6 Teman Teman Part 2

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21

6 Teman Teman Part 2

Start 6 Teman Teman Part 2 | 6 Teman Teman Part 2 Start

“Buughh”

“Aduh…! Sakit…!” erang seorang gadis mengaduh kesakitan.

Aku menoleh ke arah gadis itu, dan seketika jantungku berdetak kencang, mulutku menganga dan mataku tak berkedip, memandang sosoknya, yang imut dan cantik.

“Ya Allah…! Cantiknya cewek itu..!” batinku berkata dalam hati.

Segera aku bangkit dan mendekati cewek itu.

Sambil tersenyum, aku mencoba bersikap sopan untuk membantunya berdiri.

“Punya mata nggak lo.” semprotnya marah. “Sakit tau..!”

“Eh, maaf-maaf! Gara-gara gue, lo jadi jatuh.” ucapku ramah memberitahu. “Gue buru-buru, sampe nggak lihat lo tadi.”

Aku mengulurkan tanganku, untuk membantunya berdiri. Dan cewek itu menerima uluran tanganku, walau masih dengan ekspresi cemberut.

Namun, begitu dia berdiri.

Tiba-tiba…

“Bruuukk…”

Dari arah belakang, ada orang yang menabrak kami.

Sehingga, kami berdua terdorong jatuh, dengan tubuhnya menimpaku.

Aku dan cewek tersebut, terdiam sejenak. Dalam posisi tubuh kami, saling merapat dan saling berpelukan. Aku di bawah dan ia di atas.

Hembusan nafasnya terasa menyejukkanku, aroma parfumnya bagai menghipnotisku.

Sehingga, aku hanya terpaku dan tertegun di posisiku sekarang dengan tetap memeluknya.

Jarak wajah kami yang begitu dekat, saling menatap dan memandang satu sama lain, membuatku terhanyut akan pesona kecantikannya.

“Plakk… Plakk…”

“Auuww..” jeritku tersadar oleh gamparan tangan lembut cewek itu.

Dua tamparan mendarat di pipi kanan dan kiriku. Siapa lagi kalau bukan cewek yang berada di atasku saat ini.

“Hahaha….” tawa kencang seorang cowok tengil ketika melihatku digampar oleh cewek itu.

Aku mendengus kesal cowok tengil itu. “Coba aja kalo ngga ada nih cewek! Dah gue pites, tuh cowok tengil itu!” gerutuku kesal dalam hati.

“Hey, lepasin tangan lo.” teriaknya memberitahu. “Mau gue gampar lagi pipi lo, apa mau gue tonjok.”

Aku tersadarkan dan buru-buru melepaskan pelukanku. Sedikit mendorong tubuhku, ia bangkit dengan ekspresi kesal.

“Duh jadi kotorkan baju seragamku.”omelku dalam hati.

Kulihat jam tanganku sudah menunjukkan pukul 7.35 wib, sontak aku bangkit dan bergegas untuk ke lapangan di mana siswa/siswi baru akan berkumpul untuk mengikuti MOS.

Aku melihat cewek itu berjalan tertatih-tatih, sambil meringis menahan nyeri di lututnya yang tergores.

Aku mendekatinya untuk membantunya berjalan.

“Jangan, nolak! Gue tulus kok, mau bantuin lo.” ucapku memberitahu. “Sebagai permintaan maaf gue. Gue antar lo ke ruang UKS!”

Dia hanya menganggukkan kepala.

“Kenalin gue, Rizki Ahmad Darmadji. Panggil RAD aja, biar singkat dan gampang diinget.” ucapku sambil mengulurkan tangan mengajaknya kenalan.

“Ih…! Pede amat lo.” serunya ketus namun ada sedikit senyum tipis di bibirnya. “Siapa juga mau kenalan sama lo?”

“Yaudah, kalo lo nggak mau.” ucapku kecewa. “Gue sekarang mau ke lapangan aja!”

Aku beneran kecewa dan malu dan mulai berjalan meninggalkannya.

Namun, tiba-tiba…

Ia memanggilku dan mencegahku untuk meninggalkannya di tempat itu.

“Tunggu, RAD!” serunya memberitahu. “Bantuin gue, dong. Ke ruang UKS!”

Aku menoleh ke belakang, tampak wajahnya tersenyum walau sedikit terlihat raut kesakitan.

“Ok, aku bantuin lo, ke ruang UKS!” ucapku memberitahu. “Asalkan lo, kasih tahu nama lo, siapa?”

“Nur Azizah.” jawabnya sambil mengulurkan tangan. “Panggil aja Ziza.”

Aku menyambut tangannya dan kami bersalaman sejenak.

“Cantik sekali kamu, Ziza. Kok, gue jadi deg-degan begini! Dan bibirku seolah susah untuk bicara.” batinku berkata.

“Hey, RAD..! Kok, lo malah bengong.” serunya memberitahu. “Bantuin gue dong.”

“Eh, iya..!”seruku kaget. “Ayo gue bantuin lo ke ruang UKS!”

.

.

.

.

Lokasi : ruangan Unit Kesehatan Sekolah atau disingkat dengan UKS

Seorang perempuan kakak kelas yang bertugas sebagai petugas PMR atau Palang Merah Remaja, segera menghampiri kami dan ikut membantu memapah Ziza.

“Kenapa dengan lututmu, Dek? tanya kakak PMR itu pada Ziza.

“Jatuh Kak.” jawabnya cepat. “Tadi buru-buru jalannya, dan tabrakan sama orang itu!”

Aku hanya cengengesan, ketika Ziza menunjukku.

“Kak…! Saya permisi dulu, mau ke lapangan!” ucapku pamit. “Ziza, gue duluan, ya.”

“Ok, kamu buruan deh ke lapangan!” ucap kakak PMR itu. “Bilang aja tadi dari PMR, kalo ditanyain kakak panitia, biar nggak dihukum.”

“Iya RAD.” ucap Ziza. “Makasih ya.”

Aku mengacungkan jempol kepada kedua cewek itu lalu pergi menuju lapangan tempat diadakannya MOS.

.

.

.

.

Lokasi : lapangan SMA Semprot

Seluruh siswa/siswi baru, telah berkumpul di lapangan sekolah, dengan berbagai atribut MOS yang telah mereka pakai.

“Gue harus tanya ke siapa, ya? Tidak ada yang gue kenal di sini!” pikirku bingung. “Apa gue, pura-pura sok kenal aja, ya?”

Dengan pede, aku melangkah menuju kerumunan siswa/siswi baru.

Pada saat aku sudah berada di kerumunan siswa/siswi itu, aku melihat seorang cewek lumayan cantik sih, tapi dia bukanlah tipeku.

Langkah kakiku, sedikit kupercepat supaya aku segera mendekatinya.

“Gadis.” gumamku setelah melihat name tag yang terbuat dari kertas karton itu.

Dengan pede aku segera menegur dan memperkenalkan diriku.

“Hey…!” seruku menyapa; memperkenalkan diri. “Gue RAD.”

Dia melihatku lekat-lekat dan sepertinya sedang menilai kepribadianku, tingkah lakuku yang kubuat sok pede dan bergaya sombong.

“Hey..! Malah bengong.” ucapku setelah melihat reaksinya; Aku menggodanya. “Kagum ya, dengan ketampanan gue.”

“Ihh.. Songong lo!” sahutnya mengomel. “Gue, Gadis.”

Dia hanya memanyunkan bibirnya, mungkin saja sedang kesal dengan gayaku, yang kubuat-buat pede, dan terkesan sombong.

Melihatnya cemberut seperti itu, malah dia terlihat semakin manis dan cantik.

“Cantik juga nih, cewek! Gue kerjain, ah..!”gumamku berpikir sejenak.

“Lah, memang gue ganteng.” ucapku jumawa. “Buktinya lo segitunya, lihatin gue!”

“Hahaha.” tawaku lebar.

“Iya-iya, lo ganteng.” jawabnya singkat, lalu meledekku. “Dibandingkan yang suka bergelantungan di pohon.”

“Hahahah.” tawanya puas mengejekku.

Aku tersenyum saja dikatain monyet olehnya.

“Lihat saja nanti, kamu bakalan grogi saat menyambut uluran tanganku.” kata batinku.

Aku mengulurkan tanganku mengajaknya kenalan.

“Rizki Ahmad Darmadji.” seruku lagi memberitahu. “Calon orang terkenal. Beruntung sekali, lo kenal gue, sekarang!”

Setelah aku menyebutkan nama lengkapku, terlihat Gadis menatapku nanar, seakan sedang menilai diriku; baik atau buruk sifat dan pribadiku.

Gadis menyambut uluran tanganku, lalu ia menyebutkan nama lengkapnya.

“Gadis Sorah Yukata. Panggil Gadis atau eneng, aja.”

“Wow…! Namanya keren, kayak nama orang Jepang. Tapi kok, tidak mirip orang Jepang. Kayak di film-film JAV.” batinku.

Aku malah senyum-senyum mesum, mendengarnya, menyebutkan Yukata, nama belakangnya.

Ingatanku kok malah mesum membayangkan sosok Maria Ozawa..

“Beutifull. Nama yang cantik. Secantik orangnya. Kamu kayak Sisuka di film Doraemon.” ucapku membual walau tidak seperti sama dengan kenyataan yang sebenarnya.

Aku melihatnya tersipu malu, wajahnya memerah saat aku memujinya dengan kata “CANTIK”.

“Kok, aku deg-degan gini! Lihat ekspresinya seperti itu!” ucapku membatin.

Entah, kenapa? Aku dan Gadis hanya terdiam saling melihat. Sementara kedua tangan kami, masih bersalaman.

Namun, tiba-tiba…

“Kalian berdua, ke sini!!”

Sebuah suara cempreng itu menyadarkanku.

Buru-buru kulepaskan tanganku dari tangannya.

Suara wanita bernada cempreng sukses menghentikan perkenalan kami.

Kulihat cewek tinggi dan kurus sedang melotot ke arah kami.

Ekspresinya datar dan dingin.

Cewek itu, ternyata kakak panitia MOS. Dari badge pengenal nama, yang tergantung di lehernya. Namanya, Sadako.

“Sekarang, Kak?” tanya Gadis kaget.

“Detik ini juga!!!” sahut kakak panitia itu tegas.

Aku maju ke depan dengan santai, tetapi Gadis terlihat gemetar. Ingin rasanya aku memegang tangannya, hanya sekedar menenangkan dirinya.

Setelah mendekat Sadako mengeluarkan perintahnya padaku.

“Kamu ke sana, temui kakak itu!”

“Dan kamu, tetap di sini!” nunjuk Gadis tegas.

Aku lantas melangkah ke arah yang diperintahnya, menemui kakak senior yang ditunjuknya. Meninggalkan Gadis yang terlihat pucat pasi menghadapi kakak senior itu.

Bersambung

END – 6 Teman Teman Part 2 | 6 Teman Teman Part 2 – END

(6 Teman Teman Part 1)Sebelumnya|Bersambung(6 Teman Teman Part 3)