentara pada wajah-wajah mereka. Ya. Inilah hari terakhir OSPEK bagi para mahasiswa baru, yang terletak di kawasan Jakarta Utara ini.

Sementara di sudut kantin, sekelompok mahasiswa baru sedang duduk sambil ngobrol dan bercanda ria. Mereka lebih memilih nongkrong terlebih dahulu, daripada berjibaku dengan kemacetan jalanan ibukota.

Mareka adalah Cinthunks, Era, Gadis, Bryan, RAD, dan Senja. Alumni SMA Semprot yang kini melanjutkan ke universitas, yang berada di bawah naungan yayasan yang sama. Sejak berjumpa dalam peristiwa MOS, mereka menyatu jadi satu kelompok yang cukup solid dan populer.

Mereka adalah THE CEGARS.

Nama ini diusulkan oleh Gadis Sorah Yukata pada saat hari terakhir MOS, sebelum mereka ber-6 berpisah menjadi 3 kelas. Era dan Black mendapatkan kelas 10A, Rad dan Gadis di kelas 10B, serta Cinthunks dan Senja di kelas 10C. Dia mengajukan nama itu setelah mengambil inisial nama kami masing-masing. C dari Cinthunks, E dari Era Kusumawardhani, G dari Gadis Sorah Yukata, A dari Bryan Anggara Kusuma, R dari RAD dan S dari Rangga Senja Paripurna.

Harus diakui, bahwa mereka awalnya dipersatukan oleh kebencian pada orang yang sama, yaitu Sadako. Kakak kelas yang mereka anggap sangat menyebalkan dan menjadi benalu dalam konsentrasi belajar mereka. Namun semuanya berubah, saat Senja, anggota kelompok yang menjadi biang masalah, akhirnya berhasil menggaet hati Sadako menjadi kekasihnya. Itu terjadi saat Pensi menjelang kenaikan kelas.

Senja, yang otak mesumnya sebelas dua belas dengan Cinthunks, bisa membuat luluh hati Sadako kala mereka pentas di atas panggung. Pada lagu ketiga, atau lagu terakhir yang mereka nyanyikan, Senja sang basis, yang suaranya tak ada ubahnya dengan suara kambing cempreng, tampil menjadi solis dengan menyanyikan lagu JAP. Di depan para guru dan seluruh siswa, ia menyatakan cintanya pada Sadako melalui lagu itu.

Entah karena terharu, atau mungkin karena kasian mendengar suara cempreng dan fals yang memalukan, akhirnya Sadako mau naik ke atas panggung dan menerima pernyataan cinta Senja.

Itulah peristiwa yang mengakhiri permusuhan mereka, sekaligus awal terlibatnya anggota The Cegars dalam OSIS dan berbagai kegiatan kampus.

Black dan Gadis sudah menjadi pasangan kekasih sejak hari terakhir MOS. Konon, mereka jadian karena gaya pede Black yang mencium Gadis di halaman kebun belakang tanpa pernah mengucapkan kata sayang sedikit pun. Ciuman itu menjadi ungkapan perasaan Black, sedangkan Gadis yang awalnya marah karena merasa “dinodai”, akhirnya ketagihan ciuman pertamanya. Jadilah mereka pasangan teromantis di dalam The Cegars.

Lain mereka, lain Cinthunks dan Era. Mereka selalu saling merindukan saat tak jumpa, tapi selalu bertengkar ketika bersama. Cinthunks sebenarnya sangat menyayanginya, tapi selalu ragu menyatakan cinta karena takut oleh galaknya Era. Sedangkan bagi Era, diam-diam ia juga jatuh hati pada Cinthunks, tapi gengsi untuk menyatakannya duluan. Maka sikap galaknya hanyalah alasan untuk menutupi perasaan sayangnya yang selama ini ia sembunyikan.

RAD? Dia adalah anggota kelompok yang paling dewasa. Ia cukup disegani dan dituruti teman-temannya karena ia lebih banyak menggunakan otak daripada otot. Sikap kalem dan diamnya, membuat ia kelihatan lebih berwibawa.

Sikap itulah yang membuat Nur Azizah, teman sekelasnya, takluk kala ditembak RAD di bawah pohon beringin, di belakang sekolah. Mereka menjadi pasangan idaman yang selalu saling setia, dan hampir tidak pernah ribut satu sama lain. Sampai akhirnya… ah sudahlah… terlalu sakit untuk diceritakan. Biarkan RAD saja nanti yang bercerita.

Selama tiga tahun masa putih abu-abu, mereka berenam menjadi genk sekolah yang cukup disegani karena kekompakkannya, diakui karena keterlibatan mereka dalam berbagai kegiatan sekolah, dikagumi karena bakat-bakat yang mereka miliki, tapi juga disebali karena ulah konyol dan bandel mereka.

Persahabatan yang tiga tahun mereka jalin bersama, membuat mereka tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Itulah yang membuat mereka sepakat untuk melanjutkan kuliah di universitas yang sama, meski berbeda jurusan. Cinthunks mengambil jurusan Sastra Inggris, Era sesuai hobby-nya mengambil jurusan Sastra Indonesia, Gadis dan Black sepakat mengambil jurusan yang sama, yaitu; Akuntansi, Rad mengambil jurusan Teknik Sipil, dan Senja mengambil jurusan Design Grafis.

Sambil menikmati minuman yang mereka pesan, anggota The Cegars plus Sadako saling bercerita satu sama lain. Mereka seakan dejavu ketika peristiwa OSPEK yang baru mereka jalani, mengingatkan mereka pada peristiwa MOS tiga tahun lalu. Maka semua kenangan akan MOS pun saling mereka ceritakan kembali. Suasana gembira melingkupi kebersamaan mereka, kecuali RAD yang lebih banyak diam dan murung

—- ©©©© —-

Di sinilah aku berada saat ini, nongkrong bersama sahabat-sahabatku “THE CEGARS” di kantin kampus SEMPROT.

Di hadapanku duduk, Senja berdampingan dengan Sadako, Black duduk dekat Gadis dan Cinthunks duduk disampingku bersebelahan dengan Era.

Senja dan Sadako memperlihatkan kemesraan mereka sebagai pasangan kekasih. Mereka tanpa malu mengubar kemesraan mereka dengan minum segelas berdua. Dengan menggunakan dua buah sedotan, tampak keduanya minum sambil bercanda lepas tanpa mempedulikan sekitar mereka.

Sementara itu, Black dan Gadis terlihat saling menyuapi makanan. Gadis menyuapi Black spaghetti menu yang dipesan oleh Gadis sedangkan Black menyuapi bakso ke mulut Gadis pesanan yang dipesan oleh Black.

Melihat kedua kejadian di hadapanku ini. Seketika, ingatanku kembali ke masa lalu. Mengenang kembali sosok cewek cantik, imut yang selalu menggetarkan jiwa dan ragaku. Dialah Nur Azizah aka Ziza, my first love. Cewek pertama yang langsung merobohkan keteguhan hati dan sikapku untuk tidak mengenal lebih dekat pada lawan jenis. Dia merupakan cinta pertamaku.

—- flashback on. 3 tahun lalu —-​

MOS hari ketiga di SMA SEMPROT…

Aku berhasil keluar dari kelompokku “Bebek Goyang” lalu berjalan mengendap-endap mendekati kelompok “Ayam Berkokok”, sambil celingak celinguk sejenak memperhatikan keadaan sekitar.

Entah dari mana keberanianku datang saat itu? Aku audah berhasil masuk ke dalam kerumunan kelompok “Ayam Berkokok” untuk menjumpai Nur Azizah atau Ziza.

Ziza tergabung di kelompok “Ayam Berkokok”, setelah aku melihat di papan pengumuman di hari pertama.

Ziza adalah seorang siswi cantik, imut dan menggemaskan. Pertama kali melihatnya, telah membuatku jatuh cinta pada pandangan pertama, malah sejak kejadian tabrakan dengannya 2 hari yang lalu, telah membuatku berubah menjadi seperti orang gila.

Aku sering senyum-senyum sendiri, jika sedang mengingat kejadian itu dengannya. Bahkan, papa, mama dan adik-adikku bingung dan hanya bisa geleng-geleng kepala saja menyikapi perubahan sikapku beberapa hari lalu.

Dan kini aku nekat kabur dari kelompokku “Bebek Goyang” menyelinap masuk ke kelompoknya sekarang, hanya untuk menjumpai, melihat, dan menyapanya. Itu sudah lebih dari cukup membuatku senang dan bahagia.

“Ziza kamu terlihat semakin cantik,” gumamnya ketika aku melihatnya.

“Astaga…RAD.” teriaknya kaget saat melihatku berada di hadapannya sekarang.

Lalu Ziza segera mendekatiku seakan tidak percaya dengan kenekatanku.

“Kamu bisa dihukum RAD.” ucapya pelan seperti berbisik. “Nekat banget sih.”

“Kangen sama kamu,” jawabku sambil cengengesan. “Aku nggak takut sama sekali dengan semua hukuman yang akan kudapatkan, asalkan aku bisa menemuimu sekarang.”

Mendengar perkataanku barusan, seketika mukanya Ziza berubah bersemu merah. Sesekali ia menundukkan kepala, mungkin untuk menutupi perubahan ekspresi wajahnya.

Belum puas rasanya, aku memandangnya dan seolah hati dan jiwaku, ingin selalu dekat dengannya.

Namun, tiba-tiba….

“Hei, kamu ke sini!” Suara lantang itu, seketika menyadarkanku. Bahwa, saat ini aku masih berada di bumi, berada di sekolah, menyelinap ke dalam kelompok “Ayam Berkokok”.

Aku hanya diam di tempat, seolah-olah mengacuhkan suara lantang dengan pura-pura tidak mendengarnya. Sikapku barusan, malah membuat kakak panitia itu mendatangiku dengan ekspresi marah dan kesal, kulihat tangannya terkepal seakan-akan ia ingin menonjok mukaku.

“Kamu bukan di kelompok ini, ‘kan,” ucapnya lantang penuh ketegasan. “Oh…! Ternyata kamu, anak dari kelompok “Bebek Goyang”! Ngapain kamu, ke sini? Hah.”

“Nemuin pacarku, Kak.” jawabku santai tanpa ada rasa takut. “Ziza ini, pacarku.”

Ziza seketika ingin protes dengan perkataanku barusan, itu terlihat dari gerakan bibirnya yang ingin membantah omonganku. Namun, aku memberi kode padanya, untuk diam saja. Ekspresi wajah Ziza berubah bersemu merah bercampur marah kesal dan entah apa yang ada di hatinya?

“Benar Za, kamu itu pacarnya bocah ini?” tanyanya pada Ziza sambil menunjuk-nunjuk mukaku.

Ziza hanya mengangguk tanpa bersuara, menadakan ia sekarang mengikuti apa yang tadi kukatakan.

“Bohong, Kak.” celetuk seorang siswa sama sepertiku. “Ziza ini belum punya cowok, jangan asal kamu ngaku-ngaku pacarnya Ziza.”

Seketika, semua orang menoleh ke asal suara tersebut. Aku pun ikut melihat ke arahnya, terpampang sebuah namanya di kertas karton tersebut, Ernest Prakasa.

“Kamu nggak pantas sama dia, Za.” ucapnya sambil menghinaku. “Orang kere kayak dia, nggak pantas untuk kamu. Kalian bak langit dan bumi. Kamu merupakan putri tunggal dari pengusaha ternama di Ibukota ini, sedangkan dia mungkin hanya anak dari keluarga biasa.”

Pandangan mataku tajam, menatap ke arahnya tanpa berkedip sejenak. Jujur, aku merasa terhina dilecehkan barusan, oleh cowok bernama Ernest.

Ernest mendekati dan meraih kerah bajuku, lalu menampar pipi kiri dan kananku. Aku hanya bisa menahan amarahku, karena tidak ingin membuat Ziza khawatir dan sedih. Padahal, tanganku sudah terkepal dan ingin rasanya saat ini juga aku bisa melampiaskan semua kemarahanku pada cowok belagu, sok jagoan ini.

“Kamu cari masalah denganku, ya.” bisiknya di telingaku. “Tau sendiri nanti, apa yang bakalan terjadi padamu?”

“Gue tidak takut sama lo.” balasku berbisik. “Emangnya, kamu siapa? Tuhan…?”

“Fuihhh…. Ciyuuu…” Ernest sengaja meludahi wajahku.

“Udah Ernest. Kamu balik ke barisanmu.” ucap kakak panitia menengahi. “Kamu ikut sama saya ke ruang OSIS. Kamu layak dihukum karena melanggar aturan MOS.”

Aku menatap sejenak ke arah Ziza yang terlihat menangis sesegukkan. Dia ternyata sejak tadi terus melihat dan memperhatikanku diperlakukan secara tidak sopan. Aku hanya bisa memberikan jawaban melalui senyuman, sambil berkata tanpa mengeluarkan suara. Bahwa, aku baik-baik saja, kamu jangan sedih.

Aku digiring oleh kakak panitia yang kuketahui bernama Agus dari badge pengenal panitia, menuju ruang OSIS yang berada 100 meter dari tempat kelompok “Ayam Berkokok” berbaris.

Beberapa hukuman mesti kujalani, dari membersihkan ruangan OSIS, hingga membersihkan toilet, yaitu; toilet siswa/siswi dan toilet guru.

Drrrtt… Drrrtt…

0812-XXXX-XXXX Ziza

Bodoh, jelek dan nekad kamu, RAD.

Tapi….

Ziza….

Ziza…. mau bilang semangat ya.

Ziza…. Tunggu di tempat pengumuman pembagian kelas.

Degh…!

Mendapatkan pesan SMS dari Ziza barusan, seakan memberikan energi tambahan serta semangat untukku dalam menyelesaikan hukuman yang diberikan oleh kakak panitia padaku.

Walau kalimatnya hanya biasa, tetapi aku memaknainya bahwa Ziza pun mempunyai perasaan yang sama sepertiku. Kalau ia tidak mempunyai perasaan suka pastinya kejadian tadi tidak akan membuatnya khawatir dan menangis.

“Za, terima kasih. Kamu telah memberikan sinyal, untukku maju mendekatimu. Akan kuperjuangkan hati dan cintaku untuk meyakinkanmu, bahwa aku benar-benar menyukaimu dan berharap kamu mau menerima cintaku ini.” ucapku bertekad dalam hati.

Hukuman ini menurut teman-temanku sangatlah berat. Tapi entah kenapa? Berkat tambahan semangat dari Ziza lewat pesan SMS-nya barusan, membuat semangatku berkobar untuk membuktikan perjuangan cintaku padanya.

Beberapa saat kemudian…

Setelah semua selesai baik membersihkan ruangan OSIS, toilet guru dan toilet siswa/siswi aku diperbolehkan kembali ke kelompokku “Bebek Goyang” oleh Kak Agus yang menghukumku saat itu.

“Sebaiknya, kubalas SMS-nya Ziza dulu, supaya ia tidak khawatir.” pikirku sejenak.

0812-XXX-XXXX RAD

Za, makasih ya, berkat kamu aku bisa menjalani hukumanku dengan baik. Aku dah bebas dari hukuman. Kamu sekarang di mana, Za? Boleh aku menemuimu?

Segera kukirim SMS tersebut ke nomor HP Ziza dan beberapa saat kemudian HP-ku bergetar.

Drrtt… Drrtt…

0812-XXXX-XXXX Ziza

Aku sedang di tempat papan pengumuman melihat pembagian kelas. Aku dapat kelas 10A, kamu di kelas 10B. Ke sini aja ya, RAD! Aku tunggu…!

Setelah membaca pesan SMS dari Ziza, aku segera melangkah menuju ke tempat papan pengumuman. Di sana aku melihat dari kejauhan kerumunan orang-orang yang berpakaian putih abu-abu, sedang berkerumun melihat nama mereka mendapatkan kelas berapa sekarang.

“Nah, itu RAD!” seru Era memberitahu, sambil ia menunjuk ke arahku. “RAD, sini!”

Aku bergegas berjalan melangkah ke arah mereka. Tampak Ziza sedikit berbeda saat melihatku berada di sana. Grogi dan salah tingkah itu yang kutangkap dari sikapnya saat itu.

“Za, kamu dah kenal dengan RAD,” kata Era melanjutkan perkataannya setelah aku berada di sana. “RAD ini, teman satu kelompokku Za, di “Bebek Goyang”.

“Aku dah kenal Ziza, Ra.” sahutku memotong perkataan Era. “Sejak hari pertama MOS, Ra.”

Black dan Gadis menghampiriku.

“RAD kau sekelas dengan Gadis, kelas 10B.” ucap Black berbisik. “Aku nitip Gadis, ya.”

Aku mengangguk dan kemudian balas membisiki Black.

“Siip, Black. Tapi, aku juga titip Ziza, ya. Tolong jagain Ziza, dari cowok-cowok mesum kelas kalian! Aku suka sama Ziza, Black.”

“Deal,” kata Black.

“Deal,” jawabku.

Aku dan Black saling berjabatan tangan. Sedangkan Era, Ziza dan Gadis mulai akrab, mereka bertiga berbicara sambil tertawa-tawa.

Sementara itu, Cinthunks terlihat paling murung setelah ia mengetahui kalau ia mendapatkan kelas 10C bersama Senja.

Aku dan Black segera mendekati Cinthunks dan Senja. Kami ber-empat berpelukan sejenak.

Namun, tidak jauh dari tempatku berdiri bersama ketiga sahabatku. Aku melihat ekspresi Ernest menampakkan wajah tidak sukanya padaku saat kami beradu pandang. Tersirat dari ekspresi wajah Ernest adalah gambaran; ketidaksukaan, marah dan permusuhan.

Beberapa saat kemudian…

Aku dan Ziza akhirnya bisa juga dudu berduaan tanpa ada seorang pun yang menganggu kami berdua.

Setelah sekian menit kami hanya menghabiskan waktu dengan diam dan menundukkan kepala, akhirnya aku memberanikan diri memulai obrolan yang lebih serius.

“Za… Boleh aku mengatakan sesuatu sama kamu.” ucapku sambil menarik nafas panjang mengurangi kegugupanku yang mendadak hadir.

Ziza hanya menganggukkan kepala, sambil melihat padaku. Beberapa jenak kami berdua saling menatap, tanpa bersuara dan berkata-kata.

“Aku pengen tanya serius sama kamu, Za. Tolong jawab dengan jujur, ya!” kataku melanjutkan kembali percakapan kami yang sempat tertunda sesaat lalu.

Aku melihat ke arah Ziza yang hanya menjawab kembali dengan anggukan kepalanya.

“Apakah benar kamu belum pernah pacaran, Za?” tanyaku sambil terus menatap wajahnya yang tertunduk malu.

Sekali lagi hanya sebuah anggukan kepala sebagai sebuah jawaban darinya.

“Za, aku pun belum pernah mengenal lebih dekat dengan yang namanya perempuan.” ucapku memberitahu. “Namun, setelah melihatmu. Entah kenapa jantungku berdegub kencang? Aku rasanya pengen selalu dekat sama kamu, Za. Jujur saja Za. Beberapa hari ini, aku selalu ingat kamu. Sejak pertemuan pertama kita saat kita tabrakan itu, Za. Sejak itu pula aku tidak bisa berpaling darimu. Aku menyukaimu, Za. Apakah kamu juga merasakan hal yang sama seperti yang kurasakan, Za?”

Lagi-lagi Ziza menjawab hanya menganggukkan kepala. Namun, dari sorot mata dan senyumannya menyiratkan bahwa ia pun mengalami hal yang sama seperti yang kurasakan.

“Za, mungkin ini terlalu cepat buat kita. Namun, aku tidak ingin keduluan sama yang lain.” ucapku mengutarakan perasaanku padanya. Lalu mulai menembaknya. “Apakah kamu mau jadi pacarku, Nur Azizah?”

Ziza seakan kaget mendengar ucapanku barusan. Namun, sesaat kemudian. Ziza mengangguk dan dari bibirnya terucap kata, “Aku mau jadi pacarmu, RAD. Dan bukannya tadi, kamu sudah bilang pada semua teman-teman kelompokku. Bahwa, aku adalah pacarmu, ‘kan.”

Dengan wajah tersipu malu, Ziza kembali menundukkan kepalanya.

“Serius, Za. Kamu nerimaku sebagai cowok kamu.” Tubuhku merapat dan mendekat. Aku mulai memeluk tubuhnya. Dan bibirku mulai menyosor ke pipinya.

—- flashback off —-​

Tiba-tiba….

Plakkk…

“Aduh…!” seruku kesakitan karena ada yang menampar pipiku.

“Hahahaha…” suara tawa pecah di ruangan ini menertawakan diriku.

Seketika aku tersadar dari lamunanku. Ternyata, aku kini berada di kantin bersama ke-5 sahabatku.

“Gila aja kamu bro, mosok gue mau lu sosor. Hah?” omel Cinthunks setelah tadi menampar pipiku.

“Hahaha….” kembali suara tawa sobat-sobatku menggema di ruang kantin ini.

“Sorry, Thunks. Perasaan tadi itu Ziza.” ucapku lirih sambil menundukkan kepalaku.

Mendengarku berkata seperti itu, semua sobat-sobatku berhenti tertawa.

Era dan Gadis segera mendekatiku dan mencoba menghiburku. Mereka berdua ikut meneteskan air mata ketika mendengar kata Ziza barusan.

“Yang sabar ya, Kak,” kata Gadis mencoba menenangkanku, sambil membenamkan kepalaku di dadanya dan mengusap-usap rambutku. “Kami pasti ada untuk kakak. Jangan merasa sedih ya, Kak.”

Gadis dan sobat-sobatku memanggilku kakak mengikuti panggilan di rumahku. Papa, mama dan adik-adikku memanggilku kakak. Jadi mereka ikut-ikutan memanggilku kakak setelah mereka main ke rumahku. Terutama Gadis malah menambahi dengan panggilan kakak pertama.

“Bener, Kak.” sambung Era menambahi. “Kami semua di sini peduli dan sayang sama kakak. Please ya, Kak. Bangkitlah, move on dari masa lalu, Kak. Bahagiakan, orang-orang yang menyayangi kakak.”

Aku mengangguk, sambil terus ber-istighfar mengingat kekuasaan-Nya dan kebesaran-Nya.

Dalam hati aku memanjatkan doa, “Ya Allah, Engkau Maha Kuasa. Tempatkanlah ia di tempat yang teristimewa di sisi-Mu. Ampunilah semua dosa dan kesalahannya. Masukkanlah ia ke dalam golongan yang akan menghuni surga-Mu. Amiin Ya Robbal Alamin.”

—- ©©©© —-

10 orang MABA masuk ke dalam kantin SEMPROT, dengan bergaya sok jagoan dan angkuh. Mereka dikomandoi oleh seorang bernama Ernest Prakasa.

Pada saat itu anak-anak the cegars sedang santai ngobrol ngalor ngidul untuk menghibur RAD yang masih terlihat murung.

Entah karena waktunya yang bersahabat, atau memang sudah digariskan oleh Sang Maha Kuasa. Diwaktu bersamaan RAD melihat kedatangan Ernest bersama ke-sembilan pengikut genknya.

“Bangsat kalian!” seru RAD langsung bangkit dari duduknya. Segera ia berlari memburu Ernest dengan emosi dan amarah yang meledak-ledak.

Sebuah bogem mentah langsung RAD arahkan ke wajah dan perut Ernest. Membuat Ernest hanya bisa mengelak dan berusaha mundur. Melihat Ernest terdesak teman-tematnya berusaha melindungi Ernest dan segera mengepung RAD. 2 orang teman Ernest segera menyerang RAD dengan melancarkan pukulan mengarah ke dagu dan wajah. Namun, dengan santainya RAD mundur selangkah menghindari pukulan kedua orang itu, lalu secepat kilat menyerang balik dengan melayangkan pukulan telak ke ulu hati kedua orang itu. Sehingga membuat keduanya roboh sambil mengerang kesakitan memegangi perut mereka.

Black, Senja dan Cinthunks segera bangkit, sesaat setelah melihat RAD berlari memburu Ernest dan teman-teman genk-nya.

“RAD cepat ringkus pengecut itu.” seru Senja memberitahu. “Biar kami bertiga urus anak buahnya.”

RAD terus saja maju memburu Ernest yang kelihatan panik dan ketakutan. Dia berusaha untuk melarikan diri dari tempat itu.

“Hei, pengecut jangan lari kau, bajingan.” teriak RAD lantang. “Kamu mesti tanggung jawab atas kematian Ziza. Kamu tidak akan bisa lolos lagi sekarang.”

Dalam paniknya Ernest segera mengeluarkan belatinya dari balik bajunya.

“Awas RAD!” seru Black mengingatkan. “Hati-hati, dia bawa senjata tajam!”

RAD terus maju tanpa gentar sedikit pun, senjata yang sedang dipegang oleh Ernest dianggap seperti mainan saja olehnya.

Ernest mengayun-ngayunkan belatinya ke depan sambil terus melangkah mundur. Sementara RAD terus maju dan hanya mengelak dengan memiringkan tubuhnya ke kiri dan kanan hingga sasaran belati yang di arahkan Ernest luput dari sasarannya.

Namun, belum sempat RAD bisa membekuk dan melumpuhkan Ernest tiba-tiba dari arah belakang masuklah seorang gadis.

Menyadari keadaannya terdesak Ernest segera menarik gadis itu lalu mengancam RAD dan teman-temannya untuk segera mundur.

“Kalo lu nekad maju gua habisin gadis ini.” ancam Ernest tidak main-main sambil menempelkan ujung belati itu pada leher sang gadis itu.

Ekspresi gadis itu berubah menjadi pucat pasi, dengan tubuh gemetaran. Gadis itu hanya bisa menangis pasrah di bawah ancaman Ernest.

“Ok, Nest. Aku tidak akan maju lagi.” kata RAD mengalah. “Aku biarkan kau pergi sekarang bersama teman-temanmu. Tolong lepaskan gadis itu!”

Setelah teman-temannya sudah bisa berdiri dan kembali di posisi di belakang Ernest, lalu ia melepaskan gadis itu sambil mengancam RAD dan teman-temannya.

“Ingat kalian semua!” ancam Ernest. “Urusan kita belum selesai, terutama lo RAD. Akan gua buat perhitungan sama lo dan teman-teman lo.”

Ernest dan genk-nya pergi meninggalkan tempat itu.

Gadis, Sadako dan Era segera memeluk gadis yang tadi sempat dijadikan sandera oleh Ernest.

Beberapa saat kemudian….

Gadis itu sudah terlihat tenang, lalu ia memperkenalkan dirinya bernama Farida Fitriani aka Rida, mahasiswa baru jurusan Sastra Indonesia sama seperti Era.

“Kenalin saya, RAD,” serunya sambil mengajak kenalan gadis itu.

“Ciee… Ciee… Kakak pertama dapat cewek baru, nih!” seloroh Gadis menggoda RAD.

“Ehem…” Senja berdehem ikut juga menggoda RAD.

“Nah gitu, RAD!” Black ikut-ikutan nimbrung menggoda.

“Sikat, Bro!” bisik Cinthunks. “Cantik anaknya, kalo bro nggak mau buat gue aja ya.”

Rida tampak tersipu malu, sementara RAD hanya bisa geleng-geleng kepala melihat keusilan sahabat-sahabatnya.

Bersambung

END – 6 Teman Teman Part 8 | 6 Teman Teman Part 8 – END

(6 Teman Teman Part 7)Sebelumnya|Bersambung(6 Teman Teman Part 9)