6 Teman Teman Part 19

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21

6 Teman Teman Part 19

Start 6 Teman Teman Part 19 | 6 Teman Teman Part 19 Start

SPECIAL EDITION

Kemarin adalah masa lalu. Hari ini adalah realita atau kenyataan. Dan hari esok adalah cita-cita atau harapan.

Pengalaman adalah guru yang paling berharga. Peribahasa yang tak asing bagi mayoritas masyarakat kita. Dan peribahasa ini mengandung makna yang mendalam dan luas.

Pada dasarnya, kejadian atau peristiwa menyenangkan ataupun tidak menyenangkan merupakan suatu akibat dari apa yang telah kita usahakan dan perjuangkan di masa lampau.

Bila kita mengusahakan dengan cara yang salah, maka kita akan menuai hasil yang tidak menyenangkan dan tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan. Begitupun sebaliknya, bila kita mengusahakan dengan cara yang benar dan sungguh-sungguh, maka kita akan mendapatkan hasil yang memuaskan.

Makna peribahasa, pengalaman adalah guru yang paling berharga dapat diartikan sebagai kejadian atau peristiwa yang telah terjadi di masa lampau yang dialami oleh seseorang, kemudian dari peristiwa atau kejadian tersebut kita jadikan sebagai pelajaran atau peringatan untuk menuju langkah perjalanan hidup berikutnya.

Seperti halnya diriku, aku pernah merasakan pengalaman yang sangat tidak mengenakkan dalam hidupku yaitu mendekam dalam sel tahanan.

Semua itu aku jadikan pengalaman berharga yang dapat mendewasakanku dan menjadikanku menjadi pribadi yang lebih baik.

Masih teringat dengan jelas di ingatanku, saat pertama kali aku di bawa ke kantor polisi dan akhirnya aku di jebloskan ke dalam sel tahanan.

●°●°●°●°●°●°●°●

Beberapa bulan yang lalu

Waktu itu aku sedang berada di rumah Era untuk menenangkan diri selepas dari insiden Gadis yang di tampar oleh Ernest dan akhirnya berlanjut ke insiden dimana aku dan Ernest berantem sampai akhirnya aku kelewat batas dan memukul kepala Ernest dengan balok kayu.

Saat aku dan Era sedang asik mengobrol, terasa getaran handphone di saku celanaku.

Drrrrttttt…! Drrrrrttttt….! Drrrrrttttt…!

Drrrrttttt…! Drrrrrttttt….! Drrrrrttttt…!

“Ra, aku jawab telpon bentar ya!” ujarku pada Era.

“Eh, iya By!” jawabnya dengan wajah memerah seperti salah tingkah.

“Hallo, Assalamualaikum. Iya, Ma. Ada apa?” sahutku setelah menjawab telepon dari Mamaku di rumah.

“Waalaikum salam, pulang gih Nak! Ada polisi di rumah nyari kamu!” jawab Mama dengan nada suara seperti kebingungan.

Degh!!

“Iya, Ma. Bryan pulang sekarang!” sahutku dengan segera mengakhiri sambungan telepon itu dengan salam. “Assalamualikum…”

“Waalaikum salam…”

Klik

Sambungan telepon pun terputus. Dan kini hatiku diliputi rasa was-was, takut dan sekaligus panik mendengar perkataan Mama tadi di telepon.

“Apakah ini ada kaitannya dengan kejadian tadi, ya? Berarti dia (Ernest Prakoso) telah melaporkan kejadian itu ke pihak berwajib sampai-sampai ada petugas kepolisian mendatangi rumahku.” Gumamku dalam hati dengan ekspresi gelisah menerka apa yang terjadi hingga polisi mendatangi rumahku.

Saat aku sedang merenung dan berpikir, terdengar Era bertanya setelah melihat di wajahku nampak gelisah dan ada rasa ketakutan.“Kenapa, By? Kok, wajahmu seperti orang ketakutan?” Ternyata sejak tadi, Era terus memperhatikanku. Dia ikut bingung dan khawatir dengan perubahan ekspresi dan sikapku yang tiba-tiba nampak seperti orang panik dan ketakutan.

“Barusan Mamaku telpon. Mama nyuruh aku segera pulang! Karena di rumah ada polisi yang nyari aku.” jawabku jujur seperti apa yang kudengar dari pembicaraan telepon tadi.

“Hah.. Polisi….!” ucap Era kaget.

Aku hanya menganggukkan kepala dengan lesu dan saat itu juga aku pun langsung berpamitan pada Era dan bergegas untuk segera pulang ke rumah.

.

.

.

Sesampainya di rumah…

Aku mendapati Mamaku sedang menangis dan ada tiga orang polisi yang sudah menungguku di rumah.

“Saudara Bryan! Anda kami tahan karena dugaan kasus penganiayaan terhadap saudara Ernest Prakoso. Dan ini surat perintah pengkapan untuk Anda!” ujar salah satu polisi sambil menyerahkan surat perintah penangkapan kepadaku.

Saat itu aku hanya bisa diam dan pasrah karena aku sadar apa yang telah kulakukan sudah melampaui batas bahkan bisa saja menghilangkan nyawa orang lain kalau saja tidak dicegah oleh Kang Bimo saat itu.

“Jangan bawa anak saya, Pak!” ujar Mamaku memohon saat Beliau melihat salah seorang polisi memborgol tanganku.

Aku melihat Mamaku, wajahnya memerah dan berlinang air mata. Beliau berkali-kali memohon agar aku tidak ditangkap.

Dan saat polisi mulai membawaku masuk ke dalam mobil polisi. Kulihat Mamaku jatuh tersungkur di tanah karena berusaha mengejarku.

Aku sangat terpukul melihat kejadian tersebut. Aku tidak sanggup melihat kesedihan di wajah Mamaku.

“Maafin Bryan, Ma!” ujarku dalam hati saat aku mulai masuk ke dalam mobil polisi.

Mobil polisi yang membawaku terus melaju dengan cepat. Aku hanya tertunduk pasrah dengan keadaanku saat ini.

.

.

.

Sesampainya di kantor polisi…

Aku lalu didata dan dimintai keterangan oleh pihak penyidik. Dan pada saat aku dimintai keterangan oleh pihak penyidik, di situ aku juga melihat ada teman-teman bengkelku dengan tangan terborgol sedang dimintai keterangan oleh polisi.

“Kang Bimo, Kang Boncel dan Aceng!” ujarku memanggil nama mereka satu per satu.

“Black…!” sahut mereka bertiga berbarengan sambil tersenyum menatapku.

“Syukurlah, elo nggak kenapa-kenapa Black?” ucap Kang Bimo kepadaku.

“Kang, maafin aku! Gara-gara aku, kalian juga jadi kena imbasnya ditangkap oleh polisi.” ujarku meminta maaf kepada Kang Bimo, Kang Boncel dan Aceng.

“Sudahlah, Black! Apa yang sudah terjadi tidak perlu disesali. Elo sudah kami anggap seperti saudara sendiri. Elo sudah gue anggap seperti adik gue, Black.” ujar Kang Bimo mencoba menenangkanku.

“Black loe harus lebih bisa mengontrol emosi loe agar tidak kelewat batas.” ujar Kang Boncel menimpali.

“Iya, Kang. Maafin aku, ya Kang!” ujarku lirih sambil menyesali yang sudah terjadi.

“Udah, ah! Loe minta maaf mulu ‘kan hari raya masih lama Black.” ujar Aceng sedikit bercanda sambil tersenyum menatapku dan diikuti tawa dari Kang Bimo dan Kang Boncel.

Aku saat itu merasa sangat beruntung bisa kenal mereka orang-orang baik yang menganggapku seperti saudara mereka sendiri. Bahkan karena ulahku mereka sampai ditangkap polisi namun tak sedikitpun mereka menunjukkan raut wajah marah padaku dan mereka malah tersenyum kepadaku.

Setelah dimintai keterangan oleh pihak penyidik, aku digiring terpisah dari Kang Bimo, Kang Boncel dan Aceng dan dibawa masuk ke dalam sel. Aku di tempatkan di dalam sel yang berbeda dengan Kang Bimo, Kang Boncel dan Aceng.

Tadi pada saat aku digiring ke dalam sel tahanan, aku melihat para tahanan di sini semuanya menatap ke arahku. Dan aku terus berjalan dengan wajah tertunduk dan tangan terborgol.

Kemudian Polisi yang membawaku membuka pintu sel tahanan, membuka borgolku dan menyuruhku untuk masuk ke dalam sel.

Di dalam sel aku mendapati seorang pria paruh baya berambut lurus, berumur kisaran 35 tahun ke atas. Dia terlihat ramah dan tersenyum kepadaku.

“Jangan takut. Duduklah!” ujarnya padaku.

“Siapa namamu?” tanya pria tersebut.

“Bryan.” jawabku sambil mengulurkan tangan berkenalan kepadanya.

“Paul.” Dia mengenalkan dirinya dan menjabat tanganku.

“Kamu kenapa ditangkap?” tanyanya.

“Karena perkelahian, Pak.” Jawabku.

Kuperhatikan sekeliling ruangan ini, hanya ada dia dan aku yang menghuni sel ini.

“Kalau Bapak?” tanyaku padanya.

“Aku di tangkap karena kasus penipuan.” jawabnya.

Aku hanya diam mendengar pernyataannya dan tidak berani bertanya lagi padanya.

“Aku ditangkap karena aku menipu dengan mengaku sebagai perempuan.” ujarnya kembali bercerita padaku.

“Maksudnya, Pak?” tanyaku kebingungan.

“Jadi aku menyamar sebagai wanita dan mendekati wanita lewat SOSMED (sosial media) dan akhirnya berakhir di sini!” ucapnya lirih dan sedikit ada raut penyesalan.

Saat aku mendengar ceritanya, jujur saja yang kurasakan saat itu; antara geli, kasian dan emmmm…! Susah digambarkan pokoknya. “Bagaimana bisa seorang lelaki menyamar sebagai wanita hanya untuk mendekati wanita? Logikaku tak mampu untuk berpikir ke arah sana.” Gumamku membatin.

Namun dibalik semua itu, ternyata Pak Paul ini orangnya baik dan ramah terhadapku.

●°●°●°●°●°●°●°●​

Pagi pertamaku mencicipi sel tahanan adalah hal yang sangat mengesankan. Bagaimana tidak mengesankan kalau sekujur badanku habis digigit nyamuk sepanjang malam. Akibatnya pagi ini sekujur tubuhku bentol-bentol kemerahan dan terasa gatal.

Tak lama setelah aku bangun, terdengar bunyi gerendel dan pintu sel beradu keras.

Terdengar olehku polisi jaga mulai membuka satu per satu sel tahanan dan berteriak sambil memukul-mukulkan pentungan hitamnya ke jeruji besi. “Bangun, waktunya kerja!” ujar petugas itu dengan suara lantang.

Dan saat polisi jaga tersebut telah sampai di depan selku. Dia membuka sel tahananku.

“Hmmmm….!” desisnya sambil mengamatiku dari atas ke bawah.

Pandangannya benar-benar sangat membuatku risih. Aku serasa ditelanjangi.

Bola matanya masih saja melihatku mulai dari kepala hingga mata kaki.

“Ikut saya!” perintahnya.

Aku hanya diam dan menuruti kata-katanya, lalu mengikutinya dari belakang. Aku dibawa ke sebuah ruangan dan di sana, aku mendapati Papa dan Mamaku telah ada di ruangan itu.

“By, kamu nggak kenapa-kenapa ‘kan sayang?” tanya Mamaku yang langsung berlari memelukku.

“Bryan, nggak pa-pa kok Ma. Bryan baik-baik aja.” jawabku sedikit lirih namun aku berusaha tegar menjalani ini semua.

“Papa, Mama, maafin Bryan!” ujarku meminta maaf dan bersujud di kaki kedua orang tuaku.

“By, bangun nak!” ujar Papa-ku menarik tubuhku untuk bangkit.

“Setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan dan jadikan hal ini pelajaran yang sangat berharga dalam hidupmu.” ujar Papa-ku menasehati.

“Lex, makasih ya! Sudah menjaga Bryan.” ujar Papa-ku kepada polisi yang menyuruhku mengikutinya tadi.

“Sama-sama Mas.” jawabnya.

“Bryan kamu pasti lupa sama Om,” ujarnya padaku. “Dulu waktu kamu masih kecil Om sering ke rumahmu dan gendong kamu.”

“Bryan lupa, Om.” jawabku.

“Ini Om Alex, Bryan!” kata Papa mengenalkan polisi yang tadi mengamatiku dari atas ke bawah. Dia adalah temen baik Papa dan dulu Om Alex ini sering ke rumah waktu dulu kita masih tinggal di Surabaya, dulu waktu kamu masih kecil dan Om Alex lalu dipindah tugaskan ke Jakarta.”

“Iya, Pa.” Jawabku singkat.

“Bryan hari ini kamu sudah boleh pulang,” ujar Om Alex. “Berkas laporan tuntutanmu sudah dicabut sama pihak pelapor. Namun kamu dikenakan wajib lapor selama 3 bulan.”

“Alhamdulillah. Ya Allah.” ucapku bersyukur mendengar kabar gembira tersebut.

“Terus teman-teman Bryan Om?” tanyaku mengenai keadaan Kang Bimo, Kang Boncel dan Aceng.

“Mereka juga bebas.” jawab Om Alex.

“Alhamdulillah.” ucap syukurku dalam hati.

Semua ini aku jadikan pengalaman berharga yang dapat mendewasakanku dan menjadikanku menjadi pribadi yang lebih baik lagi kedepannya.

Mendengar berita aku dibebaskan dengan syarat mesti wajib lapor selama tiga bulan ke depannya, semua sahabatku; Rad, Senja, Cinthunks, Era dan Gadis meyambutku dengan suka cita.

Ada rasa haru dan sekaligus bahagia bisa kembali berkumpul dengan para sahabatku. Mereka peduli dan ikut sedih ketika mendengar kabar aku ditahan di Polsek xxx. Bahkan Rad menawarkan seorang pengacara Om disast yang merupakan papanya disast jr teman satu fakultas dengan Rad. Tetapi tawaran Rad kutolak dengan halus karena ini adalah bentuk rasa tanggung jawabku. Aku ingin menghadapi masalahku tanpa melibatkan orang lain walaupun mereka sedikit kecewa saat itu namun aku bisa meyakinkan mereka bahwa aku akan baik-baik saja di sini.

Tiga bulan kemudian setelah aku ditahan…

Kampus kami mengadakan acara festival musik dan entah kenapa aku iseng saja bicara dengan Rad untuk mengikuti lomba tersebut lalu kami mendaftar ke panitia dengan nama grup band kami NEWBIE Band.

Aku yang memang hobby menyanyi walaupun suaraku tidak bagus-bagus amat sih, namun tidak jelek-jelek juga ditunjuk untuk menjadi vokalis di band NEWBIE yang kami bentuk dadakan dengan personil. Aku sebagai vokalis, Rad sebagai gitaris, disast jr sebagai bassis dan RAYxy sebagai drummer.

Dan saat nama kami dipanggil untuk tampil. Dengan penuh percaya diri kami berempat maju dengan membawakan sebuah lagu dari grup band idola-ku SHEILA on 7 yang berjudul SAHABAT.

Dan pada saat menyanyikan lagu itu entah kenapa tiba-tiba lirik lagunya bisa lupa dari ingatanku. Pasalnya saat itu Gadis dengan menitikkan air mata ikut menyaksikan kami. Seketika pikiranku jadi tidak fokus tanpa sadar liriknya kuganti dan itu membuat kami akhirnya didiskualifikasi dari lomba itu.

Sedikit malu, sedih dan kecewa yang kami rasakan terutama aku yang membuat teman-teman band kami jadi didiskualifikasi, tetapi mereka (Rad, disast jr, dan RAYxy) bisa menerima hasil itu dengan legowo bahkan mereka men-support-ku untuk terus maju dan berkembang. Anggap saja kegagalan itu adalah kesuksesan yang tertunda.

“Beruntung sekali aku mempunyai teman-teman seperti mereka.” kataku membatin.

Dan keesokan harinya…

Saat acara fetival musik kampus ditutup, juara festival musik itu telah terpilih yaitu Band Sang Antagonis sebagai juara pertama, Band Indie Girl sebagai juara kedua dan Band Kill Me sebagai juara ketiga.

Acara dilanjutkan dengan tampilnya Band LAWAN ARAH. Band yang diisi oleh kedua sahabat kami yaitu Cinthunks sebagai vokalisnya dan Senja sebagai gitaris. Namun kadang keduanya bisa saling melengkapi. Senja kadang bergantian menjadi vokalis dan Cinthuks mengisi bagian gitarisnya.

Dan diakhir mereka pentas di atas panggung ada hal yang membuatku kaget selain disuruh mereka menyanyi juga kala itu tiba-tiba Cinthunks nembak Era.

“Ternyata selama ini Cinthunks memang benar-benar suka sama Era. Pantesan kalo aku menggoda Era, ekspresi Cinthunks terlihat marah walau ia tutupi dengan sikap dan bercandaannya.”

Dan apa yang diharapkan oleh Cinthunks ternyata tidak kesampaian. Era menjawab pernyataan cinta Cinthunks dengan sebuah lirik lagu yang isinya dia lebih senang jomblo.

Ekspresi kecewa, sedih dan malu terpancar di wajah Cinthunks, namun di depan orang banyak ia masih bisa tertawa dan tersenyum padahal hatinya sedang kecewa karena cintanya ditolak dan membuatnya menghilang beberapa hari sejak kejadian itu.

Cinthunks tidak pernah pulang ke kost-annya selama seminggu sejak hari itu. Kami semua jujur khawatir dengan perubahan sikap Cinthunks. Biar bagaimana pun dia adalah sahabatku. Sejelek-jeleknya ia (Cinthunks) dia itu sobat kami, dia sedih kami pun ikut merasakan kesedihannya.

Sebulan kemudian setelah acara penolakan Era…

Belum selesai masa wajib laporku selama 3 bulan, tiba-tiba aku mendapat kabar buruk tentang persahabatan kami. Ya, tadi pagi aku sempat kaget setelah mendapat telepon dari Gadis. Melalui sambungan telepon Gadis memberitahu bahwa Era pamit menyusul kedua orangtuanya ke London Inggris tanpa sempat berpamitan dengan kami semua. Dia hanya menitipkan sebuah buku diary yang terkunci dan boleh dibuka jika kami berlima (aku, Rad, Senja, Cinthunks, Gadis) telah berkumpul. Dan kunci buku diary itu, ternyata telah Era titipkan ke Rida calon istrinya Rad tanpa bilang ke kami berlima.

Sesuai dengan kesepakatan kami. Ya, siang nanti kami berlima akan berkumpul bersama untuk membicarakan masalah Era ini di rumah Gadis yang merangkap posko 6S.

Dalam hati kecilku berkata, “Ra, ada apa dengan kamu? Kenapa kamu tidak mau bicara kalo sedang ada masalah? Bukankah kami berlima ini adalah sahabatmu?”

Sambil mengenang kembali persahabatan kami beberapa tahun yang lalu sedikit banyak dengan keputusan Era ini membuatku sedih dan juga kecewa. Padahal dulu dia (Era) pernah bilang untuk tetap bertahan di Indonesia demi kami berlima dan persahabatan kita. Tapi kini, apa yang membuatnya berubah dan mengambil keputusan itu? Aku dan sobat-sobatku yang lain pun pasti akan merasakan hal yang sama dengan keputusan Era meninggalkan kami untuk tinggal bersama orangtuanya di luar negeri.

●°●°●°●°●°●°●°●​

Lokasi : Rumah Gadis

Jam 1 siang, sesuai kesepakatan kami akhirnya kami berlima berkumpul di rumah Gadis, Rida dan Sadako yang merupakan kekasih dari Rad dan Senja ikut datang ke rumah Gadis. Keduanya pun sama seperti kami, mereka kaget dengan keputusan Era yang memutuskan untuk pergi tanpa ada penjelasan pada kami atau ke salah satu dari kami berlima.

Tiba-tiba Gadis muncul memberitahukan pada kami semua yang sedang duduk-duduk bersantai di gazebo.

“Sebelum kita bahas soal Era dan buku diary-nya ini, sebaiknya kita makan dulu. Mami udah masak buat kita semuanya!”

Dengan semangatnya kulihat Senja paling duluan berjalan sambil merangkul Sadako pacarnya. Ya, sobatku ini kalau mendengar makanan dia paling duluan maju, istilahnya, SENJA SEMAKIN DI DEPAN kayak mirip iklan di merk otomotif itu loh. Hahaha.

Dan acara makan siang bersama itu kami lewati dengan penuh suka cita. Nampak di piring Senja ada bermacam lauk pauk memenuhi piringnya dengan nasi yang juga banyak hingga terlihat piringnya itu penuh.

“Kaaalllooo ma’an tuh dinilmati! Benel nggak Neeeeng?” ujar Senja bicara padaku dengan mulut yang penuh berisi makanan.

Namun, tiba-tiba…

“Uhuuukkk… Uhuuukkk…. Hoek…” Senja terbatuk-batuk dan seketika memuntahkan semua makanan yang dikunyahnya tadi saat makan sambil ngomong.

“Hahaha….” Tawaku ngakak melihat Senja terbatuk-batuk karena salahnya sendiri.

“Sering dibilangin kalo makan tuh jangan sambil ngomong! Jadi gini ‘kan? Nih, minum dulu yank!” Sadako tiba-tiba mendekati Senja sambil membawakan segelas air putih dan menyerahkannya pada Senja.

Selesai acara makan-makan…

Kami sudah berkumpul di gazebo di rumah Gadis. Di tempat ini kami sering membicarakan hal-hal yang dianggap penting dari persahabatan kami ataupun masalah-masalah yang kami berenam alami.

Lalu Gadis meletakkan sebuah buku diary itu di hadapan kami. Rad duduk berdampingan dengan Rida, Senja dengan mesra duduk bersebelahan dengan Sadako, Cinthunk, aku dan Gadis masing-masing di hadapan kedua pasangan itu.

“Jadi gini! dua hari lalu Era datang ke rumah sambil membawa buku itu!” ujar Gadis membuka obrolan kami sambil menunjuk ke buku di hadapan kami. Dan Gadis pun menjelaskan secara singkat pertemuannya dengan Era dua hari lalu sebelum dia berangkat ke luar negeri. “Dia datang sebentar hanya 10 menit lalu seketika memeluk dan mencium pipiku sambil berkata. ‘Terima kasih buat kamu Dek, Rad, Senja, Black dan Cinthunks kalian adalah sahabat-sahabat terbaikku. Namun setiap perjumpaan ada perpisahan dan kata perpisahan itulah yang berat untukku. Aku terpaksa nyusul ke London untuk kuliah di sana karena Papa dan Mama tidak bisa lagi pulang ke Indonesia karena bisnis mereka di sana sedang maju-majunya. Terpaksa aku mengalah memilih kalian atau keluarga. Maafkan atas keputusan aku Dek. Ini pilihan yang berat dalam hidupku!”

“Dan pesannya!” sambung Gadis melanjutkan perkataannya. “Alasan dia berangkat ke sana ada di dalam buku ini yang kunci buku diary-nya ternyata telah ia titipkan di Rida satu hari sebelum ia menemuiku. Benar begitu Da?” tanya Gadis pada Rida dan dijawab Rida dengan anggukan kepala.

Lalu kami meminta Rad untuk membacakan isi dari buku itu setelah kuncinya diserahkan Rida kepada Rad.

Diary-ku…

Sahabat…

Di belahan bumi mana pun aku berada kalian akan tetap menjadi sahabatku. Raga kita berpisah waktu dan tempat namun persahabatan kita akan lestari dan abadi. Itu janji seorang Era Kusumawardhani.

Saat pertama kali mengenal kalian… Saat itulah aku menemukan kebahagiaan yang selama ini tidak kurasakan. Karena kalianlah Era bisa percaya diri, Era bisa bersahabat dan Era bisa terbuka.

Sejak kecil hingga sebelum mengenal kalian.

Era hanya ditemani babysitter dan tidak diperbolehkan keluar rumah, anak mami kata orang jaman now. Tapi itu kenyataannya hingga Papa dan Mama memberi kebebasan pada Era karena melihat kalianlah, entah kenapa Papa dan Mama percaya dan memberi kebebasan pada Era untuk menjalin persahabatan.

Era bisa mengenal sosok Rad yang aku dan Gadis panggil dengan sebutan Kakak karena dia bisa ngemong in kita semua. Mengayomi dengan perkataan-perkataan yang lembut namun bermakna nasehat demi kebaikan.

Senja… Kalo orang ini awalnya ngeselin banget sih! Usil dan selalu minta dijajanin mulu. Namun di balik itu semua dia orangnya baik dan suka menolomg tanpa pamrih.

Black… Playboy dan suka tebar pesona ke lawan jenis saat aku mengenal sosok ini. Wajahnya sih lumayanlah. Nampak angkuh dan terkesan sombong bagi yang belum mengenal dekat dirinya. Namun setelah kenal ternyata orangnya asyik dan menyenangkan walau suka ngegombalin aku. Dan hampir saja aku dibuatnya jatuh hati karena itu, untung saja aku ingat dia itu pacarnya sahabatku Gadissoyu.

Gadissoyu… Adik kecil yang manja, bawel dan sekaligus ngegemesin karena Era anak tunggal. Dia sosok periang, nggak tegaan namun sedikit oon menurutku. Maaf ya Dek! Kan ini penilaian Kakak, hahaha…. Dia sempat berpacaran dengan sahabat kami yaitu Bryan alias Black. Dan entah kenapa sampai akhirnya mereka putus? Aku ikutan sedih saat melihat Gadis sampe mengurung dirinya di dalam kamar sejak kejadian itu. Namun syukur alhamdulillah sekarang dia sudah move on dan bisa kembali bersahabatan dengan Black seperti saat-saat kami dipertemukan dulu.

Dan terakhir sosok Cinthunks… Dekil, item, kucel dan bau. Hehehe (emoticon nyengir) Namun di balik penampilannya yang Ndeso itu ternyata orangnya paling care dan sayang sama Era. Itu dapat Era rasakan saat-saat awal perkenalan kami. Dia (Cinthunks) bahkan rela dihukum demi menyelamatkanku dari hukuman Sadako yang akhirnya jadi kekasih Senja.

Dan momen yang membuatku terharu adalah saat ia menolongku dari rencana jahatnya Awan Samudra. Cinthunks melampiaskan marahnya saat melihatku dilecehkan oleh Awan yang saat itu aku sangat menyukainya karena ketampanannya.

Sikapnya itu sedikit banyak membuatku luluh dan mulai mengagumi sosok Cinthunks. Namun karena kegagalan hubungan Gadis dan Black membuatku meyakinkan hatiku untuk tidak berpacaran dengan sahabat sendiri.

Tidak ada cinta-cintaan di antara 6S ya, hahaha…

Dan ternyata keputusanku salah telah menolak perasaannya yang tulus itu. Sejak itu aku mendengar kabar bahwa Cinthunks tidak pulang ke kost-annya lebih dari dua hari tanpa kabar berita apapun.

Lalu aku mencari informasi dengan menyelidiki Cinthunks secara diam-diam tanpa sepengetahuannya. Dan ternyata dia terlihat sedang berada di sebuah klub malam tempat anak-anak dugem.

Dan siapa wanita itu…?

Kenapa hatiku cemburu saat melihat wanita itu dengan mesranya mengelus pipi Cinthunks?

Dari kejauhan aku mengawasi keduanya hingga akhirnya mereka beranjak dari tempat ini. Segera aku mengikuti mereka dari belakang. Namun saat itu tanpa kusadari ada seseorang yang juga sejak tadi mengawasiku. Hingga sebuah sapu tangan menerpa hidungku dan membuatku pingsan.

Aku sadar namun seketika kaget saat melihat diriku sudah tidak berpakaian lagi di sebelah sosok laki-laki yang ternyata Awan Samudra yang juga tanpa sehelai benang.

Sontak aku marah, tiba-tiba aku melampiaskan amarahku dengan menampar pipinya hingga membuat Awan Samudra terbangun.

Bercak darah terlihat membekas di sprey tempat tidur dan juga nampak di sekitar kewanitaanku. Kemaluanku yang terasa sakit saat aku mau berdiri dan memakai pakaianku.

“Ingat kamu harus bertanggung jawab! Jika tidak esok kupastikan hanya sebuah nama akan mengenangmu di atas sebuah batu nisan!” Itu kata-kata yang meluncur dari seorang wanita yang tersakiti karena kehormatannya diambil tanpa seijinnya.

Dan karena itulah aku memutuskan untuk menikah dengan Awan Samudra di London. Doain semua ya pernikahan kami langgeng dan maaf untuk kalian karena ini mungkin pertemuan kita yang terakhir kalinya.

Dari sahabat kalian.

Era Kusumawardhani.

Rad selesai membaca buku itu, kami semua terdiam. Entah apa yang ada dipikiran kami masing-masing? Yang jelas aku merasakan kehilangan sosok sahabat yang telah kami lalui bersama-sama sejak berseragam putih abu-abu. Namun ini mungkin jalan terbaik buatnya.

Aku hanya bisa mendoakan semoga dia bahagia dengan Awan Samudra menjadi keluarga sakinah, mawadah, warohmah.

Selamat jalan Era, kami akan mengenangmu sebagai sahabat kami. Semoga di lain kesempatan kita bisa berkumpul kembali.

Bersambung

END – 6 Teman Teman Part 19 | 6 Teman Teman Part 19 – END

(6 Teman Teman Part 18)Sebelumnya|Bersambung(6 Teman Teman Part 20)