6 Teman Teman Part 5

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21

6 Teman Teman Part 5

Start 6 Teman Teman Part 5 | 6 Teman Teman Part 5 Start

Lokasi: SMA Semprot

Hari kedua MOS, rasanya nano-nano buat gue. Badan gue masih remuk redam akibat kegiatan hari pertama, tapi disisi lain, gue masih penasaran dengan sekolah baru gue terutama dal hal menemukan cowok impian gue yang bisa gue jadiin kecengan, atau paling gak, jadi bahan penyemangat buat gue untuk berangkat ke sekolah setiap harinya. Masa iya sekolah dengan jumlah siswa ratusan kek gini gak ada koleksi cowok gantengnya??!. Selain itu, gue juga pengen nyari temen, karna masa SMA adalah masa terindah, dan gue gak mau melewati tiga tahun ini dengan sendirian. Gue harus punya temen yang keren, kece, gaul, pinter, cetar, dan gokil, dan harus nakal juga dong tentunya, biar ada seninya gitu deh.

Tepat pukul 07.30 pagi, gue bersama seluruh murid baru berkumpul ditengah lapangan sekolah. Gila, ternyata banyak juga murid baru sekolah ini. Gue bisa memandang dengan leluasa karna faktor fisik gue. Dengan tinggi 168cm, gue jadi seperti tiang listrik diantara kurcaci. Dan sejauh ini, mata gue belum menemukan makhluk indah yang seperti gue bayangin dari rumah.

Gue masih heran, di era merdeka seperti ini, kenapa gue mesti terikat dengan aturan MOS yqng konyol ini. Gue bilang konyol karna semua peraturan itu bener-bener menghilangkan aura kecantikan gue. Pertama, rambut gue kudu di kepang dua dengan pita warna biru, padahal gue pengen rambut Indah gue di urai, biar gue bisa pamerin rambut, dan gue gak suka warna biru. Kedua, gue kudu pakai tag name segede gaban dari kardus bekas dan di gantungin di leher gue pake tali rapia. Helloowwww… yaaaooloohhh…ini jaman modern cyyyiinnn..tag name uda keren-keren bentuk dan bahan bakunya. Ketiga, yang paling gak banget, gue harus pake tas yang terbuat dari kresek warna item ukuran besar sebagai wadah untuk buku-buku gue. Gue yakin, sekarang gue bukan bidadari lagi, tapi berubah menjadi babu.

Sambil berbaris rapi, kami mendengarkan kata sambutan yang panjangnya tiada tara dan lebarnya tiada terhitung. Detik-detik paling membosankan pun dimulai ketika gue mulai denger celoteh kepala sekolah

“Selamat pagi anak-anak bla bla bla bla…” selama hampir 15 menit. Gilaaa!, gue bosen denger itu pidato, ditambah lagi mata gue sepet karna gak ada cowok keren yang nampak.

Setelah selesai sesi pidato, seorang guru kembali tampil ke depan dan membagi para murid baru kedalam kelompok-kelompok kecil. Dan setelah beberapa saat, gue denger nama gue di sebut.

‘Era kusumawardhani, kamu masuk kelompok bebek goyang’.

Entah gue harus senang atau nangis sambil guling-guling, tapi itulah nasib apes yang udah gue bayangin. Dan selanjutnya ketakutan gue menjadi nyata. Diantara ke ke duapuluh orang anggota kelompok gue, gak ada cowok yang bisa jadi kecengan gue, atau minimal jadi bahan buat cuci mata. Wajah mereka pada serem mirip garong dan yang bikin makin miris, si cowok buncit itu jadi satu kelompok dengan gue. Penderitaan gue sedikit terobati berkat kehadiran beberapa cewek lain di dalam kelompok kami. Salah satu di antaranya, bakal bisa jadi saingan buat gue kalo ada pemilihan Miss SMA Semprot.

‘Yawalllaaaaahh, dosa apa sih gue?’ teriak gue dalem hati. Gak ada satupun tampang yang ramah dan teduh di kelompok. Inilah nasib gue, dan gue harus siap menjalaninya.

Kegiatan pertama tentu saja saling berkenalan dengan sesama anggota kelompok. Tengsin luar biasa, itulah yang gue rasain. Selain tampang gak enak, mereka semua sama cueknya ke gue. Mereka semua nampaknya masih canggung untuk mulai mengakrabkan diri, sehingga kami lebih banyak diam dan larut dalam pikiran masing-masing.

Sesi selanjutnya adalah berburu tanda tangan para kakak kelas, yang menurut Kebanyakan orang adalah untuk mengakrabkan diri dengan para senior.

Bagi gue, inilah saat berburu makhluk ganteng impian gue dan sekaligus mencari teman baru lainnya yang tampangnya lebih beradab dan manusiawi. Mencari seratus tanda tangan selama tiga hari bukanlah hal yang sulit buat gue, apalagi jumlah murid di sekolah ini sangatlah banyak. Dan benar saja, hanya dalam tempo tak kurang dari limabelas menit, gue mampu ngumpulin sembilan tanda tangan dan satu diantaranya adalah si cowok yang kriterianya nyaris menjadi buruan gue. Tinggi, rada putih, rambut cepak dan rapi, lengan kekar, dan dengan senyum yang mampu membuat jantung gue berdebar.

“Permisi kaka, ade boleh minta tanda tangannya?” kata gue dengan lembut.

“Ohhh..boleh-boleh”jawabnya antusias.

Gue sodorin lembar kertas untuk tanda tangan dengan gugup. ‘yaaawaallaaaa… suaranyaaaaaa..ngebas gitu…melehhhhhh bang…adek melelhhhhh..’ jerit gue dalam hati.

Gue perhatikan wajahnya saat menuliskan nama dan tanda tangannya. Agus Putra Pramana, kelas 2A. ‘Okey, target founded and locked’ guman gue dalam hati.

“Nama kamu siapa dek?”

“Era kak, Era kusumawardhani” jawab gue dengan berusaha selembut mungkin.

“Agus” katanya sambil mengulurkan tangan untuk bersalaman.

‘Omeeeejiiiii…yaaawalaaaa…jangan dilepas sampe besok kkkaaaa, adek ikhlas lahir batin’ lagi-lagi gue ngejerit histeris dalam hati. Genggaman tangannya sangat erat, namun lembut, bertenaga tapi gak menyakitkan. Gue bakal semangat sekolah, yakin!

Gue sengaja membalas dengan mengeratkan genggaman tangan gue sambil berusaha tersenyum semanis mungkin. Detik-detik yang menegangkan itu terasa sangat indah buat gue, secsra doi adalah makhluk bening diantara marmut dimari.

Obrolan ringan khas perkenalan pun meluncur seketika. Dan gue sangat menikmatinya. Suara khas yang seldikit ngebass dan serak itu sukses melambungkan diri gue ke langit terjauh. Caranya berbicara dengan ekspresi cool, tawa kecil yang kerap tersunging, adalah pelengkap wajahnya yang tampan.

Obrolan hangat itu akhirnya terhenti ketika seorang siswi senior datang menghampiri kami dan langsung memotong perbincangan.

“Pagiiii beeeiibbbb”

“Pagiiiii…” balasnya.

Setelah sapaan singkat itu, si cewek senior itu langsung melayangkan tatapan sinis ke arah gue. Tatapan mata menyelidik, seolah gue adalah ratu kecantikan sejagat yang siap menyingkirkan dirinya.

“Kamu kok gak jemput gue sih beib…?” tanyanya sambil menggelayut manja di lengan Agus.

“Lhooo… gimana sih? Katanya mau berangkat sama Sodako?? Makanya gue gak jemput honey.”

Gue ngerasa lagi nonton sandiwara topeng monyet ala kidz jaman now, dimana gue jadi satu-satunya penonton di dunia ini. Dan yang membuat gue merinding, si cewek senior ini ternyata berteman dengan hantu dari negri miyabi yang terkenal itu, Sadako.

Tik…

Tok…

Tik…

Tok..

Tik..

Tok..

Dan gue nyerah. Gue di kacangin Agus karna si cewek yang temenan sama hantu ini.

Sebagai junior, tentu saja gue berusaha bersikap manis, walau dalam hati gue, pengen banget gue tabok wajahnya dengan panci emak gue. Dan gue heran, kenapa agus tampak sangat mesra dan nyaman berinteraksi dengan cewek itu. ‘masa iya Agus yang cakep gini pacaran sama cewek jutek ini?’ gerutu gue dalam hati.

Secara fisik, si cewek senior rada pendek dari gue, kulitnya pun kalah putih dari gue. Tapi aset kewanitaan doi yang nempel di dadanya bikin gue minder. Gue uda pasti kalah jauh untuk urusan yang satu ini, karena aset gue dengan size minimal ini adalah salah satu kekurangan gue.

‘Giiilleeeee…itu nenen brutal amat sizenya’ jerit gue dalam hati.

Dan sepertinya mungkin hal itulah yang membuat Agus tertarik padanya. Seketika juga, gue merasa sedih. Sedih karna nenen gue kalah bersaing!

Setelah cukup panas melihat pemandangan kemesraan agus dan si nenen brutal, gue putuskan untuk menyudahi perburuan tanda tangan hari ini dan kembali ke kelompok gue.

Dari kejauhan, gue ngelihat si cowok buncit itu lagi. ‘udah cowok ganteng gak dapet, malah kwtemu dia lagi’ lagi-lagi gue ngomel sendiri. Gue masih rada keder kalo deket sama si buncit ini, walo gak sekeder seperti pwrtemuan pertama pagi tadi. Sambil bersikap waspada, gue melangkah ke arahnya.

“Brooo… lagi apa ni?” sapa gue basa-basi.

Dan selanjutnya, gue makin kesel sampe ubun-ubun. Sapaan gue cuman dibales dengan tatapan datar itu lagi. Gak ada satu kalimat pun yang keluar dari mulutnya, hanya menatap sekilas, lalu kembali sibuk dengan buku yang sedari tadi ia tulis.

‘Yawalaaaaa… hhiiihhhhhh!!!!! Nyebelin banget sih ni orang!!’ omel gue lagi walo cuman dalam hati.

Demi menutupi rasa malu akibat moment dicuekin, gue menyibukan diri dengan memeriksa tugas tansa tangan yg udah gue dapetin. Dan satu lagi kesialan gue hari ini.. gue lupa bawa air minum dan perbekalan gue buat hari ini. Sebenernya bisa jajan sih, tapi gue tengsin kalo kudu ke kantin sendirian, karna gue masih anak baru disini.

Gue sedikit terkejut ketika si cowok buncit disebelah gue, yang sedari pagi gue takutin, malah menyodorkan sebotol minuman dingin.

“Nih..lu minum ni aja dulu”

Gue yang beberapa saat lalu mencurigai dia sebagai garong langsung berubah pikiran. Walau pun belum mengenal dia secara lebih dalam, tapi sikapnya yang barusan mampu mengikis perlahan imagenya di pikiran gue.

“Iyaaa..makasih ya…” jawab gue malu-malu. “ngomong-ngomong, nama lu siapa bro..?”tanya gue lagi.

“panggil aja gue ntung bray..”jawabnya sambil mwngulurkan tangan untuk bersalaman.

“Oowwhhh… okelah bro… gue era…panggil aja kek gitu” jawabku sambil menyambut uluran tangannya.

“eh ntunk…lu uda kenalan sama anak-anak baru yang lain belum sih?” tanya gue lagi.

“uda dong brayyy…kudu saling kenal dulu lah…biar punya temen disini”

“Yaaahhh…telat gue…gue belum kenalan brooo… scara gue malu, lagian itu anak2 tampangnya serem gitu” jawab gue.

“Yaaaelaaahhhh brayyyy…santai dikit napa?? pada asik2 kok…lagian, mumpung masih berstatus anak baru nih, jadi mending langsung cari temen aja brayyy..”

“Ooooo gitu yaaaa…hheemmmm okelah brooo..ntar gue kenalan deh…eh tapi… anu… lu temenin gue doonggg, plisss yah…pan lu udah kenal mreka..”

“Rebessss..itu mah gampang bray..ntar ane temenin…”jawabnya sambil tersenyum ramah.

“Sippppp… makasih lho broooo..makasih banget”

Dan selanjutnya, si cowok yang tadinya menyebalkan itu kembali sibuk dengan buku tulisnya, entah apa yang ia tuliskan disana, apa yang ia coretkan disana dengan raut wajah yang sangat serius itu.

Gue sedang melamun ketika senior kami datang dan langsung membentak kami.

“Ini tasnya siapa??!!” tanya senior cewek yang galak berwajah judes.

Gue yang belum sadar dari kekagetan akibat suara bentakan si cewek judes itu makin terperangah ketika si Entung, satu-satunya teman baru gue malah menjawab pertanyaan si senior itu.

“Maaf kak itu sebenarnya tas saya, tasnya Era yang ini” jawabnya ke kakak senior cewek berdada besar yang sedang membentak gue sambil menunjukan tas gue yang gue taruh di sebelah kiri.

“Beneran itu tas dia…??!!” kata kakak senior tadi sambil menunjuk ke wajah gue.

“Bener kak, kalau mau hukum, hukum saja saya jangan Era” jawab ntung sedikit keras karena tingkah sombong senior itu.

“Yaa udah push up kamu 10x sama sit up 10x, cepet ga pakai lama” ucap kakak senior.

Langsung saja Entung melaksanakan hukuman itu, dan yang membuat gue semakin merasa bersalah adalah dia rela dihukum atas kesalahan gue yang super bego.

“Besok awas kalau masih salah perlengkapan kamu, aku akan awasi kamu terus” ancam kakak senior cewek tadi.

“Kamu gak apa apa Ntunks, maaf ya gara gara gue, lu jadi kena hukum sama senior” kata gue dengan sedih.

“Ga papa Ra, santai aja, tapi dendam juga aku sama cewek tadi” jawabnya dengan sedikit emosi.

Gue bener-bener merasa bersalah, bener-bener merasa bego level dewa atas kesalahan ini, belum lagi perasaan menyesal gue karna sedari awal perjumpaan gue dengan si Entung ini, hue selalu menganggap dia orang jahat dan meremehkannya. ‘gue janji, gue bakal jadi temen terbaik lu, ntung’ kata gue dalam hati sambil menatap sahabat baru gue ini.

“Udah ah Ntunks jangan emosi, kan emang gue yang salah, emang mau kamu apain tu kakak kelas” tanya gue sambil mengusap sedikit air di ujung mata gue.

“Pingin tak beri biar dia ketagihan” jawabnya.

” Emang di beri apa kok sampai ketagihan?”

“Eee apa itu, anu itu eee, yaa anu tak beri sosis Ra, biar dia ketagihan rasanya dan dan minta lagi” jawabnya.

” Trus aku gimana besok Ntunks?” Tanya gue lesu.

“Udah tas itu buat kamu aja, nanti aku bikin lagi gampang” jawabnya.

“Beneran Ntunks, makasih banyak yaaa” jawab gue sambil menggengam erat kedua tangannya.

“Iyaa beneran” jawabnya.

Selanjutnya, gue dan ntunks memutuskan untuk pergi ke kantin, dan disaat itulah kami melihat si kakak kelas cewek yang kejam tadi sedang memasuki toilet

“Ra kamu tunggu sini bentar ya, awasi keadaan jangan sampai ada yang lihat apa yang aku lakukan” Katanya

“Emang mau apa sih, mau ngintip yaa??” tanya gue dengan heran.

“Nggak, ngapain ngintip, bisa bintitan tau, udah diem aja, liat aja nanti” jawabnya sambil tersenyum licik.

Gue ngelihat ntunks mencari sesuatu di tempat sampah ‘gila ni orang’ guman gue dalam hati. Setelah menemukan apa yang ia cari, gue ngelihat ntunks berjalan pelan ke arah toilet yang dimasuki oleh si kakak kelas kejam itu dan melakukan sesuatu dengan sangat hati-hati. Setelah beberapa saat, ntunks kembali menghampiri gue sambil tersenyum jahil. Ia segera menarik tangan gue dan mengajak gue ke kantin.

“Kamu kunciin dia dari luar ya Ntunks?” tanya gue penasaran.

“Iya, salah sendiri galak bener, baru jadi senior aja lagaknya kaya putri raja” jawabnya sambil tersenyum penuh kemenangan.

Bersambung

END – 6 Teman Teman Part 5 | 6 Teman Teman Part 5 – END

(6 Teman Teman Part 4)Sebelumnya|Bersambung(6 Teman Teman Part 6)