6 Teman Teman Part 15

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21

6 Teman Teman Part 15

Start 6 Teman Teman Part 15 | 6 Teman Teman Part 15 Start

MENIKAH

“Faridah Firiani panggil aja Rida, Kak,” kata-kata itu terus tengiang-ngiang di telingaku setelah kejadian perkelahian itu. Ya, sejak kejadian itu aku malah diminta sobat-sobatku untuk mengantar jemput Rida ke rumahnya. Awalnya aku sempat menolak mentah-mentah namun bujukan Era dan Gadis membuatku luluh dan hanya bisa menuruti kemauan mereka. Jika tidak Gadis dan Era mengancam akan memutuskan persahabatan kami yang sudah berjalan lebih dari tiga tahun.

“Kak Rad, kalo lo nolak permintaan gue. Lebih baik kita gak usah sahabatan lagi!” ancam Era dengan mimik wajah serius dan tegas.

“Tapi, Ra…” ucapku menolak keinginannya.

Namun tiba-tiba Gadis ikut menimpali perkataan Era. “Dan gue juga sama Kak, akan benci seumur hidup gue sama lo jika Kak Rad nolak permintaan kami berdua.”

Aku hanya diam dan menundukkan kepalaku dan mulai memikirkan perkataan mereka untuk membuka diri. Kalau kata, “kids jaman now, move on Bro”. Ya, atas saran dari sobat-sobatku. Aku mesti move on bangkit dari keterpurukan atas kematian Nur Azizah aka Ziza.

“Kak, apa yang kami minta untuk kebaikan Kakak juga. Kami berharap agar Kakak bisa move on dan kembali menata hidup Kakak kembali sama seperti saat kita kenal awal-awal sekolah dulu sebelum terjadi peristiwa kecelakaan Ziza itu.” ujar Gadis mendekatiku lalu memelukku layaknya seperti kakaknya sendiri.

“Dan sosok Rida sangat tepat untuk mengganti posisi Ziza, Kak. Kak Rad tidak tau ya bahwa Rida tuh suka lo sama Kakak.” sambung Era.

Aku tercenung sejenak ternyata selama ini sobat-sobatku peduli padaku dan selalu memberikan support serta semangat padaku untuk bangkit dari keterpurukan walau dengan cara yang berbeda-beda.

Black contohnya, dia adalah sobat yang peka terhadap kondisiku selama tiga tahun terakhir. Dia selalu mengajakku keliling pake mobilnya pada saat melihatku suntuk dan jenuh dengan kegiatan sekolah di SMA Semprot dan kegiatan OSPEK kemaren. Bahkan kami berdua semakin akrab, pernah kami berempat sempat DUGEM di salah satu diskotik di Jakarta bersama Cinthunks dan Senja tentunya tanpa sepengetahuan Gadis kekasihnya dan juga Era.

Beda lagi dengan Cinthunks, walau ia terlihat paling polos dan udik namun ternyata pergaulannya dengan anak-anak bandnya sangat luar biasa. Band mereka ternyata sering manggung di cafe-cafe di Jakarta. Sesekali aku diajakin main dan nongkrong bareng bersama teman-teman band-nya kala mereka manggung dari cafe ke cafe. Sebuah pengalaman baru bagiku dalam dunia musik walau sejatinya aku bukan penggemar musik aliran mereka yang rada keras.

Dan yang paling konyol malah Senja, sobatku yang satu ini malah mengajariku mabuk. Hahaha…. Katanya, “dengan kita mabuk, maka masalah kita saat itu bisa kita lupakan sesaat.” Dia semakin intim hubungannya dengan ‘Sadako’, Kakak Kelas kami saat MOS di SMU Semprot empat tahun lalu. Dan yang membuatku kaget ketika mendengar celotehannya kala ia mabuk. “Rad, lo itu bego amat. Yang udah mati lupakan, bangkit cari pengganti Ziza. Dunia ini nggak selebar daun kelor, kok. Nikmatilah masa muda kita ini. Bodo banget lo, gua aja dah dapetin perawannya Sadako. Hahaha…”

Mendegar celotehan Senja yang sedang mabuk, membuatku sadar bahwa hidup ini terus berjalan dan tidaklah berhenti karena pasangan kita telah tiada. Jujur walau bahasa penyampaiannya berbeda namun tujuannya aku bisa ambil garis besarnya.

Akhirnya sejak itu hubunganku dengan Rida menjadi dekat dan intim. Bahkan kedua orang tuanya pun mempercayaiku untuk menjaga putri kedua mereka. Faridah Fitriani aka Rida adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Anak dari Abi bernama Ustadz H. Umar Sanusi Alatas dan Ummi bernama Hj. Rohaya Chaniago. Abinya merupakan keturunan arab yang telah lama bermukim di Indonesia sementara Umminya berasal dari Bukit Tinggi, Sumatera Barat. Kakak pertamanya bernama Rizal Pratama merupakan mahasiswa akhir di salah satu Universitas Negeri terbesar di Indonesia. Sedangkan adik bungsunya bernama Evi Maulinda masih duduk di kelas 2 di SMA Semprot.

Satu minggu kemudian…

Pagi itu Hp-ku berdering, setelah kulihat siapa yang menghubungi, ternyata panggilan telepon masuk itu datang dari sobatku ‘Cinthunks’.

“Ya hallo, Bro.” sahutku menjawab panggilan teleponnya.

“Hallo Bro.” Sahutnya dari ujung telepon sana.

“Tumben nih, ada apa Bro? Kok, kayaknya penting banget ya sampe nelpon.”

“Begini, Bro. Ada dua kabar buruk yang mau gue sampein ke lo, Bro. Dan ini menyangkut persahabatan kita.” sahutnya dari ujung telepon sana.

“Maksud lo apaan, Bro? Coba jelaskan biar gua faham!”

“………” Cinthunks mulai memberitahukan apa yang menjadi permasalahan yang menyangkut dengan persahabatan kami.

“Apa….?” Suaraku berteriak histeris. “Kenapa sampai nekat gitu Black-nya, Bro? Sekarang dia ada di mana? Dan keadaan Gadis gimana sekarang? “

“……..” Jawab Cinthunks dari ujung telepon sana.

“Ok. Gua ke rumah Gadis sekarang kita ketemuan aja semua di sana! Senja sudah kamu hubungi Bro?”

“……..” Sahutnya memberitahu bahwa Senja sudah dihubungi olehnya juga.

“Yaudah gua siap-siap dulu sekarang. Bilang sama Gadis, ‘gua sedang otw ke rumahnya’. Assalamulaikum w.w.”

Sambungan telepon terputus, aku segera bersiap-siap untuk pergi ke rumah Gadis.

.

.

.

Jam 7.00 wib…

Aku sudah sampai di rumah Gadis, di sana sudah menunggu Cinthunks dan Senja yang menungguku di sofa ruang tamu rumah di temani oleh Mamanya Gadis. Mamanya bercerita bahwa sejak kejadian itu Gadis mengurung diri di kamarnya, untung saja saat ini Gadis sudah agak tenang setelah Era datang dan semalam bahkan tidur menemani Gadis di kamarnya.

Aku lalu mengambil HP-ku lalu mengirimkan SMS pada Era.

To : Era

From : rad

“Ra. Lo turun ke bawah dulu! Gua, Cinthunks dan Senja dah di sini! Kita ngobrol bentar soal Black. Kami tunggu ya!”

send message.

10 menit kemudian…

Era sudah gabung bersama kami di ruang tamu. Lalu kami mulai membicarakan permasalahan –permasalahan yang telah terjadi tentunya setelah Mamanya Gadis meninggalkan kami berempat buat ngobrol.

“Mama ke kamar Gadis bentar. Kalian lanjut saja ngobrolnya.” kata Beliau setelah menyediakan kami minum.

“ Iya, Mah. Maaf kami malah merepotkan Mamah.” jawabku mewakili sobat-sobatku.

“Ngga repot kok, Nak Rad. Malah Mama senang kalian peduli sama Gadis. Ra, ajakin minum teman-temannya.” ujar Mamah Gadis pada Era.

“Iya, Mah. Gampang itu Mah mereka semua dah biasa kok. Nanti kalo Gadis nanyain Era, ‘bilang aja Era sedang di bawah ya, Mah’. Tapi jangan bilang bahwa ada Kak Rad, Cinthunks dan Senja. Biar saja Gadis istirahat dan tenangin dirinya dulu di kamar.” jawab Era.

“Iya, Ra. Yuk Mamah tinggal dulu, ya! Kalian santai aja, ya” Mamah Gadis pun berjalan menuju kamar Gadis di atas.

Cinthunks dan Senja memberi usulan yakni menemui Black terlebih dulu sementara tugas Era untuk saat ini menemani Gadis saja supaya tidak larut terus dalam kesedihannya. Aku menyetujui usulan mereka begitu pun dengan Era, bahkan ia memberikan kunci mobilnya pada kami biar mudah menemui Black.

Setelah sekitar lima belas menit menempuh perjalanan, aku tersadar sesuatu sambil menepuk jidatku sendiri.

“Black ditahan di kantor polisi mana?” Tanyaku.

“Anjrrriiit!!!” Senja dan Cinthunks memaki dan mengutuki diri.

“Telpon Era!” Perintahku sambil menepikan mobil.

Dengan sigap, Cinthunks mengeluarkan smartphone-nya dan menelpon Era. Nampak mereka melakukan percakapan dengan nada panik, sementara aku dan Senja hanya berdiam diri.

“Polsek XXX Jakarta Pusat,” seru Cinthunks sambil menutup kembali smartphone-nya.

“Kita gantian nyopir, lu lebih tau daerah itu.” Jawabku.

Kami pun bertukar tempat duduk. Aku menyuruh Cinthunks mengemudi mobil karena ia tahu persis daerah tersebut. Satu jam kemudian, kami telah sampai di sana.

Lokasi : Polsek xxx Jakarta Pusat

Setelah bertanya pada petugas maksud kedatangan kami untuk mengunjungi Black, dan menulis buku tamu pengunjung dan menyelipkan sejumlah uang pada petugas itu, akhirnya kami diperbolehkan menjenguk Black di ruang tamu kunjungan tahanan. Kami bertiga diantar oleh petugas itu menuju ruang tahanan.

“Black, ada tamu yang menjenguk.” kata petugas itu memberitahu pada sobatku di dalam sel tahanan.

“Terima kasih, Pak.” sahut Black. Lalu ia mengikuti petugas itu untuk menemui kami bertiga.

Kini di hadapan kami bertiga berdiri sosok Black dengan ekspresi sedih, memakai baju khas terpidana berwarna biru muda. Di wajahnya terdapat luka-luka lebam yang membiru. Kami berempat langsung berpelukan melepaskan rasa kangen. Beberapa saat kemudian ekspresi wajah Black berubah menjadi gembira karena terbawa suasana happy yang kami bertiga ciptakan. Kami bertiga sengaja tidak mau mengungkit-ungkit kejadiannya itu apalagi menanyakan perihal putusnya hubungannya dengan Gadis supaya ia bisa tenang dan tidak larut dalam kesedihan.

Suasana makin lucu saat Cinthunks dengan tingkah konyolnya meminta Black untuk melepaskan pakaiannya lalu ia menukar pakaiannya dengan baju napi yang dipakai Black. Suara tawa kami menjadi pecah melihat tingkah gokil ‘Si endut icikiwir’ julukan khusus kami buatnya.

Tiga puluh menit lamanya kami berempat berbincang-bincang. Black menceritakan kronologis kejadiannya kenapa ia sampai nekat melakukan tindakan penganiayaan itu. Jujur saja aku yang mendengarkan cerita Black sangat geram dan marah dengan pelecehan yang dilakukan oleh Ernest Prakoso. Aku bisa memahami sekaligus memaklumi tindakan Black itu sebagai bentuk ia menyayangi Gadis kekasihnya dan juga sahabat kami namun yang kusesali kenapa sampai ia gegabah untuk melakukan perbuatan itu.

Aku, Senja dan Cinthunks hanya bisa memberi support dan semangat pada Black. Aku segera menghubungi Om-ku yang merupakan pengacara di kota ini untuk membantu penyelesaian kasus hukum yang dialami oleh Black. Walau kutahu papanya Black pun bisa mengeluarkannya jika Beliau mau turun tangan.

“Black, Om Disast mau kok bantu perkara kasusmu. Ntar besok Beliau ke sini bareng gua. Kita akan bantu semampu kami mengeluarkan lo dari sini! Untuk sementara kamu bersabar ya.” ujarku memberitahu setelah mendapatkan kepastian dari Om Disast yang bersedia membantu Black.

“Bener Black apa yang dikatakan Rad. Kalo bisa papamu jangan sampai tau masalah ini, kecuali Om Disast sudah tidak sanggup membantu baru kita minta bantuan papamu.” sambung Senja.

“Keep strong Bro. Give up Men. Kamu pasti bisa melewati semua ini!” timpal Cinthunks menambahi.

“Terima kasih banyak ya, Rad, Senja dan Thunks. Jujur gua merasa terhibur dengan kehadiran kalian.” ujar Black terharu saat waktu kunjungan hampir habis.

“Pasti kami bantu sebisa kami Black. Kita berenam adalah ‘THE CEGAR’ dan akan selalu bersahabat sampai kapan pun.” sahutku ikut terharu saat akan berpisah dengan sahabatku ‘Black’.

Kami menyudahi perjumpaan ini dengan kembali berpelukan, saling memberikan semangat terutama buat Black yang saat ini sedang tersangkut kasus hukum. Setelah itu kami kembali lagi ke rumah Gadis, Chinthunks tetap yang mengendarai mobil itu dengan santai hingga akhirnya kami sampai di depan halaman rumah Gadis.

“Itu ‘kan Era sama Gadis!” tunjuk Senja saat mereka berdua berada tidak jauh dari rumah mereka. “Dari mana mereka berdua, ya?”

Aku ikut melihat kedua sahabat kami, Era dan Gadis yang kini sedang berada di luar rumah, kulihat Era sedang menenteng sebuah kantong kresek di tangannya sambil melihat ke arah kami setelah Gadis menunjuk mobilnya yang dikendarai oleh Cinthunks.​

@@@@@​

Tiga Bulan Kemudian…

Black pun akhirnya bebas setelah Om Disast yang menjadi kuasa hukumnya berhasil meyakinkan pihak kepolisian dengan membayar sejumlah uang sebagai jaminan. Dan tentunya disertai beberapa persyaratan yang mesti dipenuhi oleh Black salah satunya tidak boleh ada lagi konfrontasi dengan Ernest Prakoso, jika itu terjadi Black akan mendapat hukuman yang lebih berat lagi. Black dikenakan wajib lapor sampai kasusnya selesai.

Sementara hubungan Gadis dan Black ternyata tidak bisa lagi dipersatukan namun mereka berdua berkomitmen untuk tetap bersahabat dan melupakan persoalan pribadi mereka, memulai menjadi sahabat walau mungkin kurasa pastinya berbeda dengan mereka saat menjadi sepasang kekasih.

Pagi itu kami ngumpul bareng di kantin kampus. Aku duduk bersebelahan dengan Rida, Senja berdampingan dengan Sadako, Gadis bersebelahan dengan Era, dan Black duduk di samping Cinthunks.

Saat ini hubunganku dengan Rida sudah resmi sebagai pasangan kekasih setelah kemaren aku memberanikan diri menyatakan perasaanku padanya dan Rida menerima cintaku hingga kami memutuskan unuk melanjutkan hubungan ini lebih serius.

Aku sedikit-sedikit bisa menghapus bayang-bayang Ziza yang beberapa tahun lalu terus menemaniku. Dengan adanya Rida, hidupku perlahan mulai membaik, dia wanita yang baik, sholehah dan penuh perhatian membuatku bisa sedikit demi sedikit mulai bisa mencintainya dengan tulus.

“Asyiikkk…! Dapat traktiran nih dari yang baru jadian…. Selamat ya, Kak Rad dan Mbak Rida.” ujar Gadis menyalamiku lalu kemudian memeluk Rida disertai cipika-cipiki.

“Semoga kalian berdua awet, sampai menikah hingga maut memisahkan kalian…” sahut Era. Dia terlihat tersenyum lebar.

“Kalo Rad nakal, ‘bilangin aja sama gua’, Da. Nanti tak jewer kupingnya.” celetuk Senja cengengesan namun tiba-tiba Sadako mencubit perutnya. “Awww….! Sakit ayank beib…!”

“Sapa suruh ledekin orang lain…?” ketus Sadako datar.

“Iya, iya. Maaf ya, ayank beib. Gua Cuma bercanda ayang beib. Jangan ngambek ya, ‘ntar cantiknya hilang loh!” rayu Senja pada kekasihnya yang memperlihatkan ekspresi cemberut.

Kami semua tertawa melihat kejadian itu, Senja dan Sadako sepasang kekasih yang sama-sama somplak menurutku. Namun keduanya tetap harmonis dan sejalan sesuai komitmen mereka. Sadako yang awalnya kami kenal merupakan musuh kami berenam bisa takluk dengan Senja yang anaknya somplak agak miring, hahaha… Ternyata cinta itu emang aneh ya, bikin orang jadi mendadak berubah. Menurut cerita Senja dia sudah suka sejak pertama kali bertemu dengan Sadako di awal-awal ia pindah ke kota ini

“Maaf ya, gua ada kelas nih.” ucap Black tiba-tiba berdiri. “Gua duluan, ya!”

Aku bisa memahami kondisi Black, begitupun dengan Gadis yang sejak tadi hanya menundukkan kepala saat menyaksikan kemesraan Senja dan Sadako. Aku yakin mereka berdua pastinya teringat kembali saat-saat mereka berdua dekat sebagai sepasang kekasih. Namun kini keadaannya berubah mereka telah putus dan menjadi sahabat seperti lainnya.

“Ok. Kalo gitu kita bubar aja. Gua juga ada kelas nih. Dek kamu bareng Era ya ke kelasmu. Kakak ngga bisa nganter, ya!” kataku pada Rida.

“Iya, Kak.” jawab Rida cepat.

Sebelum kami berpisah, Rida sempat mencium buku tanganku terlebih dahulu sebelum beranjak pergi bareng Era dan Gadis. Hal seperti barusan yang membuat hatiku luluh dan semakin jatuh cinta padanya. Dia seperti layaknya istri yang patuh dengan suaminya, tidak ada rasa sungkan dan malu walau diledekin oleh Cinthunks.

“Cie… Dah cocok tuh Rad, jadi bini lo, Bro.” Cinthunks menggoda Rida di depan kami semua.

“Aamiieenn… Semoga doa Kak Cinthunks di-ijabah Allah.” sahut Rida sambil tersenyum.

Aku hanya bisa tersenyum saja, mendengar celotehan Cinthunks. “Untuk menjadikan Rida istriku insya allah aku mau, tapi tentunya bukan sekarang waktunya.” Gumamku membatin.

Aku saat ini sudah bekerja di salah satu anak perusahaan BUMN tempat ayahku bekerja. Namun dua hari ini aku ijin tidak masuk kerja karena mengikuti kegiatan kampusku. Ya, di kampusku aku ikut mendaftar sebagai anggota dari BEM (Badan Executif Mahasiswa) saat ini sedang dilakukan seleksi untuk anggota baru BEM.

.

.

.

Jam 16.00 wib…

Kami telah sampai di teras rumah Rida yang sekarang telah menjadi kekasihku.

”Assalamualikum w.w.” ucap kami berdua saat kami sudah sampai di rumahnya.

“Waalaikum salam w.w. Eh, Nak Rad. Yuk masuk ke dalam dulu, Nak! Ada yang ingin Abi bicarakan sama Nak Rad.” ujar Abi saat aku baru saja mengantar Rida pulang dari kampus.

Aku pun masuk ke dalam rumah mereka, sementara Rida tersenyum lebar sesaat padaku sebelum pergi ke dapur meninggalkanku duduk bersama Abinya di ruang keluarga.

“Nak rad, sejak kejadian kemaren Abi terus terang sangat khawatir dengan keselamatan Rida putri kami. Alhamdulillah Allah Swt masih melindunginya dan Nak Rad lah yang menolongnya saat itu. Jujur Abi sangat mengagumi kamu Nak Rad. Jarang ada lelaki muda yang mempunyai rasa peduli dan tanggung jawab sepertimu. Abi dan Ummi telah mendengar cerita tentang kamu dari Rida sendiri….” Abi tampak menghela nafas sejenak, kalimatnya sempat menggantung.

“Saya sebagai Abi-nya Rida ingin menjadikanmu menantu kami, Nak Rad. Abi tahu ini mendadak dan pastinya kamu kaget dengan keputusan Abi ini. Abi mengambil keputusan ini karena pertimbangan keselamatan Rida dan juga menghindari fitnah dari masyarakat. Sebagai ayah, Abi akan tenang melepaskan tanggung jawab Rida padamu, Nak Rad. Tetapi tentunya dengan syarat…”

“Apa syaratnya Abi? Insya Allah, Rad akan melakukannya. Katakan saja, Abi.” ujarku memotong perkataan Abi.

Abi Umar tersenyum melihatku yang spontan tadi memotong perkataannya. Lalu ia melanjutkan omongannya. “ Syaratnya… Kalian harus halal dulu atau menikah untuk menghindari fitnah dan perbuatan zinah. Apakah kamu bersedia, Nak Rad?”

Aku melongo dengan mulut terbuka, tanpa sadar aku bergumam. “Menikah…?!”

Bersambung

END –  6 Teman Teman Part 15 | 6 Teman Teman Part 15 – END

(6 Teman Teman Part 14)Sebelumnya|Bersambung(6 Teman Teman Part 16)