6 Teman Teman Part 17

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21

6 Teman Teman Part 17

Start 6 Teman Teman Part 17 | 6 Teman Teman Part 17  Start

Sang Antagonis​

Hari ini aku berniat untuk pergi ke alamat yang kutemukan di dalam gitarku yang rusak saat berkelahi dengan preman pasar dulu. Ya, itu adalah alamat Devi Mahesvari, cinta monyetku dulu saat SMP. Aku berangkat ke sana setelah kami (Rad, Senja, Black, Era dan Gadis) bertemu di kantin kampus tadi.

Jujur saja, aku merasa sedikit panas saat melihat Era membalas chat dari Awan Samudera pada saat kami ngobrol tadi dengan senyum lepasnya dan perasaanku saat itu hanya Senja yang tau. Karena saat aku berpamitan pada mereka, Senja langsung saja menyusulku dengan berlari kecil dan langsung menarikku ke tempat parkir di belakang gedung kampusku.

“Lu ngapain sih, Thunks? Pake jawab pertanyaan Era dengan cuek dan dikit nyolot tadi, nggak biasanya lu kayak gitu!” cerocos Senja sambil menjitak kepalaku. Hanya Senja dan Rad yang berani menjitak kepalaku, Black aja masih belun berani melakukannya karena melihat perangaiku yang emosian.

“Nggak pa-pa, Ja. Lagi bad mood aja, tadi.” kataku sambil mengambil rokok L4-ice ku dari kantong baju dan menyalakannya.

“Lu nggak lagi ada masalah sama Era ‘kan, Thunks?” tanya Senja lagi sambil mengambil rokokku dan menyalakannya kemudian memasukannya ke kantongnya sendiri.

“Gebleek memang nih, anak!” Gumamku dalam hati tanpa menjawab pertanyaannya tadi.

“Lu jangan boong, deh! Gue hapal banget ama elu. Lu panas ya, lihat hubungan Era dan Awan yang makin mesra?” katanya lagi sambil menyepak pantatku.

“Dikit, Ja. Nggak tau gimana ya, ngomongnya? Lu tau sendiri, ‘kan. Aku nggak mudah jatuh cinta, sekalinya jatuh cinta malah sama sahabat sendiri binggung ‘kan aku.” sahutku sambil mengepulkan asap rokok yang kuhisap ke wajah Senja.

“Uhuk… Uhuk… Uhuk…” Senja tiba-tiba terbatuk-batuk dengan wajahnya yang berubah merah. “Kutu kupret lu, Tuhnk. Pedih nih, mata kena asep. Eh, tapi kelihatannya lu harus segera dech ungkapin perasaan lu ke Era. Takutnya telat, Thunks.” Senja mengucek matanya yang pedih akibat asap rokokku tadi.

“Caranya, Ja? Ada ide nggak? Aku masih takut ini jika ditolak dan takutnya Era nanti malah menjauh setelah menolakku.” kataku sambil menerawang memandang ke atas.

“Udah tenang aja, ‘ntar gue bantuin! Kalau Era nolak elu, ya dinikmatin aja. Jangan minun racun tikus, ya! Bwahahahahhah….” jawab Senja sambil berlari meninggalkanku.

“Oiiii.. kunyuk, kampret lu emang!” sungutku sambil berjalan menuju ke arah motorku.

Kupacu motorku menuju ke alamat rumah Devi, ternyata dia tinggal di perumahan elit 15 kilometer dari tempat kostku. Aku akhirnya sampai di rumahnya berbarengan dengan sebuah mobil Toyota Camry hitam yang sama-sama berhenti di depan rumah yang kutuju. Lalu dari dalam mobil itu, keluarlah sepasang muda mudi. Aku ingat sekali dengan garis wajah itu, bola mata itu, serta guratan senyum di bibirnya.

“Itu ‘kan, Devi!” ucapku membatin.

Pandangan mata kami bertemu saat aku menaikkan kaca helm half face ku. Devi mengeyitkan sebelah alisnya dan menatapku lekat-lekat. Tiba-tiba dari arah pintu rumah keluarlah seorang anak kecil usia 2 tahun yang diikuti oleh babysitter berseragam merah jambu.

“Maamaah….!” seru anak kecil itu sambil berlari dan memeluk Devi.

“Deeeegh….!” Jantungku berdetak kencang kala mendengar seruan anak kecil itu memanggil Devi mamah.

“Ternyata Devi sudah mempunyai anak. Mungkin waktu telah mengubah semuanya. Devi memang pernah mengisi ruang hatiku, tapi itu dulu. Sekarang ruang hatiku sudah diisi oleh orang yang membuatku jatuh cinta pada pandangan pertama, ‘Era’ dialah yang sudah merampas dan menguasai relung hatiku sekarang ini.” Aku membatin dalam hati.

Kulihat Devi menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Aku membalasnya dengan senyuman tipis sambil mengacungkan jempolku padanya. Segera aku menghidupkan motorku dan berbalik dengan kecepatan sedang pergi meninggalkannya. Sayup-sayup terdengar di telingaku, suara teriakan Devi memanggil namaku, “Angga…..!” Ya, itu nama pangilannya untukku darinya, diambil dari nama tengahku, ‘Turangga’.

Kupacu motorku melibas kemacetan ibukota, menuju ke studio dibilangan Radio Dalam. Studio ‘Dapur-Q’. Tempat aku sering berlatih dengan teman-teman band-ku, ‘Lawan Arah’. Di sana juga merupakan tempat tinggal manager-ku. Sampai di sana! Ternyata teman-temanku sudah berkumpul, kulihat Senja sedang mojok dengan sadako pangku-pangkuan tanpa rasa malu di sudut taman depan studio.

“Thunks, dari mana aja baru nonggol? Tumben-tumben kamu telat.” suara nge-bass dari sosok tinggi besar dan berewokan memakai topi vollcom dan kaos ketat hitam serta celana jeans belel menegurku.

Ya, dia adalah Om ‘Trondol Jaya Asma Anggoro’ manager band-ku. Karena namanya yang kepanjangan dia menyingkat namanya menjadi @tj44 . Dua huruf A di belakang nama di ganti dengan angka 4. “Biar gaul dan menutupi usianya yang sudah kepala 4 itu,” katanya saat kutanyakan apa arti tj44 itu. Tapi memang di usianya yang hampir setengah abad itu, Beliau masih kelihatan segar dan muda, jauh dari umurnya yang sebenarnya. Mungkin efek kesukaannya pada wanita berbadan kecil yang katanya, “Biar mudah digendong”. Barangkali itu yang membuatnya masih terlihat muda, istilah gaulnya lolicon.

“Tangkap, Tunks! Dan cepet ke mari ada yang aku mau omongin!” kata om tj44 padaku sambil melemparkan sebungkus rokok L4 ice ke arahku.

Aku dan om TJ segera masuk ke lobby studio dan segera duduk di sofa.

“Gini, Thunks! Sebulan lagi ‘kan, kalian jadi ‘Bintang Tamu’ di acara festival musik kampus dan karena masuknya Senja dan magnet dia bagus buat narik audience. Lu, nggak masalah ‘kan kalau dia yang ngasih speech waktu di panggung?” kata om tj menjelaskan padaku sambil menyulut sebatang rokok GG-12, katanya, ini rokoknya, ‘pria punya selera’.

“Enggak masalah, Om. Kan emang dari kemarin, aku mau proyeksikan Senja buat vocal deep growl sedang aku nanti ngambil di clean vocal dan yelling falsetto-nya biar imbang sih. Lagian, permainan bass Senja juga nge-funk banget enak, tuh.” kataku memuji kemahiran Senja dalam bermusik.

“Siip…! Clear yach, kalau gitu!” ujar tj44 sambil mengacungkan jempolnya. “Eh, by the way. Ada tawaran nih, kalau mau?”

“Tawaran… Apa lagi, Om?” sahutku antusias setelah mendengar kabar berita dari om tj44. Lalu aku melanjutkan perkataanku. “Kalau masuk sih, aku embat lah!”

“Gini, Thunks! Sekolah musik yang di Jogja ‘kan, udah nggak ada yang urus karena pakde Cipto mau pensiun, kamu mau urus nggak?” Om tj44 lalu menjelaskan padaku soal sekolah musik di Jogja. “Tapi yang jelas kuliah kamu juga harus pindah juga itu?”

“Waaah… Berat ya, om!” Aku sempat berseru menjawab tawaran Beliau. Lalu mengungkapkan keraguanku saat itu. “Mana harus pindah kuliah lagi, bisa aku pikir-pikir lagi nggak Om?”

“Silahkan aja, pikir dulu!” sahut om tj menjawab keraguanku. Beliau seolah-olah berusaha mempengaruhiku untuk menerima tawaran pekerjaan itu. “Untuk urusan, ‘Lawan Arah’. Bisa lah nanti di rembug ulang lagi. Aku berharap, kamu mau nerima tawaran ini!”

Aku hanya diam terpaku dan mulai berpikir keras dengan tawaran pekerjaan ini.

“Mungkin ini adalah moment yang tepat untukku memulai awal yang baru.”ucapku membatin.

Pikiranku menerawang memikirkan matang-matang tawaran pekerjaan itu dan sesekali mataku memandang ke arah Om tj44. Aku tersenyum geli saat melihat Beliau sedang asyik dengan dunia barunya, ‘MENGUPIL RIA’.

“Ya udah, Om.” kataku sambil bangkit dari sofa.“Aku ke depan lagi, nemuin yang lain yach!”

“Iya, sana. Hehehe!” usir Om tj44 sambil tertawa kecil. “Lagian, aku juga mau pakai cream siangku lagi!”

“Njiiir…! Nih, om-om ganjen amat yach..!”kataku dalam hati.

Sampai di luar kulihat Senja berdiri dengan kikuknya di dekat pintu, aku bisa menebak tingkahnya seperti itu, “Pasti dia menguping pembicaraanku tadi.” Gumamku dalam hati. Setelah aku berdiri di sisinya, lagi-lagi Senja segera mengamit tanganku dan menarikku ke tempat motorku terparkir, menjauhi Sadako dan yang lainnya.

“Lu beneran, Thunks! Mau terima, tawaran di Jogja tadi?” tanya Senja dengan wajah serius dan menyelidik.

“Tauk, Nja? Masih binggung juga, mungkin ini juga salah satu jalan buat hidupku, tapi semua tergantung keputusan Era sih.” jawabku sedikit ambigu.

“Lah, kok! Malah, jadi Era yang nentuin?” sahut Senja bingung dan balik bertanya. “Gimana jalan ceritanya, tuh?”

“Udah nggak usah lu pikirin, Ja. Aku cuma mau minta bantuanmu aja kali ini. Lu, bisa ‘kan ……….” kataku sambil membisikan sebuah rencanaku ke kuping Senja.

“Gila, lu yach…! Anjriiiiiit….! Pertaruhan yang menyeramkan ini. Nggak habis pikir gue sama jalan pikiran lu, Thunks!” sahut Senja sambil menggaruk-garuk kepalanya yang penuh ketombe itu.

“Udah, jangan protes! Lu mau bantu, kagak? Simple ‘kan, permintaanku?” sahutku datar.

“Ok, gue bantu Thunks! Tapi nanti kalau ada apa-apa, jangan salahin gue yach!” jawab Senja sambil berlalu menuju ke arah Sadako duduk.

“Thanks Bro, your my savior.” kataku sambil mengepalkan tanganku ke arahnya dan di sambut dengan acungan jari tengahnya.

Siang itu kami berlima, minus Senja berkumpul kembali di kantin. Gadis menceritakan kepada kami tentang masalah Senja. Aku yang sebetulnya sudah tau garis besarnya hanya berlagak bodoh dan pura-pura tidak tau masalah itu karena janjiku pada Senja agar masalahnya jangan sampai semua orang tahu dan keputusannya kami para cowok harus ikut mencarikan pekerjaan sambilan untuk Senja selain manggung di cafe. Namun semua pembicaraan tadi tidak ada yang masuk ke otakku, semua dikarenakan Era. Ya, Era yang biasanya kujumpai selalu tanpa make-up, sekarang dia mulai berdandan meskipun dengan make-up tipis. Dia yang tanpa make-up aja kelihatan cantik, sekarang kecantikannya bertambah dua kali lipat dari biasanya, membikin konsentrasiku buyar saat menatap wajahnya.

Setelah kata sepakat didapatkan, aku dan Rad serta Black berpamitan pada Era dan Gadis karena masih ada kelas yang harus kami ikuti.

Sampai di gedung kampusku, ternyata dosen pengajar mata kuliahnya tidak datang dan hanya meninggalkan kertas absensi dan tugas yang harus dikumpulkan minggu depan, karena tidak ada acara lagi aku iseng pergi ke arah kantin untuk bertemu Era, tapi ternyata di sana kulihat Era sedang bercengkrama dengan Awan. Panas hatiku dibuatnya melihat kemesraan mereka, kuurungkan niatku untuk menghampiri Era, dan hanya melihatnya dari jauh, tak berapa lama kulihat Era dan Awan berdiri meninggalkan kantin dan berjalan menuju ke belakang gedung himpunan mahasiswa yang terkenal sebagai tempat mesum buat mahasiswa di kampusku.

Kuikuti mereka dan kuawasi dari tempat yang jauh, aku nggak mau orang yang kusayang terperdaya oleh Awan. Sampai di sana kulihat Awan sedang merayu Era dan mencoba mencium bibir Era.

“Bangsat…! Aku aja belum pernah, malah udah mau diambil orang.” gerutuku dalam hati sambil mengepalkan tanganku.

Kulihat Era berusaha berontak dan menendang-nendang kaki Awan, tapi Awan tak bergeming oleh tendangan itu, malah Awan, sempat menampar pipi kiri Era.

“Ini nggak bisa dibiarin! Harus dikasih pelajaran tuh, anak!” kataku dalam hati dan segera merengsek ke arah mereka.

Sambil berlari, aku segera meloncat dan menendang rusuk kanan Awan dan membuat dia tersungkur. Tanpa memberi kesempatan Awan untuk bangun. Segera saja, aku injak dadanya dan terus menghantamkan dengkulku ke muka Awan yang tengah terlentang hingga pingsan dan menbuat dua gigi depannya tanggal. Era menangis dan berteriak keras, memintaku menghentikan hajaranku kepada Awan. Dia segera memelukku dari belakang dan menarikku menjauhi tubuh Awan yang tergolek pingsan.

” Udah Thunks, udah! Jangan diterusin lagi, masalah Black aja baru selesai! Jangan ditambah lagi dengan masalah kamu! Aku nggak mau kamu masuk kantor polisi!” teriak Era berusaha menenangkanku yang sedang kalap. Kulihat air matanya mulai membasahi pipinya.

“Tapi aku nggak rela, Ra. Orang yang aku sayang diperlakukan seperti itu. Aku mampusin aja, sekalian dia!” teriakku membalas perkataan Era sambil menunjuk ke arah Awan yang tergolek pingsan.

“Thunks, jadi selama ini kamu… Kamu itu ke aku, itu kamu…..” ucap Era terbata-bata.

“Udah-udah, lebih baik kamu pulang Ra. Pipi kamu bengkak, tuh!” sahutku mengalihkan pembicaraan ke arah lain sambil memegang kedua pipinya dan mengelus bagian yang memar di pipi kirinya.

Aku segera menggandeng Era, meninggalkan tempat terkutuk tersebut dan segera menuju ke parkiran mobil, tempat ia memarkirkan mobilnya. Sampai di sana kulihat Era enggan untuk pulang.

“Kamu pulang ya, Ra! Kompres, pipi kamu pake es. Biar nggak bengkak.” kataku sambil mengusap pelan rambutnya.

“Anterin ya, Thunks. Aku masih takut ini!” katanya sambil menundukan wajahnya.

“Lhaa, terus mobil kamu gimana? Masa ditinggal di sini!” sahutku sambil garuk-garuk kepala.

“Biar mobilku dibawa senja aja, dech!” jawab Era dan ia langsung menghubungi Senja melalui ponselnya.

Tak berapa lama Senja datang dan Era segera memberikan kunci mobilnya. Senja yang memang kepo orangnya segera bertanya kepadaku apa yg terjadi karena Senja melihat pipi Era yang sedikit memar. Aku bilang ke Senja, bahwa ‘Era barusan kepeleset dan pipinya menghantam meja kantin’. Tentu saja Senja tidak begitu percaya pada ceritaku, tapi aku segera menggandeng Era untuk berjalan ke arah motorku, meninggalkan Senja yang hanya bisa bilang padaku, “Dasar kutu kupret! Sono dah anterin Era, awas jangan sampe nabrak becak ya!”

“Hahaha…” Aku ikut tertawa lebar dengan candaan Senja tersebut.

Berhubung aku hanya membawa satu helm, aku pakaikan saja helmku itu buat Era dengan perlahan-lahan takut nantinya mengenai pipinya yang memar. Aku sendiri tidak memakai helm.

Kami segera pergi keluar kampus dan melaju ke arah rumah Era melewati jalan-jalan tikus supaya tidak kena tilang polisi karena aku yang tidak memakai helm, sialnya lagi tiga kilometer dari rumah Era ada razia kendaraan bermotor. Dan alhasil, kena tilanglah aku. Untung saja polisinya mau diajak damai. Kalau tidak, bisa ribet urusannya jika harus menghadapi sidang untuk menggambil STNK-ku yang disita.

Tiga kilometer itu, aku merasa bahagia sekali karena melihat Era sudah bisa tersenyum karena melihat tingkahku yang kena tilang tadi, sepanjang akhir perjalanan Era mendekapku erat dari belakang dan menaruh dagunya di bahu kananku.

“Thunk, rambutmu bau banget.” ucap Era ceplas-ceplos. “Berapa lama sih, nggak keramas?”

“Eeh, sebulan mungkin Ra. Aku belum keramas.” jawabku tengsin.

“Jorok banget sih, kamu. Besok rajin keramas donk. Aku ogah diboncengin kalau rambut kamu masih aja bau kayak gini!” kata Era mulai menunjukkan sikap manjanya.

“Iya-iya tuan putri, nanti aku keramas yach!” sahutku sedikit ikut bercanda padanya.

Sesampainya di rumah Era , setelah mengantarnya masuk ke rumah, aku segera saja berpamitan padanya dan tak lupa menggingatkannya untuk segera menggompres pipinya supaya tidak bengkak.

Sesampainya di kosku, aku segera saja merebahkan tubuhku dan segera tertidur lelap.

########

Oiya, di kampus SEMPROT sedang diadakan festival musik. Beragam acara selain band kami ‘LAWAN ARAH’ akan tampil sebagai pengisi acara setelah lomba band diumumkan pemenangnya. Dan ternyata Rad dan Black iseng-iseng mendaftar lomba band itu untuk ikut memeriahkan acara tahunan tersebut.

flashback sebulan lalu…

“Thunks, kami ikutan daftar lomba band! Pengen ikut meramaikan aja, nggak berharap jadi pemenang.” kata Rad sebulan lalu memberitahukan padaku.

“Wah… Serius, Bro. Siapa aja yang main?” tanyaku sedikit kaget karena setauku Rad dan Black itu tidak hobby musik. Mereka memang sering ikut aku dan Senja saat ngisi di cafe-cafe sebagai penonton saja.

“Hehehe…. Namanya juga belajar Bro.” Kekeh Rad menjawab. “Yang main gitar aku, Black vokal, Disast bass dan Rayxy drum.”

“Keren pastinya, oiya Rad dengar-dengar band ‘SANG ANTAGONIS’ ikutan juga. Mereka itu ‘kan Ernest Prakoso dkk. Kalian jangan sampe terprovokasi sama mereka. Dan bocoran saja jurinya itu Om tj44 dan D 805 KI.”

“Wah, serius Thunks! Om tj44 itu yang pernah kamu kenalin di studio ‘DAPUR-Q’.” Rad sangat antusias setelah dengar nama om tj manajer-ku sebagai jurinya. “Nah, kalo D 805 KI ini siapa Thunks? Pernah dengar namanya, tapi lupa.”

“Dia itu pemilik radio 80,5 FM. Radio Gelombang Nestapa. Radio-nya para baper.” sahutku memberitahu.

“Iya, iya baru ingat gua. Bisa donk nitip sama om tj hehehe…” Rad tertawa kecil memberi kode minta bantuanku melobi sama om tj.

“No way, mesti usaha sendiri Bro.” Aku geleng-geleng kepala. Dengan tegas aku menjelaskan pada Rad esensi sebuah lomba. “Jangan sampe KITA dicap sebagai penjilat, menang dengan hasil kita sendiri tanpa campur tangan orang lain. Aku, Senja, Era dan Gadis pasti dukung kalian tetapi kalian berlombalah dengan sportif dan tidak boleh memanfaatkan orang lain hanya pengen menang dan tergiur dengan hadiahnya.”

“Iya, Bro. Hehehe…” Kekeh Rad menyahut. “Serius amat Bro, tadi Cuma bercanda. Gua dan teman-teman akan main sportif. Kalo menang, alhamdulillah dan kalo kalah pun kami akan tetap dengan kepala tegak. Tetap bangga dengan usaha kami sendiri. Percaya deh dengan gua, Thunks!”

“Siip… Oiya kalian nanti latihan aja di studio ‘DAPUR-Q’. Ntar aku bilangin sama Om tj kalo kalian ikutan lomba itu, gimana kalian mau nggak?”

“Boleh, ntar gua obrolin dulu sama yang lain Thunks.” sahut Rad.

“Siip, kalo gitu!” Aku mengacungkan jempol pada Rad.

Dan setelah ane tanya sama Om tj44 peserta lombafestival musik tahun ini membludak dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Ada 64 grup band yang mendaftar dan hanya lolos seleksi awal cuma 34 grup band. Band ‘SANG ANTAGONIS’, ‘NEWBIE’ dan lainnya akan tampil bulan depan.

Click to expand…

Dan pagi ini band ‘Newbie’ akan tampil. Kata Black, “nama itu sengaja mereka pakai sesuai rembukan mereka. Newbie berarti anak baru.”

“Pagi semua…..!” seru Black di atas panggung. Aku, Senja, Sadako, Rida, Era dan Gadis ikut memberi semangat buat mereka dari bawah. “Sebuah lagu dari kami untuk kalian semua. ‘Sahabat Sejati’ by Sheila on 7.

Suara petikan gitar Rad mulai masuk, jujur saja aku tidak menyangka ternyata Rad mahir main gitar. Selama ini dia sama sekali tidak pernah menampakkan kemahirannya itu pada kami.

Sahabat Sejati

by Sheila on 7

Sahabat Sejatiku

Hilangkan Dari Ingatanmu

Di Hari Kita Saling Berbagi

Dengan Kotak Sejuta Mimpi

Aku Datang Menghampirimu

Kuperlihat Semua Hartaku

Kita S’lalu Berpendapat

Kita Ini Yang Terhebat

Kesombongan Di Masa Muda Yang Indah

Aku Raja Kaupun Raja

Aku Hitam Kaupun Hitam

Arti Teman Lebih Dari Sekedar Materi

Pegang pundakku, Jangan Pernah Lepaskan

Bila Ku Mulai Lelah?

Lelah Dan Tak Bersinar

Remas Sayapku, Jangan pernah Lepaskan

Bila Ku Ingin Terbang?

Terbang Meninggalkanmu

Ku S’lalu Membanggakanmu

Kaupun S’lalu Menyanjungku

Aku Dan Kamu Darah Abadi

Demi Bermain Bersama

Kita Duakan Segalanya

Merdeka Kita, Kita Merdeka

Pegang Pundakku, Jangan Pernah Lepaskan

Bila Ku Mulai Lelah?

Lelah Dan Tak Bersinar

Remas Sayapku, Jangan Pernah Lepaskan

Bila Ku Ingin Terbang?

Terbang Meninggalkanmu

Tak Pernah Kita Pikirkan

Ujung Perjalanan Ini

Tak Usah Kita Pikirkan

Ujung Perjalanan Ini

Dan Tak Usah Kita Pikirkan

Ujung Perjalanan Ini

Awalnya Black menyanyi dengan sangat baik dan penuh penghayatan. Bait pertama dan kedua dengan baik dan lancar ia mengikuti tempo musik yang dikomandoi oleh Rad yang bermain apik sebagai lead gitar.

Namun pada saat memasuki Bait

Ku S’lalu Membanggakanmu

Kaupun S’lalu Menyanjungku

Aku Dan Kamu Darah Abadi

Demi Bermain Bersama

Kita Duakan Segalanya

Merdeka Kita, Kita Merdeka

Tiba-tiba kosentrasi dan fokus Black buyar dan malah menyanyikan tidak sesuai dengan lirik aslinya.

Ku S’lalu Mencintaimu

Kaupun S’lalu Menyayangiku

Aku Dan Kamu Cinta Abadi

Demi Kebaikan Bersama

Kita Duakan Segalanya

Merdeka Kita, Kita Merdeka

Aku sempat geleng-geleng kepala saat lirik lagu itu dinyanyikan tanpa sesuai liriknya, namun aku tetap bangga melihat penampilan mereka yang nothing to lose. Tanpa ada ambisi ingin jadi pemenang.

“Aku bangga sama kalian, Rad, Black. Apapun hasilnya kalian berdua tetaplah sahabat sejati sesuai dengan lirik lagu yang barusan kamu nyanyikan sobat.”Gumamku dalam hati.

Akhirnya band ‘NEWBIE’ selesai juga tampilnya. Mereka mendapat sambungat hangat dari penonton namun ada juga yang nyinyir dengan band mereka.

“Hahaha…” Tiba-tiba ada suara orang tertawa terbahak-bahak. “Pantas saja namanya band ‘NEWBIE’. Anak baru bau kencur yang nyanyinya salah ganti lirik orang lain.”

Mendengar suara lantang yang mengejek sobatku membuatku geram dan ingin melabrak

orang tersebut, namun Senja dengan cepat menahanku.

“Thunks, jangan! Biarin saja mereka ngomong kayak gitu! Kalo kita labrak kita yang rugi sendiri.” Senja bicara dengan suara pelan mencoba menasehatiku.

Aku melihat Black pun hampir sama denganku, dia terlihat marah dengan ucapan yang ternyata berasal dari Ernest Prakoso vokalis dari grup band ‘SANG ANTAGONIS’. Nampak Rad mencoba menenangkan Black untuk tidak terpancing dengan provokasi dari mereka.

Dan parahnya lagi semua penonton malah mendukung nyinyiran ‘SANG ANTAGONIS’ dengan ikut bersorak melecehkan bahkan ada yang ikut membully.

Melihat suasana yang makin panas dan tidak kondusif, security segera mengamankan band ‘NEWBIE’ dan digiring ke ruangan juri bersama band ‘SANG ANTAGONIS’. Entahlah apa yang terjadi di dalam sana.

Satu jam kemudian…

Rad, Black, Disast dan Rayxy keluar dari ruangan itu dengan wajah lesu dan kaki gontai. Aku lalu mendekati mereka dan berusaha mencari tau apa yang sebenarnya terjadi.

“Ada apa nih?” tanyaku bingung sekaligus penasaran apa yang sudah terjadi. “Kok, wajah kalian kelihatan lesu gitu?”

“Kami didiskualifikasi, Thunks.” Rad menjawab lirih mewakili yang lain.”Lirik tadi yang dinyanyiin salah. Dan terpaksa kami dianggap gagal.”

Aku hanya bisa diam dan ikut sedih, namun biar bagaimana pun sebuah kompetisi adalah kompetisi kesalahan tetap kesalahan dan nasi sudah menjadi bubur.

“Aku ikut sedih dengarnya. Tapi kalian jangan patah semangat dong. Jadiin ini pelajaran untuk ke depannya supaya tidak mengulangi kesalahan yang sama. Ingat Kegagalan adalah sukses yang tertunda. Tetap semangat, Bro!” kataku berusaha memberikan motivasi pada mereka berempat terkhusus buat kedua sobatku yang nampak sedih dan kecewa.

.

.

.

.

Keesokan harinya adalah hari yang paling aku tunggu, hari di mana kami tampil sebagai bintang tamu di festival band yang ternyata venue-nya di gedung aula kampusku berada. Jadwal manggung kami pun setelah penggumuman pemenangnya dan siang itu kami berenam berkumpul kembali di kantin kampus plus Sadako yang selalu menggelayut manja di lengan Senja.

Saat kami mengobrol santai tiba-tiba Era mengeluarakan tupperware dari dalam tasnya dan segera mengangsurkannya kepadaku.

“Nih, say. Eh, Thunks. Aku buatin special buat kamu. dihabisin yach dan kamu Senja ga boleh comot, itu khusus buat Entunks!” kata Era sambil melotot ke arah Senja dan dibalas dengan runcingnya mulut Senja yang sedang monyong dan saat Senja memonyongkan mulutnya itulah Black segera mengambil karet gelang di meja dan segera melilit mulut Senja dengan karet tersebut.

“Nih, tutorial menguncir mulut yang monyong. Nggak ada nih, di youtube!” kata Black sambil tertawa dan disambut gelak tawa kami semua.

Saat pengumuman pemenang pun segera dilaksanakan, kami segera menuju ke backstage untuk persiapan manggung kami. Teman-teman yang lain juga sudah menunggu di sana.

Setelah acara pengumuman pemenang selesai nama band kami pun segera dipanggil ke atas panggung. Tugas senja pun di mulai karena dia sekarang adalah speaker kita.

“Gimana teman-teman masih antusias ngga nih? Mana suaranya?” teriak Senja dan disambut dengan sorakan para penonton yang sangat antusias. “Masih…. Lanjut…. Lanjut….”

“Lagu pertama dari Alesana yang berjudul ‘Apology’. Enjoy it, all.” teriak Senja lagi lewat mic yang dipegangnya dan disusul dengan aku yang segera menyanyikan lagu tersebut.

Apology

by Alesana

Sweat drips in my eyes

Screams of lust we cry

Tonight you are everything

You’re everything

You’re everything to me no more

As I wake from this perfect dream

I’ll escape from Eden?s walls

Can I not stay and live this lie?

Go away and I’ll think only of myself

And to think that you would not be scared

Or surprised if I’d severed all these ties

This is the end

I’ll lose myself in anguish for tonight

Help me get over you

One last false apology

Help me get over you

I feel so numb to see this bitter end of beautiful illusions

Will this be the same?

Broken pieces will not mend to save our past now

Go away

I’ll lose myself in anguish for tonight

Help me get over you

One last false apology

Help me get over you

Now we must let go

Urgency overwhelms me

As I must restrain my flood of tears

I refuse to be slave to your false beauty again

I’ll lose myself in anguish for tonight

Help me get over you

One last false apology

Help me get over you

Kulihat Era berdiri bersama yang lain di area paling depan di belakang jeruji pembatas panggung, bahkan Sadako sempat mengangkat kaosnya ke atas memperlihatkan dua buah payudaranya ke arah Senja yang sempat membuat dia salah di beberapa nada.

“Satu lagu saya persembahkan buat seseorang yang berharga di hidup saya. ‘Miss E’. This song is for you!” kataku lantang sambil menunjuk ke arah Era yang membuat mulutnya mengganga dan segera ditutupnya dengan kedua tangan.

The Lover

by Alesana

Is it her, could it be,

Should my eyes believe

What they see

If you are who I think you are

I might lose my mind

Just a kiss, from her lips

And I would simply float away.

The way her hips

Swing back and forth

I’ve got butterflies

Dead girls don’t just appear

Out of thin air

But I am victim

To her sinister stare.

Please don’t hate me for

What I’ve done

Run away with me,

I’ll be everything that you need

Such a pretty girl screams to me,

Take my hand, take my breath away

What if my heart breaks again?

Take my breath away

Just the scent of her skin

Unlocks forbidden memories

The slightest graze of fragile hand

I’ve got butterflies

Dead girls don’t just appear

Out of thin air

But I am victim

To her sinister stare.

Please don’t hate me for

What I’ve done

Run away with me,

I’ll be everything that you need

Such a pretty girl screams to me,

Take my hand, take my breath away

I’ll be your anchor, I’ll be your lover

I’ll be your anchor, I’ll be your lover

And if your heart is filled with doubt

I’ll bear my soul to you belle!

Please don’t hate me for

What I’ve done

Run away with me,

I’ll be everything that you need

Such a pretty girl screams to me,

Take my hand, take my breath away

I can’t lose you again

I can’t lose you again

I can’t lose you again

I’m nothing without you.

I’ll never let you down

I’ll never let you down

I’ll never let you down

Angel

Lalu beberapa orang security mempersilahkan Era untuk naik ke atas panggung, Senja kemudian segera menghampiriku dan memberikan kotak berwarna merah berlapis beludru.

Saat Era sampai di atas panggung, aku segera berlutut di depannya dan berkata. “Era, aku tau selama ini kita bersahabat dan mungkin kita memang sulit untuk bersatu. Tapi di moment kali ini, aku memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaanku, ‘aku cinta, dan aku sayang padamu Era kusumawardhani’. Jawabanmu menentukan langkah hidupku ke depan dan sekarang aku bertanya, will you be my precious one, that always with me forever and ever.”

Bersambung

END – 6 Teman Teman Part 17 | 6 Teman Teman Part 17 – END

(6 Teman Teman Part 16)Sebelumnya|Bersambung(6 Teman Teman Part 18)