6 Teman Teman Part 7

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21

6 Teman Teman Part 7

Start 6 Teman Teman Part 7 | 6 Teman Teman Part 7 Start

“Wahai angin.. kirimkan seorang utusan putri cantik berdada montok untukku; juga bidadari yang membawakanku sajian bakwan untuk mengisi perutku ini.” Aku membatin sambil duduk di bawah pohon kenari, di belakang sekolah.

Sejak kemarin, aku selalu menghabiskan jam istirahatku di sini. Ke kantin aku tak punya uang; mau pinjem aku belum punya teman; mau ngutang masih belum kenal dengan si ibu kantinnya. Dan.. yang paling utama, aku tidak mau berkeliaran karena menghindari seseorang. Seorang cewek yang minggu lalu kupalak di depan kompleks; tak jauh dari kosanku. Sial.. ternyata ia adalah Sadako, kakak kelas di sekolah ini. Lebih sial lagi karena ia adalah panitia MOS.

Tampangnya memang manis dan bohay, dadanya jumbo, bibirnya tebal menggoda, dan bokongnya selalu membuat tangan gatal pengen meremasnya. Tapi sifatnya berbanding terbalik dengan bodinya. Kemarin aja banyak siswa baru yang ia hukum; lebih parah lagi… bahkan ada seorang cewek imut yang malah disuruh membersihkan kebun di belakang sekolah.

Dan tadi pagi, teman sekelompokku dihukum karena salah membawa property MOS. Ia bukan membawa tas yang terbuat dari kardus, tapi malah membawa tas kresek. Kalau gak salah namanya Pentung, eh siapa tadi namanya… lupa… sudahlah…

Tak terbayang kalau Sadako sampai melihatku, mungkin aku bukan hanya dihukum, tapi disumpal pake toketnya yang super jumbo. Hehe.. Ngimpi sih.. yang ada malah disuruh membersihkan semua kelas di sekolah ini pake celana dalamnya.

Kusapu pandanganku ke sekitar rumput, siapa tahu menemukan puntung rokok yang masih bisa kuhisap. Bersih… tak ada satu pun puntung yang terlihat.

Dengan menarik nafas panjang, kupejamkan mataku sambil mengusap perut yang kukuruyuk minta diisi.

“Manis juga,” aku membatin sambil membayangkan kembali wajah Sadako saat kupalak seminggu lalu.

“Maaf mbak, boleh gue numpang tanya gak?” Aku mendekati sosoknya. Nampak wajahnya memerah karena sengatan terik matahari.

“Iyah?” Ia bertanya sambil melihat nyinyir penampilanku.

“Anu.. kalau mau nyari warteg sekitar sini sebelah mana ya?” Tanyaku sambil melihat dadanya yang jumbo. “Njiiir… ini kalo jadi cewek gue pasti sarungan terus tiap hari.” Aku membatin.

“Ada noh.. di ujung jalan sana.” Ia menjawab sambil menunjuk ke arah kanan. Ia nampak risih karena sorot mataku yang terpaku pada dadanya.

“Makasih, ya mbak.” Aku berlagak seolah mau berjalan ke arah yang ia tunjukkan. Tapi baru selangkah, aku kembali membalikkan badan sambil menepok jidat.

“Eh lupa.. sorry mbak.. kalau makan di sana harus bayar ya?”

“Mau lu apa sih?” Si cewek tiba-tiba sewot.

“Idiiih.. galak banget sih, mbak. Gue kan cuma nanya.”

“Orang ****** juga tahu kalau makan, ya harus bayar.” Ia semakin galak dan judes.

“Pantesan dadanya jumbo, rupanya menjadi karung tempat ia menyimpan kosakata kasar yang sewaktu-waktu bisa nyembur dari mulutnya.” Aku membatin lagi.

“Hehe.. berarti gue gak ******, ya mbak. Soalnya gue gak ngerti kalau harus bayar. Ya udah atuh… mana mbak?”

“Apaan??”

“Uangnya, kan kata mbak harus bayar.”

“Heh! Lu jangan macem-macem yah!! Atau gue teriak nih.”

“Ooops.. tenang mbak. Tenang… Gue gak punya maksud jahat.. tadi cuma canda aja kali.. gitu aja diambil ati. Gue cuma bermaksud mau nuker uang aja kok, mbak.”

Kurogoh kantong celanaku dan mengeluarkan uang lima ribu perak. Satu-satunya sisa uang yang kumiliki. Sementara si cewek mundur satu langkah sambil mengamatiku penuh curiga.

“Kalo gue nuker uang boleh? Gue mau naik bajaj, mbak. Panas banget.”

“Lu jangan modus ya..” Ia makin galak. Lalu lanjutnya, “Lu jadi cowok cemen banget sih… Cuma deket gitu pengen naik bajaj. Lagian kalau lu naik bajaj, kan nanti juga dikasih kembalian.”

“Bukan gitu, mbak. Kalau gue kasih lima ribu, pasti sopirnya cuma kasih kembalian dua ribu. Tekor kan gue. Pliiis, mbak.” Aku menyodorkan uang yang ada di tanganku.

“Rese lu…” Si cewek ngedumel sambil mengeluarkan dompet dari tas kecilnya.

Dengan kecepatan yang telah terlatih segera kurebut dompetnya, dan mencabut lembaran uang yang ada di dalamnya. Segera kulempar kembali dompet ke arahnya, tanpa mengiraukan teriakannya. Jurus langkah seribu pun kulakukan…

Kudengar suara langkah yang mendekat. Dengan malas kubuka mataku dan…

“Lu…!!!”

“Kak Sadako!”

Sontak aku langsung berdiri dan mundur. Sial… orang yang selama ini kuhindari kini sedang berdiri di hadapanku. Matanya terbelalak antara kaget, geram, dan juga marah. Bungkusan gorengan terjatuh dari tangannya.

“Jangan lari lu!!” Bentakannya membuatku urung melarikan diri.

“Lu.. lu kan yang maling duit gue waktu itu?” Wajahnya berubah ganas.

“Saya…?? Saya siapa? Kakak siapa? Kita kenal di mana??”

“Gak usah pura-pura bego, lu!” Hardiknya.

Plakkk!!!

“Balikin duit gue sekarang!”

“Tapi kak.. Saya tidak…”

PLAAAAK!!!!

Sumpah.. tamparannya kali ini keras banget. Perih nih pipi. Sepintas mataku melirik ke arah gorengan yang berserakkan di atas rumput. Dengan cepat aku berlutut dan pura-pura bersujud di atas kakinya.

“Iya.. iya.. saya ngaku salah. Maafkan saya, ya kak. Pliisss.. jangan laporin saya ke kepala sekolah.” Aku memohon, sementara dua buah bakwan sudah berhasil masuk ke dalam kantong seragamku. Haap.. kulahap gorengan ketiga.

“Berdiri lu!!”

Segera kupeluk kakinya sambil mengunyah gorengan secepat mungkin. Leeep… kutelan dengan cepat.

“Ampuni saya, kak.. ntar uang kakak saya ganti.” Aku terus memohon sambil tengadah tanpa melepaskan kakinya. Anjiiiirrrr… celana dalamnya merah boo.

Pletaaak!

Buuuk!

Hmmmf.

Bleeeef.

Aku sukses terjengkang karena jitakan, pukulan dan tendangannya. Kepalaku terasa limbung.

Serangkaian makian dan kata-kata kasar pun mampir ke telingaku. Belum juga aku berhasil menguasai diri, kerah bajuku sudah ia tarik.

“Anjing lu!!” Ia menyumpahiku bersamaan dengan sebuah tamparan keras.

“Parah ni betina.” Aku memaki dalam hati. Kalau saja ia bukan cewek pasti sudah kuhabisi dengan hanya sekali pukulan. Seketika otakku bekerja, dengan cepat aku pura-pura terhuyung dan mencari pegangan. Targetku tentu saja toketnya yang berukuran brutal.

Huuuufff…

Nyuuut… Nyooooy… Sumpah empuk banget.

Dengan sedikit remasan aku menjatuhkan diri ke samping, dan tanganku yang satunya mencari pegangan yang lain.

“Bangsaaat!!” Sadako berteriak sambil menepis tanganku.

Huuuufff…

Kali ini aku berhasil meremas bokongnya.

“Anjiiing!!!” Sadako semakin berteriak seiring dengan jatuhku ke tanah; tentu saja jatuh yang kubuat-buat.

“Bangke lu!!! Monyet!! Kampreeet!!!” Kata-kata kotor membuncah dari mulutnya.

Hmmmmfff…

Sebuah injakan mendarat di perutku.

“Heeeekkk… Oeeek…” Mau tidak mau aku ngejen karena menahan sakit.

Segera kutahan kakinya agar bisa mengurangi hentakkan yang ia lakukan.

“Heiii… stop!!!”

Kulihat dua orang murid baru, Pentung dan Soraya, berlari ke arah kami. Lumayan ada beberapa detik, si mak lampir cantik menghentikan injakkannya ketika menengok ke arah datangnya suara. Dengan cepat kudorong kakinya ke samping. Sial baginya dan hikmah bagiku, ketika tubuhnya tiba-tiba oleng dan terjatuh menimpaku. Dengan cepat kutangkap dan kutahan bahunya sambil memposisikan wajahku.

“Aaaaah… siaaalaaan.” Makinya.

Bleeef. Nyuuut. Nyoooy. Kedua tetek besar menimpa wajahku. Aku bagai tertimpa dua buah balon berisi air. Kenyal, sedap, nikmat. Meski hidungku sedikit sakit dan nafasku terasa engap, tak mau kulewatkan momen indah ini, segera kulepaskan kedua tanganku dari bahunya, membuat wajahku makin terbenam di belahan dadanya.

Namun kenikmatan yang kurasakan membuatku lengah, tanpa sadar Sadako segera bangkit.

Plak. Plak. Plak.

Sumpah serapah dan tiga tamparan keras membuatku benar-benar limbung. Syukurlah penderitaanku segera berakhir, ketika dua sosok yang tadi berteriak menarik tubuhnya, membuatnya terjengkang.

Njiiiirrrr… pahanya ngangkang. Celana dalam berwarna merah sangat kontras dengan kulit pahanya yang hitam manis. Nonok-nya menggelembung sebesar tangkupan telapak tangan. Mataku menjadi nanar, dan tanpa sadar air liurku menetes.

“Maaf kak.” Si Pentung meminta maaf kepada Sadako sambil membantunya berdiri.

“Monyet.. mesum.. bajingan.. kampret..” Sodaku memaki. Wajahnya merah padam karena amarah dan malu.

“Awas ya kalian bertiga.” Ia menghardik sambil membereskan pakaiannya.

“Dan lu…” Ia menunjuk wajahku dengan jari gemetar, “Urusan kita belum selesai. Besok lu harus temui gue seusai MOS sambil membawa uang yang lu curi. Tiga kali lipat..!!! Kalau tidak, lu akan merasakan sendiri akibatnya.” Ia terus nyerocos, lalu bergegas pergi setengah berlari. Aku yakin ia tidak mau berlama-lama karena malu perabotannya sempat kugrepe dan kutelanjangi dengan mataku.

“Makasih ya.” Aku memandang dua orang penyelamat yang sedang mematung karena masih shock mendengar ancaman si balon besar.

“Heh.. Lu kenapa, bro, ampe bisa berususan ama tuh curut?” Si cowok bertanya sambil membantuku duduk. Tanpa persetujuannya kuambil botol minumnya dan kutenggak sampai habis setengahnya.

CINTHUNKS

ERA

Segera kutahu nama mereka dari identitas yang menggantung di dada mereka. “Ternyata namanya bukan Pentung dan Soraya,” aku berkata dalam hati.

“Lu gak knapa-napa kan, bro?” Era menatapku tajam.

“Cantik juga ni cewek.. sayang dadanya flat. Apa yang bisa dikenyot kalo kagak ada isinya gitu.” Aku membatin.

“Heh!! Ditanya malah mesum.” Wajah Era berubah kesal.

“Hehee.. sorry. Abisnya…”

“Apa?? Mau bilang toket gue kecil?? Rese lu!!!”

“Sudah-sudah..” Chintunks menengahi sambil memberi kode ke arahku dengan menangkupkan telapak tangannya seolah mengamini kalau toket ni cewek emang kecil.

“Gue Chintunks.” Ia memperkenalkan diri.

“Gue Era. Nama lu siapa?” Era masih tampak kesel.

Aku hanya diam sambil membetulkan name tag kartonku yang terbalik.

“Bwahahahaha…” Cinthunks dan Era tiba-tiba tertawa keras.

“Kenapa kalian ketawa. Ada yang salah dengan nama gue?” Aku garuk-garuk kepala bingung.

Sambil tetap tertawa, Cinthunks mengangkat kertas karton di atas dadaku dan mengambil gorengan dari saku bajuku.

“Parah lu. Masa gorengan dikantongin.. bwahahaha…” Cinthunks makin ngakak, demikian juga Era. Segera kurebut kembali gorengan dari tangannya dan kumasukan ke dalam mulutku sekaligus.

““Sooyiii.. guo lapor bongot. Doro pego bolom makon.” Jawabku.

“Bwahahaha.. udah lu telen dulu tuh makanan.” Era menyuruhku sambil menyodorkan minuman yang tinggal setengah.

“Monyet… itu kan air minum gue.” Cinthunks yang baru menyadari kalo minumannya tadi kuembat balik sewot.

Setelah berbasa-basi kenalan, Cinthunks mengeluarkan sebatang rokok mild dan menyalakannya. Secara bergantian kami berdua pun menghisapnya.

Entah kenapa, kami tiba-tiba bisa langsung akrab. Kuceritakan masalahku dengan Sadako mulai aku memalaknya sampai kejadian barusan. Sementara Cinthunks dan Era juga menceritakan ketidaksukaan mereka terhadap tuh nona balon sampe Cinthunks menguncinya di WC sekolah. Kini kami seolah disatukan oleh masalah yang sama: Sadako.

“Sekali lagi makasih ya atas bantuan kalian berdua. Besok kayaknya gue gak akan masuk MOS.” Aku menarik nafas panjang sambil menyerahkan rokok ke Cinthunks.

“Loh.. kenapa lu gak masuk?” Era menatapku bingung.

“Lah kalian kan denger sendiri ancamannya tadi. Gue gak mungkin mendapatkan uang sebesar itu dalam waktu sehari.”

“Emang duit yang lu palak berapa?” Kali ini Cinthunks yang bertanya.

“76 rebu. Lah kalo dikali tiga jadi berapa tuh. Segitu aja gue gak mungkin mendapatkannya, apalagi tiga kali lipat.”

“Hahaha.. lu kere banget ternyata.” Cinthunks mengejek.

“Njiiir… Gue kere karena ngekos sendiri. Gak betah gue tinggal ama mamang dan bibi gue.”

“Udah tenang aja. Gue ama Era akan bantu. Bener kan, Ra?”

Yang ditanya hanya mengangguk.

“Serius?” Aku melonjak senang.

“Iyeee.. lu nyantai aja. Besok pagi kita ketemu di depan gerbang sekolah.” Era menjawab.

“Makasih, ya Nthunks.” Aku menyalaminya.

“Makasih tocil.” Aku menyodorkan tangan ke arah Era.

Plak!

“Rese lu.. udah dibantu malah ngelunjak.”

“Njir… Sorry, Ra. Maksud gue bilang tocil kan bukan toket lu, tapi tomat kecil. Alias toket lu emang cuma segede tomat.”

Sebelum ditabok untuk kedua kalinya, aku segera berlari ke arah lapangan sambil tertawa. Era menyusul sambil memaki, dan Cinthunks mengikuti sambil juga tertawa.

“Guys.. kita dapat masalah baru. Kita terlambat sepuluh menit.” Kataku tanpa menghentikan lariku.

“Anjrit!!” Era dan Cinthuks memaki, ketika menyadari kami bertiga akan mendapat hukuman lagi.

Bersambung

END – 6 Teman Teman Part 7 | 6 Teman Teman Part 7 – END

(6 Teman Teman Part 6)Sebelumnya|Bersambung(6 Teman Teman Part 8)