6 Teman Teman Part 18

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21

6 Teman Teman Part 18

Start 6 Teman Teman Part 18 | 6 Teman Teman Part 18 Start

CINTA DAN PERSAHABATAN

Setelah membawakan lagu “The Lover” dari Alesana, beberapa orang security mempersilahkan Era untuk naik ke atas panggung. Aku segera menghampiri Cinthunks sambil menyodorkan kotak berwarna merah berlapis beludru. Isinya adalah cincin yang dipinjam dari mamanya Cinthunks. Jika Era menerima cinta Cinthunks, maka cincin itu akan menjadi miliknya, tapi jika tidak, tentu saja ‘si kutu kupret’ itu akan mengembalikan pada mamanya.

Sebetulnya Cinthunks ingin membeli cincin baru, tapi kucegah karena aku sendiri masih belum yakin dengan jawaban Era. Si ‘kutilang darat’ ini susah ditebak isi hatinya dan suka pilih-pilih cowok. Lah.. aku yang PPB, Pemuda Pujaan Banget, saja tidak pernah dilirik Era, apalagi Cinthunks yang udah telanjur dicap sebagai PJK alias Pemuda Jarang Keramas.

Selain itu, aku dan Cinthunks sudah berencana untuk liburan ke Jogya. Kalau uangnya habis dipake beli cincin, maka aku juga yang akan susah dan acara jalan-jalan bisa gagal total. Secara aku kan sangat mengandalkan isi dompet dia.

Suara riuh penonton memenuhi seluruh aula, saat Era tiba di atas panggung. Mukanya merah padam, entah karena malu atau karena mau, atau mungkin juga malu-malu mau. Yang jelas susah untuk bisa menebak isi hati Era hanya dari ekspresinya.

Cinthunks pun berlutut di hadapan Era. Sementara suasana aula berubah hening, menunggu drama yang sebentar lagi terjadi.

“Era, aku tau selama ini kita bersahabat dan mungkin kita memang sulit untuk bersatu. Tapi di momen kali ini, aku memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaanku, aku cinta, dan aku sayang padamu Era Kusumawardhani.” ucap Cinthunks sambil membuka kotak beludru dan menyodorkannya kepada Era.

Bukan hanya semua penonton yang menunggu jawaban Era dengan tegang, tapi kami semua yang ada di atas panggung. Bahkan tanpa sadar, aku menyaksikan adegan itu sambil menggigiti ujung senar gitarku.

Melihat Era hanya terpaku, Cinthunks berujar lagi, “Jawabanmu akan sangat menentukan langkah hidupku ke depan, dan sekarang aku bertanya, will you be my precious one, that always with me forever and ever.”

Yang artinya, “akan kamu saya berharga satu, itu selalu dengan saya selamanya dan pernah.” Aaah.. bodoh sahabatku yang satu ini, masa cinta hanya dihargai satu, “Cinta itu tak bisa dihargai dengan rupiah, bro.” gerutuku dalam hati. Lagian nembak cewek pake beribet banget sih.. tinggal ngomong aja: gue sayang ama loe, kalau jawabannya ‘iya’ cipok bibir atas gue, kalo ‘tidak’ cipok bibir bawah gue sebagai kenang-kenangan bahwa gue pernah bertepuk sebelah tangan ama loe. Itu yang kulakukan pada Sadako dan buktinya cinta kami langgeng-langgeng aja sampai sekarang.

Era menarik nafas panjang beberapa kali sambil menatap Cinthunks dan cincin yang ia sodorkan bergantian. Gumaman mulai memenuhi seisi aula saat Era mengulurkan tangannya. Hatiku sangat gembira saat Era mau meraih cincin itu.

Daaaaammmnn!!!

Aku urung menghentakan petikan gitarku sebagai perayaan atas bersatunya cinta mereka, saat kulihat Era bukan meraih cincin dari tangan kanan Cinthunks tapi meraih mikrofon di tangan kirinya. Penonton yang sudah mau bergemuruh pun menjadi hening kembali.

Sementara Cinthunks masih berlutut dengan ekspresi acak-adut yang susah digambarkan.

“Ehem…” Era berdehem sebelum berbicara melalui pengeras suara.

Ia meraih tangan Cinthunks supaya berdiri. Lalu ucap Era, “Karena Cinthunks mengungkapkan perasaannya melalui lagu, maka gue akan menjawabnya juga melalui lagu.”

Gemuruh penonton pun pecah, mencairkan ketegangan yang tertunda. Aku segera mendekati Era untuk menanyakan lagu yang akan dibawakannya. Aku takut tidak bisa mengiringi, karena genreku adalah memainkan musik-musik yang cenderung keras.

“Lagu apa, Ra?” bisikku.

Era pun berbisik. Mendengar jawabannya aku berdiskusi dengan Ridwan, Kevin, dan Eko, tak ketinggalan Cinthunks ikut bergabung. Ekspresi mukanya berubah saat kusampaikan lagu yang akan dibawakan oleh Era, ia sudah bisa menebak jawaban Era.

“Gue gak mau ngiringi.” ucap Cinthunks lesu.

“Lah kalau loe gak mau ngiringin, siapa yang main melodi?” tanyaku.

“Kita kasih ke anak-anak NEWBIE aja.” celetuk Eko.

“Kemarin kan mereka dicibir oleh Ernest dan kawan-kawan, kini saatnya mereka menunjukkan kemampuan mereka yang sesungguhnya, tanpa takut salah, karena ini bukan kontes.” lanjut Eko lagi bersemangat.

Setelah berdiskusi dan sama-sama sepakat, aku mendekati stand mike.

“Sebagai bentuk apresiasi kami terhadap band pendatang baru kampus kita, maka kami mengundang ‘NEWBIE’ untuk mengiringi Era menyanyi.” seruku melalui mikrofon.

Kulihat anak-anak NEWBIE sangat terkejut mendengar pengumumanku, mereka kelihatan cukup gelisah.

“Kami mengakui bahwa musik yang kalian bawakan dalam festival itu sangat bagus, hanya masalah percaya diri dan jam terbang saja. Dan sekarang kalian harus membuktikan bahwa kalian memang ‘NEWBIE’ yang punya kualitas.” lanjutku.

“NEWBIE!!! NEWBIE!!! NEWBIE!!!” teriakku melalui mikrofon, yang diikuti oleh teriakan gemuruh penonton.

Aku hanya tersenyum saat kulihat Sadako meloncat kegirangan sambil mengacungkan jempolnya ke arahku. Setelah ini, pasti ia akan memberiku hadiah terindah, dan aku harus menyiapkan fisik untuk melayaninya. Sementara, anak-anak NEWBIE mulai menaiki panggung.

“Kita sambut…” teriakku yang di sambut gemuruh penonton. “Rad pada gitar, Diasts pada bass, RAYxy pada drum, dan Black sebagai vokalis yang kali ini akan berduet dengan Era. Inilah panggung Era dan THE NEWBIE….!!!!”

“Kalian pasti bisa. Saatnya unjuk diri.” ujar Eko pada mereka, kami pun saling menyatukan kepalan tangan. Kami menyambut mereka untuk memberi semangat, lalu menyingkir ke tepi panggung. Kini saatnya Era dan NEWBIE beraksi.

Setelah saling berbisik dan menyamakan nada dasar, Era kembali ke tengah panggung.

“Selamat siang semuanya!! Gue sangat bahagia bahwa salah satu sahabat terbaik gue menyatakan cintanya dengan cara yang mengesankan. Gue gak akan melupakan moment ini.” teriak Era.

“Gue sayang dia… tapi… ah… gue persembahkan lagu ini buat Cinthunks. My best beloved friend.” lanjutnya lagi.

“Bro, kalo liat dari samping ternyata toketnya mayan mancung juga,” bisikku gagal fokus.

“Kampret, lu. Cinta gue nyet… cinta gue… habis dah gue. Feeling gue kagak enak.” jawab Cinthunks sambil menggigit bibirnya yang kayak serabi dempet.

“Kalem bro. Gue punya plan kedua buat lu.” ucapku acuh.

Obrolan kami terhenti saat Agas, sang gitaris NEWBIE, mulai memetik melodi dengan nada dasar G. Sementara Era mulai menghentak-hentakan kakinya. Aku sangat senang ketika anak-anak NEWBIE nampak sangat percaya diri di atas panggung; berbeda dengan penampilan mereka saat festival yang terlihat begitu grogi dan tertekan.

“I am single and very happy by tante Melly.” teriak Era. Dan ia pun mulai melantunkan lagu tersebut dengan riang.

Mereka bilang aku “pemilih dan kesepian

terlalu keras menjalani hidup.”

Beribu nasihat dan petuah yang diberikan

Berharap hidupku bahagia.

Aku baik-baik saja

Menikmati hidup yang aku punya

Hidupku sangat sempurna

I’m single and very happy

Mengejar mimpi-mimpi indah

Bebas lakukan yang aku suka

Berteman dengan siapa saja

I’m single and very happy.

Mereka bilang, “sudah saatnya karna usia

untuk mencari sang kekasih hati.”

Tapi kuyakin akan datang pasangan jiwaku

Pada waktu dan cara yang indah.

Aku baik-baik saja

Menikmati hidup yang aku punya

Hidupku sangat sempurna

I’m single and very happy

Mengejar mimpi-mimpi indah

Bebas lakukan yang aku suka

Berteman dengan siapa saja

I’m single and very happy

I’m single and very happy

I’m single and very happy

Waktu terus berjalan tak bisa kuhentikan

Kuinginkan yang terbaik untuk hidupku

Aku baik-baik saja

Menikmati hidup yang aku punya

Hidupku sangat sempurna

I’m single and very happy

Mengejar mimpi-mimpi indah

Bebas lakukan yang aku suka

Berteman dengan siapa saja

I’m single and very happy.

I’m single and very happy…

Aku meloncat kegirangan saat Era dan NEWBIE menyelesaikan aksi panggung mereka. Penampilan yang keren abis, “Yesssss!!! Kalian keren!!!” seruku sampil mengacungkan kedua jempol.

“Eh…” aku tiba-tiba sadar. Gemuruh tepuk tangan seketika menjadi hening.

“Ada apa?” tanyaku bingung sambil melirik Cinthunks dan teman-temanku.

“Upgrade IQ lu, nyet.” celetuk Cinthunks dengan kesal.

“Apa hubungannya ama IQ gue? Mereka keren banget tahu.” jawabku dengan bingung.

“Bukan penampilan mereka, nyet, tapi lagu Era. Secara tidak langsung ia nolak gue.” Cinthunks menjelaskan antara kesal dan sedih. Ia nampak begitu kecewa.

“Sabar, bro. Mamanya Sadako janda tuh, kalo mau lu bisa jadi bapak mertua gue.” jawabku dengan polos.

“Senja!!!” hardik Eko.

“Di atas panggung sudah sudah ada kelima sahabat gue: Rad, Senja, Cinthunks, dan Black. Gue undang satu lagi sahabat gue yang belum naik ke atas panggung.” seru Era melalui mikrofonnya. “Gadis….”

Kulihat Gadis muncul dari tengah kerumunan dan naik ke atas panggung, sementara gadisku, si dada jumbo, semakin merangsek ke depan dan berdiri paling depan.

Kami berbaris di atas panggung dengan Era berdiri di tengah, sementara anak-anak NEWBIE pamitan menuruni panggung.

“Inilah sahabat-sahabat gue semua, dan gue bahagia memiliki mereka. Lebih bahagia lagi karena hari ini, salah satu di antara mereka mengungkapkan cintanya pada gue dengan cara yang sangat mengesankan. Gue…” Era berhenti sebentar sambil menatap Cinthunks.

“Gue sayang dia.”

Ucapan Era tentu saja membuat para penonton bersorak gembira, dan Cinthunks mulai tersenyum kembali. Wajahnya sudah tak ditekuk dan kumisnya yang ngumpul di sisi tak mengelupas lagi.

“Tapi…” Era menghentikan gemuruh penonton.

“Gue nggak tahu apakah rasa sayang yang gue miliki ini adalah rasa sayang seorang kekasih, atau tak lebih dari rasa sayang sebagai sahabat sama seperti sayang gue kepada sahabat-sahabat gue yang lain.”

“Cinthunks…” Era berjalan mendekati sahabat kami yang satu ini.

“Terima kasih atas cinta yang telah lu berikan bagi gue, tapi gue mohon… beri gue waktu untuk meyakinkan diri.”

Era kemudian memeluk Cinthunks, dan dibalas dengan sangat erat oleh si kupret. Ia mendekapknya begitu erat seolah mau merasakan tonjolan pada dada Era.

Hebat sahabatku yang satu ini. Kalau aku ditolak cinta di depan umum seperti ini, aku pasti sudah sangat malu dan kecewa. Mungkin aku akan bunuh diri dengan cara melompat dari atas panggung yang tingginya hanya dua meter. Tapi tidak dengan Cinthunks, ia tampak tegar sambil membalas pelukan Era. Sorot matanya memang menggambarkan kekecewaan dan kesedihan, tapi ia sangat gentle dan masih bisa tegar. Bahkan ia masih bisa tersenyum.

Entah apa yang mereka bisikan satu sama lain, tapi nampaknya Cinthunks dan Era berbicara cukup serius. Setelahnya, Era memeluk kami bergantian. Bahkan Gadis menangis saat Era memeluknya. Sahabat kami yang bungsu ini memang paling mellow dan mudah galau karena kebanyakan nonton drakor.

Suasana haru pun menguasai kami semua yang berada di atas panggung, sementara penonton hanya bergumam riuh tanpa jelas apa yang mereka bicarakan.

“Ehem…” Rad, kakak spiritual kami, karena memang dialah yang paling dewasa dan bijaksana, berdehem di deket moncong microphone. “Kita sudah mendengar semuanya. Apapun keputusan Era, yang meminta waktu untuk memikirkannya terlebih dahulu, tidak akan pernah merusak persahabatan kami karena kami adalah… THE…. CEGAAAAARS!!!!”

Kami berenam pun saling berpelukan bersama di bawah sorak-sorai penonton.

“Kita nyanyi bareng.” ujar Black.

“Nyanyi apaan?” tanya Gadis sambil mengusap air matanya.

“Kepompong.”

Aku langsung memberi kode kepada Eko dan teman-teman band-ku untuk mengambil alat musik mereka masing-masing, sementara aku menyerahkan gitar pada Cinthukns.

Setelah mengalungkan gitarnya, Cinthunks mendekati microphone dan mulai berbicara, “Betul kata Rad, apapun jawaban Era nanti, ini tidak akan mengubah persahabatan kami. Untuk merayakannya, kami akan menyanyikan sebuah lagu buat kalian semua. Persahabatan Bagai Kepompong!!!”

Penonton pun bersorak.

Seusai drama di aula kampus tadi, Black mengajak Cinthunks, aku, dan Rad ke Queen Afrodite, yaitu sebuah karaoke langganannya yang terletak di sebuah mall terbesar di Jakarta Utara. Black memesan ruangan yang cukup eksklusif dan juga minuman kelas atas, termasuk blue label kesukaannya.

Setibanya di ruangan karaoke, kami tidak langsung nyanyi tapi ngobrol-ngobrol santai terlebih dahulu sambil merokok dan menikmati minuman yang kami pesan. Memang inilah tujuan Black mengajak kami ke sini, kami bukan hanya sekedar mau nyanyi-nyanyi dan melupakan semua yang baru saja terjadi, tapi mau menjadikan ini sebagai moment persahabatan bahwa kami selalu saling ada dan saling dukung dalam situasi apapun.

Kami tahu, setegar apapun, namanya digantung perasaan ya tetep aja nyesek dan menyakitkan. Itulah yang kami lihat dalam diri Cinthunks. Bahkan ia sudah mengambil kesimpulan kalau pada akhirnya Era akan menolak cintanya, sehingga ia sudah bertekad akan pindah ke Jogya.

Sambil menghisap rokokku, kupandang Rad supaya ia menasihati Cinthunks dan mengubah keputusannya, tapi Rad hanya diam sambil menggelembungkan asap rokok yang keluar dari mulutnya. Sedangkan Black malah sibuk WA-an dengan seseorang sambil mengusapi jerawat yang menjendol di bawah dagunya.

“Jadi kapan rencananya lu berangkat ke Jogya, bro?” aku akhirnya memulai pembicaraan.

“Kalo bisa sih secepatnya.” jawab Cinthunks.

“Janganlah, bro. Lagian belum tentu juga Era bakalan nolak cinta lu.” Lanjutku lagi, “Lagian kalo lu ke Jogya siapa lagi yang bakalan bilang gue ‘kampret’?”

Tak ada seorang pun yang nyahut.

“Rad! Black! Ngomong donk. Malah pada autis.” gerutuku.

Hanya tanggapan seringai yang Rad dan Black berikan, sedangkan Cinthunks memainkan cincin yang ditolak Era, ia mengeluar masukan cincin itu pada kelingkingnya yang buntet seolah membuat gerakan mengocok.

“Pokoknya lu gak boleh ngungsi ke Jogya sebelum kuliah lu beres.” Rad akhirnya bersuara.

“Tapi, bro..” Cinthunks menarik nafas panjang.

“Bener, bro. Jangan cemenlah.. Lu selesaikan kuliah lu dulu, baru setelah itu mau merantau ke mana juga ya sakarepmu.” Black langsung menyahut.

Black pun bercerita bagaimana perjuangannya setelah putus dari Gadis. Sudah putus cinta, masuk bui pula, walau itu tidak berlangsung lama. Kupret memang si Ernest.

“Gue bisa tetep seperti ini, karena persahabatan jauh lebih penting. Gue gak mau gara-gara gue dan Gadis putus lalu persahabatan kita semua jadi rusak.” ujar Black.

Black pun menasihati Cinthunks.. ia tidak sedang berteori karena ia memberi masukkan berdasarkan pengalamannya sendiri. Hebat memang sahabatku yang satu ini, sudah kaya, pinter, (gak ikhlas kalau harus ngomong ganteng), murah hati, bijaksana pula. Kegagalannya dalam menjalin cinta membuat Black nampak lebih dewasa dan semakin bijaksana. Tanduknya baru akan keluar saat sedang menenggak blue label kesukaannya.

Tak kalah dari Black, Rad juga menceritakan kembali pengalaman-pengalaman pahitnya yang sebetulnya sudah saling kami tahu, tapi selalu ada makna baru saat ia menceritakannya kembali. Intinya, baik Black maupun Rad, meminta Cinthunks untuk tidak gegabah dalam mengambil keputusan. Cinta boleh lepas, tapi cita-cita tak boleh kandas. Justru cita-cita harus dikejar untuk meraih cinta yang sejati, cinta pada orang yang tepat dan pada waktu yang tepat pula.

Tak terasa air mataku berlinang. Setelah bertahun-tahun aku menjalani kerasnya hidup sebagai “gembel kampus”, kini aku kembali memiliki rasa sedih dan haru. Aku terharu karena memiliki keluarga baru, yaitu sahabat-sahabatku. Susah dan senang sudah kami jalani sejak MOS masa SMA dulu, dan tak menyangka akhirnya kami akan menjadi keluarga seperti ini. Banyak suka dan duka yang kami lewati bersama, banyak rintangan dan permusuhan dengan pihak luar, tak jarang kami juga konflik di dalam, tapi persahabatan dan kekeluargaan ini membuat kami selalu bisa melewatinya bersama-sama.

“Kenapa jadi lu yang mewek?” Black yang pertama menyadari perubahanku langsung bertanya.

“Gue yang susah, malah lu yang nangis. Cemen loe.” timpal Cinthunks.

“Jangan kabur ke Jogya lu. Di sini aja.” ucapku tanpa mengabaikan ucapan mereka.

“Yaudah lu ikut gue ke Jogya, ntar gue kasih lu pekerjaan di sana.” jawab Cinthunks.

“Udahlah jangan ngomongin Jogya terus. Kita semua ngumpul di Jakarta saja.” jawabku sambil menyalakan rokokku sekedar untuk menetralisir keharuan. “Lagian kalo gue ikut ke Jogya, gimana Sadako? Rad? Black? Era? Gadis? Sama aja kita berpisah.” lanjutku.

“Ya.. pada akhirnya kita semua harus berpisah. Kita harus menjalani hidup masing-masing entah karena pekerjaan atau keluarga. Kita juga harus realistis dengan jalan hidup kita ke depan, tapi yang penting kita semua selesaikan dulu kuliah kita sebagai bekal di masa depan. Dan seandainya kita harus berpisah, yang penting persahabatan kita tidak akan luntur dan punah. Zaman sekarang tidaklah susah untuk selalu menjalin komunikasi dan bahkan ketemu.” Rad berbicara panjang lebar.

“Tuh dengar kata kakak pertama, Ntunks, Ja, mau ke mana pun kita, kita selesaikan dulu kuliah kita dan kita tetap bersahabat selamanya.” Black menegaskan ucapan Rad.

“Iya deh.” jawab Cinthunks.

“Iya apa?” tanyaku tak sabar.

“Iya, gue gak akan ke Jogya sebelum selesai kuliah.” jawabnya.

“Kupret!!! Dari tadi kek.. mau memutuskan tetap menyelesaikan kuliah di Jakarta aja susah banget. Ngehek.. loe…” umpatku. Sebuah umpatan senang atas keputusan Cinthunks, sementara Rad dan Black tertawa dengan pancaran lega pada wajah mereka.

“Kalian yang pada rese.” keluh Cinthunks.

Kami pun tertawa bersama. Tiba-tiba Black mengeluarkan cerutu dari dalam tasnya. Saatnya kami merayakan persahabatan seperti yang biasa kami lakukan, yaitu menghisap serutu bergiliran.

Cinthunks kembali ceria, ia sudah kembali pada wajah tengil dan mesumnya. Rupanya nasihat Black dan Rad cukup membuatnya bertobat dari rasa mellow. Kumisnya yang hanya tebal di kedua sisi sudah kembali rancung kembali.

“Ja…!!” tiba-tiba Rad memanggilku dengan serius.

“Hmmm…!!” jawabku sambil menerima cerutu dari tangan Black.

“Lu gimana?”

“Gimana apanya? Naon? Kumaha?”

“Ya lu!! Dari antara kita berenam sepertinya lu yang bakalan paling telat lulus kuliah. Cobalah untuk mulai lebih serius.” Rad mulai mengalihkan topik pembicaraan.

“Lagian, lu juga gak bisa begini terus. Selesaikan urusan keluargamu.” Cinthunks mulai merasa di atas angin dengan balik menasihatiku.

“Bereskan kuliah lu, selesaikan urusan keluarga lu. Kasian Sadako yang sudah begitu sabar menemani lu dan lu harus mulai membereskan urusan-urusan lu sendiri agar bisa lebih fokus membahagiakan Sadako.” timpal Black tak mau ketinggalan.

Aku hanya diam mendengar ucapan mereka. Sahabat-sahabatku benar, aku harus sudah mulai serius dengan hidupku sendiri. Mereka sudah banyak berkorban untuk kebaikanku, dan aku tidak mau membuat para sahabatku kecewa.

“Makasih bray. Gue janji, gue akan selesaikan urusan gue.” jawabku singkat dan mantap.

“Naaaah gitu donk.” seru Rad senang.

Kami saling menyatukan kepalan tangan sebagai tanda persahabatan. Karaoke time pun tiba. Cinthunks langsung menjadikan “Poison” by Alice Cooper sebagai lagu pertama kami. Kami bernyanyi, kami berteriak, berpadu dengan dentingan toast dari sloki masing-masing. Lagu demi lagu pun kami nyanyikan.

Aksi kami terhenti saat pintu terbuka.

“Ujubuneeeeeh.” seruku secara spontan.

Aku hanya bisa melongo saat melihat sosok yang muncul. Ladies on red… Seorang cewek dengan gaun ketat berwarna merah, yang hanya menutupi setengah gundukan payudaranya yang jumbo dan setengah pahanya yang putih mulus.

Rambutnya yang dicat pirang tergerai indah memberi tekanan pada wajah manisnya yang chubby menggemaskan. Hidungnya yang sedikit pesek tak mengurangi kecantikan yang ia punya, justru nampak semakin indah di antara bola mata beningnya, dan lebih bisa menonjolkan bibirnya yang merah seksi.

Bohay.. demplon… semok… aaaah… entah apalagi namanya. Keren banget nih cewek.

“Hai semua, sorry gue telat.” sapanya.

“Hai DJ QA,” sambut Black sambil berdiri dan cipika-cipiki.

“Kenalin temen-temen gue, ini Rad.. Senja… Cinthunks…” Black memperkenalkan kami satu per satu. Dengan wajah bego aku mengulurkan tangan untuk memperkenalkan diri.

“Oh jadi ini yang sedang patah hati?” ucap gadis yang ternyata adalah DJ QA, owner sekaligus DJ terkenal di Queen Afrodite, saat menjabat tangan Cinthunks.

Bukannya menjawab, Cinthunks tak kalah terpesonanya denganku, tangannya menjabat DJ QA tapi matanya nanar memandang belahan payudaranya. Sementara sang DJ hanya tersenyum melihat wajah mesum kami berdua.

“Bro, kulitnya halus dan licin banget. Bisa kepeleset terus nih kalo menyentuh gundukannya.” bisikku pada Cinthunks.

Cinthunks hanya mengangguk sambil menyeruput ilernya yang hampir menetes.

DJ QA rupanya orang yang sangat luwes sehingga tidak butuh waktu lama untuk mengakrabkan diri. Dari obrolan yang kami lakukan, rupanya ia sudah cukup kenal dengan Black, dan sore ini ia khusus diundang untuk menghibur Cinthunks. “Kenapa harus patah hati dulu untuk bisa kenal DJ secantik dan sekeren ini.” batinku sambil melirik kedua pahanya.

“Inget Sadako.” bisik Rad. Ucapannya sukses merusak suasana hatiku dan aku hanya bisa mengusap wajah agar eling.

Beruntung memang si kutu kupret satu ini, baru juga patah hati udah langsung mendapat “service” dari DJ super keren dan beken.

“Let’s begin di party.” seru Black sambil mengisi sloki kami plus sloki tambahan buat DJ QA.

“Toaaassst!!!” ucap kami bersamaan.

Setelah meminum sloki masing-masing, DJ QA langsung menyervis kami dengan skill musiknya. Ia memandu kami benyanyi dan bergoyang, membuat kami sungguh menikmati. Fokusku pada kemolekannya teralihkan saat DJ QA menunjukkan skillnya; sangat luar biasa dan keren.

Tiga lagu pun berlalu… kami berhenti sejenak untuk minum blue label yang Black edarkan.

Aaah… uuuh.. aaaah… I’m cuming…!!!

Sial! Keasikan kami harus terhenti karena bunyi handphone-ku. Tapi kenapa ringtone-nya jadi kayak gini ya?

DJ QA dan ketiga sahabatku langsung tertawa mendengarnya, sementara aku langsung merogoh saku celanaku dengan keki.

Begitu melihat nama Gadis pada layar, aku langsung tahu kalau dialah pelaku yang mengubah nada dering handphone. Hmmm… balas dendam rupanya si bungsu ini.

“Hallo!”

“Di mana lu?”

“Di kandang bebek bareng Rad, Cinthunks dan Black. Kenapa?”

“Seriusan? Di mana?

“Queen Afrodite.”

“Buruan lu ke rumah gue, sekarang!!”

“Heh? Ngapain?”

“Ada urusan yang mau gue bicarakan. Penting!!!”

“Urusan apaan sih? It’s men time!!”

“Gaya lu! Pokoknya cepetan!! Gue tunggu sekarang juga!!”

“Ogah!!”

“Kalo lu gak datang, lu bakalan nyesel. Gue udah masakin sup tutut (keong sawah) buat lu.”

“I’m coming, honey.”

Klik.

Kusampaikan kepada DJ QA dan ketiga sahabatku kalau aku harus segera ke rumah Gadis. Aku yakin sup tutut hanyalah pancingan, karena kalau udah bicara pendek-pendek kayak gitu, Gadis memang lagi serius. Semoga bukan karena Era bunuh diri gara-gara ditembak Cinthunks.

“Yaudah deh gue juga balik sekalian.” ujar Rad.

“Gue juga mau ngambil mobil ke bengkel. Ntunks, lu lanjutin berdua ama DJ QA ya.” ucap Black sambil menepuk pundak Cinthunks yang sudah mulai mabuk, lalu ia berkedip pada sang DJ.

“Loh kok pada bubar? Lanjutin aja, jangan gara-gara gue…” ucapanku terhenti saat Black menginjak sepatuku dengan agak keras.

“QA, kami bertiga balik ya. Gue nitip Cinthunks. Kalo dia macem-macem, sunat lagi aja.” pamit Black.

“Yups.. nyantai aja, bro. Makasih ya udah pada datang ke karaoke gue.” jawabnya.

“Cepetan kalian minggat semuaaa. Mau balik aja pake lama segala..” gerutu Cinthunks sambil menghempaskan tubuhnya pada sofa, ia kelihatan semakin mabuk.

Cuuuzzzz… kami bertiga meninggalkan ruangan dan menuju basement tempat Black dan Rad memarkir kendaraan mereka. Aku nebeng mobil Black sampai ke stopan metromini.

Setibanya di rumah Gadis, aku menyapa mamanya sebentar yang sedang sibuk di balik kasir rumah makan, lalu aku menuju ke belakang. Seperti biasa, aku tidak masuk ke dalam rumah, tapi menuju gazzebo. Gadis sudah tahu kalau aku selalu nunggu dia di sana.

“Sayang?” aku terheran-heran ketika ada Sadako di dalam gazzebo.

“Hai say. Kok tadi langsung ninggalin aku aja sih?” Sadako berdiri sambil memanyunkan bibirnya.

“Hehee… maaf, yank. Tadi aku harus nemenin Cinthunks secara dia sempet kacau.”

“Oh yaudah deh. Aku ngerti.” jawabnya.

Begitulah… ia tidak pernah mengungkit persahabatan kami. Ia tidak pernah mempermasalahkanku ketika aku lebih mengutamakan para sahabatku daripada menemaninya. Ia sendiri yang mengajariku untuk mempunyai prioritas dalam saat-saat tertentu. Toh ia tahu.. sekacau-kacaunya aku, aku tidak pernah mempermainkan kasih sayangnya.

Aku langsung memeluk Sadako sebagai ungkapan syukur karena memilikinya. Kukecup ubun-ubunnya sambil mendekapnya erat.

“Gadis mana?” tanyaku sambil melepaskan pelukan dan menyentuh sembulan belahan payudaranya yang jumbo.

“Di dalam. Sebentar lagi juga keluar.” jawabnya sambil menepis halus tanganku.

“Emang ada apa sih?” tanyaku.

Aku duduk di atas lantai gazzebo dan menarik Sadako ke dalam pangkuanku.

“Rahasia.” jawab gadisku sambil menggelayut manja.

Sikapnya membuatku gemas. Segera kusosor bibirnya dan mengecupinya dengan gemas. Tak perlu waktu lama, kami pun sudah saling mengulum dan melumat, kedua lidah kami saling mengecap.

“Uuuuhhhh… yank, jangan!” lenguh gadisku saat tanganku menyelusup dari bawah kemejanya dan meremas gundukan payudaranya yang kenyal.

Meski begitu ia tetap membiarkan tanganku. Dengan nafas tersengal Sadako menatapku, matanya begitu sayu.

“Nanti dilihat Gadis.” rajuknya.

Kuposisikan Sadako untuk duduk membelakangi, sementara tanganku tetap meremasi payudaranya. Kini tanganku bekerja, sementara Sadako mengawasi ke arah pintu rumah. Kumainkan kedua puting Sadako yang sudah mengeras dengan jari-jariku, sementara ia mulai menggoyang pinggulnya pada penisku yang sudah menegang. “Sial.. gara-gara liat DJ QA aku jadi nafsu ama Sadako.”

Kewaspadaan kami mulai berkurang saat kukecupi daun telinganya. Desah halus mulai terdengar kembali. Posisi duduk gadisku mulai tidak karuan sehingga roknya terangkat dan memamerkan kedua pahanya yang putih indah.

Entah bagaimana, kami sudah saling menindih di atas lantai dan bibir kami mulai saling melumat kembali. Kemaluan kami sudah saling menempel meski tetap terhalang pakaian. Sadako membelitkan kedua kakinya di atas pinggangku membuat kami benar-benar lupa pada lingkungan sekitar.

Kami saling membagi rasa sayang dan rindu, saling memberi dan menerima kecupan. Saling memberi kenikmatan melalui sentuhan.

“Mmmh…” lenguhnya.

Aku mulai menurunkan ciumanku pada lehernya, perlahan tapi pasti mulai menuju pada gundukan payudaranya.

“Mesuuuuuuuuum!!!!”

Tiba-tiba teriakan Gadis menyadarkan kami berdua.

“Sialan si bungsu ini. Gak boleh lihat orang senang.” gerutuku dalam hati.

Aku dan Sadako segera bangkit sambil merapikan pakaian masing-masing. Kulihat Gadis sedang menutup mukanya dengan jemari yang dijarangkan. Di sampingnya ada Era yang hanya geleng-geleng melihat kelakuan kami.

“Hadeeeeuwww… kalian ganggu aja. Lima menit lagi deh. Husssh… hussssh…” usirku pada Gadis dan Era, sementara Sadako hanya tersenyum malu.

“Ini tempat eneng nongki kenapa dijadikan tempat mesuuum??” gerutu Gadis sambil melirik tonjolan di balik celanaku.

“Sudah… sudah.. ayo kita pergi. Keburu sore.” Era mengingatkan.

“Emangnya mau ke mana sih?” tanyaku heran sambil melihat mereka bertiga bergantian.

“Lahacia.” jawab Gadis.

“Kamu ikut saja, Ja. Gak usah membantah!” jawab Era.

“Pokoknya kamu harus nurut, yank.” tambah Sadako.

Aku hanya bisa menurut dengan perasaan kentang dan penis yang masih sedikit tegang. Kuikuti langkah Era dan Gadis sambil menggandeng Sadako. Kami pergi dengan menggunakan mobil Era tanpa kutahu mau ke mana.

Gadis duduk di samping Era, sementara aku dan Sadako duduk di belakang. Ngehe memang kalau udah jalan ama para cewek, isinya cuma gosip tentang harga make up yang terus meninggi.

Kupilih untuk tiduran pada bahu gadisku sambil sekali-kali mengusapi lutut dan pahanya. Aku sangat senang menggodanya meskipun harus menerima beberapa cubitan yang menyakitkan.

Fokusku hanya pada Sadako, sehingga tidak menyadari tujuan laju mobil.

“Kita sudah sampe.” bisik Sadako setengah jam kemudian.

Aku segera membuka mata dan mengangkat wajahku.

Kutu kupret!!!!

Kulihat seseorang yang selama ini menjadi alasanku pergi meninggalkan rumah. Seorang wanita setengah baya sedang menunggu kami di depan warung. Dia.. bibiku.

Tanpa berpikir panjang, aku segera membuka pintu. Tanpa permisi aku turun dan berlari menyeberangi jalan.

Tiiiiiiittttt!!!! Tiiiiiit!!!!

Braaaaak!!!

Bersambung

END – 6 Teman Teman Part 18 | 6 Teman Teman Part 18 – END

(6 Teman Teman Part 17)Sebelumnya|Bersambung(6 Teman Teman Part 19)