6 Teman Teman Part 12

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21

6 Teman Teman Part 12

Start 6 Teman Teman Part 12 | 6 Teman Teman Part 12 Start

Heartache​

Aku masih saja memeganggi pipiku yang sedikit bengkak, setelah terkena pukulan salah seorang preman baru yang sering mangkal di pasar dekat kostku.

Aku memutuskan untuk pindah kostan ke tempat baru, karena aku merasa di sini sedikit lebih bebas.

Karena jujur saja, sejak aku sering ngamen dari cafe ke cafe waktu pulangku menjadi sangat malam dan malah subuh aku baru balik ke kost. Dan di tempat lama, aku sering kena tegur karena jam pulangku yang terlalu malam.

“What a fucking day.” umpatku dalam hati.

Hari ini benar-benar hari yang mengesalkan. Hari di mana emosiku terbakar sangat hebat.

Dimulai dengan melihat kekepoan Era terhadap anak otomotif yang aku tahu bernama Awan Samudra. Aku tahu Era tertarik dengan Awan karena aku sempat bertanya pada Doni, saat dia melintas di depanku setelah melihatnya ditanya Era tentang Awan.

Jujur, aku memang memiliki rasa yang lebih terhadap Era. Tapi aku sadar diri, siapa aku dibanding dirinya? Aku hanya seorang mahasiswa yang hidup dan kuliah hanya dengan hasil mengamen dari cafe ke cafe.

Lagi pula, dari segi penampilan. Aku kalah jauh dari teman-teman yang lain. Penampilanku terlalu liar, lenganku dipenuhi oleh tato dan rambutku sekarang kubiarkan gondrong serta dua tindik di mulutku.

Rasa yang kumiliki terhadap Era, kadang membuatku menjadi orang yang lemah di hadapannya. Bahkan, aku terlalu menurut terhadap segala perintahnya. Ya, aku tidak ingin dia kecewa. Aku lakukan segala apa yang kiranya bisa membuatnya tersenyum bahagia.

Bahkan, aku pernah tanpa sepengetahuan Era, menghajar anak HI yang aku lihat hendak berbuat mesum kepadanya. Tapi kadang hati ini merasa sesak, jika melihat sikap Era yang kadang memberi perhatian lebih kepadaku. Tapi terkadang juga seperti acuh tak acuh.

Salahku juga tidak mengungkapkan perasaanku kepada Era dari dulu. Mungkin ketakutanku, jika Era ternyata tidak memiliki perasaan yang sama seperti yang kurasakan. Pasti akan berakibat dia akan menjauh dariku, dan merusak hubungan persahabatan kami.

Kadang, aku merasa iri dengan hubungan Black dan Gadis yang sangat mesra, saat kita berkumpul bersama. Apalagi sekarang, aku kadang merasa tersisih, disaat melihat para sahabatku sudah memiliki gandengan.

Hanya aku dan Era yang masih single, sedangkan Kak Rad sudah pedekate dengan Rida.

Pulang kuliah, aku yang biasanya langsung pulang ke kost-an. Entah kenapa? Hari itu, aku ingin mengambil gitar akustikku yang dipinjam Heru teman ngebandku di cafe. Gitar yang sudah aku miliki lama sejak SMP dulu, gitar pemberian Devi cinta monyetku dulu waktu SMP.

Kupacu motorku dengan kecepatan tinggi, untuk mengurangi rasa sesak di dada saat melihat agresifnya Era mencari info tentang Awan tadi. Motor yang baru aku beli 3 bulan lalu, seakan mengerti kesalnya hatiku saat ini dengan mengeluarkan performa terbaiknya di tikungan.

Ya, motor yang kuberi nama belalang tempur inilah kebanggaanku sekarang.

Aku sampai di rumah Heru jam 2 siang, langsung saja aku masuk ke dalam.

Karena aku tahu rumah Heru selalu sepi, langsung saja kuambil gitarku dan kumasukan ke dalam tasnya sembari meninggalkan sepucuk surat untuk Heru bahwa gitarnya sudah kuambil.

Sambil membawa gitar, aku kemudian berjalan pelan sambil menikmati kemacetan ibukota siang itu. Pandangan mataku terkunci pada salah satu toko aksesoris yang menjual pernak-pernik klub bola.

Aku melihat boneka maskot Liverpool F.C, klub favoritku nangkring di etalase toko tersebut. Aku langsung saja berbelok dan berhenti tepat di depan toko tersebut.

Aku teringat Era suka sekali dengan warna merah dan boneka maskot itu pun berwarna merah.

Langsung saja aku masuk ke dalam toko tersebut, untuk membeli boneka tersebut.

“Era pasti suka sama boneka ini.” ucapku dalam hati. Senyum tak pernah lepas dari wajahku.

Setelah membeli boneka tersebut, aku langsung saja bergegas meluncur ke rumah Era.

Entah mengapa? Aku merasa kangen melihat senyumnya, mungkin dengan boneka ini, dia akan tersenyum gembira.

Aku mengendarai motorku dengan kecepatan sedang, saat aku masuk ke komplek perumahan Era. Aku melihat mobil Black berjalan 100 meter di depanku.

“Ada urusan apa ya Black sampai di sini? Bukannya, dia ada janji sama gadis tadi?” kataku dalam hati.

Aku terus mengikuti mobil Black yang ternyata masuk ke halaman rumah Era. Aku masih melihat dari jalan saat Black turun dari mobil dengan tangan yang berdarah. “Kenapa lagi, tuh si Black?” ucapku dalam hati.

Saat Black masuk ke dalam rumah, baru aku memarkirkan motorku di pinggir jalan dan berjalan menuju ke rumah Era.

Sampai di depan rumah, aku melihat melalui jendela kaca depan rumah, Era dan Black seperti sedang berbicara sesuatu yang penting.

Entah kenapa? Hati kecilku seakan melarangku untuk masuk ke dalam rumah Era.

Aku melihat Era dengan hati-hati mengobati luka yang ada di tangan Black. Mereka terlihat sangat akrab, bercanda gurau dan tertawa bersama.

Kemudian dengan gemas Era mencubit perut Black. Hatiku seperti teriris-iris melihatnya, jantungku bergemuruh merasakan sesak di dadaku.

Kupertajam pendengaranku, bukan bermaksud menguping. Kudengar Black mengatakan, ia telah putus dengan Gadis. Tiba-tiba saja, aku dikejutkan dengan kedatangan pembantu Era di belakangku.

“Nyari siapa mas? Kok, diluar kayak orang binggung.” kata ART Era bertanya padaku.

“Eh, itu anu Mbak. Anu mau ketemu Era.” jawabku dengan kaget.

“Yaudah saya bilang dulu ke Non Era ya, Mas.” kata ART Era sambil berlalu ke dalam rumah.

Aku yang merasa malu karena menguping pembicaraan mereka, pergi begitu saja dari rumah Era. Aku lempar boneka ke dalam tong sampah di depan rumahnya, boneka yang hendak kuberikan pada Era. Aku segera berlari menuju motorku.

Kupacu motorku dengan kecepatan tinggi, kuterobos lampu merah yang menghadangku di depan.

Persetan dengan semua, hatiku merasa sakit bagaikan teriris sembilu. Melihat Era yang ternyata tidak mempunyai perasaan lebih sedikitpun kepadaku. Aku merasa semua yang kulakukan selama ini seakan sia-sia. Ibaratkan pribahasa, ‘bagaikan punguk merindukan bulan’.

Tanpa sadar, aku sudah memasuki area kostanku. Di depan, aku melihat segerombolan pemuda yang menyeberang tiba-tiba yang mengakibatkan aku harus mengerem mendadak agar tidak menabrak mereka.

“Asuuu, picek, oiiiii kalau nyebrang pakai mata cuuk!!” sumpah serapahku keluar untuk mereka, dan mereka pun seperti tidak terima dengan makianku tadi dan bergerak mengepungku.

“Sok jagoan, lu nyet. Naik motor ugal-ugalan banget lu!” kata salah satu di antara mereka.

“Kalau iya, kenapa? Ga terima lu cuuk, sini maju! Mumpung lagi gatel nih tangan.” kataku menantangnya.

Sudah hati sedang panas, malah ada insiden seperti ini. Aku yang emosian segera saja terbakar amarahku. Amarah yang disebabkan oleh Era kutimpakan pada mereka.

Tanpa basa-basi, langsung saja aku berlari dan menendang orang yang tadi mengumpat kepadaku. Tepat di mukanya yang mengakibatkan dia terjengkang ke belakang.

Pukulan ke arah mukaku datang dari orang di samping kananku, dan berhasil kuelakan dan kubalas dengan sikutan pada ulu hatinya. Membuat dia langsung ambruk tak sadarkan diri.

Tendangan kuterima dari orang di belakangku, mengenai gitar yang saat itu kugendong di belakang. Amarahku semakin terpicu oleh tendangan itu. Langsung saja kuambil gitar yang masih di dalam tasnya dan segera kusabetkan ke belakang.

Praaaaang…

Sabetanku tepat mengenai kepala orang di belakangku, yang langsung mengaduh dan memegangi kepalanya. Melihat itu, aku segera menuju ke orang yang pertama kali kutendang tadi.

Karena gelap mata, akhirnya kewaspadaanku berkurang. Dan itu, mesti aku bayar mahal. Ketika orang di samping kiriku, yang dari tadi kulihat diam saja, tiba-tiba memukul pipiku.

Sengatan rasa nyeri, menyadarkanku dari amarah yang membabi buta, sambil terhuyung akibat pusing setelah kena pukul tadi. Aku langsung menyapu kaki orang yg tadi memukulku, melihat dia terjatuh aku langsung saja menindihnya dan menghujaninya dengan pukulan.

Namun, tiba-tiba…

Ada yang menarikku dari belakang, ternyata Kang Kosim yang menarikku.

“Udah ‘Ntunks, bisa mati nanti tu anak orang.” ujar Kang Kosim.

Aku langsung diseret Kang Kosim menuju motorku, ia menyuruhku untuk segera meninggalkan tempat itu.

Aku bergegas mengendarai motorku dan sampai di kost. Tak lama kemudian, setelah memarkirkan motorku. Aku bergegas menuju ke kamar dan langsung tertidur.

Jam 6 pagi, aku terbangun dengan perasaan yang sangat amat tidak enak, karena bayang-bayang Era dan Black seakan menertawakanku.

Aku kemudian mencuci muka agar bayang-bayang itu menghilang sambil mendengarkan lagu dari one ok rock yang berjudul heartache,”fuck, kenapa lagu ini serasa menyindir diriku yang sekarang” ujarku dalam hati.

So hear the song

So they say that time

Takes away the pain

But I’m still the same, ah

And they say that I will find another you

That can’t be true, ah

Why didn’t I realize

Why did I tell lies

Yeah, I wish that I could do it again, oh

Turnin’ back the time, back when you were mine (all mine)

So this is heartache?

So this is heartache?

All this pain in the chest, my regrets

And things we never said, oh baby

So this is heartache?

So this is heartache?

What me meant, what we said that night

Why did I let you go?

I miss you

So they say that I didn’t know

What I had in my life until it’s gone

The truth is that I knew you were the live

We never knew it would end

Oh baby, watching you walk away

Why didn’t I make you stay?

Yeah, wish that I could do it again, oh

Turnin’ back the time

Back when you were mine (all mine) yeah

So this is heartache?

So this is heartache?

All this pain in the chest, my regrets

And things we never said, oh baby

So this is heartache?

So this is heartache?

What me meant, what we said that night

Why did I let you go?

I miss you

It’s so hard to forget

Getting worse as the pain goes by

Yeah, so hard to forget

What do I do in all of this life?

You and all the regret

I tried and hide the pain with nothing

I’ll never be alive with no more you and I

I can’t forget the look in your eyes

So this is heartache?

So this is heartache?

All this pain in the chest, my regrets

And things we never said, oh baby

So this is heartache?

So this is heartache?

What me meant, what we said that night

Why did I let you go?

I miss you, I miss you, I miss you, I miss you​

“Mereka sahabatku dan aku yakin mereka tidak seperti itu.” ucapku dalam hati.

Entah mengapa? Aku semakin penasaran. Ada rasa yang mengganjal di hatiku. “Apa benar ya, Black dan Gadis putus?”

Aku bergegas membersihkan diri dan mengambil pakaian dan langsung memakainya.

Dengan terburu-buru memakai sepatuku dan memasukan ponselku ke dalam saku. Kuambil kunci motor dari atas meja dan berjalan keluar.

Pukul 7 pagi, aku memacu motorku menuju rumah Gadis. Rasa ingin tahuku semakin menggebu-gebu.

Sekitar 15 menit, aku telah sampai di rumah Gadis. Kulihat ada Pak Supri yang sedang menyirami tanaman. “Pagi pak Supri, Gadisnya ada?” tanyaku bersikap sopan dan ramah.

“Eh, mas Cinthunk. Pagi, Mas. Eneng ada Mas, ia sedang duduk di gazebo.” jawabnya sambil membuka pintu gerbang kecil, sebelah kiri yang diperuntukan untuk pejalan kaki.

“Makasih ya, Pak. Saya ke belakang dulu!” balasku kepada Pak Supri.

Kulaju motorku pelan memasuki pintu gerbang menuju parkirkan motor di tempat biasa.

Aku mendengar isak tangis dari depan warung. Karena penasaran, aku masuk ke dalam warung dari pintu sebelah kanan.

Kulihat Tante Adelin sedang menangis. Aku bingung, dan tidak tahu harus bagaimana?

“Pagi tante, Assalamualaikum.” salamku mengagetkan Tante Adelin. Aku segera mencium punggung tangannya.

“Eh, Waalaikumsalam Nak Cinthunk. Masuk, Nak!” jawabnya sambil menghapus air matanya dan sedikit terlihat kikuk.

“Maaf, tante menggangu. Gadisnya ada, tante?” ucapku berbasa-basi karena tidak tahu harus bersikap bagaimana melihat raut wajah kesedihan Tante Adelin.

Aku yang masih bingung, dikagetkan oleh Tante Adelin menggengam tanganku. “Nak, tolong Tante. Hiks… Hiks… Tolong bujuk Gadis, untuk makan! Sejak kemarin, Gadis selalu melamun dan tidak mau bicara. Tante tidak tega melihatnya, selalu menangis. Hiks… Hiks…”

“Eh, itu anu. Gadisnya, di mana tante?”

“Gadis ada di gazebo, tolong hibur dia ya, Nak Cinthunk!”

“Iya, Tante. Akan saya coba bicara dengan Gadis. Saya ke gazebo dulu, permisi Tante!” ucapku sopan.

Setelah berbicara sebentar dengan Tante Adelin, rasa penasaranku semakin tinggi. Sebenarnya, apa yang terjadi kepada mereka? Tapi aku tidak berani banyak bertanya kepada ibunya Gadis.

Aku melangkah ke luar ke pintu bagian belakang rumah. Kulihat Gadis duduk sambil melipat kakinya seperti berjongkok di sudut gazebo sambil melamun. Tatapan matanya kosong, dengan gerakan lambat ia menaruh dan melipat tangan di atas lututnya.

Kepalanya menunduk terbenam di antara sela tangannya. Punggungnya bergetar dan terdengar isak tangis yang semakin lama semakin keras.

Kuhampiri Gadis, dan menyapanya lembut. “Dis, kamu kenapa?” Aku memegang bahunya.

Akan tetapi, tangisannya semakin keras. Tak tega melihatnya bersedih, kurengkuh kepalanya ke dalam pelukanku. Aku hanya ingin menenangkannya. Ia menggeser tubuhnya dan terbangun melangkah ke luar dari gazebo tanpa mempedulikanku.

Bluuppp

Gadis terjatuh dan tak sadarkan diri.

“Dis.. Gadis..” panggilku panik melihat keadaannya yang tiba-tiba jatuh pingsan.

Namun Gadis tak menjawab panggilanku. Karena panik, kugendong ia masuk ke dalam rumah.

“Nak Cinthunk, Gadis kenapa?” tanya Tante Adelin kaget.

“Gadis pingsan, Tante.” sahutku cepat.

“Tolong bawa masuk ke kamar Gadis di atas, Nak!” ucap ibunya memintaku membawa Gadis ke kamarnya.

Kunaiki tangga menuju kamar Gadis, sementara Tante Adelin mengikutiku dari belakang. Aku masuk ke kamarnya yang bercat pink dan menaruh pelan tubuh Gadis di atas tempat tidur.

Kamarnya sangat harum dengan nuansa warna pink. Banyak rak kaca untuk boneka kesayangannya Teddy Bear di tiap sudut dinding.

Tak sengaja, kulihat bagian paha Gadis. Ada memar di situ, juga ada memar di sekitar pergelangan tangannya.

Lutut sebelah kanan tertutup perban, tetapi pada sisinya masih terlihat goresan memanjang seperti terkena benda tajam. Baru kuamati lagi, wajahnya biru tercetak bekas tamparan.

Tante Adelin masih sibuk mengoleskan minyak kayu putih ke hidung Gadis.

“Tante, sebenarnya apa yang terjadi dengan Gadis?” tanyaku tak tertahankan lagi kepada Tante Adelin. Ia terkaget dan kembali menangis.

Sambil menangis Tante Adelin menceritakan kronologis kejadian kemarin sore, saat Gadis dihajar oleh Ernest dan hubungan Gadis dan Black yang sudah putus.

Aku tak mengerti, bagaimana jalan pikiran Black. Gadis habis terkena musibah dan begitu mudahnya Black menyetujui keputusan Gadis yang masih labil.

Setelah Gadis tersadar, aku mulai berbicara padanya. Namun, Gadis berkata, ‘hanya lelah dan ingin sendiri’.

Aku berpamitan kepada Tante Adelin, ke luar rumah Gadis dengan memacu motorku, kembali ke tempat kost-ku.

“Rad dan Senja, harus tahu hal ini.” gumamku membatin. Lalu aku mengambil ponselku dari kantung celanaku dan menelpon mereka.

Kuceritakan semua hal yang terjadi semuanya, tidak ada yang dilebihkan dan tidak ada lagi yang kukurangi.

Rad sangat marah dan terdengar suara barang jatuh terlempar. Sedangkan Senja sangat panik dan langsung menuju ke rumah Gadis.

Saat pikiran dan hatiku sudah mulai tenang, aku tiba-tiba teringat dengan gitarku, aku takut jika gitarku rusak parah.

Segera saja, kubuka tas gitarku dan ternyata gitarku sudah rusak tak berbentuk.

Dengan kesal kutendang gitar tersebut. Semakin tercerai-berailah gitar itu.

Pandangan mataku, tiba-tiba tertuju pada semacam potongan plastik laminating yang tertempel di bagian dalam gitar.

Saat aku mencoba melepas plastik itu dan mencoba melihat apa yang ada di dalamnya.

Aku melihat sebuah tulisan di plastik tersebut, berisi beberapa kata serta semacam nomor telepon.

Secarik tulisan tersebut berbunyi. “Jika kita memang berjodoh, kita pasti bertemu kembali.” Di bawahnya berisi nomor telepon rumah dengan awalan kode Jakarta.

Saat aku membalik plastik tersebut, aku kaget setengah mati dan terpekik lirih.

“Devi.”

Bersambung

END – 6 Teman Teman Part 12 | 6 Teman Teman Part 12 – END

(6 Teman Teman Part 11)Sebelumnya|Bersambung(6 Teman Teman Part 13)