6 Teman Teman Part 20

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21

6 Teman Teman Part 20

Start 6 Teman Teman Part 20 | 6 Teman Teman Part 20 Start

Gadis Kabur Dari Rumah​

Pov rad

Keputusan Era untuk menikah dan menetap di London adalah pilihan dan jalan hidup yang telah diambilnya. Aku yakin keputusan yang telah diambilnya pasti sudah diperhitungkan dengan masak-masak. Kami sebagai sahabatnya bisa mengerti dan menghargai keputusan yang telah ia ambil dengan lapang dada. Namun, tidak dengan sahabatku Cinthunks. Dia nampak shock dan terpukul dengan keputusan Era tersebut. Orang yang ia sukai telah pergi jauh meninggalkan dirinya. Sejak itu, Cinthunks jarang kelihatan batang hidungnya. Kumpul bersama pun tidak pernah lagi. Pernah suatu hari aku sengaja mendatangi tempat kost-nya ternyata Cinthunks sudah seminggu tidak pulang ke kost-nya. Entahlah saat ini dia tinggal dimana? Aku dan sahabat-sahabat lainnya hanya bisa berdoa semoga Cinthunks selalu sehat dan bisa segera move on.

Persahabatan kami berenam yang dulunya sangat solid kini mulai retak. Satu per satu di antara kami mulai pergi meninggalkan persahabatan yang dulu kami ikrarkan bersama. Setelah kepergian Era ke luar negeri, Seminggu kemudian, menyusul Gadis. Pagi itu aku baru saja selesai menunaikan ibadah sholat Subuh. HP-ku berdering, ringtone “Sahabat Sejati’ dari grup Sheilla on 7 menggema di kamarku. Segera kuambil HP-ku yang tergeletak di atas meja belajar dan sempat melihat siapa yang sedang menghubungiku saat ini. “Black nelpon.” kataku membatin. “Ada apa ya, pagi-pagi subuh gini dia nelpon.”

“Assalamualaikum.” sahutku kala menerima telpon dari Black.

“Waalaikum salam, rad. Oiya, rad aku baru dapat kabar berita yang tidak mengenakan barusan.” ujar Black memberitahukan dari ujung telpon sana.

“Maksudnya kabar berita yang tidak mengenakan itu apa, Black?! Jangan bikin aku jadi bingung dan cemas seperti ini! Ayo katakan saja!” suaraku sedikit meninggi selain karena kaget juga bercampur rasa penasaran atas apa yang sedang terjadi.

“Tadi barusan mamanya Gadis nelpon. Mamanya bilang, ‘Gadis kabur dari rumah karena menolak perjodohan yang diputuskan oleh mamanya’.” Black memberitahukan kabar berita yang dia maksud tadi dari ujung telpon sana.

“Apaaaa?! Gadis kabur.” Spontan aku mengulangi kembali berita yang disampaikan oleh Black. “Fiuuuh….” Sejenak aku menghela nafas untuk menenangkan emosi dan juga rasa kagetku barusan. “Black, kamu udah kasih tau Cinthunks dan Senja soal Gadis yang kabur dari rumahnya?”

“Belum rad. Tadi aku udah coba beberapa kali hubungi Cinthunks tapi HP-nya tidak aktif. Kalo Senja memang belum aku hubungi. Aku nelpon kamu dulu rad. Karena jam segini Senja biasanya masih tidur.” Sahutnya dari ujung telpon sana.

‘Ok, gini aja, Black. Jam 7 pagi kita kumpul semua di rumah Gadis. Kamu datangi ke rumah Bibinya Senja, dan aku akan cari Cinthunks. Aku kemaren dapat info kalo Cinthunks sering ke karaoke xxx di jalan xxx.”

“Oke kalo begitu. Aku siap-siap nih mau ke rumah Senja. Assalamualaikum” Sahut Black dari ujung telpon sana.

“Waalaikum salam.” Sahutku lalu segera menutup sambungan telpon itu.

#####​

Lokasi : Kost-an Cinthunks

Jam 05.35 wib…

Aku sampai di tempat kost-an Cinthunks, namun ternyata dia tidak ada, pintunya terkunci rapat.

Tok… Tok…

Aku mengetuk pintu kamar kost di sebelah kamar kost Cinthunks.

Ceklek…

Pintu kamar itu terbuka, berdiri seorang cowok bertubuh kurus dengan rambut agak cepak.

“Cari siapa, Bro?” tanya lelaki itu.

“Oiya, maaf kalo ngeganggu! Saya sedang mencari Cinthunks, tapi kok pintu kamarnya terkunci?” kataku memberitahukan keperluanku padanya.

“Oh, nyariin Cinthunks, ya! Cinthunks udah beberapa hari ini tidak pulang, Bro.” ujar lelaki itu memberitahu. “Eh, lo temannya Cinthuks, kan?”

“Iya, Mas.” sahutku lalu aku pun mengulurkan tangan mengajaknya kenalan. “Kenalkan saya rad, teman satu kampus dengan Cinthunks. Eh, kayaknya aku pernah lihat mas. Mas anak hukum ya.”

“Yoi, gue Boski anak kampus Semprot jurusan hukum.” Lelaki itu menyambut dengan ramah. “Udah…! Jangan formil gitu ngomongnya! Panggil nama aja, Boski atau Ki. Hehehe…” Kekehnya.

“Hehehe… Oiya, Ki, kira-kira lo, tau ga di mana Cinthunks berada?” tanyaku. “Soalnya ada masalah serius dan gue sengaja nyariin dia supaya bisa ikut membantu.”

“Sorry banget rad, gue beneran ga tau di mana Cinthunks.” Jawabnya.

“Yaudah Ki, ga pa-pa. Kalo gitu gue pamit dulu.” Aku pun meninggalkan tempat ini, namun tiba-tiba Boski memanggilku. “Bentar, rad.”

Aku berbalik badan lalu kembali mendekat padanya.

“Denger-denger kamu dan genkmu ribut ya sama Ernest. Emang sih, tuh anak belagu banget. Gue dan teman-teman pada ga suka sama dia, walau kita sama-sama anak hukum. Kalo kamu bentrok sama Ernest jangan sungkan bilang sama gue, ntar gue dan anak-anak hukum ikut bantu lo dan teman-teman.”

“Oh, soal Ernest, ya!” kataku menanggapi perkataannya barusan. “Dia emang dari jaman SMA udah ribut sama gue. Thanks ya, kalo lo dan teman-teman anak-anak hukum mau ngedukung gue dan teman-teman. Tapi intinya kami ga mau bikin keributan di kampus dan berusaha menghindari hal itu.”

“Salut gue sama lo, rad.” Boski melanjutkan perkataannya. “Gue yakin kalo lo dan genk lo mau Ernest itu udah bisa kalian habisi. Gue tau latar belakang kalian berenam terutama cowok-cowoknya yang semuanya punya kemampuan beladiri, terutama lo. Hahah… Ada salam dari Abas Akbar, dia itu sepupu gue rad. Dia adalah atlet silat dari perguruan silat ‘Tapak Suci’.”

“Bisa aja lo, Ki. Sampaikan salam balik buatnya. Teman seperguruan gue dulu waktu gue di kampung, sebelum gue hijrah ke Jakarta. Hehehe…” kekehku. “Yaudah, Ki. Gue pamit ya, assalamualaikum.”

“Waalaikum salam.” Sahut Boski.

Aku sudah berada di tempat motorku terparkir.

“Cari di mana lagi nih?” tanyaku dalam hati.

Sejenak aku berpikir, kemungkinan-kemungkinan di mana keberadaan Cinthunks yang beberapa hari ini menghilang bak ditelan bumi. Aku jadi teringat, salah satu temanku di kampus bernama Syarifuddin alias Udin Uban. Kenapa dia dijuluki Udin Uban? Karena rambutnya itu putih semua atau ubanan. Bukan karena rambutnya dicat dengan cat rambut berwarna putih melainkan memang aslinya rambutnya putih karena ubanan Menurut keterangan Udin Uban, dia pernah melihat Cinthunks di salah satu diskotik xxx di jalan xxx. Bahkan sempat dua kali bertemu dengan Cinthunks bersama seorang wanita cantik yang nge-kost tidak jauh dari tempat tinggalnya.

“Hmmm…!” gumamku sejenak. “Berarti titik pencarianku selanjutnya adalah mencari keberadaan Cinthunks dengan mendatangi rumah Udin Uban lalu memintanya untuk menunjukkan rumah wanita yang bersama Cinthunks saat itu. Mungkin saja saat ini wanita itu tau di mana Cinthunks berada saat ini?”

Kunci motor segera kukeluarkan dan aku pun menyalakan motorku menuju ke rumah Udin Uban di daerah kampung melayu.

#####​

Lokasi : Rumah Udin Uban

Akhirnya sampai juga aku di depan pagar rumah Udin Uban. Segera aku turun dari motorku lalu membuka pagar rumahnya. Namun belum sempat aku mencapai pintu rumahnya.

Tiba-tiba…

“Guk… Guk…Guk…” Seekor anjing helder mengonggong menyambut kehadiranku.

Sontak aku terlonjak kaget. Menghindar, menjauh dari anjing tersebut.

Anjing itu terus mengonggong, suaranya makin keras. Bahkan anjing itu meloncat-loncat hendak menerkamku, untung saja anjing itu masih terikat tali yang sangat kuat hingga anjing itu tidak bisa menggapaiku.

“Bonti, Bonti….!” Teriak orang dari dalam rumah. Suara itu sangat familiar di telingaku,

Tak lama kemudian terdengar suara pintu dibuka.

Ceklek…

Keluarlah sosok manuasia langka dari dalam rumah tersebut, sambil cengegesan dia menyambutku dengan ramah. “Eh, maaf Bro. Anjing gue bikin kaget lo. Memang si Bonti kalo ada orang baru seperti itu tingkahnya.

“Anjing lo emang ngeselin, Din.” ujarku kesal.“Untung tadi ga gue lempar pake batu.”

“Hahaha…” Dia tertawa senang melihat ekspresiku yang nampak kesal. “Yuk masuk dulu ke dalam! Biar enak ngobrolnya.”

Aku mengikutinya masuk ke dalam rumahnya.

“Mau minum apa, Bro?” Udin menawariku minum setelah kami duduk di sofa ruang tamunya.

“Kopi hitam aja biar ga ngantuk.” Jawabku cepat.

“Bik Marni…!” seru Udin memanggil ART-nya.

“Iya, Den.” Sahut Bi Marni.

Tak lama kemudian muncullah orang yang dipanggil Udin Uban. Perempuan paruh baya yang usianya mungkin sekitar 40-an. Dia lalu menghampiri Udin Uban dengan sedikit menundukkan badan.

“Bik, tolong bikinin kopi ya buat kita berdua! Kopi hitam ya, Bik.” kata Udin pada ART-nya tersebut.

“Baik, Den. Bibik ke dalam dulu!” ujarnya lalu pergi ke belakang meninggalkan kami berdua.

Setelah kepergian Bi Marni, aku pun mengutarakan tujuanku menemuinya saat ini.

“Begini Din.” kataku memulai pembicaraan. “Kedatangan gue ke mari buat nyariin Cinthunks. Dan berdasarkan cerita lo tempo hari. Gue minta tolong lo bantuin gue ya cari Cinthunks, soalnya ada masalah serius yang sedang kami alami saat ini.”

“Siap rad. Gue pasti bantuin lo cari Thunks sampe ketemu. Biar masalah yang kalian hadapi bisa cepat selesai. Jujur saja, gue juga dimintai oleh Bos tj buat nanyai kabar dia, Cinthunks udah lama ga datang-datang ke studio.” jawab Udin Uban. Jawabannya barusan sempat membuatku kaget dan bergumam dalam hati. “Berarti Udin Uban ini sudah kenal lama sama Cinthunks. Pantesan tau banget kelakuan Cinthunks yang tidak kuketahui sama sekali.”

Melihatku diam dan sedikit kaget, Udin Uban kembali melanjutkan perkataannya. “Gue udah kenal lama sama Cinthunks. Gue ‘kan kerja di studio DapurQ sebagai sound enginering. Studio yang digunakan oleh Cinthunks dan Senja untuk rekaman. Studio DapurQ itu milik seorang pengusaha asal Makasar bernama tj44.”

“Oh, pantesan lo apal banget kelakuan Cinthunks yang tidak gue ketahui. Jadi menurut lo titik pencarian kita mulai dari mana nih?” tanyaku selanjutnya.

“Pertama, kita datangi dulu kost-an wanita yang pernah bersama Cinthunks itu rad sebagai lokasi awal titik pencarian kita. Siapa tau dia ada di sana saat ini?” jawab Udin Uban memberikan pendapatnya tentang awal pencarian kami.

“Ok, gue setuju.” kataku menyetujui usulannya. “Gue ngikut aja kan yang tau lo di mana sempat melihat Cinthunks terakhir kalinya.”

ART Udin tiba-tiba muncul sambil membawa nampan berisikan dua cangkir kopi hitam, lalu menghidangkannya di atas meja.

“Silahkan Mas, Den, diminum!” katanya lalu berlalu meninggalkan kami berdua.

Tak membutuhkan waktu lama, kami berdua sepakat untuk segera pergi menuju kost-an wanita itu setelah menghabiskan kopi hitam tersebut.

#####​

Jarak rumah Udin Uban ke tempat kost-kostan yang dimaksudnya tidaklah jauh jaraknya mungkin hanya sekitar 200 meter dari rumah kediamannya. Sesampainya kami di sana, nampak berdiri megah sebuah bangunan berlantai dua yang ternyata itulah kost-an yang disebutkan Udin Uban tadi.

Karena kenal dengan salah satu penghuninya, Udin Uban langsung mengajakku menemui temannya tersebut. Aku dikenalkan Udin sama temannya tersebut yang ternyata seorang wanita. Gadis cantik berjilbab, berkulit putih dan memiliki senyum yang indah.

“Anak kampus semprot juga dia rad.” Bisik Udin di telingaku. “Anak jurusan bahasa.”

“Jangan-jangan dia kenal sama Era dan Rida! ‘Kan mereka satu jurusan.”Aku bergumam dalam hati.

“Ehemmm…!” Suara deheman Udin Uban sedikit membuatku kaget. Sambil kembali berbisik dia berkata. “Cantik, ya. Tapi sayang dia udah punya tunangan yang bernama Sahidaku, Tunangannya itu sepupu gue.”

“Tapi gue bukan seperti Cinthunk, Black atau pun Senja, Din.” Kataku balik membisikinya “Gue udah punya calon dan kayaknya dia kenal juga dengan calon gue.”

“Eh, malah kalian berdua bisik-bisik, sih!” Tiba-tiba cewek itu bersuara menegur kelakuan kami yang sempat mengacuhkannya. “Yaudah kalo ga penting saya mau keluar nih!”

“Eh, maaf-maaf, Rasmi!” Udin langsung meminta maaf karena sempat mengacuhkan dia.

“Iya, maaf Mbak.” kataku menjelaskan apa yang tadi kami bicakan. “Soalnya tadi Udin bisiki Mbak mahasiswi Semprot juga ya, jurusan Bahasa. Dan kebetulan saya punya teman namanya Era Kusumawardhani dan Farida Fitriani. Apa Mbak kenal sama mereka?”

“Kenallah, Mas. Mereka ‘kan teman satu jurusan.” jawabnya, bibirnya mulai tersenyum. “Bentar, bentar kayaknya Mas ini cowok yang sering jalan sama Rida. Apakah mas cowoknya, Rida?”

Aku mengangguk.

“Panggil aja Rasmi, Jangan formil gitu lah, hehehe…” katanya mencoba mencairkan suasana.

“ Iya, Rasmi. “

Lalu Udin Uban mulai bertanya-tanya dengan Rasmi tentang gadis yang berada di kamar kost no. 11. Dari informasi Rasmi bahwa kamar no. 11 itu ditempati oleh Aprilia Veronica, wanita yang bekerja di salah satu tempat karaoke di daerah Mampang. Dengan dibantu oleh Rasmi, kami pun mendatangi kamar kost no. 11.

Tok…Tok… Tok…

“Iya, bentar!” sahut seseorang dari dalam.

Ceklek…

“Eh, Rasmi!” serunya lalu pandangannya ke arah kami berdua. Dia pun bertanya heran. “Ada apa, ya rame-rame nemuin gue?”

Lalu Udin Uban pun mulai berbicara dan menjelaskan secara baik-baik kalau saat ini kami sedang mencari Cinthunks. Awalnya dia sempat bingung dengan nama Cinthunksdan merasa tidak kenal sama sekali dengan nama itu. Namun setelah aku menyebutkan ciri-cirinya disertai dengan menunjukkan fotonya yang ada di HP-ku akhirnya dia pun mau bicara.

“Maaf ya, kalo gue tadi bilang tidak kenal. Soalnya dia ngakunya bernama Eko bukan Cinthunks. Ternyata gue diboongin sama buaya darat. Hahaha…” tawanya lepas, seakan-akan sedang menertawakan kebodohan dirinya sendiri.

“Dia sempat beberapa kali jalan dengan gue. Bahkan sempat nginep di sini. Tapi sejak beberapa hari ini dia ngilang dan tidak pernah nemuin gue lagi di tempat karoke.” Terangnya memberitahukan yang sebenarnya. “Tekor gue jalan sama dia. Boro-boro dapet duit yang ada duit gue yang dipelorotinnya.” Terpancar di wajahnya rasa marah dan kecewa atas apa yang telah diperbuat oleh Cinthunks.

Setelah mendengarkan penjelasan dari wanita itu dan tidak menemukan Cinthunks di tempat ini, kami pun berpamitan dan meminta maaf jika membuatnya merasa terganggu.

#####​

“Jadi gimana lagi selanjutnya, Din. Kita mau cari Cinthunks ke mana lagi?” tanyaku pada Udin Uban setelah kami keluar dari tempat kost-an itu.

“Ya gimana lagi rad. Cuma cewek itu satu-satunya tempat yang bisa kita mintai keterangannya. Dah balik lagi aja ke rumah gue.” sahut Udin Uban, dia pun terlihat bingung.

Aku sempat melihat jam tanganku yang kini sudah menunjukkan jam 6.45 wib. “Duh gimana nih, Cinthunks belum ketemu? Padahal ditelpon subuh tadi aku udah janji kumpul bersama-sama di rumah Gadis. Atau aku telpon saja Black kabari kalo aku belum menemukan Cinthunks.” Aku merenung, berpikir sejenak lalu segera mengeluarkan HP-ku menghubungi Black.

“Ya hallo, Rad.” sahut Black setelah sambungan telponku diangkatnya.

“Ya, Black. Kamu dan Senja ada di mana? Apakah kalian sudah ada di rumah Gadis?” tanyaku segera.

“Aku dan Senja sedang menuju ke rumah Gadis. Bentar rad. Senja mau ngomong nih.” Black memberitahu bahwa Senja pengen bicara denganku.

“rad, lo masih denger suara gue?” tanya Senja dari ujung telpon sana.

“Iya, Ja. Gue denger kok. Ada apa ya, kok lo serius banget gitu?” tanyaku balik.

“Gue barusan dapat telpon nih dari Bos tj, pemilik studio tempat kami rekaman. Bos tj ngabarin kalo Cinthunks sekarang ada di sana. Gimana kalo kita bagi tugas, lo temui Cinthunks dan ajak sekalian ke rumah Gadis. Gue dan Black duluan dan nunggu kalian di rumah Gadis.” ujarnya memberitahukan rencananya dari ujung telpon sana.

“Ok kalo gitu gue segera meluncur ke studio aja sekarang Ja.” Kataku memberitahukan pada Senja. “Kebetulan nih, gue lagi jalan bareng sama Udin Uban. Ga taunya dia kerja di studio tempat kalian rekaman, gue baru tua nih dari penjelasannya tadi.”

“Siip kalo gitu! Sekarang lo dan Udin Uban buruan ke sana takutnya Cinthunks pergi lagi.” kata Senja memberitahu.

“Yaudah, Ja. Gue langsung ke sana bareng Udin Uban. Assalamualaikum.”.

“Waalaikum salam.”

#####​

Lokasi : Studio DapurQ

Aku dan Udin Uban kini sudah sampai di studio DapurQ yang terletak di jalan Radio Dalam No. xx. Setelah memarkirkan motor, kami langsung bergerak menuju pintu depan yang nampak terbuka lebar.

Saat aku mulai masuk ke dalam studio itu, udara AC yang dingin menyambutku hingga membuat badanku menjadi lebih segar. Udin Uban mendekatiku sambil berbisik. “rad studio ini terdapat tiga ruangan; ruang tunggu, studio dan ruang mixing. Ayo ikut gue lihat ruangan kerja gue.”

Aku mau tidak mau mengikuti Udin Uban yang nampak sekali bersemangat, lalu kami masuk ke sebuah ruangan yang ternyata hanya dibatasi oleh sebuah kaca. Dari sini nampak jelas semua peralatan yang ada di dalam studio.

“Ini ruangan kerja gue, rad! Mixing room namanya. Ane bertugas sebagai sound enginering atau mixer untuk proses rekaman di studio itu!” ujarnya menjelaskan sambil menunjuk ke arah kaca tersebut.

Aku hanya mengangguk, jujur bukan tidak menghargai Udin Uban, tetapi pikiran dan tujuanku ke sini adalah secepatnya menemukan keberadaan Cinthunks.

“Kalo Cinthunks biasanya suka nongkrong di mana Din. Kok, belum terlihat batang hidungnya.” ujarku to the point.

“Hmmm…! Kayaknya dia ada di ruang tunggu. Ayo kita ke sana sekarang! Maaf jadi ga fokus gue, hehehe…” kekehnya.

Kami pun segera keluar dari ruangan itu menuju ke ruangan lainnya yaitu ruangan tunggu.

Dan benar saja, di ruang tunggu itu duduk seorang yang sedang kucari sejak beberapa jam lalu. Dia terlihat sedang melamun sendirian di sofa itu.

“Busyet nih anak! Gue kelimpungan nyariin dia, eh malah enak-enakan nyantai di sini!” Omelku dalam hati.

“Ehem….” Aku mendehem. “Enak ya, lo nyantai di sini!”

“Eh, rad!” Dengan wajah cengegesan Cinthunks menyadari kehadiranku. “Udah lama rad?”

Aku segera menghampirinya dan ikut duduk di sofa, sementara Udin Uban masih berdiri di ambang pintu lalu berkata. “Kalian pasti ingin melepas rindu. Daripada gue ganggu, mending gue keluar aja. Dan satu lagi, kalo main, ‘jangan berisik, mainnya pelan-pelan aja’. Hahaha…”

“Hahaha…” Aku dan Cinthunks ikut tertawa.

“Bilang aja, Din. Kalo lo juga pengen juga ikutan threesome.” Sindirku bergurau. “Pake acara malu-malu segala.”

“Buahahaha…” Suara tawa kami bertiga menggema di ruang tunggu ini.

“Boleh..?!” tanya Udin Uban sambil memperlihatkan ekspresi seriusnya.

“Hahaha…” Tawa kami bertiga pecah.

“Ayo sini, kalo lo mau gue tusbol..!” Tiba-tiba Cinthunks berdiri sambil tangannya menurunkan resleting celana jeans-nya.

Melihat reaksi Cinthunks barusan membuat Udin Uban langsung kabur sambil tertawa terbahak-bahak.

“Buahahaha…” Aku dan Cinthunks tertawa terbahak-bahak.

Setelah Udin Uban pergi, aku mulai berbicara serius dengan sahabatku ini. “Thunks, ke mana aja lo beberapa hari ini? Dihubungi HP lo, ga aktif. Datangi ke kost-an lo, ga ada. Emang ada masalah apaan, Thunks?”

“Hehehe…” Kekehnya. “Ntar gue cerita sama lo, tapi ga sekarang rad. Gue harap lo ngertiin kondisi gue.”

“Hmmm…!” gumamku sejenak. “Ok ga pa-pa kalo lo belum bisa cerita sekarang. Gue ngerti lo butuh waktu untuk nenangin diri. Tapi yang perlu lo ingat, lo itu tidak sendirian. Kami selalu ada buat lo. Gue, Senja, Black dan Gadis care dan peduli sama lo.”

“Iya, rad. Gue bersyukur punya sahabat-sahabat seperti kalian. Kalian sahabat-sahabat terbaik gue. Maafin gue ya, bikin lo dan sahabat gue lainnya jadi khawatir.” Mata Cinthunks nampak mulai berkaca-kaca.

“Udah, ah! Ga usah lo minta maaf, Thunks. Kami ngerti apa yang lo rasakan kemaren-kemaren.” sahutku mencoba mencairkan suasana yang mulai kebawa perasaan haru. “Gue ke sini sengaja nyariin lo dan sekaligus mau ngasih kabar kalo Gadis kabur dari rumahnya.”

“Apaaaa?! Gadis kabur dari rumahnya.” Cinthunks kaget seakan tidak percaya dengan berita yang kusampaikan. “Kamu serius, rad. Tidak lagi bercanda ‘kan?”

Aku mengangguk.

“Subuh tadi, gue di telpon Black.” ujarku menjelasakan pada Cinthunks. “Black mendapatkan berita Gadis kabur dari rumahnya setelah ditelpon mamanya Gadis.”

“Jadi apa yang mesti kita lakukan rad?” tanya Cinthunks. “Kasihan dengan Mamanya Gadis, pasti Beliau shock dengan kejadian ini.”

“Pastilah, Thunks. Orang tua mana sih, yang tidak sedih mendapatkan kenyataan seperti ini. Kalo kita ingin bantu Mamanya Gadis, ya caranya kita ikut bantuin cari Gadis sampe ketemu.”

“Gue pasti bantuin, rad. Gue ikut kalian cari Gadis. Gue ga mau kehilangan satu lagi sahabat. Kalian adalah sahabat-sahabat terbaik gue.” Cinthunks nampak berkaca-kaca, begitu pula yang kurasakan.

Rasa haru dan sedih menyeruak dalam hati kami. Belum lepas dari ingatan kami dengan kepergian Era yang menimbulkan kesedihan di hati, kini ditambah lagi dengan minggatnya Gadis dari rumahnya.

Suasana menjadi hening, hanya terdengar suara deru nafas kami yang berusaha menahan kesedihan. Kami berdua hanya menundukkan kepala. Jam di dinding terus berputar, dia tak peduli dengan keadaan hati kami yang sedang dirundung kesedihan.

Tiba-tiba suara merdu mengagetkan kami berdua. “Eh, maaf! Kirain ga ada temannya!”

Aku seketika mengangkat kepalaku melihat ke arah suara tersebut.

Dan….

“Oh, my good… !” seruku dalam hati. “Dia ‘kan artis sinetron FTV. Ternyata lihat aslinya cantik banget dibandingkan lihatnya di TV.” Aku tertegun tak berkedip sama sekali.

“Klik. Jeepppreet…” Kilatan cahaya blitz kamera dari HP Cinthunks seketika menyadarkanku.

“Hahaha…” Tawa Cinthunks ketika melihat hasil jepretan fotoku di kameranya. Lalu ia menyerahkan HP-nya kepadaku untuk kulihat.

“Hah…?!” Ekspresiku kaget setelah melihat fotoku sendiri di HP Cinthunks.

Di foto itu, nampak ekspresi kagetku yang benar-benar natural. Mataku melotot dan mulut menganga. Mirip kayak orang bego.

“Usil banget kamu.” ujar wanita itu matanya tertuju pada Cinthunks. Lalu beralih melihatku dengan senyum yang merekah. “Oiya, kenalin. ‘Silvia Fully’.” Dia mengulurkan tangan mengajakku bersalaman

“rad.” kataku cepat sambil menyambut tangannya.

Lembut dan halus sekali kulitnya saat aku bersalaman dengannya sampai-sampai rasanya tak ingin kulepaskan dari genggamanku.

“Udah dong rad, salamannya.” Celetuk Cinthunks. “Ntar tangan cewek gue lecet. Hahaha…” Dia tertawa lepas. Ekspresi senang terpancar dari mimik wajahnya setelah sukses mengerjaiku.

“Serius, Thunks!” Kembali aku dibuatnya kaget. “Lo dengan dia, jadian?!” Aku geleng-geleng kepala melihat kenyataan di hadapanku. Aku seperti sedang menonton film, ‘Beuaty And The Beast’. Wanitanya cantik sedangkan lelakinya buruk rupa.

“Tanya aja langsung ke orangnya, rad! Kalo lo, ga percaya.” sahutnya cengegesan.

“Kok Mbak cantik mau sih, sama patung Bundaran HI kayak dia?” tanyaku bergurau. “Mungkin Mbak lupa ya, pake kacamata!”

“Hahaha…” Cewek cantik itu tertawa setelah mendengar candaanku.

“Iya, Mas. Saat dia nembak gue, kebetulan saat itu gue ga pake kacamata. Kirain yang nembak gue adalah Leonardo Di Caprio. Eh, taunya…! Nyesel juga, sih. Hehehe…” Cewek cantik itu tertawa pelan sambil tangannya menutup mulutnya sendiri.

“Buahahaha….” Aku tertawa terbahak-bahak.

Kulihat ekspresi Cinthunks jadi cemberut, “Jiah, pura-pura merajuk. Biar dapat simpati dan perhatian dari ceweknya. Bakalan gue bully lagi nih anak.” Gumamku membatin.

“Mau lo ketawa, lo manyun kayak gini pun. Wajah lo ga ‘kan berubah, Thunks. Apalagi lihat lo monyong gitu! Bukannya lo semakin ganteng tapi makin hancur. Mulut monyongmu barusan mirip mulut ikan louhan. Hahaha…” Aku tertawa lepas. Puas sekali rasanya mem-bully temanku yang terlihat mati kutu di hadapan ceweknya.

“Buahahaha….” Cewek cantik itu pun ikut tertawa terbahak-bahak.

Kami bertiga pun ngobrol ringan, bercanda gurau, kadang sesekali aku dan wanita itu kembali mem-bully Cinthunks membuat suasana di ruang tunggu ini menjadi rame, penuh gelak tawa canda hingga tak terasa waktu udah menunjukkan pukul 8.30 wib.

HP cewek cantik itu berdering. Lalu ia beranjak dari tempat duduknya, melangkah keluar dari ruang tunggu. Tak lama kemudian cewek itu kembali menemui kami, dia berbicara dengan Cinthunks. “Beib, aku pulang duluan, ya. Tadi mama telpon minta ditemenin ke dokter gigi.” Cewek cantik itu kemudian memeluk Cinthunks dengan mesra.

“Duh, bikin ngiri gue aja kalian. Oiiiy..!. Gue masih di sini, bukan patung.” Omelku dalam hati.

“Iya, Beib.” sahut Cinthunks. Keduanya melepaskan pelukannya.“Hati-hati di jalan, ya!”

“Iya, Beib. Daadaahhh…” sahut cewek cantik itu sambil melambaikan tangannya pada Cinthunks dan dibalas pula oleh Cinthunks dengan lambaian tangan.

Setelah kepergian ceweknya, Cinthunks berkata.“Yuk rad kita ke rumah Gadis! Gue pengen tau kejadian sebenarnya kenapa sampai Gadis kabur dari rumahnya.”

“Bentar, Thunks.” kataku memintanya sabar. “Gue telpon Black dulu. Semoga mereka masih ada di sana!” Aku lalu memencet nomor telpon Black dan menekan ok di ponselku.

“Ya hallo, rad.” sahut Black dari ujung telpon sana.

“Hallo, Black. Kalian berdua masih di rumah Gadis?” tanyaku.

“Iya, aku dan Senja masih di rumah Gadis. Oiya, gimana kamu udah ketemu belum sama Cinthunks?” tanyanya dari ujung telpon sana.

“Sudah ketemu. Nih, anaknya lagi sama aku sekarang. Kalian jangan pulang dulu, kami mau ke sana!” kataku memberitahu Black.

“Ok tak tunggu kalian!” jawabnya.

“Assalamualaikum.” Ucapku mengakhiri pembicaraan telpon dengan Black.

“Waalaikum salam.” Sahutnya. Klik.

Setelah menelpon Black, kami segera meluncur ke rumah Gadis untuk berkumpul merencanakan pencarian Gadis.

#####​

Lokasi : Rumah Gadis

“Tante…!” Aku mencium buku tangan mamanya Gadis sebagai bentuk rasa hormat, diikuti juga oleh Cinthunks dengan melakukan seperti yang kulakukan.

“rad, Cinthunks. Makasih ya, kalian mau datang ke sini!” ujar mamanya Gadis nampak berusaha tersenyum untuk menutupi matanya yang merah dan sembab.

“Iya, Tante. Maaf agak telat kami ke sini. Tadi aku ngejemput anak ini dulu, Tan.” Sambil menunjuk Cinthunks yang terlihat hanya cengegesan.

“Yaudah Tante mau ke belakang dulu! Kalian terusin aja ngobrolnya.” ujar Beliau sambil beranjak meninggalkan kami berempat di ruang tamu.

“Jadi gimana rad, langkah kita selanjutnya untuk mencari Gadis?” tanya Senja. “Kalo kita cari bareng-bareng sepertinya kurang efektif.”

Aku sejenak menghela nafas, kemudian mulai menjawab pertanyaan Senja. “Menurut pendapat gue, kita jangan barengan nyari Gadis melainkan berpencar nyarinya. Kita bagi aja jadi empat wilayah terlebih dahulu. Barat, Timur, Utara dan Selatan. Dan untuk wilayah Pusat kita serahkan ke Mama Gadis untuk mencarinya.”

“Aku akan cari di wilayah Timur.” sambung Black. “Kebetulan daerah wilayah Jakarta Timur sudah sangat familiar bagiku.”

“Gue bantu cari di wilayah Selatan.” Senja ikut menimpali. “Kan biar bisa ngajak bareng Sadako pacar gue, hehehe…”

“Kamu, Thunks. Mau cari di wilayah Utara atau Barat?” tanyaku pada Cinthunks yang hanya cengengesan saja sejak tadi.

”Jakarta Utara aja, rad.” sahut Cinthunks cepat. “Banyak yang gue kenal di sana soalnya.”

“Berarti gue cari Gadis di wilayah Jakarta Barat.” kataku. “Nah, untuk selanjutnya kita harus saling memberitahukan lokasi kita pada saat pencarian. Untuk itu gue harap kita selalu standby alat komunikasi. HP mesti nyala terus selama pencarian.”

“Setuju kalo gitu.” kata Black menanggapi. “Dan kalo bisa hindari masalah, fokus pada pencarian Gadis. Jangan pacaran mulu ntar.”

“Hahaha…” Senja tertawa setelah mendengar kalimat Black terakhir. Itu kalimat sindiran yang diarahin padanya.

Lalu kami mulai memetakan sendiri-sendiri lokasi-lokasi kira-kira Gadis berada saat ini. Nama, alamat dan no. telpon teman-teman kampus yang dikenal Gadis kami catat dan dijadikan sebagai acuan untuk proses pencarian tersebut.

Senja tiba-tiba beranjak dari tempat duduknya, dan mengatakan pada kami bahwa dia mau ke WC. HP-nya tergeletak di atas meja. Black dengan senyum liciknya mengambil HP milik Senja. Aku dan Cinthunks hanya melihat saja apa yang dilakukan Black. Dia mematikan HP itu, membuka cashing, mengeluarkan sebuah benda dari dalam tasnya kemudian benda itu ditempelkannya di HP Senja. Setelah itu, dia memasang kembali batre dan lain-lainnya hingga HP Senja kembali seperti semula.

“Sekarang kita aktifkan GPRS-nya.” Ujarnya sambil menyunggingkan senyum. “Di manapun Senja berada bisa kita pantau rad. Asalkan ia menyalakan HP-nya” Sambung Black.

“Nih, kamu bawa aja HP ini!” Dia menyerahkan HP miliknya padaku. “Kamu bisa memantau keberadaan Senja. Hahahah…” Black tertawa puas karena berhasil mengerjai Senja.

Sementara Cinthunks hanya geleng-geleng kepala saja melihat keusilan Black dan rencana Black itu.

Tak terasa waktu telah menunjukkan jam 11.00 wib, Mamanya Gadis kembali ke ruangan tamu mengajak kami berempat makan siang. Sambil makan bersama, Mamanya Gadis menceritakan kenapa Gadis sampai nekat kabur dari rumah. Ternyata, Mamanya Gadis telah menerima perjodohan itu tanpa persetujuan Gadis. Dan Gadis sama sekali tidak mau dijodohkan dengan pilihan dari Mamanya tersebut. Nampak sekali mata Beliau berkaca-kaca saat kembali teringat dengan putrinya. Selanjutnya aku memberitahukan rencana yang telah kami susun dan sepakati bersama untuk membantu pencarian Gadis. Aku kembali menjelaskan rencana pembagian wilayah pencarian dan juga meminta Beliau membantu pencarian Gadis di wilayah Jakarta Pusat. Setelah semua setuju kami pun mulai berpencar untuk mulai melakukan pencarian terhadap Gadis.

#####

Bersambung….

Apakah rad bisa menemukan Gadis?

Apa saja pengalaman rad temui saat mencari keberadaan Gadis?

Kelucuan apa saja yang terjadi di update selanjutnya?

Bersambung

END – 6 Teman Teman Part 20 | 6 Teman Teman Part 20 – END

(6 Teman Teman Part 19)Sebelumnya|Bersambung(6 Teman Teman Part 21)