6 Teman Teman Part 3

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21

6 Teman Teman Part 3

Start 6 Teman Teman Part 3 | 6 Teman Teman Part 3 Start

SMA SEMPROT

Pukul: 06.45 a.m

Menyambut hari baru dengan seragam putih abu-abu.. ah gue seneng bangetz hari ini. Kini seragam gue bukan lagiputih-biru, artinya gue bukan anak kecil lagi seperti kerap bokap dan nyokap omongin selama ini.

Eneng udah gede ih.. Udah bisa mandiri, makan sendiri, cuci baju sendiri, tidurpun sendiri. Bahkan sekolah gak harus diantar-jemput pambron ganteng lagi.

Dan yang penting, kalo dulu bonyok selalu mengekang pergaulan dan relasi gue, agar fokus belajar. Bahkan, gue sering diomelin bonyok, mereka selalu ngelarang gue hang out sama temen-temen. Nyokap bilang,”Sayang, jangan keluar malam sendirian.” Ya gak lah, momz, keluar duaan kok!!

Di masa SMA ini, justru gue bertekad untuk memperkenalkan seorang cowok sama bokap dan nyokap, gue pasti bisa gezz. Manu mana Manu..?? “Manurios Fernandez, nikahi Eneng bangz.” Hihi…

“Duh..! Gue kok, jadi grogi gini, ya! Semoga teman-teman di sini menyenangkan dan cowoknya keren-keren.” Gue membatin.

Gue masuki gerbang sekolah dengan riang. Siswa-siswi dengan emblem MOS yang sama dengan gue, nampak udah mulai rame.

“Brengsek.. mata lo di mana sih? Kalau jalan liat-liat donk!!” Seorang cewek sedang berdiri sambil ngomel pada seorang siswa cowok yang cuma mematung kaget. Rupanya mereka baru saja tabrakan.. Keliatan sih papan nama si cewek sobek dan tali rafianya lepas. Hihi.. lucu ya, masa baru hari pertama sekolah udah tubrukan gitu. Ala-ala sinetron aja.. tubrukan lalu musuhan..teyuz pacayan.. hihi.. cuiit deh.

Gue cuma bisa menahan senyum,sambil mempercepat langkah menuju lapangan sekolah.

Sambil menunggu acara mulai, gue melirik kiri-kanan mengamati beberapa siswa-siswi baru, tapi gue belum bertemu satu pun teman SMP dulu.

“Apa gue salah ya? Seingat gue, ada juga murid satu sekolah gue yang meneruskan ke sekolah ini.” Gue membatin.

Jam tujuh kurang kami segera membentuk barisan karena upacara bendera akan segera dimulai.

Gue suka bangetz, kalo upacara. Kalo murid lain biasanya males upacara, gue sebaliknya malah suka karena di sekolah gue dulu jarang ada upacara. Palingan sih kalo Agustusan aja. Gue tuh rajin tau gezz.

Tapi yang ngebuat gue suka kegiatan upacara adalah karena gue punya kenangan.

Gue pernah pingsan lalu dibawa ke ruang UKS. Di sana gue diberi nafas buatan sama.. Uuupsss.. udah ah.. lupakan saja gezz.

Seusai upacara, gue masuk ke dalam kelompok yang sudah dibentuk oleh kakak-kakak panitia.

Gue kebagian kelompok Bebek Goyang yang beranggotakan 20 orang.

Namun, dari kejauhan.

Gue lihat ada cowok kurus, berkacamata, berjalan tergesa-gesa menuju ke arah gue, sambil tersenyum ramah. Di name tag-nya tertulis nama RAD.

“Hey…!” seru cowok itu. “Gue RAD.”

Cowok itu dengan pedenya mengulurkan tangannya ngajakin gue kenalan.

“Ih..! Pede bener nih cowok.” Gue ngomel dalam hati. “Tapi lumayan juga, cakep sih, kalo nggak pake kacamata.”

“Hey..! Malah bengong.” Serunya mengangetkan. “Kagum ya, dengan ketampanan gue.”

‘Belum pernah diketok stick golf ya bangz’

“Ihh.. Songong lo!” Gue ngomel-ngomel. “Gue Gadis.”

Gue memanyunkan bibir, agak sebel juga ngadepin cowok sok kegantengan kayak gini.

“Lah, memang gue ganteng.” Dia semakin kePEDEan. “Buktinya lo, segitunya lihatin gue.”

“Hahaha.” Tawanya puas.

“Iya-iya, lo ganteng.” Jawab gue singkat. Namun, selanjutnya meledeknya,”Dibandingkan yang suka bergelantungan di pohon.”

“Hahahah.” Tawa gue puas mengejeknya.

Dia tersenyum saja ketika gue katain monyet.

Dia mengulurkan tangannya mengajak gue kenalan.

“Rizki Ahmad Darmadji.” Serunya memperkenalkan diri. “Calon orang terkenal. Beruntung sekali, lo kenal gue, sekarang!”

Entah mengapa, walau ia terkesan sombong dan bergaya sok ganteng dan pintar, namunhati gue berkata bahwa dia orang baik, dan memang pintar. Kewibawaannya tampak dari senyumannya yang tulus.

Gue menyambut uluran tangannya, lalu gue menyebutkan nama lengkap gue.

“Gadis Sorah Yukata. Panggil Gadis atau Eneng, aja.”

Dia tersenyum, setelah gue memperkenalkan diri.

“Tapi kok, aneh, ya! Senyumnya itu, kayak orang sedang mengkhayal yang jorok-jorok. Dih amit-amit, deh! Kok gue suka sama cowok mesum ini!” gumamku dalam hati.

“Beautifull. Nama yang cantik. Secantik orangnya. Lo mirip Sisuka di film Doraemon.” ucapnya memujiku.

Blush

Seketika gue tersipu malu, wajah gue berubah menjadi merah merona, saat iamemuji gue dengan kata “CANTIK”.

“Jujur…! Baru dia, cowok pertama yang bilang gue, CANTIK.” batinku berkata.

Kami berdua hanya diam membisu, saling menatap satu sama lain. Walau ada sedikit kezel dengannya, tapi entahlah… aku seakan terpesona dibuatnya. Senyumnya itu bikin jantung maraton.

“Kok, gue deg-degan gini ya?” batin gue berkata.

.

.

.

Tiba-tiba…

“Kalian berdua, ke sini!!”

Sebuah suara cempreng itu menyadarkan kami. Kaget Eneng bangz..

Buru-buru dia ngelepasin tangan gue dari tangannya. Don’t say good bye, please..

Suara wanita bernada cempreng itu sukses menghentikan perkenalan kami.

Gue langsung melotot ketika menyadari suara itu berasal dari kakak senior yang pernah jadi musuh bebuyutan gue saat SMP dulu.

“Alamak….! Mimpi apa gue semalam? Kok dipertemukan kembali sama dia!” gerutu gue kezel dalam hati.

Yah, lo pikir sendiri, deh. Gimanabencinya, dia sama gue? Karena waktu SMP, pacarnya suka sama gue.

Emang salah kalo gue cantik? Jangan salahkan Bunda yang mengandung gue sembilan bulan sembilan hari lebih sikit yah, gezz…!

Kulihat Sadako sedang melotot ke arah gue dan RAD; sumpah wajahnya yang udah mirip kunti, kini lebih parah lagi. Udah berubah jadi Mak Lampir yang menjijikan. Lama gak ketemu sejak pengeboman Atom Nagasaki dan Hiroshima masih aja galak.

“Sekarang, Kak?” tanyaku kaget.

“Detik ini juga!!!” tegasnya.

RAD maju ke depan dengan santai, tetapi gue justru gemeteran. Ingin rasanya gue memegang tangannya, supaya bisa merasakan ketenangan.

Setelah mendekat, Sadako mengeluarkan perintahnya pada RAD sambil menunjuk kakak senior yang lain. “Kamu ke sana, temui kakak itu!”

“Dan kamu, tetap di sini!” ucapnya tegas sambil menunjuk gue. Kelar deh kelar…

RAD lantas melangkah ke arah yang diperintahkan, meninggalkan gue sendiri dengan wajah pucat pasi.

Ini kejadian yang ke-1001, gue dipermalukan sama kakak senior yang satu ini. Yang nota benenya saingan berat gue rebutan cowok dulu saat SMP. Bais (habis) deh gue hari ini. “Ya Tuhan, lindungi Eneng.” ucap gue berdoa dalam hati.

“Kamu bersihin taman belakang sekolah, sekalian hitung rumput yang bergoyang.” katanya, dengan smirk yang menurut gue gak ada pantes-pantesnya.

‘Emang ada yah, rumput goyang-goyang?’ batin gue.

“Saya, Kak?”

“Yah kamu, memang gue bicara sama siapa lagi.” teriak Sadako dengan marah.

“Ooh, kirain!” Gue jawab halus seperti suara angin.

“Kamu bilang apa?” bentaknya.

“Gak bilang apa-apa, Kak. Emang saya salah apa, Kak?” tanya gue sepolos mungkin.

“Kamu dari tadi bicara terus, apa mau hukumannya, gue tambah?” gertaknya.

“Dasar Sadako, pasti mau balas dendam.” batin gue.

Yang membuat gue makin gondok, ternyata yang dipanggil dan dihukum cuma gue; yang laen diantepin aja. Sabar Neng sabar.

“Iya Kak, iya…! Gitu aja sewot.” gerutu gue kezel.

Sambil melangkah lunglai, gue pergi ke arah taman belakang sekolah.

Gue ngalah, bukan berarti kalah, gezz…! Gue cuma gak suka keributan. Camkan itu!!

Sungguh yalsi (si*l) hari ini. Niat hati, MOS kali ini, gue bisa bertemu kakak senior yang gantengnya, pake bangetz. Eh, malah disuruh bersihin taman.

Akhirnya, gue ambil sapu dan frengki (pengki) di gudang sekolah. Itu pun atas perkenalan dan petunjuk Pak Dor (Dorman) tukang bersih-bersih sekolah.

“Yang bersih, yah Neng,” katanya.

Gue beri dia hadiah tatapan tajam. “Eko.. Oke…Eak”

.

.

.

Gue berjalan ke lorong sekolah, menuju ke taman belakang.

Dengan kezel gue lempar kaleng minuman kosong ke arah pohon dekat tembok sekolah.

“Plukk!”

“Aduhh…” Seseorang mengaduh dari atas pohon.

Degh!!!

.

.

.

Tiba-tiba…

Bulu kuduk gue merinding, bibir gue komat-kamit meminta ijin. “Siapa itu? Ampuh mbah, eyang, om pocong, tante kunti jangan ganggu saya. Saya cuma mau bersih-bersih.”

“Lo pikir gue setan?” Suara dari atas pohon.

“Eh!!”

Gue liat ke atas pohon, tampak seorang murid cowok sedang mengusap-usap kepalanya. Matanya melotot sewot.

“Ma.. maaf.. gue pikir ada setan di sekolah ini.” Gue memelas.

“Setan jidat lo. Sakit tahu..!” Ia turun sambil ngedumel gak jelas.

“Lo, rese bangetz, sih. Ganggu gue aja.”

“Lah kok jadi gue yang rese.. Lo sendiri ngapain di atas pohon?” Gue balik protes sambil melirik name tag namanya. Tertulis BAK.

“Gue males ikut MOS!!” Ketusnya.

“Ooh..”

“Lo, sendiri ngapain?” Ia balik tanya.

“Gue kena apes..! Dihukum suruh bersihin taman belakang sekolah.”

“Nah, kan…! Ini nih, yang bikin gue gak suka MOS… Maen hukum, seenak udel aja.” Ia menggerutu, lalu mengulurkan tangannya. “Kenalin, gue Black.”

“Gadis.”

“Salam kenal, ya neng.”

“Heh? Kok tau?”

“Tau apaan?”

“Kalo gue biasa dipanggil Eneng.”

“Bwahahaaaaa.. jauh banget dari Gadis jadi Eneng.”

“Yeeee.. rese lo. Lo tuh yang bikin name tag aja typo.” Protes gue.

Black memerhatikan name tag gede di dadanya. Ada dua kancing kebuka di situ.

“Nggak kok.” Ia nampak bingung.

“Lah nama lo kan, Black… Tuh nulisnya, cuma BAK.”

“Bawahahahaha…” Black malah makin ngakak, ngebuat gue makin kezel sekaligus bingung.

“Black itu cuma nama panggilan, Neng!” sambungnya. “BAK itu singkatan dari nama asli gue: Bryan Anggara Kusuma”

“Hahahaha…” Kali ini gue yang ngakak.

“Heh..!! Napa ketawa, lu?”

“Abis lucu..! Nama lo mayan keren juga. Tapi, lebih cocok dipanggil Black secara…” Oops.. kuhentikan ucapan gue, dengan menutup mulut gue.

“Napa? Gue item? Jelek?” Black nampak sewot.

“Lo sendiri yang bilang yaaa.. bukan gue…” jawab gue.

Entah kenapa? Kami bisa akrab semudah ini. Akankah, dia menjadi teman kedua gue, setelah Rad? Duuuh.. dua-duanya ganteng danmenyenangkan. Sejenak gue lupa akan hukuman yang harus dijalankan, karena dalam sehari gue udah ketemu dua orang cowok yang bikin perasaan gue berdebar kencang.

Namun, tiba-tiba…

“Heeeeiiii kalian!!!”

Suara Mak Lampir menghardik kami.

Daripada ribut, gue langsung berlari ke arah taman belakang. Tanpa mempedulikannya.

Black menyusul gue dari belakang.

“Sreeeeeet..”

Kaki gue kepeleset…!

“Srrrooottt…”

Gue udah gak bisa menahan keseimbangan tubuh gue lagi.

Sapu dan frengki terlempar dari tangan gue.

Hmmmfff.. selamat.. selamat.. tubuh gue batal nyungsep karena Black berhasil nangkap gue.

Tapi…

“Bluuuffff..”

Black juga sepertinya gak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya. Sesaat sebelum tubuh kami terhempas, Black dengan cepat membalikkan tubuhnya untuk menahan tubuh gue dari benturan ke atas tanah.

“Hmmmffff…”

Cuuuup!!

Bersambung

END – 6 Teman Teman Part 3 | 6 Teman Teman Part 3 – END

(6 Teman Teman Part 2)Sebelumnya|Bersambung(6 Teman Teman Part 4)