6 Teman Teman Part 14

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21

6 Teman Teman Part 14

Start 6 Teman Teman Part 14 | 6 Teman Teman Part 14 Start

Pelukan Untuk Gadis

Ujian persahabatan kami benar-benar melelahkan. Setelah Gadis mengalami hal buruk akibat ulah Ernest, kini giliran Black yang tersandung masalah hukum akibat membalas perlakuan Ernest pada sahabat gue, Gadis.

Setelah mendapat kabar tentang kejadian itu, gue langsung cabut menuju ke rumah Gadis. Buat gue, Gadis adalah sesosok perempuan cerdas dan ramah, berbeda dengan gue yang menurut sahabat-sahabat gue kejam dan bermulut ‘bocor’. Gadis mengurung diri didalam kamar ketika gue datang. Keadaannya sangat kacau. Matanya sembab karena mungkin telah menangis selama berjam-jam. Gue hanya bisa berdiri mematung diambang pintu kamar tidurnya. Entah mengapa tiba-tiba gue meneteskan air mata, suatu hal yang sangat langka karena gue bukan tipe perempuan melow berkat didikan mamah yang super disiplin dan keras.

Perlahan gue mendekat ranjang sahabat kesayangan gue itu, kemudian memeluk erat tubuhnya. Tiada kata-kata yang terucap, hanya pelukan dan usapan tangan gue di punggung sahabat gue, sekedar untuk menguatkan dan menenagkannya.

Perlahan, air mata Gadis keluar dan membasahi pundak gue.

“Gue udah putus dengan Black Ra” gumannya, sambil berusaha mengatur nafas yang terdengar tak beraturan.

“Sssstttttt… udah… lo tenang dulu ya… gak usah pikirin masalah itu dulu. Sekarang yang paling penting lo harus bangkit dulu.. dan gue mau Gadis-sahabat gue yang kemarin, kembali lagi, bukan Gadis yang sekarang.” Balas gue sambil mempererat pelukan untuk menguatkan hati Gadis.

Entah kalimat yang gue ucapkan itu benar atau enggak, gue gak peduli, karena gue sendiri belum pernah berpacaran dan gak tahu bagaimana rasanya putus cinta. Mungkin sangat sakit, mungkin biasa saja, mungkin seperti hal spele, entahlah… gue gak terlalu peduli dan gak pernah memikirkan hal itu. Satu hal yang pasti, melihat kondisi sahabat gue yang drop, gue yakin, putus cinta itu sangat menyakitkan.

Dan sekarang, tugas utama gue adalah menemani Gadis, membantunya melewati masa-masa suram ini agar ia kembali menjadi Gadis yang kemarin.

Buat gue, memiliki sahabat seperti ini rasanya seperti mimpi, seperti mendapat anugerah besar dari Sang Pencipta, karena baru kali ini gue benar-benar merasakan tulusnya persahabatan. Status gue sebagai anak tunggal perlahan hilang, seiring perjalanan persahabatan kami yang semakin hari semakin akrab dan dekat. Bahkan, buat gue, mereka sudah seperti saudara gue sendiri. Dan gue gak keberatan melakukan apapun untuk membantu mereka. Dan kali ini, sahabat gue, Gadis sedang dalam ‘masa sulit’, dan gue bisa ngerasain keadaannya.

“Lo tiduran dulu ya Dis, gue buatin lo the anget dulu” kata gue.

Hanya keheningan yang ada diantara kami, dan Sahabat gue, Gadis, masih saja memeluk tubuh gue yang kurus.

Hening…

.

.

.

Setelah hampir sepuluh menit, pelukannya perlahan mengendur dan akhirnya terlepas. Keadaanya benar-benar kacau, semua itu tergambar jelas dari raut wajanya yng nampak kusut dan lelah.

Ia hanya tertunduk lesu, sementara bulir-bulir air mata masih jatuh menetes dari sudut matanya. Gue benar-benar merasa iba pada Gadis sahabat gue, dan hati gue rasanya seperti teriris melihat kondisinya yang sangat memprihatinkan.

“Gue ada disini, kak Rad, Entunk, Senja, ada disini. Lo harus kuat” kata gue sembari memegang kedua pipi sahabat gue itu dengan lembut.

Dengan gerakan yang sangat lemah, Gadis menumpangkan kedua telapak tangannya di kedua punggung tangan gue, dan beberapa saat kemudian, kedua tangannya kembali melingkar di pinggang gue. Kami kembali berpelukan.

Suasana kembali hening, hanya terdengar suara deru nafas Gadis yang sedang menyandarkan kepalanya di pundak gue. Ini pengalaman pertama buat gue, dimana pundak gue berguna untuk orang lain sebagai tempat bersandar. Dan gue sangat senang, karena pengalaman ini terjadi bersama seorang sahabat yang sudah gue anggap seperti saudara kandung.

“Sekarang tiduran dulu ya, gue buatin teh panas, sebentar doang koo…”

“Heeuu uumm” balasnya singkat.

Perlahan ia melepaskan pelukannya dan membaringkan tubuh dikasur yang empuk.

“Bentar ya” kata gue sambil mengusap kepalanya.

***

“Gimana keadaan Gadis nak?” tanya ibunda Gadis saat gue sedang membuat minuman.

“Dia baik-baik aja kok mah… mamah tenang aja, dia cuman butuh istirahat dan teman bicara aja kok”

“Ya udah, malam ini kamu tidur disini ya, tolong temani Gadis. Nanti mamah telfon orang tuamu untuk minta ijin.”kata mamah sahabat gue yang cantik.

“Oke mah”

“Makasih ya sayang.. dan tolong, bantu Gadis ya nak” kata beliau lagi sambil memeluk tubuh gue.

“Iya mah, Gadis itu bukan orang lain, dia udah seperti saudara era kooo. Mamah tenang aja, biar nanti era yang urus deh.”jawab gue.

Keluarga ini adalah keluarga yang menjadi keluarga kedua gue, selain papah dan mamah kandung gue. Walaupun gue jarang main ke rumah Gadis, namun mereka tahu bahwa gue, kak Rad, Entunks, dan Senja, adalah sahabat Gadis. Itu sebabnya mereka memanggil kami semua dengan sebutan nak, atau panggilan mamah Gadis ke gue dengan kata ‘sayang’. Dan gue pun memanggil mereka dengan sebutan papah dan mamah. Sungguh sebuah persahabatan yang indah.

Setelah selesai membuat teh panas, gue langsung kembali ke kamar Gadis. Sama-samar gue dengar perbincangan antara ibunda Gadis dengan mamah gue melalui telfon.

Setelah meletakkan minuman di atas meja disamping ranjang, gue duduk di tepian kasurs dan mengusap kepala Gadis.

“Jangan pulang, bobo disini aja ya..” pinta Gadis.

“Tanpa lo minta pun, gue emang berniat mau bobo disini” jawab gue sambil tersenyum.

“Makasih ya kaaa..” jawabnya, kemudian memeluk pinggang gue.

“Eh.. lo manggil gue kakak?? Ga salah tuh??” tanya gue keheranan.

Selama ini Gadis selalu memanggil gue dengan sebutan Mbak. Dan ketika ia memanggil gue dengan sebutan ‘kak’, sedikit terdengar aneh, tetapi jujur gue merasa senang karena merasa seperti memiliki adik kandung.

Gue tersenyum simpul seraya berbaring disisi Gadis.

“Anak-anak pada kemana?” tanya Gadis.

“Udaahhhh… tenang aja de… mereka lagi keluar, kakak suruh bawa mobil kakak tadi.”

“……”

Sebenernya gue bingung bagaimana cara menghadapi situasi seperti ini. Perpaduan antara masalah putus cinta dan kekerasan fisik yang di terima Gadis adalah pukulan berat untuknya, dan untuk kami semua. Selama ini, sebelum mengenal para sahabat gue ini, hidup gue bisa dibilang datar, tanpa tantangan, tanpa masalah. Semua berjalan seperti biasa dan sangat membosankan buat gue. Itulah mengapa, gue sangat menyayangi sahabat-sahabat gue, walaupun terkadang mereka berubah menjadi sangat menyebalkan.

“Ka… rasanya sakit banget” guman Gadis sembari menatap langit-langit kamarnya.

“Hmmmm…” jawab gue datar karena gue gak tahu harus berkomentar apa.

“Mending hidup seperti kakak, gak punya pacar, tapi bisa enjoy, bisa tetap happy” lanjutnya.

“Enjoy, happy.. deeee… kakak bisa ngerasain itu semua karena kehadiran kalian juga. Kalo tentang urusan asmara, entahlah, kakak juga belum pernah ngerasain, jadi gak tahu gimana sakitnya kalo putus cinta.” Balasku.

“Jangan sampai deh kak, gak enak, rasanya sakit, nyesek” balasnya tanpa mengalihkan pandangan dari langit-langit kamarnya yang berwarna putih.

“Gini deee, kakak percaya kalo setiap kejadian pahit dalam hidup kita itu akan menjadikan kita semakin kuat, semakin mateng dan dewasa karena kita belajar dari pengalaman.” Kata gue.

“Nah, umurmu masih muda, perjalanan hidupmu masih panjang, kalo bisa sih, segeralah bangkit, jadilah Gadis yang periang seperti dulu. Semua akan baik-baik saja dan semua akan semakin baik jika kita mau berusaha untuk bangkit dan move on.” Lanjut gue.

“Iya sih kak, bener banget itu” jawab Gadis sembari memiringkan tubuhnya dan menghadap ke arah gue.

“Semua akan baik-baik saja dee, karena Gadis yang kakak kenal adalah gadis tangguh, gadis yang mampu menghadapi semua tantangan dengan keberaniannya.” Jawab gue sembari membelai lembut pipi Gadis.

“Inget waktu kita SMA…? Waktu itu kakak cuman akrab dengan kalian berlima, sedangkan adek justru bisa membaur dengan semua angkatan. Dan buat kakak, itu adalah kelebihanmu, dimana adek bisa menempatkan diri dan berbaur dengan segala macam tipe manusia walaupun usia adek masih sangat muda.” Sambung gue.

Kami kembali terdiam dan larut dalam alam pikiran kami masing-masing. Gue kembali mengenang masa-masa SMA, masa yang menurut gue sebagai ‘best moment beginning’ karena bertemu dengan kelima sahabat terbaik gue. Tanpa mereka, mungkin gue udah pindah sekolah, atau mungkin berhenti sekolah karena gak menemukan teman yang cocok dan klop dengan kepribadian gue.

“Kaaa…” Gumannya.

“Hmmm… ada apa?”

“Kita jalan-jalan yuk. Jalan kaki aja, muter-muter deket sini, sekalian refreshing sama beli jajanan” kata Gadis.

“Boleh. Tapi cuci muka dulu gih, gak asik lho lihat wajah kucel kek gini ini” balas gue sembari mengacak-acak rambut Gadis.

“Siiippp… otw cuci muka deh. Eh tapi anu kaa” gumannya menggantung.

“Anu apa sih…?”

“Pengen peluk kaka” pintanya.

Gue sedikit heran dan terkejut dengan permintaan Gadis. Selama ini, dia bukan tipe cewek manja dan melow seperti ini. Namun, mengingat ia baru saja mengalami musibah berat, akhirnya gue bisa memakluminya.

Posisi tubuhnya sedikit lebih rendah dari badan gue, dan ketika akhirnya kami berpelukan, wajahnya tepat berada di dada gue. Rasanya aneh dan pasti jika terlihat orang lain, akan menimbulkan pikiran jorok.

“Kkaaaa….” Gumannya saat kami masih saling berpelukan. “Badan kakak bau acem” lanjutnya.

“Haaahhh…!” jerit gue sambil melepaskan pelukan dan langsung membaui ketek gue.

“Engga koooo… iisshhhhh… hidung situ aja yang lagi error” bantah gue.

“Beneran lho kaaa… aceemmm banget” sanggahnya sembari mengibaskan tangan didepan wajahnya.

“Ini karena tadi waktu denger kabar, kakak langsung kesini. Gak mandi, gak dandan, langsung berangkat aja.” Jawab gue dengan serius.

“Bwahahahahahahahaa…. Canda aja koook kaaa… gak bau acem kooo” balasnya dengan penuh tawa kemenangan sembari turun dari ranjang.

“Gaaaadddiiiiiiissssssssss….!!!!” Jerit gue kencang sambil mengejarnya karena gemas.

Gerakannya yang lambat membuat gue dengan mudah menangkap tubuhnya dan langsung menjatuhkannya ke lantai. Kedua tangannya berhasil gue tangkap dan gue tahan dengan tangan gue di sisi kanan dan kiri kpalanya sementara gue duduk tepat diatas pinggulnya.

“Ngerjain orang yang lebih tua itu adalah kejahatan yang serius” kata gue seolah berperan sebagi polisi yang sedang menangkap penjahat.

Gue mendekatkan wajah ke arah wajahnya sementara Gadis terlihat keheranan melihat tingkah gue.

Saat wajah kami bejarak hanya beberapa centi, tiba-tiba kami dikagetkan dengan suara di ambang pintu. Suara teriakan gue tadi telah memancing seseorang untuk datang ke kamar Gadis.

“Kalian kenapa??” tanya mamah Gadis dengan wajah penuh keheranan.

Gue dan Gadis terdiam sesaat sambil memandangi wajah mamahnya.

“Ini lhooo mah, Gadis bilang kalo badan era kecut” jawab gue sembari melepaskan tangan Gadis dan turun dari atas tubuhnya.

“Kalian iniiii….” Guman si mamah sambil menggeleng-gelengkan kepala, kemudian meninggalkan kami.

Gadis tertawa girang setelah si mamah meninggalkan kami.

“Nanti akan ada pembalasan.” Gerutu gue gemes.

Perlahan, gue melihat Gadis mulai bisa kembali ceria. Mungkin belum sepenuhnya, tetapi setidaknya untuk saat ini ia bisa tertawa lepas, walaupun akibatnya gue jadi korban candaannya itu. Gadis hampir kembali. Gadis nyaris pulih dari keterpurukannya.

Setelah selesai mencuci muka, ia merapikan rambut dan bercermin.

“Udah oke belum kaaa?” tanyanya setelah menyisir rambut.

Gue mengacungkan jempol.

“Ayoooo kita jalan-jalan!” serunya sembari tersenyum.

“Makasih kaaaa” gumannya dan dengan tiba-tiba memeluk tubuh gue.

Gue tau Gadis mengucapkannya dengan kesungguhan, dan gue membalas pelukannya dengan penuh kasih.

“Just remember that I always love you as my sister. My little sister” balas gue dan mengecup ubun-ubunnya.

“Makasih kaa…” jawabnya.

Setelah berpamitan dengan si mamah cantik, kami pun pergi. Bisa gue lihat mamah sangat bahagia melihat Gadis kembali ceria seperti sedia kala. Beliau bahkan sempat mengedipkan mata dan mengacungkan jempol saat kami berpamitan sebagai tanda ungkapan terima kasih beliau kepada gue karena bisa membantu Gadis—anak kesayangan beliau, melewati masa-masa sulit, dan tentu saja beliau melakukannya tanpa sepengetahuan Gadis.

Suasana sore yang sangat indah. Sinar matahari tampak mulai meredup di barat, jalan raya disekitar rumah Gadis pun tak terlalu ramai.

“Kaa… dari SMA, gue udah terbiasa dengan kehadiran Black. Dan sekarang,…” kalimatnya terputus.

“Kaka gak ngerti gimana rasanya, karena kaka belum pernah mengalaminya. Tapi, kaka yakin, semua akan baik-baik saja. Anggap saja ini adalah fase pendewasaan diri.” Jawab gue sambil berjalan pelan disisi Gadis.

“Kaka tau..? Rasanya emang sakit banget, tapi… ada kaka, ada kalian, dan rasanya gue bisa melewati saat-saat seperti ini.” Jawab Gadis.

Sejenak kami terdiam dalam suasana sore yang damai. Melangkah dengan santai, menikmati suasana sekitarnya adalah pengalaman pertama gue, berdua dengan Gadis melewat sore hari. Selama ini, gue jarang dan malah mungkin belum pernah terlibat suasana akrab dan intim seperti ini dengan Gadis. Buat gue, bukan karena mau menjaga jarak atau gak cocok dengan di gadis manis disamping gue ini, tapi karena gue gak enak kalo mau menghabiskan waktu dengannya, takut menggangu waktu mereka berdua.

“Bisa gak ya kita tetap berteman sampai kita tua, sampai kita jadi kakek nenek kaa..?”

“Bisa… toh kita udah saling kenal, keluarga-keluarga kita juga udah saling kenal. Yang penting kita semua saling menjaga satu sama lain, saling membantu, saling mengingatkan.” Jawab gue sambil menggandeng tangannya.

“Kaa…”

“Hmmm…. Kenapa de?”

“Jangan gandengan tangan dong, ntar kita dikira lesbian lho..” celetuknya, namnun masih menggengam erat tangan gue.

Gue menghentikan langkah lalu menatap Gadis dengan sewot.

“Kalo perlu kakak cipok biar yang lihat makin seneng!” gerutu gue sebel.

Dan benar saja, si gadis manis ini hanya tertawa cekikikan melihat wajah gue. Sebel, kesel, dan rasanya pengen gue gigit nih anak orang!!!.

“hihihihihihi… wajah kakak lucu ya kalo lagi jutek, kayak bebek lagi ngerem” jawabnya.

Astagaaaaa… inilah ujian kesabaran gue. Seandainya saja bukan Gadis, udah gue smackdown nih orang. Wajah bebek itu gak banget, apalagi kalo lagi ngeremin telor. Gue yakin, sangat yakin, ni anak udah mulai tertular virus usil sahabat kami yang lain!.

Tidak ada percakapan berarti yang bisa kami ucapkan setelahnya. Dan gue lihat, dari raut wajahnya yang nampak mulai ceria, sepertinya luka hati itu perlahan sembuh.

“De… beli jajannya dimana? Ini udah jauh lho kita jalan” celetuk gue.

“Tuh.. udah kelihatan tempatnya.” Jawab gadis sembari menunjuk sebuah minimarket di dekat persimpangan jalan.

Dari kejauhan, gue lihat sebuah mobil yang gue kenal berjalan pelan ke arah kami.

“Kaaa… itu kan mobil kakak..” guman gadis yang juga melihat mobil itu”

Bersambung

END – 6 Teman Teman Part 14 | 6 Teman Teman Part 14 – END

(6 Teman Teman Part 13)Sebelumnya|Bersambung(6 Teman Teman Part 15)