5 Minutes Part 7

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Tamat

Cerita Sex Dewasa 5 Minutes Part 7 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya :Cerita Sex Dewasa 5 Minutes Part 6

~ Rise Of The Problems ~
III

Namun..

Setelah aku berpikir ulang, pasti nanti setelah selesai semuanya aku juga pasti akan tetap sendirian di kost, tidak ada teman yang bisa di ajak ngobrol.

Teman-teman kost ku memang tidak pernah sama setiap akhir tahunnya, selalu saja ada mahasiswa yang masuk dan keluar, dan mungkin hanya aku serta temanku Supri yang bisa di katakan sebagai penghuni tetap, yang tetap setia menempati kamar masing masing mulai dari awal masuk kuliah sampai saat ini..

Oiyaa..

Sedikit mengenai Supri, dia adalah anak fakultas ekonomi, beda denganku, namun entah mengapa, meskipun kalau boleh dikatakan bahasan kuliah kami berbeda, antara sistem ekonomi serta sistem penggemukan kambing, namun kami seperti menemukan sebuah keterikatan.

Supri lah yang selama ini sering menjadi sasaran curhatku semenjak setahun lalu aku jadian sama Siti, karena aku sangat paham betul, berbeda denganku yang baru sekali mempunyai pasangan, Supri kalau aku tidak salah hitung, sudah hampir 5 kali ganti-ganti, namun dengan Erna lah dia akhirnya menemukan sebuah kecocokan, bahkan kedua orang tua mereka sudah saling mengenal satu sama lain, dan menurut kabar terakhir yang ku dengar dari Supri, mereka sudah bertunangan dan mungkin saja akan segera melangsungkan pernikahan setelah lulus nantinya.

Aku tidak merasa heran seandainya sampai terjadi seperti itu, untuk masalah kerjaan atau finansial, kedua orang tua mereka termasuk orang berada di daerah msing-masing. Bapaknya Supri di kenal sebagai salah satu Juragan Sapi dan Kambing dengan omset yang tidak bisa di katakan main-main, aku bisa mengatakan seperti itu karena aku sudah beberapa kali main ke tempat Supri serta melihat sendiri keadaannya.

Sedangkan orang tua Erna, meskipun aku belum pernah menyaksikan sendiri keberadaanya, namun menurut cerita Supri, orang tua Erna adalah Salah Satu Juragan Tambak Udang windu di daerah pesisir, dan aku yakin itu karena selama aku mengenal Supri, sangat jarang sekali aku mendengar atau melihat dia berbohong atas perkataan dan perbuatannya..

Jadi boleh dikatakan mereka berdua pasangan yang serasi meslipun kadang tetap saja dalam perjalananya di bumbui beberapa konflik kecil, namun nyatanya mereka tetap saja nempel persis materei di surat kuasa atau surat jual beli.

Akhirnya, setelah aku menimbang, daripada nanti juga sendirian di kost, kenapa aku tidak coba saja main sebentar ke kampus, mau ke kost Siti juga ndak mungkin, lha dia kemarin SMS kalo pulang ke daerahnya, dan katanya 2 hari kemudian baru balik..

Ehhhh, Pri, dah kelar lum kul-a? Klo dah, k kantin Mbo’ Sum yo’, aq jg dh kelar!! Bls, CPT GPL.
Send to: S03 PRY
——————————-
1 Message send to: S03 PRY

” Dah beres, tinggal tunggu balasan “, batinku saat selesai aku kirim sebuah pesan singkat ke Supri.

Dan benar saja, tak lama kemudian,

Ada eSeMEs.. Ada eSeMeeeSS.. eSeMeeeeeSSS..
Ya Ampuuuunn.. Ada eSeMeeeeSSS..

1 Message Received
From: S03 PRY
—————————–
Dah Di, ni dah OTW to Mbo’ Sum with My Darling, ya’ cepet k sini, bangku biasa..

“Seperti dugaanku sebelumnya, hahahaaa”, batinku

Akhirnya, aku belokkan saja arah tujuanku, sampai akhirnya langkahku terhenti di sebuah kantin dekat fakultas ekonomi yang di depannya terpampang jelas nama Kantin Mbok Sumi, dan di kursi pojok dengan cepat juga dapat kutemukan sejoli yang nampak mesra sedang duduk mesra sambil melambai ke arahku..

“Oii Di, cepetan, nanti keburu di ambil orang lho kursimu”, teriaknya sambil menunjuk sebuah kursi yang memang kadang oleh para mahasiswa di claim sebagai kursi khusus Mas Ngadiono..

“Gimana tugasmu, sudah beres”,

“Ini, sudah sekalian tak pesankan minuman kesukaanmu, Kopi Susu Anget Pakai eS”, katanya kemudian,

Sekilas orang mungkin akan bertanya, apa maksud dari Kopi Susu Anget Pakai eS! Karena kalau di artikan secara sekilas, tidak akan pernah ada yang namanya Kopi Susu, apalagi posisi Anget (Hangat) di kasih eS (dingin), tapi itulah Supri, kalau dia di tanya seperti itu, jawabannya ternyata cukup mudah,

“Kalau Kopi Susu Anget Tidak Pakai eS, maka jadinya akan Kopi U U, bukan Kopi Susu”, “Kalau Kopi U U, di mana ada yang jual”

Jadi, yang di maksud dengan (S) di belakang kata Kopi Susu Anget itu bukanlah (S) yang dingin itu, tapi adalah eS sebagai bagian dari kata (Susu), kalau huruf (S) nya hilang, maka bisa di pastikan tidak akan ada Kopi Susu Hangat yang tersaji.. Hahahaaa..

“Sudah Pri, barusan juga dari warnet, ambil datanya”, jawabku kemudian sambil mengambil tempat duduk d depan kedua pasangan tersebut

“Tapi ada yang aku agak bingung juga sih Pri sebenarnya”, sambungku kemudian sambil menyalakan sebatang rokok.

“Memang apa sih Di yang menurut kamu sulit itu”, imbuh Supri kemudian

“Kedua bahan yang direkomendasikan Pak Prawiro Pri, kelihatannya kalau di daerah sini, sulit didapat, paling tidak harus beli di luar kota”, jawabku kemudian mengingat kedua bahan yang tadi aku terima informasinya dari email Pak Prawiro memang merupakan bahan yang cukup mahal dan kemungkinan agak sulit di dapat di daerah ini,

“Trus, rencanamu setelah tau seperti itu bagaimana?”, lanjut Supri kemudian sambil dia menyulut sebatang Djarum Black kesukaanya, sementara Erna dari tadi aku lihat hanya lebih banyak diam sambil sesekali mengaduk Jus Alpukat pesananya.

“Yaaa, mau tidak mau harus tetap di cari Pri, memang setelah kemarin Pak Prawiro bilang, untuk mendapatkan hasil fermentasi silase yang benar-benar bagus, kedua bahan itu harus ada”,

“Kalau aku sih ndak masalah Pri untuk harga, aku kira tabunganku masih lebih dari cukup untuk beli itu, bahkan, kalaupun nanti ada kekurangan kan masih ada Bang Supri, hehehehee”, jawabku kemudian sambil di akhir aku sisipi banyolan untuk sekedar menggoda Supri.

“Oooo, gampang kalau masalah itu Di, asal bunganya jelas, hahahaaa”, balas Supri tak kalah konyol.

“Bahkan kalau sampai kurang lagi, ini disebelahku ada rentenir cantik” lanjutnya kemudian sambil menoleh ke arah Erna.

“Adduuuuhh, ampun, ampuuunn” tiba-tiba saja terdengar teriakan Supri saat cubitan Erna mampir di pinggannya setelah dia mengatakan rentenir cantik tadi.

“Hahahahaaa”, tawaku menyaksikan tingkah polah dua anak manusia di depanku ini.

“Nanti di bahas di kost saja lah Pri, lagian aku juga masih ada beberapa hipotesis yang masih harus di kaji ulang”, tawarmu kemudian yang diikuti oleh acungan jempol dari Supri.

***

Namun..

Di saat sedang asyik-asyiknya menikmati Kopiku, tiba-tiba saja di belakangku, terdengar sebuah pembicaraan yang kalau tidak salah, karena posisiku sendiri memunggungi mereka, dilakukan oleh 2 lelaki dan 1 wanita.

Aku sebenarnya juga malas mengurus hal-hal semacam itu, buat apa juga. Namun, aku akhirnya menjadi tertarik untuk mengikutinya karena ada sebuah nama yang tidak asing lagi di telingaku ikut tersebut yaitu Siti Maysaroh, Pacarku..

***

lelaki 1: Ehhh, Ndre, gimana hubunganmu sama Siti Maysaroh itu, masih jalan terus kan?” Tanyanya

Lelaki 2: Ya masih lah Ful, bahkan 2 hari kemarin sebelum dia pulang kampung, kita sempat jalan-jalan, makan-makan, sampai pada akhirnya, dialah yang aku makan, hahahahaa” jawab lelaki yang di panggil Ndre oleh temannya tadi.

Wanita: memangnya kamu ndak takut Ndre kalau tiba-tiba ketahuan atau bermasalah dengan Pacarnya Siti, kan dia termasuk salah satu mahasiswa senior disini kalau tidak salah?, tanya si wanita.
Bahkan kalau aku tidak salah dengar, pacarnya Siti itu termasuk salah satu mahasiswa dengan beberapa prestasi, yaaa, entah prestasi akademik ataupun prestasi non akademik termasuk dalam hal tawuran dan lainnya”, lanjut si wanita kemudian,

Lelaki 2: Aku sih sebenarnya agak takut juga sih Rin, apalagi dengan semua reputasinya selama ini di kampus, namun bagaimana lagi”, jawabnya enteng,

“Setiap aku bilang seperti itu ke Siti, dia sepertinya santai saja, bahkan Siti berani menjamin, seandainya nanti ada masalah, dia yang akan maju, dan katanya lagi, pacarnya itu, meskipun terkenal bad boy, tapi buat Siti, dia tak lebih dari pembantunya saja, disuruh ke sini, ke situ, atau apapun perintah Siti pasti di ikuti”, lanjutnya kemudian

“Akhirnya yaa seperti saat ini lahh”, “pun Siti katanya lebih nyaman jalan sama aku, katanya aku lebih sayang, lebih romantis, lebih gagah, lebih kaya malahan, hahahaa”, kelakarnya kemudian

“Sedangkan pacarnya itu, kata Siti sudah ndak romantis, cuek, bahkan kadang minta bayarin Siti kalau lagi pacaran keluar, payah nggak tuh pacar macam itu?,lanjutnya lagi dengan nada sinis dan menghina
Click to expand…
******‚Äč

Sebenarnya hampir saja aku berdiri dan menghajar mulut tidak tahu di untung itu saat ini juga, namun dari tadi aku sudah di pepet Supri supaya tidak melakukan hal-hal yang di anggap gegabah, karena Supri juga tahu, bagaimana aku kalau sudah ‘Lost Control’, makanya setelah tadi Supri juga mendengar pembicaraan mereka, dan atas permintaan Erna juga, karena Erna juga sebenarnya kenal dengan mereka namun tidak seberapa akrab, akhirnya Supri berpindah duduk di sampingku.

Lelaki 1: lha bukannya Siti sedang Pulang Kampung saat ini Ndre?, “dia tidak masuk kan kuliah tadi?, tanya si lelaki yg di penggil Ful tadi.

Lelaki 2: iyya Ful, tapi tadi pagi dia sudah kasih kabar, kalau siang ini mungkin sudah balik”, “tapi dia bilang jangan dulu ke kostnya, capek katanya, dan rencananya sihh, nanti malam baru kita keluar”, jawab si lelaki yang di panggil Ndre tadi kemudian

Wanita: lha terus, bagaimana dengan Pacarnya, apa Siti ndak kasih kabar juga kalau sudah balik?

Lelaki 2: Tadi Siti bilang ke pacarnya, dia baru balik besok siang atau sore, dan katanya juga sihh, pacarnya itu percaya begitu saja, bego ndak tuh orang!”

***

“Bangsaatt ini anak”, ingin rasanya langsung aku tonjok mulutnya itu” batinku sambil menahan kepalan tangan serta genggaman Supri di lenganku.

Terus terang saja, untuk beberapa pernyataan aku memang membenarkan, untuk masalah ketidak romantisanku, kekurang tampananku, aku akui itu semua..

Namun masalah aku yang bisa di suruh apapun oleh Siti, itu adalah sebuah palu besar yang sengaja di hantamkan persis di kepalaku, pun juga masalah aku yang sering minta untuk di bayari kalau sedang makan di luar, itu juga sama halnya dengan menusuk secara langsung dadaku dengan sebilah samurai yang sudah terkenal sangat tajam.

Aku memang kadang sedikit menuruti apa yang diminta oleh Siti, karena aku sadar, Siti adalah cinta pertamaku, jadi mau tidak mau, aku juga harus belajar bagaimana untuk bisa mengikuti arah perjalanan cintaku dengan Siti, toh semua itu juga demi kebersamaan kami, jadi bukan artinya aku harus mengikuti semua apa yang dikatakan oleh Siti.

Apalagi masalah aku yang minta di bayari, yang ada, uangku yang lebih banyak digunakan oleh Siti, entah itu untuk kebutuhan kuliah kalau kiriman orang tuanya telat, atau untuk beberapa keperluan pribadinya.. Bajingaaann.. Rutukku sambil masih menahan geram sampai akhirnya.

Lelaki 2: ehh, sudah waktunya masuk lagi lhoo, ayyo cepat!,

Lelaki 1+Wanita: ayyo lahh!

***

Akhirnya ketiganya pergi, dan aku masih tetap duduk dengan tangan terkepal menahan amarah, namun sedikit berhasil aku tahan untuk tidak aku luapkan di sini, karena Supri tadi selain memegang erat badanku, juga membisikkan kata-kata agar aku tidak lepas kontrol di kantin ini, karena menurutnya, akan sangat fatal akibatnya..

“Ehh Er, bukannya kamu juga harus masuk kelas?, tanya Supri kepada kekasihnya Erna,

“Iyya Mas, aku masuk dulu kalu gitu? Jawab Erna sambil lalu kemudian menuju ke gedung tempat kuliahnya.

“Kurang ajar sekali mereka, Bangsat mereka Pri” geramku sambil mempererat genggaman tanganku,

“Aku kurang apa Pri, kurang bagaimana, kenapa Siti sampai seperti itu?” Lanjutku yang tanpa ku sadari juga membuat bungkus rokok yang masih berisi separuh itu tidak beraturan lagi bentuknya.

“Sudahlah Di, sebaiknya kita dinginkan dulu pikiranmu itu, ayyo sebaiknya kita kemana dulu lah, yang penting kamu bisa agak tenang” ajak Supri kemudian

“Ayyo lah Di, kalau kamu tetap di sini, malah tambah panas nanti, kita pake motorku saja” lanjut Supri kemudian sambil menggandeng tanganku untuk kemudian berlalu ke luar kantin, menuju tempat parkir dan kemudian pergi berdua dengan Supri entah kemana..

Entahlah,

Yang penting aku bisa bisa sedikit menenangkan diri setelah pembicaraan di kantin tadi, dan bahkan mungkin mencari ketenangan serta beberapa solusi untuk selanjutnya nanti..

***

To be continued