6 Teman Teman Part 13

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21

6 Teman Teman Part 13

Start 6 Teman Teman Part 13 | 6 Teman Teman Part 13 Start

HIDUP DAN CINTAKU

Ngenes sih kalo ngeliat nasibku yang kere seperti ini. Keadaanku sangat jauh berbeda dengan kelima sahabatku yang lain, atau juga Sadako kekasihku. Tapi kenyataan bahwa mereka menerimaku sebagai sahabat tanpa memandang status sosial-ekonomi, itulah yang kubanggakan dari mereka.

Mereka tidak pernah menganggapku remeh, tidak risih dengan penampilanku, dan tidak komplain ketika harus bergiliran mentraktirku saat di kantin.

Terima kasih juga kepada kekasihku, Sadako, yang juga selalu ada dalam saat setiap kesusahanku, saat aku kebingungan bayar kontrakan, di saat malam-malam datang mengantar makanan meski aku membohonginya kalau sudah makan.

Tapi aku tidak bisa seperti ini terus. Aku harus bisa mandiri, aku harus membuat Sadako bangga melihat perubahanku. Aku tidak boleh lagi mengecewakannya.

Masih segar di ingatanku, ketika kemarin Sadako menyeretku ke belakang kampus saat aku ketahuan memakan bakso di meja kantin. Waktu itu, ada semangkok bakso nganggur karena yang punyanya sedang tidak ada, rupanya ia sedang ke toilet.

Dengan cuek aku memakan dan menghabiskannya, dan aku harus kena damprat sang empunya bakso, yang ternyata adalah dosenku sendiri. Sialnya lagi.. Sadako tiba-tiba muncul saat aku sedang kena marah.

Kala itu aku hanya bisa bersandar di tiang sambil menunduk ketika Sadako benar-benar memarahiku.

“Aku gak tau lagi harus gimana, Ja. Aku nyerah, Ja. Nyerah…”

“…”

“Sekarang tolong beritahu aku, gimana lagi caranya aku mencintaimu? Gimana caranya aku membuatmu berubah dan tidak pecicilan lagi? Gimana, Ja? Jawab!!”

Ya, mulai hari ini aku harus berubah, demi Sadako kekasihku.

Dengan langkah panjang, aku berjalan memasuki gerbang kampus. Meskipun hari ini tidak ada kuliah, aku harus menemui para sahabatku untuk meminta mereka mencarikan pekerjaan sampingan untukku.

Oooops.

Aku berjingkat dan menghentikan langkahku, saat aku hampir saja menginjak puntung rokok yang masih setengah. Rejeki pertama hari ini tidak boleh disia-siakan. Dengan sigap aku memungutnya.

“Lumayan masih setengah.” Aku membatin sambil tersenyum senang.

Tapi belum juga aku menyulutnya, tiba-tiba ada seseorang mengeplak tanganku dan merebut puntung yang sudah menempel di bibirku, lalu menginjak-injaknya.

“Kupret, loe.” Sewotku sambil menonjok perut pelakunya, tapi ia berhasil menghindar. Dia adalah Cinthunks si jomblo ngenes.

“Loe malu-maluin gue aja, bro. Gue tahu kalo loe itu kere, tapi gak usah segitunya juga kali. Kalau Sadako tahu, abis loe!” Cinthunk balik memaki sambil menyodorkan bungkus rokoknya.

Segera kucatut satu batang dan menyulutnya, sementara sisanya kukantongi.

“Si monyet. Balikin rokok gue!” Sewotnya.

“Gampang.. loe kan bisa beli lagi.” Jawabku dengan dingin.

“Balikin gak?”

“Iya gue balikin, tapi ada syaratnya.”

“Apaan?”

“Cariin gue kerjaan.”

“Hah? Gak salah denger gue?”

“Seriusan.”

“Wah.. si kupret serius nih kayaknya.”

Cinthunks yang menangkap keseriusanku langsung mengajakku duduk di bangku dekat parkiran.

“Sekarang cerita ke gue.” Pintanya sambil merebut rokok yang baru saja kuhisap.

Kuceritakan masalahku yang semakin morat-marit karena keadaan keuanganku. Si mamang hanya mau membantu biaya kuliahku, sementara untuk hidup sehari-hari ia sudah tidak bisa membantu lagi karena ia juga harus membiayai anak-anaknya yang tahun ini lulus sekolah. Sepupu pertamaku lulus SMA, dan yang kedua lulus SMP. Tak lupa aku juga menceritakan kemarahan Sadako kemarin siang.

“Gitu, bro, ceritanya.” Pungkasku sambil menyatut batang rokok kedua, dan segera mengantongi kembali sisanya.

“Hmm… gue ada ide.” Celetuknya, membuatku bersemangat.

“Gimana tuh? Loe punya kerjaan untuk gue?”

“Ada dua, bro, dan penghasilannya sangat menjajikan. Pertama, loe bisa jadi bintang film bokep; atau yang kedua, loe bisa jadi gigolo. Loe tinggal pilih dah.”

“Kampret!” Makiku sambil meninju bahunya dengan kesal. Sementara Cinthunks hanya tergelak dengan puas.

“Gue seriusan, nyet! Gue lagi butuh banget kerjaan nih.” Keluhku.

“Ada sih, bro. Gimana kalau loe ikut gue ngeband di café. Loe bisa pegang bass, kan? Tapi cuma manggung pas week end aja.”

“Oke. Gue mau.” Jawabku dengan antusias.

“Deal. Mulai lusa loe ikut latihan di rumah gue.” Sahutnya.

“Thanks banget, ya bro. Makin cinta deh ama loe.”

“Najis banget, loe!!!”

“Kalau loe mau, loe juga bisa minta Era untuk mencarikan pekerjaan tambahan. Ngeband kan cuma week end. Nah, hari biasa loe bisa nyambi kerjaan lain juga.” Sambungnya, memberi usul.

“Boleh juga tuh usulnya. Gue kontak si tocil dulu deh.” Jawabku sambil mengeluarkan hape jadulku dan mengirim SMS kepada Era.

“Ra, telpon gue donk!”

Send.

Tak lama kemudian hapeku berdering, dan nama Era tertera di layar. Belum juga aku bilang hallo, Era sudah langsung nyerocos.

“Napa, loe? Gak bisa. Gue gi gak ada duit. Nanti gue bawain roti aja ya buat sarapan. Kalo butuh ongkos minta Black, uang rokok minta kak Rad, uang makan siang minta Gadis, uang makan malam minta Cinthunks, kalo pengen perbaikan gizi dengan minum susu minta aja ama Sadako. Loe kan tinggal meres doank.”

“Heh tocil!! Dengerin gue dulu napa? Langsung maen nyerocos aja.” Jawabku.

“Fix. Karena loe bilang gue tocil, gue gak jadi bawain loe sarapan.”

“Hehehe.. maaf Era cantik. Kan gue cuma bercanda, plis plis.. rotinya bawain buat gue ya.”

“Ngehe loe. Cepetan bilang, ada modus apa loe minta gue nelpon.”

“Gini, Era yang cantik… manis… bohay… jomblo…”

Lalu kusampaikan kesulitanku, dan niatku untuk memintanya mencarikan pekerjaan; jika ada.

“Hmmm… kenapa loe gak minta Gadis aja? Sapa tahu dia bisa memasukkan loe kerja di restoran mamanya. Sekalian loe bisa makan gratis kan jadinya.”

“Boleh juga tuh idenya. Nanti gue bilang ke Gadis deh, tapi loe bantu gue juga untuk bilang ke dia ya.”

“Ngehe loe. Iya nanti gue bilang Gadis.”

“Makasih ya. Lu memang sahabat gue yang paling baik.”

“Kalau ada maunya aja, loe muji-muji gue.. basi tahu. Udah ya, gue mau berangkat ke kampus nih.”

“Eh, Ra.”

“Apaan lagi???”

“Kirimin gue pulsa, donk.”

Klik.

Aku hanya garuk-garuk kepala saat menyadari Era langsung menutup telponnya. Sahabatku yang satu ini judesnya emang tiada duanya, tapi aku tahu kalau hatinya sangat baik.

“Loe emang parah, bro. Udah miskin akut, gak tahu dirinya juga level tinggi.” Cinthuks nyeletuk sambil melihat tingkah gue.

“Satu.. dua.. tiga..” Aku mulai berhitung, tanpa mengabaikan ocehan Cinthunks.

Tepat pada hitungan kesepuluh, hapeku kembali bergetar. Dan aku berteriak gembira, saat membaca pesannya: Anda telah menerima pulsa sebesar 25000 dari nomor +62 46 166 167 16. Dari siapa lagi, kalau bukan dari Era.

“Kalian di sini rupanya. Yang lain mana?” Rad tiba-tiba muncul menghampiri kami.

“Belom datang.” Jawab Cinthunks.

“Palingan gak masuk kuliah, kecapean abis semalaman tempur.” Celetukku sekenanya.

“Black bukan tipe begitu pada ceweknya.” Rad membelanya, “gak kayak loe yang kerjaannya cuma nyelupin Sadako mulu.”

Mendegarnya aku hanya nyengir sambil mngukurkan tangan, “Bagi rokok loe, donk.” Sahutku pada Rad, tanpa mengacuhkan ucapannya.

Ia pun mengeluarkan rokoknya, dan menyodorkan kepadaku. Segera kucatut sebatang, dan sisanya segera kukantongi. Sikapku, tentu saja membuat Rad geleng-geleng kepala, sementara Cinthunks memakiku.

Kami pun melanjutkan obrolan sambil bercanda-ria. Aku dan Cinthunks malah taruhan sebungkus rokok tentang Black dan Gadis. Menurutku mereka tidak akan masuk kuliah karena mereka sibuk pacaran. Sementara Cinthunks berkeyakinan bahwa mereka akan datang.

Tak lama kemudian, Era muncul menghampiri kami bertiga. Segera aku menyambutnya, dan menagih sarapan yang ia janjikan. Ia menyodorkan tapper ware yang berisi lapisan roti yang sudah diolesi coklat.

“Makasih cantik,” ucapku. Dengan segera aku membuka dan menyantapnya dengan lahap.

Kami pun santai sambil menunggu Black dan Gadis. Selama ngobrol, tak hentinya Cinthunks mencuri pandang pada Era. Hal ini luput dari perhatian Rad dan Era sendiri, tapi tidak bagiku. Aku sudah tahu kalau Cinthunks naksir Era, karena ia pernah cerita padaku, tapi selalu saja tak punya keberanian untuk mengungkapkannya. Sebenarnya aku berniat untuk menyampaikan kepada Era, tapi melihat gelagat bahwa ia sedang naksir cowok lain, membuat aku mengurungkan niat.

Akhirnya, mereka bubar meninggalkanku karena jam kuliah sebentar lagi dimulai; sementara aku masih bertahan sambil menghabiskan sarapan yang dibawa Era. Sementara Black dan Gadis masih belum juga kelihatan lubang hidungnya.

Kuayunkan langkahku meninggalkan tempat duduk. Tapi belum juga aku melangkah jauh, tiba-tiba sebuah suara menghentikanku.

“Sayang.”

Aku sudah sangat hafal suara itu, suara kekasihku. Benar saja. Sosok kekasihku setengah berlari menghampiriku, ukuran payudaranya yang jumbo nampak bergoyang menggiurkan.

“Pagi sayangku. Koq pagi-pagi udah cemberut?”

Aku menyambutnya, lalu mengusap rambutnya yang sedikit berantakan karena ulah nakal angin yang menerpanya.

“Kesel. Udah mah begadang ngerjain bahan presentasi sampe jam dua pagi, eh dosennya malah gak masuk.” Gerutunya.

“Kamu sendiri ngapain ke kampus? Kan hari ini gak ada kuliah.” Lanjutnya lagi, sambil memandangku penuh selidik.

“Eh anu.. aku ke sini cuma nemuin anak-anak Cegars.” Jawabku sambil memasangkan kancing atas kemeja kekasihku yang terbuka. Aku tidak rela jika banyak mata yang mengintip belahannya.

“Pasti ada maunya. Nyusahin mereka apa lagi?” Tanyanya sambil memandangku.

Mendengar pertanyaanku, kusampaikan rencanaku untuk kerja sampingan. Seberandal-berandalnya aku, tetap saja aku tidak pernah bisa berbohong padanya.

“Sayaaang…” Sadako berseru dengan senang. Ada ekspresi haru yang terpancar di balik senyumnya. Sementara aku hanya bisa garuk-garuk kepala karena malu.

“Kamu ikut aku yah. Aku ada hadiah buat kamu.” Ujarnya sambil menarik tanganku.

“Eh.. mau ke mana, sayang?” Tanyaku, tanpa menolak tarikannya.

“Ke rumah.”

Kami pun berjalan bersisian menuju parkiran, menuju kendaraannya. Jantungku mulai berdegup, membayangkan kemungkinan yang akan kami lakukan. Jam segini rumahnya pasti sepi, karena kedua orangtuanya bekerja.

Sejam kemudian, kami sudah tiba di rumahnya. Setelah memarkirkan mobil, kami berdua memasuki rumah sambil bergandengan tangan.

“Yank, kalau mau minum ambil sendiri yah. Aku mau pipis dulu.” Kekasihku mencium pipiku, lalu masuk kamar dengan tergesa.

Aku hanya mengangguk sambil melangkah menuju kulkas yang terletak di ruang makan. Kutuang jus alpukat lalu mencampurnya dengan sedikit susu coklat; terasa segar dan nikmat saat kuteguk.

Tak lama kemudian kekasihku muncul dan memelukku dari belakang. Kedua payudaranya terasa empuk, mengganjal punggungku.

“Kangen.” Bisiknya.

“Sama.” Jawabku sambil membalikan badan dan mencium kening kekasihku.

Setelahnya aku memeluknya dengan penuh rasa sayang. Sesaat kami saling berpelukan untuk mengabarkan rasa sayang yang kami miliki. Setelahnya, aku membimbingnya ke ruang tengah, tetapi Sadako menolak. Ia malah menarikku ke dalam kamarnya.

Begitu pintu tertutup, kami langsung berciuman dengan nafas tersengal. Kulumat bibirnya yang tebal; sementara tanganku mengusapi bokongnya yang lebar. Tanpa kendali kami pun larut dalam ciuman yang panas.

Tanpa melepaskan pagutan kami masing-masing, kubumbimbing kekasihku ke atas kasur.

Bleeef.

Tubuh kami terhempas, dan bibir kami terpisah. Sejenak kami saling pandang dengan nafas tersengal, wajahnya yang merona karena menahan gairah membuatnya nampak begitu menawan.

Sadako segera menarik leherku dan bersiap melumat bibirku kembali, tapi aku menghindar untuk menggodanya.

“Sayang iiih…” Ia merengut manja, membuatnya nampak semakin menggemaskan.

“Kamu diam, yah sayang. Nikmatin aja.” Bisikku yang dijawab anggukannya.

Dengan lembut kucium kening kekasihku, cukup lama bibirku menempel di sana, membuat Sadako memejamkan mata untuk merasakan ungkapan sayang yang kuberikan.

Setelah merasa cukup, kualihkan ciumanku pada kedua pipinya, matanya, ujung hidungnya yang mancung, juga dagunya.

Lalu aku bangkit untuk membuka kancing bajunya. Perlahan tapi pasti kubuka deretan kancingnya sambil berusaha tidak menyentuh payudaranya yang menggunung-menggiurkan.

Mendapat perlakuanku, Sadako hanya menatap dengan sayu sambil menggigit bibir bawahnya. Setelah semua kancingnya terlepas, lalu kusibak perlahan kemejanya.

Jreeeeng…

Kedua payudaranya menyembul tanpa mampu terbungkus utuh oleh beha hitamnya. Urat-urat halus kebiruan menggaris pada kulitnya yang putih, membuat pandangan mataku terasa nanar. Sadako kian tersengal karena menahan birahinya, membuat kedua gunung kembarnya kian menyembul naik turun.

Kuselipkan tanganku ke bawah punggungnya, lalu kuraih kaitan behanya.

Klik.

Setelah terlepas, segera kutarik talinya tanpa menyentuh kulitnya. Maka terpampanglah bagian tubuhnya yang paling kusukai. Payudara jumbonya terbebas, dengan lingkaran kecoklatan berpendar, mengelilingi kedua putingnya yang mencuat tegang.

Nafsuku melonjak, dan penisku bergetar di balik himpitan celanaku. Sementara kekasihku semakin gelisah, meminta nikmatnya sentuhan. Dengan sekali helaan nafas, kukendalikan diriku. Saatnya belum tiba, aku harus membuat kekasihku gerah oleh nafsunya, dan meraih puncak yang tak pernah ia dapatkan sebelumnya.

Maka kutepis tangannya yang hendak meraihku.

“Diam dulu.” Suara terasa bergetar karena gairah.

Secara perlahan kubuka kaitan roknya, lalu menurunkannya secara perlahan. Dengan penuh kerjasama, kekasihku mengangkat pinggulnya sehingga aku tidak mengalami kesulitan. Kujalari seluruh tubuhnya dengan sorot mataku. Inci demi inci tubuhnya kian terekspos, hanya menyisakan celana dalam hitam yang nampak kontras dengan warna kulitnya yang kuning langsat.

Bulu-bulu halus kemaluannya membayang, dan sebagian menjalar di tepian celana dalamnya. Sementara di tengah gundukannya, ada rembesan lembab, menandakan kekasihku sudah sangat bergairah.

Berulang kali ia merintih dan memohon untuk segera kusentuh, tapi kuabaikan sambil beberapa kali menghindari tangannya yang hendak memelukku.

Aku tidak munafik, nafsuku rasanya sudah sampai di ubun-ubun, dan kemaluanku dibuat sakit karena semakin mekar dan tegang. Tapi inginku saat ini, adalah memuaskan kekasihku terlebih dahulu, sebelum meraih puncak kenikmatan bersama di akhir nanti.

“Sayang, aaaah…” Keluh kekasihku.

Tapi kuabaikan rintihannya, lalu secara perlahan kupelorotkan celana dalamnya.

Segera aku berdiri sambil mengamati tubuh polos kekasihku. Sementara yang kuamati, wajahnya nampak memerah; kedua pahanya dirapatkan untuk menyembunyikan kemaluannya, dan kedua tangannya ditangkupkan pada kedua pucuk payudaranya. Sikapnya membuatnya makin kelihatan seksi dan menggairahkan.

Kulepaskan bajuku sehingga aku kini telanjang dada. Secara perlahan aku membungkuk, lalu menciumi wajahnya dengan lembut.

Cuuuup.

Bibir kami beradu dan kekasihku langsung bernafsu menyambut dan melumat. Kami saling mencecap, saling mengulum, saling melumat. Lidah kami saling membelit dan menggelitik.

Sementara berciuman, kutahan kedua tangannya yang ingin memelukku.

Begitu ciuman kami terlepas karena sama-sama hendak mengambil nafas, segera kupindahkan ciumanku ke lehernya. Dengan lembut kukecupi lehernya, lalu turun dan turun lagi…

Kini bibir dan lidahku mulai menjalari payudara Sadako; lembut dan kenyal kurasakan. Setiap kecupan dan jilatanku disambut desah-gairahnya. Rintihannya mulai kerap kudengar. Jentik keringat mulai merembes dari tubuh kami berdua.

Kujilat dan kukecupi permukaan payudaranya. Setelah ujung lidahku menyusuri tepi lingkaran kecoklatan, seketika aku melahap putingnya yang mematung keras. Kekasihku terpekik.. ia menjerit sambil meremas rambutku. Ia menumpahkan gerah gairahnya yang lama tertahan.

Kukecup dan kuhisap. Kumainkan lidahku di pucuknya, sementara bibirku mengapit. Kulakukan bergantian di antara bongkahan keduanya. Sementara anggota tubuh yang lain masih kutahan untuk bersentuhan. Lama dan lama… aku berada di pucuk payudaranya. Rintihannya semakin kerap karena menuntut kenikmatan yang lebih dan lebih.

“Aaaarrrggg… i..iyah.. sayang… uuuh…. mmmhhhh… enaaaak…. uuuh…” Sadako meracau. Sementara aku hanya mendengus-dengus. Kedua payudaranya sudah basah karena keringat dan air liruku. Kulitnya memerah.

Setelah puas, menjilati payudara dan mengulum putingnya, aku merambat turun, menyusuri sisi bawah payudaranya, merangkak menuju perut dan pusarnya. Turun lagi ke selangkangannya yang tiba-tiba membelah karena ia merenggangkan kedua kakinya. Kucecap dan kuhisap bulu-bulu atas kemaluannya, kutarik-tarik dengan apitan bibirku.

Kutarik-tarik bulu kemaluannya dengan gemas.. membuatnya menjerit. Lalu kusibakkan bulu-bulunya dan kutarik kedua bibir nikmatnya… Kucolek-colek dengan ujung jariku… “Aaaaau…” Lalu kucolek klitorisnya yang menyempil. “Aaaaarrrrhhhh… sayang… Aku gak kuaaat… ampuuunnn…”

Kini lidahku menggantikan peran jemariku. Kulumati dan kulijat klitorisnya, membuat kekasihku semakin mendesah gelisah

Tanpa ragu kusisiri kedua sisi dinding vaginanya dengan lidahku, lalu mencecap lembah merahnya. Tanganku menahan kedua lututnya yang hendak berontak menahan nikmat. Setelah sekian lama aku mencecapi kemaluannya, aku meraih kedua payudaranya. Dengan cepat, tanganku hinggap di atas kedua payudaranya, dan lidahku mencucuk bulatan kecil klitorisnya secara bersamaan. Remasan dan jilatan kulakukan bersamaan.

“Sayaaaang…”

Kekasihku menjerit, ia sudah tak kuasa menahan puncak kenikmatan. Cairan kental menderas dari dalam kemaluannya. Tubuhnya kejang dan bergetar-getar; bola matanya putih mendelik. Nafasnya tersengal. Kulihat wajahnya licin karena keringat.

Segera aku memelorotkan celanaku, sekaligus dengan celana dalamnya. Penisku langsung tegang mengacung. Kubenamkan tubuhku di atasnya, kemaluan kami lekat menempel, lalu kukecupi wajahnya sambil tanganku mengelus payudaranya dengan lembut. Sejenak ia terkulai tanpa daya. Namun ketika hendak kubelai rambutnya, ia membuka mata. Matanya yang sayu dan teduh berubah menjadi tajam dan marah.

Seketika kekuatannya pulih, terasa melalui cengkeramannya di bahuku. Tenaganya menjadi dua kali lipat kekuatanku. Ia membalikan tubuhku dengan paksa; upayaku tak lagi mampu melawannya.

Kekasihku sudah siap membalas. Dengan buas dan gemas ia melumat bibirku. Lidahnya menerobos paksa dan menari di mulutku. Aku mengimbanginya sehingga kami saling membelit, air liur pun tak lagi terbendung menetes perlahan.

Dihempaskannya kedua tanganku yang hendak meraih tubuhnya; aku mengalah untuk mengikuti permainan balasannya. Lantas ia menjilati mukaku; terlampau liar dan buas. Aku menyeringai puas. Kedua kupingku dihisap bergantian, dan dadaku diremas. Bahuku digigit gemas.

Seluruh dada dan perutku menjadi area berselancar lidah dan bibirnya; aku mendengus dan menggeram. Lama dan lama. Penisku sakit dan ngilu karena tegang maksikmal, namun ia tak kunjung meraihnya.

Ia menjilati pahaku sementara ujung jarinya menarik-narik bulu kemaluanku; membuat mendengus dan mengerang. Aku meracau penuh birahi; membuatnya semakin liar. Bulu-bulu betisku meremang ketika ia jilati, dan sakit di penisku yang meminta sentuhan kian kurasakan.

Hmmmf. Aku sejenak menahan nafas ketika akhirnya telapak tangannya menggegam penisku yang mendongak-dongak. Cup. Ia mengecup ujungnya. Dan memainkan lidahnya di sana. Darahku mendidih dan jantungku berdetak kencang, nafasku tersengal. Kakiku tersentak ketika lidahnya menjalari batang penisku, dan menyusuri urat-uratnya yang mengejang.

Dan aku menggeram kencang, ketika ia mencaplok biji penisku. Dimasukkan ke dalam mulutnya dan diemut bergantian. Sementara tangannya mulai mengocok batangnya. Sekuat tenaga aku mencengkeram rambutnya mempertahankan kenikmatan dan harga diri seorang lelaki; tak boleh kalah apalagi mengalah dalam permainan lidahnya.

Kualihkan pikiran dan pandanganku. Sementara kekasihku mulai mengoral penisku.

“Yank, uuuh.” Rintihku sambil menghentikan aksinya.

Kutarik bahunya sehingga ia menindih tubuhku; kami kembali berciuman. Tangannya mengarahkan penisku ke vaginanya, mencucuk bibir basah dan lembabnya… geli ketika menyusuri tepi-tepinya. Sampai pada akhirnya menemukan pintu jalannya. Clep.. clep… penisku perlahan memasuki lubang kenyal itu.

Sadako melepas ciumannya, tubuhnya ditegakkan dengan bertumpu pada dadaku. Kuraih kedua payudaranya dan kuremas pelan. Tampak ia menarik nafas panjang beberapa kali. Ia tersengal.

Jleb. Sleeep. Ia menekan pinggulnya. Penisku sukses menerobos celah diding kemaluannya yang terasa berkedut-kedut dan menghisap.

Blessss. Akhirnya penisku terbenam seutuhnya. Ada nikmat dan sedikit nyeri kurasakan. Kami berteriak bersamaan.

Setelah mendiamkannya sejenak sambil mengatur nafas, Sadako mulai menurun-naikkan pinggulnya; dan kemaluanku muncul tenggelam diiringan sahutan erangan kami berdua.

Kusangga gerak liarnya dengan memegang pinggangnya. Kami merintih, kami mendesah. Kami berteriak menjemput nikmat. Tubuh kami berpeluh.

Kemaluan sempitnya senantiasa mengcengkram dan meremas ketika penisku amblas. Dan ada hisapan yang menarik ke dalam ketika ia terpisah. Akhirnya kami segera meraih puncak. Tubuh kami semakin liar. Kami berpacu bersama deras keringat. Dan… aku melepaskan desakan penisku. Menyemprot dan menyebur lubang sempitnya. Cairan kami beradu di pintu rahimnya.

“Sayaaaang.”

Kami berteriak bersamaan, menyambut puncak nikmat yang kami raih bersama. Tubuhnya ambruk di atas tubuhku dengan kelamin yang masih terbenam.

Dan.. kami pun tertidur sambil berpelukan.

Aku terbangun saat jarum jam sudah menunjukkan pukul 12 siang. Kuusap lembut rambut kekasihku dan mengecup kepalanya.

Ia menggeliat sambil melenguh halus. Kekasihku mengangkat wajahnya dan menatapku sayu. Kukecup lembut bibirnya sambil mengusap punggungnya.

Kami kembali bermesraan, menikmati saat-saat indah kebersamaan pasca meraih kenikmatan bersama.

Sambil saling mencium dan membelai, kami saling berbagi cerita tentang berbagai rencana yang akan kulakukan beberapa hari ke depan ini.

Kalau bukan karena lapar, aku enggan melepaskan momen indah ini. Namun tuntutan perut yang terasa lapar membuat kami beranjak. Setelah mengenakan pakaian, kami pun menuju dapur untuk makan siang.

Kami makan dengan mesra dan saling menyuapi, sekali-kali kami saling berbagi ciuman, dan tanganku tak bosannya meremas payudara kekasihku dari luar bajunya.

Seusai makan, kami masih bergulat sekali lagi sampai jam tiga sore. Kenikmatan demi kenikmatan kami reguk bersama. Kemesraan kami terhenti ketika hapeku berdering. Cinthunks menelponku.

Dengan enggan, kuangkat telponnya.

“Hallo.”

Terdengar suara Cinthunks begitu serius di ujung sana. Tidak seperti biasanya, Cinthunks langsung berbicara tanpa basa-basi, menyampaikan berita tentang Gadis yang dianiaya oleh Ernest, juga tentang putusnya dengan Black.

Aku hanya bisa mendengarkan tanpa menyela sedikit pun. Segala keindahan yang baru kulewati bersama Sadako terasa sirna seketika. Emosiku seketika mendidih. Sikap lembutku pada kekasihku, berubah menjadi amarah begitu mendengar perlakuan Ernest pada sahabat kami.

“Kita kumpul di rumah Gadis sekarang. Kamu balik lagi ke sana, jangan lupa kabari Rad dan Era. Segera!!!” Aku mengakhiri pembicaraan dengan emosi.

“Kenapa, sayang?” Kekasihku menatap heran.

Dengan singkat kuceritakan nasib sedih yang menimpa Gadis. Aku pun pamit kepada kekasihku menuju ke rumah Gadis. Kutolak tawarannya untuk mengantarku, mengingat kemacetan jalanan kota Jakarta. Aku memutuskan naik ojek dengan bermodalkan uang pemberian kekasihku.

“Aku pergi dulu lah.” Pamitku saat tukan ojek yang kami panggil sudah datang. Kuelus pipi kekasihku, lalu mengecup bibirnya tipis.

“Hati-hati, dan jaga keselamatanmu. Demi aku!!” Lirihnya.

“Iya sayang. Percaya sama aku dan sahabat-sahabatku.” Balasku.

Setelahnya, aku langsung berlari menaiki motor. Tak sedikit kubentak tukang ojek supaya memacu motornya dengan cepat, kumaki pula para pengendara yang kuanggap menjadi penghalang.

Sejam kemudian aku tiba di rumah Gadis. Rad dan Cinthunks sudah sampai duluan sambil duduk dengan gelisah di dalam gazzebo.

“Black dan Era mana?” Tanyaku sambil tersengal karena berlari dan menahan emosi.

“Era di dalam ama Gadis. Gadis belum mau ketemu kita, ia hanya mau bicara ama Era.” Jawab Rad.

“Black?” Tanyaku lagi.

“Hapenya gak aktif.

Aku hanya duduk sambil mendengus kesal.

Tanpa diminta, Cinthunks langsung menceritakan kronologis kejadiannya, saat Gadis yang datang ke rumah Ernest untuk mengantarkan catering pesanannya dan mendapat penganiayaan di sana; dan kini Gadis sedang terguncang karena kejadian itu, ditambah lagi mereka baru saja putus dengan Black.

“Anjing si Ernest!! Lalu Black di mana sekarang?” Gerutuku.

“Nah itu masalahnya, kata Era, Black sempat mampir ke rumah Era dalam keadaan terluka. Tapi ia cepat pulang karena ditelpon mamanya. Katanya ada polisi yang datang ke rumahnya.” Jelas Cinthunks lagi.

“Anjing!!” Aku hanya bisa memaki yang tak jelas kutujukan pada siapa. Yang pasti aku sangat mengkhawatirkan keadaan Black dan Gadis; pun pula Rad dan Cinthunks.

“Tenang dulu, Ja.” Rad menenangkanku.

Kududuk sambil menyulut rokokku dengan gelisah.

“Kita hajar aja si Ernest.” Desisku dengan emosi.

“Setuju.” Cinthunks menyahut.

“Gue juga pengennya begitu. Anjing banget tuh orang. Tapi kita jangan gegabah, yang terpenting sekarang adalah Black. Jangan sampai ada apa-apa dengannya.” Celetuk Rad.

Tik tok tik tok.

Kami saling terdiam dengan sibuk dengan isi pikiran masing-masing.

“******! Kenapa gak telpon mamanya Black aja.” Ujarku.

“Lah.. sejak kapan loe gak ******.” Cinthunks menyeringai.

“Lalu kenapa gak loe lakukan? Apa bedanya loe ama gue?” Aku dibuat sewot karena ucapannya.

“Karena kami sudah berusaha menelponnya tapi gak diangkat.” Kali ini Rad yang menjawab.

Hadeuuuh…

Kenapa jadi ruwet gini sih. Kekalutan kami bertiga hanya bisa diungkapkan melalui isapan berbatang rokok. Tentu saja aku tidak mau rugi dengan mengeluarkan rokokku. Meski dalam keadaan panik, kesadaranku masih tetap terjaga kalau menyangkut rokok dan isi perut.

“Gaes…” Tiba-tiba Era muncul dari dalam rumah. Wajahnya nampak panik.

Serempak kami berdiri menyambutnya.

“Barusan.. barusan… mamanya Black nelpon ke hape Gadis. Katanya Black ditahan di kantor polisi.” Era berbicara dengan panik.

“Cuuuus… Kita berangkat sekarang!” Cinthunks langsung bereaksi.

“Kamu jaga Gadis di sini. Kami pinjam mobilmu.” Seru Rad pada Era.

Tanpa menunggu jawaban, Rad langsung mengambil kunci mobil yang tergeletak di lantai Gazzebo, lalu kami berlari ke depan rumah, menuju parkiran.

Dengan sigap, Rad meluncurkan kendaraan dengan cepat; mencoba zig zag di antara macetnya jalanan. Setelah sekitar lima belas menit menempuh perjalanan. Rad menepuk jidatnya sendiri.

“Black ditahan di kantor polisi mana?” Tanyanya.

“Anjrrriiit!!!” Aku dan Cinthunks memaki dan mengutuki diri.

Bersambung

END – 6 Teman Teman Part 13 | 6 Teman Teman Part 13 – END

(6 Teman Teman Part 12)Sebelumnya|Bersambung(6 Teman Teman Part 14)