6 Teman Teman Part 11

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21

6 Teman Teman Part 11

Start 6 Teman Teman Part 11 | 6 Teman Teman Part 11 Start

PERISTIWA GUDANG KOSONG​

Aku tiba di rumahku dengan wajah bahagia sambil bersiul-siul menirukan sebuah lirik lagu penuh cinta.

“Assalamualaikum w.w,” seruku mengucap salam saat aku memasuki rumah.

“Waalaikum salam w.w,” jawab mamaku dari arah sofa ruang keluarga.

Kulihat mama sedang asik menonton drama korea yang sempat dipinjamkan oleh Gadis beberapa hari yang lalu.

Mama hanya sesaat mengalihkan pandangannya melihatku setelah itu, Beliau kembali mengarahkan pandangannya ke layar TV.

Aku hanya geleng-geleng kepala melihat mamaku yang seakan tak mau lepas pandangan matanya dari layar TV menyaksikan film drakor yang ia tonton sambil sesekali memakan camilan.

Lantas aku mendekati mama yang sedang serius menyaksikan drama korea. Kuambil sedikit camilan yang ada di atas meja untuk menemani mamaku menonton film tersebut.

“Wah asik banget nih, Ma. Nontonnya. Sampai anaknya datang aja dicuekin.”

“Sayangnya Mama ngambek nih ceritanya? Filmnya bagus banget By. Sayang deh, kalo kelewatan.” sahut mamaku tanpa mau berpaling dari layar TV.

“Hmmmm… Aku ke kamar dulu ya Ma. Cuup..” kataku sambil mengecup pipi Mama.

Mama nampak tersenyum, ketika mendapatkan ciuman dariku.

Setelah berada di kamar, aku membaringkan tubuhku sejenak sambil mengingat kejadian beberapa saat lalu di rumah Gadis.

Sebuah senyum kebahagiaan yang kurasakan saat aku mengingat kejadian itu, namun setelah kedatangan Senja yang mengganggu kami aku pun sedikit jengkel.

“Dasar si Mamang, aku sedang senang-senang. Eh, malah diganggu. Dasar si borokokok.” gerutuku kesal dalam hati.

“Mending aku telpon gadis dulu deh ngabarin kalau aku sudah sampai dirumah.” pikirku sejenak.

Aku meraba-raba saku celanaku tempat biasa aku menaruh HP-ku, dan baru aku sadari kalau HP-ku tidak ada.

“Duh ke mana HP-ku, apa jangan-jangan ketinggalan di rumah Gadis ya?” gumamku sambil berpikir.

Aku bergegas turun ke luar dari kamarku, untuk sesegera mungkin ke rumah Gadis mengambil HP-ku yang ketinggalan.

Saat aku melewati ruang keluarga, mama masih menonton drama korea. Ia sempat melihatku yang terlihat buru-buru ingin ke luar rumah.

“By, mau ke mana lagi? Baru saja pulang, udah mau pergi lagi.” ujar mama setelah melihatku mau pergi.

“HP Bryan ketinggalan di rumah Gadis, Ma. Makanya mau balik lagi ke sana!” sahutku menjawab pertanyaan mama. “Dadah Mamaku cantik. Bryan pergi dulu.”

“Hati-hati ya, By!” kata mama mengingatkan. “Jangan ngebut-ngebut, bawa mobilnya.”

“Siap, Ma. Assalamualaikum w.w!” jawabku.

“Waalaikum salam w.w,” sahut mama.

.

.

.

.

30 Menit kemudian…

Sesampainya di rumah gadis, aku segera memarkirkan mobil di halaman rumahnya tempat seperti biasa aku memarkirkan mobilku.

Saat aku hendak turun dari mobil Entah kenapa? Perasaanku mendadak berubah seperti tidak enak, aku merasa ada sesuatu yang dialami oleh Gadis. Langkah kakiku kupercepat supaya segera masuk ke dalam rumahnya.

Aku disambut oleh Mamanya Gadis di pintu setelah terlebih dahulu mengucapkan salam dan mencium buku tangan kanan Beliau.

“Gadis ada, Tante?” tanyaku bersikap sopan pada Beliau.

“Masuk dulu Bryan! Ada yang mau Tante ceritakan sama kamu.” ucap mamanya Gadis mempersilahkanku. Namun, dari ekspresi Beliau tersirat ada kesedihan di wajahnya.

Setelah kami duduk, kemudian Mamanya Gadis menceritakan tentang kejadian yang menimpa Gadis pada saat Beliau menyuruh mengantarkan pesanan pelanggannya sambil menangis.

Setelah aku mendengar dan mengetahui insiden Gadis ditampar oleh Ernest dari Mamanya, membuat emosiku seketika memuncak.

“Bajingan.” umpatku dalam hati.

“Oh ya nak Bryan, ini HP nak Byran,” ucap Mama Gadis menyerahkan HP-ku yang ketinggalan. “Tadi Gadis yang nitipin ke Tante.”

“Terima Kasih banyak Tante, kalau gitu saya pamit pulang dulu. Assalamualaikum…” ucapku berpamitan sambil menyalim tangan Mamanya Gadis.

“Waalaikum salam…” sahut mamanya Gadis.

Dan saat aku hendak melangkah keluar dari rumah Gadis…

“By…” panggil seseorang dari arah belakang.

Saat aku menoleh kebelakang kulihat Gadis berdiri melihatku dengan mata sembab karena menangis dan pipi yang memerah karena bekas tamparan.

“Aku pamit pulang dulu,” ucapku memberitahu. “Untuk masalah Ernest biar dia aku kasih pelajaran bagaimana cara menghargai dan menghormati seorang perempuan.”

“By, jangan!! Sudah biarin aja, aku enggak apa-apa kok.”

“Enggak aku nggak akan membiarkan seorang pun didunia ini menyakiti wanitaku.” kataku tegas.

“By, please jangan…..” mohonnya. “Aku nggak mau kenapa-kenapa.”

“Kamu tenang aja, percaya sama aku.”

“Kamu keras kepala banget sih By!! Kenapa kamu susah sekali di kasih tahu.” ucapnya terisak.

“Aku laki-laki. Aku punya tanggung jawab untuk melindungi wanitaku.” jawabku.

“Oke, kalau kamu memang nggak bisa dikasih tahu dan nggak mau dengerin aku. Silahkan pergi dan jangan pernah temuin aku lagi.” tangisnya.

“Apa maksudmu bilang seperti itu?” tanyaku.

“By, please dengerin aku.” Mohonnya kembali. “Jangan pergi.”

“Aku tidak akan diam saja melihat wanitaku disakiti.” ucapku sambil berlalu meninggalkannya menuju mobil dan membuka pintu mobil.

“BYYY….” teriak Gadis sambil mengejarku.

“Kalau kamu masih nggak mau dengerin aku dan masih keras kepala untuk pergi!! Jangan pernah temui aku lagi. Hubungan kita selesai sampai disini.” ucapnya.

“Oke kalau itu emang maumu!! Aku mungkin memang lelaki yang keras kepala, tapi aku melakukan semua itu bukan untuk diriku sendiri.”

“Semoga kamu mendapatkan lelaki yang lebih baik dariku.” ucapku sembari masuk kedalam mobil dan berlalu meninggalkannya.

Aku segera menelpon dan meminta tolong teman-teman bengkelku untuk mencari Ernest dan membawanya ke gudang kosong yang lokasinya dekat dengan daerah bengkel.

Dan saat ini aku telah berada di gudang kosong memperhatikan mereka dari kejauhan.

Kulihat Ernest meronta dengan sekuat tenaga saat salah satu dari tiga laki-laki yang menculiknya, mulai menahan lengannya. “LEPAS!!” jeritnya untuk yang kesekian kali.

“Hahahaha…” tawa dari ketiga orang itu menggema di penjuru ruangan.

“Percuma loe teriak juga gak akan ada yang denger!!” bentak laki-laki yang berjanggut tipis dan bertato di lengan kirinya. Laki-laki itu maju lalu menjambak rambutnya, menariknya ke belakang dengan kasar, membuatnya meringis kesakitan.

Aku yang sedari tadi memperhatikan dari kejauhan sesegera mematikan puntung rokok yang nikotinnya sudah habis kuhisap, lalu berjalan ke arah mereka.

“Lepasin Kang.” ucapku pada laki-laki yang berjanggut tipis dan bertato di lengan kirinya yang tidak lain adalah Kang Bimo.

“Black!!” ucap Ernest kaget melihatku.

Aku tersenyum memandangnya.

“Tenang aja gue enggak akan keroyok loe kok!! Gue bukan lelaki bernyali tempe dan bermental kerupuk seperti loe. Karena hanya lelaki pecundang yang berani berbuat kasar terhadap wanita.” ucapku.

“Lelaki seperti loe perlu diberi pelajaran bagaimana cara menghargai dan menghormati perempuan.” ujarku sembari berlari ke arahnya dan melompat melayangkan pukulan yang tepat mengenai wajahnya.

BUUK!!

Membuatnya terhempas dan terjatuh.

Kucengkeram dan kutarik kerah bajunya. “BANGUN LOE PECUNDANG.”

BEEGK!!

Ernest menendang tubuhku hingga aku tersungkur dan terjatuh dilantai.

Dan saat aku melihat dia akan menginjakku langsung kutangkap kakinya dan kutarik sehingga membuatnya terjatuh.

Aku segera bangkit menindih tubuhnya dan memukul berkali-kali wajahnya.

BAG!! BUGH!! BAGH!! BUGH!!

Ernest berusaha melindungi wajahnya dengan kedua tangannya.

Kucengkeram dan kutarik tubuhnya hingga dia bangkit dan berdiri.

DUAGH!!

Kubenturkan kepalaku ke wajahnya.

“Arrggh…” erangnya kesakitan sembari memegangi wajah dan hidungnya yang kini mengucur darah segar.

Aku melihat balok kayu yang berada tidak jauh dari tempatku berdiri. Segera kuambil balok kayu tersebut dan kupukulkan tepat mengenai kepalanya.

DAGG!!

BRUK!!

Membuatnya seketika terjatuh ke lantai dan tak bergerak.

Dan saat aku akan menginjak wajahnya…

“Black cukup Black!!” cegah kang Bimo memegangi badanku.

Kulihat banyak ceceran darah di lantai.

Entah hal apa yang merasukiku? Sehingga membuatku bertindak di luar batas akal sehatku.

“Kang ini perlu segera dibawa ke rumah sakit Kang.” Seru Boncel memberitahu.

“Black mending sekarang loe pulang dan tenangin diri loe,” ucap kang Bimo. “Untuk masalah di sini biar kita yang tangani.”

Tubuhku masih diam mematung melihat banyak darah yang keluar dari kepala Ernest.

“Black..” ujar Kang Bimo menyadarkanku dari lamunanku.

“I… Iya Kang.”

“Pulang gih Black tenangin diri loe, untuk masalah di sini biar kita yang tangani.”

“Terima kasih, banyak Kang.”

“Ayo kita segera bawak ke rumah sakit.” ujar Kang Bimo.

Kulihat Kang Bimo, Boncel dan Aceng segera menggotong tubuh Ernest lalu memasukkannya ke dalam mobil dan berlalu meninggalkan lokasi gudang kosong untuk berangkat menuju rumah sakit.

Aku pun segera meninggalkan lokasi gudang kosong tersebut.

Selama dalam perjalan aku tak fokus menyetir dikarenakan pirikanku masih kalut akan kejadian yang barusan terjadi.

Entah hal apa yang membuatku bertindak diluar batas memukul kepala Ernest mengunakan balok kayu.

“Ini ‘kan, rumah Era!! Kok bisa, aku sampai di rumah Era? Mungkin lebih baik aku mampir ke rumahnya untuk menenangkan diri.” gumamku.

Aku segera memarkirkan Black Rider, dan turun. Sambil melangkah menuju rumah Era aku sempat melihat arlojiku dan sempat kaget setelah melihat jam tanganku, ternyata aku tadi muter-muter nggak jelas hampir 2 jam lamanya.

Ting… Tong… Ting… Tong…!!

Ting… Tong… Ting… Tong…!!

“Iya, sebentar!” teriak seseorang dari dalam rumah.

“By, tumben loe ke sini?!” tanya Era.

“Gak disuruh masuk nih?” ucapku.

“Eh, iya masuk By,” ajaknya.

Dengan gontai, aku melangkah masuk ke rumah Era.

“Mau minum apa, By?” tanyanya.

“Apa aja deh.” jawabku.

“Loh tanganmu kenapa, By? Kok berdarah?”

“Panjang ceritanya, Ra.”

“Tunggu bentar ya, aku ambilin minum sama obat merah.”

“Huum, makasih ya, Ra.”

Selang tak berapa lama Era datang membawa segelas minuman, perban beserta obat merah untuk mengobati tanganku yang terluka.

“Aduuh… Sakit, Ra.”

“Sorry, By. Ditahan bentar, ya.”

“Huum.”

“Loe pasti abis berantem,” ujarnya. “Loe berantem sama siapa sih, By?”

“Sama, Ernest.”

“Haaahhh… Loe serius, By?”

“Kagak gue bercanda.”

“Loh, gimana sih?” tanyanya polos.

“Ya serius lah Ra, masak dua rius?”

“Hihhhh… Nih anak bercanda mulu.”

“Auuuuu… Sakit Ra, pelan-pelan napa.” protesku.

“Biarin, loe nyebelin sih.” rajuknya.

“Tapi tetep ganteng ‘kan, meskipun nyebelin.”

“Iya, sih,” jawabnya polos. “Ehh..” Era menutup mulutnya dengan kedua tangan dan mendadak wajahnya memerah.

“Hahaha… Akuin aja sih, kalau gue emang ganteng.” ledekku dengan tampang yang kubuat sok cool.

“Ganteng sih, tapi nyebelin.”

“Awas jangan benci sama aku loh.”

“Emang kenapa?”

“Entar loe jatuh cinta loh sama gue, karena benci dan cinta bedanya tipis.”

“Apaan sih loe, By.”

“Apaan loh?”

“Auk ah, gelap.”

“Sini aku terangin kalau gelap.”

“Hihhhhh….” rajuknya sambil mencubit perutku.

“Auuuuuu… Sakit, Ra.” erangku kesakitan sambil memegang perut.

“Biarin, siapa suruh jadi cowok nyebelin banget!!” ucapnya. “Awas ya loe godain gue entar gue bilangin ke Gadis.”

“Aku sama Gadis…” ucapku terpotong. “Baru saja putus Ra.”

“Haaaaa….!! Loe serius By?” tanyanya dengan wajah sock seakan tak percaya.

“Hmmm… Sudahlah jangan bahas tentang dia.”

“Eh, Sorry By….”

“Mbak, ada temennya di luar.” ujar ART Era memberitahu.

“Iya, Bik.” jawab Era.

“By, tunggu bentar ya gue ke depan dulu.”

“Huum.” jawabku seadanya.

Selang tak berapa lama Era kembali.

“Lah mana temen loe, Ra?” tanyaku.

“Gak ada orang di depen, By.” jawabnya.

“Loh tadi ada mbak, Bibik suruh tunggu di depan tadi.” sahut ART Era.

“Emang anaknya, kayak gimana sih Bik?” tanya Era.

“Emm.. Perutnya buncit, Mbak.” Jawab ART Era.

“Kok aneh masak baru dateng langsung pulang?” tanya Era kebingungan.

“Terus kalau kamu tanya aku, terus aku tanya siapa?” sahutku.

“Noh, tanya sama tembok.” rajuknya.

“Tembok, kamu tahu enggak. Kenapa kok temennya Era, baru dateng langsung pulang?” ucapku menghadap tembok.

“Bryaaaannnnn….”

“Arrrggghhhh….” erangku kesakitan. “Ya ampun sakit banget Ra!! Hobby banget sih nyubit.”

“Loe sih ngeledekin gue mulu dari tadi.”

“Lah tadi katanya, disuruh tanya sama tembok.”

“Auk ah..”

“Gelap.” sahutku memotong ucapan Era.

“Hihhhhhhhh….”

“Ampun…. Ampun… Raaaa…. Sakiiittt…”

“Siapa suruh nyebelin?”

“Iya, enggak pakai nyubit juga kan Ra,” ujarku. “Noh, liat merah semua tanganku.”

“Sukurin.”

“Ih, ngambek nih. Ceritanya.” Godaku.

“Pikir aja, sendiri.” jawabnya judes.

“Cantik banget sih, kalau lagi ngambek.”

“Gombal.”

“Belah lah dadaku, maka niscaya kau akan menemukan kejujuran di dalamnya.”

“Bentar ya, aku ambilin pisau.” ujarnya.

“Emang tega, belah dadaku beneran?” tanyaku.

“Give me one reason, apa yang buat aku gak tega?”

“Nothing.” jawabku. “Bentar ya, aku ke belakang dulu. Minta Bibik pisau biar kamu bisa belah dadaku.”

Aku segera bangkit dari tempat duduk dan hendak melangkah…

“By..” cegahnya memegang tanganku. “Bercanda kali By.”

Selama beberapa detik mata kami saling menatap, entah apa yang membuatku terus menatap ke arahnya dan lagi dia juga terus menatapku.

Drrrrttttt…! Drrrrrttttt….! Drrrrrttttt…!

Drrrrttttt…! Drrrrrttttt….! Drrrrrttttt…!

Terasa getaran handphone di saku celanaku.

“Ra, aku jawab telpon bentar ya.”

“Eh, iya By.” jawabnya dengan wajah memerah seperti salah tingkah.

“Hallo, Assalamualaikum. Ya, ma kenapa?” sahutku menjawab telpon.

“Waalaikum salam, pulang gih nak, ada polisi di rumah nyari kamu!” jawab mama dengan nada suara seperti kebingungan.

Degh!!

“Iya, Ma. Bryan pulang sekarang.”

“Assalamualikum…”

“Waalaikum salam…”

“Kenapa, By? Kok, wajahmu seperti orang ketakutan.” tanya Era.

“Barusan Mamaku telpon, nyuruh aku segera pulang. Karena di rumah ada polisi yang nyari aku.” jawabku.

“Hah, Polisi….!” ucap Era kaget.

Bersambung

END – 6 Teman Teman Part 11 | 6 Teman Teman Part 11 – END

(6 Teman Teman Part 10)Sebelumnya|Bersambung(6 Teman Teman Part 12)