6 Teman Teman Part 4

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21

6 Teman Teman Part 4

Start 6 Teman Teman Part 4 | 6 Teman Teman Part 4 Start

Aku selalu berpikir bahwa aku memiliki masa kecil yang benar-benar bahagia. Aku selalu merasa tidak memiliki masalah apapun dengan keadaan diriku. Sewaktu kecil aku percaya bahwa hewan dan tumbuhan itu bisa bicara dengan bahasanya sendiri.

Waktu kelas 3 SD aku mulai sekolah di sekolah SD Negeri di kota Surabaya yang tempatnya tidak jauh dari rumahku. Mengingat jaraknya tidak jauh dari rumahku dulu aku pergi ke sekolah dengan pakai sepeda dan hal itu berlangsung sampai aku duduk di kelas 3 SMP.

Sepedaku namanya “Black Rider”. Jadi kalau dulu kamu mendengar aku berangkat kesekolah dengan naik Black Rider, harusnya sudah tidak kaget lagi karena kamu sudah tau maksudku.

Apakah dengan memberinya nama tersebut aku punya tujuan biar sepedaku jadi keren dan gagah? Jawabannya adalah iya, karena aku selalu membayangkan aku naik sepeda motor yang dikendarai Satria Baja Hitam.

Apalagi Black Rider kuberi aksesoris gelas aqua bekas yang kujepitkan di antara ban roda belakang dan besi sehingga menghasilkan suara sepeti sepeda motor.

“Mama liat Black Rider?” tanyaku kepada mama sambil nyari sepeda dihalaman depan rumah karena mau kupakai.

“Black Ridermu?” Mama tanya balik, seperti sama-sama sedang mencari.

“Iya.”

“Oh dipake Bi Ijah,” katanya kemudian setelah dia ingat. ”Minjem bentar, kewarung buat beli minyak goreng.”

“Ke warung, kok naik Black Rider.” kataku dengan sedikit agak kesal.

“Kan kamu yang kasih nama itu?”

●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●​

Setelah SMA, aku berangkat ke sekolah tetap menaiki Black Rider tetapi Black Rider yang kunaiki sekarang berbeda dengan Black Rider yang kunaiki dulu sewaktu aku masih SD.

●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●​

“Kriiiinnnggggggg…!!” Suara jam weker menggelegar.

“Ya ampun, apaan cobak berisik banget ini jam.” teriakku sambil ngelempar jam weker kearah yang jelas tak kuketahui. Dan tiba-tiba suara malaikat bak pencabut nyawa mengagetkanku.

“Bryaaaan!! Kamu pikir jam berapa ini kok kamu belum bangun juga?” teriak malaikat itu. Ya siapa lagi kalau bukan mamaku tercinta yang telah melahirkanku, menyayangiku dan merawatku dengan penuh kasih sayang dan cinta.

“Iya Ma 5 menit lagi.” ucapku.

“Kalau gak bangun mama siram air loh.” ancam mama.

“Mama tega banget anaknya mau disiram air.”

“Kan hari ini hari pertama kamu masuk sekolah masak hari pertama masuk sudah terlambat.”

“Iya… Iya… Bangun.”

“Ayo sana buruan mandi terus sarapan biar gak kesiangan berangkat ke sekolahnya.”

“Iya Kanjeng Mami.” jawabku sembari bangun dari tempat tidur dan menuju kearah kamar mandi.

Setelah selesai mandi dan menyiapkan semuanya akupun bergegas turun kebawah untuk sarapan.

“Sayang mau sarapan pakai apa?” tanya mama.

“Apa saja yang Mama buatin pasti Bryan makan.”

“Ih anak Mama pagi-pagi udah ngegombal.” ucap Mama sambil tersenyum.

“Papa tuh yang jago ngegombal buktinya….” sengaja tak kulanjutkan ucapanku.

“Papa…” ucap mama sewot sambil melotot melihat kearah Papa.

“By masih pagi loh nak! Papa aja makan nasi goreng baru dua suap.” ucap papa.

Aku terkekeh mendengar ucapan dari papa.

“Loh kan bener seh Pa kalau Papa emang jago ngegombal buktinya Mama cinta mati sama Papa.” Sahutku menjelaskan.

“Serius? Papa gak lagi ngegombal atau godain SPG kan By?” tanya mama.

“Enggak kok ma Papa kan setia banget sama Mama, cuman waktu kemarin keluar sama Bryan papa…..” ucapku menggantung.

“Papa kenapa?” tanya mama.

“Papa ngenalin Bryan sebagai ponakannya sama mbak-mbak SPG di mall.” jawabku.

“Papaaaaaaaaaaaa…..” ucap mama sambil mencubit perut papa.

“Sakiiiiitttttt…. Ma, ampun.”

“Hahahaha….” tawaku.

Seperti ini lah keluargaku. Keluarga kecil yang bahagia, selalu ada canda dan tawa diantara kami.

Setelah selesai sarapan aku berpamitan pada Papa dan Mama untuk berangkat ke sekolah.

“Pa, Ma, Bryan berangkat dulu ya.” ucapku berpamitan.

“Iya sayang hati-hati dijalan ya! Hapal kan jalan ke sekolah?” tanya Mama.

“Hapal lah Ma kan ada GPS.” jawabku memberitahu.

“Sekolah yang bener ya By, hati-hati dalam memilih pergaulan!! Jakarta berbeda dengan Surabaya.” ucap Papa memberi nasehat.

“Siap komandan Laksanakan.” jawabku sambil hormat menirukan gaya ala militer.

“Tuh dengerin nasehat dari papa! Jangan berantem mulu ya By. Mama capek minta maaf sama orang tua dari anak-anak yang kamu pukulin.” keluh mama.

“Kalau masalah itu asal gak ada yang cari perkara sama Bryan, Ma.” jawabku asal.

“Nih anak kalau dikasih tau mesti ngeyel, nurun siapa sih?” ucap Mama sewot sambil melotot kearahku dan Papa.

“By berangkat gih nak entar terlambat loh, kan kamu tau sendiri kalau jalanan Jakarta macet, berbeda dengan Surabaya.” ucap Papa.

“Ma, Pa, Bryan jalan dulu. Assalamualaikum.” ucapku sambil menyalim tangan Mama dan Papa.

“Waalaikum salam.” jawab Papa dan Mama bebarengan.

Setelah berpamitan dengan Papa dan Mama akupun bergegas menuju Black Rider untuk berangkat ke sekolah.

.

.

.

Lokasi : SMA SEMPROT.

Setelah menempuh perjalanan selama hampir 45 menit akhirnya aku sampai juga di sekolah.

“Lebih baik aku parkir Black Rider diluar sekolah aja deh, jadi entar bisa cabut keluar sekolah setelah absen.” gumamku karena aku sangat malas mengikuti MOS, bahkan aku tak membawa perlengkapan MOS sama sekali terkecuali Name Tag yang terbuat dari kardus.

Dengan langkah gontai aku memasuki gerbang sekolah. Terlihat banyak siswa-siswi menggunakan perlengkapan MOS lengkap sedang bergerombol bersama teman-temannya. Wajah mereka tampak ceria.

Sedangkan aku, tak ada satupun manusia yang kukenal disekolah baruku ini. Karena baru beberapa bulan aku berada di jakarta. Aku hanya mengenal teman-teman daerah komplek perumahanku dan teman-teman bengkel tempat aku memodifikasi Black Rider.

Setelah selesai mengikuti upacara dan absen aku kebagian kelompok yang bernama bebek goyang. Nama kelompok yang aneh.

Aku tak memperdulikan hal tersebut karena niatku dari awal setelah mengikuti upacara dan absen aku cabut keluar dari sekolah. “Mending aku ke bengkel aja deh nongkrong disana sembari merokok dan ngopi. “ gumamku membatin.

Saat aku sedang berjalan ke arah belakang gedung sekolah untuk mencari tempat kabur terlihat seorang cewek dan cowok sedang dimarahi oleh senior. “Kasian banget sih mereka.” gumamku.

Aku kasian melihat mereka bukan karena dimarahi sama senior tetapi karena mereka begitu bodoh, mau-maunya dimarahi dan diperintah oleh senior.

“Kalau aku sih mending aku ajak berantem senior yang memarahiku. Toh sama-sama makan nasi dan minum air putih ngapain harus takut, kecuali mereka makan kembang 7 rupa atau kemenyan baru aku akan takut.”

Karena menurutku MOS tidak lebih dari ajang perpeloncoan dan pembodohan semata. Tidak ada nilai positif yang didapatkan dari mengikuti MOS. Hal inilah yang menyebabkanku malas mengikut MOS.

Di taman belakang sekolah terlihat ada pohon besar. “Mending aku sembunyi diatas pohon deh untuk sementara sambil menunggu keadaan agak tenang, agar aku bisa cabut keluar dari sekolah.” gumamku.

“Aduuuh..” ucapku kesakitan karena saat sedang enak-enaknya bersantai diatas pohon tiba-tiba ada yang nimpuk kepalaku dengan kaleng minuman kosong.

Dari atas pohon terlihat seorang cewek sedang tolah-toleh ketakutan memperhatikan sekelilingnya.

“Siapa itu? Ampun mbah, eyang, om pocong, tante kunti jangan ganggu saya! Saya Cuma mau bersih-bersih.” ucapnya.

“Loe pikir gue setan.” teriakku dari atas pohon.

“Eh!!” sautnya kaget dan secara spontan melihat keatas pohon mencari asal suaraku.

“Ma… Maaf gue pikir ada setan di sekolah ini.” ucapnya memelas.

“Setan jidat loe, sakit tahu..” omelku sembari turun dari atas pohon.

“Loe, rese banget sih! Ganggu gue aja.” ucapku sewot.

“Lah kok jadi gue yang rese!! Loe sendiri ngapain diatas pohon?” protesnya sambil melirik name tag namaku yang terpasang di dada.

“Gue males ikut MOS.” jawabku ketus.

“Ooh..”

“Loe sendiri ngapain disini?” tanyaku.

“Gue kena apes! Dihukum suruh bersihin taman belakang sekolah.” jawabnya.

“Nah kan!! Ini nih yang buat gue gak suka ikut MOS maen hukum seenak udelnya aja.” gerutuku sembari mengulurkan tangan untuk berkenalan dengannya. “Kenalin nama gue Black.”

“Gadis.” jawabnya sembari menjabat tanganku.

“Salam kenal ya Neng.” ucapku ramah.

“Heh? Kok tau?” sahutnya.

“Tau apaan?” tanyaku.

“Kalau gue biasa dipanggil Eneng.”

“Bwahahahahaha… Jauh banget dari Gadis ke Eneng.”

“Yeeee…!! Rese loe. Loe tuh yang bikin name tag aja typo.” protesnya.

Kuperhatikan name tag yang terpasang di dadaku.

“Enggak, kok.” jawabku bingung karena tidak ada yang salah dari penulisan name tag-ku.

“Lah nama loe kan Black, itu tulisannya cuman BAK.”

“Bwahahahahaha…..” tawaku terpingkal-pingkal.

“Black itu cuman nama panggilan.” ucapku menjelaskan. “BAK itu singkatan dari nama asli gue. BRYAN ANGGARA KUSUMA.” sambungku.

“Hahahaha…” tawanya.

“Kayaknya kesambet deh nih cewek tiba-tiba ketawa sendiri.” batinku.

“Heh..!! Napa ketawa, loe?” tanyaku.

“Abis lucu..!! Nama loe mayan keren juga. Tapi lebih cocok dipanggil Black secara…” ucapnya terpotong sembari menutup mulut dengan kedua tangannya.

“Napa gue item? Jelek?” ucapku sewot.

“Loe sendiri yang bilang ya!! Bukan gue.” jawabnya santai.

Kuperhatikan wajahnya cantik, imut, lucu dan ngegemesin.

“Heiii… kalian!!” tiba-tiba aku dikagetkan oleh teriakan seorang cewek dari arah kejauhan.

Kulihat Gadis lari kearah taman belakang sekolah tanpa memperhatikanku. Dan entah kenapa membuatku ikut lari menyusulnya dari arah belakang.

Namun tiba-tiba…

“Sreeeeeet…” kakinya terpeleset dan terlihat seperti akan jatuh. Dengan sigap aku segera menangkap tubuhya agak tidak terjatuh.

Tapi yang terjadi malah aku kehilangan keseimbangan tubuhku dan akhirnya tubuh kami terjatuh dengan posisi berpelukan dimana dia berada diatasku dengan posisi kami kami yang saling berhadap-hadapan.

Bruuuk!!

Cuup!!

Kami berciuman secara tak sengaja karena terjatuh.

“Loe ngapain nyium gue?” hardiknya dengan wajah memerah sembari bangkit dari tubuhku.

“Lah kok aku yang disalahin? Bukannya kamu yang nyium aku duluan.” jawabku cuek sembari bangkit dan membersihkan tubuhku dari bekas tanah.

“Heiii… Kalian ngapain disitu?” hardik seorang cewek dari arah kejauahan.

Dengan santai kuhampiri cewek tersebut.

“Kenapa ya mbak kok marah-marah?” tanyaku pada cewek tersebut.

“………..” diam tak ada jawaban darinya.

“Heeeyyy.. Kok malah melamun.” tanyaku.

“Ganteng.” gumamnya lirih.

“Kenalin gue Sadako.” Ucapnya memperkenalkan diri sembari mengulurkan tangannya untuk berkenalan.

“Black.” jawabku tanpa menghiraukan uluran tangannya.

“Eeehh…” ucapnya dengan tingkah terlihat aneh dan menarik kembali uluran tangannya.

“Kalau gak ada yang penting aku tinggal ya?” tanyaku.

“Mau kemana?” tanyanya.

“Emang gue mau kemana ada hubungannya ya sama loe?” ucapku tanpa memperhatikannya dan berlalu meninggalkannya menuju ke arah Gadis.

“Ikut aku.” ucapku sambil menggandeng tangannya.

“Eh.. mau kemana?” tanyanya.

“Sudah ikut aja! Bawel.” jawabku.

“Kok kita keluar gerbang sekolah mau kemana emang.”

“Cabut!! Gak ada gunanya juga ikut MOS.” jawabku.

“Loe dari tadi gandeng tangan gue emang gue pacar loe?” ucapnya sewot.

“Ya sudah anggap aja aku pacarmu, gitu aja kok repot.” jawabku santai.

“Yok, masuk.” ucapku membukakan pintu Black Rider untuknya.

“Kok mobil loe. Loe parkir diluar sekolah?” tanyanya.

“Sudah buruan masuk!! Entar tanyanya dijalan aja.”

Kamipun berlalu meninggalkan sekolah.

Selama dalam perjalanan kuperhatikan Gadis hanya diam menatap jalan.

“Kok diem aja.” tanyaku sambil tetap memperhatikan jalan.

“Baru kali ini gue bolos sekolah.” jawabnya.

“Tadi kamu absen kan?”

“Iya..”

“Berarti kita gak bolos sekolah.”

“Kok bisa gitu?” tanyanya polos.

“Kan tadi kamu absen, kecuali kalau kamu tadi gak absen baru namanya bolos.” jawabku menjelaskan.

“Kan sama aja, kita cabut keluar dari sekolah berarti kita bolos.”

“Ya bedalah kan tadi kita absen! Kalau absen kita Alpha baru bolos namanya.”

“Terus ini mau kemana?”

“Gak tau.”

“Gimana sih loe? Ngajak gue cabut tapi gak tau mau kemana.” tanyanya sewot.

“karena aku gak seberapa tau Jakarta.” jawabku.

“Emang loe bukan asli Jakarta?”

“Bukan!! Aku dari Surabaya dan baru beberapa bulan di Jakarta.”

“Oohh.. Emang kenapa kok pindah ke Jakarta?”

“Karena Papaku dipindah tugaskan ke Jakarta.”

“Emang Bokap loe kerja dimana?”

“TNI Angkatan Darat.” jawabku.

“Terus ini kita mau kemana?”

“Lah kan kamu yang orang Jakarta kok malah tanyak aku.”

“Eh kok loe ngobrol sama gue pakai aku-kamu?” tanyanya.

“Emang kenapa?” tanyaku balik.

“Karena bahasa aku-kamu kalau disini digunakan untuk ngobrol dengan orang terdekat. Jadi kayak semacam simbol gitu ketika kita secara aktif berhubungan sama orang, dari yang awalnya lo-gue tiba-tiba berubah jadi aku-kamu. Semacam pertanda naik kehubungan yang lebih intim, atau memasuki hubungan romantis.” jawabnya menjelaskan.

“Ya sudah anggap aja kita pacaran! Beres kan.”

“Eh..” sautnya dengan wajah memerah.

“Terus ini kita kemana?” tanyaku.

“Mau cari tempat makan?” tanyanya.

“Enggak aku masih kenyang. Tapi kalau kamu laper ayo kita cari tempat makan.” tawarku.

“Sama gue juga belum laper.” jawabnya.

“Emang sebelumnya rencana loe cabut dari sekolah mau kemana?” tanyanya.

“Mau ke bengkel. Gak mungkin kan aku ajak kamu ke bengkel!! Emang mau ke bengkel?”

“Gila aja, ya gak mau lah.” jawabnya sewot.

“Kamu makin cantik kalau marah.”

“Eh..” tampak wajahnya memerah.

“Kamu suka pantai?” tanyaku.

“Suka banget malah karena dulu waktu gue kecil gue sering banget di ajak Bonyok main ke pantai.” jawabnya.

“Ya udah kita ke pantai aja kalau gitu.”

“Eh dari sini jarak ke pantai lumayan jauh loh.”

“Gakapapa masih pagi juga kan baru jam 8.30.” ucapku.

“Oke.” jawabnya.

.

.

.

Lokasi : Pantai Ancol.

Pantai Ancol terletak di Jakarta Utara.

Setelah membayar tiket masuk sebesar 25.000/ Orang dan tarif mobil sebesar 20.000. Aku langsung memarkirkan mobil ke tempat parkir yang sudah disediakan oleh pihak pengelola.

Terlihat Gadis sangat senang. Karena pantai adalah tempat favoritnya.

Kugandeng tangannya untuk mendekat ke bibir pantai bermain ombak. Iseng kupercikkan air ke mukanya.

“Ihhh.. Basah Black.”

“Awas ya gue balas loe.” ancamnya.

Gadis membalas percikan air ke arahku dan berlari menjauhiku karena takut akan kubalas percikan airnya.

Kukejar dirinya dan tiba-tiba tubuhnya terpeleset. Dengan sigap aku menangkap tubuhnya agar tidak terjatuh dan mata kita sekarang bertatapan saling memandang satu sama lain.

“Cantik.” ucapku.

“Eh apaan sih loe!! Bisa banget sih cari kesempatan meluk gue.” ucapnya sewot.

Mendengar ucapannya membuatku dengan cepat melepaskan pelukanku yang membuatnya terjatuh ke dalam air.

Byuuurrr!!

“Blaaaaaccccckkkkkkkk…..!!” teriaknya marah.

“Hahaha… Tadi katanya aku ambil kesempatan meluk kamu.

“Loe jadi cowok ngeselin banget sih.” ucapnya sewot sambil melempar pasir kearahku.

“Iya… Iya… Maaf sini aku tolongin.” ucapku sembari mengulurkan tanganku untuk menolongnya berdiri.

Byuuuurrrr!!

“Hihihi… Sukurin makanya jadi cowok jangan rese.” tawanya seakan puas melihatku terjatuh.

“Jahat banget sih!! Sudah ditolongin juga malah aku ditarik sampai jatuh. Basah semua kan sekarang bajuku.”

“Biariiinnn…!! Weeeek…” ledeknya.

“Dis ada ubur-ubur.” ucapku.

“Mana? Aku takut sama ubur-ubur.”

“Nih ubur-ubur segede gaban.” jawabku sambil menunjuk kearahnya.

“Blaaaaaacccccckkkkk……..”

Tak terasa hari mulai sore.

“Dis pulang yok, udah mau sore.” ajakku.

“Iyaa..”

“Kamu tadi ke sekolah naik apa?” tanyaku.

“Naek ojek.” jawabnya.

“Ya udah aku anter pulang sampai rumah kalau gitu.”

“Iya.” jawabnya.

“Yok.” ucapku sembari menggandeng tangannya.

“Ih maen gandeng tangan orang aja!! Emang gue pacar loe main gandeng sembarangan aja.”

“Iya..” jawabku seadanya.

“Sejak kapan?”

“Semenjak aku bilang sama kamu kalau anggep aja aku pacarmu.”

“Eh maen klaim aja seenak jidat loe.”

“Kenapa? Kamu gak mau jadi pacarku?” tanyaku.

“Ehhh…” tampak wajahnya menunduk dengan rona merah di pipinya.

“1….2….3….4….5… Tetot waktu habis berarti jawabannya iya mau.” ucapku.

“Yook keburu sore loh!! Gak enak sama orang tuamu.” ajakku.

“Iyaa..”

Bersambung

END – 6 Teman Teman Part 4 | 6 Teman Teman Part 4 – END

(6 Teman Teman Part 3)Sebelumnya|Bersambung(6 Teman Teman Part 5)