6 Teman Teman Part 1

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21

6 Teman Teman Part 1

Start 6 Teman Teman Part 1 | 6 Teman Teman Part 1 Start

Persahabatan adalah bentuk pertemanan yang saling mengikat secara emosional antara satu dengan yang lainnya. Kata persahabatan sering kita dengar dan beragam orang menafsirkan kata itu sesuai dengan pemahaman masing-masing.

Tetapi bagi kami persahabatan itu adalah ikatan suci layaknya pertalian darah atau ikatan perkawinan yang tak bisa dipisahkan. Kami ada dan saling mencintai; kami belajar bersama meraih cita-cita dan mimpi masa depan; kami kompak bersatu menjalani suka dan duka kehidupan. Tawa, senang dan bahagia; persoalan, duka, dan air mata; juga cinta, kesepian dan kecemburuan menjadi warna kebersamaan kami. Apapun itu, kami adalah satu dalam tulusnya cinta, perjuangan dan pengorbanan.

Persahabatan ini bermula dari perjumpaan tak terduga, yang terjadi 3 tahun lalu semasa SMA. Di sana kami berjumpa dengan segala kekonyolan, saling dekat karena kecocokan dan sikap saling pengertian, akhirnya kami saling terikat dalam satu persahabatan. Karena kompak dan enggan terpisah, kami sepakat melanjutkan kuliah di universitas yang sama.

Inilah kami, 6 Sahabat di Universitas Semprot, Jakarta Utara. Inilah hari-hari indah persahabatan kami yang susah dan senangnya akan selalu bermakna bagi hari esok nanti. Inilah kami, “THE CEGARS GENK”.

Hai… Semua! Salam kenal ya! Perkenalkan, namaku. Cipta Turangga Kahuripan. Biasa di panggil Cinthunks oleh teman-teman SMPku.

Aku anak sulung dari dua bersaudara, lahir dari keluarga yang sederhana dan romantis.

Ayahku adalah seorang kepala security sebuah perusahaan export-import dan ibuku adalah ibu rumah tangga tulen.

Tinggi badanku cuma 165cm dengan perawakan sedang dan perut sedikit buncit, efek cacingan kali, ya.

Aku meninggalkan kota kelahiranku, menuju ibukota. Itu karena janjiku pada nenekku. Bahwa, aku bisa mandiri tanpa bantuan finansial dari kedua orangtuaku.

Aku ingin orangtuaku, bisa fokus untuk membiayai sekolah adik perempuanku saja, karena memang kondisi keuangan keluarga kami sedang terpuruk, dan aku tidak mau adikku sampai tidak bisa kuliah.

Meskipun, aku termasuk berandalan di kota asalku. Tapi, aku sangat peduli terhadap keluargaku.

Selesai mandi, aku langsung memakai seragam sekolahku.

Oiya, aku mempunyai tatto di lenganku sehingga aku terpaksa memakai kaos double untuk menutupi tatto tersebut supaya tidak terlihat.

Hari ini, hari pertama MOSku di SMA Semprot.

Aku memeriksa perlengkapan MOSku pagi ini. Bukan sekali saja memeriksanya. Bahkan, berkali-kali. Supaya tidak ada yang ketinggalan.

Semua telah aku masukan ke dalam tas, yang terbuat dari kardus mi instant.

“Ada-ada saja, syarat MOS di sekolahku ini.” gumamku sambil menggelengkan kepala.

Lagu berjudul Murder Mitten dari I see stars menemani aktivitasku di pagi hari ini.

Ya, entah kenapa? Aku suka sekali, lagu beraliran screamo dan underground.

Selesai bersiap-siap, aku kemudian mengambil kunci motorku, setelah menelepon orangtuaku untuk berpamitan.

Lalu kukunci pintu kost-ku.

Dan langsung menuju motorku, yang terparkir di depan kamarku.

Kukendarai motor kesayanganku dengan kecepatan sedang.

Ya, motor Honda CB.

Motor itu, aku modifikasi dengan mengganti mesinnya, dengan mesin Honda Tiger 2000, yang aku beli dari hasil mengamen, dari cafe ke cafe.

.

.

.

Lokasi : Sekolah SMA Semprot

Setelah sampai di sekolah, kulihat suasana di sekolahan sudah ramai. Kebanyakan memang mereka adalah siswa/siswi baru sama sepertiku, dengan atribut MOS yang sama kubawa.

Kubawa motorku ke tempat parkiran, dan memarkirkannya di sana.

Dengan penuh percaya diri dan semangat aku melangkah sambil membawa semua perlengkapan MOS.

Begitu kuperhatikan, ada perbedaan dan kesalahanku dalam membuat atribut MOS. Topi yang terbuat dari kertas karton tersebut. Malah, aku buat seperti topi toga, untuk wisuda.

“Eh, kok topinya bentuknya kerucut. Kenapa gue bikinnya bundar, ya? Duh, alamat bisa kena hukuman, nih!” gerutuku kesal karena salah dalam membuat atribut MOS.

“Ah, bodoh amat. Mau dihukum, kek. Asalkan nggak main fisik gue ikutin aja.” pikirku.

Aku bergegas menuju ke lapangan, tempat berkumpulnya siswa/siswi baru. Sambil kupakai headset-ku dan mulai mendengarkan lagu-lagu dari Asking Alexandria yang bisa menjadi mood booster-ku.

Aku yang tidak memperhatikan jalan kala itu, karena asik dengan lamunanku dan suara musik yang keras di telingaku.

Tiba-tiba….

Buugghh!!

Aku menabrak orang.

Aku tersadar dari lamunan dan keasikanku mendengarkan musik beraliran keras.

Ternyata, dua orang yang kutabrak barusan. Seorang cewek yang kini tubuhnya berada di atas tubuh si cowok itu.

Keduanya terjatuh dalam posisi berpelukan dan wajah begitu dekat dan rapat.

Kuperhatikan mereka berdua sempat terdiam beberapa saat saling menatap satu sama lain.

“Weeew…! Beruntung bangets tuh, cowok ya! Ceweknya cantik dan imut.” batinku berkata.

Aku spontan tertawa, ketika melihat si cowok di tampar pipi kiri dan kanannya.

Lantas aku berlari kecil, tanpa mengucapkan kata maaf ke mereka berdua. Tampak ekspresi si cowok sedikit marah terhadapku, dan itu terlihat dari sorot matanya, menatap tajam ke arahku dengan bergumam kesal.

Aku segera menuju ke ujung lapangan, yang agak teduh dan sepi.

Kuambil bukuku dan mulai kucorat-coret.

Aku sangat menyukai menggambar, hobby yang sedikit mendatangkan uang, untukku.

Keasikanku menggambar terganggu dengan suara berisik di sebelah kiriku, aku melihat seorang cewek dengan body kutilang (kurus, tinggi dan langsing) sedang menarik tas yang terbuat dari kardusnya. Kelihatan sekali, kalau gadis itu tidak pernah bekerja keras. Tampak ia, terkesan anak yang manja. Dengan meminta seorang kakak kelas, untuk membawakan tasnya.

Kulihat name tag yang terbuat dari karton putih yang tergantung di dadanya.

“Era kusumawardhani sebuah nama yang bagus, indah dan cantik. Nama itu sangat sesuai untuknya, karena memang dia cantik orangnya.” pikirku.

Dia yang sebelumnya, berjalan mengarah ke tempat yang ramai.

Tiba tiba….

Dia berbalik badan dan menuju ke arahku, sambil memandangku dengan mata yang memperlihatkan kesan jijik terhadapku.

“Will see, akan kubuat kau tidak bisa melupakanku, cewek sombong.” ujarku dalam hati.

2.2 TENTANG 6 SAHABAT: PERSONIL 2

Masa-masa SMP yang membahagiakan telah berlalu, dan kini saatnya memulai babak baru dalam hidupku. Seragam putih abu-abu yang selalu gue dambakan, selalu gue impikan bakal jadi pakaian kebesaran gue sekarang, sampai tiga tahun ke depan. Nama gue Era, Era Kusumawardhani, dan hari ini gue resmi menjadi murid di sekolah ini.

Secara umum, gue gak terlalu senang menjadi murid di sekolah ini karna di sini gue hanya orang asing, gak ada satupun teman SMP gue yang masuk ke sekolah ini. Entah apa alasannya. Dan sekarang gue harus survive, harus beradaptasi lagi dengan orang-orang baru dan mulai mencari teman baru.

Gue tiba di sekolah sedikit lebih awal, biar gue bisa berbaur dan berkenalan dengan anak-anak baru lainnya. Dari kejauhan gue lihat seorang cowok lagi duduk santai sambil menulis sesuatu di buku yang ia bawa. “Apes dah gue, makhluk pertama yang gue liat malah cowok kek gini.” gerutuku, sambil merapikan tas kardus yang menjadi atribut wajib selama masa MOS.

Dari fisiknya gue bisa tebak, tu cowok pasti lebih pendek dari gue, apalagi setelah gue lihat dari dekat, keyakinan gue semakin terbukti. “Buseeettt… masih SMA ntu perut uda buncit gitu.” gerutuku lagi. Yang gue bayangin dari rumah adalah cowok cakep setinggi gue, atau lebih tinggi dari gue, putih, hidung mancung, badan atletis, tapi semua bayangan itu lenyap waktu gue memasuki halaman sekolah ini.

“Bakal apes gue, yakin.” Gumamku ketika berlalu di hadapan cowok itu.

Langkah kaki gue makin pelan akibat banyaknya tatapan mata yang mengarah ke gue. Sebagai murid baru, uda pasti gue harus memberi kesan baik dan sebisa mungkin bersikap sopan, agar gue bisa dapat temen di sini. Ya, teman.. itulah yang gue butuhkan saat ini, demi menghilangkan rasa grogi gue di lingkungan baru ini.

Sejauh ini, hanya si cowok buncit tadi yang terlihat masih asik menikmati kesendiriannya, sementara murid baru lainnya telah bergerombol dan sepertinya sudah saling berkenalan. “Gilaaaaaa, masa gue kudu nyapa si buncit itu?” Keluhku.

Rasa grogi akibat tatapan mata itulah akhirnya memaksa gue untuk berjalan kembali ke arah si cowok buncit itu. Gue duduk agak jauh dari dia, demi keamanan diri gue. Kali aja ni anak sejenis copet atau garong yang setiap waktu bisa ngerampok gue di sini.

Beberapa saat setelah duduk, si cowok buncit itu sempat melihat gue, dan kami pun beradu pandang untuk sesaat. “Njiirrrrrr… tatapannya datar gitu.” omel gue dalam hati.

2.3 TENTANG 6 SAHABAT: PERSONIL 3

Perkenalkan nama gue Gadis Sorah Yukata, disingkat Gadissoyu. Jangan takut dulu gezz, apalah arti sebuah nama. Yukata tuh nama pemberian Pambron (Paman berondong). Pambron adalah pamanku yang umurnya masih muda, karena itu gue manggil dia Pambron.

Pambron kasih nama gue Yukata sewaktu dia pulang dari Jepang. Katanya sih, sewaktu bayi gue tuh kurus dan berkilau bangetz seperti pedang. Emas permata kale Pam berkilau.

Pam adalah panggilan gue untuk paman berondong kesayangan gue.

Gue anak tunggal dari pasangan paling romantis sejagat raya, Mr. Wirawan dan Mrs. Adelin. Bokap penguasaha rumah makan dan Nyokap Ibu Rumah Tangga yang selalu sayang sama anak dan keluarganya.

Karakter gue lucu, gaul, baperan, pecicilan dan gemesin. Asli anak gaul Jakarta dengan tinggi badan 165 CM dan berat badan 49 KG. Kulit kuning langsat, rambut hitam sebahu, muka imut-imut. Temen gue bilang sih “Kamu cantik.” Tapi bilangnya ke temen gue yang satu lagi. Gue juga care ke temen, cengeng, dan gak suka keributan.

Hari ini adalah hari pertama gue menggunakan seragam putih abu-abu yang selama ini gue impi-impikan.

2.4 TENTANG 6 SAHABAT: PERSONIL 4

Namaku Bryan Anggara Kusuma biasa dipanggil Black, jenis kelamin laki-laki bernapas menggunakan paru-paru seperti ikan paus. Kenapa namaku dipanggil Black karena waktu aku berumur 5 tahun aku pernah ingin menjadi seperti casper hantu yang baik hati.

Aku bercita-cita menjadi Setan Hitam yang menolong orang dibalik kegelapan. Tapi itu gak mungkin kata nenekku karena aku manusia bukan hantu. Nenek tersenyum dan memberiku nasehat bahwa aku harus selalu berbuat baik kepada siapapun.

Aku lahir di Surabaya dari seorang Ibu yang oleh anaknya dipanggil Mama, Aku adalah anak yang sangat penurut kepada orang tua terutama kepada Mama. Seperti contoh Mama pernah bilang kalau luka jatuh harus diobatin pakai alkohol jadi gak salah dong kalau luka karena jatuh cinta aku obatin pakai alkohol.

Asal tahu saja Mamaku asli arek suroboyo, semenjak menikah dengan Papa beliau selalu ikut pindah kemanapun tempat Papaku dipindah tugaskan yaitu ke berbagai daerah di Indonesia. Hidup ini, kata Einstain, bagai naik sepeda untuk tetap berada dalam keseimbangan kau harus tetap bergerak. Tapi bukan karena teory Einstein Papaku pindah melainkan karena tugas dari komandan, sampai akhirnya aku sekarang harus bersekolah di jakarta.

Aku keterima di SMA Semprot dan hari ini adalah hari pertamaku masuk sekolah untuk mengikuti MOS.

2.5 TENTANG 6 SAHABAT: PERSONIL 5

Perkenalkan namaku Rizki Ahmad Darmadji, sejak kecil aku dipanggil RAD oleh keluargaku dan teman-teman sebayaku. Nama panggilan yang diambil dari singkatan nama panjangku. Merupakan anak pertama dari 3 bersaudara, papa bernama Ahmad Darmadji dan mama bernama Sulastri. Tinggi badanku 170 cm dengan berat 55 kg, kata orang sih kurus, dengan wajah lumayanlah, tidaklah putih namun, tidak juga hitam, berkulit sawo matang.

Adikku yang pertama, perempuan bernama Wulandari Darmadji berselisih 2 tahun usianya dengan usiaku. Dan adik bungsuku, lelaki bernama Genta Buana Darmadji berselisih usianya denganku 6 tahun.

Papaku bekerja di sebuah instansi BUMN dan mamaku hanyalah seorang ibu rumah tangga.

Aku lahir dan besar di pulau Sumatera. Bersekolah di sana dari TK, SD hingga SMP. Prestasi sekolahku cukup membanggakan dari SD hingga SMP aku selalu menempati ranking pertama dan terakhir saat kelulusan SMP aku tergabung dalam 10 besar dengan nilai NEM tertinggi di sekolahku. Papa, mama, bahkan kedua adikku ikut bangga dengan keberhasilanku di bidang akademik.

Namun sejak lulus SMP, keluarga kami mesti pindah ke pulau Jawa. Papaku ditugaskan di ibukota negera ini, ya DKI Jakarta. Dengan berat hati dan terpaksa aku, kedua adikku dan mama mesti mengikuti papa, memulai kehidupan baru di sana di kota yang terkenal dengan lenong betawinya.

Jakarta, 10 July 2007

Papa, mama, aku dan kedua adikku telah duduk rapi di meja makan untuk sarapan pagi. Ya pagi ini adalah hari pertamaku bersekolah. Eh, tapi belum belajar karena ini adalah awal tahun ajaran bagi siswa/siswi baru SMA Semprot dan SMA-SMA lainnya di Jakarta maupun mungkin di seluruh Indonesia sekarang sedang melakukan MOS atau Masa Orientasi Siswa.

“Kalian ikut bareng papa ya, Rad, Wulan dan Genta.” ucap papa saat kami sarapan pagi ini. “Papa ingin mengantar kalian bertiga, pertama kali bersekolah di Jakarta.”

“Iya Pa.” sahur kami bertiga hampir bersamaan.

Atribut MOS sudah kupersiapkan dari kemaren, topi terbuat dari kertas karton dibentuk kerucut seperti topi nenek sihir atau para dukun dalam cerita sihir. Nama RAD yang ditulis besar diatas kertas karton dibentuk persegi empat lalu kemudian diberi tali rapiah di kedua sisinya. Selain itu aku diwajibkan membawa minuman yang merupakan organ tubuh kita. Lalu aku berpikir sejenak tentang minuman itu dan segera membeli minuman bertuliskan FANTA dan menambahi hurufnya menjadi FANTAT. Dan semua kelengkapan MOS telah aku penuhi semua dan sebagian telah kupakai. Sempat adik-adikku menertawakan apa yang kupakai, begitu juga dengan papa dan mama, mereka tertawa bukan bermaksud mengejek tetapi lucu melihatku berpakaian aneh seperti ini.

“Wah mirip harry pocong, Kak!” ledek Wulan adik perempuanku.

“Bukan cek (mbak), mirip tukang sihir jaman batu, hahahaha.” ejek Genta ikut menambahi.

“Ntar kalian berdua juga akan merasakannya Lan, Genta.” ocehku ikutan tertawa. “Nanti kakak juga akan menertawakan kelucuan kalian.”

Itulah keseruanku di pagi hari sebelum berangkat ke sekolah, interaksi di keluarga kami sangat baik, adik-adikku tidak segan dan malu bertanya dan meminta pendapatku, begitu juga kami kepada papa dan mama. Aku bahagia dan bangga menjadi bagian dari keluarga ini.

.

.

.

SMA Semprot

Sesampainya di depan pintu gerbang sekolah…

“Makasih ya, Pa.” ucapku sambil mencium buku tangan papa dan mencium kening kedua adikku.

“Da… Pa, Wulan, Genta…” seruku memanggil nama mereka sambil melambaikan tangan melepas kepergian papa, Wulan dan Genta.

“Da..Da… Kak… Semangat ya..!” teriak Wulan kencang dari jendela mobil sedan yang dikendarai papa.

“Aku mesti semangat dan tidak boleh mengecewakan keluargaku,” ujarku dalam hati sambil memperhatikan semua atribut yang kukenakan.

Lucu, dan seperti orang bodoh mengenakan atribut ini. “Tapi inilah keseruannya, nikmati sajalah.” gumamku membatin.

Dan tanpa kusadari dari arah samping ada seseorang yang juga berjalan tergesa-gesa.

“Bruuuggg…”

“Aduh…” rintih suara gadis mengaduh kesakitan.

Dan di sinilah aku mulai pertualanganku berseragam putih abu-abu.

2.6 TENTANG 6 SAHABAT: PERSONIL 6

Rangga Senja Paripurna atau cukup Senja saja. Itulah namaku. Tak perlu tahu nama orangtuaku, nama bibiku yang sangat cerewet dan bawel, atau nama ibu kosku yang montok. Tak perlu tahu juga seperti apa postur tubuhku atau panjang kemaluanku. Yang jelas, aku sudah setahun merantau di Jakarta untuk menamatkan pendidikan sekolah menengah. Dulu aku sekolah di desa, tapi waktu naik ke kelas tiga SMP mamangku (paman) membawaku ke Jakarta gara-gara aku hampir mati dikeroyok warga.

Waktu itu aku diadili orang sekampung karena memasukan jangkrik ke kuping sapi milik Pak Sarbini lalu melepasnya dari kandang. Si sapi yang kegelian ngamuk dan mengacak-acak sawah dan ladang, menyeruduk saung dan beberapa rumah warga. Nini Rohani yang sedang menjemur kopi pun nyaris menjadi korban, beruntung si sapi teralihkan pada jemuran celana dalam berwarna merah. Keren kan masa laluku? Senja!!

Di Jakarta aku tinggal bersama keluarga mamang, tapi aku cuma tahan tiga bulan karena si bibi, istri mamang, cerewetnya gak ketulungan dan selalu menyuruhku bekerja di warungnya. Akhirnya aku kabur dan memilih kost di belakang sekolah. Untung mamangku diam-diam masih membayari uang sekolah dan membayar kontrakan, sementara untuk makan aku membuka jasa mengerjakan PR teman-temanku; kalau kepepet gak ada uang, aku pulang secara diam-diam dan mencuri makanan di warung bibi.

Inilah hari pertamaku memakai celana panjang abu-abu ke sekolah. Menyenangkan sekaligus menyebalkan karena aku harus memasang tulisan nama gede-gede di dada, mengenakan topi mancung gak jelas begini, juga membawa perlengkapan yang bikin ribet. Hadeuh… baru hari pertama udah bikin rese. Kumasuki gerbang sekolahku. Deg.. Itu kan gadis yang kemarin kupalak di jalan.

Bersambung

END – 6 Teman Teman Part 1 | 6 Teman Teman Part 1 – END

START 1st Chapter |Bersambung(6 Teman Teman Part 2)