6 Teman Teman Part 16

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21

6 Teman Teman Part 16

Start 6 Teman Teman Part 16 | 6 Teman Teman Part 16 Start

Pov Gadis

Hari-hari sudah berlalu. Tak ada lagi yang perlu gue tangisi atau sesali. Gue emang jomblo tapi gue bukan member BSH alias Barisan Sakit Hati. Gue udah bisa move on dari Black. Kok bisa? Lahacia donk…

Jangan salah! Gue dan Black baik-baik saja. Persahabatan kami tak terhalang oleh peristiwa masa lalu. Black memang masa lalu gue dalam kisah asmara, tapi ia adalah masa kini dan masa depan gue dalam persahabatan. Kami, bersama The Cegars, adalah sekelompok sahabat yang udah gue anggap sebagai saudara-saudara gue sendiri.

Merekalah yang menjadi alasan gue selalu semangat setiap harinya. Merekalah yang membuat gue selalu semangat kuliah dan datang ke kampus karena selalu ada kegembiraan dan hal-hal baru saat gue bersama mereka.

Seperti hari ini, gue kegirangan ketika dosen mengakhiri kuliahnya. Dengan langkah cepat gue meninggalkan kelas, rasanya lega banget bisa keluar dari ruangan yang udah mengurung gue sejak dari pagi. Mana dosennya jutek lagi… Udah gendut, tua, botak, ngasih banyak tugas pula.

Gue menerobos kerumunan mahasiswa yang sama-sama berlomba meninggalkan kelas. Perut gue rasanya udah lapar banget karena tadi pagi jatah sarapan gue diserobot Senja. Gue pun bergegas menuju kantin sambil berharap si muka mesum itu belum ada di sana. Bisa kena embat lagi makanan gue.

Bakekok… Bakekok…

Tiba-tiba ada suara aneh dari dalam tas gue. Banyak mata yang ngeliatin gue sambil cekikikan karena mendengar suara aneh itu. Mana suaranya kenceng lagi. Malu kaaan jadinya…

Bakekok… Bakekok…

“Iiih bunyi apaan sih?” Gue menggerutu sambil mengorek-ngorek isi tas. Astagaaa ternyata itu adalah suara dari smartphone gue. Tapi kenapa ringtone-nya jadi berubah gini ya. Pasti si mesum Senja yang menggantinya karena tadi pagi sempet mainin smartphone gue. Dasar kutu busuk anak yang satu ini. Kok ada yah kutu busuk mesum di dunia ini. Hadeeeuuu…

Bakekok… Bakekok…

“Hallo, Kak.” Gue langsung menjawab panggilan Kak Era saat kulihat namanya pada layar.

“Kamu di mana, Dek? Gue udah bulukan nih nungguin di kantin.” Gerutunya di ujung telpon.

“Ini baru keluar kelas, Kak. Cuuzzzz ke sana.” Jawab gue.

“Buruan.”

“Iyaaah.. Gak sabaran banget ih.” Jawab gue lagi sambil mematikan telpon.

Cuuuzzz… gue pun menuju ke kantin. Rupanya bukan hanya Kak Era yang menunggu gue, tapi ada juga Kak Rad, Cinthunks, Senja, dan Black.

“Hallo semua. The most beautifull girl is coming.” Seru gue sambil memeluk Kak Era dari belakang. Sementara para cowok hanya memandang gue dengan pandangan aneh.

“Hallo cantik. Lama banget sih kuliahnya.” Jawab Kak Era.

“Aya oge the most delicious duck” (ada juga bebek paling lezat), celetuk Senja sambil menikmati bebek goreng di piringnya.

Mendengarnya gue urung duduk di sebelah Kak Era, tapi langsung mendekati Senja. “Lo kan yang ganti ringtone gue? Dasar sialan lo. Ini kenapa lagi makan daging bebek, itu kan binatang paling seksi sedunia.” Gue menggerutu sambil menjewer telinganya.

“Aduuh.. duuh.. aaaah uuuuh… ooooohhhh…” Seru Senja sambil menirukan suara orang yang sedang keenakan. Kontan saja semua orang yang ada di kantin menengok ke arah kami. Sementara Kak Rad, Cinthunks dan Black tertawa terbahak-bahak. Tak sedikit juga mahasiswa di meja sebelah yang cekikikan karena mendengar suaranya barusan.

Karena tengsin, gue langsung memutar telinga Senja makin keras. “Ooooooh… ampun Neng… I’m cumiiiiiiiing.” Senja makin menjadi dan bahak tawa pun memenuhi seluruh ruangan kantin.

“Mesum!” Gerutu gue dengan muka memerah karena malu. Harusnya dia yang malu karena gue jewer, ini malah dia yang bikin gue malu karena ulahnya.

“Udah.. udah… sini duduk, Say.” Era menengahi sambil menahan senyumnya.

“Kakak lagi! Bukannya belain malah senyam-senyum.” Gue duduk di samping Kak Era sambil pura-pura cemberut.

“Cini cini… adik manis jangan cembelut gitu. Adek mau makan apa? Kakak yang traktir.” Jawab Kak Era dengan gaya lucunya.

“Beneran lo yang traktir, Ra? Gue nambah deh. Bro, ayo pada nambah.” Senja menyahut dengan antusias sambil menawarkan kepada Kak Rad, Cinthunks dan Black.

“Senjaaa!!!” Aku dan Kak Era menghardiknya, membuat Senja garuk-garuk kepala padahal tangannya masih belepotan oleh nasi dan sambel.

“Jorok banget sih lo, Ja.” Cinthunks berkata sambil menggeser duduknya supaya jauh-jauh dari Senja.

Ya beginilah kami. Selalu ada saja keseruan-keseruan saat kami bersama seperti ini. Meski banyak kekonyolan, gue sih tahu kalo kami selalu saling menjaga dan memerhatikan satu sama lain.

Gue pun memesan nasi rames dan teh manis kepada ibu kantin. Sementara kelima sahabat gue yang lain melanjutkan makan mereka karena sudah memesan duluan. Senja malah paling duluan makan, dan gue harus ekstra waspada karena dia pasti akan nyomotin makanan kami semua.

Tak lama kemudian, makanan yang gue pesen datang dan gue pun makan dengan lahap. Kalo di depan mereka mah gue udah gak perlu jaim lagi. Jaim sama dengan lapar.. So mendingan menikmati makanan ini sambil menikmati kebersamaan dengan para sahabat gue.

“Kak Rad kok diem aja?” Tanya gue di sela suapan terakhir gue. Ulah Senja tadi membuat gue kurang menyadari ada perubahan dalam diri Kak Rad.

“Disuruh kawin tuh.” Celetuk Cinthunks sambil menyeringai.

“Hah??” Aku dan Kak Era berseru bersamaan sambil menutup mulut.

“Ceweknya udah telat tiga bulan.” Seloroh Senja.

“Lo sih pake telat ngangkat segala, bro.” Tambah Black.

“Sialan kalian.” Gerutu Kak Rad sambil memelototi mereka.

“Ini beneran ato cuma maen-maen? Kak Rad beneran mau merit?” Kak Era bertanya dengan serius.

Kak Rad menarik nafas sambil memandang kami bergantian. “Gue diminta untuk menghalalkan Rida oleh abinya. Tapi bukan karena seperti dibilang kunyuk-kunyuk ini gue diminta menikahi Rida, tapi supaya tidak menimbulkan fitnah.” Ucap Rad.

“Yasudah.. nunggu apa lagi, Kak? Kakak juga kan sudah punya pekerjaan, dan kalau lancar tahun depan kita juga bakalan pada lulus.” Kataku sambil memandang Kak Rad yang nampak masih bingung.

“Amiiiin!!” Semuanya berkata amin saat gue bilang tahun depan akan lulus, kecuali Senja yang masih harus mengulang beberapa mata kuliah karena keseringan bolos.

“Iya sih, Neng, tapi…” Kak Rad menjawab.

“Sudahlah, Kak, jangan ragu lagi. Rida itu jodoh terbaik untuk kakak, lupakan masa lalu.” Kak Era memotong.

Kak Era adalah orang yang paling mengerti perasaan Kak Rad yang kadang masih dibayangi trauma masa lalu karena meninggalnya Ziza.

“Bener, Bro.” Cinthunks menyahut. Lalu lanjutnya lagi, “Gak usah ragu lagi, sekarang saatnya lo menyongsong kebahagiaan bersama Rida. Kami sangat mendukung kalo lo menikahi Rida. Kalian sudah saling cocok dan Rida adalah cewek terbaik untuk lo dan anak-anak lo kelak.”

“Bener bro. Mumpung kita semua juga masih pada ngumpul. Nanti kalo udah lulus belum tentu juga kita akan tinggal di Jakarta semua.” Tambah Black.

“Lagipula kasian Rida. Ia sayang banget ama lo tapi malah lo anggurin. Cintanya bisa berjamur nanti.” Celetuk Senja.

Kami pun bergantian saling memberikan dukungan kepada Kak Rad untuk segera menikahi Rida. Tentu saja kami tahu kalau Kak Rad sangat mencintai Rida, tapi ia masih takut tidak bisa membahagiakannya, padahal walaupun masih kuliah, Kak Rad sudah punya pekerjaan yang cukup mapan.

Sekarang tak ada lagi canda tawa tengil di antara kami, semuanya serius memberi dorongan semangat kepada sahabat kami yang satu ini, sekaligus kakak tertua dalam ‘perguruan 6S ‘di Universitas Semprot. Hihi.. ini hanya sebutan yang biasa kami pake sih. Kami sering menyebut kakak pertama untuk Kak Rad, Kakak Kedua untuk Senja, lalu berurutan Cinthunks, Black, Kak Era dan aku.

“Makasih yah. Makasih kalian selalu ada dan selalu mendukung gue. Sekarang gue udah mantap dan gak ragu lagi untuk menikahi Rida.” Ucap Kak Rad sambil tersenyum.

Ucapan Kak Rad tentu saja membuat kami semua bergembira. Satu per satu kami menyalami Kak Rad. Kami pun langsung sepakat untuk membantu Kak Rad dan menawarkan diri menjadi EO dadakan bagi pernikahannya.

“Yaudah.. gue balik dulu.” Pamit Cinthunks sambil berdiri. “Ja, jangan lupa nanti malam kita ada jadwal manggung.” Kali ini ia ngomong pada Senja.

“Lo mau ke mana sih koq buru-buru banget?” Tanya Kak Era.

“Ada deh… Ntar kalian bakalan tau sendiri…” Jawabnya dengan cuek.

“Gue juga deh. Gaez gue balik ya.” Senja ikut-ikutan pamit.

“Lah.. lo malah ikut-ikutan.” Seru Kak Era lagi.

“Gue mau menghalalkan Sadako.” Jawabnya sambil tersenyum mesum lalu setengah berlari menyusul Cinthunks.

Tak lama kemudian Rida datang menghampiri kami berempat.

“Hallo semua,” sapanya.

“Hai Rid.” Jawab kami bersamaan.

Rida pun menyalami Kak Era, aku dan Black. Terakhir ia menyalami Kak Rad sambil mencium buku tangannya.

“Cieeeee…”

Melihat sikap Rida spontan membuat kami berseru bersamaan.

“Udah Kak.. segera halalin.” Seruku sambil melihat mereka berdua.

“Iihhh.. Eneng apaan sih?” Rida menjawab dengan muka memerah.

Kami pun ngobrol sambil bercanda ria. Nampak sekali kalo Kak Rad dan Rida sangat serasi. Seneng deh ngeliat mereka yang nampak mesra walo itu hanya ditunjukkan melalui pandangan mata satu sama lain.

Setelah puas ngobrol, Kak Rad pamit untuk mengantar Rida pulang.

“Bye para jomblo.” Ucap Kak Rad.

“Ngehek lo.” Jawab Black.

“Eh gue gak jomblo ya.” Jawab Kak Era.

“Emang Kakak udah jadian ama Kak Awan?” Tanya dengan polos.

“Eneeeng!!!” Kak Era mencubit pinggangku.

“Sakiit, Kak!” Aku protes sambil menerima uluran tangan Rida.

Tentu saja sikap kami membuat Kak Rad dan Rida tertawa.

“Aku pulang dulu ya.” Pamit Rida sambil menyalami kami semua.

“Ati-ati ya… udangannya ditunggu.” Jawabku.

“Teteeep.” Ucap Rida sambil terkikik. Tapi sangat kelihatan kalau ia melirik Rad dengan malu.

Tak lama kemudian Black juga pamit karena ia ada kuliah jam dua. Kini tinggal aku dan Kak Era yang bingung mau ngapain.

“Eh Kak Era bener udah jadian ama Kak Awan?” Aku mencolek tangan Kak Era.

“Nggak iiih… Eneng mah ada-ada aja.” Jawab Kak Era sambil mendelik.

“Tadi katanya gak jomblo.” Sungutku.

“Ya anu.. itu.. kan ampir gak jomblo lagi.” Jawabnya.

“Maksudnya?”

“Kan siapa tahu Awan nembak gue. Hihihi…” Kak Era menjawab sambil ngarep.

Kami pun terkikik bersamaan tanpa sadar bahwa orang yang kami omongin sudah berdiri di belakang kami.

“Ehemmm.”

Kami pun hanya melongo sambil menutup mulut masing-masing. Menyadari itu gue langsung berdiri sambil meraih tas gue.

“Kak, gue pulang yah. Dadahh….”

Gue pun berlari meninggalkan kantin tanpa menunggu jawaban Kak Era yang salting karena ada Awan. Sudah saatnya gue memberi kesempatan kepada mereka untuk berduaan, siapa tahu malah jadian beneran secara Kak Era udah lama banget naksir Awan.

*

*

*

Setelah berganti baju gue langsung menyalakan TV untuk melanjutkan nonton drakor. Tapi belum juga lima menit gue nonton, tiba-tiba mama keluar kamar sambil menenteng tas tangan.

“Sayang, anterin mama yuks.” Ujar mama sambil menatap gue penuh harap.

“Ah mama… ganggu kesenangan Eneng aja deh. Emangnya mau ke mana sih?” Gue menjawab sambil pura-pura cemberut.

“Iiiih anak mama cantik deh kalo cemberut.” Godanya sambil mengusap rambut gue, “Mama mau ke rumah temen. Dia mau menjual warung nasinya. Daripada dijual kan mendingan kerjasama dengan kita, sapa tau kita bisa buka cabang di sana.” Lanjut mama lagi.

“Mama aaah… gak bisa baca mood eneng pisan. Padahal gi pen nonton.” Jawab gue.

Tapi tetep aja gue berdiri, gue gak pernah tega ngebiarin mama pergi sendirian. Lagian jarang-jarang juga gue bisa jalan bareng mama semenjak usaha rumah makan kami semakin rame dan gue makin sibuk kuliah.

“Pergi naik apa, Ma?” Tanya gue.

“Naik motor aja deh biar cepet.” Jawab mama.

“Yaudah eneng ambil jaket dulu.” Jawab gue sambil berlalu ke dalam kamar.

Setelah mengambil jaket dan kunci motor, aku dan mama keluar rumah, dan berangkat menuju sebuah alamat yang mama sebutkan.

Tak nyampe setengah jam kami sudah tiba di tempat tujuan. Sebuah rumah yang sangat sederhana dengan warung makan di depannya. Tempatnya juga cukup strategis dan rame.

Kami disambut oleh pemilik warung, seorang wanita seumuran dengan mama. Namanya tante Rani.

Kami pun masuk ke dalam rumah, sementara warung dijaga oleh anak tante Rani yang masih seusia anak SMA, yang bernama Rana.

Gue sih tidak tertarik dengan semua obrolan mereka yang membicarakan kerjasama yang akan mereka lakukan. Tapi karena gue ada di sini ya mau gak mau ikut mendengarkan juga.

Gue jadi tahu kalau tante Rani dan keluarganya akan menjual warung karena kurang laku. Mungkin karena masakannya tidak enak atau karena tempatnya terkesan kumuh. Tapi yasudahlah.. itu bukan urusan gue.

Tapi gue mulai tertarik saat Tante Rani mulai curhat tentang keponakannya. Rupanya ia punya keponakan yang sedang kuliah di Jakarta juga, cuma ia ngekos dan tidak pernah mau pulang ke rumah.

Menurut tante Rani, keponakannya kabur dari rumah karena sering ia marahi secara keponakannya itu seorang yang bandel dan pemalas. Aslinya ia sayang banget pada dia dan melalui suaminya ia selalu menitipkan uang lebih untuk membantu biaya kuliahnya. Tentu saja uang itu tetap tidak cukup meski sekedar untuk membayar semesteran.

Mendengar semua cerita Tante Rani, tiba-tiba gue seakan pernah mendengar cerita serupa yang cukup mirip tapi dari versi yang berbeda. Gue mencoba mengingat-ingat tapi tetep saja gue blank.

“Maaf tante, nama keponakan tante siapa ya?” Gue gak bisa menahan rasa penasaran gue.

“Senja, nak. Kenapa emangnya?” Jawab Tante Rani sambil balik bertanya.

Mendengar jawabannya bukan hanya aku yang kaget tapi juga mama secara Senja sering nongkrong di rumah. Tahu sendirilah.. numpang makan.

“Rangga Senja Paripurna bukan, Tante?” Gue memastikan karena takut beda orang.

“Loh Nak Gadis kenal Senja? Di mana dia sekarang, Nak? Tolong kasih tahu tante. Tante kangen banget sama dia dan menyesal karena dulu terlalu keras padanya.” Tante Rani langsung memberondongku.

Hihi.. lucu juga sikapnya. Sangat cerewet, pantesan Senja gak betah.

“Kenal Tante. Ia temen kuliahku.” Jawab gue.

“Dan ia juga sering main ke rumah kami. Mereka sahabatan bareng empat orang lainnya.” Tambah mama.

Jawaban kami tentu saja membuat Tante Rani kaget sekaligus seneng. Berkali-kali ia meminta tolong ke gue supaya nyuruh Senja pulang.

“Sebenernya ada apa sih dengan dia?” Tanya mama. “Masa gara-gara dikerasin aja dia sampai kabur dari rumah.”

Tante Rani menarik nafas panjang, matanya mulai berkaca-kaca.

“Sebenernya Senja itu anak baik. Tapi semuanya berubah saat kedua orangtuanya di kampung bercerai dan sama-sama menikah lagi. Ia berubah menjadi anak yang bandel dan pemberontak.” tante Rani memulai ceritanya.

Tentu saja gue sangat kaget karena Senja tidak pernah cerita tentang orangtuanya kepada kami. Ia hanya cerita pergi dari rumah om dan tantenya karena tidak suka pada tantenya yang galak dan super cerewet.

“Karena itulah kami membawanya ke Jakarta ini dengan harapan kami bisa mendidik dia dengan baik,” lanjut Tante Rani.

“Tapi di sini ia malah semakin menjadi. Kalau tante selalu marahin dia itu karena tante gak mau ia terjerumus pada pergaulan yang salah.”

“Tapi ia menangkapnya berbeda. Ia nganggap tante tidak sayang pada dia, sama seperti kedua orangtuanya yang dianggap tidak sayang lagi. Makanya ia pergi dari rumah ini.”

“Senja semakin membenci tante saat omnya, suami tante, tidak ngasih uang lagi untuk kuliahnya. Ia mengira tantelah yang melarang om, padahal kondisi ekonomi keluarga kami sedang benar-benar drop. Bisa membiayai sekolah kedua anak kami aja masih beruntung.”

“Karena itu pula kami sempat berpikir untuk menjual warung kami.”

Tante Rani berbicara panjang lebar.

Mendengar itu semua, perasaan gue bercamput aduk. Kesel, marah, kasian, sedih… semuanya gue sematkan pada Senja.

Dan gue berjanji dalam hati untuk membuatnya sadar dan kembali ke rumah ini.

“Tante tenang saja ya. Nanti aku bantu Senja supaya mau pulang.” Gue berkata kepada Tante Rani.

“Makasih banyak, ya nak. Tolongin tante supaya Senja mau pulang. Kami semua ingin ia selalu berada di tengah kami. Di Jakarta ini, dia sudah tidak punya siapa-siapa lagi selain kami.”

“Iya Tante.”

Karena sudah keburu sore mama pun pamitan pada tante Rani. Intinya, mama akan membantu mengembangkan warungnya, sedangkan gue akan membantunya supaya Senja pulang ke rumah.

Gue sudah memikirkan untuk meminta bantuan Kak Era. Karena Senja hanya takut dan nurut pada Kak Era. Tapi nanti kutelpon dari rumah saja.

*

*

*

Keesokan harinya gue datang ke kampus agak siang karena hari ini tidak ada kuliah. Gue janjian dengan Kak Era dan anak-anak Cegars lainnya untuk membahas tentang Senja.

Di hadapan mereka kuceritakan semua cerita tante Rani tentang keponakannya itu. Para cowok tentu saja kaget mendengarnya karena Senja memang tidak pernah cerita apapun tentang latar belakang keluarganya, sedangkan Kak Era hanya diam karena gue udah cerita tadi malam via telpon.

Sekarang kami sama-sama mengerti kenapa Senja menjadi satu-satunya sahabat kami yang paling sulit diatur. Sekaligus juga tahu, ternyata di balik sikap easy going dan konyolnya ia menyimpan rahasia pahit tentang masa lalu keluarganya.

“Lalu kita harus bagaimana?” Black bertanya.

“Ya kita harus bantu dia.” Jawab Kak Rad.

“Caranya?” Cinthunks nampak bingung.

“Udah gini ajah. Gue dan Gadis yang akan ngajak Senja bicara dan membujuk dia supaya mau pulang ke rumah tantenya. Kan lumayan juga tidak harus membayar kost-kostan. Sementara kalian bantu untuk mencarikan dia pekerjaan, selain manggung di café.” Kak Era memberikan usulan.

Beberapa rencana pun kami buat untuk membantu Senja. Biar bagaimana pun kebaikan sahabat adalah kebaikan kami semua.

Setelah sama-sama sepakat, para cowok pun bubar untuk melanjutkan urusan kampus mereka masing-masing, sementara gue dan Kak Era masih diam di tempat sambil melanjutkan obrolan.

“Kak, gimana kemaren?” Gue mulai mengalihkan pembicaraan.

“Maksudmu, dek?” Kak Era melirik ke arah gue

Hari ini Kak Era nampak berbeda. Gezz… Dia dandan. Padahal biasanya memakai lipstik aja dia lupa. Secara alamiah Kak Era memang cantik, tapi hari ini semakin cantik dengan pulasan make up di wajahnya.

“Iiih.. sok pura-pura deh. Itu Kak Awan… Udah jadian kan?” Gue menyelidikinya.

“Apaan sih.. lagian kamu, dek, kemaren maen ninggalin kami aja.” Omelnya dengan wajah memerah.

Fix ada yang Kak Era sembunyikan ini mah.

“Gimana? Ayo cerita dooonk!” Aku makin mendesaknya.

“Belom jadian kok, dek. Tapii…”

Ucapan Kak Era terpotong saat ada dua sosok cowok yang mendekati kami.

“Hai!” Sapa si cowok yang tak lain adalah Kak Awan.

“Hai, Wan.” Jawab Kak Era.

Gue hanya bisa melongo. Gue sangat terkejut ketika melihat Kak Era langsung berdiri dan menyambutnya. Keduanya nampak sudah cukup akrab. Dan yang lebih membuat gue terpana adalah cowok di sebelahnya.

“Ganteng bingiiiiits.” Jerit gue dalam hati.

Bersambung

END – 6 Teman Teman Part 16  | 6 Teman Teman Part 16 – END

(6 Teman Teman Part 15)Sebelumnya|Bersambung(6 Teman Teman Part 17)