6 Teman Teman Part 6

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21

6 Teman Teman Part 6

Start 6 Teman Teman Part 6 | 6 Teman Teman Part 6 Start

Pagi ini adalah Masa Orientasi Siswa (MOS) hari kedua, setelah kemarin hanya diisi oleh sambutan-sambutan dan pengenalan lingkungan sekolah baruku.

Hari ini seluruh siswa baru yang mengikuti MOS diwajibkan berkumpul di lapangan, aku melihat banyak juga siswa yang diterima di SMA ini.

Aku melihat cewek sombong kemarin, sedang celingak-celinguk sendiri, kalau aku sudah kenal sama dia pasti udah aku ledek dengan kata kata: “Mbak, rupamu koyo kethek ketulup nek clingak clinguk ngono” (Mbak, mukamu seperti monyet kena sumpit kalau celingak celinguk seperti itu).

Dia memang tinggi, kuperkirakan tingginya 168 cm, malah mirip tiang listrik di antara anak-anak yang lain.

Wajahnya cantik dengan janggut yang lancip, rambutnya dikepang dua dengan pita biru mengikat di atasnya.

Sayang dadanya sedikit rata, over all nilai 8,5 kusematkan padanya, meskipun harus aku kuranggi 2 poin karena sikapnya yang songong dan jutek; dan dikurangi lagi 1,5 karena dadanya flat.

Aku asyik dengan imajinasiku sendiri saat pihak panitia memberi pengumuman acara hari ini. Aku masih saja melihat cewek-cewek siswa baru, banyak juga yang masuk radarku.

Aku melihat cewek di samping si songong, body-nya bagus banget, dadanya bidang, rambutnya hitam dan cepak, waiiit.. aku ternyata melihat terlalu ke kanan, aku putar kepalaku sedikit ke kiri.

“Naah ini baru pas.” Aku melihat cewek yang berada di samping si songgong, body-nya bagus banget, toketnya mantap, taksiranku sih mungkin cup B atau bahkan lebih. Wajahnya manis dengan kulit putih, “kimcil detected,”otakku langsung merespon cepat informasi yang didapat oleh mataku.

Tibalah saat pembagian kelompok, aku masuk ke kelompok bebek goyang yang terdiri dari 20 siswa, “Damn, kenapa aku harus satu kelompok dengan si songong, kenapa bukan cewek yang di sebelahnya tadi,” makiku dalam hati.

Dan ternyata aku juga satu kelompok dengan cowok yang pada hari pertama masuk sekolah aku tabrak sampai terjatuh dan tertindih oleh cewek di depannya. Aku akhirnya meminta maaf kepadanya saat proses perkenalan.

Aku langsung saja berkenalan dengan teman sekelompokku yang lain setelah berkenalan dengan RAD dan meminta maaf atas kecerobohanku kemarin, ya nama cowok yang aku tabrak adalah RAD aka Rizki Ahmad Darmadji, setelah berkenalan dengan yang lain, pandanganku terpaku pada si cewek jangkung tadi entah kenapa si cewek jangkung terlihat enggan berbaur dengan kami.

Tugas pertama kami adalah meminta tanda tangan kepada para senior, dan tugas tersebut sukses aku jalankan, aku kemudian berjalan menuju ke bawah pohon besar, di sudut lapangan sekolah, untuk berteduh.

Saat asik berteduh dan menikmati semilir angin pagi, tiba-tiba duduklah si cewek jangkung tadi di sampingku. Ia kelihatan jutek dan kelelahan, bibirnya nampak kering. Kuberanikan diri untuk memberikan minuman dinginku kepadanya.

“Nih.. loe minum ni aja dulu,” kataku.

“Iyaaa.. makasih ya…” jawab dia malu-malu.

“Ngomong-ngomong, nama loe siapa bro..?” tanya dia lagi.

“Panggil aja gue Ntunks, bray. Pake ’s’,” jawabku sambil mengulurkan tangan untuk bersalaman.

“Oowwhhh… okelah bro… gue Era…panggil aja kek gitu,” jawabnya sambil menyambut uluran tangannya.

“Eh Ntunks… loe uda kenalan sama anggota kelompok kita yang lain belum sih?” tanya Era lagi.

“Uda dong brayyy… kita kan sekelompok… harus saling kenal dulu lah..” jawabku dengan sedikit songong

“Yaaahhh… telat gue… gue belum kenalan brooo… secara gue malu, lagian itu anak-anak tampangnya serem gitu,” jawab Era lagi.

“Yaaaelaaahhhh brayyyy… santai dikit napa?? Pada asik-asik kok… itu banyak cewek juga lho di kelompok kita.. orangnya asik kok..” ujarku.

“Ooooo gitu yaaaa… hheemmmm okelah brooo.. ntar gue kenalan deh…eh tapi… anu… loe temenin gue doongggh, plisss yah… pan loe udah kenal mereka..” pintanya sedikit manja.

“Rebessss.. itu mah gampang bray.. ntar gue temenin…” jawabku datar sambil tersenyum ramah.

“Sippppp… makasih lho broooo.. makasih banget,” katanya sambil tersenyum manis.

“Eeeeh.. ni anak lumayan juga,” pikirku dalam hati.

Setelah obrolan singkat itu, aku langsung saja kembali mengambil buku sketsaku dan iseng menggambar di sana.

“Eeeeh tapi kenapa aku malah menggambar wajah manis si Era yaa,” aku merasa heran sendiri.

Dan Era yang duduk di sampingku, terlihat melamun sambil memainkan ujung rambutnya.

“Fix, Era manis banget kalau begini,” batinku.

Tiba-tiba sepasang senior mendatangi kami dan langsung membentak-bentak Era karena salah membawa tas yang harusnya terbuat dari kardus mi instant, tetapi Era malah membawa tas kresek hitam besar yang diberi tali rafia sebagai selempangnya.

Kasihan juga lihat wajah Era yang ketakutan seperti itu.

“Maaf kak, itu sebenarnya tas saya, tasnya Era yang ini,” ujarku ke kakak senior cewek berdada besar yang sedang membentak Era, sambil menunjukkan tasku yang kutaruh di sebelah kiri Era.

“Beneran itu tas dia?” kata kakak senior tadi sambil menunjuk ke wajah Era.

“Bener kak, kalau mau dihukum, hukum saya saja, jangan Era,” jawabku sedikit keras karena tingkah sombong seniorku itu.

“Yaa udah push up kamu 10x sama, sit up 10x, cepet ga pakai lama!” ucap kakak senior.

Langsung saja aku melaksanakan hukuman kakak senior itu, supaya dia cepat berlalu dari hadapan kami, eneg juga lihat mukanya.

“Besok awas kalau kamu masih salah membawa perlengkapan, aku akan awasi kamu terus,” ancam kakak senior cewek tadi.

“Loe gak apa-apa Nthunks? Maaf ya, gara-gara gue, loe jadi kena hukuman senior,” kata Era dengan sedih.

“Gak pa-pa, Ra. Santai aja, tapi dendam juga gue sama cewek tadi,” kataku sedikit emosi.

“Udah ah Nthunks, jangan emosi, kan emang gue yang salah, emang mau loe apain tu kakak kelas?” tanya Era sambil mengusap sedikit air di ujung matanya.

“Pingin tak beri yang enak-enak biar dia ketagihan,” ucapku kemudian.

“Emang diberi apa kok sampai ketagihan?” Tanya Era lagi dengan muka polosnya.

I’ll be damn, wajah Era cantik sekali saat itu.

“Eee apa itu, anu itu eee, yaa anu tak beri sosis Ra, biar dia ketagihan rasanya, dan minta lagi,” jawabku berbohong karena binggung mau jawab apa.

“Nthunks, anak e wong isih polos ojo mbok rusak, cukup kowe wae sek rusak”(Nthunks, anak orang masih polos jangan kau rusak, cukup kamu saja yang rusak), kata nuraniku bijak.

“Trus gue gimana besok, Nthunks?” Tanya Era sambil menekuk mukanya.

“Udah.. tas itu buat loe aja, nanti gue bikin lagi, gampang..” ucapku.

“Beneran Nthunks, makasih banyak yaaa,” jawabnya sambil menggengam kedua tanganku.

“Iyaa beneran,” jawabku. Gak rela sih, tapi gak pa-pa karena bisa lihat senyum manisnya, dan merasakan tangannya yang halus.

Aku dan Era kemudian berjalan menuju kantin, karena waktu istirahat sudah diumumkan. Saat berjalan ke kantin, aku melihat kakak senior yang tadi memberiku hukuman, sedang berjalan memasuki toilet.

“Ini kesempatan buat balas dendam,” ucapku dalam hati.

“Ra, loe tunggu sini bentar ya, awasi keadaan jangan sampai ada yang lihat, apa yang akan gue lakukan,” kataku pada Era.

”Emang mau apa sih, mau ngintip yaa?” sergah Era.

“Nggak, ngapain ngintip, bisa bintitan tau, udah diem aja, liat aja nanti,” jawabku sambil tersenyum licik.

Aku kemudian menuju bilik toilet, tempat si senior tadi masuk. Kulihat kunci di pintunya, pas ini model lama yang ada gembok di luarnya.

Aku kemudian kembali keluar dan berlari menuju tempat sampah, kukorek tempat sampah itu, akhirnya aku menemukan sedotan dan tusuk sate bekas sosis bakar.

Aku bergegas kembali ke dalam toilet tadi, Era yang melihatku masih menampakkan wajah kebinggungannya.

Dengan hati-hati, aku segera memasukan selot gembok ke tempatnya, dan menguncinya dengan sedotan yang diikat, ditambah tusuk sosis tadi. Setelah kurasa kuat, aku segera berdiri kembali.

Seeeerrrr… seeerrrr…

Kudengar suara air mengucur dari dalam.

Dengan penasaran aku mengintip dari lubang kecil di sisi kiri pintu, yang terbuat dari triplek. Kulihat si toge lagi duduk di atas kloset, sambil buang air kencing, roknya digulung sampai ke pinggang. Pahanya putih dan mulus, wajahnya menunduk sambil memainkan hape di tangannya, sehingga membuatku merasa aman, tidak akan ketauan.

“Asuuu, jembute ketel men, lah.. dibentuk huruf “V” sisan, kui jembute lurus ora kriting, opo di smoothing yo?” (Anjing, jembutnya tebal banget, lhah… pake dibentuk huruf “V ” segala, tuh jembut bisa lurus ga keriting, apa di smoothing ya), ujarku dalam hati.

Mataku nanar melihat pemandangan yang menakjubkan itu. Di bawah jembutnya, nampak air kencingnya mengucur dari sela bibir kemaluannya yang tebal. Aku jadi ingat video bokep yang pernah kutonton, saat si cewek squirt saat colmek. Njiiir.. jantungku jadi berdegup kencang, dan Cinthunks junior terasa sakit, karena konak di dalam kolor warna kuningku.

Kuselesaikan aksi mengintipku karena ingat Era sedang menunggu. Aku segera menemuinya yang sedang berdiri di depan toilet.

“Muka loe kenapa, Nthunks?” Era melihat wajahku dengan heran.

“Eh anu, itu apa, emangnya kenapa?” aku menjawabnya gugup.

“Loe abis ngintip ya, tuh muka loe mupeng gitu?” Era makin menyelidiku.

“Nggg… nganu.. nggak Ra. Beneran nggak.. gue masih deg-degan aja karena takut ketauan,” aku beralibi.

“Udah ah.. ayo sebelum ketauan.”

Aku cepat-cepat menarik tangan Era menuju kantin, untuk sekedar menyembunyikan kegugupan dan rasa maluku.

Di kantin, aku dan Era langsung saja mengambil makanan yang disajikan, jujur saja tadi pagi aku belum sarapan, karena kantong lagi tipis.

“Loe kunciin dia dari luar, ya Ntunks?” Tanya Era setelah berada di kantin.

“Iya, salah sendiri galak bener, baru jadi senior aja lagaknya kaya putri raja,” jawabku sambil senyam-senyum sendiri.

Kumasukkan gorengan ke dalam mulutku dengan lahap. Era yang melihatku melahap gorengan seperti kesetanan hanya tersenyum kecil.

“Loe laper apa doyan, Ntunks? Makan aja gak pake dikunyah,” seloroh Era.

“Laper Ra, tadi belum sarapan gue, dompet lagi tipis,” kataku kepadanya.

“Ya udah makan yang banyak, gue yang bayarin,” ujar Era sembari tersenyum manis melihat kerakusanku.

“Beneran Ra? Serius loe?” tanyaku yang dijawab dengan anggukkan kepalanya.

“Kalau habis banyak, jangan salahin gue lho, kan loe yang nawarin tadi,” kataku lagi. Era hanya menjawab dengan menganggukan kepalanya lagi, persis boneka yang mempunyai per di kepala.

“Buk, nasi soto 2 mangkok, sama air mineralnya 3 botol, ya buk. Airnya yang dingin aja, mumpung dibayarin mbaknya yang ini,” kataku pada bu kantin, dengan pedenya, sambil menunjuk ke arah Era.

Era melongo melihat pesananku tadi.

“Itu perut apa gentong air Ntunks, makan kaya orang puasa satu minggu?” kata Era penuh heran.

“Buat persediaan Ra, siapa tahu nanti malam gue gak bisa makan,” selorohku yang diikuti dengan gelengan kepala Era, karena mendengar jawabanku itu.

Saat makan Era tiba tiba mengambil tissu di depanku, lalu mengelap ujung bibirku yang terdapat butiran nasi.

“Kalau makan jangan belepotan Ntunks, jorok tau.” kata Era kepadaku sambil tersenyum manis.

“He eh.. makasih, Ra.”

“Perhatian banget ni cewek, apa aku embat juga ya, manis sih tapi kenapa dadanya tidak sesuai kriteriaku sih,” ujarku dalam hati.

Selesai makan, aku dan Era kemudian meninggalkan kantin sambil aku menenteng 2 botol air mineral sisa tadi.

“Ra, ke belakang sekolah yuk, mumpung waktu masih panjang ini.” ajakku ke Era.

“Mau ngapain ke belakang sekolah? Loe mau modusin gue ya?” Kata Era penuh curiga.

“Buseeeet ni cewek peka banget ya,” kataku dalam hati.

“Ngak lah Ra, gue mau ngerokok bentar, asem nih mulut, wis mangan ‘ra ngudud rasane eneg (habis makan gak ngerokok rasanya eneg),” jawabku penuh alibi.

“Bener ya cuman ngerokok, awas aja kalo loe macem-macem,” ancam Era.

“Pedhe loe, sok kecantikan,” ucapku perlahan dan sukses dibalas Era, dengan toyoran di kepala belakangku.

Aku dan Era kemudian menuju ke belakang sekolah.

Tiba-tiba dari kejauhan aku melihat Mrs. Squirt, yang aku kunci di toilet tadi, sedang menendang dan memukuli seorang cowok. Siswa baru yang aku kenali dari atribut seragamnya.

“Buseeet.. gimana caranya ia bisa keluar dari toilet,” kataku dalam hati.

Dan ternyata cowok yang dipukuli itu adalah teman satu kelompokku, kalau tidak salah namanya Senja Prihatin, atau Soraya Prihatin, atau apa tadi, aku lupa.

“Ra, tuh ada yang dipukuli sama senior sombong tadi, kita pisahin yuk Ra, kasihan anak itu kelihatannya,” kataku kepada Era.

Tanpa sadar aku menuntun tangan Era, dan berlari menuju ke kakak senior yang sedang kalap. Era pun hanya mengikutiku dari belakang.

Bersambung

END – 6 Teman Teman Part 6 | 6 Teman Teman Part 6 – END

(6 Teman Teman Part 5)Sebelumnya|Bersambung(6 Teman Teman Part 7)