5 Minutes Part 9

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Tamat

Cerita Sex Dewasa 5 Minutes Part 9 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya :Cerita Sex Dewasa 5 Minutes Part 8

~ Rise Of The Problems ~
V (Final Countdown)​

Si semok sudah menunjukkan jarum pendek di antara angka 11 dan 12, sementara jarum panjangnya sudah stand bye di angka 6, dan itu artinya aku tinggal mempunyai waktu kurang lebih 30 menit untuk melaksanakan semua rencana yang sudah mengendap di otakku sejak kemarin..

“Heeeeemmm, mana nomornya tukang gambar itu?” gerutuku sambil bermain dengan tombol naik turun di HP untuk mencari nama-nama yang bisa di ajak untuk bekerjasama..

“Naaahh, ini dia”, kataku girang setelah menemukan 1 nama yang aku cari..

Martono nama lengkapnya, atau aku biasa memanggilnya Tono, seorang Tukang Tatto langganan para mahasiswa atau mahasiswi yang ingin membuat beberapa pernik gambar tatto, dia punya kios tak jauh dari kampus, Tono jugalah yang akhirnya aku percaya untuk membalur tubuhku dengan tatto Motif Tribal, sebuah motif yang bertekstur garis yang saling berhubungan satu dengan lainnya, dan sampai dengan saat ini masih setia menempel karena aku sendiri masih enggan untuk menghapusnya..

Aku memilih Tono bukannya tanpa alasan, selain karena pergaulan yang lumayan luas, dia dulu juga di kenal sebagai preman kawasan itu. Jadi untuk masalah keamanan dan juga massa, aku tidak perlu lagi kekurangan orang..

Aku kenal dengan Tono juga karena ketidaksengajaan! Saat itu aku yang masih dalam kondisi sendiri sedang berjalan-jalan santai naik motor ingin menikmati suasana malam. Namun, baru sekitar 15 menit aku berkendara, aku melihat seseorang tergeletak di pinggir jalan, setelah aku tunggu beberapa saat, tidak seorangpun yang menolong atau paling tidak melihat kondisinya.

Akhirnya, dengan mempertimbangkan beberapa kemungkinan yang terjadi, karena kawasan itu dikenal sebagai daerah rawan tawuran, daerah itu juga dapat dikategorikan sebagai daerah gelap karena memang pencahayaan yang kurang.

Maka, dengan tergesa-gesa, aku hampiri saja orang itu, secepat mungkin aku naikkan ke motor dengan posisi di belakang merangkulku, dimana posisi tangan aku ikat di depan dadaku, sehingga meskipun dengan sedikit kepayahan, akhirnya bisa membawa dia sampai akhirnya sampai ke kostku untuk selanjutnya aku rawat sampai akhirnya tersadar dan menceritakan semua kejadian yang menimpanya. Dan akhirnya, yang katanya sebagai ucapan terima kasih karena telah menyelamatkan nyawanya, akhirnya mulai saat itu kita berdua berikrar untuk menjadi saudara angkat.

Ton, gmana prsiapan rencana kt? Dh kmu atur kan orang”-a? Pokok-a aq minta smua-a kmu atur sRapi dn sBagus mungkin!
Send: Toe_No
1 Message Send

Sebuah pesan singkat sudah aku kirimkan ke Tono mengenai rencana yang sudah kita bahas sebelumnya, sebuah rencana yang sebetulnya bisa dikatakan licik dan sedikit berbahaya. Aku berencana ingin memberikan peringatan keras sekaligus pelajaran kepada Siti dan juga Andre. Oiyya, akhirnya aku mengetahui juga kalau nama laki-laki itu adalah Andre, setelah diberi tahu sebelumnya oleh Erna.

Aku dan Tono siang ini akan berupaya semaksimal mungkin membongkar semua penghianatan yang mereka lakukan di belakangku, entah dimanapun nanti tempatnya, yang penting aku bisa memergoki dan memnyaksikan sendiri tingkah polah mereka di belakangku!

1 Message Received
From: Toe_No
Beress Di, aku dh siapkan smua-a! Tinggal U pantau ja kira” kMana mereka pergi, jd kt bsa atur lg nanti mslah eksekusi-a!!

Bereesss.. Hahahahaaaaa

Sekarang tinggal mengetahui jadwal perkuliahan Siti, dan siapa yang harus aku hubungi, aku sudah mengatur itu sebelumnya..

Gmana Pri? Erna dh kLuar blm?
Send to: SO3_PRY
1 Message send

Aku mengirimkan sebuah pesan singkat kepada Supri untuk mengetahui jadwal perkuliahan Siti dan juga Andre, dan itu tidaklah sulit. Karena Supri bisa mengetahuinya dari Erna yang juga teman sekelas Siti.

Aku juga sudah menceritakan semua rencanaku ini kepada Supri. Dan benar saja, pada awalnya Supri kurang sepakat dengan rencanaku ini, tak lain dan tak bukan adalah faktor keamanan dan keselamatan serta kelanjutan masalah tersebut jika sampai terjadi sesuatu yang bisa di dengar oleh pihak kampus, mengingat akan status mahasiswa akhir dan skripsiku, serta track record ku yang selama ini juga sudah terkenal bengal.

Namun, dengan berbagai macam alasan yang logis dan masuk akal, serta jaminan tidak akan terjadi sesuatu yang tidak di inginkan baik olehku sendiri dan juga pihak kampus, akhirnya Supri bisa menerima bahkan akan mencoba membantu dengan catatan aku tidak bertindak di luar batas perjanjian.

“Heheheheee.. Lihat saja nanti lah Pri” jawabku saat itu

1 Message Received
From: SO3_PRY
Sdh Di, ni Erna dh ma aq! Tdi Aq jg smpat liat Siti kLuar br 2 m temen Lakinya itu

“Heeeemmm!! Berdua saja, bukankah dia tadi bilang mau keluar untuk cari buku sama temen-temennya?” Batinku saat itu mengingat penjelasan Siti tadi mengenai keinginannya untuk pergi membeli buku bersama temen-temennya.

Br 2 sj ya Pri? Kt-a td mw beli buku m temen”-a! Eeemmm, cb deh Pri, kmu ikuti kira” kmana mreka? Yaa! Jangn dkat” jg! Gmana?
Send to: SO3_PRY
1 Message send

Sambil menunggu balasan dari Supri, kulihat lagi jarum panjang Si Semok sudah merangkak jauh ke angka 1 , itu artinya sudah lebih 5 menit dari jadwal semula yang di katakan Siti untuk pergi membeli buku sama teman-temannya.

1 Message Received
From: SO3_PRY
Sprtinya mrka k Kost Siti Di, dan sdh skitar 5 menit lalu mreka masuk, dn blm jg kLuar! Ini aq msh mkan m Erna d warung pojok kost-a Siti

Benar-benar bajingan!

Itulah kalimat halus yang meluncur tanpa terkontrol sebelumnya dari mulutku setelah membaca pesan singkat terakhir dari Supri tadi. Ternyata, mereka tidak benar-benar keluar membeli buku, dan entah apa yang telah meeka lakukan saat ini mengingat mereka sudah ada di dalam selama 5 menit.

Ok.. We begin the battle now!

Secepatnya aku hubungi Tono tak lama setelahnya, aku minta dia dan beberapa teman yang katanya sudah dia persiapkan sebelumnya untuk secepatnya bertemu di lorong belakang kost-an Siti.

Kenapa aku memilih untuk bertemu di situ, karena aku juga telah memikirkan sesaat sebelumnya untuk bertemu saja di warung yang dimaksudkan Supri tadi, namun sepertinya hal tersebut tidak akan bisa dilakukan mengingat beberapa pertimbangan yang antara lain termasuk faktor Supri pribadi jikalau sampai terjadi sesuatu hal fatal yang tidak di inginkan seandainya aku benar-benar mengetahui dengan mata kepalaku sendiri kelakuan Siti dan pasangannya.

***

Tak lama kemudian akhirnya aku, Tono dan beberapa temannya yang berjumlah 4 Orang sudah berkumpul di lorong belakang kost-an Siti setelah terlebih dahulu aku beritahukan untuk menghindari lewat gang depan kost, karena kalau sampai mereka melakukan itu, bukan tidak mungkin akan bertemu dengan Supri dan Erna yang sedang makan di Warung depan kost.

“Bagaimana Di, apa rencana kita berikutnya?” Tanya Tono kepadaku begitu kita semuanya sudah berkumpul.

“Aku akan mencoba naik ke tembok pembatas ini, kemudian akan sedikit berjalan ke kanan, dan dari situ aku akan bisa langsung berhadapan dengan sebuah jendela kecil, yang meskipun tidak luas, namun kondisi kamar bisa terlihat cukup jelas” jawabku kemudian.

“Trus, bagaimana kamu tahu kalau mereka masih ada didalam atau tidak?” Tanya Tono Kemudian.

“Aku belum juga terima pesan dari kawanku yang sedang makan di warung depan kost itu, jadi kemungkinan mereka juga belum keluar, makanya tadi aku bilang jangan lewat gang depan itu kan”,

“Ayolah cepat, aku pinjam pundak sebentar, angkat aku untuk bisa naik ke tembok itu”, balasku kemudian

Akhirnya, Tono menyuruh salah satu temannya untuk mengangkatku menggunakan pundaknya, dimana sebelumnya dia dalam posisi duduk, kemudian aku naik di atas bahunya, sambil kemudian dia perlahan berdiri sampai tanganku sanggup menggapai tepian tembok, kemudian dengan sedikit dorongan akhirnya nangkring juga aku di atas tembok setinggi hampir 3 meter itu.

***

Kemudian aku pelan-pelan bergeser ke arah kanan sambil memberikan sedikit perintah ke Tono dan ke empat temannya supaya berjaga-jaga mengamati kondisi sekitar.

Haaaaaahhh.. Benar-benar Bangsat mereka berdua, benar-benar Bajingan, Binatangg!

Aku benar-benar panas dengan keadaan yang aku lihat dari jendela kecil di kamar itu, dengan sedikit membutuhkan konsentrasi dan menajamkan pendengaran, aku melihat dengan mata kepalaku sendiri Siti dalam keaadaan telanjang, serta kondisi awut-awutan, sedang di genjot dari belakang oleh Andre dalam posisi doggy style.

“Aahh.. Ahh.. Ahhh..”, “ayyo ndreee, maassuukkan lagggii”, “ahh.. Oouughh.. Oouunngghh”, erangan Siti terdengar merdu meskipun cuma sayup-sayup saja, dan mungkin tidak akan terdengar kalau dari posisi Tono dan teman-temannya saat ini.

“iyyaahh.. Oougghh.. Memekmu ennaakk Ti”, “kesssetthh”, “ennakkhh banggeethh nggennthhoott kammuuu”, “ouuugghh”, sambut Andre dengan tak kalah ganas sambil terus mengocok memek Siti dengan semangat juang tinggi sambil memegang pinggang seksinya yang nampak licin karena keringat.

“Ouughht.. Ouughht.. Aahhhgghh”, “Lebihhh kerraasshh ndreee”, “ooooouuuugghht”, “lebbbiiihh ceeppaaattt”, “oouugghh.. Aaghhhh.. Ahhgggg”, kembali terdengar alunan suara Siti yang menyongsong kenikmatan yang di berikan oleh tusukan Andre.

“Iyyaaahh Ti.. Aakkhhuuu jjuuggaa ennnaakk”, “ooougghht.. Akuu haammpiirr kelluuaarr tthiiii”, “heeggghhh”, sambung Andre tak mau kalah menikmati jepitan memek Siti yang aku yakin terasa sangat nikmat karena aku sudah beberapa kali merasakannya.

Dan, mau tidak mau, menyaksikan live show erotis itu membuat Dion Jr ikut berdiri pula. Tapi, semuanya masih sedikit bisa tertutupi aroma dendam yang sudah ada sebelumnya, serta aku akhirnya bisa mengetahuinya dengan mata kepalaku sendiri.

“Heeeeegghhh”, “ooooouuugghht”, “aakhuuu keelluuarrhhh nddreeee”, jerit Siti mengakhiri pendakiannya, dan tak lama kemudian,

“Akkhu jugghaa.. Akkhuuuuuu jugghaa kelluuuaaarrhhh”, “heeghhh.. Ooooouugghhhh”, “hhaahh.. Hahhhh.. Hahhhh”, terdengar pula jeritan nikmat Andre setelah akhirnya mampu melepas nikmat di dalam memek Siti.

Akhirnya, mereka berdua ambruk di ranjang sambil berpelukan, dan itu juga menjadi pertanda aku harus segera memulai apa yang sudah aku atur sebelumnya.

Secepatnya aku turun yang entah bagaimana bisa dengan mudah aku lakikan mengingat susahnya waktu naik tadi, mungkin karena pengaruh dendam atau cemburu aku tidak tahu.

Aku, Tono dan ke empat Orang tadi langsung saja masuk dan merengsek ke dalam rumah kost tadi, yang tentu saja agak sedikit membuat kaget beberapa orang di sekitar dan juga 2 orang penghuni yang sedang bercengkrama di luar, dan tujuanku adalah langsung ke kamar nomor 2 dimana Siti dan juga pasangannya mungkin masih cukup kelelahan setelah pertempuran tadi.

“Wwooii, buka pintunya bangsat”, “Dookk.. Dookkk.. Dookkk” teriakku sambil menggedor pintu kamar tersebut dengan agak keras!

Tak lama kemudian..

“Ada app…”, terlihat Siti membuka pintu mencoba untuk sedikit melihat situasi, namun setelah tahu aku yang berdiri di depannya, tidak ada lagi kata yang terucap.

Akhirnya, dengan sedikit dorongan, aku masuk ke kamar itu, kudapati Andre masih mengenakan celana boxer warna hitamnya mencoba untuk sedikit berkelit, namun hal tersebut urung terjadi karena terlebih dahulu tangan kirinya tertangkap olehku..

“Bangsat kauu”, “buughh, dugghh, duuoogghh” makiku tanpa ampun sambil melayangkan beberapa pukulan dan tendangan bertubi-tubi ke arah tubuhnya..

“Aaaaakkk, amppunn mass, ammmppuunnn”, “aamppuuunn” teriaknya memohon belas kasihanku setelah beberapa tendanganku tepat mengena di bagian dadanya sehingga menyebabkan dia terpental keluar kamar..

“Mass Diooonn, hhuuu hhuuuu, suddaahhh maasss, kassssss…..”,

“Heeeeeehhh, diiiiaaaam kauuu pereeekk”,

Jerit tangis Siti untuk menghentikanku saat itupun sudah tidak ada apa-apanya lagi, dan juga tidak ada kata lanjutan dari mulutnya yang sebelumnya tadi aku dengar mendesah-desah keenakan.

“Ayyyooo banggunnn jaggooaaannn.. “, “beeeeegghhh..”. makiku kemudian sambil tetap melayangkan beberapa tendangan ke arah tubuhnya yang sudah lemah dan dari hidung serta bibirnya sudah mengucurkan darah segar akibat tendangan serta pukulanku tadi..

Aku benar-benar tidak mengenal lagi belas kasihan, aku tidak mengenal lagi ampunan.. Tendangan.. Pukulan.. Makian.. Terus saja aku hadiahkan ke arah Andre yang bahkan sudah tidak mampu lagi membalas..

Tangisan Siti Sudah tidak aku perdulikan, teriakan-teriakan beberapa penghuni kost yang ada dan juga akhirnya masyarakat sekitar yang menyerbu masuk, tak jua mampu menghentikanku, bahkan Tono dan keempat temannya yang mencoba menghentikan malah terpental tak tentu, kaos yang tadi aku pakai pun sudah sobek akibat tarikan beberapa orang yang mencoba menghentikanku, sehingga memperlihatkan tatto tribal yang nampak penuh menyelimuti tubuhku.

***

Mungkin saja, kalau seandainya saat itu datang melihat Ki Joko Bodo ataupun Ustad Sholeh Pati, mungkin mereka akan mengatakan adanya aura hitam atau ghoib yang menyelimutiku, ataukah mereka akan melihat sesosok makhluk ghaib yang merasuk ke dalam tubuhku sehingga aku mendapat tenaga yang berlebih seperti ini..

Aaaaahhhh.. Persettaaaann..

Aku masih saja asyik menghadiahi tubuh lemah Andre dengan tendangan dan pukulan serta makian tanpa peduli Orang lain..

Namun..

Tiba-Tiba..

Duuuuuggghhh..

Sepertinya sebuah balok kayu yang sangat besar menghantan tengkukku tanpa aku sadari sebelumnya, sampai semuanya menjadi,

Gelaaap.. Gelaaaapp.. Dan Semakin Gelaaaaaaappp…….

==============================​

Gelaapp.. Temaram.. Gelaapp.. Temaram.. Gelaapp.. Temaram..

Perlahan aku mulai membuka mataku yang tadi mendadak gelap, mencoba menyesuaikan retina dengan kondisi alam yang ada saat ini..

Tapii..

Aku dimana??

Sunyi.. Sepi..

Itulah yang aku hadapi saat ini, dengan masih mencoba mengumpulkan sisa puing kesadaran yang tadi sempat dengan telak terhantam semacam balok kayu yang sangat besar persis di tengkuk..

Iyya benar..

***

Tadi aku sempat tiba-tiba merasa semuanya mengabur begitu saja, padahal aku masih ingat saat itu sedang asyiknya berkolaborasi dengan nafsu dan amarah untuk memberikan sedikit bimbingan moral serta kerasnya persaingan kepada Andre.

Hahahaaaaa..

Andre! Andre yang sebelumnya sempat aku dengar percakapannya di Kantin Mbok Sumi, Andre yang Sok Tampan, Sok Gagah, Sok Kaya, Sok Gentleman! Tadi aku buat tak ubahnya hanya sebuah Boneka Sparring yang hanya mampu berteriak dan mengemis ampunan, meringkuk memegangi tubuh lemahnya yang tak lagi bertenaga, sementara kucuran darah segar yang keluar dari hidung serta mulutnya, malah menjadikan aku semakin haus akan penyerahannya.

Padahal,

Sesaat sebelumnya, dari hidungnya bukanlah aliran darah yang keluar, namun dengusan penuh syahwat yang sangat menggugah gairah!

Sementara..

Mulutnya yg sebelumnya aku dengar mengeluarkan erangan erotis saat bercinta dengan Siti tadi, tak ubahnya hanya sebuah saluran buangan darah saat kaki dan tanganku dengan tanpa ampun bersarang telak tanpa sekalipun ada double cover penghalang darinya..

Hahahaaaaa..

Aku sangat puas.. Puuaaasss.. Dan Sangat-sangat Puas

Tapi di tengah kepuasanku tadi, tiba-tiba saja, aku rasakan sebuah hantaman telak tepat mengena di tengkuk, membuat kepuasanku berangsur-angsur menjadi sebuah kegelapan.. Kegelapan yang lambat-laun menyudahi semuanya..

Semuanya..

Sampai saat ini..

Akhirnyaa..

Bersambung

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Tamat